Connect with us

Community

Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto: Majalah Pajak
Foto: Majalah Pajak

 

Dengan menanamkan budaya literasi, komunitas ini ingin menambah wawasan dan menginspirasi anak-anak putus sekolah agar bangkit dan terus meningkatkan kualitas hidup mereka.

Pemandangan di Kompleks Cagar Budaya Kampung Rumah Kapitan, Seberang Ulu, Palembang, Sumatera Selatan sore itu sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Lampion-lampion merah sisa perayaan Cap Go Meh beberapa hari sebelumnya masih terlihat tergantung menghiasi beberapa sudut bangunan tua yang kental dengan nuansa arsitektur Tionghoa dan Belanda itu. Di salah satu selasar bangunan tua itu, Dina Juliana Anwari dan beberapa rekannya tampak asyik bercengkerama dengan puluhan anak yang rata-rata baru memasuki usia PAUD dan sekolah dasar. Rupanya hari itu Dina dan rekan-rekannya yang tergabung dalam Komunitas Berani Bergerak itu tengah melakukan kegiatan interaktif belajar-mengajar yang sudah sejak tahun lalu rutin mereka lakukan.

Komunitas yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat ini didirikan Dina dan beberapa orang relawan lainnya sejak awal 2018 lalu. Menurut Dina yang juga ketua komunitas itu, mereka ingin memberikan edukasi bagi anak-anak yang kurang beruntung dari sisi ekonomi atau mereka yang putus sekolah karena kehilangan motivasi belajar. Hingga saat ini, komunitas ini membina sekitar 30 orang anak usia PAUD dan sekitar 30 orang anak usia remaja setempat yang masih sekolah tapi kondisi ekonomi orangtuanya kurang mampu atau mereka yang sudah putus sekolah.

Dari kegelisahan

Kampung Kapitan memang salah satu cagar budaya di Kota Palembang yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, sebuah pemukiman padat di tepi Sungai Musi yang berseberangan langsung dengan Benteng Kuto Besak, Palembang. Sayang, keberadaannya kini bak terpinggirkan. Padahal, di kawasan ini terdapat beberapa bangunan berumur 400 tahun yang kaya nilai sejarah. Kampung ini adalah saksi bisu masuknya bangsa Tiongkok Dinasti Ming ke Nusantara setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya di masa lalu. Memang, pemerintah daerah setempat telah mencatatkan kawasan ini sebagai cagar budaya yang dilindungi. Namun, pengelolaannya masih terkesan masih setengah hati.

Di sisi lain, kepedulian masyarakat sekitar dan rasa memiliki cagar budaya ini pun masih minim. Maklum, kawasan ini rata-rata dihuni oleh golongan ekonomi menengah ke bawah—buruh serabutan, kuli bangunan, kuli panggul, nelayan, bahkan tak sedikit yang tidak memiliki pekerjaan. Jangankan untuk memikirkan cagar budaya, untuk hidup sehari-hari pun mereka susah. Kondisi kawasan itu diperparah dengan minimnya sanitasi. Angka kriminalitas di daerah ini pun terbilang tinggi.

Pelbagai persoalan masyarakat itu mengusik nurani Dina yang bekerja di salah satu bank swasta ternama ini. Setelah meminta izin dari pewaris Rumah Kapitan Mulyadi Tjoa, Dina akhirnya, dengan menggandeng beberapa teman sejawatnya membentuk Komunitas Berani Bergerak. Para relawan ini—disebut Inspirer Berani Bergerak—membentuk rumah belajar dan secara berkala dan bergiliran memberikan edukasi literasi kepada anak-anak di kawasan itu

Rumah belajar dan ruang baca

Bentuk pembelajaran yang dilakukan pun bermacam-macam. Mulai dari meningkatkan kemampuan baca-tulis, mengajarkan bahasa Inggris dan kegiatan kreatif untuk membangun motivasi dengan cara mendatangkan tokoh inspiratif. Terkadang mereka juga mengundang komunitas lain yang ada di Kota Palembang dan Sumatera Selatan.

“Kami ingin anak-anak wilayah itu menjadi generasi penerus bangsa yang berilmu, memiliki banyak prestasi dan dapat menjadi pelopor perubahan dan kemajuan untuk daerahnya. Saat ini lebih concern menangani usia PAUD, TK, SD karena yang usia SMP sudah tidak mau. Kami sudah tawarkan program kejar paket. Tapi rata-rata mereka demotivasi, enggak mau lagi sekolah. Kami terus mencari cara untuk menumbuhkan kesadaran mereka,” ujar perempuan yang lahir di Palembang 12 Juli ini pada Minggu pagi (24/2).

Selain edukasi interaktif, Komunitas Berani Bergerak juga menginisiasi pembentukan perpustakaan. Dina percaya, bukan rendahnya minat baca yang membuat minimnya tingkat literasi dan kesadaran masyarakat akan aspek-aspek penting penunjang kehidupan mereka, melainkan minimnya akses mereka terhadap bahan bacaan.

Buku untuk perpustakaan itu didapat dari donasi masyarakat. Setelah terbentuk, akhir Mei 2018 lalu, KBB meminta pemda setempat untuk meresmikan perpustakaan dan rumah belajar mereka.

Sadar wisata

Selain memberikan tambahan kemampuan akademis, Komunitas Berani Bergerak juga gencar melakukan edukasi sadar wisata. Cagar Budaya Kampung Kapitan selama ini belum menjadi ikon wisata yang menarik minat wisata dari luar. Menurut Dina, hal itu karena pengelolaannya daerah sekelilingnya belum maksimal. Lingkungan sekitarnya belum tertata rapi bahkan terkesan kumuh. Perlu perhatian serius dari masyarakat dan pembinaan oleh pemangku kepentingan agar tempat itu bisa lebih menarik wisatawan.

Untuk memperbaiki kondisi itu, komunitas mencoba menanamkan budaya disiplin dan hidup bersih kepada anak-anak. Perlahan mereka tanamkan rasa tanggung terhadap lingkungan, mulai dengan hal kecil, seperti mengajari anak-anak membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan. Anak-anak dilatih membuat suvenir untuk wisatawan. Mereka juga diajari memproduksi dan memasarkan oleh-oleh, seperti Kerupuk Kemplang khas Palembang.

Komunitas terus membangun komunikasi dengan perangkat desa, orangtua peserta didik dan warga setempat, termasuk para pemuda setempat yang menganggur. Hampir sebulan sekali mereka menggelar pertemuan untuk mendakwahkah sadar wisata.

“Kami mengunjungi rumah warga, menjelaskan niat baik membangun kampung ini secara gamblang. Mulai dari sikap ramah, kebersihan, tidak menjemur pakaian dalam di pagar rumah. Setidaknya mereka sadar wisata dulu, daerah tidak kumuh, kotor dan bau, tidak buang sampah sembarangan, apalagi ke tepi sungai mereka bisa jual suvenir dan oleh-oleh,” jelas Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Lampung ini.

Daripada “nongkrong”

Sebagai karyawan bank yang memiliki jam kerja ketat tentu tak mudah membagi waktu bagi Dina. Demikian juga dengan relawan lainnya yang rata-rata juga pekerja profesional. Namun, bagi mereka hal itu adalah tantangan menyenangkan untuk bisa memberikan sekecil apa pun sumbangsih bagi sesama.

“Kita, anak muda sering nongkrong di restoran, 100 ribu rupiah cuma bisa beli kopi dan kue. Tapi, kalau dibelikan buku tulis, 100 ribu rupiah dapat membantu dua anak sekolah. Kita, pemuda, pilih mana?” ucap Dina.

Dina mengaku sangat salut pada rekan-rekannya yang antusias menjalankan misi sosial itu. Tak jarang mereka harus patungan untuk menyediakan perlengkapan rumah belajar dan perpustakaan. Belum lagi, soal jarak tempuh ke lokasi. Dina tinggal di bilangan PHDM di hilir Sungai Musi sehingga harus menyeberang sungai. Relawan lain ada yang selalu naik ojek on-line dengan ongkos pulang pergi tak kurang dari Rp 100 ribu.

“Kalau Jembatan Ampera sedang ditutup, ya, naik kapal, menyeberang. Saya salut dan apresiasi pengorbanan teman-teman relawan meluangkan waktu dan tenaga mereka datang ke rumah belajar. Apalagi kami buka kelas justru di hari libur, harinya istirahat.”

Kini komunitas beberapa kali menerima tawaran kerja sama program CSR dari beberapa perusahaan, khususnya untuk peningkatan literasi. Namun hingga saat ini, masih dalam tahap penyusunan kegiatan. Dina berharap akan lebih banyak lagi pihak, terutama masyarakat dan pemangku kepentingan di Palembang, yang mendukung upaya ini.

“Kami terbuka terhadap semua bentuk bantuan untuk memberdayakan masyarakat ini, asalkan tidak ada kepentingan politis yang memengaruhi idealisme visi-misi kami,” pungkasnya.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Penyayang Binatang, Pelestari Satwa – Majalah Pajak

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Community

Simpul Sinergi Kemajuan Desa

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Dengan semangat memberi, komunitas ini bergerak setahap demi setahap untuk menginspirasi dan mengakselerasi kesejahteraan desa.

 

Ada seribu alasan untuk mencintai desa. Dalam bahasa Sanskerta, desa bermakna ‘tanah tumpah darah’. Desa adalah mula sebuah peradaban. Tempat lahir dan bertumbuhnya ragam budaya dan kearifan lokal. Kehidupan sosial yang tenteram, sumber daya alam melimpah dan tradisi yang senantiasa terjaga adalah gambaran indah saat membayangkan suasana desa.

Desalah masa depan kita. Di lumbung kita menabung, datang paceklik kita tak bingung. Masa panen masa berpesta…,” kata Iwan Fals dalam lirik salah satu lagunya untuk menggambarkan betapa kaya dan tenteramnya kehidupan di desa.

Ironisnya, masih banyak desa yang oleh Iwan Fals disebut sebagai harapan masa depan itu kini justru menjadi kantung-kantung kemiskinan. Terlalu lama bangsa ini terlena dengan paradigma metro sentris sehingga kesenjangan menganga begitu lebar. Desa hanya berfungsi sebagai hinterland (pemasok kebutuhan kota), tanpa dibarengi dengan laju pembangunan yang memadai. Para pemuda memilih berbondong-bondong meninggalkan tanah kelahiran mereka demi mengadu untung di kota. Padahal, solusi masalah di perkotaan sejatinya justru ada di desa. Desa-desa hanya dihuni oleh sumber daya manusia yang tak lagi produktif dan inovatif. Akibatnya, desa dan segala potensinya yang melimpah itu semakin terabaikan, terkubur bersama romantisme gemah ripah loh jinawi yang disematkan.

Pemerintah pun tak tinggal diam. Mengusung jargon membangun Indonesia dari pinggiran, pembangunan tidak lagi terpusat di perkotaan, tetapi menyebar hingga seluruh pelosok tanah air. Kebijakan anggaran belanja negara dan tata kelola keuangan pemerintah daerah diarahkan untuk meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan menjamin pemenuhan pelayanan dasar seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Peningkatan anggaran daerah juga diharapkan mampu mempercepat pembangunan daerah tertinggal dan kawasan perbatasan dan mengoptimalkan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah.

Baca Juga: Merawat Geliat Ekonomi Desa

Melalui alokasi Dana Desa, pemerintah juga berupaya mengatasi permasalahan ekonomi di desa, seperti mengurangi kemiskinan, menurunkan angka pengangguran dan, menghambat laju urbanisasi sehingga ketimpangan bisa dipersempit. Upaya itu pun sudah bisa dilihat hasilnya. Angka kemiskinan terus menurun, pembangunan di daerah maju pesat dan kesejahteraan masyarakat pun meningkat. Kini semakin banyak desa yang maju dan mampu berdikari. Desa-desa yang dulu tertinggal pun mulai menggeliat bangkit.

Merajut kepedulian

Capaian itu tentu saja belum cukup, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang begitu luas. Dengan jumlah desa di Indonesia yang nyaris mencapai 75 ribu, pemerintah tak akan bisa bekerja sendiri. Pemerintah butuh sumbangsih dari elemen masyarakat untuk bisa merawat dan memajukan desa.

Untungnya, sejak dulu bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki jiwa gotong royong yang tinggi. Ada banyak orang atau organisasi yang secara suka rela mau mengabdikan diri untuk memajukan desa. Contohnya adalah yang telah dilakukan Tohirin melalui Komunitas Cinta Desa (KDC) yang ia rintis sejak 2018 lalu. Melalui komunitas ini, widyaiswara Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan ini mengumpulkan orang-orang dari berbagai unsur masyarakat yang memiliki spirit yang sama dengannya untuk ikut bahu membahu membangun desa.

“Hati nurani saya terpanggil, ingin membuat sebuah komunitas yang paling tidak bisa memberikan sedikit pencerahan kepada negeri.”

Sebagai sosok yang lahir dan tumbuh di desa, Tohirin memang akrab dengan masalah-masalah yang umumnya dihadapi desa. Lebih dari itu, pria asal Pekalongan Jawa Tengah ini sejak 2014 hingga 2017 lalu juga sering kali mendapat tugas dari institusinya untuk mengajar di beberapa daerah di Indonesia tentang pengelolaan keuangan desa.

“Sebenarnya sudah dari awal saya punya keinginan bagaimana untuk memajukan desa, cuma caranya belum ketemu. Ketika mulai berinteraksi, saya melihat jumlah desa di Indonesia itu sangat banyak—hampir 75 ribu. Ini jangkauannya sangat luas. Hati nurani saya terpanggil, ingin membuat sebuah komunitas yang paling tidak bisa memberikan sedikit pencerahan kepada negeri,” ujar Tohirin akhir Mei lalu.

Momen yang dinanti itu datang tahun 2019, ketika Tohirin berkunjung Ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat itu, salah seorang kenalan memintanya untuk membuat kelas untuk membantu perangkat desa yang kesulitan memahami aspek perpajakan di desa.

“Ada satu orang yang curhat kepada saya begitu tahu saya orang BPPK. Beliau langsung bilang, ‘Pak Tohirin bantuin saya untuk bantu teman-teman desa, mereka kesulitan aspek pajak,’. ‘Saya bilang, ‘Baik, Pak, nanti kami bantu, di kantor saya ada ahli pajak,’”.

Singkat cerita, setelah berkoordinasi dengan teman-teman kantornya yang ahli pajak, Tohirin membuka open class. Ajang itu memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk mengikuti. Tak disangka, peserta membeludak dari perkiraan. Dari 60 peserta yang targetkan, pendaftar mencapai 200. Akhirnya, open class dibuat dua kali dengan peserta 100 orang per angkatan.

“Tiga hari sebelum acara dimulai, saya bertekat, acara ini harus terstruktur, jangan sekadar open class lalu selesai. Dari situlah saya meng-create sebuah komunitas yang namanya Komunitas Cinta Desa,” tutur Tohirin.

Sukses melakukan kelas pajak, berikutnya Tohirin bersama Balai Diklat Keuangan Malang menggelar kelas pengelolaan keuangan desa selama 10 kali berturut-turut.

“Kebetulan dari BDK Malang ada dana yang harus dilakukan penyerapan anggaran, kemudian saya mendorong BDK Malang untuk mengadakan open class dengan tema yang fenomenal. Alhamdulillah, kami berhasil melakukan open class pengelolaan keuangan desa itu 10 kali. Ini pertama kali dalam sejarah, open class oleh BDK sampai 10 kali.”

Melihat manfaatnya yang begitu besar untuk memajukan desa, Tohirin kian semangat mengukuhkan keinginannya untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki semangat memberdayakan desa. Komunitas itu akhirnya dideklarasikan pada September 2019 dengan anggota awal hanya sekitar 10 orang. Namun, Tohirin yakin, seiring perjalanan waktu akan semakin besar dan bermanfaat. Dibangun dengan pola bola salju, komunitas ini bergerak perlahan-lahan, setahap demi setahap dan terus melangkah menginspirasi gerakan mencintai desa. Dari Kota Malang, KCD akan masuk ke kota-kota lainnya untuk bersinergi dan bermitra dengan para pemangku kepentingan yang berinteraksi dengan pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat, dan BUMDes

Baca Juga: Edukasi dan Pengawasan Pajak Dana Desa

Melalui komunitas ini, Tohirin berharap semua anggota bisa membagikan kompetensi, informasi, pengetahuan yang dimiliki untuk kemajuan desa sesuai dengan bidangnya masing-masing. Saling memperkuat di antara anggota tim dan melakukan segala aktivitas dengan penuh semangat keikhlasan.

“KCD adalah nonprot organization, bersifat sosial dan panggilan hati nurani. KCD dibangun dengan semangat memberi, bukan meminta. Komunitas ini tidak akan mengambil peran Kemendagri, Kemendes PDTT, dan Pemda, tetapi sebagai jembatan atau hub of networking agar terbentuk sinergi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” tegas Tohirin.

Kini dalam waktu satu tahun, anggota KCD telah mencapai 176 orang yang tersebar di lebih dari 25 kota, dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari pegawai kementerian/lembaga terkait di level pengambil kebijakan, dinas-dinas di pemda, pendamping desa, pemberdaya desa, akademisi, insan media, hingga perangkat desa. Pemimpin desa yang inovatif pun diajak bergabung dengan komunitas ini untuk menularkan virus inovasinya ke desa-desa lainnya.

“Jadi, ini termasuk community of practice yang menurut saya sangat lengkap. Dari level kebijakan di kementerian/lembaga ada, level bupati pun ada, camat ada, kades ada, sekretaris ada, bendahara ada, petani, peternaknya—lengkap. Kadang diskusinya tema-tema kecil. Namun, kadang soal kebijakan karena memang kami ingin, pengambil keputusan bisa melihat realitas di lapangan. Sedangkan teman-teman di lapangan bisa langsung confirm kepada pengambil keputusan ketika ada hal yang tak sesuai.”

Komunitas ini memang baru sebuah permulaan. Namun, seiring berjalannya waktu dan banyaknya entitas yang mau bergabung dan menyumbangkan keahlian, Tohirin berharap kehadirannya akan menjadi akselerator pembangunan desa. Dengan demikian, di negeri ini akan semakin banyak desa yang mampu mengoptimalkan potensinya sehingga menjadi desa yang maju dan mandiri.

Lanjut baca

Community

Pesan Perubahan Sepenggal Adegan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. Lab Teater Ciputat

Teater menjadi media untuk memberdayakan, mengaktifkan, bahkan membuat perubahan sosial dalam masyarakat.

Kesibukan di salah satu pusat perbelanjaan elite di Jakarta siang itu tak seperti biasanya. Sebagian orang seperti terseret dalam arus rutinitas hidup yang monoton dan serba-tergesa. Ada yang gelisah mengantre, ada yang menyantap makanan cepat saji tetapi seakan tak bisa menikmatinya. Ada juga yang tengah melakukan peragaan busana dengan pakaian glamor tetapi tatapan matanya hampa. Ekspresi wajah sebagian orang-orang itu nyaris sama—tegang dan kaku bak robot mekanis yang tak punya nyawa. Gerakan mereka serbacepat dan tak lazim. Sekujur tubuh mereka bergetar hebat layaknya penderita parkinson akut yang kehilangan daya kontrol atas saraf mereka.

Sementara itu, orang-orang normal yang menyaksikan tingkah tak lazim itu hanya bisa saling pandang, berusaha menelaah adegan aneh di sekeliling mereka dengan raut muka penuh tanya. Mereka seperti sedang menyaksikan layar visual timelapse di televisi pada kehidupan nyata.

Pemandangan itu adalah aksi teatrikal di ruang publik yang pernah dilakukan Lab Teater Ciputat (LTC) di beberapa pusat perbelanjaan ternama di Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Membawakan lakon Kubangan, LTC tengah menggambarkan riuhnya zaman pencitraan yang sempurna. Sebuah kritik terhadap era globalisasi yang berambisi menyeragamkan umat manusia dalam dunia net yang diciptakannya.

Tragedi yang terjadi dalam diri manusia modern memang sering kali ingin menerobos keterbatasan untuk bisa menguasai dunia. Akibatnya, segala sistem yang diciptakan justru malfungsi dan membuat diri mereka terpenjara. Tubuh-tubuh mereka menjadi panik saat menyikapi situasi mampat yang terus berlangsung. Tubuh-tubuh itu akhirnya tak punya pilihan kecuali harus melakukan penyesuaian atas perubahan zaman yang begitu cepat, yang dalam adegan itu divisualkan dengan perilaku mekanis dan bergerak cepat.

Baca Juga:  Memintal Kesejahteraan Perajin Tenun

Sutradara Kubangan Bambang Prihadi menggambarkan, para korban citra zaman itu mengalami kondisi traumatis atas ingatan pahit masa lalu yang bermunculan dari ruang bawah sadar mereka. Saat yang sama, mereka tak mampu membayangkan kompleksitas masa depan yang akan mereka hadapi kelak. Maka yang tampak adalah kegalauan, keluh kesah, dan keputusasaan untuk melanjutkan hidup. Itu membuat sekujur tubuh mereka menegang dan mengalami kontraksi tak berkesudahan—digambarkan dengan bahasa tubuh yang bergetar tak henti-henti. Kondisi ruang personal yang menyiksa itu tanpa disadari terbawa hingga ke ruang-ruang publik.

Celakanya, kehampaan hidup orang-orang yang jiwanya terbelah itu dimanfaatkan kaum kapitalis yang selalu menawarkan kenikmatan inderawi. Kepandaian mereka mengemas segala macam produk membuat masyarakat menjadi konsumtif dan hedonistik. Rekayasa manis kaum kapitalis yang selalu memosisikan individu sebagai objek pasar itu membuat orang-orang lupa jati diri dan harga diri mereka yang sesungguhnya. Alhasil, setiap individu tidak mampu membela akal sehatnya untuk bersikap kritis pada sumber utama rekayasa dan persekongkolan itu.

“Pada saat seperti itulah, pasar—kaki tangan kapitalis—akan menjadi pengendali segala bentuk kebutuhan hidup mereka. Tubuh mereka seperti tidak memiliki kuasa lagi untuk menentukan yang terbaik. Sebaliknya, mereka hanya pasrah sekadar menjadi boneka dan angka,” tutur Bambang kepada Majalah Pajak, Kamis (23/4).

“Ketahanan mental spiritual masyarakat rontok, akibat nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang dan alam tak pernah lagi dipelajari, dihayati, dan dijaga.”

Selain sebagai sutradara, Bambang Prihadi adalah bidan di balik lahirnya LTC pada 2005 silam. Bersama sejumlah pegiat seni (teater) di Ciputat, Tangerang Selatan, ia membesarkan LTC hingga karya-karya mereka mewarnai dunia teater tanah air dari ujung Sumatera hingga tanah Papua. LTC juga beberapa kali berkolaborasi dengan komunitas teater lainnya untuk mengisi pertunjukan teater di Jepang, Singapura, dan Malaysia.

Baca Juga: Berbagi Peta Keutamaan

Pria kelahiran Jakarta, 7 April 1976 ini mulai berteater sejak nyantri di Pondok Modern Assalam Sukabumi 1990. Kemudian bergiat di Teater Syahid IAIN Jakarta sejak 1995, dan berlanjut ke Teater Kubur pimpinan Dindon WS sejak 1998. Lelah bertualang di bawah bendera orang, Bambang akhirnya mendirikan LTC dan menyutradarai sejumlah pertunjukan, antara lain Eksodus (1999), Aduh (2000), Umang-umang (2001), Tarkeni Madekur (2002), Telah Pergi Ia Telah Kembali Ia (2002), Ozone (2003), Kubangan (2005-2009), Terjepit (2008), Cermin Bercermin (2010-2011), Orang Pulo Di Pulau Karang (2013), Mada (2013), Mata Air Mata (2016), XQM4GZ (2018), Jaring Sampan (2019), Sinopsis TIM 2019+ (2029), dan beberpa karya lainnya.

Pesan perubahan

Bagi Bambang, seni peran bukan hanya sebagai sarana ekspresi atau hiburan semata. Ia menjadi media untuk memberdayakan, mengaktifkan, bahkan membuat perubahan sosial dalam masyarakat yang dilibatkannya. Karenanya, tema yang selalu diangkat LTC pun tak pernah berjarak dari masyarakat dan berfokus pada problematika keseharian mereka.

“Demi mencapai tujuan itu, sebagai organisasi yang terbuka dan mandiri, LTC menggelar proses penciptaan yang bertolak dari workshop, diskusi, penelitian, observasi, dan live in yang berkonsentrasi pada tema dan problematika masyarakat urban dan dunia spiritual,” tutur pria yang dinobatkan sebagai sutradara terbaik pada Festival Teater Jakarta 2003 ini.

Bambang menjelaskan, misi utama LTC adalah sebagai wadah teater yang berorientasi pada pencapaian karya artistik yang dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Memosisikan kesenian sebagai media yang dapat mempertemukan berbagai kepentingan dalam komunitas masyarakat.

Lakon Terjepit (2008), misalnya, lahir dari hasil interaksi mendalam anggota LTC dalam proses pendampingan perempuan korban kekerasan 1998. Saat itu LTC menggunakan teater sebagai media proses pengobatan trauma mereka. Para korban itu diajak terlibat langsung menjadi aktor dan berlatih dengan metode teater gembira selama hampir delapan bulan pertemuan. Tema Terjepit mengangkat pengalaman pahit saat pecah arus reformasi 1998, kondisi sosial ekonomi mereka sesudahnya, dan harapan yang masih mereka miliki.

“Teater digunakan sebagai ruang conditioning dalam semangat mereka menatap masa depan,” ungkap Bambang.

Baca Juga: Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

LTC juga pernah melakukan proses intermediasi kultural di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada tahun 2010-2013. Kala itu LTC mengajak semua lapisan masyarakat untuk terlibat. Mulai dari ibu rumah tangga, pemuda, nelayan, guru, agamawan, pengusaha kapal wisata, dan pemerintahan setempat. Melalui SPK Samo-Samo dan Sanggar Apung, LTC mengawali kerja kultural itu dengan membuat riset budaya Pulau Panggang yang merupakan pulau tertua di Kepulauan Seribu. Selain dipentaskan, riset itu menghasilkan buku penelitian budaya berjudul Orang Pulo di Pulau Karang.

Hasil riset itu kemudian ditindaklanjuti dengan kerja lapangan melalui pelatihan kesenian, kolaborasi pertunjukan, pelatihan pengemasan makanan khas. Puncaknya, mereka menyelenggarakan Hajatan Pulang Babang bersama masyarakat setempat. Hajatan ini diisi dengan beberapa kegiatan, salah satunya pertunjukan teater warga pulau berbasis legenda Pulau Panggang.

Nyaris setiap tahun LTC menelurkan karya-karya pertunjukan yang berakar dari proses eksperimental dan hasil menyelami fenomena kehidupan sosial yang ada. Dalam perjalanannya, LTC semakin menguatkan posisinya sebagai kelompok teater yang bergerak dan berkarya di antara eksklusivitas karya dan inklusivitas pada proses penciptaan. Sikap inilah yang mengantarkan LTC bersedia terlibat aktif di kawasan Hutan Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Lebak Bulus. Mereka melakukan riset tentang Kali Pesanggrahan yang menjadi pilihan tema dalam proyek Kota Tenggelam yang digagas Dewan Kesenian Jakarta pada 2012-2015.

Memberdayakan

Pertunjukan yang tak kalah menggugah kesadaran adalah Jaring Sampan (2019). Lakon ini berangkat dari kegelisahan Bambang dan rekan-rekannya di komunitas teater atas kondisi sosial masyarakat di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu. Seperti kita tahu, satu dekade terakhir, Kepulauan Seribu menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara. Penduduk lokal pun mau tak mau harus berbenah dengan segala keterbatasannya.

Sayangnya, pemanfaatan sumber daya alam itu tak sejalan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dampak buruknya, perilaku kriminal dan gaya hidup individualis-hedonis meningkat tajam. Selain karena pengaruh buruk dari wisatawan, arus informasi dunia internet membuat masyarakat berada dalam ketegangan dan kegagapan. Keseimbangan hidup komunal mereka pun terganggu dan terabaikan.

“Ketahanan mental spiritual masyarakat rontok akibat nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang dan alam tak pernah lagi dipelajari, dihayati, dan dijaga. Padahal, kesadaran atas nilai-nilai itu menjadi fondasi atas proses kebudayaan yang mereka lakoni,” kata Bambang.

Lab Teater Ciputat bersama Sanggar Teater Laguna mengambil inisiatif untuk melakukan intermediasi kultural untuk menguatkan proses transisional masyarakat dengan perkembangan yang ada. Upaya itu dimulai dengan mempertemukan berbagai pihak yang berkepentingan untuk membuat program pengembangan potensi budaya yang melibatkan masyarakat Pulau Untung Jawa.

“Perlu upaya intensif untuk mengelola potensi budaya masyarakat pulau, khususnya Untung Jawa. Sehingga kelak dapat melahirkan tradisi baru, menguatkan eksistensi identitas budaya Kepulauan Seribu.”

Melalui program itu, masyarakat dilatih untuk dapat mengelola perubahan sosial dan mampu produktif, seperti mengelola sampah dari daratan secara kreatif. Akhirnya terbangun lagi kegotongroyongan dan sikap saling apresiasi akan kearifan lokal yang merupakan fondasi kehidupan masyarakat.

Pada puncaknya, pentas Jaring Sampan menjadi media seni yang tidak semata sebagai hiburan, tapi juga sebagai media perenungan dan penghalusan budi pekerti. Serangkaian kegiatan dibuat untuk menyampaikan pesan luhur dari alam dan nurani masyarakat. Kegiatan seni ini diharapkan menstimulasi daya hidup masyarakat setempat.

Baca Juga: Bugar-Kuat ala Prajurit Sparta

Di samping kerja-kerja kultural yang langsung bersinggungan dengan komunitas masyarakat tertentu, LTC juga memformulasikan materi pelatihan teater untuk kalangan profesional. Materi dibagi dalam pengolahan potensi lima kesadaran manusia, antara lain kesadaran diri, kesadaran ruang dan lingkungan, kesadaran terhadap orang lain, kesadaran kreasi, dan kesadaran kerja tim.

Beberapa institusi pemerintah pun beberapa kali menggandeng LTC, khususnya saat hendak melakukan sosialisasi program kepada masyarakat. Menurut Bambang, hasilnya lebih efektif, mengingat kultur masyarakat Indonesia sebagai masyarakat tontonan. Karena itu, Bambang pun mengaku siap jika nanti Direktorat Jenderal Pajak hendak menggandeng LTC untuk menyampaikan sosialisasi perpajakan kepada masyarakat dengan cara yang berbeda.

 

Lanjut baca

Community

Berbagi Peta Keutamaan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Dok LM-PSDM TIC

Banyak masyarakat yang ingin maju dan berkembang, tetapi tidak tahu cara meraih keberhasilan. KBBK ada untuk membantu mereka menemukan caranya.

 

Adalah kodrat dasar manusia untuk bisa meraih keberhasilan. Paling tidak, berhasil dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Sukses meniti karier, misalnya. Sukses meraih pendidikan tinggi, sukses membangun usaha, atau sukses lain sesuai yang mereka inginkan—setiap orang memiliki parameter dan terminologi kesuksesan yang berbeda-beda. Yang pasti, sebagai pembawa misi khalifatullah fil ardhi, tugas manusia tak lain untuk menjalani hidup sesuai tuntunan Sang Pencipta.

Tuhan telah membekali manusia dengan perangkat sumber daya tak terbatas agar bisa menjalankan misi mulia itu. Sayangnya, tidak semua orang menyadari kemampuannya sehingga asa yang dicita-citakannya hanya mengendap dalam angan-angan belaka.

Keresahan itulah yang membuat Tjahjo Suprajogo sejak dua dekade silam tergerak untuk membentuk sebuah wadah tempat berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi sesama. Tjahjo yang sejak mahasiswa memang senang berkecimpung dengan kegiatan sosial ingin setiap orang bisa mengembangkan potensi yang mereka miliki. Kelak, setelah mengalami beberapa kali metamorfosis, belasan tahun kemudian embrio gagasan itu terlahir dan tumbuh menjadi organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat (social empowerment) bernama Komunitas Belajar Bengkel Kreasi (KBBK) di bawah naungan Lembaga Manajemen dan Pengembangan Sumber Daya (LM-PSDM) Titian Insan Cemerlang (TIC).

“Perjalanan aktivitas komunitas belajar, yang di kemudian hari saya namai KBBK Titian Insan Cemerlang (TIC) sudah berumur 19 tahun jika dihitung dari tahun 1996 saat saya masih di Kota Malang,” tutur Tjahjo kepada Majalah Pajak pertengahan Maret lalu.

Baca Juga: Membangun Komunitas di Hunian Idaman

Doktor Ilmu Administrasi (PDIA) Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Universitas Brawijaya ini mengungkapkan, embrio KBBK sebenarnya sudah dimulai sejak 1989 saat awal ia menempuh pendidikan SI di Universitas Brawijaya dan merintis Forum Studi Islam dan Bahasa Arab (FORSIBA). Forum ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaji di kampus. Pada 1994, saat ia menempuh kuliah S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, namanya diubah menjadi Yayasan Qolbun Salim. Melalui yayasan ini Tjahjo ingin agar kiprah organisasi bisa lebih luas. Bukan hanya pengajian untuk kalangan mahasiswa seperti sebelumnya, tapi meliputi kegiatan sosial, pendidikan dan dakwah bagi semua lapisan masyarakat.

Dua tahun kemudian, berbekal pengalaman selama kuliah di Yogyakarta dan ketika masih di Malang, Tjahjo memberi pelatihan motivasi dan tukar pikiran bagi mahasiswa. Selama dua setengah tahun ia berkeliling ke wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah (Jateng) hingga ke pelosok-pelosok daerah. Dari perjalanan itu Tjahjo merenung dalam-dalam. Ia menilai, peran mahasiswa dan dosen di tengah-tengah masyarakat masih jauh dari memadai. Menurutnya, kiprah kampus masih di atas menara gading.

“Sumbangan langsung berupa tenaga, pikiran dan waktu dari para mahasiswa dan dosen untuk masyarakat, baru kentara saat kegiatan penelitian, KKN dan semacamnya,” kata Tjahjo.

Pembuka jalan

Berangkat dari perenungan itu, dibantu Eko Pramono, mahasiswa UGM menggagas sebuah wadah yang bisa memfasilitasi upaya peningkatan kemampuan dan sumber daya masyarakat. Tjahjo menyadari, banyak masyarakat Indonesia yang ingin maju dan berkembang tetapi tidak mengetahui cara meraih keberhasilan.

Baca Juga : Memupuk Talenta Warga Sekitar

“Betapa banyak orang yang ingin sukses luar biasa, tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang peta jalan dan atau media untuk mencapainya,” ungkap penerima penghargaan dari Kick Andy Heroes ini.

KBBK TIC adalah media pembelajaran sepanjang hayat bagi siapa pun yang ingin benar-benar berbagi pengetahuan dan pengalaman terbaik (best practices) di antara anggotanya.”

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Tjahjo mengejawantahkan buah pikirannya itu ke dalam lembaga bernama Titian Insan Cemerlang (TIC), yang maknanya adalah jalan atau jembatan menuju manusia yang unggul. Nama itu dibawa hingga kembali ke kota Malang tahun 1996, juga ke Jakarta tahun 1999 saat Tjahjo menjadi dosen di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP), perguruan tinggi kedinasan pencetak kader-kader pamong praja dari seluruh Indonesia.

Di Jakarta, konsep TIC digodog oleh Tjahjo dibantu Eko Pramono yang membantu sejak awal. Konsep pengembangan TIC juga diperkaya oleh sumbangan ide dari Sahri Muhammad, ayah mertua Tjahjo. Sayang, kini sosok yang juga menjadi ayah ideologis bagi Tjahjo itu telah berpulang.

Tjahjo menjelaskan, pelembagaan konsep dan gagasan TIC menemukan momentumnya ketika pada 2005 putrinya Qurrota Aini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penulis antologi cerpen termuda, yakni pada usia tujuh tahun, melalui buku Nasi untuk Kakek yang diterbitkan penerbit Mizan Bandung.

Baca Juga: Bedah Kampung Bama Hilir

“Sejak saat itu, di bawah badan hukum yayasan Qolbun Salim, saya mendirikan LM-PSDM Titian Insan Cemerlang (TIC) untuk merealisasikan berbagai ide dan obsesi yang pernah terpikirkan pada waktu kuliah,” kenang Tjahjo.

Tahun 2005, TIC menggelar seminar nasional pertama kalinya di Jakarta dan di Malang untuk mengajak masyarakat menumbuhkan minat baca dan menulis. Materi yang disampaikan adalah pengalaman langsung Tjahjo bersama istri, juga Qurrota Aini sang buah hati, terutama dalam upaya menciptakan lingkungan yang kondusif bagi Qurrota Aini agar si kecil itu senang membaca dan menulis.

LM-PSDM TIC kian aktif meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia Indonesia dalam berbagai aspek potensi dan kemampuannya. Organisasi ini kian intens menyelenggarakan dan memfasilitasi berbagai kegiatan seminar, talk show, dialog interaktif, lokakarya hingga pelatihan motivasi pengembangan diri. Misalnya, pelatihan menjadi orangtua cerdas; guru yang inspiratif; anak dan remaja yang kreatif, inovatif dan produktif; hingga menumbuh kembangkan minat baca masyarakat.

Sebagai lembaga nirlaba, meski sebagian besar kegiatannya berorientasi nonprofit, LM-PSDM TIC juga menyelenggarakan dan memfasilitasi beberapa kegiatan berbayar, sesuai dengan kemampuan masyarakat. Hingga saat ini, LM-PSDM TIC sudah melaksanakan ratusan kegiatan dan mendampingi berbagai lapisan masyarakat untuk pengembangan diri dan mengelola organisasi mereka secara efektif dalam upaya peningkatan kualitas SDM. Untuk menjaga keberlanjutan kemampuan peserta yang pernah mengikuti kegiatan pengembangan diri LM-PSDM TIC itulah Tjahjo membentuk wadah KBBK TIC.

“KBBK TIC adalah tempat di mana terdapat orang-orang yang belajar untuk membuat, membentuk, mengubah bentuk, merakit, memperbaiki bahkan mengembangkan sesuatu secara kreatif. Forum ini juga bertujuan untuk menyiapkan, mencetak, dan membina siapa saja yang ingin meningkatkan potensi dan kariernya,” jelas Tjahjo.

Menurut Tjahjo, KBBK TIC adalah media pembelajaran sepanjang hayat bagi siapa pun yang ingin benar-benar berbagi pengetahuan dan pengalaman terbaik (best practices) di antara anggotanya. Komunitas ini bisa diikuti oleh siapa saja yang tertarik mengembangkan diri. Narasumber, mentor ataupun fasilitator pun terdiri dari beragam profesi dan kompetensi. Yang terpenting, mereka memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman terbaik yang sesuai dengan topik-topik yang dibahas. Bagi yang berminat, markas komunitas ini ada di Kompleks Kampus IPDN Cilandak Timur, Jakarta Selatan.Waluyo Hanjarwadi

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News2 hari lalu

“Core Tax System” Teknologi Terintegrasi untuk Memudahkan Fiskus dan Wajib Pajak

Untuk menyempurnakan reformasi perpajakan di era digital, DJP melakukan digitalisasi sistem perpajakan dengan membangun Core Tax System yang dimulai sejak...

Breaking News2 hari lalu

Pemerintah Umumkan akan Melelang 7 Seri SUN Pekan Depan

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPBR) Kementerian Keuangan RI akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam...

Breaking News3 hari lalu

Milenial Melek Investasi

Seiring pesatnya perkembangan teknologi digital khususnya dalam hal keuangan, cara berinvestasi pun mulai bergeser dan tidak lagi harus dilakukan oleh...

Breaking News3 hari lalu

Menparekraf Imbau Hotel-Restoran Disiplin Protokol Kesehatan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menekankan kepada pelaku industri hotel dan restoran agar...

Breaking News3 hari lalu

Bank Permata Andil dalam Program Penjaminan Kredit Modal Kerja Bagi UMKM

Penandatanganan kerja sama bersama Askrindo dan Jamkrindo dilakukan sebagai salah satu langkah dukungan terhadap program Pemulihan Ekonomi Nasional. PT Bank...

Breaking News4 hari lalu

Sandiwara Sastra Peneman Asyik Belajar di Rumah

Jelang dibukanya tahun ajaran baru pada 13 Juli mendatang, banyak sekolah—terutama di zona merah—masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau...

Breaking News5 hari lalu

Inisiatif Pemasaran Digital Mutakhir Ala Alibaba Cloud dan Unilever

  Alibaba Cloud, tulang punggung teknologi digital dan intelijen Alibaba Group – bermitra dengan Unilever, salah satu perusahaan multinasional terbesar...

Breaking News6 hari lalu

Situasi Pandemi Tidak Menurunkan Kualitas Kinerja EBA-SP SMF

Meski dalam situasi pendemi Covid-19, PT Sarana Multigriya Finansial/SMF  (Persero), kinerja keuangan Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) masih...

Breaking News1 minggu lalu

Menkeu: Kami Harus Mundur 5 Tahun Terkait “Poverty Reduction” karena Pandemi

Pandemi global Covid-19 telah pada enam bulan terakhir telah menimbulkan darurat kesehatan dan perekonomian di banyak negara. Covid-19 setidaknya mempengaruhi...

Breaking News2 minggu lalu

Bank Dunia Kategorikan Indonesia Sebagai “Upper Middle Income Country”

Di tengah upaya Pemerintah dan masyarakat Indonesia berjuang mengatasi dampak pandemi Covid-19 dan melakukan pemulihan ekonomi nasional, sebuah prestasi membanggakan...

Trending