Connect with us

Health

Menangani Siksaan Anosmia

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Foto: Islustrasi

Waspada jika hidung kita tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk menghidu. Bisa jadi bukan sekadar influenza belaka, tetapi ada gangguan serius pada saraf kita.

Azizah membuat masakan favorit suaminya untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Namun, ada yang aneh hari itu. Suami Azizah tidak dapat mencium bau masakan yang dihidangkan untuknya. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata suaminya mengalami flu berat sehingga tidak dapat mencium bau zat dengan maksimal.

Dalam istilah kedokteran, gejala gangguan indra penciuman seperti itu dibagi menjadi dua, yaitu anosmia dan hiposmia. Anosmia berupa kondisi seseorang yang sama sekali tidak bisa mengenal bau. Sedangkan hiposmia adalah berkurangnya sense of smell atau berkurangnya kemampuan untuk mengenali bau. Dua hal itu bisa berlangsung dari ketidakmampuan menghidu beberapa aroma tertentu atau semakin memburuk sehingga terjadi anosmia.

Indra penciuman seseorang terangsang oleh zat tertentu. Awalnya, molekul yang dilepaskan dari suatu zat—seperti aroma dari bunga harus merangsang sel-sel saraf khusus yang disebut sel olfactory atau penciuman yang terdapat di hidung bagian atas. Saraf ini memonitor asupan bauan yang dibawa udara ke dalam sistem pernapasan manusia dan sangat menentukan rasa, aroma dan palatabilitas dari makanan dan minuman. Sel-sel saraf ini kemudian mengirimkan informasi ke otak, yaitu asal bau yang khas dikenali. Apa pun yang mengganggu proses ini, seperti pilek, hidung tersumbat, atau kerusakan pada sel-sel saraf itu sendiri dapat menyebabkan hilangnya indra penciuman.

Dokter spesialis THT Mayapada Hospital Jakarta Selatan Wisanti Zarwin mengungkapkan, saraf olfaktori adalah salah satu saraf tubuh yang dapat beregenerasi, yakni setiap 60 hari mengalami perbaikan. Namun, pada sebagian orang, regenerasi ini terganggu, misalnya karena penyakit saraf, seperti parkinson dan alzheimer, khususnya pada pasien 50 tahun ke atas.

Wisanti mengungkapkan, anosmia bukanlah penyakit, melainkan baru sebuah gejala. “Jadi, kalau ada yang bilang, ‘Saya anosmia’, kita akan tanya penyakitnya apa sehingga menjadi anosmia,” ungkapnya saat ditemui Majalah Pajak di Rumah Sakit Mayapada Jakarta Selatan, pada Selasa (03/03).

Menurut Wisanti, anosmia bisa berbahaya karena ia membuat seseorang tidak dapat mendeteksi kebocoran gas dan asap, sulit untuk membedakan makanan basi, sampai memengaruhi selera makan dan psikis seseorang.

Faktor risiko

Penyebab anosmia dibagi dua. Pertama, masalah pada sistem transpor hidung, Ini berupa inflamasi (peradangan), seperti sinusitis atau flu biasa. Jika menyebabkan bengkak dan terjadi sumbatan di jalan nafas maka aliran udara tidak sampai ke atas atap hidung sehingga mengurangi kemampuan menghirup. Kemudian bisa juga dari kelainan anatomi dari hidung, seperti hidung bengkok atau mempunyai konka (inferior turbinate) yang lebar. Selain itu, alergi juga dapat menimbulkan reaksi radang yang berlebihan. Radang berlebih akan merangsang timbulnya penebalan pada mukosa. Jika mukosa menebal berarti jaringan kecil (silia) pun semakin lama semakin pendek. Maka, kemampuan silia untuk menangkap reseptor untuk rangsangan jadi berkurang.

“Pada orang yang memiliki alergi, walaupun dia tidak tersumbat, hidungnya tidak sempit dan sebagainya, tapi mukosanya tebal itu akan timbul seperti gejala anosmia atau hiposmia,” jelas Wisanti.

Penyebab anosmia yang kedua adalah kelainan pada bagian saraf. Kelainan pada saraf, bisa karena faktor genetis (bawaan sejak lahir) dan nongenetik. Faktor bawaan, misalnya tidak bisa mencium sejak lahir, sementara faktor nongenetis, misalnya cedera otak atau cedera head injury.

