Connect with us

Recollection

Membumikan Pajak tanpa Teriak

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

 

Lewat tulisan, ia ingin menyampaikan kepada masyarakat, betapa pentingnya peran pajak—tanpa harus marah, apalagi berteriak.

Sekitar pukul 18:00 WIB, Johana Lanjar Wibowo sudah berada di dalam kereta Commuter Line menuju kediamannya di kawasan Depok. Nyaris setiap hari, Fungsional Pemeriksa Pajak Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Lima itu selalu menggunakan Moda transportasi umum untuk menuju kantornya yang terletak di kawasan Kalibata, Jakarta.

Jo—sapaan hangat Johana Lanjar Wibowo—mengaku begitu menikmati suasana padatnya kereta. Baginya, momen hiruk-pikuk suasana kereta merupakan sumber inspirasi untuk tulisannya.

“Saya melihat antusiasnya masyarakat naik kereta jadi mau teriak, ‘Ini (fasilitas) yang kalian gunakan dari uang pajak, Koh!’” seloroh Jo gemas. Maklum, sebagai pegawai pajak, agaknya pola pikir Jo memang tak bisa jauh dari urusan penerimaan pajak. Apalagi, tingkat kepatuhan pajak di Indonesia tergolong masih rendah. Fakta itulah yang membuat Jo acap kali gelisah dan berusaha menganalisis yang menjadi penyebab rendahnya kepatuhan Wajib pajak di Indonesia.

Namun, Jo tak ingin membumikan kesadaran pajak dengan berteriak. Ia memilih medium yang lebih sepi, tetapi memiliki kekuatan tak bertepi, yakni tulisan. Hasil telaah itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah tulisan yang ia bukukan. Buku pertamanya yang ia publikasikan berjudul KWSP Otimalkan Penerimaan Pajak.

Dalam buku itu, ia menyebut, faktor utama yang memengaruhi kepatuhan pajak adalah ketersediaan data yang memadai. Upaya yang sudah dilakukan Direktorat Jenderal Pajak untuk menghimpun data pun beragam. Mulai dari Pendaftaran Wajib Pajak Masal (PWPM), sunset policy, Sensus Pajak Nasional (SPN), amnesti pajak, dan Konfirmasi Status Wajib Pajak (KWSP).

Dalam tulisannya, Jo berpendapat bahwa KWSP merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kepatuhan, lantaran juga dilakukan oleh instansi lainnya. Misalnya Kemendagri menerbitkan Permendagri Nomor 223 Tahun 2016 Tentang KSWP dalam pemberian Layanan Publik Tertentu di Lingkungan Pemerintah Daerah.

Dengan adanya regulasi itu, pemerintah daerah diwajibkan melakukan prosedur KWSP sebelum memberikan layanan publik, seperti izin usaha perdagangan, izin mendirikan bangunan, dan lain-lain.

“Saya tidak men-judge Wajib Pajak, melainkan menonjolkan upaya pemerintah yang selama ini sudah dilakukan.”

“Saya ingin menjelaskan tentang pajak dengan edukatif kepada masyarakat, dan tidak menakut-nakuti, atau berteriak—marah-marah. Saya tidak men-judge Wajib Pajak, melainkan menonjolkan upaya pemerintah yang selama ini sudah dilakukan,” tutur Jo di ruang kerjanya akhir Desember 2017 lalu.

Rupanya padatnya rutinitas pekerjaan tak menyurutkan semangat dan produktivitasnya dalam menulis. Bagi pria yang mengawali karier sebagai pelaksana di KPP Pratama Jakarta Gambir Tiga tahun 2011 hingga 2013 itu, tantangan pekerjaan justru menjadi inspirasi tersendiri.

Misalnya, ketika sedang letih melayani Wajib Pajak menjelang periode akhir program Pengampunan Pajak tahun 2016 lalu. Alih-alih kehilangan semangat karena letih, Jo yang sering berada di kantor hingga pukul 04:00 WIB pagi itu justru kian bersemangat menuliskan pengalamannya melayani Wajib Pajak hingga menjelang pagi. Jo merasakan betapa antusiasnya Wajib Pajak mengikuti program itu hingga pukul 12:00 WIB malam. Hasil interaksinya dengan Wajib Pajak itu salah satunya menjadi tulisan berjudul “Pasca Tax Amnesty, Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dimuat di media massa. Tulisan-tulisan Jo, sebagian ia kirimkan ke media internal kantor. Seperti pajak.co.id, Majalah Keuangan, juga Majalah Pajak. Di website milik pribadinya (johanalanjar.id) Jo rutin mem-posting gagasannya.

Diajak duet penulis idola

Selain menulis, membaca adalah aktivitas yang tak bisa terpisahkan bagi Jo. Kegemarannya membaca buku inilah yang membawanya pada kesempatan tak terduga. Pada pertengahan tahun 2016 tepatnya, ia berkenalan dengan pegawai pajak Kanwil DJP Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Erikson Wijaya yang menjadi penulis buku 1001 Hal Tentang Pajak. Melalui surat elektronik dan WhatsApp, Jo dan penulis idolanya itu pun saling bertukar pikiran.

Diskusi berujung pada ajakan Erikson untuk duet menulis buku. Temanya, tentu soal pajak. Merasa tertantang, Jo mantap menerima ajakan itu. Tepatnya, pada Desember 2016, proses pengerjaan buku itu di mulai.

Sejak saat itu, Jo mencoba mencari formulasi menulis isu-isu terkini soal perpajakan dengan penjabaran yang lebih sederhana agar mudah dipahami pembaca. Hingga kemudian memutuskan untuk menulis tentang Asset Tracing (penelusuran harta) dalam rangka pemeriksaan pajak. Jo mencoba menyederhanakan regulasi dengan realitas yang ada di lapangan.

Enam bulan berselang, bersama Erikson Wijaya, Jo membukukan beberapa tulisannya, yakni “Perlakukan Fiskal Atas Biaya Catu Beras Pada Perusahaan Kelapa Sawit”; “Bendahara Pemerintah: ‘Saka Guru’ APBN”; “Pre-Populated SPT–Sarana Pengawasan Pemberi Kerja”; dan masih banyak lagi. Dan tepat pada Juni 2017, buku setebal 252 halaman berjudul Isu–Isu Kontemporer Perpajakan terbit. Ia persembahkan buku ini untuk sang istri, Dinar Gusti Mahardika, dan kedua anaknya.

Sambutan dari berbagai kalangan pun berdatangan. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti mengungkapkan, bak pepatah tak kenal maka tak sayang, buku itu mencoba untuk memperlihatkan sisi lain dari sosok yang ditakutkan, yaitu pajak.

Tak kalah mengejutkan bagi Jo, Kepala KPP PMA Lima, Ana, mengapresiasi karyanya dengan membeli seribu buku dan dibagikan ke KPP di lingkungan Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus dan Wajib Pajak Besar.

“Saya sangat bangga pegawai mampu mengembangkan diri. Apalagi membuahkan karya,” kata Ana.

Bagi Jo, yang terpenting ia dapat menjadi kepanjangan tangan dari instansinya dalam mengedukasi masyarakat.

“Ini tugas saya menjadi abdi negara, sekaligus menyalurkan hobi. Saya ingin membumikan pajak,” ucap relawan Kemenkeu Mengajar ini.

Ingin jadi wartawan

Ketertarikan Jo pada membaca sesungguhnya sudah ada sejak kecil. Sejak sekolah dasar, pria kelahiran Demak, 23 Januari 1988 ini rajin membeli surat kabar Suara Merdeka, dan tabloid Yunior. Selain itu, ia juga rajin membaca buku-buku fiksi kumpulan cerita pendek. Menurutnya, membaca lebih mengasyikkan daripada bermain selayaknya anak kebanyakan. Sesekali ia mencoba mengarang puisi, tapi tak begitu seserius membaca.

“Lupa karena cuma corat-coret,” ucap Jo, mencoba mengingat saat Majalah Pajak memintanya membacakan salah satu puisi gubahannya.

Putra pertama dari pasangan Suwarno dan Sri Warsini ini juga suka sekali menonton acara berita. Ia terkesan dengan para wartawan yang gagah melaporkan peristiwa. “Sejak itu cita-cita saya jadi wartawan,” kenangnya tertawa.

Namun, ambisi kecilnya itu perlahan sirna ketika ia mulai jatuh cinta dengan matematika. Menurut Jo, matematika sangat menantang. Sejak itu ia mulai menggeser orientasi membacanya, dari dunia jurnalistik ke dunia sains matematika. Kala itu, ia persiapkan dirinya untuk ikut perlombaan olimpiade Matematika tingkat Sekolah Dasar Demak. Hampir setiap hari ia bergulat dengan rumus-rumus matematika, hingga tak sempat lagi membaca yang lain. Hasilnya, Jo kecil meraih peringkat pertama pada olimpiade itu.

Kedua orangtuanya, yang notabene adalah pengajar, berperan banyak mengantarkan Jo pada kegemilangan prestasi akademik. Di tingkat sekolah menengah pertama, ia pun meraih nilai sepuluh Ujian Nasional Matematika dan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi se-Kabupaten Demak tahun 2003.

Menapaki jenjang sekolah menengah atas, Jo kembali menantang dirinya untuk merantau ke kota Semarang. Alasannya sederhana: ia ingin punya lebih banyak teman antardaerah. Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Semarang menjadi pilihannya.

“Saya suka tantangan. Sekolah di daerah orang mengajarkan untuk disiplin waktu dan dapat mudah beradaptasi. Apalagi SMAN 3 Semarang sekolah favorit, sekolahnya Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati,” kata penerima sertifikat Certified of Hypnotist dari ibhcenter.org ini.

Jiwa kompetisi semakin mendarah daging pada diri Jo. Meskipun perjalanan jauh antardaerah ia tempuh, ia selalu rajin dan disiplin belajar. Hal itulah yang akhirnya mengantarkannya kembali menjadi juara pertama Lomba Komputer Matematika se-Jawa Tengah tahun 2006 di tingkat Sekolah Menengah Atas dan sederajat.

Prestasi itu sempat membuat Jo berbesar kepala. Ia merasa yakin betul menerima tantangan sang paman, Sridana Paminto, untuk dapat masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). “Durung pinter, yen durung ketampa STAN (Belum pandai, jika belum diterima STAN),” ucap Jo menirukan tantangan sang paman kala itu.

Namun takdir berkata lain. Saat itu Jo tak lolos dan memutuskan kuliah di Universitas Gadjah Mada. Di tahun berikutnya,ia membuktikan tantangan sang Paman, ia kukeuh mengikuti tes ujian masuk STAN dan diterima di program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi Pemerintahan.

Saat menjadi mahasiswa, ia memulai menulis narasi harian di log pribadinya. Sesekali di sana ia mencurahkan kritiknya mengenai politik mahasiswa di kampus. Kini, fragmen perjalanan hidupan Jo membawanya kembali jatuh cinta pada dunia literasi. Ia seperti menemui titik baliknya kembali. Bahkan kini ia memprogram dirinya untuk bisa membaca satu buku, satu bulan.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Dasar Akuntansi di Era Industri 4.0 | Majalah Pajak

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Recollection

Gelombang Nikmat si ‘Nyawa Rangkap’

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Auditor sekaligus novelis ini memilih jalan bahagia untuk menjalani masa isolasi Covid-19. Di ruang sunyi nan beku itu ia hidup kembali dan mengukir kisahnya dalam sebuah buku.

 

Ruang senyap itu terasa lebih menyekap saat malam datang. Sekujur tubuh kaku bak berada di kulkas raksasa berdinding bata. Kerap kali ia menyelingkup di balik selimut agar jemarinya lebih luwes menulis status Facebook (FB).

“Dinginnya tidak manusiawi, tetapi kulkaswi.” Demikian Dedhi Suharto mengenang sekelumit dari tiga pekan masa isolasinya di Ruang 105 Kaca Piring, Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG), Cisarua, Bogor. Pria yang menjabat sebagai Auditor Madya Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan ini dinyatakan positif Covid-19 pada 6 Agustus 2020.

Namun, yang perlu digarisbawahi perawatan setiap pasien korona berbeda-beda, tergantung penyakit yang diderita. Kebetulan, Dedhi terdiagnosis hipoksia atau kurangnya oksigen dalam sel dan jaringan tubuh. Ia merasakan lemas saja saat itu. Untuk gejala hipoksia pasien perlu berada dalam ruang inap bertekanan negatif sebagai salah satu upaya penyembuhan.

“Saya mengalami hipoksia sampai drop 64 persen, bahkan pernah juga 55,8 persen. Menurut teorinya saya sudah mati. Jadi, saya ini orang yang hidup kembali. Untuk kasus yang seberat itu treatment-nya begitu. Jadi, kamar yang saya bilang kulkaswi ini diatur dengan tekanan negatif agar dapat menyerap infeksi,” ungkap Dedhi kepada Majalah Pajak, pada Rabu Petang (21/9).

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Ia menjelaskan, hipoksia terjadi bila kadar oksigen dalam arteri di bawah 90 persen, sementara ambang batas aman terbawah di angka 65 persen. Penjelasan ini ia dapat dari sahabatnya yang dokter.

“Namun, beberapa rekan hipoksia di angka 80-an sudah ada yang meninggal. Di Banyumas ada tiga orang yang meninggal ketika hipoksia pada angka 75 persen. Saya alami 55,8 persen tetapi masih bisa bertahan hidup itu sebuah keajaiban. Di Near Death Experience Sharing 30 Agustus saya disebut memiliki nyawa rangkap dua oleh host-nya.”

Pilih bahagia

Awalnya, tentu tidak mudah bagi Dedhi menerima takdir. Rasa khawatir, kecewa, dingin dan sunyinya ruang isolasi bercampur jadi satu. Kepiluan semakin bertambah tatkala istri dan anaknya juga dinyatakan positif Covid-19. Syukurnya, mereka hanya menjalani isolasi di rumah karantina yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor di kawasan Kemang. Hingga Dedhi tersadar, ia harus bahagia serta tetap bersyukur dalam menghadapi segala ketetapan ilahi.

“Tidak mudah menerima karena saya merasa saya sudah waspada Covid-19. Segala protokol kesehatan sudah dijalankan. Ketika saya masuk RSPG Cisarua saya sudah mulai menulis tiga paragraf berisi kabar dan doa ke grup-grup (WhatsApp). Buat saya penting agar semangat dan meningkatkan imunitas. Tulisan pertama kali itu berjudul Syukur atas syukur.” Sepenggal isinya, “dan sekarang aku menerima penuh syukur isolasi yang kujalani. Barusan ahli paru, opek, sahabatku yang kerja di RS Paru Cisarua bilang, ‘harusnya kamu kena sejak sebulan lalu, Dedh. Tapi ok, lawan.’”

Gubahan itu ternyata menjadi bahan bakar semangatnya dalam menjalani isolasi dengan bahagia di hari-hari berikutnya. Ia bertekad, menuliskan semua proses penyembuhannya. Toh, memang menulis adalah separuh napasnya. Dedhi sudah menelurkan tujuh buku, empat di antaranya adalah novel, yang antara lain berjudul Allah itu Dekat dan Pusaran Tawaf Cinta.

Baca Juga: Kesadaran Masyarakat Membuat Angka Kasus Baru Covid-19 Kian Turun

“Di ruangan isolasi saya harus menghadapi manajemen stres yang luar biasa. Pokoknya saya enggak boleh sedih. Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih hati bahagia dalam menghadapi Covid-19.”

Hari isolasi berikutnya rasa bahagia semakin membuncah. Nikmat ini dilukiskan dalam gawainya berupa coretan berjudul Hati yang Bahagia. Isinya tentang pengalamannya sekamar dengan dua pasien lain di ruang 205 Kaca Piring— ruang sebelum dimasukkan ke kamar superdingin. Salah satu dari mereka mengalami batuk yang cukup kronis.

Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih untuk bahagia.

“Kalau berpegang pada Pak Musthopa bahwa kedua paru-paruku sudah dipenuhi kuman-kuman, ya, wajar kalau aku ditempatkan dengan dua pasien yang benar-benar secara fisik tampak sebagai penyandang penyakit paru-paru karena mereka satunya sering batuk dan satunya sering berdahak. Sedangkan aku tidak. Terus terang aku agak galau,” tulis Dedhi yang kemudian dibagikan ke akun FB-nya.

Syahdan, ia ditempatkan seorang diri di kamar 105 kaca piring. Ia tetap istikamah. Dedhi curahkankan semua rasa dan pengalaman itu lewat frasa. Bahkan satu hari Dedhi mampu menulis empat sampai tujuh tema dalam dinding media sosialnya. Beberapa sajak juga ia ciptakan di balik selimutnya, di antaranya adalah puisi berjudul “Jiwa Merdeka”.

Singkat kisah, di hari ke-20 masa isolasi atau tepat tanggal 23 Agustus 2020, kondisinya semakin membaik. Ia sudah bisa tidur nyenyak lima sampai enam jam per hari. Saking lelapnya, ia mendapat bunga mimpi berjumpa dengan atasannya Rina Robiati dan rekan kerjanya Suharso di kantornya. Sekitar tengah malam ia terbangun dan menuliskan mimpinya itu ke media sosial. Ya, segala kondisi yang dirasakan ia bagikan ke khalayak. Beberapa tema tulisan lainnya meliputi kenikmatan makanan, kenikmatan doa, kenikmatan sastra, dan sebagainya.

Unggahannya dibanjiri respons dari para sahabatnya. Ada yang mendoakan, bertanya kondisi, hingga beberapa menyarankan Dedhi untuk menulis novel.

“Saat saya posting di FB, semua mengusulkan untuk menulis novel lagi tentang kondisi saya. Padahal lagi sakit, tapi itu yang menyemangati saya. Kena Covid-19 berat ini saya belum tahu akan happy ending atau meninggal. Kalau saya sembuh saya akan menulis buku.”

Gelombang nikmat

Tepat pada 24 Agustus 2020, Dedhi diperbolehkan pulang ke rumah setelah dua kali hasil uji usapnya (swab) negatif. Akan tetapi, dokter menyarankannya untuk melakukan karantina mandiri karena kasus Dedhi terbilang berat.

“Bayangkan saya sudah lama isolasi di rumah sakit, sekarang disuruh karantina mandiri lagi, ya sudah saya manfaatkan untuk menulis buku. Ketika saya sembuh, saya seperti ada tanggung jawab moral untuk menulis buku.”

Hari pertama di rumah ia langsung mengumpulkan tulisannya di FB. Dedhi juga menghubungi dokter untuk dimintai penjelasan mengenai penyakitnya secara komprehensif. Menariknya, Dedhi menulis subjudul untuk perawat dan juru masak di RSPG Cisarua. Judulnya: Para Profesional Mulia dan Jiwa Penuh Kebajikan.

Baca Juga: Ini Kebiasaan Baru Masyarakat di Masa Pandemi

“Saya ingin mengangkat pembahasan jiwa kebajikan dari para juru masak yang sudah menghidangkan makanan maknyus sampai membuat saya menangis. Padahal, saya tidak gampang menangis. Makanannya sederhana: nasi, ayam goreng, sayur bening, susu kedelai, tapi terasa lezat di lidah saya.”

Selama 14 hari di rumah Dedhi mampu merampungkan novel berjudul Gelombang Cinta dan Nikmat Sang Penyintas Badai Covid 19. Penulis Qur’anic Intelligence Quotient ini meyakini bahwa segala ketetapan ilahi adalah hamparan karunia tiada batas. Nyaris 400 novel ini ludes dalam jangka waktu kurang dari dua pekan. “Suatu keajaiban,” sebutnya.

Perpustakaan sekolah

Kegemarannya pada menulis barangkali bermula ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Keputran V Pekalongan. Saat jam istirahat, Dedhi cilik memilih pergi ke perpustakaan sekolah lantaran uang saku yang kurang atau terkadang tidak ada. Dari situ ia mulai mengenal pelbagai buku sastra, khususnya sajak. Minat bacanya semakin menggebu ketika ayahnya langganan surat kabar Suara Merdeka. Di waktu senggang, pria kelahiran Pekalongan, 10 Agustus 2020 ini pun kerap mengunjungi perpustakaan penyewa buku yang tak jauh dari rumahnya.

“Meskipun saya dilahirkan dalam kondisi yang kurang berada dan di rumah enggak ada budaya baca tapi kami suka mengikuti informasi. Ibu saya suka mendengarkan radio dan bapak baca koran,” kenangnya.

Fase gemar membacanya berlanjut pada hobi menulis. Di lingkungan sekolah, Dedhi sudah tersohor sebagai penulis cilik. Hingga suatu hari, kawannya berkata, “Tulisanmu mirip dengan buku Lima Sekawan.

Dedhi yang sebelumnya tak mengetahui buku karya Enid Blyton itu pun langsung meminjamnya. “Karena tulisan saya tentang petualangan mungkin seperti mirip dan begitu baca Lima Sekawan saya jadi semakin cinta dengan membaca,” kata Dedhi.

Beranjak SMP ia mulai menulis kolom “BOM/bursa orang muda” di surat kabar Wawasan yang terbit saban sore di Semarang. Tulisan Dedhi dimuat setidaknya dua kali dalam sebulan.

“Tulisan itu semacam opini apa saja. Saya makin mulai percaya diri menulis saat tulisan saya dimuat di kolom itu. Tulisan yang dimuat mendapat honor,” kenangnya lagi.

Kepiawaiannya dalam menjahit narasi membuatnya terpilih menjadi Pimpinan Umum majalah internal Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pekalongan. Ia mengelola Majalah Citra bersama rekan redaksi lainnya. Kegiatan senada berlanjut hingga bangku universitas. Di PKN STAN ia masuk dalam unit kegiatan pers mahasiswa dan bercita-cita menerbitkan satu buku selama hidup. Harapannya terkabul.

Baca Juga: DBS dan Tanijoy Kampanyekan Gaya Hidup “Zero Food Waste” untuk Atasi Perubahan Iklim

“Menulis adalah bagian dari sejarah hidup saya. Satu kalimat yang mewakili hobi saya ini adalah kebahagiaan. Ya, menulis adalah kebahagiaan,” tutup Ketua Umum Senat Mahasiswa STAN (1996–1997) ini.

 

Lanjut baca

Recollection

Komunikasi, Kunci Mencapai Tujuan

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Dendi Amrin/Foto: Rivan Fazry

Ia membuktikan keterampilan berkomunikasi berperan vital dalam eksekusi suatu aturan dan kebijakan.

 

Wajah Dendi Amrin barangkali sudah tak asing lagi di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Pada masanya, ia merupakan pemandu acara atau master of ceremony (MC) di pelbagai acara Kantor Pusat DJP maupun Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Di era pandemi ini ia kembali eksis sebagai pemateri pelatihan daring bertajuk strategi komunikasi yang dihelat di unit vertikal Kemenkeu. Selasa (25/8) itu, misalnya, Kepala Seksi Pemeriksaan Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Lima ini mengikuti webinar di Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan.

“Saya ingin agar internal (Kemenkeu) kuat kemampuan komunikasinya. Karena bagaimanapun juga kalau komunikasinya enggak bagus, tujuan intinya tidak akan tercapai. Komunikasi itu bukan sekadar pengantar pesan tapi juga penentu keberhasilan kebijakan,” tutur pria yang hangat disapa Dadendi ini kepada Majalah Pajak.

Ia ingin menghapus stigma menyeramkan pada fiskus. Maka, menurutnya, selain berintegritas, fiskus mesti mampu melayani dan mengedukasi masyarakat lewat tutur yang tepat. Itulah yang membuatnya mantap menekuni ilmu komunikasi dan membaginya kepada sesama.

“Saya ingin DJP, walau kuat di core business-nya—pengawasan dan pemeriksaan—komunikasinya juga harus bagus. Kita, kan, kuat banget di auditing, atau hard skill perpajakan, tapi kita jarang mendapatkan ilmu komunikasi yang aplikatif. Kita hanya dapat dari diklat yang terbatas.”

Baca Juga: Fisik Sehat, Kerja Semangat

Ilmu komunikasi memiliki banyak cabang, tetapi yang jamak dipelajari adalah public speaking, negosiasi, dan interpersonal atau cara berkomunikasi one on one—contoh fiskus dengan Wajib Pajak (WP), atasan dengan bawahan. Tiga cabang komunikasi inilah yang seyogianya dikuasai oleh fiskus.

“Tanpa kemampuan dan strategi komunikasi yang tepat, kebijakan atau aturan akan sulit diterapkan. Bagi AR (account representative), bagaimana menggali potensi pajak, kuncinya kemampuan komunikasi yang di atas rata-rata. Karena tugas kita meyakinkan Wajib Pajak supaya memenuhi kewajibannya, bahkan sekarang bagaimana menumbuhkan kepatuhan sukarela,” katanya.

Dadendi lantas mengutip laporan dari National Association of Colleges and Employers Amerika Serikat yang mengungkap bahwa keterampilan komunikasi menempati urutan pertama dalam syarat penerimaan pegawai—indeks prestasi ada di syarat ke-17.

Mengenal karakter

Interpersonal skill memerlukan pemahaman karakter seseorang sehingga mampu menerima keunikan lawan bicara.

“Kalau kita sudah kenal diri sendiri, kita akan bisa self control—tidak memaksakan kehendak, bahkan kita bisa meningkatkan emotional intelligence. Proses memahami menerima perbedaan karakter memudahkan kita berkomunikasi dengan baik,” ucapnya.

Trik mengenal diri sendiri secara mudah yakni dengan memilih karakter warna—tapi bukan warna kesukaan. Warna yang Dadendi maksud adalah manifestasi dari aneka karakter manusia. Teori ini populer dengan sebutan DISC, akronim dari dominance (dominan), influence (berpengaruh), steadiness (stabil), dan compliance (patuh). Biru diartikan sebagai orang yang dominan atau suka berkuasa; warna merah berarti mudah bergaul dan terbuka; kuning berarti konsisten atau pendiam; dan hijau, pemikir.

“Setelah memahami personality, kita akan tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan empat kelompok warna itu. Ingat, komunikasi bukan hanya pengantar pesan, tetapi strategi mencapai tujuan.”

Dalam konteks tugas DJP, strategi komunikasi telah membuktikan perannya dalam membangun kepercayaan WP. Sudah banyak contoh kebijakan DJP yang berhasil karena komunikasi, misalnya program pengampunan pajak, program integrasi data perpajakan dengan beberapa badan usaha milik negara (BUMN), program optimalisasi pemungutan pajak bersama pemerintah daerah, dan sebagainya.

Memupuk bakat

Bakat Dadendi sudah terlihat sejak dia menjadi Ketua OSIS (organisasi siswa intra sekolah) di SMP Negeri 3 Padang, yang mengharuskannya berkoordinasi dengan banyak orang. Ia juga melengkapi kecakapan berkomunikasi dengan menjadi Ketua Regu Praja Muda Karana (Pramuka). Sementara kemampuan berbahasa asing ia dapatkan dari hobi membaca komik, novel, dan mendengarkan lagu berbahasa Inggris.

Saat menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)—sekarang Politeknik Keuangan Negara STAN—Dadendi mulai memberanikan diri menjadi pemandu acara di kegiatan kampus. Ketertarikannya pada bidang ini semakin menggebu setelah ia mendapat mata kuliah Marketing Ekonomi dari Helmy Yahya. “Dia lebih banyak bercerita dalam mengajar. Asyik,” tambahnya.

Baca Juga: Merdeka Adalah Loyal kepada Cita-Cita

Ketertarikannya pada ilmu komunikasi semakin kuat. Ketika bertugas di Kanwil DJP Jakarta Khusus ia selalu menjadi pemandu acara di setiap kegiatan, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi perpajakan kepada WP.

Tanpa kemampuan dan strategi komunikasi yang tepat, kebijakan atau aturan akan sulit diterapkan.”

“Saya senang karena WP kita, kan, WP asing. Jadi, setiap acara saya ditunjuk jadi MC berbahasa Inggris. Walaupun saya enggak jago banget, saya belajar terus. Pernah, kok, saya dikritik secara keras oleh pimpinan (terkait bahasa Inggris),” kenang pencinta musik Britpop ini.

Beruntung atasannya terus mendukung bakat Dadendi dengan memberikan aneka kursus. Salah satunya, kursus MC di Interstudi, lembaga informal yang memiliki program studi jurnalistik, public speaking, broadcasting, MC dan protokoler, dan sebagainya. Lulus dari sana, sekitar tahun 2003, ia terpilih menjadi salah satu MC resmi Kantor Pusat DJP. Beberapa kali ia didaulat menjadi pranata acara rapat pimpinan bersama menteri keuangan.

Menjadi ‘trainer’

Tak berhenti di situ. Dadendi terus mendalami ilmu komunikasi dengan bergabung dan menimba ilmu di Toastmasters International, sebuah komunitas yang fokus pada kegiatan pengembangan komunikasi dan kepemimpinan. Di sini ia mempelajari segala teknik berbicara di depan umum, khususnya bagaimana menjadi trainer yang mampu menyampaikan materi secara teratur, terstruktur, dan terukur.

“Jadi, cara presentasi yang efektif adalah 15 persen pembukaan, 70 persen inti, serta 15 persen kesimpulan. Ingat, pembukaan tidak boleh biasa, harus menarik perhatian dari audiens. Artinya, dalam membuka sebuah materi diperlukan pemilihan diksi dan pembawaan yang sesuai agar mampu memikat peserta. Pembicara dituntut memiliki artikulasi yang tegas, tanpa terbata-bata.”

Semesta mendukung tekadnya. Ketika reformasi perpajakan jilid II, DJP menugaskan Dadendi untuk mengikuti program Indonesia-Australia Specialised Training Project (IASTP), sebuah program kolaborasi DJP dan otoritas pajak Australia. Lewat program itu Dadendi digembleng untuk menjadi seorang trainer reformasi perpajakan kepada pegawai DJP.

“Saya dan para trainer internallah yang keliling Indonesia (KPP) untuk mengajari bagaimana service excellent, kode etik, penegakan hukum, dan aplikasi sistem yang baru waktu itu,” kenangnya.

Tahun 2008, ia berangkat untuk meraih gelar master of arts di Universitas Waseda University, Jepang. Kendati sibuk kuliah, Dadendi masih sempat ke berbagai kota seperti New York, Boston, Seoul, dan Shanghai, mengikuti pelbagai macam perlombaan yang menuntut kelihaian bertutur di muka publik.

Ia bersyukur, pulang ke tanah air ditempatkan di bidang kehumasan di Kanwil DJP Kalimantan Timur dan Direktorat P2humas DJP. Ilmu komunikasi seolah selalu mengiringi langkahnya dalam pekerjaannya sehari-hari.

Baca Juga: Syukur di Detak ‘Jantung Negara’

“Sekarang saya jadi audit manager, istilahnya. Di sini (KPP PMA Lima) Fungsional Pemeriksa Pajak ada 50 orang. Bersama tim, saya harus merencanakan sampai mengevaluasi proses manajemen pemeriksaan. Bagaimana membangun tim yang baik? Kembali lagi pakai ilmu komunikasi,” kata Kepala Seksi Pemeriksaan Terbaik Kanwil DJP Jakarta Khusus 2018 ini.

Terus belajar

Dadendi terus menajamkan bakatnya dengan mengikuti ujian sertifikasi pembicara publik di Indonesia Professional Speakers Association (IPSA). Ia mengaku terinspirasi oleh Ani Natalia, Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan Humas DJP yang terus meng upgrade diri dan kemampuannya.

“Ada orang yang merasa dirinya mahir di suatu bidang, dia enggak mau belajar lagi. Saya enggak mau kaya gitu, apalagi ilmu komunikasi ini social science yang selalu berkembang,” ucap Dadendi.

Lanjut baca

Recollection

Merdeka Adalah Loyal kepada Cita-Cita

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Dok. Pribadi

Keterlibatannya dalam perumusan kebijakan pemulihan ekonomi, membuat Adel semakin yakin dan setia pada mimpinya: menjadi analis keuangan makro.

 

Pembawaan yang asyik dan gaya bahasa kekinian, membuat pemaparan Adelia Surya Pratiwi tentang program pemulihan ekonomi nasional (PEN) begitu mudah dicerna. Kepala Subbagian Strategi dan Manajemen Komunikasi Publik Badan Kebijakan Fiskal (BKF) ini memang kerap menjadi narasumber diskusi virtual bersama komunitas atau forum milenial.

Sabtu (1/8) lalu misalnya, Adel menjadi pemateri di akun Instagram Mezzanine Club bertajuk “Nanti Kita Cerita tentang Pemulihan Ekonomi”. Bahkan tema acaranya pun mengadopsi judul film yang populer di awal tahun.

“Kenapa pemerintah hanya punya skenario berat dan skenario sangat berat? Bukan karena pemerintah enggak punya pemikiran positif, tapi kita ingin membangun sense of crisis agar semua memahami dan bahu membahu,” kata Adel membuka penuturannya.

Sehari sebelum siaran langsung itu, Majalah Pajak telah berbincang langsung dengan perempuan kelahiran 13 November 1988 secara daring. Ia menuturkan, bahwa BKF tengah membangun komunikasi publik yang lebih simpel dan menarik. Dengan demikian diharapkan masyarakat dapat memahami kondisi krisis sekaligus kebijakan yang sedang ditempuh pemerintah. Pemahaman yang komprehensif adalah kunci menangkal kepanikan dan penyebaran hoaks.

“Jadi, komunikasi strategi ini handling everything tentang komunikasi publik. Semua yang berkaitan dengan penuangan isu yang sedang digulirkan pemerintah kita komunikasikan lewat saluran misalnya kita punya media sosial, BKF itu ada Instagram, Twitter, Facebook, website. Kita juga bekerja sama dengan key opinion leaders. Jadi kita membuat satu grand desainapa, siapa, lewat apa, dengan cara seperti apa isu harus disampaikan,” kata Adel.

Baca Juga: Lempar Pancing, Beri Talangan

Adel dan timnya turut bertugas menganalisis sudut pandang pemberitaan utama di media masa. Jika kebijakan pemerintah cenderung ditulis negatif, maka BKF akan melakukan pelbagai strategi, di antaranya mengadakan dialog bersama media sebulan sekali, menyebarkan data kebijakan lewat infografis dan membuat program bernama “Nyibir Fiskal” di akun instagram @bkfkemenkeu.

“Pemulihan ekonomi nasional kan program yang enggak ada jelek-jeleknya. Kebijakan yang menyasarnya semua ke publik. Aku analisis tone pemberitaan media masa itu netral—sesuai data, sesuai apa yang dikatakan. Memang, yang jadi sorotan agak negatif soal implementasi PEN nih—masih dianggap lelet,” kata Adel.

“Kita harus loyal bukan sama pekerjaan, tapi sama cita-cita.”

Kendati demikian, ia menilai pemberitaan itu merupakan kritik yang membangun. Kata Adel, “Itu wajar, kita harus membuka diri terhadap masukan. Jadi, enggak semua pemberitaan negatif itu salah.”

Di dapur kebijakan

Ibarat restoran, BKF adalah dapurnya. Tempat para juru masak meracik bahan makanan sesuai kegunaan, cita rasa, harga, bahkan komposisi gizi. Dalam konteks kebijakan penanganaan pandemi Covid-19 dan program PEN, BKF menjadi tempat menggodok kebijakan berdasarkan data makro, kemampuan fiskal, dan target implementasi program.

Baca Juga: Total Dana PEN Capai Rp 641,17 triliun, Ini Rincian Peruntukannya

Sebelumnya, kita tahu, beberapa pekan setelah Covid-19 masuk ke tanah air, keluarlah Perppu Nomor 1 Tahun 2020 yang kemudian disahkan menjadi UU Nomor 2 Tahun 2020 dan aturan turunannya. Intinya, total belanja untuk mengatasi pandemi ini mencapai Rp 695,2 triliun.

“Namanya Perppu, berarti satu hal yang mendesak. Waktu kita buat itu (Perppu) kita belum ada data pertumbuhan ekonomi sebagai dasar kebijakan. Tapi kita harus cepat menyelamatkan ekonomi biar enggak terpuruk terlalu dalam. Akhirnya, APBN harus revisi dua kali untuk mengakomodasi kecukupan bantuan dari besarnya,” jelas Adel.

Kendati bersifat mendesak, Adel memastikan seluruh kebijakan didasarkan pada asumsi dan tujuan yang kredibel. Ia mengutip penuturan ekonom Dana Moneter Dunia (IMF) Olivier Blanchard yang mengatakan bahwa, di situasi krisis kebijakan ekonomi akan diarahkan ke tiga hal—sektor kesehatan, orang yang kehilangan pekerjaan atau terpaksa dipotong pendapatannya, dan dukungan bisnis.

“Semua jenis kebijakan dunia seperti itu, yang pembeda hanya angkanya. Negara maju size yang diberikan lebih besar, negara berkembang lebih kecil karena kapasitas fiskalnya lebih rendah,” kata Adel yang juga juga anggota tim perumus kebijakan monitoring dan evaluasi program PEN.

Adel mengingat, di awal-awal, tim perumus bekerja tak kenal waktu. Sehari saja tim bisa rapat dengan pelbagai kementerian, lembaga, ekonom, akademisi, dan pemangku kepentingan hingga lewat tengah malam. Selain menghitung alokasi anggaran, tim juga harus menentukan mata anggaran baru, seperti insentif untuk tenaga medis. Analisis implementasi pun harus dielaborasi secara detail sehingga bantuan dapat cepat dan tepat sasaran.

“Kita mikirin bukan hanya masyarakat berpenghasilan rendah, tapi kelas menengah gimana—harus lay off, atau di potong gajinya 50 persen. Terus enggak boleh pulang ke kampung, mereka harus ngekos—gimana bayarnya?” ujar Adel.

Langkah terbaru, pemerintah dan Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan burden sharing. Kebijakan ini menurutnya merupakan kebijakan yang juga dilakukan di negara-negara lain.

“Saya lebih suka menyebut burden sharing dengan responsibility sharing. Bayangkan dalam menangani ini (Covid-19) harus dikeroyok. Aku ingat banget APBN harus revisi dua kali untuk mengakomodasi kecukupan bantuan dari besarnya. Instrumennya semua sama untuk bantuin ekonomi. Kita melibatkan DPR, BPK, KPK, kepolisian. Ini suatu banget, gotong royong,” ungkap Adel. Ia bersyukur dapat terlibat langsung merumuskan kebijakan di situasi yang Menteri Keuangan Sri Mulyani kerap katakan sebagai “extraordinary” ini. Ia semakin yakin untuk menjadi seorang ekonom.

Mengejar mimpi

Sejatinya, mimpinya itu baru bersemi ketika Adel lulus Program Diploma-III Perpajakan PKN STAN dan mulai bekerja di Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) BKF di tahun 2010. Di sana, ia ditugaskan membuat laporan analisis perkembangan pasar setiap hari. Momen itu dimanfaatkan Adel untuk belajar memahami kebijakan makro secara lebih spesifik. “Bahkan aku menyarikan berita-berita keuangan juga,” kenangnya.

Selanjutnya, Adel ditempatkan di Subbagian Pasar Modal BKF. Di fase ini Adel bekerja sembari meneruskan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan lulus di tahun 2012. Di UI, ia mengambil disiplin ilmu manajemen keuangan perbankan. Alasannya, selain menarik, ia punya pengalaman ditugaskan dalam tim perumusan RUU Bank Indonesia.

“Kita bikin naskah akademik, kita benar-benar riset kebijakan sektor keuangan di negara lain seperti apa. Karena di tengah-tengah pusaran tim perumusan aku sadar, ‘Wih, so much that I dont know’. Menurutku, di Indonesia jarang ada yang memiliki pengetahuan macrofinance. Oke, aku akan mendalami ini,” kata Adel.

Setahun kemudian, ia mendapat beasiswa dari Chevening—beasiswa dari Inggris—untuk kuliah di Departemen Ekonomi Universitas Birmingham di Inggris. Adel lulus dengan spesialisasi manajemen keuangan internasional dan perbankan.

Dalam tesisnya, Adel menulis, indikator harga surat utang negara emerging market ternyata bukan hanya dipengaruhi oleh kemampuan bayar (peringkat kredit) saja, melainkan dipengaruhi oleh kondisi likuiditas global.

Baca Juga: Menguji Kredibilitas Fiskal Saat Krisis & Pandemi Covid-19

“Aku masuk BKF (2010) merasa ‘I have to fill the gap’. Karena di sekeliling aku—di BKF, orang-orang sangat educated, s2 dan s3 banyak. Aku semakin yakin, kalau mau besar kontribusinya, harus kuliah lagi,” tambahnya.

Selain itu, dorongan lainnya berasal dari nasihat ayahnya, Ngudi Irianto, yang berpesan agar ia harus selalu fokus mengejar mimpi dibandingkan memikirkan jabatan tertentu. Sedangkan ibundanya, Tuty Hidayati berharap Adel menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Hanya pendidikan yang bisa mengangkat derajat keluarga.

Adel mengenang, “Kata-kata Papah yang enggak pernah aku lupain sampai sekarang adalah, kita harus loyal bukan sama pekerjaan, tapi sama cita-cita. Jadi, mau ditempatkan di mana saja, jabatan apa saja, kita tetap fokus pada cita-cita. Memikirkan bagaimana kita berkontribusi. Kita hormati sama orang karena value itu.”

Kini, Adel tengah merencanakan untuk melanjutkan studinya. Ia berharap rencananya ini dapat terlaksana di tahun depan. Sekali lagi, ia ingin loyal pada mimpinya agar dapat berkontribusi lebih banyak untuk tanah air.

“Pemuda sering mengartikan, ‘pastikan kamu punya kebebasan, ayo bebas’. Itu justru mengerangkeng dirinya sendiri. Aku lebih suka mengartikan kemerdekaan adalah bertanggung jawab pada cita-citanya, pekerjaannya, dan hidupnya,” tutup Adel.

Baca Juga: Langkah “Extraordinary” Hadapi Resesi

 

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News3 hari lalu

Mandat diperluas, SMF Sokong Pemulihan Ekonomi Nasional Lebih Optimal

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF terus memperkuat perannya dalam mendukung percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)...

Breaking News5 hari lalu

Memontum Membangun Teknologi Informasi untuk Indonesia Maju

Jakarta, Majalahpajak.net – Di tengah upaya menghadapi dampak Covid-19, Pemerintah melalui APBN 2021 serius mendukung perkembangan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi...

Breaking News7 hari lalu

Saatnya UMKM “Move On” dari Pandemi

Pemerintah berupaya melakukan percepatan pemulihan ekonomi dengan memberikan insentif di beberapa sektor usaha termasuk bagi pelaku Usaha mikro, kecil, dan...

Breaking News1 minggu lalu

IKPI Beri Masukan DJP Soal Aturan Pelaksanaan UU Cipta Kerja

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menyelenggarakan sosialisasi UU No. 11 Tahun 2020 Tentang...

Breaking News1 minggu lalu

Perda DKI Disahkan, Tidak Menggunakan Masker Didenda Rp 250 Ribu

Jakarta, Majalahpajak.net – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Peraturan Daerah ( Perda) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Covid-19....

Breaking News2 minggu lalu

Merajut Kepedulian, Membangun Kesejahteraan Sosial

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Sosial bersama Forum CSR Kesejahteraan Sosial (Kesos) terus mendorong partisipasi aktif dunia usaha dalam penyelenggaraan tanggung jawab...

Breaking News2 minggu lalu

Lagi, DJP Tunjuk 10 Badan Usaha Sebagai Pemungut PPN PSME

Jakarta, Majalahpajak.net –Direktorat Jenderal Pajak telah menunjuk sepuluh perusahaan yang memenuhi kriteria sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas barang...

Breaking News2 minggu lalu

Tokopedia Dapat Suntikan Dana dari Google dan Temasek

Jakarta, Majalahpajak.net – Tokopedia mendapatkan suntikan dana dari Google dan Temasek. Kedua perusahaan multinasional itu resmi menjadi salah satu pemegang...

Breaking News2 minggu lalu

Relawan Minta Tokoh Masyarakat Beri Teladan Terapkan Protokol Kesehatan

Jakarta, Majalahpajak.net – Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia membawa dampak yang begitu dahsyat bagi seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah kerap kali...

Analysis2 minggu lalu

Pandemi, IHSG Bearsih, dan Strategi Berinvestasi

Penurunan index harga saham gabungan sudah dua kali mengalami penurunan selama 2020 akibat pandemi Covid-19. Penurunan pertama terjadi pada awal...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved