Connect with us

Leisure

Menyapa Kearifan Alam nan Eksotis

Majalah Pajak

Published

on

Anda perlu tengah mencari tempat untuk menyejukkan hati? Mungkin Anda perlu ke Dusun Bambu.

 

Wajah Kota Bandung yang macet menjelang sore, tak menyurutkan semangat Majalah Pajak mengunjungi objek wisata berkonsep kampung. Kampung? Kedengarannya tidak terlalu istimewa.

Tahan dulu komentar bernada miring. Sebab, sekali Anda menginjakkan kaki di sana, dipastikan Anda enggan pulang. Pemandangannya yang asri tak hanya menyehatkan mata, tapi juga jiwa, karena suasananya menyejukkan hati.

Terletak di Jalan Kolonel Matsuri Km 11 Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat. Seperti namanya, Dusun Bambu, kawasan tersebut merupakan sebuah perkampungan yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Keberadaannya bertujuan sebagai tempat konservasi bambu.

Sekadar informasi, Indonesia adalah negara dengan jenis bambu terbanyak sedunia. Jumlahnya mencapai 120 jenis.

“Kami ingin mengajak pengunjung ikut menghargai alam, mengenal kebudayaan dan tradisi warga setempat dan melestarikannya.”

Relaks

Berada di atas ketinggian 1.200 mdpl, Dusun Bambu menempati 15 persen lahan dari total area 100 hektare. Ia dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan.

Untuk mencapai lokasi tersebut, Dusun Bambu menyediakan enam mobil yang bertujuan untuk mengantar dan menjemput tamu dari area parkir hingga tempat tujuan, atau sebaliknya. Keberadaan fasilitas ini bermanfaat untuk meminimalisasi polusi udara dari kendaraan bermotor.

Sesekali udara sejuk menyapa pohon bambu. Sapaannya membuat daun saling bergesekan. Gesekan itu menimbulkan suara merdu yang mampu meneduhkan hati. Sesapi keindahan itu sembari memandang danau buatan yang terhampar luas di area tersebut.

Pengalaman berwisata Anda makin berkesan karena tempat ini mengusung konsep eco and edu tourism. Pengunjung tak hanya diajak berlibur sembari menikmati keindahan alam, tapi juga mengenal dan melestarikan budaya setempat.

Dengan melibatkan warga setempat, pengunjung dapat mengenang kembali berbagai permainan tradisional mulai dari bermain congklak, lompat tali hingga panahan. Sementara aktivitas seperti membatik, menangkap ikan dan menanam padi mengingatkan kita akan warisan budaya dan kekayaan tanah air sebagai negara agraris. “Kami ingin mengajak pengunjung ikut menghargai alam, mengenal kebudayaan dan tradisi warga setempat dan melestarikannya,” kata Suparman, Marketing & Activity Manager.

Bagi pengunjung yang ingin bermalam, tempat wisata yang resmi dibuka pada 16 Januari 2014 itu menawarkan dua tipe penginapan. Pertama, tipe penginapan ala kampung. Kedua, penginapan menggunakan tenda berkonsep perkemahan. Keduanya memiliki keunikan tersendiri.

Penginapan a la kampung akan membawa Anda menuju sebuah rumah khas rumah di desa-desa yang arsitekturnya didominasi bambu. Untuk bermalam di rumah ini, pengunjung dikenakan biaya Rp 2,2 juta.

Sementara jika ingin menikmati sensasi bermalam di alam terbuka, Dusun Bambu menjamin pengunjung akan merasakan pengalaman tak kalah berkesan. Meski tidur di dalam tenda, pengunjung dipastikan tetap nyaman dan aman. Setiap tamu akan mendapatkan kasur, sleeping bag, selimut, dan bantal.

Meski konsepnya bermalam di alam terbuka, setiap tamu memiliki area masing-masing. Selain tenda, di dalamnya terdapat ruang santai, tempat untuk barbeque dan toilet yang dilengkapi gembok untuk menjaga privasi tamu.

Harga yang ditawarkan untuk menikmati pengalaman berkemah ini relatif terjangkau. Hanya Rp 1,7 juta per malam.

Bersantap di dalam kepompong

Bagi pengunjung yang tak memiliki banyak waktu untuk bermalam, sekadar memanjakan lidah dengan menu masakan khas Pasundan bisa menjadi pilihan. Dusun Bambu menawarkan pengalaman bersantap yang unik.

Kita bisa menikmati bersantap di saung yang terletak di tepi danau. Pengunjung harus menggunakan sampan atau perahu bambu untuk menempuh tempat tujuan. Setibanya di lokasi, Anda akan dibuat berdecak kagum. Sebab, saung didesain menyerupai lumbung atau tempat menyimpan padi.

Pengunjung juga bisa merasakan serunya makan di dalam kepompong. Tempat makan yang diberi nama Lutung Kasarung itu dibuat menyerupai rumah ulat yang nantinya akan bertransformasi menjadi kupu-kupu tersebut.

Kepompong berukuran raksasa ini berada di atas pohon. Keberadaannya ditopang oleh pilar-pilar nan kokoh. Antarkepompong dihubungkan oleh jembatan sehingga kita seolah-olah bersantap sembari melayang di atas permukaan tanah.

Bagi Anda yang ingin bersantap a la dining, silakan mampir ke Burangrang Café. Di sini, kita dapat merangkum panorama Dusun Bambu karena lokasinya terletak di dataran yang lebih tinggi dari area sekitarnya.

Mengarah ke atas, ada lagi tempat nongkrong yang tidak kalah seru. Lokasi itu dikenal dengan nama Pasar Khatulistiwa. Tempat makan berkonsep food court ini menyediakan aneka makanan dan camilan tradisional. Sebut saja lotek, surabi, colenak, hingga rujak.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera tandai kalender Anda untuk mengunjungi Dusun Bambu bersama keluarga tercinta.

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Eksotisme dan Prosesi di Negeri Dewa-Dewi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Istimewa

Tak cukup satu malam menjelajahi pesona Dieng. Selain alamnya yang eksotis, Dieng memiliki sejumlah bangunan bersejarah dan festival tahunan yang menarik.

 

Kabut tipis yang seolah enggan pergi menyelimuti kota, rindangnya pepohonan, deretan perbukitan nan hijau hingga kompleks pegunungan mulai dari Prau, Sindoro, Sumbing, dan puluhan gunung lainnya sebagai latar belakang lukisan alam nan memesona. Inilah lanskap alam yang bisa Anda amati lekat-lekat dan nikmati sepanjang hari saat berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Dataran Tinggi Dieng merupakan destinasi wisata terpopuler kedua di Jawa Tengah setelah Candi Borobudur. Wilayah Dieng mencakup Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo dengan area seluas kurang lebih 619,846 hektare. Dalam bahasa kawi, Dieng berasal dari dua gabungan kata di yang berarti ‘tempat’ atau ‘gunung’ dan hyang yang bermakna ‘dewa’. Letaknya yang berada di ketinggian sekitar 2093 meter di atas permukaan laut, membuat Dieng sering dijuluki sebagai Negeri di Atas Awan.

Layaknya sebuah negeri kayangan, konon Dieng dipercaya sebagai tempat dewa dan dewi bersemayam. Sejumlah destinasi yang berada di kawasan ini pun dipenuhi legenda dan sering dijadikan sebagai tempat pertapaan. Ini jualah yang menyebabkan Dieng selalu eksotis sekaligus misterius.

Saat kami berkunjung ke sana pada awal Juni lalu, hawa dingin di Dataran Tinggi Dieng terasa menusuk hingga ke tulang. Temperatur udara yang tertera pada seluler pintar kala itu menunjukkan angka delapan derajat celsius. Tak terbayang, bagaimana rasanya ketika suhu turun drastis di puncak kemarau bulan Agustus–September mendatang.

Pada suhu terendah, temperatur di sini bisa mencapai hingga minus sembilan derajat celsius. Suhu ini menyebabkan embun es muncul dan menutupi hampir semua tanaman rendah serta rerumputan, sehingga seolah tertutup salju. Kemunculan embun es ini juga selalu ditunggu oleh wisatawan. Banyak di antara mereka yang jauh-jauh datang dan bermalam di penginapan yang dikelola oleh warga (home stay) agar keesokan paginya dapat mengabadikan fenomena ini.

Di sisi lain, petani lokal justru menyebut kemunculan embun ini sebagai bun upas atau embun racun. Pasalnya, embun es yang terlampau tebal dapat mematikan tanaman kentang, kubis, dan beberapa jenis tanaman lainnya sehingga dapat terancam gagal panen.

Kami sempat mengunjungi beberapa destinasi utama di sana, salah satunya Telaga Warna. Telaga ini menyuguhkan hamparan keindahan perairan di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Nama telaga warna berasal dari keunikan telaga yang dapat berubah-ubah warna. Secara ilmiah, ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar matahari mengenainya, maka hasil pantulan warna air telaga tampak berwarna-warni.

Dieng juga memiliki wisata sejarah yang berada di kompleks Candi Arjuna. Berdasarkan catatan sejarah, Candi Arjuna dan beberapa candi di sekelilingnya diperkirakan dibangun sekitar awal abad ketujuh hingga sembilan Masehi. Di sinilah peradaban Mataram Kuno dimulai dan akhirnya menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan besar lainnya di tanah Jawa. Sejarahnya menarik untuk dikulik, bukan?

Kabar baiknya, kini wisatawan dapat mengetahui sejarah di balik berdirinya candi-candi ini melalui quick response code (QR Code) yang terpasang di sekitar bangunan candi. Anda cukup mendekatkan seluler pintar Anda agar aplikasi pembaca QR Code dapat memindai informasi yang tersimpan di dalamnya. Rencananya, QR Code juga akan dipasang di beberapa titik destinasi lainnya. Dengan begitu, wisatawan akan dengan mudah mengetahui informasi yang dibutuhkan hanya melalui gawai saja.

Kini wisatawan dapat mengetahui sejarah di balik berdirinya candi-candi ini melalui quick response code (QR Code) yang terpasang di sekitar bangunan candi

Bocah gimbal

Selain pesona alamnya, Dieng juga memiliki keunikan lain, yaitu bocah berambut gimbal. Entah bagaimana awalnya rambut gimbal itu berasal, tapi penduduk setempat meyakini anak gimbal dianggap sebagai keturunan dari pepunden atau leluhur pendiri Dataran Dieng, Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Rence. Konon, anak gimbal merupakan simbol kesejahteraan masyarakat Dieng. Semakin banyak anak gimbal di desa itu, maka semakin sejahtera penduduknya.

Umumnya, mereka berambut gimbal sejak beberapa bulan hingga berusia enam tahun. Rambut gimbal muncul begitu saja dan tumbuh secara alami. Gejala tumbuhnya rambut gimbal pada setiap anak sama, mereka mengalami demam bahkan terkadang hingga kejang. Jika sudah tumbuh, rambut tidak boleh dipotong sebelum si anak menyatakan keinginannya untuk potong rambut dan meminta sesuatu pada orangtuanya. Jika tidak dikabulkan, biasanya rambut akan tumbuh gimbal kembali walau sudah dipotong berkali-kali.

Pemotongan rambut pun tidak sembarangan, harus melalui prosesi ruwatan. Seiring berjalannya waktu, fenomena rambut gimbal justru menjadi daya tarik wisatawan. Momentum ini juga tak dilewatkan oleh kelompok sadar wisata setempat. Mereka mengemas upacara ruwatan dan menggabungkan dengan konten-konten menarik lainnya, di antaranya festival kreatif bertajuk Dieng Culture Festival. Ini juga sebagai upaya membantu orangtua yang kesulitan atau tidak mampu mengabulkan permintaan sang anak.

Tahun ini merupakan tahun kesepuluh diadakannya festival ini. Sejumlah aktivitas menarik juga telah dipersiapkan oleh panitia. Bagi wisatawan yang ingin menikmatinya, diharuskan membeli tiket dan memesan penginapan dari jauh-jauh hari. Bukan apa-apa, festival ini telah menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu wisatawan dan kemasyhurannya telah menggema hingga tingkat nasional, sehingga tiket pun akan cepat habis terjual.

Dengan membeli tiket, wisatawan berkesempatan menikmati sejumlah fasilitas dan aktivitas yang telah disediakan selama tiga hari berturut-turut. Mulai dari pentas seni tradisional, ketoprak, kirab budaya, jazz di atas awan yang menampilkan musisi-musisi nasional kenamaan, menerbangkan lampion bersama-sama, hingga menyaksikan rangkaian acara ruwatan anak rambut gimbal.

Bagi Anda yang datang ke acara ini, disarankan untuk menaati peraturan panitia seperti membawa botol air minum dan tas ramah lingkungan sendiri, tidak membuang sampah sembarangan, dan menerbangkan lampion di tempat yang telah ditentukan. Sisanya, Anda cukup menikmati seluruh rangkaian acara menarik ini. Sebelum pulang, pastikan juga Anda telah mencicipi sejumlah kuliner khas sini dan membawanya sebagai buah tangan. Ada mi ongklok, tempe kemul, semur kentang, kopi purwaceng, telur rebus Kawah Sikidang, dan Carica. – Ruruh Handayani

Continue Reading

Leisure

Menyongsong Mentari di Pucuk Luwuk

Aprilia Hariani K

Published

on

Pantai sebening kaca terbelah barisan bukit berkelok. Cahaya mentari yang menyelimuti keduanya melengkapi keelokan Pulau Dua Balantak.

Waktu masih menunjukkan pukul 01.15 WITA. Dini hari itu, tim Majalah Pajak dan KPP Pratama Luwuk sudah bersiap menuju Pulau Dua Balantak, Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah. Kami tak ingin melewatkan momen di tempat yang tersohor akan keindahan matahari terbitnya itu. Apalagi banyak yang mengatakan, Pulau Dua Balantak di Luwuk mirip dengan Pulau Kelor, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk menjawab rasa penasaran itu, kami ingin jelajahi keindahan pulau itu.

Kami memulai perjalanan dari Estrella Hotel & Conference Center yang terletak di Jalan Mandapar, kawasan Bukit Halimun, Tanjung Tuwis. Hanya 15 menit dari Bandara Syukuran Aminuddin Amir dengan menggunakan dua mobil berkapasitas masing-masing enam orang. Di Luwuk, tarif sewa mobil per hari sekitar Rp 200 hingga Rp 300 ribu.

Tim yang berjumlah delapan orang dibagi ke dalam dua mobil itu. Perjalanan diawali dengan menyisir jalan raya utama kota. Sesaat kemudian kami blusukan memasuki Desa Bunga. Perjalanan kami menyusuri lebatnya hutan di sisi kiri jalan dan laut di sisi kananya. Untungnya, infrastruktur jalan relatif baik—jalan beraspal mulus. Meski demikian, pengemudi tetap harus waspada karena minimnya penerangan jalan, juga gerombolan sapi dan kambing milik penduduk yang mendadak menyeberang jalan.

Dari balik setirnya, Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Luwuk, Jawahirul Fawaid, mengatakan, bahwa melepas hewan peliharaan di sekitar desa merupakan bagian dari tradisi penduduk di Luwuk.

“Enggak akan hilang (hewan peliharaan). Di sini aman. Jangankan hewan, motor ditinggal di pinggir jalan juga aman,” kata Fawaid. Setelah gerombolan hewan melintas, perjalanan dilanjutkan. Sejurus kemudian pemandangan berganti dengan perkampungan penduduk.

Akhirnya, sesuai target, dua jam lebih perjalanan kami ditempuh. Saat azan subuh berkumandang, tim sampai di Desa Pulo Dua. Di sanalah pos penyeberangan menuju Pulau Dua Balantak berada.

“Jangan salah, Desa Pulo Dua di sini (masih di daratan). Sedangkan Pulau Dua Balantak di seberang sana,” jelas Fawaid.

Sebenarnya, menurut Sekretaris Kantor KPP Pratama Luwuk, Aussie Nurul Anisa—yang juga ikut dalam rombongan—ada rumah warga yang bisa dijadikan penginapan di desa Pulau Dua. Biaya menginap di sana hanya Rp 100 ribu. Ini menjadi alternatif jika darmakelana tak ingin melakukan perjalanan tengah malam dari Banggai.

Setelah menitipkan mobil di tepi pantai, rombongan menyewa perahu untuk menuju pulau tujuan. Biaya sewa satu perahu sekitar Rp 300 ribu–Rp 350 ribu. Kapasitas perahu delapan hingga 10 orang.

“Ayo cepat, jangan sampai matahari keburu naik,” teriak Aussie yang sudah duduk di pinggir perahu. Kami pun lekas naik. Bismillah, mesin perahu ditarik. Sejurus kemudian jejak perahu menggoyang pantai biru kehijauan. Bening, karang-karang jelas terlihat.

Di waktu fajar itu juga, semesta menyuguhkan siluet gugusan bukit yang melengkung melindungi laut biru. Begitulah yang kami nikmati selama 23 menit. Hingga sesampai di tepi bukit, kami berhenti. Ya, salamat toka (selamat datang) di Pulau Dua Balantak.

Hanya dua langkah dari perairan, kami disambut oleh anak tangga yang menjulang di punggung bukit berkelok-kelok. Tak terhitung berapa jumlahnya. Sejenak mendongak, tampaknya perjalanan akan melelahkan. Untung saja pemerintah daerah setempat sudah membeton anak tangga dan memberi pengaman dari kayu pada kedua sisinya.

“Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.”

Samar-samar matahari muncul dari balik garis cakrawala, kami pun mempercepat pendakian. Menyenangkan. Apalagi ketika itu perjalanan eksklusif karena tak ada pengunjung lain selain kami. Hanya semilir angin memecah kesunyian.

Tak terasa lima belas menit kami mendaki. Tim akhirnya tiba di pertengahan bukit dengan pijakan tiga kali lebih lebar dari anak tangga lainnya. Tampaknya, itu adalah pos peristirahatan pertama. Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.

Dari sebelah timur, matahari kian menyeruak. Cahayanya memantul di dinding-dinding bukit. Perlahan, sinarnya menyelimuti hampir seluruh badan bukit. Jadilah bukit berwarna kuning keemasan. Tapi, suguhan ini bukan klimaks. Masih ada lagi pos di atasnya.

Sesaat kemudian tim kembali naik, hingga anak tangga terakhir. Posisinya nyaris dekat dengan puncak bukit. Di titik inilah pemandangan semakin membius. Tentunya ritual selfie tak boleh terlewatkan.

Matahari semakin terik, berulang kali kami menyeka keringat. Kami pun memutuskan untuk turun ke sisi kanan bukit. Sebab, di sana ada beberapa rumah kayu yang dibangun Pemda Banggai untuk para darmakelana. Namun, hati-hati. Perjalanan turun dari sisi kanan cukup curam. Tidak ada anak tangga seperti di sisi kiri seperti awal pendakian.

Berbekal ranting pohon dan kekompakan tim, rombongan akhirnya selamat sampai bawah. Benar saja, barisan rumah-rumah panggung dari kayu mengisi hamparan pasir Pulau Dua Balantak. Meski terkesan tak terurus, tapi di rumah itu, tim dapat memanfaatkannya sebagai kamar ganti untuk persiapan snorkeling.

Pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pulau juga bisa dipanjat dan diambil buahnya. Gratis. Kebetulan, kami berhasil memetik tujuh kelapa muda. “Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Continue Reading

Leisure

Cekungan Surga di Bumi Cendana

Ruruh Handayani

Published

on

Sumba tak hanya menyajikan adat budayanya yang lestari, tetapi juga limpahan surga tersembunyi yang mengundang.

Sumba semakin dikenal sebagai destinasi wisata yang tak kalah memesona dari pulau lain yang telah lama digandrungi wisatawan seperti Bali, Lombok, maupun Komodo. Apalagi, pada Februari lalu, Focus, majalah terbesar ketiga di Jerman, menobatkan Sumba sebagai satu dari 33 pulau terindah di dunia. Majalah itu mengulas, Sumba bukanlah sebagai tarian, melainkan sebagai mimpi pencarian yang harus diwujudkan, atau dengan kata lain, sebagai tujuan wisata yang semestinya dikunjungi—paling tidak sekali seumur hidup.

Kekuatan budaya

Pulau yang kerap disebut Pulau Cendana ini memiliki ragam kekayaan alam dan budaya yang lengkap. Kekuatan budaya diperlihatkan melalui rumah adat di beberapa perkampungan seperti Kampung Adat Praiwayang, Kampung Adat Tarung, Kampung Adat Praijing, dan Kampung Adat Ratenggaro yang dipertahankan hingga kini.

Arsitektur rumah adat yang unik dan menarik dengan atap menjulang menyerupai menara, dikaitkan dengan kepercayaan penduduk setempat kepada roh nenek moyang yang memiliki kedudukan tinggi atau yang biasa disebut Marapu.

Bagian rumah pun memiliki aturan yang mesti dijalankan tiap penghuninya. Bagian atas rumah atau loteng (uma daluku) dipergunakan untuk menyimpan bahan makanan serta benda pusaka yang dikeramatkan. Bagian tengah (rongu uma) menjadi pusat aktivitas keseharian para penghuni. Sedangkan bagian bawah atau kolong rumah (lei bangun) dipergunakan untuk memelihara ternak, seperti babi atau sapi.

Untuk memasuki rumah juga ada aturannya. Biasanya ada dua pintu yang terbuat dari tiang berukir, satu pintu khusus untuk laki-laki dan pintu lainnya khusus untuk perempuan. Kepala rumah tangga dan ibu pun masuk dari pintu yang berlainan.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi menginap di rumah adat dengan segala kesederhanaannya, tetua adat membolehkan tamu menginap di salah satu di rumah penduduk. Dengan catatan, tetap mengikuti aturan adat yang ada di masing-masing desa.

Selain menikmati alam hijau perbukitan, atau berinteraksi dan bercengkerama dengan penduduk lokal—terutama anak-anak kecil—yang hangat dan terbuka pada para wisatawan, Anda juga dapat mengenal lebih dekat hasil kerajinan tenun ikat Sumba yang sudah mendunia.

Pengunjung dapat mengamati pesona keindahan dari dua sisi—ketenangan Danau Weekuri dan gelora laut biru yang menghantam gugusan karang.

Surga tersembunyi

Selain budaya nan lestari, bumi Sumba juga berlimpah keindahan alam. Memiliki kontur tanah yang berbeda-beda, di pulau seluas 10.710 meter persegi ini terdapat padang sabana luas, hutan, air terjun, serta ragam jenis pantai eksotis, mulai dari yang memiliki ketenangan sepanjang hari, hingga pantai berombak tinggi yang digandrungi para peselancar.

Di antara destinasi yang telah lama terekspos, ada cekungan surga tersembunyi yang juga layak dikunjungi. Surga itu bernama Danau Weekuri atau Waikuri. Berlokasi di Sumba Barat Daya, tempat ini bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam dari pusat kota Tambolaka.

Danau ini sebenarnya adalah laguna yang terbentuk akibat air laut yang terus menerus masuk dari celah-celah batuan dan terjebak di dalamnya, hingga lama-kelamaan membuat cekungan berdinding batu karang semakin luas hingga menyerupai kolam atau danau.

Penduduk lokal menyebut laguna ini surga tersembunyi karena dari kejauhan, Anda hanya akan melihat batu karang dan beberapa pohon yang tumbuh di karang-karang itu, seolah kompak memagari dan menyembunyikan keindahannya. Pengunjung tak perlu khawatir terluka saat menuruni tebing menuju laguna, karena sudah tersedia tangga bersemen hingga ke bibir laguna.

Pesona Weekuri terletak pada bentuknya yang menyerupai kolam raksasa, dengan air berwarna hijau toska yang jernih dan beralaskan pasir putih. Tenangnya air akan membuat siapa saja yang mendekat tak tahan ingin menyelaminya. Namun, pengunjung yang belum mahir berenang mesti memerhatikan bagian-bagian yang aman, sebab laguna ini memiliki kedalaman bervariasi dari setengah meter hingga sekitar empat meter.

Selain pasir putih, saat berenang Anda juga akan dimanjakan dengan pemandangan bawah air seperti ikan-ikan kecil dan udang-udangan, rerumputan, juga beberapa koral. Wisatawan juga bisa sesekali memacu adrenalin dengan melompat dari jump spot yang telah disediakan. Tak hanya itu, karena memiliki kadar garam yang tinggi, Anda juga bisa mengapung di permukaan air dengan mudah, dan menyaksikan pemandangan alam berupa karang menjulang, pepohonan hijau juga awan putih nan berarak.

Pemerintah daerah setempat terus membenahi area wisata agar semakin nyaman dikunjungi. Kini, Anda bisa menyusuri puncak bukit tebing yang menjadi pembatas antara laguna dan laut lepas melalui jalur pejalan kaki yang terbuat dari kayu. Dari sini, pengunjung dapat mengamati pesona keindahan dari dua sisi. Satu sisi, adalah ketenangan Danau Weekuri dan di sisi lain ada lautan biru dengan ombaknya yang menghantam gugusan karang yang mengelilingi danau ini.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 minggu ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News4 minggu ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News1 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News3 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News3 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News3 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News5 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News5 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News6 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News6 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Trending