Pengobatan

Sebelum melakukan pengobatan, Wisanti menegaskan langkah pertama adalah dengan cara mendiagnosis terjadinya anosmia atau hiposmia, apakah ada masalah di transpor hidung atau masalah di saraf. Setelah itu barulah bisa diambil tindakan medis. Pada masalah transpor hidung, jika ada proses inflamasi radang maka dilakukan pengobatan dasar. Sedangkan kelainan anatomi seperti hidung bengkok, sempit atau polip dan sebagainya akan lakukan treatment basic.

“Nanti akan dilakukan pemeriksaan dulu. Mungkin diangkat, dilakukan rekonstruksi dari hidung sehingga pathway untuk ke arah olfaktorinya lebih lancar. Yang paling terkenal, biasanya juga dilakukan sniffing test untuk pemeriksaan hidung,” jelasnya.

Selain itu, dokter biasanya memberikan tes mencium dengan cara memberikan tes bebauan yang sehari-hari ia kenal seperti bau parfum, kopi maupun aroma bunga. Kalau dia bisa melakukan, berarti dia bisa kembali lagi seperti semula.

Sedangkan untuk kelainan dari saraf, harus dilakukan pemeriksaan intensif, apakah ada tumor, kelainan dari pembuluh darah, atau kelainan lainnya. Pemeriksaan pada kelainan saraf biasanya dilakukan dengan cara CT scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak jika tidak ada data gangguan neurologis. Kadang, program cuci hidung juga digalakkan untuk mencegah bakteri dan virus mengendap lama di hidung dan untuk membantu proses transpor pada sistem saraf.

Wisanti mengimbau, jika mempunyai keluhan kurang atau kehilangan indra penciuman disarankan untuk segera berobat agar bisa dilihat penyakit dasarnya. Ia juga menyarankan untuk mulai hidup sehat dengan cara tidak merokok, dan memakai masker saat bepergian untuk menghindari polusi, serta mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A agar terhindar dari gejala anosmia.

“Rokok makin banyak, vape makin banyak, polusi makin banyak, otomatis beban hidung juga makin banyak. Itu kan barang iritasi, asap itu menambah beban untuk reseptor pada hidung sehingga lama-lama proses regeneratifnya berkurang dan kerusakan neuron akan lebih cepat,” pungkasnya.-Heru Yulianto

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Health

Berlindung dari Sengatan Asam Lambung

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Asam lambung yang naik hingga ke kerongkongan akan membuat rongga dada Anda seperti terpanggang. Pola hidup sehat dan relaks, dapat mencegahnya.

 

Lambung adalah organ yang penting bagi pencernaan. Ia bertugas mengumpulkan makanan yang masuk melalui mulut dan kerongkongan (esofagus), dan mencernanya menggunakan cairan atau asam lambung. Asam lambung ini punya fungsi lain, yaitu mencegah infeksi dengan membunuh berbagai jenis kuman yang masuk bersama makanan.

Nah, apa jadinya bila ada yang tidak beres terkait dengan asam lambung ini?

Gangguan lambung umumnya ditandai dengan rasa kembung, mual, rasa ingin muntah, dan nyeri pada bagian ulu hati, serta nyeri perut. Salah satu jenis gangguan lambung adalah GERD.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterohepatologi dr. Suwito Indra menjelaskan pada Majalah Pajak, bahwa GERD atau gastro esophageal reflux disease adalah “penyakit pada kerongkongan yang disebabkan akibat naiknya cairan lambung ke esofagus.”

Baca Juga: Diabetes Mengincar Usia Muda

Ia menambahkan GERD berbeda dengan sakit mag biasa, dapat diketahui dari asal keluhan si penderita. “Bila GERD keluhan bersumber dari kelainan pada esofagus, maka mag keluhan diperkirakan berasal dari lambung.”

Beberapa hal dapat memicu naiknya asam lambung atau GERD ini, mulai dari stres, kegemukan, infeksi, penyakit tertentu seperti diabetes, merokok, alergi atau intoleransi makanan, hingga kelainan anatomi saluran cerna baik di kerongkongan, lambung maupun usus.

Sensasi terbakar

Umumnya, penderita GERD akan mengeluhkan rasa panas atau terbakar di tengah dada. “Biasanya GERD dirasakan sebagai rasa panas atau terbakar di tengah dada, di belakang tulang dada, atau ada juga yang mengeluhkan seperti ada benda yang naik dari ulu hati ke dadanya,” jelasnya.

Kadang, sensasi terbakar tadi masih disertai dengan rasa sesak, tenggorokan terasa mengganjal, kering, pahit, atau rasa asam.

GERD dirasakan sebagai rasa panas di tengah dada, di belakang tulang dada, atau bak benda merayap naik dari ulu hati ke dada.

“GERD diduga dapat juga menyebabkan gangguan di luar saluran cerna seperti asma yang sering kambuh, radang hidung kronis, dan karies gigi,” ujar dr. Suwito.

Baca Juga: Mengenal dan Mencegah Gagal Ginjal

Sementara radang pada esofagus yang terjadi secara kronik atau dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan parut yang membuat esofagus menyempit sehingga orang sulit makan. “Meskipun jarang ditemukan, radang yang kronis berpotensi menimbulkan tumor pada esofagus,” ujarnya.

Jika didiamkan secara berlarut-larut, GERD memang dapat menimbulkan keluhan yang berulang sehingga membuat penderitanya cemas. Tidak jarang, mereka malah memeriksakan diri ke dokter jantung karena khawatir.

Pasien GERD biasanya akan mengalami gangguan tidur karena ia mudah kambuh saat dibawa berbaring. Maklum, pada posisi berbaring, cairan lambung akan lebih mudah untuk mencapai esofagus karena posisi esofagus dan lambung menjadi sejajar.

“Bisa kita bayangkan seperti botol berisi air yang kita rebahkan sehingga airnya akan tumpah keluar. Kejadian paparan cairan lambung ke esofagus tersebut dapat menimbulkan rasa menyesak pada penderita GERD sehingga mengganggu tidur,” jelas dr. Suwito.

Relaks

Dokter akan memberikan pengobatan untuk penderita GERD sesuai dengan pemicunya.

Baca Juga: Mengenal Parkinson dan Terapinya

“Kebanyakan dokter akan memberikan obat untuk mengurangi produksi asam lambung, obat pelapis esofagus dan lambung dan obat yang mempercepat pengosongan lambung bagi penderita GERD. Tetapi penanganan definitif GERD dapat berbeda beda sesuai dengan penyebabnya,” ujarnya.

Oleh karena itu, dr. Suwito menganjurkan untuk mengurangi makanan atau minuman yang dapat mencetuskan keluhan GERD. Makanan pencetus GERD bisa berbeda antara seorang dengan yang lainnya. Akan tetapi, secara umum biasanya pasien dianjurkan menghindari makanan yang banyak lemak, juga menghindari rokok dan minuman beralkohol.

“Di samping itu, seorang penderita GERD dianjurkan untuk melatih pola hidup yang relaks, mengurangi stres, berolah raga teratur, mengatur menu makanan yang baik sesuai dengan kebutuhan dan respons tubuhnya,” pungkasnya.

Lanjut baca

Health

Bahaya dan Penanganan Kanker Usus Besar

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Kanker usus besar tidak menunjukkan gejala dini. Dan ia mempunyai risiko kematian yang tinggi. Bagaimana mencegahnya?

 

Chadwick Boseman, pemeran utama di film Black Panther, meninggal Jumat (28/08) lalu karena kanker usus besar. Kematian yang menggemparkan penggemar tokoh-tokoh Marvel ini mungkin juga mengusik benak Anda: Apa itu kanker usus besar, apa saja gejalanya? Kenapa mematikan?

Menurut WHO, kanker susu besar atau kanker kolorektal adalah penyebab kematian terbanyak kedua di dunia tahun 2018. Tingginya angka kematian ini kemungkinan besar disebabkan oleh deteksi yang terlambat. Selain itu, ia juga menyerang tua-muda meskipun lebih sering terdeteksi pada orang berusia di atas 50 tahun.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, prevalensi kanker di Indonesia tahun 2018 mencapai 1,79 per 1000 penduduk, dengan kanker kolorektal menduduki peringkat keenam sebagai kanker terbanyak, seperti dikutip dari Globocan tahun 2018.

