Terhubung dengan kami
Pajak-New Year

Up Close

Mencari Kekayaan Batin

Agus Budiman

Diterbitkan

pada

Hariyadi B. Sukamdani/Foto: Rivan K. Fazry
Tax People Share!
  • 126
  • 97
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    223
    Shares

Tak ingin hanya berkawan dengan anak-anak orang kaya di Jakarta, putra pengusaha terkenal ini, selepas SMA di Jakarta, memilih kuliah di Solo. Di sana ia merasakan kekayaan batin, yang akan menjadi salah satu bekalnya mengelola perusahaan keluarga yang telah berkibar sejak 64 tahun silam.

Saat krisis moneter melanda Indonesia pada 1998, Hariyadi Sukamdani masih tergolong belia untuk seorang pemimpin perusahaan—33 tahun. Saat itu banyak pebisnis kelimpungan tercekik meroket cepatnya dollar AS dari seharga Rp 1.800 per dollar AS menjadi Rp 16.000. Sungguh situasi yang amat menekan bagi perusahaan yang harus bayar utang dalam dollar AS. Nilai utang (dan angsuran) mereka menjadi segunung dalam sekejap. Akibatnya, banyak pengusaha yang tergoda tawaran utang yang ujung-ujungnya kian menjerumuskan mereka.

“Dulu saya juga tidak tahu tuh, bagaimana akhirnya perusahaan bisa selamat dengan keadaan yang seperti itu. Ya, alhamdulillah ada aja jalannya, dikasih kemudahan,” kenang Hariyadi, Jumat malam (27/11) di kantor Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Hariyadi adalah Ketua Umum Apindo sedahulu, Sofjan Wanandi, mengundurkan diri per 1 Desember 2014.

Anak keempat Sukamdani Sahid Gitosardjono, pengusaha Indonesia pemilik jaringan Hotel Sahid dan Hotel Sahid Jaya Internasional, ini memang pantas bersyukur. Ia mampu mengendalikan diri untuk tak tergiur tawaran utang seperti banyak dilakukan pengusaha lainnya. Padahal, ketika krisis datang dan ia ditugasi menyelamatkan perusahaan keluarga, ia baru berusia 33 tahun—akan dianggap wajar saja jika ia bersikap agresif mencari peluang dan solusi.

“Saya enggak tergiur, alhamdulillah,” ujar Hariyadi. “Walau waktu itu saya masih muda, pikiran saya sudah tua, ha-ha.”

Tahun 1998 itu menjadi tahun terberat sekaligus tahun yang banyak memberi pelajaran langka—karena krisis semacam itu tidak terjadi di setiap era—dan Hariyadi bersyukur karenanya. “Tahun 1998 itu, saya merasa beruntung juga, sih, mendapatkan pengalaman seperti itu. Enggak setiap orang bisa melewati kondisi yang seperti.”

Dari mana “pikiran tua” Hariyadi itu bermula? Mungkin dari mengamati dari dekat keuletan orangtuanya menjadi pengusaha dengan tanpa memaksa keturunan mereka untuk menjadi pengusaha pula. “Orangtua saya hanya menanamkan pesan untuk menuntut ilmu, berusaha yang terbaik di bidang masing-masing, bertanggung jawab, dan memikirkan kepentingan orang banyak.”

Orangtuanya yang Jawa tulen mengagumi Ki Hajar Dewantoro bahkan mempraktikkan falsafah Bapak Pendidikan Nasional itu dalam kehidupan sehari-hari. Sang ayah memperkenalkan ajaran Ki Hajar Dewantoro—ing ngarsa sung  tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri Handyani, “Mereka menganggap ajaran Ki Hajar Dewantoro itu bagus juga untuk kepemimpinan. Intinya, seseorang harus bisa menempatkan diri. Saat kamu harus jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang baik. Saat kau harus di tengah, jadilah suporter yang baik. Saat kau jadi yang dipimpin, jadilah pengikut yang baik.”

Kekayaan batin

Tetapi mungkin juga, ketenangan itu berasal dari pengalaman yang memberinya pengalaman batin yang berarti. Lulus dari SMA 70 di Jakarta Selatan, Hariyadi bertekad keluar dari ibu kota. Ia ingin mengambil jarak dari teman-temannya selama ini yang rata-rata dari kalangan berada.

Di Solo, ia “menyusup” membaur sebagai layaknya anak muda lainnya yang sederhana dan datang dari kalangan petani dan jelata, yang makan dengan lauk seadanya, dan yang harus ke tetangga kalau ingin menonton televisi. “Sangat membuka mata batin. Oh, ternyata begini, ya? Terus terasahlah kepedulian kita untuk berbuat sesuatu.”

Kegiatan keorganisasian di kampus menambah pengalaman batin sekaligus melengkapi “nasib”-nya selama ini sebagai anak keempat (dan anak laki-laki terakhir dari lima bersaudara), yang selalu jadi sasaran perintah kakak-kakaknya. Dari sekadar disuruh mengerjakan tugas ringan, hingga ke urusan gawat seperti menangani perusahaan yang oleng. Akumulasi pengalaman yang tampaknya mengalir saja itulah barangkali yang menuntun sikapnya dalam menakhodai perusahaan keluarga. “Jadi, karena biasa disuruh-suruh, saya punya pengalaman lebih banyak.”

Mengelola dan membawa nama perusahaan keluarga tentu memberi tantangan unik. Itu diakui lelaki kelahiran Jakarta, 4 Februari 1965 ini. “Tantangannya, menjaga persatuan. Kita harus bisa ngemong. Jangan sampai ada friksi yang mengarah pada perpecahan. Harus bisa menanamkan bahwa rezeki itu datangnya dari Tuhan. Jangan gara-gara harta, pecah keluarga.”

Hal lain yang tak kalah penting dan menjadi catatan Hariyadi adalah, bahwa perusahaan keluarga adalah juga sebentuk organisasi. Jadi, ia harus diperlakukan sebagai organisasi. Dalam organisasi, kompetensi menjadi nomor satu. “Semua usaha harus dikerjakan oleh orang yang berkompeten. Kalau tidak begitu, susah. Harus ada keseriusan,“ ungkap Hariyani. “Ini ada gambarang sedikit, ya, soal pribumi dengan nonpribumi dalam berusaha. Orang nonpribumi itu fokus, serius, konsisten melakukan itu secara berkesinambungan. Kalau pribumi itu enggak begitu. Jadi, kalau ada kesenjangan, itu terjadi bukan karena ras, tapi karena serius atau enggak.”

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Breaking News

Breaking News1 minggu lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

Tax People Share!        157SharesPT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di...

Breaking News3 minggu lalu

Majalah Pajak Print Review

Tax People Share!         Post Views: 2.075

Breaking News3 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

Tax People Share!          Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri...

Breaking News3 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Tax People Share!        Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan...

Breaking News4 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Tax People Share!        Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat...

Breaking News6 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Tax People Share!        Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang...

Breaking News11 bulan lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Tax People Share!        Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan,...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Tax People Share!        Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Tax People Share!        Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak...

Breaking News2 tahun lalu

Ini Cara Kerja Listrik Tenaga Air Versi Tri Mumpuni

Tax People Share!        Air dari sungai dibendung kemudian dialirkan melalui parit. Kira-kira 300 hingga 500 meter dari bendungan, sebagian air dialirkan...

Advertisement Pajak-New01

Trending