Connect with us

Breaking News

Merajut Kepedulian, Membangun Kesejahteraan Sosial

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Sosial bersama Forum CSR Kesejahteraan Sosial (Kesos) terus mendorong partisipasi aktif dunia usaha dalam penyelenggaraan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR). Upaya itu salah satunya diwujudkan melalui penganugerahan Padmamitra Award tahun 2020 pada Selasa (17/011).

Padmamitra Award merupakan penghargaan yang diberikan sebagai apresiasi dari pemerintah kepada pelaku badan usaha yang telah menyelenggarakan program CSR di dalam bidang kesejahteraan sosial. Ajang ini diselenggarakan melalui kerja sama antara Kementerian Sosial dan Forum CSR Kesejahteraan Sosial Nasional. Para peserta terdiri dari perusahaan BUMN dan BUMD, perusahaan swasta nasional, dan perusahaan multinasional. Mengangkat tema “Memperkuat Kepedulian Dalam Mewujudkan Pemberdayaan Masyarakat”, ajang ini sebagai upaya menumbuhkan motivasi dan keteladanan bagi badan usaha dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Menteri Sosial RI Juliari P Batubara mengapresiasi para pemenang penghargaan  Padmamitra Award 2020. Ia optimistis, dengan semakin banyaknya kontribusi badan usaha dalam menjalankan program CSR mereka,  Indonesia akan semakin maju.

“Ke depannya kalau negara semakin maju, peran pemerintah harus semakin kecil. Bukan sebaliknya. Kalau pemerintah semakin besar berarti negaranya enggak maju-maju,” jelasnya. Ia berharap, acara Padmamitra Award bukan hanya sebagai acara tahunan saja, melainkan dapat mendorong dunia usaha untuk melakukan kegiatan yang memiliki nilai sosial tinggi bagi masyarakat.

Juliari juga mengajak para pelaku badan usaha untuk semakin meningkatkan kepedulian sosial karena pemerintah memiliki keterbatasan dan tidak bisa bekerja sendiri dalam meningkatkan kesejahteraan sosial. “Kami sangat berharap baik perusahaan swasta, BUMN, Swasta Nasional, Swasta Multinasional, dan teman pilar-pilar sosial semuanya ikut bersama sama, bergotong royong untuk memperbaiki kehidupan yang ada di masyarakat kita,” jelasnya.

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Edi Suharto yang juga hadir dalam acara itu mengatakan, Padmamitra Award tahun ini terbilang unik dan beda dari biasanya. Menurutnya, biasanya CSR fokus kepada aspek-aspek pendidikan atau kesehatan, tapi kali ini lebih fokus kepada problema-problema terkait kesejahteraan sosial.

“Melalui acara ini menegaskan komitmen bahwa Kemensos akan selalu bersinergi dan berkolaborasi dengan mitra potensi dan sumber di dataran sosial dalam menghadirkan negara di tengah masyarakat dalam pandemi Covid-19,”ujar Edi.

Pada malam penganugerahan Padmamitra Award 2020 itu, Menteri Sosial memberikan sejumlah penghargaan pada empat kategori, yakni Kemiskinan, Disabilitas, Keterpencilan, dan Kebencanaan. Kategori Kemiskinan dimenangkan oleh PT Solusi Bangun Andalas, PT Paiton Energi, Conociphillips (Gresik) Ltd, PT Astra International Tbk, PT WIjaya Karya, dan PT Pertamina (persero) Integrated terminal Makasar.

PT Semarang Autocomp Manufacturing Indonesia-Jepara Factory (SAMI-JF), PT Bank Permata Tbk, dan PT Indosat Tbk memenangkan kategori Disabilitas, sementara PT Asmin Bara Bronang, Petrochina International Jabung Ltd, dan PT Pertamina EP Asset 1 Rantau Field memenangkan kategori Keterpencilan.

Adapun penghargaan kategori Kebencanaan diraih oleh Job Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi Selatan, PT Wings Surya, dan PT United Tractors Tbk.

Selain acara penganugerahan Padmamitra Award, acara juga diisi dengan pemberian penghargaan Pilar-Pilar Sosial tahun 2020. Penganugerahan Pilar-Pilar Sosial adalah penghargaan yang diberikan pemerintah kepada relawan perorangan dan kelembagaan sosial terdiri dari unsur pekerja sosial masyarakat, tenaga kesejahteraan sosial kecamatan, karang taruna, dan lembaga kesejahteraan sosial atau organisasi sosial di seluruh Indonesia yang berperan aktif dalam penanganan Covid-19.

Breaking News

Ini Alasan DJP Berencana Naikkan Tarif PPN

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Jakarta, Majalahpajak.net — Wacana pemerintah untuk menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) masih hangat diperbincangkan. Pasalnya, isu itu mencuat di tengah pandemi Covid-19. Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo mengemukakan, ada beberapa pertimbangan yang sedang dibahas pemerintah terkait kenaikan tarif PPN tersebut.

Salah satunya, karena didasari oleh belanja negara yang terus meningkat sejak adanya pandemi Covid-19 hingga tahun ini, sementara di sisi lain kinerja penerimaan negara menurun baik dari pajak maupun penerimaan negara bukan pajak.

“Seperti yang kita tahu, belanja negara mengalami peningkatan karena kita memerlukan pengeluaran yang ditujukan untuk menjaga masyarakat khususnya di sisi kesehatan. Yang kedua, kita juga menjaga ekonomi agar tetap stabil. Jadi, ada beberapa pengeluaran dalam rangka pemulihan ekonomi nasional yang dilakukan oleh pemerintah dan semuanya membutuhkan penerimaan negara,” kata Suryo saat media briefieng, di Media Center, Kantor Pusat Ditjen Pajak, Senin sore (10/5).

Pertimbangan lainnya, yakni tolak ukur tren kebijakan perpajakan global. Amerika Serikat misalnya, sedang menyiapkan rencana untuk menaikkan pajak pada kelompok bisnis dan orang-orang kaya. Di sisi lain, negara-negara OECD juga sedang mendorong kesepakatan global bagaimana menaikkan pajak pada perusahaan IT yang transaksi cross border-nya besar.

Awal Maret 2021, lanjut Suryo, pemerintah Inggris juga merencanakan akan menaikkan PPh Badan dari 19 persen menjadi 25 persen di tahun 2023. Ini merupakan kenaikan pertama kali sejak tahun 1970-an. Lalu, sejak krisis 2008 banyak negara yang meninjau ulang pembatasan pengecualian dan fasilitas PPN, untuk menjaga prinsip netralitas dan mencegah VAT (PPN) gap yang besar.

Tak hanya itu, berdasarkan data OECD, ada 15 yurisdiksi yang menggunakan PPN untuk mengoptimalisasi penerimaan sebagai bagian dari pergeseran kebijakan pajak di tengah pandemi.

“Jadi, melihat situasi pandemi yang luar biasa, pemerintah tetap harus menjaga pengeluarannya supaya kebutuhan pembiayaan tercukupi, di sisi lain kita harus berpikir sumber pemajakan mana lagi yang harus kita coba diskusikan,” ucapnya.

Suryo melanjutkan, pandangan lain yang tengah menjadi bahan diskusi pemerintah yakni adanya beberapa isu terkait penerapan PPN, di antaranya masih banyak barang dan jasa yang tidak dipungut PPN, efektivitasi (c-efficiency) pemungutan PPN Indonesia 0,6 artinya hanya bisa mengumpulkan 60 persen dari total PPN yang seharusnya bisa dipungut, dan rasio PPN Indonesia (penerimaan PPN dibagi PDB) hanya sebesar 3,62 lebih rendah dibanding Thailand 3,88.

“Di sisi yang lain, sema pemungutan pajak saat ini memang belum dapat sepenuhnya menangkap model bisnis yang berubah cepat. Jadi itu, memang konteks keterbatasan ruang fiskal yang kita miliki.”

Berdasarkan sejumlah pertimbangan tersebut, Suryo mengimbau agar masyarakat bisa mengetahui konteks atau latar belakang bagaimana pemerintah bisa mendiskusikan kemungkinan kenaikan tarif PPN di tengah pandemi. Ia pun menegaskan, hingga saat ini pemerintah bersama stakeholder terkait masih mendiskusikan baik dari segi tarif PPN, skema PPN, maupun dampak perekonomian yang akan muncul.

“Begitulah gambarannya, supaya kita mendapatkan pemahaman konteks yang sama terkait diskusi PPN ini. Kami juga terus mendiskusikannya dengan Kementerian Keuangan, kementerian/lembaga, pengusaha, komunitas, pengamat sampai perguruan tinggi.—Ruruh Handayani/Foto: Ruruh Handayani

Lanjut baca

Breaking News

BSI Luncurkan Griya Simuda untuk Nasabah Milenial

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) meluncurkan pembiayaan perumahan BSI Griya Simuda yang menyasar segmen milenial, dengan target penyaluran pada tahap awal sebesar Rp 500 miliar.

Produk pembiayaan perumahan ini menjadi bentuk nyata komitmen BSI yang kehadirannya diharapkan mampu menarik minat generasi milenial.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi mengatakan segmen milenial merupakan ekosistem yang sangat potensial bagi perbankan syariah, sehingga produk dan layanan yang diberikan harusnya mampu menyesuaikan dengan kebutuhan milenial dan perkembangan zaman yang serba mobile dan terus berubah.

“BSI Griya Simuda merupakan salah satu wujud penyesuaian produk untuk kaum milenial, di mana mereka membutuhkan dukungan dari lembaga keuangan dalam mewujudkan muda punya rumah hobi enggak ngalah,” ungkap Hery dalam keterangan tertulis dikutip Minggu (09/5/21).

Dalam peluncuran ini BSI mengundang mitra developer-developer secara daring sebagai ajang memperkenalkan produk secara lebih dekat selain penempatan tim konsumer di marketing office masing-masing developer.

Produk BSI Griya Simuda ini sekaligus merupakan bentuk nyata dari salah satu dari pesan Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat peluncuran Bank Syariah Indonesia yaitu “BSI harus bisa menarik minat milenial yang saat ini berjumlah 25,87 persen dari penduduk Indonesia”.

“Kami berharap produk baru ini mampu mendorong pencapaian target pembiayaan BSI Griya Hasanah, di mana porsi target pembiayaan BSI Griya Simuda untuk tahap awal ini adalah sebesar Rp 500 miliar,” ujar Hery.

Dengan jaringan kantor cabang Bank Syariah Indonesia yang luas diharapkan mampu menjangkau kaum milenial di berbagai daerah. Per Maret 2021, BSI telah menyalurkan pembiayaan Griya Hasanah sebesar Rp38 triliun, tumbuh 13,93  persen (yoy) sehingga dengan telah diluncurkannya BSI Griya SiMuda diharapkan mampu mendorong percepatan target BSI Griya Hasanah sampai dengan akhir tahun 2021.

BSI Griya Simuda merupakan pilihan yang tepat bagi generasi milenial dalam mewujudkan memiliki hunian sesuai syariah di usia muda di tengah pandemi dengan berbagai fitur di antaranya plafon pembiayaan hingga 120  persen lebih tinggi, angsuran pembiayaan yang fleksibel, jangka waktu hingga 30 tahun, dan DP mulai 0 persen.

Generasi milenial yang dekat dengan digital merupakan potensi yang harus dimanfaatkan. BSI Griya Simuda dapat diakses melalui sosial media dam website resmi Bank Syariah Indonesia bankbsi.co.id dan website rumahimpian.id. dengan website tersebut para millenial dapat mengetahui secara langsung persetujuan secara prinsip pengajuan pembiayaannya, sekaligus dapat mengatur sendiri besaran cicilan melalui kalkulator simulasi angsuran, memilih langsung rumah yang akan dibeli melalui katalog dari seluruh developer rekanan terbaik dibidangnya yang telah bekeja sama dengan Bank Syariah Indonesia.

BSI juga bekerja sama dengan developer-developer terbaik dibidangnya yang menjadi mitra dalam memberikan hunian yang sesuai keinginan generasi milenial seperti Perumnas, Ciputra, Jaya Real Property, Sinar Mas Land, Metropolitan Land, Summarecon dan developer-developer terkemuka lainnya.

 

Lanjut baca

Breaking News

Peran Indonesia dalam Standardisasi Pemajakan Global

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

John Hutagaol, Direktur Perpajakan Internasional 2017–2021

Indonesia aktif menyuarakan hak pemajakan digital untuk negara berkembang di berbagai forum internasional.

Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) senantiasa menjalin kerja sama dengan berbagai forum internasional demi bisa menyalurkan beragam aspirasi dan pengetahuan penerapan regulasi perpajakan global.

Direktur Perpajakan Internasional 2017–2021 John Hutagaol menuturkan, Indonesia aktif dalam Organisation for Economic and Co-operation and Development (OECD). Kendati tidak menjadi anggota OECD, Indonesia bersama empat negara lain terdaftar dalam program enhanced engagement yang dikenal dengan key partner pertama yang menandatangani framework of cooperation agreement (FCA) dan host country agreement (HCA).

OECD adalah sebuah organisasi internasional yang bertujuan untuk memperbaiki proses penyusunan kebijakan ekonomi negara anggota dan negara lain di dunia dengan menetapkan standar dan mendesain berbagai kebijakan untuk menyempurnakan fungsi ekonomi negara.

“Kita bukan termasuk negara maju, tetapi punya potensi ekonomi yang besar di dunia. Ini suatu kebanggaan. Indonesia aktif untuk membawa suara kepentingan Indonesia sendiri maupun kepentingan negara-negara berkembang, negara-negara pasar,” kata John. “Karena kalau kita bisa di forum-forum internasional, terutama BEPS (base erosion and profit shifting), kita bicara tentang bagian dari hak pemajakan. Bagaimana memajaki penghasilan lintas negara yang berasal dari transaksi ekonomi digital. Di forum internasional, kita harus menggawangi, menjaga kepentingan Indonesia dalam proses standardisasi pemajakan digital secara global.”

Demikian pula dalam forum Group of Twenty (G20), peran Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Buktinya, setelah pelaksanaan Indonesia ditetapkan sebagai negara Presidensi G20 di tahun 2022 mendatang.

Aktif berkontribusi

Kepala Kasubdit Perjanjian dan Kerja Sama Perpajakan Internasional Leli Listianawati menambahkan, berkat bergabungnya Indonesia di G20 dan Inclusive Framework on BEPS, Indonesia turut berpartisipasi dalam memerangi penyalahgunaan persetujuan penghindaran pajak berganda (P3B) atau tax treaty. Forum ini juga telah menetapkan standar global dalam pelaksanaan pertukaran informasi keuangan secara otomatis atau automatic exchange of financial account information (AEOI).

“Kita menjadi bagian dari masyarakat internasional yang mendukung terwujudnya transparasi perpajakan, sehingga kita bisa membantu otoritas pajak seluruh dunia dalam mengamankan penerimaan perpajakannya, melawan praktik penghindaran dan pengelakan pajak,” jelas Leli.

Lalu, dalam ASEAN Forum Taxation (AFT), Indonesia merupakan salah satu anggota yang cukup penting karena telah menerapkan standar internasional dalam sistem perpajakan domestik dan inclusive framework. Selain itu, Indonesia memiliki treaty network yang lengkap khususnya di kawasan regional Asia Tenggara (kecuali Myanmar) dan sistem pertukaran informasi yang memenuhi standar.

“Karena Indonesia dinilai cukup berhasil menerapkan EoI, beberapa kali permintaan untuk sharing pengalaman kepada negara-negara lain,” tambah Leli.

Dalam Study Group on Asian Tax Administration and Research (SGATAR) Indonesia bahkan terpilih menjadi Ketua SGATAR dan anggota. Forum tahunan yang didirikan sejak tahun 1970 ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama serta memperbaiki administrasi dan masalah-masalah perpajakan.

Indonesia juga tergabung dan terlibat mendirikan The Association of Tax Authorities of Islamic Countries (ATAIC), yakni sebuah organisasi yang didirikan oleh sebelas perwakilan negara Islam. Forum ini merupakan subsidiary agent yang berafiliasi dan memperoleh dukungan penuh dari Organisation of Islamic Cooperation (OIC).

“Tujuan pendirian ATAIC adalah untuk menyediakan forum diskusi dalam hal pengembangan kebijakan dan administrasi perpajakan atau zakat dalam meningkatkan perekonomian. Indonesia memiliki hak suara dalam keputusan yang diambil di dalam pertemuan kepala delegasi,” katanya.

Bersama Asian Development Bank (ADB), Indonesia juga aktif berkontribusi dalam forum. Indonesia pernah dua kali menjadi tuan rumah penyelenggara forum ADB (2016 dan 2018). Beberapa anggota ADB bahkan memberikan bantuan peningkatan kapasitas pegawai DJP.

Indonesia turut menjadi bagian dari Belt and Road Initiative Tax Administration Cooperation Mechanism (BRITACOM). Forum ini penting untuk memfasilitasi perdagangan dan investasi para anggota. Seperti diketahui, saat ini Indonesia tengah gencar menarik investasi.

Di tengah pandemi Covid-19, forum internasional secara khusus mengundang Indonesia untuk memaparkan kebijakan perpajakan di tengah pandemi, khususnya penanganan transfer pricing. Indonesia juga memiliki banyak perjanjian internasional dengan banyak negara demi mengoptimalkan potensi penghindaran pajak, antara lain dengan Jepang, Belanda, Australia, dan lain-lain.

Kerja sama DJP dan seluruh organisasi internasional diatur dalam beberapa aturan, di antaranya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 217/PMK.01/2018 sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 229/PMK.01/2019.

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved