Connect with us

Up Close

Merajut Kolaborasi “A Big Family”

Agus Budiman

Published

on

Robert Pakpahan Direktur jenderal Direktorat Jenderal Pajak

Robert Pakpahan “dipulangkan” ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP), untuk menempati jabatan tertinggi, sekaligus lebih tinggi ketimbang jabatannya dahulu ketika ia ditugaskan pemerintah untuk bekerja di luar DJP. Sebelumnya, ia dikenal sebagai salah satu figur penting dalam reformasi perpajakan di instansi yang bertugas mengumpulkan penerimaan negara itu. Saat itu, ia menjabat sebagai Direktur Transformasi Proses Bisnis DJP (hingga tahun 2011. Kini, seusai bekerja sebagai Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Penerimaan Negara (2011-2013) dan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (2013-2017), Robert kembali ke instansi yang dianggapnya sebagai “a big family” yang unik, yang menawarkan sebuah privilege sekaligus tantangan.

“DJP adalah salah satu institusi besar yang betul-betul enggak pernah berhenti untuk untuk me-reform.”

Pengalaman dan latar belakang akademisnya dinilai akan menjadikannya mumpuni untuk membawa DJP ke era baru pasca-Amnesti Pajak dan era derasnya arus digitalisasi di segala bidang, terutama perekonomian. Pria kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 59 tahun silam ini lulus dari Program Diploma III Keuangan, Spesialisasi Akuntansi di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) pada 1991. Tahun 1987, ia menamatkan Program Diploma IV di kampus berikatan dinas itu. Sedangkan gelar Doctor of Philosophy in Economics dari University of North Carolina, AS, diraihnya pada tahun 1998.

“This a big family. Perlu approach yang berbeda untuk memastikan adanya trust di antara sesama untuk mengerjakan pekerjaan sebesar DJP.”

Jumat, 22 Desember 2017, ketika Majalah Pajak menemuinya, ia baru ngantor tiga pekan sebagai Dirjen Pajak, menggantikan Ken Dwijugiasteadi yang pensiun. Dengan kata lain, ia hanya punya sisa waktu sepekan untuk memaksimalkan langkah-langkah pengamanan penerimaan pajak 2017.

Nah, apa saja langkah jangka pendek yang difokuskannya dan apa langkah strategis yang hendak dilakukannnya untuk DJP dan untuk pengamanan target di 2018 dan seterusnya? Dan di era media sosial yang riuh oleh berita nan-cepat-tapi-belum-tentu-akurat ini, apa langkah DJP untuk menyentuh masyarakat pembayar pajak, baik WP lama maupun WP baru dan calon WP yang aktif berkiprah di zaman now?

Nukilan wawancara dapat Anda baca di Majalah Pajak versi cetak Volume XLVI 2018 di toko buku atau klik versi digital via Higo Digital Magazine

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Up Close

Rakyat Melihat yang Saya Lakukan

W Hanjarwadi

Published

on

Kabupaten Banggai kini kian maju dan berprestasi. Sejumlah penghargaan bergengsi pun diraih berkat berbagai gebrakan dan inovasi yang dilakukan Herwin Yatim selama tiga tahun kepemimpinannya.

 

Menjadi bupati bukanlah cita-cita Herwin Yatim sejak awal. Pria kelahiran Makassar 25 Mei 1966 ini lama berkecimpung sebagai pengusaha kelapa sawit di daratan Tolili. Apalagi, latar belakang pendidikan Herwin bukanlah ilmu politik atau pemerintahan. Namun, rekam jejak insinyur pertanian dari Universitas Hasanuddin ini dinilai positif oleh masyarakat sehingga membuat partai politik (parpol) meliriknya.

“Apa yang saya kerjakan adalah proses perjalanan hidup saya, berjalan apa adanya. Masuk ke dunia politik itu memang selalu diminta oleh parpol, lalu menjadi dunia baru bagi saya,” ungkap pria yang juga masih tercatat sebagai Dosen Tetap Fakultas Pertanian Universitas Tompotika Luwuk itu saat di temui usai menghadiri sebuah acara di Jakarta, Sabtu (20/10).

Herwin memulai karier politiknya sebagai Wakil Sekretaris Bidang Internal DPC PDI Perjuangan Kabupaten Banggai pada periode 2005–2010. Tahun 2009, oleh partainya ia diminta maju di bursa pemilihan legislatif dan terpilih menjadi Anggota DPRD Kabupaten Banggai. Setahun kemudian ia dilantik menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Banggai. Kiprahnya sebagai anggota legislatif rupanya dinilai bagus oleh masyarakat. Terutama terkait produk-produk kebijakan daerah yang dianggap sesuai dengan aspirasi masyarakat. Tahun 2011, ia pun diminta mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Banggai dan terpilih untuk periode 2011–2016.

“Lima tahun sebagai wakil bupati saya tidak puas dengan kinerja sebagai wakil. Saya didorong menjadi bupati karena rakyat juga masih banyak menginginkan. Sebenarnya tidak yakin juga, tapi mungkin rakyat melihat apa yang saya lakukan,” kata bapak empat anak yang merampungkan pendidikan S2 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE-ISM), Jakarta ini.

Dukungan dan kepercayaan masyarakat itu pun tak disia-siakan Herwin. Ia pun bersedia maju menjadi calon bupati Banggai berpasangan dengan Mustar Labolo. Momen itu juga sekaligus dimanfaatkan Herwin untuk mengedukasi dan membuktikan bahwa untuk menjadi pemimpin daerah tak perlu biaya politik yang tinggi asalkan memiliki komitmen mau mengabdi sebaik-baiknya untuk masyarakat dan mewujudkan komitmen itu.

“Jadi, kami juga berikhtiar masuk ke dunia politik untuk memperbaiki struktur pola pikir masyarakat agar tidak transaksional, kami ajarkan ‘Eh, mana yang kamu suka, hari ini kamu dapat duit dan habis besok, atau hari ini kau pilih saya, lima tahun kau lebih baik hidupnya?’ Kami punya ikhtiar seperti itu. Kami harus yakin ikhtiar itu bisa jadi bagus, punya niat untuk mengembangkan masyarakat,” tutur pria yang pernah menjabat Ketua KADIN Sulawesi Tengah pada 2001 ini.

“Kami juga berikhtiar masuk ke dunia politik untuk memperbaiki struktur pola pikir masyarakat agar tidak transaksional.”

Tuai prestasi

Di bawah kepemimpinan Herwin Yatim dan Mustar Labolo, Kabupaten Banggai semakin maju dan menuai banyak prestasi. Kemajuan itu berkat berbagai program inovatif yang diciptakan selama kurun dua tahun kepemimpinan Herwin–Mustar. Pada 2016 lalu, pertumbuhan ekonomi kabupaten ini bahkan yang tertinggi di Indonesia, yakni sebesar 37,12 persen. Belum genap satu tahun menjabat bupati, Herwin menerima penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial 2016 dari Presiden RI Joko Widodo. Penyematan tanda Satya Lencana bertepatan dengan puncak peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) 2016 yang berlangsung di Lapangan Sanaman Mantikei, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (20/12/2016).

Masih pada tahun yang sama, Kabupaten Banggai juga menerima penghargaan dari Pemerintah Pusat atas capaian Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk LKPD Tahun 2012-2016; Anugerah Daya Saing Produk Pertanian Sulawesi Tengah tahun 2016; penghargaan pengelolaan kepegawaian terbaik tingkat kabupaten/kota Tipe A, dan masih banyak lagi.

Tahun 2017, Banggai juga menerima Piala Adipura 2017 dari pemerintah pusat. Sementara tahun ini, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) memberikan penghargaan Inagara Award 2018 kepada Kabupaten Banggai, atas prestasinya menciptakan 197 inovasi pemerintahan pada bidang pelayanan publik. Berkat berbagai inovasi itu, tahun 2017 Herwin juga dinobatkan sebagai salah satu pemimpin daerah paling inovatif oleh Kementerian Dalam Negeri.

Keberhasilan Herwin menjadi pemimpin tak lepas dari latar belakang pendidikan karakter yang diterimanya dari kedua orangtuanya. Ayahnya yang berprofesi sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) menanamkan kedisiplinan sejak Herwin masih belia. Sementara dari sang ibu yang pendidik, Herwin mengaku lebih banyak belajar tentang kesederhanaan dan tanggung jawab. Belum lagi, sebagai tujuh bersaudara yang tinggal di rumah dinas, ia harus belajar mandiri dan sigap menyesuaikan diri dengan keadaan.

“Kami dapat rumah dinas itu kamarnya ada tiga. Jadi, karena kamar kecil, yang lain tidur di kolong, jadi anak kolong. Saya lebih suka tidur di masjid, daripada tidur di kolong. Di masjid itu berkah, daripada jadi anak manja,” kenang Herwin.

Continue Reading

Up Close

Edukasi dan Kebahagiaan

Aprilia Hariani K

Published

on

Esensi bisnis tak hanya melulu soal laba, melainkan juga soal kontribusi edukasi dan memberi kebahagiaan kepada khalayak.

Darah pebisnis memang mengalir di tubuh Erick Thohir. Ayahnya, Teddy Thohir merupakan salah satu pemilik grup Astra International dan sang kakak, Garibaldi Thohir adalah Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk. Bedanya, Erick lebih tertarik pada lini bisnis media dan olahraga.

Melalui bisnis media dan olahraga, ia ingin dapat memberikan edukasi dan kebahagiaan untuk masyarakat luas. Kata Erick, bidang olahraga dapat mengajarkan semangat sportivitas, jiwa pantang menyerah, dan berusaha melakukan yang terbaik. Sedangkan bisnis media, ia jadikan wadah edukasi dan informasi. Erick meyakini kedua bidang usahanya itu dapat memberikan kebahagiaan kepada dirinya dan khalayak.

“Saya senang fokus di dunia sport dan media karena ada dua hal penting yang bisa saya kontribusikan ke masyarakat—edukasi dan kebahagiaan,” ungkap Erick di ruang tamu Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC), Senayan, pada Rabu Siang (12/9).

Untuk itu, bagi Erick, perbedaan bisnis yang dijalani oleh keluarga Thohir merupakan sesuatu yang biasa. “Bukannya musuhan tapi kebetulan media dan sport memang menjadi pilihan murni kecintaan dan kesukaan.”

Kesuksesan Erick meracik bisnis di bidang itu bukan sekonyong-konyong. Selulus program master dari National University, California, AS (1993), ia sempat mengawali bisnis restoran Hanamasa dan Pronto, milik keluarga. Di sana Erick belajar banyak tentang kegigihan dalam berbisnis. Terlebih badai krisis moneter 1998 hampir menerjang usaha kuliner itu.

Pasca-Reformasi 1998, bersama sahabatnya, Muhammad Lutfi, Harry Zulnardy, dan Wisnu Wardhana ia mendirikan perusahaan bernama Mahaka.

Lewat awak Mahaka, Erick melebarkan sayap dengan memiliki media Republika. Nah, keyakinannya dalam memberikan kebahagiaan melalui industri media, bagi Erick terjawab tatkala harian Republika mampu memberi inspirasi film Ayat-Ayat Cinta yang rilis pada awal tahun 2008.

“Novel Ayat Ayat Cinta itu cerita bersambung di Republika. Nonton itu bikin orang bahagia bahkan banyak yang nangis,” sebut penulis buku Pers Indonesia di Mata Saya yang terbit pada 2011 ini.

Erick Thohir rupanya semakin jatuh hati pada industri media. Erick lalu mendirikan Gen FM dan Jak FM, membeli Prambors FM, Delta FM dan FeMale Radio.

Saya senang fokus di dunia sport dan media karena ada dua hal yang penting yang saya bisa kontribusi ke masyarakat—edukasi dan kebahagiaan.

“Ketika orang (terjebak) macet dikasih informasi, lagu, lucu-lucuan di radio, orang jadi bahagia,” kata Erick tertawa.

Sukses gemilang pada usaha surat kabar dan radio, Erick kemudian menjajal terjun di industri media televisi. Di tahun 2008, ia menjadi Direktur Utama TV One. Kemudian, di tahun 2014 hingga saat ini Erick menjabat sebagai Direktur ANTV. Ia punya hasrat idealis di sini. Salah satunya, tentang keinginannya menyuguhkan edukasi sejarah pada saluran televisinya.

Rupanya, kesibukannya berbinis tak memadamkan api cintanya pada dunia olahraga. Khususnya cabang olahraga basket yang telah ia gandrungi sejak duduk di bangku sekolah menengah atas..

Sahabatnya, Sandiaga Uno, dalam tayangan “Satu Jam Lebih Dekat” yang disiarkan TV One pada tahun 2015 mengungkapkan, kelincahan Erick muda sudah terlihat saat bermain basket.

“Walaupun tubuhnya enggak mendukung. Tapi, kecil-kecil lincah dan banyak masukin (bola). Saya lihat ia sangat muda dan leadership-nya sudah terbentuk, mental winner,” ungkap Sandiga.

Di tahun 2006 hingga 2010 Erick merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia. Nama Erick di Asia Tenggara semakin mencuat tatkala ia menjabat sebagai Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) dalam tiga periode (masa jabatan terakhir 2014-2019). Bahkan, saat ini Erick juga masih menjadi anggota Central Board di FIBA (Fédération Internationale de Basketball).

Sembari menjalankan lini bisnis media, Erick juga menapaki bisnis olahraga hingga ke Amerika Serikat. Di tahun 2011 Erick membeli klub NBA, Philadelphia 76ers yang membuatnya tercatat sebagai orang Asia pertama yang memiliki saham mayoritas klub NBA. Tak aneh jika Erick dipercaya sebagai komandan kontingen Indonesia untuk Olimpiade 2012 London.

Di tahun berikutnya, dia memiliki saham mayoritas klub MLS, DC United. Namanya kian melambung ketika di tahun 2013, Erick membeli saham mayoritas, hingga 70 persen, klub Serie A, Inter Milan. Di tahun yang sama ia terpilih sebagai presiden klub Inter Milan menggantikan Massimo Moratti hingga saat ini.

“Kenapa kita selalu menjadi barang atau tempat produk asing. Kenapa enggak dibalik. Kenapa enggak perusahaan-perusahaan di Indonesia beli juga perusahaan-perusahaan yang ada di asing?” ungkap pria yang juga memiliki saham Persib Bandung itu.

Di Tanah Air, kiprahnya tak kalah cemerlang. Ia kembali dipercaya sebagai Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) 2015 hingga 2019 mendatang. Erick juga memimpin perhelatan Asian Games 2018 dengan menjadi Ketua INASGOC.

Setidaknya, ungkap Ketua Tim Pemenangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin pada pemilihan presiden 2019 ini, ada beberapa hal yang diyakini sebagai kunci kelancaran bisnisnya, yaitu manajemen sumber daya manusia, fokus, disiplin, dan juga kecermatan membagi waktu, termasuk soal membagi waktu dengan keluarga. Di akhir pekan, bapak empat orang anak ini masih menyempatkan diri hangout bersama keluarga.

Continue Reading

Up Close

Gotong Royong, Perencanaan, dan Orang-Orang Terbaik

W Hanjarwadi

Published

on

Berkat perencanaan matang yang dieksekusi oleh orang-orang profesional yang bergotong royong, Asian Games menuai hasil gemilang.

Pesta olahraga Asian Games 2018 telah usai Agustus lalu. Namun, atmosfer positifnya masih terasa hingga kini. Masyarakat bangga karena Indonesia sebagai tuan rumah telah mampu menjalankan perannya dengan maksimal pada ajang kompetisi empat tahunan yang diikuti 45 negara di Asia itu. Para atlet Indonesia pun berhasil meraih prestasi melampaui target yang ditetapkan. Seperti kita tahu, Indonesia berada pada peringkat keempat dengan capaian 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu, dan menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berada pada posisi sepuluh besar klasemen.

Asian Games 2018 juga tak sekadar memberikan dampak finansial seperti hasil penjualan tiket acara pembukaan maupun pertandingan berlangsung. Lebih dari itu, perhelatan akbar ini juga memberikan dampak ekonomi lebih luas, seperti penciptaan lapangan pekerjaan, upah riil, hingga menggeliatnya beberapa sektor industri, termasuk UMKM.

Dari sisi penyelenggaraan, meski waktu persiapan terbilang jauh dari kata ideal—hanya dua tahun tiga bulan—hajatan besar yang dipusatkan di Jakarta dan Palembang itu juga berhasil mencuri perhatian dunia. Banyak media asing menyoroti positif penyelenggaraan Asian Games ke 18 itu. Bahkan, Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Syeikh Ahmad Al Fahad Al Sabah pun memuji keberhasilan penyelenggaraan Asian Games Indonesia. Begitu pun Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach.

Adalah Erick Thohir, sang Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC), sosok yang tak bisa dilepaskan dari kesuksesan kegiatan yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional itu. Tentu saja tanpa mengecilkan peran sosok lain yang turut terlibat di dalamnya, seperti Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, CEO Net Mediatama Wishnutama, Denny Malik, Dynand Fariz, Eko Supriyanto, dan nama-nama lainnya serta ribuan sukarelawan yang telah mendedikasikan diri mereka secara total.

Menurut Erick, ada tiga faktor kunci yang membuat penyelenggaraan Asian Games itu menuai kesuksesan. Pertama, masih berjalannya budaya gotong royong di Indonesia sehingga semua pihak bersedia membantu. Kedua, adanya perencanaan kerja yang matang dan bisa diimplementasikan di lapangan. Ketiga, penempatan orang-orang terbaik yang kompeten di bidangnya.

“Dengan tiga hal itu, alhamdulillah hasilnya dinilai sangat bagus. Yang bilang bukan saya, tapi masyarakat coba search dari kutipan media-media asing, kalau kita yang omong, kan, lucu,” ujar Erick saat wawancara dengan Majalah Pajak di kantor INASGOC, Jakarta, Rabu (12/9).

Erick menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat dan semua pihak yang telah memberikan apresiasi mereka kepada panitia penyelenggara Asian Games. Meski demikian, Erick mengaku justru sejak awal penyelenggaraan mengharapkan kritik dan masukan dari masyarakat dan pemangku kepentingan yang terlibat. Sebab, dengan adanya kritik, pihaknya akan lebih bisa meningkatkan persiapan, pelayanan dan sistem.

“Saya justru akan lebih senang dikritik. Apa yang kami lakukan di Asian Games di awal-awal justru kami mengharapkan kritik dari semua pihak. Baik dari pihak rekan kerja kami, seperti cabang-cabang olahraga, atau Olympic Committee Asia, atau dari komisi X DPR, atau dari masyarakat, bahkan dari kementerian/lembaga. Karena melalui kritik-kritik itu kita akan bisa memperbaiki kinerja dan pelayanan,” kata pemilik saham sekaligus Presiden klub sepak bola Inter Milan ini.

“Saya justru akan lebih senang dikritik karena melalui kritik-kritik itu kita akan bisa memperbaiki kinerja dan pelayanan.”

Waktu dan anggaran

Meski menuai kesuksesan, bukan berarti pelaksanaan Asian Games tak ada tantangan sama sekali. Erick mengaku, ada beberapa tantangan krusial yang harus dihadapi panitia penyelenggara. Misalnya dari sisi waktu, persiapan Asian Games ke-18 ini relatif singkat, yakni hanya dua tahun tiga bulan. Padahal, menurut pemilik Mahaka Group itu, untuk penyelenggaraan event sebesar itu idealnya butuh waktu setidaknya empat tahun. Bahkan, di banyak negara, menurut Erick mempersiapkan enam tahun. Untungnya, Indonesia memiliki orang-orang terbaik yang mengedepankan gotong royong sehingga rencana yang sudah disusun dengan matang bisa dieksekusi dengan baik.

Tantangan yang tak kalah berat adalah menyiasati ketersediaan anggaran. Sejak awal Erick berusaha untuk menggunakan anggaran seefisien mungkin, tetapi tanpa mengurangi standardisasi yang telah disepakati dengan pihak OCA.

Erick mengungkapkan, anggaran awal Asian Games diperkirakan mencapai Rp 8,7 triliun, di luar pajak. Anggaran itu sebagian besar bersumber dari uang negara—estimasi yang berasal dari sponsor hanya sekitar Rp 300 miliar. Namun, dalam pelaksanaannya realisasi penggunaan anggaran dapat ditekan hingga hanya menggunakan Rp 7,2 triliun. Itu pun Rp 800 miliar di antaranya merupakan pajak yang dibayarkan kepada negara. Artinya, di luar pajak, realisasi anggaran Asian Games Rp 6,4 triliun dikurangi dana realisasi dari sponsor sekitar lebih Rp 800 miliar juga sehingga total anggaran hanya menghabiskan Rp 5,6 triliun.

“Penghematan apple to apple Rp 2,6 triliunsecara keuangan negara, bukan secara penyelenggaraan, ya. Kalau penyelenggaraan, kan, gampang Rp 8,7 triliun ke Rp 7,2 triliun ya Rp 1,5 triliun. tapi untuk keuangan negara, dari Rp 8,4 triliun ke Rp 5,6 triliun itu Rp 2,6 triliun. Ini sebuah penghematan yang luar biasa dengan prestasi yang luar biasa. Tentu kembali ini semua ada bantuan dari Allah, pastinya.”

Belajar dari pengalaman tahun ini, Erick berharap ke depan Indonesia bisa lebih baik lagi, terutama terkait sistem penganggaran. Apalagi jika Indonesia kelak benar-benar berkesempatan menjadi tuan rumah olimpiade. Menurut Erick, penerapan penganggaran untuk kegiatan multievent seperti Asian Games harus dengan sistem penganggaran multiyears yang bisa dilakukan empat hingga enam tahun. Selain dengan sistem anggaran multiyears, Erick juga menyarankan adanya payung hukum dan pemisahan yang jelas anggaran yang dikeluarkan oleh negara dengan yang didapatkan dari sponsorship. Sebab, sponsorship masuk dalam kategori pendapatan negara bukan pajak (PNBP) sehingga harus bisa dipergunakan lagi secara langsung.

“Kalau (anggaran) ini sudah multiyears, ada payung hukum yang jelas, kan pembentukan panitianya juga bisa lebih maksimal lagi, walaupun hari ini sudah luar biasa. Tapi kan kalau kita ingin menaikkan dari Asian Games ke Olimpiade, skalanya itu 25% lebih bagus daripada Asian Games. Jadi, kualitas kita mesti tingkatkan lagi,” tutup Erick.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News4 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News4 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News5 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News5 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News6 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News7 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News11 bulan ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News1 tahun ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News1 tahun ago

Majalah Pajak Print Review

Trending