Terhubung dengan kami

Tax Light

Menyapa Dimensi Maya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis: Aan Almaidah A.

Peradaban berubah…

Kita mengenal Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya untuk menyatukan Nusantara. Gajah Mada melakukan puasa sebelum mencapai kemenangan atas visinya yang luar biasa di masa itu. Mungkin saja di saat berpuasa sudah tercanang sumpah dan keyakinan di dalam hati.

Menyusul era Sumpah Pemuda, yang menyentakkan kesadaran atas bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Di masa itu, ada visi luar biasa untuk menyatukan bangsa Indonesia atas identitas negara. Melalui Sumpah Pemuda, ada keyakinan bahwa untuk merdeka tidak bisa dilakukan dengan berjuang sendiri melainkan bersama-sama.

Apabila peradaban dapat ditelaah melalui dimensi pendekatan, maka Joe Vitale, dalam bukunya The Awakened Millionaire, sudah dapat mengestimasikan pergerakan peradaban melalui pendekatan dari masa ke masa. Joe Vitale memaparkan pendekatan dimensi. Akan menarik bila pendekatan dimensi tersebut dikonversikan ke peradaban. Contohnya, Pendekatan pertama adalah Pendekatan Satu Dimensi. Bila dikonversikan ke peradaban, tentu saja kita pernah membaca sejarah peradaban Bangsa Aztec, Inca dan Maya.

Muhammad Yamin dalam buku Sejarah Amerika menyatakan bahwa bangsa Indian berasal dari Asia. Melalui Pendekatan Satu Dimensi, yaitu penulisan afirmasi, membaca sejarah tersebut mendorong ketertarikan kita pada teknik arsitektur dan keberanian dalam berperang yang dimiliki suku bangsa tersebut. Bahkan pada sejarah peradaban Maya, bangsa ini telah mengenal kalender dengan jumlah bulan sebanyak delapan belas dalam setahunnya, yang setiap bulan berisi 20 hari, dan ada yang memiliki lima hari, walaupun total jumlah hari dalam setahun tetap 365 hari. Apa yang kita pelajari dengan Pendekatan Satu Dimensi? Dengan membaca, kita dapat merasakan, seolah menyentuh kehebatan heroik dan memenuhi ruang jiwa kita dengan semangat. Itu namanya afirmasi. Afirmasi adalah, pernyataan atau penetapan positif.

Mungkin perasaan itu bisa disamakan saat kita membaca perjuangan Winnetou atau Sherlock Holmes di bidang keahlian yang berbeda. Dari keteladanan yang dibaca, timbul rasa ingin membayangkan sang pahlawan. Dan ini dinamakan Pendekatan Dua Dimensi, di mana kita dapat memvisualisasikan dengan baik apa yang kita baca dan rasakan. Namun, bagaimana halnya bila terjadi perkembangan ke Tiga Dimensi?

Hal itu dimiliki Mark Twain saat memvisualisasikan dirinya sebagai bocah laki-laki yang suka bertualang. Dan lahirlah Tom Sawyer, cerita klasik yang menginspirasi pembaca-pembaca cilik di seluruh dunia. Visualisasi ini menggambarkan Pendekatan Tiga Dimensi. Apa yang dirasakan, disentuh, diaromai, kemudian menjadi gambaran sang diri dalam visual seseorang. Novel ini diterbitkan pada tahun 1876. Lebih dari 1.5 abad kemudian, Pendekatan Tiga Dimensi menjadi bahaya terbesar saat menelan korban anak-anak yang memakan permen narkoba bernama Flakka. Mereka bermain bersama fantasi dan visual, dengan dampak kegilaan. Secara alamiah, Pendekatan Tiga Dimensi dapat ditanamkan dalam pikiran kanak-kanak dengan menanamkan kecintaan pada sejarah dan tokoh-tokoh positif lainnya. Mereka bisa bermain perang-perangan sebagai Diponegoro atau Soedirman. Sayang, kegiatan mendongeng sudah terlalu lama dilupakan orang tua.

Sejarah yang tertulis mungkin dibaca, mungkin tidak. Bahkan mungkin tidak ada yang tahu, awal sejarah pajak diketahui bermula dari Mesir. Masalahnya bukan belajar sejarah, tetapi bahwa peradaban sudah berubah. Beralih kepada peradaban dewasa ini, kita sudah memasuki peradaban dengan Pendekatan Empat Dimensi. Di mana seorang manusia hidup dengan membayangkan kehidupannya berjalan dalam dunia tanpa batas, tanpa pembatas. Materi pembelajaran dengan mudah diperoleh melalui unduhan. Pengetahuan bertambah hanya dengan berselancar di dunia maya. Transaksi berjalan bebas di dunia on-line.

Maraknya bisnis on-line saat ini tidak terlalu disadari, mungkin saja berawal dari komunitas ibu-ibu antar jemput anak atau komunitas anak muda ngumpul. Berbekal foto, upload dalam jeda sekali pasang di malam hari bisa puluhan model dari jenis tas, pakaian, sepatu dan kolektibels, tinggal pesan dan bayar melalui transfer. Kalangan ekonom memperkirakan pola belanja masyarakat sudah beralih dari sistem konvensional menjadi belanja melalui jaringan internet (on-line). Kalau dulu di beberapa daerah yang menggaungkan semangat usaha rakyat bahkan menolak adanya swamarket menggantikan pasar konvensional, maka sekarang, ritel terbesar saja bisa gulung tikar dan mengumumkan penutupan usaha yang kemudian diserbu masyarakat yang membeli barang-barangnya sebelum raksasa ritel tersebut tutup. Kenapa? Transaksi e-commerce sudah semakin pesat melebarkan sayap.

Selamat datang, dunia empat dimensi! Betapa mengagumkan saat menyadari bahwa terjadi peningkatan transaksi e-commerce luar biasa di Indonesia. Transaksi berjalan dibatasi empat sisi ruangan saja, tanpa harus bergerak keluar. Barang datang menghampiri selesai transaksi. Jumlah penduduk mencapai di atas 250 juta jiwa membuat peluang Indonesia sangat tinggi menjadi pelaku-pelaku bisnis ekonomi digital di dunia maya. Data e-Marketer dari berita liputan6 menyebutkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat setiap tahunnya, dari sebesar 72.8 juta jiwa di tahun 2013, menjadi sekitar 112 juta jiwa di tahun 2017.

Berita adanya potensi pajak yang hilang perlu dipertegas dengan pemahaman pelaku usaha, apakah mereka tahu dan paham? Tahu bahwa rasio tingkat kepatuhan dalam memenuhi kewajiban perpajakan berkisar masih 65%. Tahu bahwa perlu adanya bentuk pengawasan lain. Paham bahwa transaksi jual beli melalui jaringan on-line tersebut memiliki keterkaitan tanggung jawab dengan membayar pajak. Paham bahwa, tanggung jawab bisa ditingkatkan dengan adanya pengawasan yang tersistem. Contohnya, Korea Selatan yang menerapkan sistem gerbang pembayaran nasional. Potensi pajak yang dikhawatirkan tidak dibayarkan oleh pengusaha yang berlintas usaha secara on-line, dapat terjaring otomatis. Tentu saja, pemahaman itu bisa ditingkatkan melalui sinergi dengan seluruh kementerian dan lembaga yang menjadi prioritas utama.

Selama kita sadar bersama bahwa kehidupan masih disangga oleh uang, yang menjadi alat pengukur nilai, alat tukar dan alat pembayaran, maka kita harus paham bahwa pembangunan terjadi juga karena uang. Aset pembangunan seperti jalan, jembatan, dan semua infrastruktur, didanai oleh uang, tepatnya uang pajak. Bila uang pajak tidak terkumpul dengan baik, maka kegiatan yang terjadi adalah utang. Rumah tangga yang kehidupan sehari-harinya dibiayai oleh utang akan ambruk, bila si empunya rumah tangga tidak berusaha melunasinya. Melunasinya adalah dengan kesadaran bahwa mereka perlu bekerja, mengumpulkan uang, membiayai kehidupan dan melunasi utang. Suatu pemikiran yang sederhana untuk mengonversikan uang pajak dengan kehidupan berumah tangga, sebaiknya dimiliki setiap orang. Apabila pekerjaan mereka duduk di depan komputer untuk menjalankan bisnis dan usaha, maka itu tidak menghilangkan tanggung jawab atas perlakuan mereka terhadap tambahan penghasilan yang diperoleh, yaitu membayar pajak.

Bicara tentang uang, mungkin masih sedikit yang tahu, bahwa uang kertas ORI yang beredar pertama kali adalah pada tanggal 30 Oktober 1946, yang kita peringati sebagai Hari Uang Nasional. Edukasi uang sedari dini perlu ditanamkan pada anak adalah bagaimana hidup hemat, tidak konsumtif, dan berbagi kepada sesama. Keikhlasan berbagi, kejujuran, dan cinta tanah air, adalah modal pembentukan karakter yang diperlukan generasi muda. Pada akhirnya akan memandu mereka untuk bicara tentang pajak.

Kenapa harus bicara pajak kepada generasi muda? Karena, di dunia empat dimensi ini, pengetahuan didapat hanya dengan sekali klik. Edukasi dilakukan tanpa batas, untuk memperkaya wawasan, yang nantinya membentuk pola pikir yang positif. Saat ini, banyak yang berbicara tentang pajak berdasarkan pemahaman yang dibentuk dari pengetahuannya sendiri, untuk menjadi trending di media sosial. Bicara pro dan kontra yang terjadi, akan meningkatkan rating dan follower. Yang menarik adalah, hal ini telah diramalkan seorang sastrawan. Bicara tentang bicara, mari hayati kepedulian Kahlil Gibran sejenak…

Dan ada di antara mereka yang berbicara, dan tanpa pengetahuan, menyingkapkan kebenaran yang sebenarnya tidak mereka pahami.

Dan ada di antara mereka yang memiliki kebenaran dalam diri mereka, tetapi mereka tidak mengatakannya dalam kata-kata.

Dalam hati merekalah jiwa seperti ini tinggal dalam kesunyian yang berirama….

 

Dunia memang tidak berbatas, tapi masih ada batasan antara baik atau benar. Seorang pencari kebenaran sejati akan menemukannya melalui dimensi pemahaman yang dalam.

Peradaban memang sudah berubah.

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Tax Light

Serendipitas

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Serendipitas disadari atau tidak, ada di setiap manusia yang di pengujung hari mau merenungi apa yang dia lakukan di seluruh hari itu.

Banyak orang mencari tujuan hidupnya sejak dia mengenal arti pertanyaan, “Apakah cita-citamu?”

Zaman dahulu, cita-cita ngehits seorang anak SD adalah menjadi dokter, kedua, menjadi insinyur, kemudian ada yang sedikit idealis menyatakan ingin menjadi guru. Zaman sekarang saat ditanya cita-cita, seorang anak SD bisa menjawab, ingin menjadi youtubers, artificial intelligencers, atau pengusaha kaya. Berkembang pesatnya informasi membukakan wawasan generasi muda bahwa di ujung dunia sana, profesi ini menjadi luar biasa, profesi anu berbayaran tinggi, dan itulah kesuksesan.

Mari tarik benang merahnya. Dalam tujuan hidup setiap orang mencapai kesuksesan, terdapat proses dan standar yang berbeda-beda. Orangtua yang sering membawa anaknya saat mengikuti seminar motivasi atau MLM (multi-level marketing) yang menawarkan kesuksesan tanpa perlu pengorbanan dan perjuangan, tanpa disadari menanam konsep yang membekas dan membius. Kemewahan. Sedikit usaha. Kaya itu mudah. Sukses itu perlu.

Hal itu dibuktikan dengan realitas saat mereka beranjak besar, bahwa prestasi tidak selalu mendukung keberlimpahan materi di masa depan. Si A teman sekelas yang dulu bandel, sekarang sudah jadi pengusaha ekspor-impor. Si B yang dulu enggak pernah dapat ranking, sekarang punya industri kertas, makanan dan minuman. Lantas kemudian konsep kesuksesan menjadi goyah saat arti sekolah dipertanyakan. Buat apa sekolah tinggi-tinggi mengejar gelar, kalau nanti penghasilannya lebih rendah dari mereka yang dropout?

Dan kemudian terjadilah proses pencarian besar-besaran dalam diri seseorang, yang memiliki naluri pencapaian secara instan. Hal itu kemudian memicu target tidak terkendali saat mereka mencari. Ketika mendapatkan informasi dan pemahaman bahwa surga bisa diperoleh dengan nyata, maka terjadilah bom bunuh diri satu keluarga. Ketika merasa bahwa hanya kekuasaan yang dapat menyalurkan hasrat pemenuhan materi, maka hilangnya anak manusia dari muka bumi secara misterius sudah bukan hal luar biasa.

Serendipitas bukan itu. Pertengahan abad ke-17, Horace Walpole, seorang penulis Inggris menemukan informasi yang menarik saat meneliti lambang. Penemuan tersebut dia sebut serendipity, dari dongeng “The Three Princess of Serendip”, bahwa sesuatu ditemukan dari hal-hal yang tidak diketahui dan dicari.

Seseorang yang memberanikan diri untuk mendaftar sebagai Wajib Pajak baru dengan tujuan melengkapi persyaratan utang di bank dengan memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak, bisa saja memperoleh serendipitasnya saat bertemu dengan petugas pajak yang secara bersahabat membeberkan informasi apa dan bagaimana kewajibannya sebagai Wajib Pajak. Hal itu membuka pikirannya tentang bagaimana rekan-rekan sang petugas pajak yang bersahabat itu, berjuang dalam mencari orang-orang yang belum membayar pajak secara benar dan berusaha mengedukasi masyarakat berulang-ulang. Padahal, berita yang dibacanya di media lebih sering tuntutan pemenuhan target tanpa diiringi kesadaran tinggi yang timbul dari masyarakat, untuk membayar pajak. Keluhan masyarakat tentang ketidaktahuan senantiasa beralaskan sosialisasi kurang. Pertanyaannya, apakah saat kelas pajak dan sosialisasi diadakan, mereka yang diundang memiliki tujuan untuk sadar pajak dan datang menghadiri? Tidak tercapainya penerimaan pajak sesuai target, kasus-kasus pajak, menjadi tema hangat yang kalau perlu didiskusikan dalam bentuk debat intelektual di layar kaca yang tujuannya mencari solusi, tapi menampilkan kontroversi dan polemik. Asalnya hanya mencari.

Saat kita melakukan semua dengan sungguh-sungguh dan kerja keras, maka bisa saja terjadi hal-hal menyenangkan yang tadinya tidak diharapkan.

Padahal sederhana saja hidup ini. Saat kita melakukan semua dengan sungguh-sungguh dan kerja keras, maka bisa saja terjadi hal-hal menyenangkan yang tadinya tidak diharapkan. Ide-ide yang kita tuangkan kemudian menjadi tren inovasi yang diikuti seluruh kantor, misalnya. Melayani Wajib Pajak dengan empati, bisa saja tanpa disangka-sangka membuat sang Wajib Pajak menyetor pajaknya dengan nominal tinggi dan keikhlasan tinggi, tentunya. “Baru sekali saya ketemu orang pajak seperti Anda”, demikian kepuasan tercetus dari sang Wajib Pajak. Wow! Apakah ini keterpaksaan? Tidak, ini kesadaran dan kepercayaan. Prinsip habitas—mengubah perilaku dengan kepercayaan, melalui edukasi langsung dan persuasif ke komunitas atau individu. Padahal juga, tadinya semua dilakukan semata karena tugas dan bergulirnya surat imbauan yang harus dihadapi kedua belah pihak.

Hal lain, terbentuknya sinergi dan kerja sama antarlembaga, mungkin saja bertujuan pertukaran data terjalin baik. Namun, prinsip habitas akan membangun kepercayaan bersama sehingga terjadi lebih dari sekadar bertukar data, tapi juga bersama meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.

Hasil yang luar biasa dan tak terduga menjadi kejutan kecil yang perlu direnungi. Betapa banyak asosiasi dan instansi, kementerian dan kelembagaan yang pernah semeja dalam menandatangani kerja sama, dan tanpa terasa tahun berganti dan batas kerja sama berakhir tanpa ada proses yang bermanfaat. Seandainya pencaharian dilakukan bersama, maka siklus yang terjadi adalah: Kami mencari ini, tetapi menemukan lebih daripada yang dicari. Kami menandatangani perjanjian kerja sama, tapi akhirnya kami bersahabat. Pernahkah berpikir seperti itu di setiap langkah hari-hari?

Tindakan bersahabat sering terdapat pada koloni binatang, kendati terus diabaikan sampai saat terjadinya riset De Wal dalam Calne di buku Batas Nalar, yang menyatakan bahwa perilaku yang tidak mementingkan diri sendiri terdapat tidak hanya pada monyet dan kera. Lumba-lumba membantu sesama yang terluka dengan berenang di bawahnya, dan bahkan rela terdampar hanya untuk menolong. Binatang pemangsa membawa makanan untuk temannya yang tidak ikut berburu. Dalam ilmu biologis etika, umumnya kelompok binatang yang saling menolong akan hidup lebih tangguh dalam perjuangan hidup, dibandingkan mereka yang hidup terpencil dan semata-mata dipacu oleh kepentingan diri sendiri yang mendesak. Tindakan bersahabat, seyogianya dimiliki manusia.

Menurut De Waal, sintesis empat sifat pada binatang yang menawarkan cetak biru moralitas adalah sifat simpati, sifat internalisasi, sifat timbal balik dan sifat penyesuaian diri dan menghindari konflik. Masing-masing sifat itu merupakan tanggapan nalar terhadap upaya mencapai keseimbangan antara persaingan dan kerja sama. Setiap manusia yang berpikir tentunya sangat tersinggung bila dianggap tidak bernalar.

Kembali pada topik awal. Serendipitas adalah unsur kejutan dari suatu proses yang tidak kita cari. Sesungguhnya, serendipitas—disadari atau tidak—ada di setiap manusia yang di pengujung hari merenungi apa yang dia lakukan di seluruh hari itu.

Maknanya, berjalanlah tanpa pamrih. Setelah itu, berterima kasih pada Tuhan.

Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin, dan selamat memperdalam serendipitas.

Lanjutkan Membaca

Tax Light

CAMEO

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seorang pemimpin hebat itu “dilahirkan” atau “diciptakan”?

Peran sebagai pemimpin, melahirkan teori dalam berjuta buku dan berita. Ada orang yang menjadi pemimpin karena selembar kertas pengangkatan.  Ada yang menjadi pemimpin dengan bantuan nilai-nilai relasional yang tinggi dan dia anut selama proses mencapai kepemimpinan. Ada juga yang menjadi pemimpin karena pilihan dan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.

Saat kita mempercayai bahwa seorang pemimpin itu dilahirkan, akan terlintas sosok Indira Gandhi dan keluarganya yang membesarkan India. Indira, putri dari Jawaharlal Nehru yang merupakan Perdana Menteri India, memiliki putra Rajiv, yang juga terpilih sebagai pemimpin India dalam kurun masa berbeda. Apakah itu karena ada genetis kepemimpinan mengalir di darah orang tua ke anak? Bagaimana dengan George Herbert Walker Bush sang ayah dan George Walker Bush sang anak yang sama-sama pernah menjabat sebagai Presiden USA? Apakah karakter mereka sesuai dengan teori kepemimpinan?

Dan bagaimana apabila pemimpin tidak berasal dari trah pemimpin? Mereka dibentuk. Siapa yang membentuk? Tempaan proses kehidupan masing-masing.

Kembali kepada pemimpin.

Kita sangat mengenal istilah Tut Wuri Handayani. Ini  bukan hanya slogan dari KI Hajar Dewantara. Artinya, Pemimpin yang memberi dorongan dari belakang. Pendorong, kata ini menyibakkan karakter yang solid. Namun saat ini, sulit dicari pemimpin yang mendorong. Apa yang sedang terjadi?

Proses penuaan bumi saat ini membuat kita lebih mengenal pemimpin yang memiliki panggungnya sendiri. Dan cenderung abai pada pemimpin yang tidak banyak terekspos oleh media atau media sosial. Lantas apakah performa kepemimpinan juga dikaitkan dengan kemunculan dan popularitas?

Sesuai dengan Hukum Dasar yang Kokoh yang disampaikan John C. Maxwell dalam buku 5 Levels of Leadership, dasar kepemimpinan adalah rasa percaya. Kemudian, Jati diri anda ditentukan oleh siapa yang tertarik pada Anda, demikian Hukum Magnet Kepemimpinan. Maxwell menetapkan level kepemimpinan tertinggi yaitu Kepemimpinan Puncak, di mana di level ini secara alamiah orang-orang mengikuti pemimpin yang lebih kuat dari mereka karena respek. Ketika seseorang sudah memilih jalurnya untuk menjadi seperti apa, maka publik akan menilai kinerjanya dengan nyata. Berita sebaik apapun, tetap akan dikonfrontasi dengan kenyataan yang belum tentu dapat dipercaya. Dan seorang pemimpin, mewakili nama baik instansi tempatnya mengemban amanah, menjadi sumber trust dan distrust. Bisa jadi pahlawan, atau korban.

Apabila dikonversikan gelar kepemimpinan dalam kepemerintahan, maka kepemimpinan yang terstruktur merupakan modalitas suatu pemerintahan. Unsur kepemerintahan tersebut tidak hanya ditentukan individu sebagai pemimpin, namun juga institusi sebagai unit kepemimpinan. Setiap institusi dapat meng claim unitnya sebagai pemimpin, paling berperan dalam pemerintahan, paling dipercaya, dan seterusnya. Setiap institusi atas nama pemerintah, berperan dalam tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Apabila menukik kembali ke dalam pemetaan pengumpulan penerimaan negara, mau tidak mau kita akan melihat ke institusi yang selama ini berperan dalam pengumpulan setoran pajak kepada negara. Dialah Direktorat Jenderal Pajak, yang memiliki tiga puluhan kantor wilayah tersebar di seluruh Indonesia, tiga ratus empat puluhan kantor pelayanan pajak, dan dua ratusan kantor penyuluhan, pelayanan dan konsultasi perpajakan. Instansi yang menjadi tempat bernaung 40 ribuan pegawai ini memiliki tanggung jawab di level empat kepemimpinan. Pertama,  memastikan bahwa perkembangan kesejahteraan akan terus terjadi. Kedua, melibatkan banyak hal untuk memberikan kepuasan kepada setiap individu secara mendalam. Ketiga, mengharuskan adanya rasa aman di dalam mengembangkan proses bagi orang lain. Untuk bisa naik kelas ke level lima kepemimpinan, maka kerjasama dengan pihak luar dalam mendukung  kinerja sangat dibutuhkan, selain tetap berfokus pada kerja keras dan strategik.

Itu semua menjadi tanggung jawab setiap instansi pemerintahan? Tentu saja! Apakah kita semua menyadarinya? Belum tentu!

 “Seorang pedagang bakso, menjadi pemimpin yang menginspirasi komunitas penjual bakso untuk membayar pajak, bahkan meluas kepada komunitas UMKM Sahabat Pajak.”

Saat ini, pemimpin yang menginspirasi sering kali tak terdeteksi, karena ruang lingkup mereka yang terbatas. Seorang pedagang bakso, menjadi pemimpin yang menginspirasi komunitas penjual bakso untuk membayar pajak, bahkan meluas kepada komunitas UMKM Sahabat Pajak. Seorang penjual bir pletok, bisa saja menyebarluaskan nilai religi untuk mencerahkan wawasan kesadaran pajak, tanpa meminta bayaran. Seorang dosen dan temannya mencetuskan aplikasi untuk membantu usahawan kecil dan menengah membuat laporan keuangan menjadi mudah dan responsif kewajiban perpajakan.

Gerakan kepemimpinan mereka tanpa terukur sesungguhnya sudah mencapai taraf mengembangkan orang lain.  Itu ada di level empat teorinya Maxwell. Gelombang kepemimpinan ini kelak akan masif dan tak terelakkan menanamkan benih edukasi dan kesadaran bagi masyarakat umum. Kelak, keyakinan dan kepercayaan Wajib Pajak kepada otoritas perpajakan akan semakin meningkat dengan terbentuknya institusi yang kuat, kredibel dan akuntabel. Sesuai dengan tujuan reformasi perpajakan.

Baiklah kita kemudian berpikir bahwa masalah kepemimpinan dewasa ini ternyata didominansi oleh transaksi berita. Pemimpin yang lahir ke permukaan bukanlah pemimpin yang dilahirkan atau dibentuk, melainkan pemimpin yang digadang-gadang. Yang adanya karena ada harapan. Dan adanya harapan karena ingin mewujudkan suatu tujuan. Seperti virus, kepemimpinan masa kini menularkan kepercayaan dan ketidakpercayaan secara simultan. Dan itu berdampak pada unit kerjanya. Ketika suatu instansi besar bertempur untuk mewujudkan cita-cita, maka gempuran atas kebenaran yang ditegakkan menjadi sumber kelemahan. Berita penangkapan atas oknum tertentu akan menjadi nila setitik di instansi mana saja. Lebih parah bila berujung pada penodaan citra.

Seandainya boleh berangan-angan… apabila suatu saat transaksi berita ditiadakan. Misalnya dengan melakukan pemadaman listrik sementara, atau kewajiban tidak menggunakan elektronik dan cahaya seperti saat hari besar keagamaan, Nyepi.  Kita akan kembali seperti zaman dulu ketika keberhasilan muncul di waktu yang pantas untuk diwartakan. Mungkin menjadi berita terakhir, seperti pemimpin yang muncul sekilas. Seperti kemunculan Cameo.

Saat semua sepi, kita belajar mengenali bahwa,  pemimpin yang hebat akan muncul dengan sendirinya, sekedar memberi pertanda bahwa dia ada. Dialah, sang Cameo.  Durasi kemunculannya tidak lama. Dia tidak berbicara. Perannya tidak terlalu ditonjolkan. Tapi dia berperan.

Seorang Cameo, seperti kata Vijay Eswaran, memiliki dunia heningnya sendiri. Kebenaran  tertinggi yang dia ketahui hanya terdapat dalam keheningan, bukan dalam kata-kata yang terbatas. Dan dia paham peran dirinya sendiri.

Seandainya, di tengah gelombang narsisme kepemimpinan dewasa ini, semua kita paham akan esensi Cameo….

Lanjutkan Membaca

Tax Light

Aphantasia

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Photo Mehdinom/Wikimedia via The Daily Dot.

Kita mengenal “revolusi karakter”. Namun, sebelumnya perlu upaya untuk berkenalan dengan karakter diri kita sendiri. Tahapan pertama dengan mengenali kebutuhan diri, tujuan hidup, dan arti ada-tiada seorang manusia melalui berbagai bentukan rasa.

Salah satu bentuk adalah ketakutan.

Ketakutan, merupakan bentuk dari menerima apa yang diberikan Sang Pencipta tanpa bertanya kenapa dan bagaimana. Ketika seorang manusia sudah berhasil melahirkan ketakutan dalam dirinya untuk mengeluh atas apa yang dia peroleh, dia akan dikelilingi oleh harapan bahwa yang diperolehnya adalah yang terbaik dari Sang Pencipta. Maka karakter yang melingkupinya adalah keajaiban, kebebasan, ketulusan, perenungan, dan ingat kepada Tuhan, demikian Mufid dalam bukunya Mengasah Intuisi.

Perenungan yang dalam bisa dilatih saat kita dapat berimajinasi atas terjadinya suatu kondisi di sekitar kita. Kondisi terjadi karena adanya suatu ketetapan. Tujuannya demi kebaikan. Benarkah demikian? Bagaimana sekiranya ketetapan yang terjadi menyebabkan kondisi yang merugikan bagi kita? Masihkah dapat kita bayangkan sebagai kebaikan?

Disadari atau tidak, rasa ketakutan menjadi epidemi masyarakat zaman now dengan laju melampaui dugaan karena adanya pengalaman terbaru. Contohnya, bagaimana cara membedakan telur asli dan palsu dengan beredarnya video pembuatan telur palsu yang dinyatakan hoaks. Kondisi ini telah mencengkeram rasa takut masyarakat yang nantinya berperan dalam menentukan akan membeli telur atau tidak.

Contoh lagi, saat ramai-ramainya berita mengejar harta orang yang sudah meninggal untuk dipajaki. Epidemi ini menyuarakan kegalauan melampaui ekspektasi. Seandainya masyarakat mau menggali dari membaca, aturan ini telah berlaku lama dan warisan belum terbagi memang merupakan subjek pajak. Pelaksanaan kewajibannya pun nanti dijalankan ahli waris, bukan yang mewariskan yang sudah damai “di sana”. Saat ini, animo membaca berita masyarakat sangat tinggi, dari gawai dan bukan dari sumber berita. Saat ini, passion masyarakat sangat tinggi untuk menyebarkan ketakutan melalui media, dan viral dengan didampingi emosi, bukan viral dengan penelitian validitas.

Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi dalam diri kita? Jangan-jangan kita tidak mengenal diri kita sendiri, apalagi mengenali karakter kita. Di mana-mana disampaikan bahwa untuk mengenali Tuhan dimulai dengan mengenali diri kita sendiri. Bagaimana bisa terjadi bila kita tidak belajar kenal siapa kita?

Satu lagi yang jadi perhatian, konsep membaca saat ini telah bergeser. Kanak-kanak zaman dulu membaca Si Ande-Ande Lumut, Kleting Kuning, Aji Saka, Kucing Bersepatu Lars, Hansel and Gretel, dengan memanfaatkan waktu untuk menyipitkan mata dan membayangkan. Kanak-kanak zaman old sudah dilatih berimajinasi. Tetapi keahlian itu sekarang musnah dengan kecanggihan zaman. Semua yang dibaca sudah lengkap gambar-gambarnya di depan mata. Tidak ada waktu untuk berkhayal lagi.

Maka, sayonara imajinasi.

Inilah yang dikenal dengan nama aphantasia. Istilah ini tersebut dalam sebuah penelitian di jurnal Cortex, oleh Adam Zeman dan tim. Penelitiannya menjelaskan bagaimana kasus orang yang kehilangan kemampuan berpikir dalam gambar setelah cedera otak. Ada pula yang baru bisa melihat gambar dalam mimpi, dan tidak bisa melihatnya bila diminta membayangkan. Menurut Zerman, Aphantasia bukan kelainan, hanya perbedaan, dan dapat terjadi di satu dari 50 orang. Sangat aneh rasanya membayangkan ada orang tanpa imajinasi, dan sangat mengerikan bila mereka bercerita tidak dapat mengenang kembali orang-orang tercinta mereka setelah kematiannya.

Di lingkup sederhana Aphantasia terjadi pada diri kita juga. Bagaimana itu terjadi? Coba diuji dengan melakukan pertanyaan pada diri sendiri. Pernahkah kita bertanya pada diri kita dengan kalimat-kalimat tanya di bawah ini?

Hai diriku, apakah kamu pernah membayangkan akan jadi apa kantormu tempat bekerja ini dengan adanya dirimu?

Hai diriku, apakah kamu pernah membayangkan akan kamu bawa ke mana keluargamu, pasanganmu, anak-anakmu, baik di rumah dan di kantor, untuk membina karakter dan kesuksesan masa depan mereka?

Hai diriku, pernahkah kamu bayangkan bagaimana Indonesia menopang pembangunannya bila warga negara tidak memiliki rasa cinta tanah air dan bela negara yang diimpelementasikan dengan membayar pajak secara jujur dan bahagia?

Diri yang tidak bisa menjawabnya, mungkin saja sedang mengidap aphantasia. Saatnya sekarang untuk belajar mengenali penyakit, epidemi, yang akan merusak diri kita. Jangan mudah terhasut dengan click bait di media sosial yang menarik kita untuk mempercayai berita-berita bombastis.

Kalau ada berita tentang pajak, persepsi ketakutan yang terbentuk di pikiran adalah manifestasi kepatuhan. Tepis ketakutan dengan bertandang ke kantor pajak tempat Anda terdaftar, sekadar berkenalan dengan petugas help desk, bertanya, menjalin silaturahmi dengan Account Representative yang juga bisa anda minta menjelaskan semua aturan terbaru. Mulailah dengan mengedukasi diri dan membangkitkan keinginan literasi kita, sehingga terbentuk awareness dan tanggung jawab sebagai warga negara yang taat pajak.

Hingga suatu saat…

Anda bisa berlatih menutup mata… Membayangkan masuk kantor pajak tanpa galau. Bisa baca buku dan internetan di pojokannya… Banyak teman baru yang menyenangkan di sana…  Ngobrol. Diskusi. Ngopi. Baca buku. Musik. Dan menepis takut menjadi percaya.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News2 minggu lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News5 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News6 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News7 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News9 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News9 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News10 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News12 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News3 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Advertisement Pajak-New01

Trending