Connect with us

Health

Menangani Siksaan Anosmia

Diterbitkan

pada

Foto: Islustrasi

Waspada jika hidung kita tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk menghidu. Bisa jadi bukan sekadar influenza belaka, tetapi ada gangguan serius pada saraf kita.

Azizah membuat masakan favorit suaminya untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Namun, ada yang aneh hari itu. Suami Azizah tidak dapat mencium bau masakan yang dihidangkan untuknya. Setelah diperiksakan ke dokter, ternyata suaminya mengalami flu berat sehingga tidak dapat mencium bau zat dengan maksimal.

Dalam istilah kedokteran, gejala gangguan indra penciuman seperti itu dibagi menjadi dua, yaitu anosmia dan hiposmia. Anosmia berupa kondisi seseorang yang sama sekali tidak bisa mengenal bau. Sedangkan hiposmia adalah berkurangnya sense of smell atau berkurangnya kemampuan untuk mengenali bau. Dua hal itu bisa berlangsung dari ketidakmampuan menghidu beberapa aroma tertentu atau semakin memburuk sehingga terjadi anosmia.

Indra penciuman seseorang terangsang oleh zat tertentu. Awalnya, molekul yang dilepaskan dari suatu zat—seperti aroma dari bunga harus merangsang sel-sel saraf khusus yang disebut sel olfactory atau penciuman yang terdapat di hidung bagian atas. Saraf ini memonitor asupan bauan yang dibawa udara ke dalam sistem pernapasan manusia dan sangat menentukan rasa, aroma dan palatabilitas dari makanan dan minuman. Sel-sel saraf ini kemudian mengirimkan informasi ke otak, yaitu asal bau yang khas dikenali. Apa pun yang mengganggu proses ini, seperti pilek, hidung tersumbat, atau kerusakan pada sel-sel saraf itu sendiri dapat menyebabkan hilangnya indra penciuman.

Dokter spesialis THT Mayapada Hospital Jakarta Selatan Wisanti Zarwin mengungkapkan, saraf olfaktori adalah salah satu saraf tubuh yang dapat beregenerasi, yakni setiap 60 hari mengalami perbaikan. Namun, pada sebagian orang, regenerasi ini terganggu, misalnya karena penyakit saraf, seperti parkinson dan alzheimer, khususnya pada pasien 50 tahun ke atas.

Wisanti mengungkapkan, anosmia bukanlah penyakit, melainkan baru sebuah gejala. “Jadi, kalau ada yang bilang, ‘Saya anosmia’, kita akan tanya penyakitnya apa sehingga menjadi anosmia,” ungkapnya saat ditemui Majalah Pajak di Rumah Sakit Mayapada Jakarta Selatan, pada Selasa (03/03).

Menurut Wisanti, anosmia bisa berbahaya karena ia membuat seseorang tidak dapat mendeteksi kebocoran gas dan asap, sulit untuk membedakan makanan basi, sampai memengaruhi selera makan dan psikis seseorang.

Faktor risiko

Penyebab anosmia dibagi dua. Pertama, masalah pada sistem transpor hidung, Ini berupa inflamasi (peradangan), seperti sinusitis atau flu biasa. Jika menyebabkan bengkak dan terjadi sumbatan di jalan nafas maka aliran udara tidak sampai ke atas atap hidung sehingga mengurangi kemampuan menghirup. Kemudian bisa juga dari kelainan anatomi dari hidung, seperti hidung bengkok atau mempunyai konka (inferior turbinate) yang lebar. Selain itu, alergi juga dapat menimbulkan reaksi radang yang berlebihan. Radang berlebih akan merangsang timbulnya penebalan pada mukosa. Jika mukosa menebal berarti jaringan kecil (silia) pun semakin lama semakin pendek. Maka, kemampuan silia untuk menangkap reseptor untuk rangsangan jadi berkurang.

“Pada orang yang memiliki alergi, walaupun dia tidak tersumbat, hidungnya tidak sempit dan sebagainya, tapi mukosanya tebal itu akan timbul seperti gejala anosmia atau hiposmia,” jelas Wisanti.

Penyebab anosmia yang kedua adalah kelainan pada bagian saraf. Kelainan pada saraf, bisa karena faktor genetis (bawaan sejak lahir) dan nongenetik. Faktor bawaan, misalnya tidak bisa mencium sejak lahir, sementara faktor nongenetis, misalnya cedera otak atau cedera head injury.

Pengobatan

Sebelum melakukan pengobatan, Wisanti menegaskan langkah pertama adalah dengan cara mendiagnosis terjadinya anosmia atau hiposmia, apakah ada masalah di transpor hidung atau masalah di saraf. Setelah itu barulah bisa diambil tindakan medis. Pada masalah transpor hidung, jika ada proses inflamasi radang maka dilakukan pengobatan dasar. Sedangkan kelainan anatomi seperti hidung bengkok, sempit atau polip dan sebagainya akan lakukan treatment basic.

“Nanti akan dilakukan pemeriksaan dulu. Mungkin diangkat, dilakukan rekonstruksi dari hidung sehingga pathway untuk ke arah olfaktorinya lebih lancar. Yang paling terkenal, biasanya juga dilakukan sniffing test untuk pemeriksaan hidung,” jelasnya.

Selain itu, dokter biasanya memberikan tes mencium dengan cara memberikan tes bebauan yang sehari-hari ia kenal seperti bau parfum, kopi maupun aroma bunga. Kalau dia bisa melakukan, berarti dia bisa kembali lagi seperti semula.

Sedangkan untuk kelainan dari saraf, harus dilakukan pemeriksaan intensif, apakah ada tumor, kelainan dari pembuluh darah, atau kelainan lainnya. Pemeriksaan pada kelainan saraf biasanya dilakukan dengan cara CT scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) otak jika tidak ada data gangguan neurologis. Kadang, program cuci hidung juga digalakkan untuk mencegah bakteri dan virus mengendap lama di hidung dan untuk membantu proses transpor pada sistem saraf.

Wisanti mengimbau, jika mempunyai keluhan kurang atau kehilangan indra penciuman disarankan untuk segera berobat agar bisa dilihat penyakit dasarnya. Ia juga menyarankan untuk mulai hidup sehat dengan cara tidak merokok, dan memakai masker saat bepergian untuk menghindari polusi, serta mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A agar terhindar dari gejala anosmia.

“Rokok makin banyak, vape makin banyak, polusi makin banyak, otomatis beban hidung juga makin banyak. Itu kan barang iritasi, asap itu menambah beban untuk reseptor pada hidung sehingga lama-lama proses regeneratifnya berkurang dan kerusakan neuron akan lebih cepat,” pungkasnya.-Heru Yulianto

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Health

Tip Isolasi Mandiri untuk Ibu Hamil

Diterbitkan

pada

Penulis:

Selain untuk menjaga kesehatan ibu hamil dan janin, isolasi mandiri juga dapat menekan penyebaran virus Covid-19.

Indonesia saat ini tengah menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, angka kasus positif di Indonesia bertambah sebanyak 34.379 orang per Rabu (07/07/2021).

Selain itu, Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) mencatat setidaknya ada 536 ibu hamil yang positif terpapar Covid-19 pada periode April 2020 sampai Maret 2021. Dari jumlah itu, 72 persennya telah memasuki usia kehamilan 37 pekan. Oleh karena itu, Kemenkes mengimbau masyarakat menjalankan protokol kesehatan dengan ketat serta tetap di rumah saja.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSUP Persahabatan Yuyun Lisnawati mengungkapkan, sebagaimana populasi lainnya, ibu hamil dapat terinfeksi.

“Akan tetapi, jika terinfeksi Covid-19, maka ada peningkatan risiko yang lebih parah dibandingkan ibu yang tidak hamil pada usia yang sama,” ungkapnya dalam webinar bertajuk “Panduan Isolasi Mandiri pada Ibu Hamil, Anak dan Bayi dengan Covid-19”, Rabu (14/07).

Ia menambahkan, kini hampir sebagian besar rumah sakit sudah terisi penuh dengan pasien Covid-19 yang bergejala sedang hingga berat. Untuk itu, bagi mereka yang terpapar Covid-19 dan tanpa gejala dan bergejala ringan, disarankan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah dalam pengawasan.

“Isolasi mandiri adalah upaya seseorang yang terpapar Covid-19 tanpa gejala atau gejala ringan untuk mencegah penyebaran infeksi dengan melakukan instalasi pada diri sendiri,” jelasnya.

Syarat isolasi

Dokter Yuyun menjelaskan, isolasi mandiri sangat penting dilakukan khususnya bagi ibu hamil yang terpapar Covid-19. Sebab, satu orang yang positif terpapar virus berpotensi menularkannya kepada 3–5 orang, bahkan hingga 6–8 orang pada varian baru.

Ia melanjutkan, isolasi mandiri pada ibu hamil harus memenuhi beberapa syarat. Syarat itu antara lain dokter menyatakan bahwa ibu hamil dapat isolasi mandiri; mampu memantau diri sendiri; rumah memungkinkan untuk isolasi; usia kehamilan kurang dari 37 pekan; tidak memiliki komorbid seperti hipertensi, DM, obesitas, autoimun, jantung atau penyakit paru; serta terdapat akses pemantauan.

“Jadi, kalau ibu hamil yang terpapar Covid-19 dan akan melakukan isoman (isolasi mandiri), saat ini diimbau untuk melapor kepada Pak RT, dan biasanya di lingkungan RT itu nanti akan berhubungan langsung dengan petugas dari faskes tingkat satu,” jelasnya.

Selain itu, syarat lokasi isolasi mandiri bagi ibu hamil meliputi rumah atau kamar tidur memiliki ventilasi yang baik, ada kamar atau ruang terpisah dari anggota keluarga lain, lingkungan mendukung, tidak serumah atau satu lokasi dengan kelompok risiko tinggi (seperti bayi, lansia, keluarga dengan imun rendah, dan komorbid).

Sedangkan dari sisi persiapan, sebaiknya ibu hamil menempati kamar yang terpisah dengan anggota keluarga yang negatif, menyiapkan alat makan tersendiri, akan lebih baik jika kamar mandinya terpisah.

“Jika tidak bisa terpisah, maka usahakan ibu hamil yang positif itu menggunakan kamar mandinya sesudah anggota keluarga yang sehat sudah menggunakan, kemudian harus dibersihkan setiap hari,” ujarnya.

Selanjutnya adalah menyiapkan termometer dan pengukur kadar oksigen (oximeter), dan menjalankan protokol kesehatan secara ketat di rumah.

Tetap 3M

Selama isolasi, ibu hamil dianjurkan tetap melakukan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak); menerapkan etika batuk; berjemur di bawah sinar matahari 15–20 menit; makan makanan begizi dan minum cukup; istirahat yang cukup setidaknya 6–8 jam; mengonsumsi suplemen mengandung besi, asam folat, vitamin D, kalsium; olahraga ringan; konsultasi ibu dan kehamilan (telemedisin); serta mengisi catatan harian.

“Ibu hamil juga perlu meningkatkan ibadah, berpikir positif, jangan stres. Bagi ibu hamil yang bekerja mungkin capek. Ambil manfaat isoman ini sebagai me time. Lakukan sesuatu yang menyenangkan, seperti mendengarkan musik, yoga, atau membaca buku,” imbuhnya.

Sebaliknya, bagi ibu hamil tidak dianjurkan untuk pergi keluar rumah, seperti bekerja, sekolah, ataupun ke ruang publik lainnya. Lalu, tidak diperkenankan menggunakan transportasi publik, keluar rumah membeli makanan, dan menerima tamu termasuk keluarga atau sahabat. “Boleh keluar rumah jika memang membutuhkan pemeriksaan medis atau untuk suatu keperluan yang darurat,” katanya.

Durasi isolasi mandiri bagi ibu hamil sebaiknya mengikuti petunjuk tenaga kesehatan. Namun, dokter Yuyun menerangkan, pasien tanpa gejala atau OTG, sebaiknya melakukan isolasi mandiri 10 hari sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi. Sedangkan, pasien dengan gejala ringan, 10 hari sejak munculnya gejala ditambah dengan 3 hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan. “Jika gejala masih dirasakan maka isolasi diperpanjang,” terangnya.

Ia juga mengingatkan ibu hamil disarankan untuk ke rumah sakit bila mengalami salah satu tanda atau beberapa tanda seperti memiliki gejala bertambah berat, sesak napas lebih dari 24 kali permenit, saturasi oksigen kurang dari 95 persen, gerak janin lemah, dan muncul tanda bahaya kehamilan.

Tanda bahaya pada ibu hamil antara lain gerakan janin kurang, muntah terus-terusan, air ketuban yang tiba-tiba keluar, atau perdarahan pada plasenta.

Lanjut baca

Advertorial

Taat Membawa Berkat

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Ron…

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Rony Imanuel ini di acara Spectaxcular 2021 bertema “Pajak untuk Vaksin”, Senin (22/03). Mongol ikut mengingatkan pentingnya disiplin diri […]

The post Taat Membawa Berkat appeared first on Majalah Pajak.

Lanjut baca

Health

Memutus Mata Rantai Talasemia

Diterbitkan

pada

Penulis:

Talasemia belum dapat disembuhkan, tapi ia bisa dicegah dan dideteksi secara dini. Bagaimana memutus mata rantainya?

World Thalassemia Day atau Hari Talasemia Sedunia diperingati tiap 8 Mei. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang talasemia dan membantu pasien menjalani hidup normal meski menyandang sakit. Secara global, peringatan Hari Talasemia Sedunia mengambil tema “Adressing Health Inequalities Across the Global Thalassemia Community” atau mengatasi kesenjangan pada komunitas talasemia global. Sedangkan tema nasional, Kementerian Kesehatan mencanangkan “Zero Kelahiran Talasemia Mayor”. Lantas apakah itu talasemia?

Konsulen Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sri Mulatsih menjelaskan, talasemia merupakan kelainan darah merah yang diturunkan dari orangtua.

“Dengan adanya penyakit ini maka akibatnya hb (hemoglobin)-nya akan turun, sel darah merahnya akan sedikit sehingga tampak pucat, kemudian ada gangguan akibat gangguan protein,” ungkapnya dalam webinar Peringatan Hari Talasemia Sedunia Tahun 2021 Zero Kelahiran Talasemia Mayor, Sabtu (08/05).

Ia menambahkan, permasalahan talasemia di Indonesia terbilang sangat besar yang dipengaruhi beberapa faktor seperti populasinya yang besar (penduduk terpadat keempat dunia), kondisi geografis (banyak pulau), prevalensi talasemia terus meningkat, dan tingginya biaya pengobatan talasemia.

“Saya mengambil data di YTI (Yayasan Thalassaemia Indonesia) pusat, sampai 2019, ada 10.000 sekian pasien talasemia. Jadi, luar biasa peningkatannya. Untuk pembiayaan, pemerintah menyubsidi penyandang talasemia menduduki pembiayaan lima tertinggi di indonesia,” tambahnya.

Kondisi fisik

Penderita talasemia biasanya memiliki kualitas darah tidak baik karena rantai globinnya atau proteinnya tidak terbentuk dan tidak lentur sehingga mudah rusak ketika mengalir ke pembuluh darah. Ini membuat pasien talasemia terlihat pucat meskipun tidak terjadi pendarahan, juga terjadi pembesaran di sekitar wajah.

“Kenapa wajah penyandang talasemia itu hampir sama? Tubuhnya sangat keberatan oleh karena darah merahnya sudah rusak, sehingga terjadi pembesaran tulang pipi, pelebaran tulang hidung, terjadi pembesaran tulang rahang, tulang di dahi,” jelasnya.

Talasemia biasanya ditandai dengan terjadinya anemia berat, pertumbuhan terganggu, kelebihan zat besi, dan terjadi kelainan jantung serta endokrin. “Akibat talasemia yang berat ini, maka akan bisa mengurangi harapan hidup penyandang talasemia. Kalau sudah masa remaja, gangguan psikologinya luar biasa,” ujarnya.

Dokter Sri Mulatsih mengungkap, derajat keparahan talasemia dibagi menjadi tiga yaitu ringan, sedang, dan berat. Pada talasemia berat, pasien biasanya membutuhkan transfusi darah paling tidak satu bulan sekali. Kemudian, supaya zat besinya tidak menumpuk di tubuh, mereka harus diberi obat untuk menetralisasi zat besi tubuh berupa asam folat dan vitamin E. Selain itu, penderita talasemia tidak boleh mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi agar tetap stabil, yang kesemuanya itu dilakukan seumur hidup.

“Penderita talasemia sebaiknya menghindari makanan kaya zat besi, seperti bayam, daging sapi, babi, domba, hati dan kacang kering,” ungkapnya.

Hingga saat ini, talasemia belum bisa disembuhkan. Namun, bisa dicegah dan dideteksi secara dini. Dokter Sri Mulatsih melanjutkan yang paling penting adalah memutus mata rantai talasemia berat.

“Yang paling penting adalah pencegahan praktis dan bisa dilakukan. Program pencegahannya adalah screening yang membawa sifat, kemudian public awareness, kemudian diagnosis prekelahiran,” ujarnya.

Dokter Sri menegaskan bahwa talasemia hanya disebabkan oleh perkawinan dan pembuahan antara laki-laki pembawa sifat (talasemia minor) dengan perempuan pembawa sifat. Oleh karena itu, pencegahan yang dapat dilakukan adalah mencegah pernikahan risiko tinggi, mencegah pernikahan antarpembawa sifat, dan melakukan prenatal diagnosis atau teknik untuk mendiagnosis kondisi janin yang belum lahir.

Lanjut baca

Populer