Baca Juga: Pikir-Pikir Risiko Keto

Penyakit ini memang tidak bisa dianggap enteng. Pada 2018 saja tercatat ada 15.245 kasus baru kanker usus besar dengan angka kematian kanker usus besar mencapai 9.207 jiwa.

Usus besar merupakan bagian usus paling akhir dalam sistem pencernaan. Jadi, kanker usus besar adalah kanker atau massa abnormal yang terjadi di sepanjang usus ini. Awalnya, ia muncul sebagai benjolan kecil jinak berupa polip. Tapi seiring waktu, ia bertransformasi menjadi ganas. Jika tidak diobati, kanker ini akan terus tumbuh dan menyebar (metastasis) ke organ sekitarnya termasuk hati, paru, otak, dan tulang.

Gejala

Penyakit ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor. Tapi, pada umumnya kanker ini dimulai saat sel sehat dalam usus mengalami mutasi. Biasanya sel sehat tumbuh dan membelah untuk menjaga tubuh berfungsi normal. Tapi ada kalanya sel rusak itu dapat menjadi kanker. Sel terus membelah dan menumpuk membentuk tumor. Namun di luar itu, penelitian mengenai penyebab pasti munculnya kanker kolorektal masih terus dilakukan. Hanya saja, kita perlu mencatat faktor risikonya lainnya yang meliputi usia lanjut, peradangan usus, mutasi gen, gaya hidup tidak sehat, diabetes, obesitas, dan riwayat keluarga yang mempunyai penyakit kanker usus.

Kanker kolorektal menyerang tua-muda meskipun lebih sering terdeteksi pada orang berusia di atas 50 tahun.

Repotnya, di tahap awal pertumbuhan kanker kolorektal, si penderita tidak akan merasakan gejala apa pun. Gejala umumnya baru muncul saat kanker sudah naik ke tahap lanjut. Dan karena kanker ini dapat menyerang usus besar maupun rektum, gejala pada tiap orang bisa berbeda. Namun, gejala umumnya adalah diare atau sembelit, perut kembung, kram atau sakit perut, perubahan bentuk dan warna tinja, dan buang air besar (BAB) berdarah.

Baca Juga: Mengenal dan Melawan Kelelahan Kerja

Pada stadium lanjut, biasanya pasien mulai mengalami peningkatan gejala, mulai dari kelelahan, BAB tidak tuntas, dan penurunan berat badan secara drastis. Dan apabila kanker usus besar sudah menyebar ke bagian tubuh lainnya, gejala yang ditimbulkan adalah sakit kuning, pandangan kabur, pembengkakan pada lengan, sakit kepala, hingga sesak napas.

Penanganan

Pertama, dokter biasanya akan melakukan kolonoskopi, yaitu tes menggunakan tabung panjang fleksibel yang dilengkapi kamera kecil yang akan mengirimkan gambar dan memperlihatkan kondisi usus. Dari tes ini, dokter akan mengetahui letak dan kondisi pada usus. Kemudian, alat bedah akan dimasukkan untuk mengambil jaringan (biopsi) untuk memastikan apakah tumor itu kanker atau bukan.

Kedua, tes darah. Meski tidak ada tes darah yang secara khusus dapat menunjukkan kanker secara spesifik, tes ini ini dapat mengeliminasi kemungkinan penyakit lain. Dan ketiga, menggunakan X-ray, yaitu dengan memasukkan cairan barium ke dalam usus agar usus lebih terlihat pada gambar X-ray.

Pengobatan yang ditempuh biasanya adalah operasi pengangkatan jaringan kanker pada usus besar. Cara lainnya, kemoterapi, yaitu membunuh sel-sel kanker melalui pemberian obat-obatan dalam beberapa siklus yang diatur oleh dokter onkologi, radioterapi untuk membunuh sel-sel kanker dengan menggunakan sinar radiasi, dan terapi obat.

Nah, melihat beratnya penyakit ini, alangkah baiknya jika kita mencegahnya sejak dini dengan menerapkan pola hidup sehat. Apa saja itu? Mulailah dengan mengurangi konsumsi daging merah, alkohol, dan rokok, dan memperbanyak makan konsumsi serat seperti sayur, buah, dan rutin berolahraga.

Baca Juga: Mengenal dan Mencegah Gagal Ginjal

Lanjut baca

Health

Mengenal dan Melawan Kelelahan Kerja

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. Pribadi

Jangan anggap remeh stres berkepanjangan di tempat kerja. Jika dibiarkan, efek negatif kian berlipat.

 

Lelah dan kehilangan fokus saat bekerja? Mungkin Anda sedang dilanda stres. Stres akibat beban pekerjaan yang menumpuk, lembur setiap malam, tuntutan target perusahaan yang tinggi, sampai bersitegang dengan atasan maupun rekan kerja. Stres karena pekerjaan bukan saja berdampak buruk Anda, tapi juga mengganggu bisnis perusahaan.

Stres kerja adalah kondisi tekanan atau tuntutan pekerjaan yang memengaruhi kondisi fisik dan psikis seseorang. Artinya, stres berpengaruh pada emosi, proses pikir dan perilaku sehari-hari. Menurut dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ(K), beban kerja yang wajar sebenarnya diperlukan untuk kemajuan seseorang. Namun, stres pekerjaan yang tidak dikelola dengan baik bisa berdampak buruk pada kesehatan.

Baca Juga: Situasi Pandemi Tidak Menurunkan Kualitas Kinerja EBA-SP SMF

“Apabila seseorang mendapatkan tekanan, diharapkan dapat berpengaruh ke arah lebih baik, baik emosi, proses pikir, perilaku, sehingga diharapkan individu itu dapat mengembangkan diri dan kariernya,” ungkapnya dalam webinar HR Survival Strategies (part 2) pada Rabu (10/06). Namun, ia menambahkan stres kerja yang dibiarkan terlalu lama, akan menjadi kelelahan, kejenuhan, atau yang lebih sering dikenal sebagai burnout.

Stres kerja biasanya singkat, penyandangnya masih mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja, masih bisa dihadapi dengan semangat tinggi. Sedangkan stres pada kelelahan kerja, berkepanjangan; penyandangnya tidak mampu menyelesaikan masalah.

Lelah kerja

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), burnout (kelelahan kerja) adalah sindrom atau kumpulan gejala, tanda-tanda, baik itu gejala fisik maupun psikis, atau karena kenyataan bahwa seseorang bekerja tetapi tidak memenuhi target atau produktivitas yang seharusnya.

“Contoh, seseorang itu menerima perintah atasan dan dirasakan terus-menerus atau dirasakan terlalu berat bagi dirinya. Maka dia menjadi kelelahan, jenuh, menjadi seperti kehilangan, menjadi tidak produktif dan terjadi penurunan kinerja,” jelasnya.

Lebih lanjut lagi, Danardi membandingkan antara stres kerja dan kelelahan kerja. Stres kerja biasanya berlangsung pendek; penyandangnya masih mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja, masih bisa dihadapi dengan semangat yang tinggi, dan masih dianggap dalam batas wajar. Sedangkan stres pada kelelahan kerja biasanya berkepanjangan. Penyandangnya tidak mampu menyelesaikan masalah, dan kinerjanya terus menurun.

Kelelahan kerja biasanya muncul karena seseorang tidak mampu beradaptasi atau mengendalikan diri dalam menghadapi tantangan kerja. Ia juga bisa timbul dari dinamika tempat kerja yang buruk. Kelelahan kerja juga bisa timbul dari perasaan kurang cocok dengan teman-temannya, atau karena minimnya dukungan sosial dari lingkungannya.

Gejala kelelahan kerja sangat bervariasi; bisa berbeda-beda pada tiap orang.

“Biasanya akan terjadi suatu perubahan perilaku. Individu tersebut jadi malas ke kantor, atau datang terlambat, pulang lebih cepat dari waktu yang seharusnya, kemudian banyak izin, atau membuat banyak surat izin sakit,” ujarnya.

Di tempat kerja pun, penyandang kelelahan kerja terlihat suka menyendiri, malas berkumpul, dan sensitif jika membicarakan pekerjaannya.

Kelelahan kerja bisa juga terlihat dari gejala fisik seperti letih, lesu; mudah sakit otot dan kepala. Ia juga tampak dari emosi yang labil, mudah marah, merasa gagal, ragu dalam bersikap, merasa terjebak dalam pekerjaan yang ia tidak sukai, perasaan sendiri tidak ada yang menolong, motivasi menurun, dan sulit fokus.

Danardi melanjutkan, kelelahan kerja yang dibiarkan dapat berdampak buruk pada produktivitas di tempat kerja.

“Apabila tidak di-manage dengan baik, maka ia akan menunda pekerjaan, melepas tanggung jawab, semakin menutup diri, dan yang paling parah adalah mengonsumsi minuman alkohol serta obat-obatan,” tegasnya.

Baca Juga: Penerapan Kenormalan Baru Jadi Peluang Sektor Parekraf Bangkit Lebih Cepat

Relaks dan syukur

Pria yang pernah menjadi Ketua Tim Dokter Pemeriksa Capres/Cawapres RI pada tahun 2018 itu menjelaskan, setidaknya ada enam cara mengatasi kelelahan kerja.

Pertama, melihat kembali bahwa apakah pilihan tugas sudah sesuai dengan kemampuan. Kedua, mencoba berkomunikasi membuka diri dengan karyawan lain yang lebih lama dan menjauhi provokasi rekan kerja. Ketiga, memanfaatkan waktu istirahat untuk relaksasi. Keempat, tidur dan makan dengan cukup. Kelima, mengambil cuti. Dan keenam, selalu bersyukur.

Di sisi lain, Danardi menyarankan agar perusahaan memberikan masa percobaan dan menggunakan catatan hasil seleksi karyawan untuk secara berkala memonitor kompetensi dan kapasitas karyawan di tempat kerja.

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News11 jam lalu

Mampu Bertahan Hadapi Pandemi, Pegadaian Sabet 3 Penghargaan BUMN Award

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memperoleh tiga penghargaan bergengsi sekaligus dalam acara Bisnis Indonesia Top BUMN Award 2020. Perusahaan...

Breaking News16 jam lalu

Insentif Pajak Selamatkan Wajib Pajak dari Dampak Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Tujuh puluh persen dari 12.800 Wajib Pajak (WP) menilai insentif perpajakan mampu menyelamatkan usaha dari dampak pandemi...

Breaking News1 hari lalu

BUMN ini Buka Lowongan Kerja Bagi Lulusan Diploma

JAKARTA, Majapahpajak.net – Kabar gembira bagi para sarjana muda yang tengah mencari kerja. PT Rajawali Nusindo membuka berbagai lowongan kerja...

Breaking News2 hari lalu

Ini 5 Tren Pekerjaan Usai pandemi, Tenaga Kerja Harus Menyesuaikan Diri

Jakarta, Majalahpajak.net – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus lalu setidaknya terdapat 29,12 juta pekerja terimbas pandemi Covid-229. Sebanyak...

Breaking News5 hari lalu

Mandat diperluas, SMF Sokong Pemulihan Ekonomi Nasional Lebih Optimal

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF terus memperkuat perannya dalam mendukung percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)...

Breaking News7 hari lalu

Memontum Membangun Teknologi Informasi untuk Indonesia Maju

Jakarta, Majalahpajak.net – Di tengah upaya menghadapi dampak Covid-19, Pemerintah melalui APBN 2021 serius mendukung perkembangan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi...

Breaking News1 minggu lalu

Saatnya UMKM “Move On” dari Pandemi

Pemerintah berupaya melakukan percepatan pemulihan ekonomi dengan memberikan insentif di beberapa sektor usaha termasuk bagi pelaku Usaha mikro, kecil, dan...

Breaking News1 minggu lalu

IKPI Beri Masukan DJP Soal Aturan Pelaksanaan UU Cipta Kerja

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menyelenggarakan sosialisasi UU No. 11 Tahun 2020 Tentang...

Breaking News2 minggu lalu

Perda DKI Disahkan, Tidak Menggunakan Masker Didenda Rp 250 Ribu

Jakarta, Majalahpajak.net – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Peraturan Daerah ( Perda) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Covid-19....

Breaking News2 minggu lalu

Merajut Kepedulian, Membangun Kesejahteraan Sosial

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Sosial bersama Forum CSR Kesejahteraan Sosial (Kesos) terus mendorong partisipasi aktif dunia usaha dalam penyelenggaraan tanggung jawab...

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved