Connect with us

Recollection

“Ngomik” Berbagi tanpa Menggurui

Aprilia Hariani K

Published

on

Lewat komik ia tak hanya sekadar berbagi cerita, tapi juga ingin berbagi inspirasi dan nilai-nilai kebaikan kepada khalayak tanpa harus menggurui.

Komik Tintin dan Picaros adalah salah satu koleksi buku yang tak akan pernah bisa dilupakan Ardian Chandra. Pria asli Jombang, Jawa Timur yang kelak lebih dikenal dengan nama pena Squ ini mengenal komik terjemahan dengan judul asli The Adventures of Tintin and The Picaros ciptaan Herge itu sekitar tahun ’80-an. Ketika itu usianya belum genap 10 tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap pulang sekolah, sembari duduk bersandar di tembok teras rumahnya di Desa Babatan, ia asyik menikmati komik yang serial pertamanya dipublikasikan di koran Belgia, Le Vingtième Siècle tahun 1929 itu.

Sesekali ia mengalihkan perhatian pada secarik kertas di sisinya yang sengaja ia siapkan, lalu membuat coretan-coretan membentuk sketsa-sketsa tokoh kartun. Terkadang ia menghapus sketsa itu jika hasilnya tak sesuai dengan imajinasinya. Rupanya itulah cara Ardian kecil mengabadikan tokoh-tokoh imajiner yang tiba-tiba muncul di kepalanya ketika membaca komik itu.

Ya, komikus yang juga berkarier di Direktorat jenderal Pajak sebagai Fungsional Pemeriksa Muda KPP Pratama Setiabudi itu mengaku, sejak kecil memang penggila komik, cerita pendek, dan novel. Baginya waktu luang adalah kesempatan emas untuk melahap habis cerita demi cerita pada setiap buku. Apalagi setelah itu ia dapat melampiaskan bakat menggambar dengan lebih imajinatif. Jika sudah larut dengan buku-buku yang dibacanya, Ardian bisa lupa dengan rasa laparnya. Ia masih ingat betul ketika sang bunda selalu dibuat repot dan berteriak-teriak demi mengingatkan makan siangnya.

“Tintin membuka jalan imajinasi, memberi semangat menggambar. Kisahnya seru, mengajarkan untuk setia pada profesi, jujur, pintar untuk membantu sesama,” kata Squ di kantornya di KPP Pratama Setiabudi, Jakarta, Senin petang (23/7).

Masih terpatri pula di benaknya, gambar pertama yang ia torehkan di atas kertasnya usai membaca komik populer itu. Sebuah sketsa anak laki-laki bermata sipit, hampir mirip jurnalis di komik Herge itu. Hanya saja, versi yang ia gambar kala itu tanpa leher. Melihat gambar itu sang kakak, Dewayanti, kontan meledek Squ sembari terbahak. “Eh, gambar orang itu punya leher. Terus, rambutnya mana?” celetuk Dewayanti.

Sejak saat itulah Squ semakin terpacu untuk menggambar. Beranjak sekolah menengah pertama ia sudah mulai mencoba membuat komik genre silat yang dimuat di majalah sekolah. Salah satu judul yang masih diingatnya adalah Arit Anthrax yang terpajang di majalah dinding (mading) sekolahnya, SMA Negeri 2 Jombang. Cerita Arit Anthrax, diilhami oleh buku-buku cerita, semisal serial Nagasasra dan Sabuk Inten karya S.H Mintardja yang ia baca di perpustakaan milik bibinya. Inspirasi gambar komik perdananya itu bersumber dari serial komik Tintin. Penguasaan narasi kisah serta pembendaharaan kata, ia dapatkan dari novel-novel yang senantiasa ia lahap di waktu senggang. Sebut saja, 43 seri novel Trio Dektektif yang dikarang Alfred Hitchcock, Lima Sekawan dari penulis fiksi asal Inggris Enid Blyton, dan masih banyak lagi.

“Banyak komikus yang gambarnya bagus tapi tidak bisa menulis. Mustahil bisa menulis, jika tidak rajin membaca. Membaca, menulis, menggambar satu kesatuan,” kata pria berkaca mata ini.

Keyakinannya itu ia manifestasikan ke dalam sebuah novel bernuansa romantik. Bahkan saat remaja, Squ sudah percaya diri menyodorkan naskah novelnya ke penerbit tersohor di Indonesia. Kendati berkali-kali ditolak, ia pantang menyerah. Mimpinya tetap ia peluk erat.

“Kalau ada amplop besar datang, itu dari Gramedia. Berarti naskah saya dikembaliin. Sedih,” ujarnya mengenang.

Squ enggan berlama-lama larut dalam kesedihan. Semakin ditolak, api semangat justru semakin berkobar. Beberapa minggu setelah penolakan, Squ kembali menggambar juga menulis. Sayang, arsip tulisannya itu hilang sebelum sempat dipublikasikan. Namun, mimpinya tetap melekat. Apalagi ketika masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) 1996 ia didaulat menjadi kartunis dan komikus di majalah kampusnya.

“Salah satu karikatur yang saya ingat soal isu lulusan STAN enggak ada ikatan dinas lagi,” kenang Squ.

“Ternyata ketika niat kita berkarya agar bisa bermanfaat untuk orang lain, maka Allah kasih rezeki tidak terduga.”

Pengin jadi baik

Lulus kuliah dan berkarier menjadi fiskus di Ditjen Pajak tetap tak menghalangi mimpi Squ menjadi komikus. Ia konsisten menelurkan karya, baik berupa cerpen, novel, ataupun karikatur. Ada juga komik, meski hanya beberapa lembar.

Hasil imajinasinya itu tak pernah ia biarkan mengendap begitu saja. Ia membagikan ke blog pribadi, blog kantor, serta Facebook. “Alhamdulillah, bagus responsnya,” ujarnya tersenyum lega.

Tahun 2008, ketika ia dimutasi ke KPP Mojekerto, karier di bidang komik dimulai bisa dibilang benar-benar ia tekuni lebih serius. Squ bersama sang istri dan anak tinggal di Desa Plemahan. Di sana, sang istri menjadi guru mengaji di musala dekat rumah. Squ pun tertarik berbagi ilmu agama dengan sekitar 70 anak-anak itu. Nah, di momen hidup ini Squ mengaku ingin menjadi orang yang lebih baik. “Dan, saya yakin semua orang pengin jadi baik,” tegasnya.

Keyakinan Squ itu, kemudian ia narasikan ke dalam sebuah cerita pendek yang berkembang menjadi buku komik Pengen Jadi Baik jilid satu sampai empat yang ia terbitkan selama rentang tahun 2014-2018. Tokohnya tak lagi fiksi. Seluruh anggota keluarga sebagai tokoh nyata dalam cerita. Menariknya, Squ mampu mengemas unsur islami dengan renyah. Ia juga cakap memberi bumbu humor di sela-sela mendakwahkan ilmu agama di komiknya. Seperti nukilan percakapan di buku Pengen Jadi Baik berikut ini:

“Aku dikatain terus sama anak-anak lain. Kevin Bogang, Kevin ompong,” Kata Kevin kepada ayahnya dalam komik itu. Si ayah menjawab, “Yuk rajin gosok gigi biar gigi sehat. Bersiwak (gosok gigi) merupakan sunah Rasulullah Saw. Bisa pakai siwak atau sikat dan pasta gigi.”

Naskahnya itu ia luncurkan dalam bentuk buku elektronik Pengen Jadi Baik (2011) secara gratis. Hingga akhirnya, impian itu datang. Salah satu penerbit menghubunginya, menawarkan untuk menerbitkan tulisan-tulisan Squ dalam sebuah buku.

“Ya Allah, impian sejak kecil punya buku terwujud. Ternyata ketika niat kita berkarya agar bisa bermanfaat untuk orang lain, maka Allah kasih rezeki tidak terduga,” ungkap Squ dalam hati kala itu.

Tahun 2014 komik Pengen Jadi Baik I terbit, disusul Pengen Jadi Baik 2 (2015), Pengen Jadi Baik 3 (2016), dan Pengen Jadi Baik 4 (2018). “Alhamdulillah, seluruh komik kini menjadi best seller di Gramedia. Penerbit yang pernah menolak naskah saya dulu,” syukur Squ. Sekitar 90 ribu komik telah terjual. Tahun ini ia juga akan membagikan gratis buklet komik Riba Bukan Opsi.

Di tengah kesuksesan Squ menjadi penulis sekaligus komikus, ia mengaku harus pula bekerja dengan maksimal sebagai fiskus. Ia harus mampu membagi waktu istirahatnya untuk terus membuat karya.

“Pulang kerja bikin komik sampai larut malam. Kadang sampai dini hari. Sebelum dan sesudah Subuh juga sesempatnya ngomik, baru berangkat kerja,” kata Squ yang juga mengaku pernah ditegur pimpinan lantaran dinilai ada penurunan kinerja. Namun, ia mengaku tak patah hati, baginya teguran itu menjadi bahan introspeksi diri dan penyemangatnya bekerja. Selain bekerja sesuai fungsi, Squ kerap ditugaskan membuat karikatur maupun komik layanan perpajakan di kantornya. Bagi Squ mimpinya saat ini tak lagi milik sendiri. Seutuhnya ia niatkan agar bermanfaat bagi khalayak.

Recollection

Kemewahan Hidup si Gandung

Aprilia Hariani K

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Melalui berbagai tulisan dan kajian perpajakan yang ia publikasikan, ia ingin mempromosikan pajak sebagai instrumen distribusi kesejahteraan dan manifestasi keadilan.

 

Siang menjelang sore kali itu sisa terik matahari belum sepenuhnya hilang. Cahayanya yang memantul di dinding-dinding bukit karst yang memagari Desa Ngunut, Palayen, Gunungkidul, Yogyakarta kala itu masih menyilaukan. Namun, segerombol bocah tampak tak peduli. Mereka menyelinap di balik pepohonan jati ranggas di sepanjang kawasan perbukitan itu. Di musim kemarau seperti itu, tak ada kegiatan lain lebih menyenangkan bagi mereka kecuali membetot tali layang-layang yang tengah mengudara. Terkadang, mereka bahkan sengaja saling menggesekkan benang gelasan—benang layang-layang yang sudah dilumuri serbuk kaca—untuk mengadu kekuatan tali layang-layang mereka. Jika tali putus, sang pemilik dianggap kalah dan harus merelakan layang-layang kesayangan mereka menjadi objek rebutan.

Jauh nun di bawah perbukitan itu, sepetak lapangan sepak bola tak seberapa luas juga terlihat mulai dipadati para pemain bola cilik tanpa alas kaki. Sementara sekira 500 meter dari lapangan bola itu, di teras sebuah rumah, seorang bocah tengah asyik membaca artikel di rubrik “Bola” pada surat kabar Kedaulatan Rakyat sembari sesekali menyesap segelas teh tubruk hangat yang tersaji di mejanya. Ia seolah tak peduli dengan keriaan teman-teman sebayanya. Selain surat kabar, di atas meja itu juga tergeletak majalah Tempo yang mengantre untuk dibaca.

Bocah yang hobi membaca itu biasa dipanggil Gandung—kelak publik akan lebih mengenalnya sebagai Yustinus Prastowo, penulis produktif buku-buku ekonomi dan perpajakan, juga penulis artikel di berbagai media massa. Ia kini juga dikenal sebagai salah seorang akademisi dan praktisi perpajakan di Indonesia. Prastowo mengaku, panggilan Gandung adalah sapaan yang disematkan oleh keluarga dan rekan-rekan sebayanya kecil.

“Dalam bahasa Jawa, gandung berarti ‘anak laki-laki’,” tutur pria yang kini akrab disapa Pras itu mengisahkan masa lalunya.

Di kelas empat sekolah dasar, bahan bacaan Pras sudah melampaui kelaziman anak-anak seusianya. Namun, itulah kegemaran pria kelahiran Gunungkidul, 4 April 1976 itu. Nyaris setiap hari, sepulang sekolah ia akan lebih senang menekuni surat kabar atau majalah di rumah sang paman, ketimbang menghabiskan waktu dengan bermain layang-layang. Jika pun ingin bermain, hal itu akan ia lakukan setelah ritual membaca siang ia tuntaskan.

Setelah membaca koran atau majalah yang ia pinjam dari sang paman, Gandung akan menyalin atau merangkum kembali di kertas berita olahraga yang ia baca. Ia bahkan menyalinnya dua rangkap. Satu untuk arsip, satu lagi untuk ia tempelkan di majalah dinding sekolah. Bak tampilan koran halaman depan, Gandung menyematkan namanya di kolom penanggung jawab berita dan penulis. “Penanggung Jawab Berita dan Penulis: Gandung”, demikian ia menuliskannya.

Dulu, biasanya ia tertarik membaca dan menyalin berita tentang sepak bola, khususnya tentang fans club AC Milan dan pemain kesukaannya—Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard.

“Kemewahan yang saya rasakan waktu kecil adalah suka membaca dan menulis. Apalagi tulisan kita dibaca orang, menjadi sumber informasi. Sejak kecil Gandung memang ingin jadi wartawan,” ungkap Pras tertawa.

Kesenangan menerbitkan selebaran informasi olahraga itu semakin membuncah. Pras memiliki komitmen menerbitkannya seminggu sekali. Hal itu berlangsung selama dua tahun atau dari kelas empat hingga enam SD hingga eksistensi koran ala Gandung itu mengantarkan Pras pada predikat Wartawan Cilik. Bahkan, dengan pengetahuan lebih soal sepak bola, oleh kawan-kawannya Pras dijadikan semacam manajer pertandingan bola.

“Kaya manajer gitu. Jadi, saya bilang main bola formasinya 4-3-3 atau 4-4-2. Teman saya percaya saja karena saya dianggap punya informasi itu dari koran,” kata Pras.

Saya bersyukur dengan kemewahan hobi membaca dan menulis. Dan, saya senang membagikan pengetahuan dan informasi yang saya miliki.

Pastor dan rumah belajar

Kegemarannya pada buku semakin menjadi. Di tingkat sekolah menengah pertama (SMP), buku bacaan Pras bertema teologi. Terlebih ia juga terinspirasi sosok pastor nasionalis dari Belanda bernama Antonio Lammers, SJ yang keras tapi sayang pada anak-anak. Menurut Pras, ia juga terinspirasi Romo Mangunwijaya, yang tak hanya rohaniwan, tapi juga aktivis sosial yang kerap membela kaum miskin dan membuatkan rumah untuk penduduk miskin di Yogyakarta. Hingga suatu ketika, Pras memohon restu pada sang ayah Stefanus Atmodjo untuk menjadi pastor.

Ojo, duwe anak mung loro (Jangan, punya anak cuma dua),” ucap adik Maria Priatmirahwati ini menirukan perkataan ayahanda kala itu.

Pras tak berkecil hati. Ia kembali menekuni hobi membaca dan menuliskannya seperti sedia kala. Apalagi sang ayah semakin menggiringnya untuk lebih senang membaca. Nyaris setiap bulan ia diajak membeli buku ke pusat kota. Di masa itu, ia banyak melahap novel-novel sejarah. Misalnya yang ia ingat, buku karangan Y.B Mangunwijaya berjudul Burung-Burung Manyar yang diterbitkan sekitar tahun 1981.

Jiwa nasionalis Pras remaja semakin terbangun. Di tengah arus urbanisasi yang membuat rekan sebayanya merencanakan merantau ke Jakarta, Pras justru membangun semacam rumah belajar gratis untuk masyarakat sekitar. Sepulang sekolah, Pras mengajar anak-anak yang buta aksara ataupun sekadar membantu mengerjakan tugas sekolah.

“Sekali lagi saya bersyukur dengan kemewahan hobi membaca dan menulis. Dan, saya senang membagikan pengetahuan dan informasi yang saya miliki. Makanya rumah saya sering dipenuhi orang belajar,” kata langganan juara kelas ini.

Aktivitas remaja Pras juga dipadati dengan berjualan mainan di lapangan kamping dan membantu sang ibunda Caecilia Sukirah menanam bawang di ladang sewaan, sekitar satu kilometer dari rumahnya. Maklum, waktu itu penghasilan ayahnya sebagai guru pas-pasan, bahkan kerap minus.

“Momen itu bermula saat saya menemukan slip gaji Bapak di bawah baju. Ternyata minus. Dari situ kami bertani bawang dan saya jualan mainan, makanan, apa pun, untuk membantu keluarga,” kenang Pras.

Kegelisahan sang amtenar

Demi melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Pras pun memilih masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara yang gratis. Setelah lulus karier pertamanya dilakoni sebagai staf administrasi di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Perusahaan Negara dan Daerah (PND) Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Khusus tahun 1997. Menjadi amtenar sempat membuat Pras gelisah. Jiwanya bukan di situ. Hingga suatu waktu, Pras pun mencurahkan isi hatinya kepada ayahanda.

“Pak, sepertinya aku tidak cocok jadi PNS,” katanya saat itu.

Apalagi, cinta lamanya pada teologi bersemi kembali. Ia lantas mengikuti forum kajian filsafat di sela-sela bekerja. Bukan cinta semu semata. Tak lama kemudian Pras mendaftar di pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara atas saran budayawan, pastor, dan peraih doktor kehormatan bidang teologi dari Universitas Luzern Swiss bernama Franz Graf Von Magnis atau tersohor dengan nama Franz Magnis Suseno. Pada waktu hampir bersamaan ia juga melanjutkan studi di Program Administrasi dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia.

Tesisnya waktu itu telah dibukukan dan diluncurkan pada tahun 2014. Judulnya, Ekonomi Insani: Kritik Karl Polanyi Terhadap Sistem Pasar Bebas. Pada tesis itu Pras menulis mengenai kritikan telak sejarawan ekonomi Karl Polanyi yang menilai dinamika ekonomi yang tak lagi koheren dengan dinamika sosial.

“Semangat pencarian kebenaran yang tak mengenal lelah menginspirasi saya untuk menulis tema filsafat yang lebih membumi dan kontekstual. Polanyi menyarikan, ekonomi insani adalah bentuk ketertanaman ekonomi dalam tata kehidupan manusia secara keseluruhan,” jelas pengagum Bapak Proklamator Mohammad Hatta ini.

Pergerakan bawah tanah juga dilakoni Pras saat masih terdaftar sebagai pegawai pajak. Ia terlibat dalam advokasi dan penelitian di Perkumpulan Prakasa, Komisi Anggaran Independen (KAI), Transparency International Indonesia (TII), Indonesia Corruption Watch (ICW), Internasional NGO Forum on Indonesia Development (INFID), Tifa Foundation, dan lain-lain. Ia juga turun demo menjelang runtuhnya rezim Soeharto 1998. Tulisan-tulisannya tentang pajak, ekonomi, filsafat, kala itu juga sering menghiasi media massa.

Mundur dari PNS

Hobi membaca dan menulisnya tak pernah tergadai. Tahun 2010 Pras mengundurkan diri sebagai PNS DJP dan memilih fokus pada bidang akademis dan aktivis. Tulisannya kian menyebar di mana-mana. Ia juga menjadi narasumber isu ekonomi dan perpajakan di media cetak maupun elektronik. “Enggak jadi wartawan, tapi syukurnya bisa menulis di media. Sama-sama menulis,” ungkap Pras tersenyum.

Pras juga sempat bergabung sebagai manajer di SF Consulting, Tax Patner Di RSM AAJ, dan senior advisor di Enforce Advisory. Seiring waktu, Pras bercita-cita untuk mengabdi kepada negara dalam bidang kajian dan penelitian perpajakan. Menurutnya, pajak merupakan instrumen distribusi kesejahteraan dan manifestasi keadilan. Tahun 2014, Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), di mana ia menjadi Direktur Eksekutifnya, berdiri.

Pras lantas diajak begabung dalam kelompok kerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Pokja APBN) Tim Transisi Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla, anggota Tim Optimalisasi Penerimaan Perpajakan (TOPP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 2015, anggota Tim Penasihat Tim Reformasi Perpajakan serta Tim Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai Kemenkeu sejak 2016 hingga sekarang.

Ia juga tetap aktif menulis dan menelurkan sejumlah buku. Di antaranya, Risiko Memiliki NPWP, Panduan Lengkap Pajak, Pintar Menghitung Pajak, Pengampu (n)an Pajak, Antologi Perpajakan Indonesia, dan Taxing Women: Analisis Kebijakan Perpajakan Indonesia terhadap Perempuan dari Perspektif Teori Kritis.

“Hingga saat ini kemewahan dalam hidup tetap sama. Bukan soal jadi wartawan atau tidak. Tapi tetap menulis, membaca, dan memberi informasi kepada khalayak,” tutup dosen yang pernah mengajar di Universitas Tarumanagara, Universitas Kristen Indonesia, dan Universitas Atmajaya Jakarta, dan terakhir di Politeknik Negeri Keuangan STAN ini.

Continue Reading

Recollection

Ajakan Sajak pada Analis Pajak

Aprilia Hariani K

Published

on

Gbr. Dok Majalah Pajak

Alif

Tak bercabang

Tegak berdiri

Tinggi yang menjulang

Kokoh sekuat tekad

Lurusmu selalu beku

Penggalan puisi itu tak sengaja terbaca oleh Dega Pripinda, teman sebangku Rosyid Bagus Ginanjar Habibi sewaktu duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Boyolangu, Jawa Timur. Kala itu, pelajaran Fisika tengah berlangsung. Bagus—panggilan akrab Rosyid Bagus Ginanjar Habibi—hanya memberi kode untuk diam. Setelahnya Bagus kembali menulis sajak di halaman belakang buku tulisnya. Ia menyematkan judul “Sebatang Alif” pada puisinya itu. Menurut Bagus, puisi itu diilhami sajak “Dzikir” karya sastrawan 1980-an D. Zawawi Imron.

Hingga saat ini, Bagus, yang kini menjabat sebagai Staf Subbidang Pajak Penghasilan (PPh) Industri Ekstraktif Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu masih mengenang masa-masa itu.

“Saya duduk paling belakang, jadi enggak ketahuan guru kalau lagi coret-coret (menulis puisi). Apalagi pas pelajaran Fisika, soalnya enggak terlalu suka,” ungkap pria kelahiran Tulungagung, 26 Juni 1988 ini sembari ketawa saat wawancara dengan Majalah Pajak di D’Nox Café, Jakarta, Senin (28/1).

Pengalihan konsentrasi di kelas, bukan sekali-dua kali terjadi. Bagus memastikan, nyaris setiap ada pelajaran fisika, istirahat, dan jam pelajaran kosong ia gunakan untuk mengarang puisi. Baginya, puisi adalah ungkapan hati yang jujur dan romantis.

Suatu hari, seorang guru biologi bernama Zainudin berulang tahun. Bagus inisiatif memberi kejutan dengan membacakan puisi karangannya berjudul “Selamat Ulang Tahun”, di sela-sela pelajaran. Berharap terkesima, malah sang guru sinis.

“Anak-anak, biarkan saja. Lanjut belajar!” kata Bagus menirukan sang guru kala itu. Momen itu pun disambut gelak tawa seisi kelas. “Malulah. Untungnya waktu sekolah saya memang dikenal suka jail,” kata Bagus, mesem.

Namun, berkat peristiwa itu, Bagus semakin tersohor sebagai siswa “gombal” yang gemar bersajak, sekaligus mengantarkan namanya menjadi peserta dan koordinator lomba cipta puisi tingkat Kabupaten Tulungagung tahun 2006.

Ia ingat puisi yang diperlombakan berjudul “Gadis Bergaun Bidadari”. Sajak ini Bagus ciptakan sebagai ungkapan rasa kagum terhadap seorang gadis di sekolah. Secuil baitnya, “Sosok bidadari yang begitu indah, menggelayut dalam pikiranku, bersenandung dalam lampu temaram, mengiringi langkah roda kereta di tengah malam.”

Kendati tidak menang, puisi “Gadis Bergaun Bidadari” menjadi isi sekaligus judul bukunya yang diterbitkan oleh Guepedia tahun 2018.

Puisi mendidik kita tanpa menggurui. Setiap kata mengandung ilmu dan ungkapan hati yang jujur dan romantis.

Penyair cilik

Sesungguhnya perkenalan Bagus pada puisi sudah berlangsung saat ia duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Majan, Tulungagung, Jawa Timur. Kala itu, sang kepala sekolah Murto Srijannah, meminta Bagus mengikuti perlombaan baca puisi mewakili sekolah. Tanpa pikir panjang Bagus pun mengamini. Apalagi, ia sudah memiliki kemampuan berpidato di khalayak sebelumnya.

Bagus mencoba kembali mengingat judul puisi yang ia bawakan di lomba itu. Sekitar 20 hingga 25 detik Bagus termenung. “Judulnya lupa, karena puisi sudah ditentukan panitia, tapi saya ingat puisi tentang perjuangan di masa penjajahan Belanda. Isinya sangat menyentuh,” kata pria yang hobi naik gunung ini.

Namun yang ia ingat, sang bunda Siti Mudawamatun dan ayahanda Edi Kasturi yang notabene guru agama sangat senang mendengar kabar keikutsertaan Bagus dalam lomba itu.

“Pesan ibu, membaca puisi harus menjiwai dan dihayati. Tidak perlu berlebihan, karena puisi bukan gombalan,” kenang pencinta olahraga lari ini.

Sang kepala sekolahnya pun turut melatih kemampuan membaca puisi Bagus. “Kata Ibu Murto berpesan membaca puisi tidak perlu hafal bait sepenuhnya, karena bukan hafalan. Baca puisi mesti dirasakan,” tambahnya lagi. Bagus mampu mengalahkan para finalis dan masuk nominasi lomba puisi tingkat SD se-Kabupaten Tulungagung.

Sejak momen itu, ketertarikannya pada puisi semakin mendalam. Syukurnya, Ibunda mendukung minat Bagus. Saban bulan Ibunya selalu membawakan majalah dari Departemen Agama yang di dalamnya ada kajian ilmu agama yang dikemas dalam puisi.

“Puisi mendidik kita tanpa menggurui. Setiap kata mengandung ilmu dan ungkapan hati yang jujur dan romantis,” kata penggemar sastrawan Taufiq Ismail dan Mustofa Bisri alias Gus Mus ini.

Tak heran jika Bagus tumbuh menjadi remaja yang puitis. Tak banyak bicara tapi pandai menjahit dan merekam kata. Sudah tak terhitung diksi yang ia tulis di masa SD hingga SMA. Sayang, karyanya tak ia arsipkan.

Analis fiskal

Impiannya menjadi mahasiswa sastra bahasa Indonesia di Universitas Negeri Malang harus padam lantaran biaya. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Bagus berusaha mengalah demi pendidikan adik-adiknya. Ia pun memilih kuliah di Politeknik Keuangan Negara (PKN) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) lantaran gratis.

“Realistis masuk PKN STAN karena setelah lulus tiga tahun saya sudah punya ikatan dinas, bisa menyekolahkan adik,” kenang alumnus Pondok Pesantren Tanwirul Afkar ini.

Tahun 2010 ia telah bertugas sebagai staf Subbidang Pengembangan Pegawai BKF Kemenkeu, tahun berikutnya jadi staf subbidang Organisasi sampai 2015, dan sekarang mengemban tanggung jawab sebagai staf subbidang PPh Industri Ekstraktif.

“Ya, saya bukan guru bahasa Indonesia atau pengarang. Saya analis fiskal. Subbagian PPh industri ekstraktif sendiri mengelola isu perpajakan perusahaan tambang di Indonesia,” kata Bagus dengan senyum mengembang.

Meski harus mengubur dalam-dalam impiannya, Bagus mengaku sangat bersyukur dapat mengabdi pada negara. Ia bangga dapat menjadi bagian dari BKF yang oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani disebut sebagai “otaknya Kemenkeu.”

Puisi untuk menteri

Tahun 2017, Kemenkeu menghelat lomba baca puisi untuk memperingati Hari Oeang. Ya, tentu, Bagus ikut serta. Dengan membawakan puisi syarat kritik berjudul “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana” gubahan Gus Mus, ia menyabet juara II dan juara favorit.

Fragmen itu pula yang membuat finalis Aparatur Sipil Negara (ASN) Inspiratif Tingkat Nasional 2018 ini kerap diminta untuk membuat dan membawakan puisi di pelbagai acara institusi.

Contohnya, ketika acara Kemenkeu Muda yang menulis puisi “Jangan Pernah Putus Asa Mencintai Negeri Ini”, serta puisi “Jangan Pernah Putus Asa Mencintai Indonesia” yang ia persembahkan untuk Menkeu Sri Mulyani di Raker BKF bertajuk Fiscal Day di Bali (2018).

“Menulis puisi ‘Jangan Pernah Putus Asa Mencintai Indonesia’ untuk Ibu Menteri membuat jantung berdebar lebih cepat. Beliau sosok luar biasa. Apalagi waktu menulis hanya sehari, inspirasi saya kumpulkan dari komentar Bu Menteri,” ungkap Bagus.

Sampai sekarang, Bagus menyimpan baik-baik puisi itu di ponselnya. Ia lantas membacakan di hadapan kami, “Kau yang berani melawan korupsi, kau yang merasa kecewa tapi tetap bekerja, kau yang selalu menikmati pekerjaan demi pengabdian, kau yang menghabiskan waktu untuk kemuliaan.”

Gairah bersajak kembali menggelora. Bagus kini aktif membaca puisi di Rumah Seni Asnur Depok. Bahkan, dua sajak karya Bagus turut dimasukkan dalam antologi Doa Seribu Bulan yang diterbitkan Rumah Seni Asnur Depok. Buku tersebut di tulis oleh penyair tingkat ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Brunei Darussalam.

Rasa syukurnya juga tak terbendung tatkala BKF memberi tugas baru menjadi editor majalah Warta Fiskal—majalah internal BKF. Untuk meningkatkan minat membaca analisis dan penelitian fiskal, rencananya Bagus akan menghadirkan rubrik puisi atau sastra di majalah itu.

“Dengan ada sajian puisi atau karya fiksi lainnya, saya berharap masyarakat atau pegawai lebih tertarik membaca majalah Warta Fiskal. Karena BKF ini, kan, pusatnya analisis kebijakan yang diambil oleh Kemenkeu,” harap peraih juara pertama lomba menulis nonartikel pada perayaan ulang tahun ke-11 BKF tahun ini.

Continue Reading

Recollection

Fisik Sehat, Kerja Semangat

Aprilia Hariani K

Published

on

MP VOL LVIII RECOLLECTION KARINA DWI HANDAYANI

Karina Dwi Handayani

AR di KPP Wajib Pajak Besar Tiga

Fisik Sehat, Kerja Semangat

Lari mengajarkannya untuk sederhana, tekun, dan tuntas hingga garis akhir.

Matahari pagi belum juga terlihat. Namun, tali sepatu lari Karina Dwi sudah sempurna terikat. Karin—panggilan hangat Karina Dwi Handayani, tengah bersiap menghadapi Bromo Tengger Semeru (BTS)Ultra100 untuk kategori 30 Kilometer (30K). Kompetisi yang dihelat pada 2 November 2018 itu merupakan perlombaan lari trail di dataran tinggi Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Acara tahunan Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini diikuti oleh seribu pelari dari dalam maupun luar negeri yang telah lolos kualifikasi.

Jauh sebelum menghadapi perlombaan, Account Representative (AR) Seksi Pengawasan dan Konsultasi III KPP Wajib Pajak Besar Tiga ini telah rutin berlatih. Selain ritual lari seminggu dua kali selama 45 menit di Glora Bung Karno (GBK), ia juga berlari di hutan Universitas Indonesia Bike Park dan Gunung Gede Bogor. Aktivitas ini Karin lakukan setidaknya selama satu bulan pada akhir pekan.

“Karena enggak mungkin ikut BTS tanpa latihan trail,” kenang Karin, di kantornya, Jalan Jenderal Sudirman Kaveling 56, Senayan, Jakarta, Jumat Sore (21/12).

Karin yang bernomor dada 569, sudah bersiap di garis awal. Tak ada resah maupun ambisi berlebih untuk ada di podium atau juara tertentu. Baginya, perlombaan trail run kali itu merupakan pengalaman pertama yang dia harapkan akan menyenangkan.

Benar saja, beberapa meter setelah bendera BTS Ultra100 diempaskan sebagai tanda lomba dimulai, Karin sudah disuguhkan oleh keindahan siluet Gunung Bromo dan sejuknya hutan lebat di sekelilingnya.

Keindahan alam itu nyaris mengiringi setiap perjalanan. Misalnya, saat melewati Bukit Mentigen. Di sana Karin mendapat suguhan awan putih dan langit biru berduet dengan hijaunya pepohonan di sekitar Gunung Bromo. Lalu lanskap lautan pasir Bromo, Bukit Teletabis, Puncak B29, dan Jemplang adalah fragmen alam yang tak terlupakan. Klimaksnya adalah ketika ia harus berlari menaiki punggung Gunung Bromo. “Ya Tuhan, lelah dibayar lunas,” batin pecinta sushi ini.

Kendati begitu, Karin tak boleh terlena. Apalagi sibuk berfoto-foto. Sebab pelari harus tetap fokus dengan Cut Off Time (COT) yang telah ditentukan panitia—tujuh jam. Selain itu, medan yang terjal berbatu, membuat pijakan kerap tidak tangguh. Tak jarang Karin pun terjatuh. Belum lagi jika ia berlari tanpa ada peserta di sekitarnya.

“Jatuh, terpeleset. Tiba-tiba sendiri, depan-belakang tidak ada orang. Bagaimana mengatur mental, tidak boleh panik. Baca peta atau baca file GPX,” kenang pelari kelahiran 25 Mei 1984 ini, semringah. GPX adalah akronim dari global positioning system exchange format. GPX merupakan format data yang dapat disematkan di perangkat jam dan telepon pintar untuk menggambarkan titik arah, trek, dan rute.

Kendala fundamental yang Karin temui justru hadir saat detik-detik mencapai garis akhir. Ia tersesat di area Desa Cemoro Lawang, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Beberapa detik ia tertegun. Lalu kembali ke peta atau file GPX. Beberapa menit kemudian Karin memutuskan untuk berlari menuju pintu masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dan, bertanya kepada petugas setempat. Setelah itu Karin kembali lagi ke jalur perlombaan lagi.

Selang beberapa waktu kemudian akhirnya Karin mencapai garis finish dengan waktu tempuh 05.49.00 (lima jam empat puluh sembilan menit). Dari seribu pelari, Karin adalah peserta ke delapan yang berhasil membobol garis akhir kompetisi. “Pelari harus sampai finish, apa pun hasilnya,” kata Karin.

Itulah prinsip Karin dalam menekuni bidang lari. Sebelum BTS Ultra100, sudah tak terhitung kompetisi lari yang ia lakoni. Ada yang naik podium alias juara, ada juga yang tidak. Di antaranya, meraih podium satu pada Oeang Run (2017), podium dua tim putri pada Lomba Lari Hut RI Ke-73 di Bank Indonesia (2018), podium satu pada Bandung Ultra 100 kategori 25K (2018), podium dua BC Run Together (2018), dan masih banyak lagi.

Di perhelatan internasional, Karin juga berlaga di The Color Run Canberra (2014) dan Australian Running Festival (2014). Dan, tahun ini Karin tengah menyiapkan diri untuk mengikuti kompetisi lari di Tokyo Marathon dan BMW Berlin Marathon. “Persiapannya lari seperti biasa dan cuti kantor,” Karin seraya tertawa.

Jamak ditemui perhelatan lari belakangan ini. Bahkan, bisa dikatakan lari merupakan gaya hidup masa kini. Namun, Karin berharap jangan sampai gaya hidup itu membebani.

“Saya menilai olahraga lari jadi tren. Bagus. Tapi jangan sampai lari sekadar gengsi. Apalagi harus mahal, baju dan sepatu harus merek A atau B. Lari olahraga murah, lari itu kebutuhan,” ujar Karin.

 “Dengan fisik dan jiwa atau mental yang sehat, maka segala pekerjaan akan dapat dilakukan dengan baik.”

Danau dan akuntansi

Kecanduannya pada olahraga lari menuntunnya pada lembaran album kenangan saat di Canberra, Australia. Kala itu Karin masih tercatat sebagai mahasiswi Pascasarjana di The Australian National University (ANU) tahun 2013, ingin relaksasi dengan berlari di sebuah danau yang dirancang oleh arsitek Amerika bernama Walter Burley Griffin—Danau Burley Griffin. Nyaris setiap Sabtu pagi, ia berlari mengitari danau tersohor itu. Kadang lari sendiri, kadang pula lari bersama komunitas Indorunners Canberra.

“Danaunya bersih, udaranya segar, kicau burung. Dan kenapa lari? Karena ya lari olahraga paling murah dan mudah yang bisa dilakukan,” kata alumnus Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI) Tahun 2005 ini. Bahkan, menurut Karin, lari senapas dengan akuntansi—jurusannya. Keduanya sama-sama enggak rumit.

“Dulu kenapa pilih jurusan akuntansi alasannya mudah, enggak ribet. Kan prinsipnya, debit sama dengan kredit. Harta sama dengan utang tambah modal. Lari prinsipnya bergerak dan ada sepatu lari. Enggak perlu alat macam-macam,” kata perempuan berkacamata ini.

Meski begitu, Karin tak ingin ceroboh. Ia juga belajar beberapa teknik lari yang ia pelajari dari komunitas lari Indonesia—IndoRunners, Komunitas pegawai DJP pencinta lari—DJP Runners, dan komunitas lari lainnya. Ada teknik dasar ABC yang telah ia pelajari. Di dalamnya terdapat latihan tumit menendang bokong (butt kick), gerak ankling, lutut diangkat tingi (high knee), dan kicking.

“Saya belajar teknik dari komunitas saja. Enggak yang gimana-gimana. Sederhana tapi harus tekun dan rutin dilakukan,” katanya. Jika cedera atau kelelahan, Karin pun memiliki cara penyembuhan yang organik—urut dengan pemijat langganan. “Capek, pijat di tukang urut rumah,” katanya.

Untuk itu, menurutnya kecintaannya pada lari tak akan mengganggu kewajibannya di kantor. Ia bahkan percaya, dengan fisik dan jiwa atau mental yang sehat, maka segala pekerjaan akan dapat dilakukan dengan baik.

“Sederhana lagi. Fisik kita sehat, pekerjaan di kantor juga lancar,” yakin Karin.

“Olahraga lari jadi tren. Bagus, tapi jangan sampai lari sekadar gengsi. Apalagi harus mahal, baju dan sepatu harus merek A atau B. Lari olahraga murah, lari itu kebutuhan.”

Continue Reading

Breaking News

Breaking News2 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News2 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News2 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News3 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Breaking News3 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News6 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News10 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News10 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News10 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News11 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Trending