Connect with us

Leisure

Optimal Beribadah di Masjid Pilihan

Majalah Pajak

Published

on

Masjid BI

Masjid BI atau dikenal dengan nama Masjid Baitul Ihsan terletak di perkantoran Bank Indonesia, Jakarta Pusat. Tiap Ramadan, masjid yang genap berusia 17 tahun itu menyediakan 700-2.000 takjil, mengadakan salat tarawih dan iktikaf berjemaah.

Sederet ustaz ternama seperti Ustaz Yusuf Mansur, Abdullah Gymnastiar, Bachtiar Nasir kerap hadir mengisi ceramah. Di tengah kesibukan, para pejabat BI menyempatkan waktu untuk berbaur dengan masyarakat baik saat salat berjemaah maupun tarawih.

Ketika iktikaf, khususnya pada sepuluh malam terakhir, imam memimpin jemaah membaca tiga juz hingga tuntas. Meski berat, hal ini tak menyurutkan semangat jemaah untuk khatam Qur’an. Selama itu pula, panitia menyediakan makanan sahur yang ditebus dengan memberikan sumbangan sukarela.

Masjid Agung Sunda Kelapa

         Masjid yang terletak di Jalan Taman Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta ini dikenal sebagai simbol Pelabuhan Sunda Kelapa, tempat saudagar Muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam di masa lalu.

Tokoh nasional seperti Din Syamsudin, Nasaruddin Umar, Ali Mustafa Yakub, dan Quraish Shihab selalu menyempatkan berceramah di masjid ini. Yang menarik, pengurus masjid mendatangkan imam dari Arab Saudi.

Setiap harinya, masjid ini menyediakan 800-1.000 takjil, sahur gratis dan bazar. Para remaja yang tergabung dalam Remaja Masjid Sunda Kelapa (RISKA) aktif mengadakan bakti sosial seperti seperti bedah musala, santunan, sahur on the road, pesantren kilat, dan mendatangkan artis seperti Cholidi dan Dude Herlino.

 

Masjid Agung Al-Azhar

Masjid yang dulunya dikenal dengan nama Masjid Kebayoran ini memiliki beragam agenda menarik selama Ramadan mulai dari penceramah dan motivator dari kalangan figur publik, tausiyah, MTQ bagi anak-anak maupun usia dewasa, hingga bazar. Aktivitas iktikaf makin nyaman karena pengurus masjid menyediakan banyak tempat wudu dan toilet.

Mereka juga kerap menyediakan takjil untuk 700 orang, berbuka puasa bersama anak yatim dan Lapas Anak Tangerang. Artis seperti Dude Herlino, Teuku Wisnu, Zaskia Adya Mecca turut meramaikan agenda yang digagas remaja Al Azhar Youth Leader Institute (AYLI).

 

Masjid Agung Istiqlal

Belum lengkap rasanya jika tak mengulas agenda di masjid nasional negara RI. Daya tampungnya yang luas membuat masjid ini mampu menyediakan 3.000 takjil. Aktvitas selama bulan suci antara lain tadarus, tarawih, kuliah subuh, dialog zuhur interaktif, pesantren kilat, pembagian zakat, hingga bingkisan lebaran.

Keistimewaan lain, pelaksanaan tarawih dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang sebelas rakaat dan 23 rakaat. Masjid ini dihadiri pembicara dari kalangan menteri agama, dirjen bimas Islam, hingga imam besar lainnya.

 

Masjid Muhammad Cheng Hoo

Masjid yang berlokasi di Jalan Gading, Surabaya, Jawa Timur ini kental dengan nuansa Tionghoa. Berbagai kegiatan telah dipersiapkan untuk mengisi bulan Ramadan. Antara lain salat berjemaah lima waktu, pengajian, zikir dan doa bersama, pengajian akbar, pembinaan mualaf setiap Sabtu dan Minggu, bakti sosial, buka puasa, dan salat tarawih.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Ke Sumenep Aku ‘kan Menepi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Madura tidaklah setandus dan sepanas yang Anda bayangkan. Ikon wisata dan bentang alamnya nan memikat menunggu untuk dijelajahi.

Ketika seseorang bertanya tentang makanan khas Madura, mungkin yang langsung terbayang di benak kita adalah seporsi sate ayam dan sate kambing berlumur saus kacang. Namun, kira-kira tempat mana yang langsung terbayang di benak Anda saat ada yang bertanya tentang ikon wisata di Pulau Garam ini?

