Connect with us

Tax Light

Menggemakan Merdeka

Aan Almaidah

Published

on

Penulis: Aan Almaidah A.

Merdeka adalah saat kita menjadi orang bebas yang di mana pun merasa merdeka dan mandiri. Bisa melakukan apa saja atas nama kebaikan. Dihargai dalam bentuk apa pun. Dan dengan bertambahnya setahun usia kemerdekaan menjadi 72, maka definisi kemerdekaan menjadi lebih beraneka. Seperti teriakan Chairil Anwar, dalam puisi “Merdeka”nya.

Aku mau bebas dari segala.

Merdeka.

Kemerdekaan, tidak bisa ditoleransi, adalah suatu penghargaan memanusiakan dan berbudaya. Masalahnya, di dunia merdeka, masih ada yang tidak merdeka, semata karena tipisnya unsur penghargaan dan apresiasi. Istilah yang satu ini kemudian menjadi marak: perundungan.

Perundungan menjadi istilah yang dicermati, bukan semata berkorelasi dengan harga diri. Kisah perundungan atau bullying terkait pada edukasi dini pada diri seorang anak, yang menjadi tanggung jawab orang tuanya. Tanpa disadari, setiap anak mungkin saja mengalami perundungan di masa kecilnya. Hal yang terjadi serta mengendap di trauma masa kecil, dapat bersemayam nun jauh di Pikiran Bawah Sadar, untuk kemudian pada saat yang tepat di suatu masa, trauma itu meledak dan mewujudkan aksi. Seperti pantulan bunyi dari dasar yang jauh. Menunggu saat yang tepat, berita akan menggema ke segenap penjuru. Saat itulah, sejarah dimulai dalam dirinya.

Tanpa disadari pula, perundungan tidak hanya terjadi pada manusia, melainkan juga pada unit kerja. Ingatkah bagaimana kita bisa bebas merdeka melontarkan kritikan tajam, hujatan, kepada instansi tertentu yang cemar karena kasus korupsi atau pelanggaran hukum? Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Satu kasus oleh oknum akan mencemarkan harga diri dan rasa merdeka suatu instansi. Tanpa disadari, saat itulah perundungan terjadi. Karena kita merasa merdeka, maka kita bebas menilai. Kita lupa, bukan tidak mungkin, suatu saat kitalah yang mengalami hal yang sama, sementara kita sudah ahli mengkritik dari segala segi.

Sejarah seharusnya berawal dari edukasi. Dan memberikan edukasi adalah tanggung jawab setiap generasi ke generasi berikutnya. Saat ini, dari 250 juta penduduk Indonesia, hampir serpertiganya merupakan generasi muda TK sampai SMA. Namun, saat ada pemberitaan yang menyangkut ketidaktahuan informasi atau ketimpangan perilaku, yang dipertanyakan adalah kegagalan edukasi. Pertanyaannya, benarkah edukasi dimulai dari tanggung jawab orang tua? Beranikah orang tua bersaing dengan kecanggihan teknologi yang sudah dikenalkan melalui perang asimetris industri kepada anak kita? Ataukah kualitas guru atau dosen, dan kurikulum pendidikan yang dipersalahkan?

Pernah ada tutur yang digemakan sejak zaman Aristoteles dan Plato. As is the state, so is the school. Melalui pendidikan, masa depan suatu negara dibentuk. Tanpa disadari muatan pendidikan mengandung karakter. Setiap produk mengincar anak bangsa yang dikenal sebagai generasi muda. Tiba-tiba saja, balita menjelma miniatur orang dewasa berkat sarana komunikasi yang diperolehnya dari orang tua, atau ditontonnya tanpa larangan diskriminatif seperti zaman dulu. Pemerintahan berselancar dengan globalisasi. Pendidikan bersaing dengan informasi maya yang mudah diakses tanpa pendampingan dewasa. Semua informasi terserap tanpa filter. Dan tanpa disadari pula, tumbuhlah klan generasi muda baru yang serbatahu dan tidak tahu. Buat mereka, identitas diri adalah saat menyerap semua informasi tanpa tahu muasalnya, dan menjadi yang nomor satu menyebarkannya. Kekinian, dalam segala trending isu. Tidak ada lagi perdebatan tentang etika dan kesantunan karena semua bisa diteriakkan melalui tulisan.

Potensi besar

Modalitas apakah yang dimiliki negara yang merdeka?

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku global yang disegani, yang harus diwujudkan melalui kinerja yang hebat dan prestasi. Untuk mewujudkannya diperlukan generasi muda yang percaya diri, dengan visi luas, ambisi dan kreativitas yang kuat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan guna menciptakan kemakmuran, kemajuan peradaban, dan keadilan sosial. Generasi muda tersebut terbentuk dari kesehatan sejak dalam kandungan, pendidikan yang layak diterima sejak usia dini dan kemudahan dalam berproses di dunia pendidikan.

Disandingkan dengan internasional, ada tes untuk mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan dengan pengetahuannya itu, bernama Programme for International Student Assessment (PISA). Berdasarkan tes PISA 2015, kualitas siswa Indonesia dalam bidang matematika dan pemahaman membaca berada di urutan 64 dari 72 negara, di mana capaian ini menunjukkan peningkatan signifikan. Sebelumnya, survei 2012, Indonesia menempati peringkat 71 dari 72 negara anggota OECD tersebut.

Adakah yang prihatin dengan hal ini? Bagaimana bisa kita membiarkan anak kita menghabiskan waktu dengan gawai (gadget) sementara sang pencipta gawai konon, melarang anaknya menghabiskan waktu dengan inovasinya sendiri? Di sisi lain, keprihatinan menciptakan berbagai lomba yang mengarah pada kegemaran membaca seperti West Java Leaders Reading Challenge, misalnya.

Masalah kesehatan, peluang menerima kualitas pendidikan yang baik, terkait erat dengan ketersediaan anggaran maupun kualitas penggunaan anggaran. Seandainya ada edukasi yang masuk sedari dini, untuk mencetak karakter yang mengerti bahwa semua permasalahan bangsa ini didanai dari pajak, dan ada penanaman kecintaan membaca yang tinggi, maka As is the state, so is the school bukan hanya sekadar quote. Ingat: Bila ingin mengubah suatu negara, masuklah di dunia pendidikannya.

Berawal dari sadar pajak yang ditanam di kurikulum dasar melalui ketulusan berbagi dan empati kepada pembangunan dan kemajuan bangsa. Melalui road map edukasi yang terukur, 30 tahun ke depan kita tidak perlu lagi mendengar lontaran pertanyaan, “Untuk apa uang pajak bagi suatu negara?” tercetus dari para generasi muda Indonesia.

Tidak usahlah berdebat, apakah harus Generasi X atau Y atau Z yang harus mencetuskannya. Pengotakan generasi diluncurkan oleh arus globalisasi. Apabila satu generasi lebih menyerap informasi untuk menjadi tahu, maka generasi yang terkebelakang informasi menjadi kurang tahu. Toh, akhirnya, kemampuan dan kemauan yang menjadi pembeda.

Kesadaran pajak bukan hanya milik orang-orang kaya, tetapi perlu ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat. Caranya dengan membenamkan konsep pikiran bahwa menjadi kaya itu berbeda. T. Harv Eker dalam buku Secrets of the Millionaire Mind-nya bersabda tentang konsep pikiran orang kaya. Pertama, Orang kaya percaya bahwa ‘”Saya menciptakan kehidupan saya”. Orang miskin percaya bahwa “Kehidupan terjadi begitu saja pada saya”. Apa contohnya? Bila generasi muda kita suka menyalahkan siapa saja atau apa saja atas hasil yang dia dapatkan, atau selalu melakukan pembenaran atas perbuatan, dan selalu mengeluh, maka waspadalah! Itu semua adalah ciri-ciri peran sang korban. Ciptakan kehidupan, dan bantu dengan pemahaman dari mana pembangunan bisa berjalan, bagaimana utang negara bisa bisa terbayar.

Kedua, orang kaya “fokus pada peluang”. Orang miskin “fokus pada hambatan”. Bagaimana bisa menjadi pembayar pajak yang baik bila selalu berpikir bahwa dengan membayar pajak maka kerugian yang dihadapi? Coba berpikir, bayar pajak itu untung, bayar pajak itu keren, maka peluang positif yang akan terjadi. Itu baru dua konsep cara berpikir orang kaya. Selanjutnya, bisa dicari sendiri. Pembedanya hanyalah pola pikir. Kata Cak Lontong, “Mikiirrrr…”.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah masalah ketimpangan pendidikan harus diselesaikan dengan terjunnya inisiatif dan motivasi berbagi ilmu. Indonesia Mengajar. Kemenkeu Mengajar. Setiap generasi merasa perlu menyelamatkan generasi berikutnya. Perlu ada saatnya Pajak juga turut menuturkan untuk apa dia ada di kisaran kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tentunya dengan tutur senada, yaitu semua terbuka bahwa kesadaran dan pemahaman menjadi titik balik kecerdasan bangsa.

Maka, semuanya bergema. Gema, diketahui, terjadi di alam terbuka, setelah bunyi asli berakhir. Kemarahan yang diteriakkan, akan menimbulkan gema. Kesedihan yang diteriakkan juga akan menimbulkan gema. Setiap gema edukasi yang keluar dari anak bangsa akan membawa wajah bangsanya untuk mandiri dan penuh harga diri.

Dan itulah harga bangsa yang merdeka….

 

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Tax Light

“Anicca”

Aan Almaidah

Published

on

Ilustrasi: awpracticetoday.org

“Anicca” adalah ketidakkekalan, pertanda bahwa manusia harus senantiasa siaga, berselancar dengan dinamika arus perubahan.

Penulis: Aan Almaidah Anwar

Tahun 2019. Berbeda dengan keriaan tutup tahun yang biasa, sambutan atas kedatangan 2019 diwarnai dengan keprihatinan, rayakan tanpa kembang api, tanpa petasan, tanpa trompet. Setidaknya demikianlah imbauan para kepala daerah. Namun, imbauan tetap imbauan di kala detik demi detik bergulir lambat dan pecah dengan lengkingan gebyar petasan di angkasa, di mana saja. Kenyataan itu bukan hanya disebut kebiasaan, tapi juga menjadi budaya yang merasuki generasi, dan menjadi suatu peradaban.

Peradaban manusia, menurut Emha Ainun Nadjib di buku Prayogi R. Saputra Spiritual Journey, telah melewati tiga masa sejak zaman Nabi Adam. Peradaban pertama mencapai puncaknya di zaman Nabi Idris, kemudian hancur saat terjadi banjir bandang Nabi Nuh. Peradaban terbesar kedua bangkit sejak zaman Nabi Hud, bahkan saat itu sudah ada kapal terbang, gedung pencakar langit, dan mengalami kehancuran kembali saat Nabi Isa diangkat oleh Allah, atau disalibkan. Saat ini, disadari atau tidak, bahkan Emha pun mengaku hanya melihat dari gelagat dan isyarat, manusia sudah memasuki peradaban ketiga yang ditandai dengan turunnya Muhammad sebagai Rasulullah. Pada peradaban ketiga ini, tidak terhitung jumlah bencana yang melanda manusia anak dan turunannya.

Untuk Indonesia, bencana alam yang terjadi di tahun 2018 sungguh menggetarkan hati. Pergerakan lempeng bumi, dan tsunami, baik di Lombok, Palu dan Banten dan Lampung Selatan bulan Desember lalu, memakan banyak korban. Lantas kita berpikir, “Jangan-jangan ini peringatan pertanda akan hancurnya suatu peradaban”. Tetapi tidak ada yang bisa memastikan. Atas nama segenap keprihatinan, keluarlah imbauan untuk tidak merayakan tahun baru dengan gemerlap hura-hura. Seperti yang disebut di atas, kata imbauan tidak mengandung unsur paksaan. Maka perayaan tetap berjalan.

Orang bilang, ini ga konsisten. Ga kekal. Atau mungkin kita baru kenal kata Anicca. Anicca, atau ketidakkekalan ini menunjukkan bahwa semua kondisi itu tidak kekal pada situasi yang terus berputar. Misalnya, sebuah daun tumbuh di pohon, daun akan rontok digantikan daun baru. Mengacu pada perilaku, maka kesedihan atas bencana bisa terlupakan saat situasi kembali tenang, kesedihan atas kehilangan wafatnya seorang kawan akan tergantikan canda dan berita di media sosial memupus berita-berita duka. Memang, di dunia ga ada yang kekal.

“Apakah yang bisa menjamin kekekalan atas kesadaran manusia? Pola pikir!”

Perilaku yang sama berulang saat imbauan melayang kepada Wajib Pajak untuk menyetorkan pembayaran pajak sesuai data yang diperoleh petugas pajak. Kita abai pada surat imbauan dengan tuntutan, mana sanksinya? Lantas prosedur berjalan sampai kepada pemeriksaan, yang direspons dengan kemarahan meminta keadilan. Bicara tentang keadilan di zaman ini, maka kita diingatkan pada karakter. Apabila sedari dini setiap warga negara sudah mendapatkan kurikulum tentang peran pajak di sekolah dasar dan menengah, maka mereka akan mendahulukan kewajiban membayar pajaknya daripada menuntut hak atas keadilan perlakuan. Bayar dulu pajaknya, baru awasi penggunaannya, demikian slogan lawas. Sama dengan anggota kompleks yang menuntut kesetaraan perlakuan dan keadilan, tapi saat ditanya masih belum melunasi iurannya sebagai warga. Sayangnya, karakter inilah yang menonjol di mana-mana. Maka perlu juga kita persyaratkan, apakah mereka seorang pembayar pajak yang baik? Sebelum secara aklamasi diangkat menjadi pimpinan kita baik di warga perumahan, warga kelurahan, kecamatan maupun pemerintahan. Kembali kepada perilaku yang anicca, maka kepatuhan atas hukum dan prosedur bisa saja digantikan keinginan melanggar saat tidak ada denda atau sanksi.

Menutup tahun 2018, Menteri Keuangan menyatakan apresiasinya atas capaian dan kinerja jajarannya di tahun 2018. Untuk pertama kalinya penerimaan negara mencapai di atas 100 persen, demikian judul berita. Lantas orang bertanya-tanya, pajak di atas 100 persen? Wow. Penerimaan negara mencakup penerimaan dalam negeri dari realisasi capaian Ditjen Pajak, Ditjen Bea dan Cukai dan Penerimaan Negara Bukan Pajak itulah yang mencapai di atas 100 persen. Target pajak sendiri di 2018 terealisasi sekitar 92 persen. Realisasi ini patut disyukuri mengingat betapa gencarnya upaya edukasi dijalankan oleh kaum cerdik cendekia, praktisi akademisi, komunitas kewirausahaan, yang bahu membahu dengan kesadaran penuh atas pentingnya pajak. Saat pajak disuarakan oleh seluruh warga negara, maka peradaban kesadaran terbangkitkan kembali. Nah, apakah yang bisa menjamin kekekalan atas kesadaran manusia bahwa pajak itu penting dan perlu? Pola pikir! Apabila setiap siswa diajarkan bahwa mereka bukan manusia biasa, selama mereka cinta bangsa dan ikut bela negara melalui uang pajak yang mereka setorkan ke negara, maka hukum kekekalan berlaku dari masa ke masa. Mereka hebat!

Pola pikir, adalah yang diyakini Mark Zuckerberg dimiliki semua orang. Hal pertama yang harus dilakukan adalah membuang jauh-jauh pikiran bahwa Anda hanya manusia biasa. Kita harus melepas pola pikir yang berubah-ubah dalam diri kita dengan mengganti pola pikir konvensional menjadi out of box minded. Anicca memang ketidakkekalan, tapi itu adalah pertanda bahwa manusia harus senantiasa siaga, berselancar dengan dinamika arus perubahan yang niscaya terjadi.

Selamat memasuki dunia kami, Anicca.

Continue Reading

Tax Light

“Ahu!”

Aan Almaidah

Published

on

Generasi muda adalah calon pemimpin Indonesia di masa mendatang yang harus memiliki kebanggaan. Pada mereka perlu ditanamkan nilai dan fokus atas pemahaman kesadaran membayar pajak.

 

Tokoh kungfu legendaris, Bruce Lee, pernah menyampaikan bahwa kekuatan fokus terletak pada bagaimana air mengalir. Kutipannya yang terkenal adalah “Be water, my friend”. “Jadilah seperti air, temanku”. Biasanya orang tua menanamkan prinsip, mengalirlah seperti air. Lantas kita tersugesti oleh prinsip itu dengan menerapkannya melalui pemikiran, saya lakoni, what ever will be will be. Persis seperti air.

Namun, Bruce Lee tidak seperti itu dalam berkungfu. Strategi awal, katanya, empty your mind. Kosongkan pikiranmu, yang kemudian membuat semesta menjadi hening dan kita menjadi fokus. Fokus tercipta dan menjadi strategi kedua sang air, yang mengalir secara fokus untuk mengisi ruang yang bisa diisi. Kemudian strategi ketiganya adalah shapeless. Tanpa bentuk. Air, seperti yang kita ketahui, bisa masuk di wadah, bejana, atau media dengan bentuk apa pun. Karena itu, air mewujud tanpa bentuk.

Prinsip itu bisa diterapkan saat kita ingin mencapai cita-cita. Prosesnya tentu saja tidak mudah. Ada perubahan yang harus dihadapi. Kalau kita bertanya pada siswa dasar dan menengah, apakah cita-citamu? Jawabannya bisa satu, bisa banyak. Jadi dokter. Insinyur. Youtuber. Ahli desain grafis. Presiden. Namun, banyak pengalaman saat kegiatan Pajak Bertutur dilakukan di seluruh Indonesia tanggal 9 November lalu yang mengusung Hari Pahlawan, pertanyaan yang sama dijawab dengan gelengan. Mau jadi orang pajak enggak? Mereka menggeleng. Alasannya, susah! Di saat peran pembayaran pajak oleh warga negara yang sangat mendukung pembangunan, 80 persen dari APBN, dijelaskan secara lugas dan tuntas, ada kekhawatiran di hati ini…. Kalau generasi muda tidak terbiasa memahami peran pajak, nanti tidak ada yang bercita-cita menjadi Dirjen Pajak. Padahal, cita-cita mengawal keuangan negara itu luar biasa.

Maka, edukasi menjadi pilar penting dalam membangun kesadaran masyarakat. Edukasi sekarang merambah di setiap kurikulum pendidikan, baik tentang bahaya narkoba, rajin menabung, membangun karakter yang berkata tidak pada korupsi, dan juga karakter yang mendukung bahwa pajak itu penting, untuk kita. Direktorat Jenderal Pajak mengadakan Pekan Inklusi 2018 pada tanggal 3–9 November 2018 untuk pertama kalinya, melibatkan siswa dasar, menengah, mahasiswa sampai kementerian negara dan lembaga, untuk bersama-sama mendukung generasi muda cerdas dan sadar pajak. Dengan meningkatkan kesadaran, maka mereka lebih fokus dengan rasa bela tanah air dan cinta bangsa dengan membayar pajak. Caranya hanyalah dengan membuat mereka bangga menjadi generasi muda Indonesia. Bangga bayar pajak. Kalau bisa, bercita-cita dan bangga jadi orang pajak.

Konon, seseorang yang bangga pada institusinya, akan menjadi public relation yang efektif.

Memang penting menciptakan kebanggaan. Pekerjaan rumah terbesarnya adalah bagaimana mengubah perilaku untuk menjadi bangga.Untuk itu, setiap instansi baik swasta dan negeri memandang perlu melakukan perubahan melalui pelaksanaan psikologi birokrasi. Contohnya, Kota Banyuwangi melakukan perubahan kebersihan melalui lomba toilet tebersih. Melalui kegiatan seni budaya, olahraga, dan musik, maka tercipta kedekatan lintas generasi untuk bersama-sama mewujudkan kemajuan kotanya. Bagaimana pun, budaya itu lintas agama. Sang bupatilah yang menceritakan prinsip strategis kepemimpinannya dalam suatu pertemuan yang membahas tentang membangun kapasitas perubahan.

Hal lain, bagaimana Kota Surabaya yang dulu dikenal sebagai kota panas terik kemudian menjelma menjadi seperti Jepang dengan taman tersebar di tepi jalan, pohon bunga yang cantik, berkat tangan dingin pemimpinnya. Tidak ada yang tidak mungkin untuk perubahan, dan kita perlu perilaku yang militan. Perilaku militan berbanding lurus dengan rasa bangga terhadap cita-cita atau pekerjaan yang dimiliki, dalam rangka meraih kemenangan atas suatu tujuan.

Ahu! Ahu! Ahu!

Demikian pekikan pasukan Spartan saat peperangan dalam film 300. Kurang lebih pekikan itu mengisyaratkan kemenangan. Orang lain boleh bangga pada profesinya, tetapi kita harus bangga pada amanah yang kita dapatkan dengan memandang itu sebagai pekerjaan yang sangat mulia. Nilai-nilai apakah yang dibutuhkan untuk membangun kompetensi?

Disiplin dan keberanian.

Apakah sekarang dalam keluarga kita sudah tertanam disiplin sejak dini? Apakah di sekolah, guru-guru telah mengajarkan disiplin dengan memperlihatkan kedisiplinannya sebagai sang role model? Misalnya, tidak hanya memberikan PR, tetapi juga mendampingi anak didik dalam mempersiapkan ujian nasional? Apakah dalam lingkungan kerja, bos kita sudah memberi teladan kedisiplinannya, minimal dalam mematuhi jam kerja, atau bekerja di atas ekspektasi? Apakah Anda sebagai Wajib Pajak sudah disiplin membayar pajak dan melapor tepat waktu, atau di awal bulan? Apakah Anda sebagai penunggak pajak tetap berkomitmen melunasi tunggakan pajak Anda?

Disiplin dan keberanian perlu ditunjang oleh adanya visi dan misi setiap individu. Kita perlu mengajarkan generasi muda untuk menciptakan visi dan misi hidupnya. Bukan hanya organisasi yang perlu visi dan misi, tetapi setiap diri kita. Kalau tidak, apa tujuan kita hidup, apa tujuan kita bekerja, akan mengalir seperti air yang ada dalam pikiran kita, bukannya air dalam pikiran Bruce Lee. Empty your mind. Be focus. Shapeless.

Generasi milenial, generasi Z, generasi Alpha, apa pun labelnya, adalah cerminan generasi muda kita. Sebentar lagi merekalah yang akan mengemudikan Indonesia. Pada mereka perlu diajarkan nilai. Nilai dan pemahaman untuk kesadaran membayar pajak, salah satunya. Mereka perlu diajari bagaimana cara mencintai bangsa seperti kebanggaan pasukan Spartan dalam pertempuran Thermopylae yang ketika ditanya rajanya: “Spartans… what’s your profession?”

Menggelegar, mereka menjawab: “Ahu! Ahu! Ahu!”

Ada kebanggaan di sana untuk menang.

Continue Reading

Tax Light

‘Yugen

Aan Almaidah

Published

on

Ketika kesadaran pajak sudah terpatri di setiap sanubari anak negeri, saat itulah ‘yugen’ untuk Indonesia telah tiba.

Kesadaran timbul setelah terjadi suatu keadaan, baik melalui perencanaan atau malah tanpa diperkirakan. Kenapa standar proses terbang dan keselamatan penerbangan pesawat harus selalu  disempurnakan? Kenapa seseorang bisa menjadi semakin bijaksana? Kenapa pembangunan sebuah gedung bisa terhenti dalam jangka waktu sekian lama?

Jawabnya, karena adanya awareness yang timbul dari suatu pengalaman. Jatuhnya Lion Air JT610 membuat bangsa Indonesia terhenyak. Ada yang salah dari situasi sebuah pesawat baru yang berbekalkan pilot senior saat turun menukik tajam ke laut sebelum sayapnya mengangkat sampai puluhan ribu kaki. Rasanya tak mungkin! Namun, masih ingat kisah Titanic? Bagaimana sebuah kapal mewah dan kuat yang direncanakan berlayar melintasi lautan tanpa halangan, karam menabrak batu es? Lantas kita mulai berpikir, apa yang salah? Sesungguhnya, tidak ada yang salah.

Sama saja saat kita melihat seseorang menjadi semakin bijaksana dari hari ke hari, berbicara tentang mati atau kehidupan…. Kemudian  kita mendengar berita dia wafat secara mendadak. Kita pun jadi terheran heran. Kita berusaha menebak-nebak bahwa Dia jadi sufi karena sudah waktunya pergi. Ini terjadi saat status media sosial sang kawan kita baca kembali. Salah satu korban musibah Lion, 29 Oktober 2018, adalah teman saya, bernama Haska. Lima  bulan sebelum kepergiannya, dia menulis status yang membuat kita berpikir kembali.

“Dua orang yang harus kamu buat bangga: 1, Diri kamu ketika masih kecil; 2. Diri kamu ketika di ambang maut. Jangan buat mereka menyesal…”

Status itu dibuatnya di penghujung Mei 2018. Apakah saat itu dia berpikir akan pergi untuk tidak kembali? Atau berpikir bahwa saat malaikat maut menjemput maka dia akan songsong dengan keyakinan membuat dirinya bangga? Tidak ada yang tahu.

Sama dengan tidak tahunya kita kapan waktu setiap manusia berakhir. Menjalani hidup memang perlu perencanaan. Namun, tidak ada yang merencanakan suatu kematian. Baik kehidupan, atau kematian, sama-sama memerlukan persiapan. Dan persiapan hanya bisa dilakukan melalui bangkitnya kesadaran. Kesadaran apa? Bahwa hidup hanya singkat. Bahwa hidup itu juga bisa yugen kok….

Tentu saja kata yugen menjadi menarik apabila kita mendalami artinya.  yugen adalah istilah dari bahasa Jepang, untuk suatu kesadaran. Kesadaran yang mendalam tentang alam semesta yang memicu perasaan terlalu dalam dan misterius untuk diungkapkan melalui kata-kata.  Apa contohnya? Begini. Ada saat di mana kita merasa yugen… Saat menatap awan putih begitu cantik bergumpal-gumpal dan membentuk lukisan di langit. Saat menatap ombak pecah di bibir pantai, bergulung dan membiru. Atau melihat keindahan hutan hijau di bawah, saat kita di dalam pesawat. Kita tercekat. Indahnya alam… indahnya ciptaan Tuhan. Dan mendadak ada kesadaran bahwa kita begitu kecil. Yugen, bisa timbul saat kita dalam posisi menikmati keindahan alam yang wajar. Atau seperti kata-kata Haska di atas, saat kita berusaha membanggakan diri kita di waktu kecil atau di ambang maut. Kenapa demikian? Karena getaran alam paling menusuk hanya bisa dirasakan jiwa kanak-kanak dalam diri kita, atau jiwa bertaubat diri kita yang lain.

Sementara di lain sisi, meningkatkan kesadaran juga merupakan misi edukasi perpajakan, selain meningkatkan ilmu pengetahuan dan mengubah perilaku. Seperti diketahui, dalam memenuhi kewajiban perpajakannya, masyarakat memiliki hak untuk tahu, berarti butuh informasi. Pemerintah menyediakan informasi publik melalui media penyuluhan langsung maupun tidak langsung. Ketika masyarakat sudah merasa tahu dan mengenali hak dan kewajiban, maka ada tuntutan edukasi lain untuk membuat masyarakat menjadi paham perpajakan, kemudian menjadi sadar peranannya dalam pembangunan bangsa dan negara. Maka untuk menjadikan edukasi itu tepat sasaran, diperlukan keterbukaan wawasan masyarakat untuk menerima pajak sebagai bagian dari kehidupan. Bagaimana caranya?

“Saat edukasi pajak diajarkan kepada anak usia 12 tahun di tahun 2018, kelak tahun 2045 sang anak dapat menjadi pengusaha hebat di usia 49 tahun!”

Kembali pada pertanyaan pada alinea awal, kenapa pembangunan sebuah gedung bisa terhenti dalam jangka waktu sekian lama? Karena tidak tumbuhnya kesadaran yang merata untuk ambil bagian dalam menghitung dan membayar pajak. Karena tidak merasa tahu dan kenal apa artinya pajak, lantas anggaran pembangunan menjadi tersendat. Pembangunan menjadi tertunda. Apakah perlu diteruskan bila tidak ditunjang keuangan memadai? Sama seperti anggaran rumah tangga, maka saat kita memaksakan diri belanja di saat keuangan habis, maka yang tercipta adalah utang.  Bagaimana cara menekan utang? Tentu saja kita harus mendisiplin diri untuk tidak terus menerus berutang. Cara mendisiplin diri adalah mematuhi komitmen.

Dan kepatuhan, hanya bisa ditingkatkan melalui kesadaran. Salah satu kegiatan memperluas kesadaran masyarakat yang diusung Direktorat Jenderal Pajak adalah kegiatan inklusi pajak. Target kegiatan ini semua usia di tahap perkembangan manusia, dan dimulai sedari usia dini. Menyasar tujuan pada Generasi muda Emas Cerdas dan Sadar Pajak. Asumsinya, bonus demografi di tahun 2045 yang diharapkan menjadi zaman keemasan 100 tahun Indonesia. Misalnya, edukasi pajak diajarkan kepada anak usia 12 tahun di tahun 2018, kelak tahun 2045 sang anak dapat menjadi pengusaha hebat di usia 39 tahun! Dimulai tahun 2017 sejak launching-nya kegiatan inklusi pajak berupa kegiatan Pajak Bertutur, diharapkan nasihat berikut menjadi sugesti hari-hari mereka kelak.

Pajak itu penting, Nak! Dan hanya kesadaranmu yang bisa menyelamatkan negara ini. Kesadaranmu berjibaku membayar pajak tanpa merasa terpaksa.

Tentu saja, kemampuan membaca alam tetap harus diajarkan. Tanpa adanya kecerdasan intelektual yang tinggi, maka konservasi alam menjadi minim. Suatu kegiatan pembangunan bisa saja mengikis habis sumber daya yang seharusnya diwariskan pada anak cucu.

Generasi muda yang cerdas hanya bisa lahir dari edukasi yang cerdas. Kita tidak akan menuding bahwa underground economy itu untouchable. Saat ini, jumlah UMKM sebanyak 59 juta unit di Indonesia, baru 670 ribuan terdaftar ber-NPWP, dengan setoran pajaknya baru Rp 5 triliun. Artinya, baru sebesar 0.51% dari penerimaan nasional.  Melalui program gencar Bussiness Development Service di seluruh unit vertikal perpajakan, maka diharapkan timbul kesadaran yang dipicu dari dalam pikiran pelaku UMKM untuk merasa bertanggung jawab membela satu bangsa, satu bahasa, untuk bertahan di atas batas kemakmuran. Bukan hanya UMKM, tapi juga tanggung jawab masyarakat dan pemerintah untuk bisa merenungkan satu hal….

Saat pajak menjadi bagian dari kehidupan setiap insan, maka itu adalah kemerdekaan yang tidak bisa dituangkan dalam kata-kata.

Pejamkanlah mata, dan lihatlah bahwa ada suatu kesadaran yang lahir dari alam semesta saat melihat Indonesia mandiri. Tak terucapkan, begitu dalam di perasaan.

Maka, ciptakanlah yugen-mu untuk negara ini… buatlah dirimu bangga pada dirimu sendiri.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News4 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News4 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News5 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News5 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News6 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News7 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News11 bulan ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News1 tahun ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News1 tahun ago

Majalah Pajak Print Review

Trending