Terhubung dengan kami

Leisure

Menyusuri Keindahan Lombok

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Menutup akhir tahun di Pulau Lombok merupakan pilihan yang tepat.

Terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, membuat Lombok yang hampir sebagian wilayahnya dikelilingi oleh lautan, keindahan pantai dan laut, memiliki segudang wisata menarik yang memukau. Denyut kehidupan masyarakat yang sarat dengan nilai budaya turut memperkuat ciri khas pulau yang terletak tak jauh dari Bali itu. Jangan pula dilewatkan, wisata kuliner yang mulai berkembang di pulau tersebut.

Menyapa si cantik Rinjani

Di kalangan pecinta alam, keindahan Gunung Rinjani sudah tak asing. Gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia itu menjulang kokoh menghiasi setengah dari Pulau Lombok bagian utara.

Gunung tersebut tidak hanya indah dan dikagumi banyak orang, tapi merupakan tempat suci bagi umat Hindu Bali dan Suku Sasak. Mereka meyakini gunung itu sebagai tempat bersemayamnya para dewa.

Hasrat menyaksikan matahari terbit menjadi momen yang paling dinanti para pendaki gunung. Selain itu, ada magnet lain yang membuat gunung tersebut makin memesona, yakni keberadaan Danau Segara Anak. Pengunjung akan disuguhi panorama eksotis di Sepanjang jalan menuju danau ini.

Warga setempat percaya, air danaunya yang biru sebiru laut berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Airnya hangat karena berasal dari sumber air panas. Menjelang sore, akan timbul semburat warna oranye di sepanjang danau tersebut.

Mengunjungi Suku Sasak

Oh ya, saat mendaki ke Gunung Rinjani, sempatkan waktu untuk mengunjungi Desa Bayan. Desa ini terletak di kaki Gunung Rinjani dan merupakan wilayah perkampungan suku asli Lombok, yakni Suku Sasak. Di sana, kita dapat melihat keseharian masyarakat yang hingga kini masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka.

Selain Desa Bayan, Suku Sasak juga bisa kita temui di Desa Sade. Mereka juga masih melestarikan tradisi nenek moyang, yakni melapisi kotoran sapi atau kerbau di seluruh lantai rumah. Uniknya, kotoran sapi tersebut tidak menimbulkan bau. Bahkan, setelah dilapisi berkali-kali dengan kotoran sapi, lantai rumah mereka akan makin mengilap.

Wisata wajib

Selain gunung, pantai adalah wisata wajib bagi para wisatawan. Pantai yang paling populer di pulau ini antara lain wisata ke tiga Gili, yakni Gili Air, Trawangan dan Meno. Wisata tiga Gili dapat ditempuh hanya dengan waktu 30 menit.

Gili Air adalah pantai yang terdekat dari Pulau Lombok. Pantai ini cocok untuk wisatawan yang berlibur bersama keluarga. Jumlah penduduk di Gili Air terbilang lebih padat dibandingkan dua gili lainnya. Meski begitu, wisatawan masih dapat menikmati keindahan pantai beralaskan pasir putih dan air laut yang jernih. Dibandingkan dua gili lainnya, fasilitas wisata di sini, mulai dari penginapan, restoran hingga kafe terbilang lebih lengkap.

Gili Meno terletak di antara Gili Air dan Gili Trawangan. Air lautnya berwarna biru muda. Semakin ke tengah laut, warnanya menjadi biru tua. Di sepanjang garis pantai, pasirnya tampak putih dan bersih.

Tidak ada kendaraan bermotor di sepanjang pantai tersebut. Maka, suasananya pun tenang dan bebas polusi. Untuk menyusuri pantai, kita bisa berjalan kaki atau memanfaatkan jasa transportasi sejenis andong, yakni cidomo. Aturan ini juga berlaku di dua gili lainnya.

Pantai yang letaknya terjauh namun paling diminati para wisatawan adalah Gili Trawangan. Masih dengan pasir putih dan laut biru dengan gradasi warna hijau yang jernih, di pantai tersebut, wisatawan dapat melakukan scuba diving dan snorkeling.

Pantai lain yang tak boleh dilewatkan adalah Pantai Sengigi. Letaknya di sebelah barat pesisir Pulau Lombok dan mudah diakses menggunakan kendaraan. Selain itu, ada Pantai Kuta. Pantai yang namanya sama dengan Pantai Kuta di Bali ini terletak di Desa Kuta, Lombok Tengah.

Pantai ini menjadi salah satu pantai favorit para peselancar baik dari dalam maupun luar negeri. Sekitar bulan Februari-Maret, wisatawan dapat menyaksikan Festival Nyale. Festival ini termasuk ke dalam rangkaian Upacara Bau Nyale yang rutin diadakan setiap tahun oleh Suku Sasak. Keunikan dan keseruan festival ini terjadi saat momen mencari cacing Nyale di laut. Menurut legenda, cacing tersebut merupakan perwujudan dari rambut seorang putri cantik bernama Putri Mandalika

Jadi, lingkari Pulau Lombok dalam agenda liburan Anda.

Penulis: Diansari Puspaindah

Foto: Dok. Istimewa

 

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Leisure

Gugus Surga di Maluku Tenggara

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Di bumi siwa lima nusa ina ama

Negeri seribu pulau terbentang di atas biru lautan

Ikang bakar, hingga makan colo-colo sagu katong jadi satu

Tifa kuli bia babunyi satukan barisan

Aroma cengkeh pala kaeng berang di kapala

Sebait lirik lagu berjudul “Paradise” ciptaan Tikang Palungku yang menjadi salah satu lagu tema Tour de Molvccas 2017 ini cukup merangkum sejuta keindahan alam, ragam budaya, serta kekuatan sejarah jalur rempah Maluku. Dengan sebutan lain the Moluccas, Maluku pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia, sebagai kebun surga tempat tiga rempah penting, yakni cengkih, pala, dan lada yang kala itu hanya tumbuh di sini.

Kini, walau rempah tidak membuat Maluku setenar dulu, pesona keindahan dan banyaknya keeksotisan pulau-pulau tersembunyi yang belum banyak dijamah, membuat provinsi ini diminati wisatawan domestik dan mancanegara. Apalagi, sejak adanya upaya kreatif juga inovatif dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, dan didukung dengan sarana transportasi, akomodasi, juga infrastruktur yang memadai.

“Breathtaking moment”

Bicara pulau-pulau tersembunyi, mari kita terbang menuju kepulauan Kei di wilayah tenggara Maluku. “Nyeberang dari sini 1,5 jam ke Tual. Kalau Tual itu kabupatennya sudah maju, itu benar-benar surga yang tersembunyi di situ,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Habiba Saimima saat merekomendasikan salah satu destinasi wisata Maluku pada kami, saat berkunjung ke sini akhir Agustus lalu.

Setelah mendarat di Kota Tual, Pulau Kei Kecil, wisatawan bisa mulai mengeksplor pulau ini maupun pulau nan cantik lainnya menggunakan speedboat atau perahu sewaan. Gugusan kepulauan Kei memiliki 119 pulau besar dan kecil, membentang seluas 7900 kilometer persegi, serta diberkati dengan perikanan dan objek pariwisata yang sangat kaya.

Saking cantiknya gugusan pulau ini, tahun lalu Kementerian Pariwisata RI pun menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer (the most popular hidden paradise).

Satu di antara surga tersembunyi itu adalah Pulau Bair. Pulau tak berpenghuni ini memiliki dua teluk yang saling berhadapan dan menyuguhkan kecantikan tak terkira. Air laut yang begitu jernih dan tenang dengan kemilau warna hijau toska yang memesona.

Belum lagi bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua—ini seperti versi mininya. Untuk mendapatkan sensasi breathtaking moment, Anda bisa menaiki salah satu bukit tersebut dan jangan lupa berfoto sebagai oleh-oleh untuk teman-teman Anda.

Meti Kei

Sebidang surga lainnya yang wajib singgahi adalah Pantai Ngurbloat yang terletak sekitar 18 kilometer dari Langgur, Ibu Kota Maluku Tenggara. Selain memiliki bibir pantai yang landai, pantai ini membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer, sehingga wisatawan kerap menamainya sebagai Pantai Panjang. Dan menariknya, pantai ini juga memiliki pasir putih sehalus tepung, loh. Saking halusnya, majalah National Geographic pernah menyebutnya sebagai pasir paling lembut di seluruh dunia.

Oktober adalah bulan yang paling tepat untuk menjelajahi pantai ini atau pantai lainnya di Pulau Kei. Sebab, dalam setahun, hanya di bulan itu, air laut di sekitar pulau ini surut jauh. Bayangkan, jika sebelumnya Anda harus menggunakan perahu menuju pulau lain, kini bisa berjalan kaki. Pemerintah daerah setempat pun memanfaatkan fenomena tersebut untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi. Setiap tanggal 22 atau 23 Oktober, di Pantai Panjang diadakan Festival Meti Kei.

“Meti kei itu airnya surut jauh. Jadi, ikan enggak sempat lari, tersembunyi di karang-karang, orang tinggal tombak saja, langsung disiapin bakar-bakaran ikan di sana. Itu bulan Oktober,” tambah Saimima.

Tak sekadar menjual potensi alam, kekhasan budaya masyarakat setempat dan potensi lainnya juga diperkenalkan di acara tersebut, seperti pameran mutiara sebagai hasil bumi unggulan, pergelaran kesenian yang mengekspos budaya Kei, tradisi leluhur menangkap ikan di laut, hingga pesta rakyat yang dipusatkan di sepanjang Pantai Panjang ini. Di sekitaran pulau ini juga telah tersedia banyak pilihan penginapan yang bisa Anda pilih, mulai dari homestay ataupun cottage tepi pantai. Mari katong pi ka Maluku!

“Saking cantiknya gugusan pulau ini, Kementerian Pariwisata RI menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer.”

“Bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua, hanya saja ini versi mininya.”- Wawancara: Agus Budiman, Penulis : Ruruh Handayani

Lanjutkan Membaca

Leisure

Jejak Masa Lalu di Tepi Teluk Penyu

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  • 57
  • 46
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    103
    Shares

Cilacap tak hanya lekat dengan Pulau Nusakambangan. Ada keindahan Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem yang menjadi saksi bisu sejarah kolonial di masa lalu.

Anda yang pulang mudik ke seputar Jawa Tengah, mungkin tidak asing dengan Cilacap, kabupaten terluas di Jawa Tengah. Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat ini memiliki luas sekitar 225.360.840 hektare atau mendiami sekitar 6,2 persen dari total wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Cilacap kini memiliki infrastruktur jalan yang cukup memadai serta sarana transportasi yang lengkap. Umumnya, wisatawan akan memilih transportasi darat. Dari Jakarta, waktu tempuh untuk perjalanan darat menggunakan bus atau kendaraan pribadi sekitar 7 jam, sedangkan jika dengan kereta api hanya sekitar 5 jam.

Jika ingin lebih cepat, Anda dapat memilih menggunakan pesawat terbang karena Cilacap juga memiliki lapangan terbang perintis Tunggul Wulung. Karena kapasitas landasan bandara yang masih kecil, pesawat komersial yang diperbolehkan mendarat saat ini hanya jenis pesawat perintis. Itu pun dengan rute terbatas, yakni Jakarta–Cilacap atau sebaliknya. Jadwal penerbangan pun tidak setiap hari. Jadi, sebelum berangkat, Anda harus mengecek jadwal penerbangan terlebih dahulu.

Selain Pulau Nusakambangan yang legendaris, Cilacap yang didukung dengan topografinya yang berupa dataran landai dan perbukitan juga memiliki potensi wisata alam nan menawan seperti pantai, perbukitan batu gamping (kapur), dan gua karst.

Tak hanya itu, keberadaan kabupaten ini juga tidak bisa dipisahkan oleh kepingan sejarahnya, terutama saat zaman kolonial Belanda. Tim Leisure Majalah Pajak yang mengunjungi Cilacap akhir April lalu mencoba menelusuri jejak-jejak kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh walau berusia tua.

Benteng Pendem

Untuk mendapatkan itu semua, kami berkunjung ke Benteng Pendem. Berada di kawasan wisata Pantai Teluk Penyu, benteng ini cukup mudah dijangkau karena hanya berjarak sekitar empat kilometer dari alun-alun Kabupaten Cilacap, atau sekitar 10 menit perjalanan. Ditemani seorang pemandu lokal bernama Andi, kami diajak berkeliling benteng seluas 6,5 hektare ini. Benteng yang sebelumnya terkubur selama lebih dari 100 tahun ini ditemukan pada tahun 1986. Pemerintah setempat kemudian menggalinya lalu menjadikannya sebagai cagar budaya dan objek wisata hingga saat ini.

Menurut Andi, benteng-benteng yang dinikmati oleh wisatawan saat ini hanya sekitar 60 persen dari total keseluruhan bangunan yang masih terkubur.

“Di dalam benteng ini diperkirakan terdapat 102 ruangan yang masih tertimbun pasir atau tertutup tanah. Jadi, sekitar 40 persen yang belum digali,” ujarnya.

Menengok sejarahnya, bangunan bernama asli Kustbatterij op de Landtong te Cilacap ini merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun secara bertahap selama 18 tahun, yakni tahun 1861 hingga 1879. Penamaan Benteng Pendem diberikan oleh masyarakat setempat karena bentuk bangunan yang sengaja terurug tanah, sehingga jika dilihat dari jauh, benteng itu seolah-olah hanya tampak seperti seonggok bukit.

Pemerintah Hindia Belanda memang tidak sembarangan memilih tempat ini sebagai pusat pertahanan mereka kala itu. Lokasinya yang berhadapan langsung dengan laut, membuat mereka dapat dengan mudah memantau musuh yang datang dari laut maupun darat.

“Dulu, di sini asli tanahnya rata. Jadi, Belanda bikin bangunan-bangunan. Setelah itu bangunan sengaja ditimbun tanah untuk mengelabui musuh. Di atas tanah itu ditanami pepohonan biar enggak kelihatan, sehingga seolah-olah gundukan tanah itu hanya berupa bukit saja.”

Strategi penting lain yang dipikirkan Belanda pada waktu itu adalah membuat parit selebar 18 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter (setelah mengalami pendangkalan). Selain berfungsi sebagai penampungan air, parit yang dibangun mengelilingi benteng ini, juga digunakan untuk mempermudah patroli penjagaan tentara Belanda, dan menghambat laju musuh.

Walau di beberapa bagian terlihat dinding yang terkelupas, bangunan berusia lebih dari 150 tahun ini masih berdiri dengan kokoh. Arsitektur khas Eropa terlihat pada lengkungan di bagian atas pintu masuk setiap ruangan.

Secara garis besar, struktur bangunan yang bisa ditelusuri wisatawan saat ini terdiri dari 14 ruang barak, 2 ruang kesehatan, ruang akomodasi, ruang rapat perwira, ruang bawah tanah, ruang amunisi, ruang senjata, dan penjara. Andi menambahkan, sebetulnya terdapat terowongan yang konon terhubung dengan benteng di Pulau Nusakambangan. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada bukti yang bisa mendukung cerita tersebut.

Benteng ini merupakan saksi bisu sejarah yang penting untuk dilestarikan. Sayang, di setiap ruangan tersebut tidak disertai dengan lampu sehingga wisatawan cukup kesulitan melihat keseluruhan ruangan dan hanya dapat melihat sekilas melalui cahaya senter yang biasa dibawa oleh para pemandu. Kondisi becek bahkan banjir di beberapa area dalam ruangan juga membuat wisatawan tidak bisa seutuhnya merasakan jejak-jejak sejarah penting di sini.

Pantai Teluk Penyu

Setelah hampir seharian mengelilingi Benteng Pendem, kami menyempatkan diri mampir ke Pantai Teluk Penyu. Meski dinamakan Teluk Penyu, Anda tidak akan menemukan penyu-penyu yang berkeliaran dengan bebas di pesisir pantai. Penamaan teluk ini karena masyarakat setempat percaya bahwa dulu pantai ini merupakan rumah bagi penyu, sehingga banyak penyu bertelur dan berkembang biak di sini.

Walau tanpa penyu, pantai ini tetap digandrungi sebab wisatawan dapat mencicipi kelezatan aneka hidangan laut di rumah makan yang berjejer rapi di sepanjang area pantai. Setelah makan, kami tak lupa membeli suvenir berbahan kerang laut di toko yang juga mudah ditemukan di area ini.

Hari pun beranjak sore, ditemani semilir angin laut, kami sejenak menikmati sinar matahari yang pelan-pelan mulai tenggelam di ufuk barat sebelum kembali pulang ke Jakarta.

Lanjutkan Membaca

Leisure

Layar Terkembang di Riau–Khatulistiwa

Sejar Panjaitan

Diterbitkan

pada

Penulis:

tempat wisata di Batam
Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Datanglah ke Batam, menikmati sensasi berlayar melintasi garis khatulistiwa dan alam bahari kepulauan Riau yang penuh pesona.

Batam menjadi pintu terbesar ketiga masuknya wisata mancanegara (wisman) ke tanah air setelah Bali dan Jakarta. Betapa tidak, kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ini sangat berdekatan dengan negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Tahun lalu, tak kurang dari dua juta wisman mayoritas berasal dari kedua negara itu melancong ke Batam dan beberapa pulau lainnya di Provinsi Kepri. Sementara tahun ini, Kementerian Pariwisata meningkatkan target kunjungan menjadi 2,5 juta wisman.

Pulau ini memang dikenal sebagai surga belanja, kuliner dan golf. Sebab, fasilitas infrastruktur, akomodasi serta sentra perbelanjaan, sudah disediakan dan dikelola dengan baik oleh pemda serta sektor swasta. Namun, pesona Batam tidak melulu berada di daratan. Pesisir dan lautnya di beberapa titik seperti Pantai Nongsa, Melur dan Marina serta kecantikan alam bawah lautnya siap memanjakan liburan Anda.

Bentang layar

Di sekitar perairan Nongsa, Anda dapat melihat barisan kapal-kapal wisata (yacht) bersandar dan tertata apik di pelabuhan Nongsa Point Marina. Tak hanya kapal wisata asal Indonesia yang bersandar di sini, tapi juga kapal berbendera asing. Pemda maupun pemerintah pusat memang sedang giat-giatnya memaksimalkan kedatangan wisman yang menggunakan kapal wisata pribadi. Nongsa Point Marina Batam kini sebagai salah satu dari 18 pelabuhan yang ditunjuk untuk memberi fasilitas khusus bagi kapal wisata mancanegara.

Penunjukan yang dijabarkan dalam Peraturan Presiden No. 105 tahun 2015 tersebut menitikberatkan pada kemudahan pengurusan dokumen, baik di pelabuhan masuk maupun keluar, salah satunya melalui aplikasi digital bernama Yacht Electronic Registration System (YachtERS). Aplikasi on-line itu memungkinkan pemilik yacht mengurus clearence aproval time Indonesian territory (CAIT) cukup lewat ponsel saja dan hanya dalam hitungan menit, surat izin berlayar akan didapat.

Dengan semakin mudahnya perizinan itu, potensi wisata semakin besar. Terbukti, tak lama setelah keputusan itu diumumkan, tren kunjungan yacht berbendera asing yang berlabuh di pelabuhan ini meningkat hampir 300 persen. Sekitar 200 yacht bersandar di pelabuhan ini sepanjang tahun 2016. Peluang ini juga digunakan sektor swasta untuk menggelar festival agar dapat membantu pemda setempat mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan.

Festival-festival ini mengambil momen datangnya angin utara (monsoon) yang biasanya membawa angin kencang dan gulungan ombak nan tinggi dan periode ini berlangsung antara akhir Januari hingga akhir Februari. Tak hanya menarik pemilik yacht asing, wisatawan lokal dari berbagai daerah juga kerap meramaikan acara ini karena dinilai sesuatu yang unik di Indonesia.

Nongsa Regatta

Festival yang didukung penuh Kementerian Pariwisata melalui program Woderful Indonesia ini diselenggarakan pertama kalinya oleh Nongsa Point Marina & Resort pada 27 hingga 31 Januari tahun lalu. Tercatat lima negara yang berpartisipasi, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat dan Selandia Baru dengan 200-an peserta. Perlombaan layar internasional ini menghadirkan beberapa kategori seperti yacht, radio control sailing dan traditional kolek keelboat. Mengulang kesuksesan tahun pertama, tahun ini acara tersebut kembali diadakan pada 19 hingga 22 Januari 2016.

Neptune Regatta

Lomba layar yang satu ini memang sudah menjadi acara langganan tiap tahunnya dan cukup digandrungi oleh para peserta baik dari Indonesia, Singapura, dan negara lainnya. Neptune Regatta memang menarik, sebab pesertanya diwajibkan melewati titik nol garis khatulistiwa (race to equator) sebelum kembali ke garis finish.

Peserta mulai berlayar dari Nongsa Point Marina dan terus bergerak searah jarum jam menuju beberapa spot kepulauan Riau. Mengagumi Gunung Berapi di Temiang, singgah di Pulau Buaya dan melewati garis khatulistiwa adalah sensasi pengalaman yang tidak akan dilupakan oleh para yachter. Neptune Regatta kembali diadakan tahun ini untuk ketujuh kalinya pada tanggal 28 Januari hingga 4 Februari ini. Ruruh Handayani

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

Tax People Share!8374      157SharesPT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di...

Breaking News2 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Tax People Share!         Post Views: 2.129

Breaking News4 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

Tax People Share!          Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri...

Breaking News4 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Tax People Share!        Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan...

Breaking News5 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Tax People Share!        Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat...

Breaking News7 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Tax People Share!        Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang...

Breaking News12 bulan lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Tax People Share!        Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan,...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Tax People Share!        Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Tax People Share!        Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak...

Breaking News2 tahun lalu

Ini Cara Kerja Listrik Tenaga Air Versi Tri Mumpuni

Tax People Share!        Air dari sungai dibendung kemudian dialirkan melalui parit. Kira-kira 300 hingga 500 meter dari bendungan, sebagian air dialirkan...

Advertisement Pajak-New01

Trending