Connect with us

Breaking News

Merawat Amanah dan Keteladanan sang Ayah

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Jabatan tak harus membuat jemawa. Itulah pelajaran berharga yang dipetik Yari dari kesederhanaan ayahandanya.

Sudah puluhan tahun berlalu. Namun, kenangan indah bersama sang ayah agaknya akan terus tersimpan di benak Yari Yuhariprasetia. Kala itu hari masih pagi benar. Namun, Yari sudah berjalan kaki bersama ayahanda Abdul Hanan, menuju perlintasan angkot di Jalan Dewi Sartika, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Hari itu, sang ayah mengajak Yari, yang masih duduk di kelas lima, ke tempat kerjanya, SD Negeri Kramat Jati, untuk menyaksikan acara perpisahan kelas enam. Ayahnya yang menjadi kepala sekolah di sana, saban hari hanya mampu naik angkot. Sekali waktu ayahnya memang pernah punya motor Vespa, tapi terpaksa dijual untuk menghidupi enam orang anak—Yari anak kelima. Ibunda Yari, A. Mariam adalah ibu rumah tangga.

Yari ingat betul, sepanjang perjalanan menuju pemberhentian angkot, ayahnya memegang erat tangannya. Sesekali berhenti, sekadar memastikan bahwa Yari masih kuat berjalan. Maklum, jarak dari rumah ke perlintasan angkot sekitar dua kilometer. Sambil berjalan, ayahnya hanya berpesan, “Sekolah yang rajin, Ri. Pendidikan itu penting.”

Kata-kata itulah yang selalu terngiang dan menjadi cambuk untuk terus menimba ilmu. Kelak, semangat belajar itu pula yang mengantarkannya menjadi pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan kini menjabat sebagai Kasubdit Pelayanan Perpajakan, Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) DJP

“Saya enggak ngerti alasan Bapak mengajak saya ke sekolah. Mungkin Bapak ingin memberi gambaran bagaimana dia bekerja, pentingnya sekolah, menuntut ilmu. Mungkin juga Bapak ingin mengajari kami: ‘Jabatan tinggi tapi jalan kaki enggak apa-apa, loh,’” kenang pria kelahiran Cililitan, 18 Juli 1968 ini, di ruang kerjanya, Kamis Sore (24/9).

Nilai keteladanan lain yang ditanamkan orangtua Yari adalah kejujuran dan reputasi. Jangan sampai karena nila setitik, rusak susu belanga. Nilai-nilai itu ia petik berdasarkan tata laku kehidupan sehari-hari di rumah.

“Enggak secara eksplisit Bapak mengatakan, ‘Kamu harus berintegritas atau jujur, ya.’ Bapak mengajarkan dari perilaku,” tambahnya.

Setelah tamat SMA tahun 1987, Yari memutuskan untuk mendaftar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)—sekarang Politeknik Keuangan Negara STAN. Diantar sang ayah, Yari membayar uang pendaftaran ke kantor Kas Negara di Jakarta yang kini bernama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.

Singkat kisah, Yari diterima menjadi mahasiswa D-III Prodi Akuntansi dan lulus tahun 1990. Ia bersyukur atas karunia itu. Sebab selain kuliah gratis, menjadi amtenar di DJP berarti berpeluang mewujudkan cita-cita sang ayah yaitu, menuntut ilmu yang tinggi. Sekali lagi, dari ayahnya, Yari berpedoman bahwa, setidaknya ilmu mampu merawat moral manusia. “Saya bukan contoh yang baik, tapi saya melakukan yang terbaik,” kata pria berhobi membaca buku dan bermain gitar ini.

Tak lama berselang, Yari meneruskan pendidikan D-IV Prodi Akuntansi di STAN tahun 1993 hingga 1996. Tiga tahun kemudian pria berkacamata ini memperoleh gelar Master of Business Taxation di University of Southern California, Los Angeles.

Pegawai yang menghasilkan penerimaan pajak itu sangat bagus, harus diapresiasi. Pegawai yang menjalankan integritas juga perlu diberikan penghargaan.

Terbuka

Menjadi amtenar di DJP menurut Yari, ibarat menaiki pelbagai wahana. Setiap wahana memiliki tantangan dan kesan tersendiri. Tugas paling berkesan di benaknya adalah ketika menjabat sebagai Kasubdit Humas Perpajakan di Direktorat P2Humas DJP tahun 2007–2008. Di situlah ia belajar ilmu komunikasi untuk menghadapi media.

Yari mencoba merintis pola komunikasi personal dengan pewarta. Ia berusaha mengenal nama panggilan satu per satu wartawan yang bertugas di DJP dengan harapan dapat membangun kerja sama yang baik. Yari intens menggelar acara untuk menyampaikan informasi perpajakan terkini sebulan sekali. Ia ingin membangun paradigma bahwa isu perpajakan menarik untuk diwartakan, baik soal penerimaan, pelayanan, maupun pengawasan perpajakan.

“Saya berusaha ingat nama panggilan teman-teman wartawan. Saling terbuka informasi. Enggak ada perlakukan berbeda antarmedia. Semua sama. Enggak ada media A dapat informasi pertama, media B belum punya (informasi). Saya rasa metode itu cukup berhasil. Sekarang, Subdit Humas Perpajakan yang dipimpin Kak Ani, sudah jauh lebih bagus,” kata Doctor of Public Administration dari University of Canberra, Australia ini.

Tugas paling membekas lainnya adalah ketika Yari menjadi Kepala KPP Pratama Cileungsi. Di sana, ia menghadapi tantangan penerimaan pajak yang tidak pernah tercapai selama ia menjabat, tahun 2015–2019. Padahal menurutnya penggalian potensi perpajakan telah sesuai dengan perencanaan. “Bagi saya berkesan karena segala upaya sudah kita lakukan dengan maksimal,” kata Yari.

Meskipun penerimaan pajak tidak sesuai target, sebagai seorang pemimpin, Yari harus tetap merawat semangat pegawainya. Untuk itu, ia gencar memberi apresiasi penghargaan simbolis kepada para pegawainya yang bekerja penuh integritas setiap sebulan sekali.

“Pegawai yang mampu menghasilkan penerimaan pajak itu sangat bagus, harus diapresiasi. Pegawai yang menjalankan integritas juga perlu diberikan penghargaan. Contoh, ada pegawai yang punya masalah berat di rumah tapi tidak pernah telat datang atau izin, tugas dilakukan dengan benar, mau membantu pegawai lain,” kata Yari.

Meski realisasi penerimaan pajak tidak sesuai target, KPP Pratama Cileungsi meraih juara kedua KPP Percontohan Tahun 2016, meraih Penghargaan atas Terlampaunya IKU Penyampaian SPT Tahunan melalui e-Filing tahun 2017 sebesar 128,74 persen, serta memperoleh Penghargaan atas Kinerja Pertumbuhan Penerimaan Pajak tahun 2018 di atas Target Penerimaan Pertumbuhan Nasional dari Kementerian Keuangan.

Pelayanan terpadu

Sekitar tiga bulan lalu, Yari mengemban amanah baru. Menjadi Kasubdit Pelayanan Perpajakan Direktorat P2Humas DJP menurutnya merupakan tantangan tersendiri karena wilayah kerjanya sangat vital. Mulai dari membuat standar pelayanan terpadu untuk KPP se-Indonesia, pengawasan, dan evaluasi kebijakan.

Ada empat seksi dalam Subdit Pelayanan Perpajakan P2Humas DJP. Seksi Dukungan Pelayanan dan Konsultasi, Peningkatan Mutu, Pengaduan Pelayanan, dan Pemuktahiran Tax Knowledge Base (TKB).

“Secara garis besar kami kami memberikan alat bantu kepada AR (Account Representative) pelayanan agar pelayanan yang diberikan di TPT (Tempat Pelayanan Terpadu) seragam sehingga Wajib Pajak (WP) menjadi nyaman,” jelas Yari.

TPT merupakan salah satu loket yang wajib ada di setiap KPP yang diatur melalui Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 02 tahun 2017. Di dalamnya lengkap menyoal jam pelayanan, fasilitas, syarat petugas, hingga pengawasan. Kendati demikian, Subdit memberikan keleluasaan KPP untuk mengembangkan pelbagai inovasi. Mulai dari dekorasi kantor, furnitur, hingga inovasi aplikasi untuk memudahkan WP menunaikan kewajiban perpajakannya. Kini, sudah banyak KPP yang sudah mengembangkan digitalisasi arsip, aplikasi pemantau permohonan, hingga pelayanan konsultasi pajak menggunakan WhatsApp. Tugas Yari ke depan, menyeleksi inovasi KPP untuk diadopsi menjadi kebijakan sentral.

Roadmap pelayanan perpajakan akan berfokus pada program Click, Call, Counter (3C). Click maksudnya pelayanan melalui website, Call berarti melalui telepon yang difasilitasi oleh Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan (KLIP), Counter artinya pelayanan di KPP.

“Kami akan mengarahkan dan memperbanyak pelayanan perpajakan secara on-line. Bahkan tiga sampai lima tahun ke depan, WP yang ke KPP harus menggunakan appointment. Ini masih dalam kajian. Sekarang bikin NPWP, lapor SPT, kode billing, konsultasi juga sudah on-line, kan?” ungkap Yari.-Aprilia Hariani

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Breaking News

IKPI: Omnibus Law Perlu Kajian Mendalam Sebelum Disahkan

Heru Yulianto

Published

on

Foto: IKPI

Untuk mendukung program pemerintah menerbitkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menyelenggarakan diskusi perpajakan bertajuk “Omnibus Law Perpajakan,” di Kantor Pusat IKPI, Jakarta Kamis (19/12).

Acara itu dihadiri oleh otoritas perpajakan dan asosiasi pelaku usaha. Pada acara yang dikemas dalam diskusi interaktif itu para pemangku kepentingan membahas Rancangan  Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Perpajakan agar bisa memberikan masukan kepada pemerintah sebelum ditetapkan menjadi undang-undang.

Acara ini menghadirkan pembicara Kepala Subdit Peraturan KUP dan PPSP DJP Dodik Samsu Hidayat, Ketua Bidang Kebijakan Publik APINDO Sutrisno Iwantono, Wakil Ketua Komite Tetap Asia Pasiifik KADIN Bambang B. Suwarso, serta Ketua Dept PPL Vaudy.

Ketua IKPI Mochamad Soebakir mengatakan, IKPI mengapresiasi Omnibus Law Perpajakan sebagai upaya pemerintah untuk penguatan perekonomian Indonesia

“IKPI secara aktif berperan untuk meningkatkan pemahaman terhadap konsep RUU Omnibus law perpajakan yang di inisasi oleh Pemerintah. Ini suatu langkah yang luar biasa dan semuanya harus mendukung,” ungkap Soebakir.

Soebakir mengatakan, perubahan atau penyesuaian beberapa ketentuan yang tercantum dalam RUU Ominibus Law Perpajakan memberikan perubahan yang signifikan terkait dengan sistem perpajakan, pengkreditan Pajak Masukan, sanksi, fasiltias perpajakan dan ketentuan lainnya yang dipandang dapat mendorong penguatan perekonomian Indonesia. Ia menyarankan, sebelum RUU ini ditetapkan menjadi undang-undang, DJP melakukan kajian yang mendalam khususnya dalam hal perubahan penurunan tarif.

“Saya berharap undang-undang ini begitu lahir sudah dilengkapi dengan aturan pelaksanaannya. Kedua, bila undang-undang sudah ditetapkan, mohon diberi waktu paling tidak tiga bulan untuk sosialisasi agar langkah yang dilakukan Wajib Pajak, DJP, konsultan pajak menjadi benar,” tambahnya.

Continue Reading

Breaking News

Kerja “Happy” Kejar Prestasi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Apresiasi kepada pegawai berprestasi tak hanya memicu kompetisi positif untuk meraih kinerja lebih baik, tapi juga membangun iklim kerja penuh rasa tanggung jawab dan bahagia.

Begitu membuka lift lantai dua Kantor Pelayanan Pajak (KPP) PMA Satu, mata kami tertuju pada papan berukuran sekitar 2 x 3 meter yang tertempel di dinding. Pada papan berlatar putih itu terdapat tulisan “Pegawai Terbaik Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Satu”. Di bawah tulisan itu terpampang foto close up 14 pegawai KPP yang berprestasi—tujuh foto di sisi kiri, tujuh sisanya di sisi kanan.

Papan itu hanyalah contoh salah satu bentuk apresiasi Kepala KPP PMA Satu Rosmauli kepada pegawainya yang berprestasi dan mendapatkan penghargaan. Artinya, selama periode tertentu, wajah-wajah yang terpampang di papan itu berubah-ubah, sesuai dengan capaian prestasi pegawai.

Rosma, sapaan hangat Rosmauli, ternyata sengaja memajang papan pegawai terbaik itu di area sentral—tepat di dinding seberang pintu lift. Ia berharap, ajang penghargaan yang simpel ini dapat memantik semangat segenap warga KPP untuk tidak menyerah bekerja untuk mencapai target penerimaan pajak. Rosma bangga atas dedikasi para juara pegawai terbaik.

“Kita buat besar di papan supaya orang bisa melihat. Pertama kali pegawai atau WP ke luar lift bisa selalu melihat dan termotivasi untuk menjadi yang paling baik,” kata Rosma membuka perbincangan di KPP PMA Satu Kalibata, Jakarta, Kamis Siang (28/11).

Sejak menakhodai KPP PMA Satu pada 14 Juni 2019 lalu, Rosma memang berkomitmen membangun budaya kompetisi melalui pemilihan pegawai terbaik setiap bulan. Selain memasang foto dan nama pegawai terbaik di papan kebanggaan, apresiasi juga disertai dengan pemberian hadiah kecil, semisal cokelat dan bunga.

“Menurut saya, walaupun sederhana, apresiasi seperti itu memicu kompetisi kerja pegawai. Penting memberi pengakuan kepada teman-teman pegawai yang sudah bekerja keras menggali potensi (perpajakan). Pegawai harus bekerja keras dengan bahagia,” ungkapnya.

Begitulah rumus kepemimpinan Rosma. Apalagi, ia menilai, tidak mudah terpilih menjadi pegawai di Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP)Jakarta Khusus. Kata Rosma, pegawai harus memiliki nilai S (star) atau A (amat baik) di unit kerja sebelumnya.

“Pegawai di sini sudah terbaik. Sekarang bagaimana teman-teman pegawai bekerja happy. Saya memberikan kesempatan bagi mereka untuk berekspresi, berinovasi, dan bertanggung jawab dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan,” kata Kepala Bidang Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) Kantor Wilayah DJP Bali tahun 2010 ini.

Kini, KPP PMA Satu rutin memberi penghargaan kepada pegawai terbaik setiap bulannya. Ada empat kategori penerima. Ada Pelaksana petugas tempat pelayanan terpadu (TPT), petugas help desk, Account Representative (AR), dan Pemeriksa Pajak terbaik.

Indikator penilaian setiap kategori tentu, berbeda-beda. Misalkan, untuk AR terbaik, dinilai berdasarkan realisasi penerimaan extra effort, penerbitan surat permintaan penjelasan atas data dan keterangan (SP2DK), kepatuhan formal, WP yang melakukan pembayaran, capaian penerimaan, jumlah surat pemberitahuan tahunan (SPT), pemanfaatan data, dan penyediaan data. Sedangkan, fungsional terbaik diukur dari SP2 yang diselesaikan, capaian penerimaan, dan lain-lain.

“Bagi saya memberi apresiasi harus terukur, tidak pilih kasih, tidak subjektif. Saya hitung benar-benar kinerjanya,” tegasnya.

Di sela-sela perbincangan kali itu, Rosma mengambil gawainya, dan membacakan data nama-nama pegawai  terbaik bulan Oktober. Ada Mohammad Najib (petugas help desk terbaik), Ansori (fungsional terbaik), Adlina (petugas TPT terbaik), Ubaedillah (AR Pengawasan terbaik), Any Supriati (AR pelayanan terbaik), dan Apri Hidayatullah (pelaksana terbaik). Ada nama yang hampir setiap bulan menjadi pegawai terbaik. “Setiap pegawai boleh berturut-turut (menjadi pegawai terbaik),” kata Rosma.

Saat ini Rosma tengah menyiapkan pin untuk pegawai terbaik pada bulan berikutnya. Ia berharap pin selalu disematkan pada pakaian kerja pegawai, sehingga mampu memberi kebanggaan tersendiri. Tak kalah penting, pegawai terbaik akan mendapat kesempatan utama untuk mengikuti kegiatan kedinasan ke luar kota maupun ke luar negeri.

Meski saling berkompetisi, Rosma juga berupaya menenun ikatan kekeluargaan dengan seluruh pegawai. Caranya dengan melakukan aktivitas rutin seperti, morning activity setiap Senin, santunan anak yatim bersama, serta membuka pintu diskusi seluas-luasnya kapan pun dan di mana pun.

“Semua bebas diskusi di ruangan saya, pintu saya selalu terbuka. Prinsip saya pokoknya, pegawai kerja happy, attitude positif, saya sangat percaya apa yang mereka kerjakan pasti dikerjakan dengan baik, walaupun saya uji dengan kompetisi,” tambahnya.

Bangun aplikasi

Untuk mendukung kinerja, KPP PMA Satu berusaha memanfaatkan teknologi yang berkembang. Salah satunya dengan membangun aplikasi. Ada Aplikasi Pengawasan Permohonan Wajib Pajak (Pesona Waja) dan Wadah Paten (Warehouse Database Kepatuhan Penerimaan dan Potensi). Dua aplikasi ini memudahkan pegawai dalam menganalisis kondisi penerimaan pajak dan menyajikan profil WP secara lengkap. Perangkat itu sekaligus menjadi sistem pengawasan kinerja AR pada seksi Pengawasan dan Konsultasi.

“Istilahnya kami bisa punya rapor WP. AR terbantu mengawasi kepatuhan WP, kewajiban perpajakannya—mengalami penurunan atau tidak, kepatuhan penyampaian SPT, apakah ada tunggakan. Jadi rapor AR juga, kita bisa tahu berapa SKP (sasaran kinerja pegawai)-nya,” ungkap Rosma.

Ide lain yang berasal dari pegawai adalah kegiatan Sinar Permata atau sinergi antara AR dan Pemeriksa untuk mengatasi aggresive tax planning. Ditambah lagi, ditetapkannya Transfer Pricing Day (TP Day) saban Selasa.

“Mayoritas WP KPP PMA satu merupakan perusahaan dengan kepemilikan saham asing sehingga praktik transfer pricing dengan tujuan penghindaran pajak berpotensi terjadi. Saya ingin AR, fungsional pemeriksa pajak, memperdalam TP yang dilakukan WP. Kita bedah bersama dalam rangka penggalian potensi (perpajakan),” papar Master of Taxation dari Universitas Case Western Reserve Amerika Serikat ini.

Rosma juga menampung ide yang terkesan sederhana, tetapi mampu memberi pelayanan optimal untuk WP. Contohnya, fasilitas Help Button yang menempel di tiang teras KPP. Fasilitas itu berguna sebagai tombol bantuan mobilisasi berkas. WP hanya butuh menekan tombol Help Button berwarna merah, seketika petugas membantu menurunkan berkas dari mobil.

“Pelayanan sudah dimulai dari WP turun mobil, biasanya WP bawa berkas yang banyak, berkardus-kardus, kita coba bantu dengan cepat,” tambahnya.

Fasilitas lain yang lahir dari kreativitas pegawai adalah membangun TPT yang nyaman. Tak hanya artistik, TPT menyediakan kursi pijat, pelbagai macam minuman—teh tarik, kopi hitam, dan susu cokelat, serta kudapan lainnya. WP juga dapat membaca buku dan majalah yang disediakan di TPT. “Tempat WP kita kan jauh. Ada yang kantornya di Cikarang, Surabaya, hingga Medan. Sampai sini (KPP) pasti lelah. Kita juga ingin WP nyaman dan happy juga,” ujar Rosma.

Pelayanan paripurna mengantarkan KPP PMA Satu sebagai juara dua Kantor Pelayanan Terbaik kedua di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus.

Lebih dekat WP 

Selain itu, Rosma berupaya menjahit kepatuhan sukarela sekaligus rasa saling percaya, dengan ngobrol santai bersama WP. Metode itu terbukti efektif saat ia terapkan di KPP Pratama Jakarta Sawah Besar Dua (2016-2018). Selama tiga tahun berturut-turut, KPP yang ia pimpin itu bisa meraih target penerimaan pajak 100 persen.

“Sekarang WP sudah tahu kok kita profesional. Kita hanya ingin mengetahui lebih dalam kondisi WP satu per satu. Kesulitan WP sekarang ini sama. Ekonomi sulit, faktor tekanan ekonomi global,” ungkapnya.

KPP PMA Satu memiliki komposisi WP dari sektor industri kertas, penerbitan, kimia, karet, galian bukan logam, daur ulang, dan furnitur. Target penerimaan pajak KPP Terbaik di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus ini sebesar R p21.145,44 miliar di tahun 2019.

“Saya yakin dengan pendekatan yang intens, WP lebih patuh bayar pajak. Saya juga tularkan ke pegawai jangan takut dekat dengan WP,” kata Rosma.

Di sisi lain, Rosma selalu wanti-wanti agar para pegawai tetap kukuh menjaga integritas. Kepala Subdirektorat Harmonisasi Peraturan Perpajakan Direktorat Peraturan Perpajakan II tahun 2012–2016 ini tak segan memberi hukuman disiplin bagi mereka yang melanggarnya.

“Teman-teman pegawai sudah diberikan kebebasan berinovasi, tapi jangan coba- coba melanggar aturan,” tegas alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini.

Berkat komitmen integritas itu, pada pengujung tahun 2019 ini, KPP PMA Satu meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) tingkat Kementerian Keuangan maupun nasional.-Aprilia Hariani

Continue Reading

Breaking News

Mitra DJP dalam Usaha Mencapai Target Penerimaan Negara

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Majalah Pajak

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) mengucapkan selamat atas pelantikan Bapak Suryo Utomo sebagai Direktur Jenderal Pajak menggantikan Bapak Robert Pakpahan yang telah memasuki masa purna bakti. IKPI juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Robert Pakpahan yang telah memberikan ruang komunikasi dan kerja sama yang baik antara IKPI dengan Direktorat Jenderal Pajak.

Kami berharap kerja sama ini akan berlanjut dan dapat terus ditingkatkan di bawah kepemimpinan Direktur Jenderal Pajak yang baru, Bapak Suryo Utomo. Tantangan dan harapan untuk memenuhi target penerimaan negara dari sektor pajak adalah konsentrasi kita bersama. IKPI sebagai asosiasi konsultan pajak terdaftar dengan jumlah anggota saat ini mencapai 5.025 dan akan terus bertumbuh, adalah mitra Direktorat Jenderal Pajak.

IKPI mendukung Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan sosialisasi peraturan perpajakan dan pembinaan terhadap Wajib Pajak sehingga setiap Wajib Pajak dapat melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan perpajakan. Sebagai mitra, IKPI bersama-sama dengan Direktorat Jenderal Pajak menerapkan ketentuan perpajakan yang benar, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menyokong upaya pencapaian target penerimaan negara.

 

 

 

Continue Reading

Breaking News

Breaking News1 bulan ago

IKPI: Omnibus Law Perlu Kajian Mendalam Sebelum Disahkan

Untuk mendukung program pemerintah menerbitkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menyelenggarakan diskusi perpajakan bertajuk “Omnibus Law...

Breaking News1 bulan ago

Kerja “Happy” Kejar Prestasi

Apresiasi kepada pegawai berprestasi tak hanya memicu kompetisi positif untuk meraih kinerja lebih baik, tapi juga membangun iklim kerja penuh...

Breaking News1 bulan ago

Mitra DJP dalam Usaha Mencapai Target Penerimaan Negara

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) mengucapkan selamat atas pelantikan Bapak Suryo Utomo sebagai Direktur Jenderal Pajak menggantikan Bapak Robert Pakpahan...

Breaking News2 bulan ago

Perlu “Grand Design” agar Berkelanjutan

Kemendikbud telah menyusun peta jalan kurikulum dan buku panduan guru program Inklusi Kesadaran Pajak. DJP diharapkan memiliki rancangan besar program...

Breaking News3 bulan ago

Merawat Amanah dan Keteladanan sang Ayah

Jabatan tak harus membuat jemawa. Itulah pelajaran berharga yang dipetik Yari dari kesederhanaan ayahandanya. Sudah puluhan tahun berlalu. Namun, kenangan...

Breaking News3 bulan ago

Dari Penjual Minyak Wangi ke Bupati Banyuwangi

Saat kecil, Anas menjajakan baju dan minyak wangi. Kelak, ia jadi Bupati Banyuwangi yang mengharumkan nama Banyuwangi. Nama Abdullah Azwar...

Breaking News4 bulan ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News4 bulan ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News4 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News6 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Trending