Julukan Pulau Garam yang sejak dulu disematkan untuk Madura agaknya tak lagi relevan. Sebutan itu hanya akan menenggelamkan pesona alam yang juga dimiliki daerah pesisir timur Jawa Timur ini. Padahal, Madura tak setandus dan sepanas yang dibayangkan. Barangkali memang masih banyak yang belum tahu kalau di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur memiliki banyak pesona keindahan alam yang layak masuk daftar destinasi wisata impian Anda.

Pulau demi pulau

Awal tahun ini, kami akan mengajak Anda mengunjungi beberapa wisata di kabupaten yang mendadak kondang beberapa tahun belakangan ini. Tujuan wisata pertama kita yakni Gili Labak. Dulu, pulau ini dikenal dengan nama Pulau Tikus karena areanya yang kecil, hanya sekitar lima hektare. Mengelilingi pulaunya saja hanya dibutuhkan waktu sekitar setengah jam.

Namun, karena keindahannya yang unik, rumput hijau yang subur, dan lautan yang sangat jernih, pulau ini berganti nama menjadi Gili Labak—surga kecil di tepi Madura. Untuk menuju ke sini, Anda bisa menyewa perahu cepat di Pelabuhan Kalianget.

Perjalanan ditempuh 1,5–2 jam lamanya. Gili Labak nan eksotis memiliki daya pikat yang akan membuat takjub bagi siapa pun yang datang ke sini. Pasir putih Gili Labak yang halus dan perairan yang tenang membuat pulau ini menjadi tempat yang sempurna untuk menjelajahi laut.

Kekayaan alam bawah laut yang unik dan langka juga membuat pulau kecil ini wajib dikunjungi para penyelam. Namun, Anda harus membawa peralatan menyelam sendiri karena tidak ada gerai penyewaan alat di sini. Anda dapat berenang melewati karang yang berwarna-warni, mengamati berbagai tanaman bawah laut, dan berenang bersama berbagai spesies ikan.

Pulau ini juga tempat yang tepat untuk berjalan-jalan tenang sambil menikmati pemandangan menakjubkan. Ambil napas dalam-dalam dari udara segar di sini dan tingkat stres Anda akan menurun.

Perjalanan menjelajahi Sumenep dilanjutkan menuju Pulau Gili Iyang atau Giliyang. Berada di Desa Dungkek, Giliyang berjarak 28 kilometer dari pusat kota Sumenep. Durasi tempuh dari pelabuhan Dungkek ke Pulau Giliyang antara 45–60 menit. Giliyang terbilang istimewa, sebab dianugerahi oksigen terbaik kedua di dunia setelah Yordania.

Kandungan oksigen di Giliyang cukup tinggi, sekitar 21,5 persen. Sementara kandungan oksigen daerah lain rata-rata hanya 20 persen. Selain banyak pohon yang tumbuh subur dan juga rindang, jumlah kendaraan yang hilir mudik di sini bisa dihitung jari. Udara yang bersih juga didukung perputaran udara di Giliyang yang terjadi di sekitar laut.

Tampaknya kualitas udara Giliyang berimbas baik kepada kualitas penduduknya. Banyak penduduk Giliyang yang berusia di atas seratus tahun.

Pulau ini juga memiliki pantai yang penuh dengan batu karang dan tujuh belas gua yang makin menambah pesonanya. Goa-goa ini juga unik. Ada salah satu gua yang memiliki luas hingga 800 meter persegi. Ada goa yang memiliki kedalaman hingga 150 meter. Ada goa yang memiliki sumber mata air tawar meski terletak di dekat pantai. Untuk menuju ke gua-gua ini, wisatawan dapat menggunakan dorkas, kendaraan roda tiga yang juga sering disebut odong-odong.

Tempat menarik lain yang bisa dikunjungi adalah Kampung Pasir di Desa Legung Timur, Pulau Garam. Di sini, warga lebih suka tidur di atas pasir daripada di kasur. Pada setiap rumah warga, Anda bisa menemukan kolam pasir di salah satu ruangan. Selain di kamar, kolam pasir juga ada di halaman rumah yang digunakan warga sebagai alas duduk untuk bersantai sambil bercakap-cakap.

Tradisi unik sejak ratusan tahun ini juga dipercaya penduduk dapat membantu mereka tetap sehat. Bahkan, banyak bayi yang dilahirkan di atas pasir. Tidur di atas pasir juga efektif menghangatkan tubuh kala cuaca dingin menerpa. Sebaliknya, jika cuaca panas, kasur akan terasa lebih dingin.

Pasir yang digunakan warga sebagai alas tidur ini tak sembarangan. Karena tidak boleh mengandung batu atau benda berbahaya lain. Biasanya, pasir diambil dari Pantai Lombang yang memiliki tekstur lembut dan bersih. Tak ada salahnya, kan, menginap dan mencoba kasur pasir di sini?-Ruruh Handayani

Continue Reading

Leisure

Eksotisme dan Prosesi di Negeri Dewa-Dewi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Istimewa

Tak cukup satu malam menjelajahi pesona Dieng. Selain alamnya yang eksotis, Dieng memiliki sejumlah bangunan bersejarah dan festival tahunan yang menarik.

 

Kabut tipis yang seolah enggan pergi menyelimuti kota, rindangnya pepohonan, deretan perbukitan nan hijau hingga kompleks pegunungan mulai dari Prau, Sindoro, Sumbing, dan puluhan gunung lainnya sebagai latar belakang lukisan alam nan memesona. Inilah lanskap alam yang bisa Anda amati lekat-lekat dan nikmati sepanjang hari saat berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Dataran Tinggi Dieng merupakan destinasi wisata terpopuler kedua di Jawa Tengah setelah Candi Borobudur. Wilayah Dieng mencakup Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo dengan area seluas kurang lebih 619,846 hektare. Dalam bahasa kawi, Dieng berasal dari dua gabungan kata di yang berarti ‘tempat’ atau ‘gunung’ dan hyang yang bermakna ‘dewa’. Letaknya yang berada di ketinggian sekitar 2093 meter di atas permukaan laut, membuat Dieng sering dijuluki sebagai Negeri di Atas Awan.

Layaknya sebuah negeri kayangan, konon Dieng dipercaya sebagai tempat dewa dan dewi bersemayam. Sejumlah destinasi yang berada di kawasan ini pun dipenuhi legenda dan sering dijadikan sebagai tempat pertapaan. Ini jualah yang menyebabkan Dieng selalu eksotis sekaligus misterius.

Saat kami berkunjung ke sana pada awal Juni lalu, hawa dingin di Dataran Tinggi Dieng terasa menusuk hingga ke tulang. Temperatur udara yang tertera pada seluler pintar kala itu menunjukkan angka delapan derajat celsius. Tak terbayang, bagaimana rasanya ketika suhu turun drastis di puncak kemarau bulan Agustus–September mendatang.

Pada suhu terendah, temperatur di sini bisa mencapai hingga minus sembilan derajat celsius. Suhu ini menyebabkan embun es muncul dan menutupi hampir semua tanaman rendah serta rerumputan, sehingga seolah tertutup salju. Kemunculan embun es ini juga selalu ditunggu oleh wisatawan. Banyak di antara mereka yang jauh-jauh datang dan bermalam di penginapan yang dikelola oleh warga (home stay) agar keesokan paginya dapat mengabadikan fenomena ini.

Di sisi lain, petani lokal justru menyebut kemunculan embun ini sebagai bun upas atau embun racun. Pasalnya, embun es yang terlampau tebal dapat mematikan tanaman kentang, kubis, dan beberapa jenis tanaman lainnya sehingga dapat terancam gagal panen.

Kami sempat mengunjungi beberapa destinasi utama di sana, salah satunya Telaga Warna. Telaga ini menyuguhkan hamparan keindahan perairan di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Nama telaga warna berasal dari keunikan telaga yang dapat berubah-ubah warna. Secara ilmiah, ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar matahari mengenainya, maka hasil pantulan warna air telaga tampak berwarna-warni.

Dieng juga memiliki wisata sejarah yang berada di kompleks Candi Arjuna. Berdasarkan catatan sejarah, Candi Arjuna dan beberapa candi di sekelilingnya diperkirakan dibangun sekitar awal abad ketujuh hingga sembilan Masehi. Di sinilah peradaban Mataram Kuno dimulai dan akhirnya menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan besar lainnya di tanah Jawa. Sejarahnya menarik untuk dikulik, bukan?

Kabar baiknya, kini wisatawan dapat mengetahui sejarah di balik berdirinya candi-candi ini melalui quick response code (QR Code) yang terpasang di sekitar bangunan candi. Anda cukup mendekatkan seluler pintar Anda agar aplikasi pembaca QR Code dapat memindai informasi yang tersimpan di dalamnya. Rencananya, QR Code juga akan dipasang di beberapa titik destinasi lainnya. Dengan begitu, wisatawan akan dengan mudah mengetahui informasi yang dibutuhkan hanya melalui gawai saja.

Kini wisatawan dapat mengetahui sejarah di balik berdirinya candi-candi ini melalui quick response code (QR Code) yang terpasang di sekitar bangunan candi

Bocah gimbal

Selain pesona alamnya, Dieng juga memiliki keunikan lain, yaitu bocah berambut gimbal. Entah bagaimana awalnya rambut gimbal itu berasal, tapi penduduk setempat meyakini anak gimbal dianggap sebagai keturunan dari pepunden atau leluhur pendiri Dataran Dieng, Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Rence. Konon, anak gimbal merupakan simbol kesejahteraan masyarakat Dieng. Semakin banyak anak gimbal di desa itu, maka semakin sejahtera penduduknya.

Umumnya, mereka berambut gimbal sejak beberapa bulan hingga berusia enam tahun. Rambut gimbal muncul begitu saja dan tumbuh secara alami. Gejala tumbuhnya rambut gimbal pada setiap anak sama, mereka mengalami demam bahkan terkadang hingga kejang. Jika sudah tumbuh, rambut tidak boleh dipotong sebelum si anak menyatakan keinginannya untuk potong rambut dan meminta sesuatu pada orangtuanya. Jika tidak dikabulkan, biasanya rambut akan tumbuh gimbal kembali walau sudah dipotong berkali-kali.

Pemotongan rambut pun tidak sembarangan, harus melalui prosesi ruwatan. Seiring berjalannya waktu, fenomena rambut gimbal justru menjadi daya tarik wisatawan. Momentum ini juga tak dilewatkan oleh kelompok sadar wisata setempat. Mereka mengemas upacara ruwatan dan menggabungkan dengan konten-konten menarik lainnya, di antaranya festival kreatif bertajuk Dieng Culture Festival. Ini juga sebagai upaya membantu orangtua yang kesulitan atau tidak mampu mengabulkan permintaan sang anak.

Tahun ini merupakan tahun kesepuluh diadakannya festival ini. Sejumlah aktivitas menarik juga telah dipersiapkan oleh panitia. Bagi wisatawan yang ingin menikmatinya, diharuskan membeli tiket dan memesan penginapan dari jauh-jauh hari. Bukan apa-apa, festival ini telah menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu wisatawan dan kemasyhurannya telah menggema hingga tingkat nasional, sehingga tiket pun akan cepat habis terjual.

Dengan membeli tiket, wisatawan berkesempatan menikmati sejumlah fasilitas dan aktivitas yang telah disediakan selama tiga hari berturut-turut. Mulai dari pentas seni tradisional, ketoprak, kirab budaya, jazz di atas awan yang menampilkan musisi-musisi nasional kenamaan, menerbangkan lampion bersama-sama, hingga menyaksikan rangkaian acara ruwatan anak rambut gimbal.

Bagi Anda yang datang ke acara ini, disarankan untuk menaati peraturan panitia seperti membawa botol air minum dan tas ramah lingkungan sendiri, tidak membuang sampah sembarangan, dan menerbangkan lampion di tempat yang telah ditentukan. Sisanya, Anda cukup menikmati seluruh rangkaian acara menarik ini. Sebelum pulang, pastikan juga Anda telah mencicipi sejumlah kuliner khas sini dan membawanya sebagai buah tangan. Ada mi ongklok, tempe kemul, semur kentang, kopi purwaceng, telur rebus Kawah Sikidang, dan Carica. – Ruruh Handayani

Continue Reading

Leisure

Menyongsong Mentari di Pucuk Luwuk

Aprilia Hariani K

Published

on

Pantai sebening kaca terbelah barisan bukit berkelok. Cahaya mentari yang menyelimuti keduanya melengkapi keelokan Pulau Dua Balantak.

Waktu masih menunjukkan pukul 01.15 WITA. Dini hari itu, tim Majalah Pajak dan KPP Pratama Luwuk sudah bersiap menuju Pulau Dua Balantak, Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah. Kami tak ingin melewatkan momen di tempat yang tersohor akan keindahan matahari terbitnya itu. Apalagi banyak yang mengatakan, Pulau Dua Balantak di Luwuk mirip dengan Pulau Kelor, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk menjawab rasa penasaran itu, kami ingin jelajahi keindahan pulau itu.

Kami memulai perjalanan dari Estrella Hotel & Conference Center yang terletak di Jalan Mandapar, kawasan Bukit Halimun, Tanjung Tuwis. Hanya 15 menit dari Bandara Syukuran Aminuddin Amir dengan menggunakan dua mobil berkapasitas masing-masing enam orang. Di Luwuk, tarif sewa mobil per hari sekitar Rp 200 hingga Rp 300 ribu.

Tim yang berjumlah delapan orang dibagi ke dalam dua mobil itu. Perjalanan diawali dengan menyisir jalan raya utama kota. Sesaat kemudian kami blusukan memasuki Desa Bunga. Perjalanan kami menyusuri lebatnya hutan di sisi kiri jalan dan laut di sisi kananya. Untungnya, infrastruktur jalan relatif baik—jalan beraspal mulus. Meski demikian, pengemudi tetap harus waspada karena minimnya penerangan jalan, juga gerombolan sapi dan kambing milik penduduk yang mendadak menyeberang jalan.

Dari balik setirnya, Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Luwuk, Jawahirul Fawaid, mengatakan, bahwa melepas hewan peliharaan di sekitar desa merupakan bagian dari tradisi penduduk di Luwuk.

“Enggak akan hilang (hewan peliharaan). Di sini aman. Jangankan hewan, motor ditinggal di pinggir jalan juga aman,” kata Fawaid. Setelah gerombolan hewan melintas, perjalanan dilanjutkan. Sejurus kemudian pemandangan berganti dengan perkampungan penduduk.

Akhirnya, sesuai target, dua jam lebih perjalanan kami ditempuh. Saat azan subuh berkumandang, tim sampai di Desa Pulo Dua. Di sanalah pos penyeberangan menuju Pulau Dua Balantak berada.

“Jangan salah, Desa Pulo Dua di sini (masih di daratan). Sedangkan Pulau Dua Balantak di seberang sana,” jelas Fawaid.

Sebenarnya, menurut Sekretaris Kantor KPP Pratama Luwuk, Aussie Nurul Anisa—yang juga ikut dalam rombongan—ada rumah warga yang bisa dijadikan penginapan di desa Pulau Dua. Biaya menginap di sana hanya Rp 100 ribu. Ini menjadi alternatif jika darmakelana tak ingin melakukan perjalanan tengah malam dari Banggai.

Setelah menitipkan mobil di tepi pantai, rombongan menyewa perahu untuk menuju pulau tujuan. Biaya sewa satu perahu sekitar Rp 300 ribu–Rp 350 ribu. Kapasitas perahu delapan hingga 10 orang.

“Ayo cepat, jangan sampai matahari keburu naik,” teriak Aussie yang sudah duduk di pinggir perahu. Kami pun lekas naik. Bismillah, mesin perahu ditarik. Sejurus kemudian jejak perahu menggoyang pantai biru kehijauan. Bening, karang-karang jelas terlihat.

Di waktu fajar itu juga, semesta menyuguhkan siluet gugusan bukit yang melengkung melindungi laut biru. Begitulah yang kami nikmati selama 23 menit. Hingga sesampai di tepi bukit, kami berhenti. Ya, salamat toka (selamat datang) di Pulau Dua Balantak.

Hanya dua langkah dari perairan, kami disambut oleh anak tangga yang menjulang di punggung bukit berkelok-kelok. Tak terhitung berapa jumlahnya. Sejenak mendongak, tampaknya perjalanan akan melelahkan. Untung saja pemerintah daerah setempat sudah membeton anak tangga dan memberi pengaman dari kayu pada kedua sisinya.

“Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.”

Samar-samar matahari muncul dari balik garis cakrawala, kami pun mempercepat pendakian. Menyenangkan. Apalagi ketika itu perjalanan eksklusif karena tak ada pengunjung lain selain kami. Hanya semilir angin memecah kesunyian.

Tak terasa lima belas menit kami mendaki. Tim akhirnya tiba di pertengahan bukit dengan pijakan tiga kali lebih lebar dari anak tangga lainnya. Tampaknya, itu adalah pos peristirahatan pertama. Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.

Dari sebelah timur, matahari kian menyeruak. Cahayanya memantul di dinding-dinding bukit. Perlahan, sinarnya menyelimuti hampir seluruh badan bukit. Jadilah bukit berwarna kuning keemasan. Tapi, suguhan ini bukan klimaks. Masih ada lagi pos di atasnya.

Sesaat kemudian tim kembali naik, hingga anak tangga terakhir. Posisinya nyaris dekat dengan puncak bukit. Di titik inilah pemandangan semakin membius. Tentunya ritual selfie tak boleh terlewatkan.

Matahari semakin terik, berulang kali kami menyeka keringat. Kami pun memutuskan untuk turun ke sisi kanan bukit. Sebab, di sana ada beberapa rumah kayu yang dibangun Pemda Banggai untuk para darmakelana. Namun, hati-hati. Perjalanan turun dari sisi kanan cukup curam. Tidak ada anak tangga seperti di sisi kiri seperti awal pendakian.

Berbekal ranting pohon dan kekompakan tim, rombongan akhirnya selamat sampai bawah. Benar saja, barisan rumah-rumah panggung dari kayu mengisi hamparan pasir Pulau Dua Balantak. Meski terkesan tak terurus, tapi di rumah itu, tim dapat memanfaatkannya sebagai kamar ganti untuk persiapan snorkeling.

Pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pulau juga bisa dipanjat dan diambil buahnya. Gratis. Kebetulan, kami berhasil memetik tujuh kelapa muda. “Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Continue Reading

Breaking News

Breaking News1 minggu ago

Resmikan TaxPrime Compliance Center untuk Layanan Profesional

Firma konsultan pajak TaxPrime meresmikan kantor baru untuk TaxPrime Compliance Center di Jalan Guru Mughni 106, Setiabudi, Jakarta Selatan. TaxPrime...

Breaking News2 minggu ago

Bayar Pajak, Beasiswa Banyak

Jakarta, Majalahpajak.net-Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) terus menyempurnakan kurikulum sadar pajak dan menginstruksikan pembentukan relawan pajak...

Breaking News2 minggu ago

Penyelundupan Gerogoti Wibawa Negara

Jakarta, MajalahPajak.net- Kementerian Keuangan RI melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bersama Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan...

Breaking News2 minggu ago

Inovasi tak Sebatas Aplikasi

Jakarta, MajalahPajak.net-Tak sedikit Kantor Pelayanan Pajak (KPP) gugur dalam lomba Kantor Pelayanan Terbaik (KPT) tingkat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) karena hanya...

Breaking News2 minggu ago

Apresiasi untuk Guru Penutur Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net-Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan apresiasi kepada 10 pemenang lomba vlog bertajuk “Guru Bertutur Pajak (Gutupak)” di Kantor Pusat...

Breaking News2 minggu ago

Pengelola Dana Desa harus Melek Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia yang beranggotakan para pengajar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA UI) memberikan pendampingan bagi pengelola...

Breaking News2 minggu ago

Kemensos Ajak Dunia Usaha Andil Jangka Panjang dalam Progam KAT

Jakarta, Majalahpajak.net – Menteri Sosial Juliari P. Batubara mendorong dunia usaha turut berpartisipasi berjangka panjang bersama pemerintah dalam program Pemberdayaan...

Breaking News1 bulan ago

Bahaya Hepatitis bagi Ibu Hamil dan Janin

Banyak ibu hamil yang tidak menyadari dirinya terinfeksi virus hepatitis. Apa saja dampak hepatitis bagi si janin? Hepatitis adalah peradangan...

Breaking News2 bulan ago

IKPI: Omnibus Law Perlu Kajian Mendalam Sebelum Disahkan

Untuk mendukung program pemerintah menerbitkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menyelenggarakan diskusi perpajakan bertajuk “Omnibus Law...

Breaking News2 bulan ago

Kerja “Happy” Kejar Prestasi

Apresiasi kepada pegawai berprestasi tak hanya memicu kompetisi positif untuk meraih kinerja lebih baik, tapi juga membangun iklim kerja penuh...

Trending