Terhubung dengan kami

Recollection

Membumikan Pajak tanpa Teriak

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  • 61
  • 70
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    131
    Shares

 

Lewat tulisan, ia ingin menyampaikan kepada masyarakat, betapa pentingnya peran pajak—tanpa harus marah, apalagi berteriak.

Sekitar pukul 18:00 WIB, Johana Lanjar Wibowo sudah berada di dalam kereta Commuter Line menuju kediamannya di kawasan Depok. Nyaris setiap hari, Fungsional Pemeriksa Pajak Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Lima itu selalu menggunakan Moda transportasi umum untuk menuju kantornya yang terletak di kawasan Kalibata, Jakarta.

Jo—sapaan hangat Johana Lanjar Wibowo—mengaku begitu menikmati suasana padatnya kereta. Baginya, momen hiruk-pikuk suasana kereta merupakan sumber inspirasi untuk tulisannya.

“Saya melihat antusiasnya masyarakat naik kereta jadi mau teriak, ‘Ini (fasilitas) yang kalian gunakan dari uang pajak, Koh!’” seloroh Jo gemas. Maklum, sebagai pegawai pajak, agaknya pola pikir Jo memang tak bisa jauh dari urusan penerimaan pajak. Apalagi, tingkat kepatuhan pajak di Indonesia tergolong masih rendah. Fakta itulah yang membuat Jo acap kali gelisah dan berusaha menganalisis yang menjadi penyebab rendahnya kepatuhan Wajib pajak di Indonesia.

Namun, Jo tak ingin membumikan kesadaran pajak dengan berteriak. Ia memilih medium yang lebih sepi, tetapi memiliki kekuatan tak bertepi, yakni tulisan. Hasil telaah itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah tulisan yang ia bukukan. Buku pertamanya yang ia publikasikan berjudul KWSP Otimalkan Penerimaan Pajak.

Dalam buku itu, ia menyebut, faktor utama yang memengaruhi kepatuhan pajak adalah ketersediaan data yang memadai. Upaya yang sudah dilakukan Direktorat Jenderal Pajak untuk menghimpun data pun beragam. Mulai dari Pendaftaran Wajib Pajak Masal (PWPM), sunset policy, Sensus Pajak Nasional (SPN), amnesti pajak, dan Konfirmasi Status Wajib Pajak (KWSP).

Dalam tulisannya, Jo berpendapat bahwa KWSP merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kepatuhan, lantaran juga dilakukan oleh instansi lainnya. Misalnya Kemendagri menerbitkan Permendagri Nomor 223 Tahun 2016 Tentang KSWP dalam pemberian Layanan Publik Tertentu di Lingkungan Pemerintah Daerah.

Dengan adanya regulasi itu, pemerintah daerah diwajibkan melakukan prosedur KWSP sebelum memberikan layanan publik, seperti izin usaha perdagangan, izin mendirikan bangunan, dan lain-lain.

“Saya tidak men-judge Wajib Pajak, melainkan menonjolkan upaya pemerintah yang selama ini sudah dilakukan.”

“Saya ingin menjelaskan tentang pajak dengan edukatif kepada masyarakat, dan tidak menakut-nakuti, atau berteriak—marah-marah. Saya tidak men-judge Wajib Pajak, melainkan menonjolkan upaya pemerintah yang selama ini sudah dilakukan,” tutur Jo di ruang kerjanya akhir Desember 2017 lalu.

Rupanya padatnya rutinitas pekerjaan tak menyurutkan semangat dan produktivitasnya dalam menulis. Bagi pria yang mengawali karier sebagai pelaksana di KPP Pratama Jakarta Gambir Tiga tahun 2011 hingga 2013 itu, tantangan pekerjaan justru menjadi inspirasi tersendiri.

Misalnya, ketika sedang letih melayani Wajib Pajak menjelang periode akhir program Pengampunan Pajak tahun 2016 lalu. Alih-alih kehilangan semangat karena letih, Jo yang sering berada di kantor hingga pukul 04:00 WIB pagi itu justru kian bersemangat menuliskan pengalamannya melayani Wajib Pajak hingga menjelang pagi. Jo merasakan betapa antusiasnya Wajib Pajak mengikuti program itu hingga pukul 12:00 WIB malam. Hasil interaksinya dengan Wajib Pajak itu salah satunya menjadi tulisan berjudul “Pasca Tax Amnesty, Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dimuat di media massa. Tulisan-tulisan Jo, sebagian ia kirimkan ke media internal kantor. Seperti pajak.co.id, Majalah Keuangan, juga Majalah Pajak. Di website milik pribadinya (johanalanjar.id) Jo rutin mem-posting gagasannya.

Diajak duet penulis idola

Selain menulis, membaca adalah aktivitas yang tak bisa terpisahkan bagi Jo. Kegemarannya membaca buku inilah yang membawanya pada kesempatan tak terduga. Pada pertengahan tahun 2016 tepatnya, ia berkenalan dengan pegawai pajak Kanwil DJP Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Erikson Wijaya yang menjadi penulis buku 1001 Hal Tentang Pajak. Melalui surat elektronik dan WhatsApp, Jo dan penulis idolanya itu pun saling bertukar pikiran.

Diskusi berujung pada ajakan Erikson untuk duet menulis buku. Temanya, tentu soal pajak. Merasa tertantang, Jo mantap menerima ajakan itu. Tepatnya, pada Desember 2016, proses pengerjaan buku itu di mulai.

Sejak saat itu, Jo mencoba mencari formulasi menulis isu-isu terkini soal perpajakan dengan penjabaran yang lebih sederhana agar mudah dipahami pembaca. Hingga kemudian memutuskan untuk menulis tentang Asset Tracing (penelusuran harta) dalam rangka pemeriksaan pajak. Jo mencoba menyederhanakan regulasi dengan realitas yang ada di lapangan.

Enam bulan berselang, bersama Erikson Wijaya, Jo membukukan beberapa tulisannya, yakni “Perlakukan Fiskal Atas Biaya Catu Beras Pada Perusahaan Kelapa Sawit”; “Bendahara Pemerintah: ‘Saka Guru’ APBN”; “Pre-Populated SPT–Sarana Pengawasan Pemberi Kerja”; dan masih banyak lagi. Dan tepat pada Juni 2017, buku setebal 252 halaman berjudul Isu–Isu Kontemporer Perpajakan terbit. Ia persembahkan buku ini untuk sang istri, Dinar Gusti Mahardika, dan kedua anaknya.

Sambutan dari berbagai kalangan pun berdatangan. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti mengungkapkan, bak pepatah tak kenal maka tak sayang, buku itu mencoba untuk memperlihatkan sisi lain dari sosok yang ditakutkan, yaitu pajak.

Tak kalah mengejutkan bagi Jo, Kepala KPP PMA Lima, Ana, mengapresiasi karyanya dengan membeli seribu buku dan dibagikan ke KPP di lingkungan Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus dan Wajib Pajak Besar.

“Saya sangat bangga pegawai mampu mengembangkan diri. Apalagi membuahkan karya,” kata Ana.

Bagi Jo, yang terpenting ia dapat menjadi kepanjangan tangan dari instansinya dalam mengedukasi masyarakat.

“Ini tugas saya menjadi abdi negara, sekaligus menyalurkan hobi. Saya ingin membumikan pajak,” ucap relawan Kemenkeu Mengajar ini.

Ingin jadi wartawan

Ketertarikan Jo pada membaca sesungguhnya sudah ada sejak kecil. Sejak sekolah dasar, pria kelahiran Demak, 23 Januari 1988 ini rajin membeli surat kabar Suara Merdeka, dan tabloid Yunior. Selain itu, ia juga rajin membaca buku-buku fiksi kumpulan cerita pendek. Menurutnya, membaca lebih mengasyikkan daripada bermain selayaknya anak kebanyakan. Sesekali ia mencoba mengarang puisi, tapi tak begitu seserius membaca.

“Lupa karena cuma corat-coret,” ucap Jo, mencoba mengingat saat Majalah Pajak memintanya membacakan salah satu puisi gubahannya.

Putra pertama dari pasangan Suwarno dan Sri Warsini ini juga suka sekali menonton acara berita. Ia terkesan dengan para wartawan yang gagah melaporkan peristiwa. “Sejak itu cita-cita saya jadi wartawan,” kenangnya tertawa.

Namun, ambisi kecilnya itu perlahan sirna ketika ia mulai jatuh cinta dengan matematika. Menurut Jo, matematika sangat menantang. Sejak itu ia mulai menggeser orientasi membacanya, dari dunia jurnalistik ke dunia sains matematika. Kala itu, ia persiapkan dirinya untuk ikut perlombaan olimpiade Matematika tingkat Sekolah Dasar Demak. Hampir setiap hari ia bergulat dengan rumus-rumus matematika, hingga tak sempat lagi membaca yang lain. Hasilnya, Jo kecil meraih peringkat pertama pada olimpiade itu.

Kedua orangtuanya, yang notabene adalah pengajar, berperan banyak mengantarkan Jo pada kegemilangan prestasi akademik. Di tingkat sekolah menengah pertama, ia pun meraih nilai sepuluh Ujian Nasional Matematika dan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi se-Kabupaten Demak tahun 2003.

Menapaki jenjang sekolah menengah atas, Jo kembali menantang dirinya untuk merantau ke kota Semarang. Alasannya sederhana: ia ingin punya lebih banyak teman antardaerah. Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Semarang menjadi pilihannya.

“Saya suka tantangan. Sekolah di daerah orang mengajarkan untuk disiplin waktu dan dapat mudah beradaptasi. Apalagi SMAN 3 Semarang sekolah favorit, sekolahnya Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati,” kata penerima sertifikat Certified of Hypnotist dari ibhcenter.org ini.

Jiwa kompetisi semakin mendarah daging pada diri Jo. Meskipun perjalanan jauh antardaerah ia tempuh, ia selalu rajin dan disiplin belajar. Hal itulah yang akhirnya mengantarkannya kembali menjadi juara pertama Lomba Komputer Matematika se-Jawa Tengah tahun 2006 di tingkat Sekolah Menengah Atas dan sederajat.

Prestasi itu sempat membuat Jo berbesar kepala. Ia merasa yakin betul menerima tantangan sang paman, Sridana Paminto, untuk dapat masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). “Durung pinter, yen durung ketampa STAN (Belum pandai, jika belum diterima STAN),” ucap Jo menirukan tantangan sang paman kala itu.

Namun takdir berkata lain. Saat itu Jo tak lolos dan memutuskan kuliah di Universitas Gadjah Mada. Di tahun berikutnya,ia membuktikan tantangan sang Paman, ia kukeuh mengikuti tes ujian masuk STAN dan diterima di program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi Pemerintahan.

Saat menjadi mahasiswa, ia memulai menulis narasi harian di log pribadinya. Sesekali di sana ia mencurahkan kritiknya mengenai politik mahasiswa di kampus. Kini, fragmen perjalanan hidupan Jo membawanya kembali jatuh cinta pada dunia literasi. Ia seperti menemui titik baliknya kembali. Bahkan kini ia memprogram dirinya untuk bisa membaca satu buku, satu bulan.

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Recollection

Si Ramai Perawat Mimpi

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kaum muda, sang pemimpi Kami tancapkan cita untuk Kementerian Keuangan tercinta. Dari kemenkeu muda untuk Republik Indonesia. Yang muda yang berkarya Tidak sama tapi bisa kerja sama. Kemenkeu muda: merawat mimpi lintas generasi

Demikian sepenggal pidato bergelora Pelaksana Seksi Penyajian Informasi Penganggaran, Ditjen Anggaran (DJA), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), sekaligus Duta Transformasi Kemenkeu Fitri Mayang Sari, di acara bertajuk “Kemenkeu Muda: Merawat Mimpi Lintas Generasi” memantik riuh tepuk ribuan pegawai Kemenkeu. Di baris paling depan, tampak pula guratan senyuman Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambah kehangatan aula Dhanapa, Kemenkeu, Jakarta Pusat Jumat malam (24/11) itu.

Semangat seakan semakin membuncah kala Sri Mulyani menaiki podium, memberi sambutan. “Mimpilah yang besar. Mimpilah yang mulia. Mimpilah tidak untuk diri kalian, tapi untuk kebaikan orang lain. Maka kalian akan memiliki jiwa yang terus memiliki semangat yang menyala-nyala. Dan itu yang akan memantik semua kolaborasi, kreasi, inovasi dari kalian,” seru mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Perhelatan akbar kaum muda Kemenkeu itu tak lain merupakan buah gagasan dari sang Duta Transformasi, beserta rekan-rekannya pegawai muda Kemenkeu. Tujuannya sederhana, tutur Fitri, mereka ingin merawat semangat mengabdi untuk Indonesia Raya.

“Kami yakin muda bukan masalah usia. Ini bukan perkara siapa mengerjakan apa, ini adalah kolaborasi. Di instansi ini, kami bangga bisa terus berkontribusi,” ucap Fitri.

Duta transformasi Kemenkeu

Fitri memang dikenal sangat aktif di lingkungan kerjanya. Ia selalu ikut serta dalam berbagai macam kegiatan. Bahkan, kerap masuk dalam jajaran penggagas dan panitia pelaksana. Apalagi, sejak didaulat menjadi Duta Transformasi Kemenkeu awal tahun lalu, dapat dikatakan, ia menjadi penyambung lidah instansi, baik ke internal maupun eksternal. Setidaknya ada dua tugas pokok seorang duta. Pertama, menyampaikan informasi seputar Reformasi Birokrasi dan Transformasi Kelembagaan (RBTK) yang ada di Kementerian Keuangan. Kedua, menjadi penggerak utama transformasi itu sendiri.

Menariknya, Fitri mengemas dua tugas tersebut dengan gaya khas generasi milenial. Tentu, bukan lewat pamflet atau seminar formal, melainkan sambil ngopi dan ngerumpi santai ala warung kopi antara pegawai dan atasan di lobi kantor.

“Saya ingin mengurangi gap antara pimpinan dan bawahan yang selama ini ada. Dengan menyediakan jalur komunikasi yang cair, yaitu bisa ngobrolin hal di luar pekerjaan juga, agar kita bisa lebih dekat dan saling memahami,” kata Fitri.

Setidaknya, ia sudah menghelat empat kegiatan. Salah satunya, acara Roempi DJA bertema “Pak Dirjen Curhat Donk!” dengan bintang tamu Dirjen Anggaran Askolani.

Kepada Majalah Pajak, sang atasan, Dirjen DJP Askolani menyampaikan kesannya terhadap pegawainya tersebut, “Fitri itu heboh, ramai, ceria, gaya millennial. Dan saya bangga ia punya rasa percaya diri yang tinggi. Kita melihatnya jadi semangat,” ungkap Askolani.

Tak hanya merajut semangat di internal, sebagai duta transformasi, Fitri juga berupaya memberikan pemahaman mengenai APBN ke khalayak. Pada Mei lalu, ia memberikan sosialisasi APBN kepada pelajar SMA di Waingapu melalui program DJA Menyapa, dan berkolaborasi dengan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di Kota Waingapu.

Fitri menganalisis, tak sedikit masyarakat belum memahami tentang APBN. Misalnya sumber pendapatan dari mana, dan ke mana saja belanja APBN dihabiskan. Tak kalah penting, ia juga mendakwahkan nilai-nilai Kemenkeu, seperti integritas, sinergi, dan pelayanan.

“Selain interaksi langsung, saya juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan Facebook. Puluhan pertanyaan saya jawab di kolom komentar maupun direct message,” tambah Co-Director of Partnerships and Memberships Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) ini.

Melalui akun instagram @fitms89 miliknya, Fitri kerap mengunggah aktivitasnya di luar. Ini sengaja ia lakukan guna mematahkan paradigma negatif tentang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang selama ini ada.

Salah satunya, unggahan foto ketika Fitri menjadi panelis @america, berbagi pengalaman sebagai mentor fotografi Rangkul Project yang disponsori oleh U.S. Department of State.

Proyek bertema “Kolaborasi Lintas Generasi dan Kultur Melalui Media Digital” tersebut melibatkan pelajar dari SMA Kolese Kanisius dan SMA Al-Izhar Pondok Labu. Selain pujian, pertanyaan pun membanjiri kolom komentar. “Kok, jadi PNS bisa aktif di berbagai organisasi di luar, Kak?” tulis salah satu followers-nya.

“Saya hendak mengubah stereotip bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu pemalas, membosankan, dan birokratif. Di mana pun kita bekerja, kita bisa inovatif dan mengembangkan bakat,” ujar Fitri yang juga penggagas photoblog Orang Jakarta ini.

Si Pendiam

Kelihaian Fitri berkomunikasi di depan umum memang sudah tak bisa diragukan lagi. Namun siapa sangka, Fitri kecil adalah anak yang pendiam dan tak percaya diri.

Hingga akhirnya fragmen itu sirna ketika perempuan kelahiran Lubuklinggau, 22 April 1989 ini, didaftarkan sang Ayah, Ono Rawas Panggarbessy untuk kursus Bahasa Inggris. Padahal, kala itu di lingkungannya, kursus bahasa Inggris tergolong hal yang jarang.

“Saya baru sadar, ayah saya sangat visioner saat itu. Beliau tahu bahasa Inggris itu penting dan akan sangat berguna untuk saya ke depannya,” kenangnya haru.

Masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya, Fitri si anak pendiam itu mulai belajar berorganisasi dan mengikuti sejumlah kompetisi. Ia belajar menulis teks pidato bahasa Inggris.

Meskipun awalnya gugup hingga keringat dingin, toh kegigihan mampu mengalahkan semua rasa itu. Ia belajar dari sang bunda, bahwa hidup adalah perjuangan dan pengorbanan. Kesungguhan untuk mengalahkan rasa takut dan minder membuahkan hasil.

Di bangku SMP, Fitri mampu menjuarai lomba pidato Bahasa Inggris tingkat pelajar SMP-SMA se-Kota Lubuklinggau.

“Education is more important than wealth. If we use our education, it will not disappear and it will even getting better and better. But if we use our wealth, it will lose and disappear,” ucap peraih medali perunggu Pencak Silat pada Pekan Olahraga Daerah (Porda) tingkat Sumatera Selatan ini mengingat pidato yang digubahnya kala itu.

Selain pidato, berbagai prestasi lain juga telah ia ukir. Seperti menjuarai Lomba Mata Pelajaran IPA, Lomba Baca Puisi, Lomba Cepat Tepat, Lomba Siswa Teladan, Lomba Pencak Silat, Olimpiade Komputer, Karya Ilmiah, Lomba Basket, Lomba Pelafalan UUD 1945, serta Latihan Kepemimpinan Siswa. Ya, si pendiam itu telah menjelma menjadi remaja multitalenta.

Kecintaannya belajar, mengantarkannya masuk di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Dan kini, Fitri fokus untuk berkarya di Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Lanjutkan Membaca

Recollection

Keyakinan pada Teknologi Informasi

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tax Knowledge Base (TKB) adalah aplikasi berbasis Android yang dibuat agar petugas pajak dapat memberikan keseragaman pemahaman peraturan perpajakan kepada Wajib Pajak.

Masih teringat di benak Account Representative (AR) Pengawasan dan Konsultasi (Waskon) Imas Putri Sundari, sibuknya melayani peserta program Amnesti Pajak pada 2016 lalu. Antrean Wajib Pajak (WP) yang mengular menjadi pemandangan biasa sejak subuh hingga petang. Maklum, saat itu banyak WP yang antusias mengikuti Amnesti Pajak, tapi belum paham betul mekanismenya. Untungnya, saat itu DJP memiliki aplikasi Tax Knowledge Base (TKB), aplikasi berbasis Android yang dirancang agar petugas pajak dapat memberikan keseragaman pemahaman peraturan kepada Wajib Pajak.

TKB adalah aplikasi yang dibuat untuk memudahkan internal Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam menyediakan informasi dan resume perpajakan secara lengkap. Dengan aplikasi itu, petugas pajak sangat dimudahkan dalam memberikan penjelasan secara utuh peraturan yang harus diketahui WP.

Menurut Imas, TKB menjadi faksi terpenting bagi AR yang bekerja di meja helpdesk. Sebab setiap pertanyaan WP harus dijawab secara lengkap dan senada. Hal ini penting, agar WP tak bingung.

“Dulu, Wajib Pajak sering mengeluhkan info yang diterima beda-beda,” kata Imas kepada Majalah Pajak di Kantor Pusat DJP akhir November lalu.

Tak hanya di kantor. Aplikasi TKB mobile juga dapat mempermudah Imas untuk menyelesaikan pekerjaan di mana saja.

“Kalau urgent, di rumah saya fokus ke menu ‘Resume Perpapajakan’ di aplikasi TKB sebagai tugas utama saya,” jelas seksi Pemutakhiran TKB P2humas DJP periode 2012-2016 ini. Resume ini sebagai alat utama yang dipakai oleh agen Kring Pajak Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan (KLIP) dan pegawai pajak seluruh Indonesia.

Dan perkembangan salah satu teknologi DJP itu tak bisa lepas dari peran Kepala Seksi Pemutakhiran TKB, Mokh Solikhun. Melalui tangan dinginnyalah, TKB kian bertransformasi. Mulai dari TKB manual, TKB on-line versi desktop, hingga TKB mobile berbasis Android.

Di tahun 2011 tepatnya, ketika TKB masih berbasis web, layanan pengaduan hanya dapat diakses oleh Kring Pajak 15200, bukan oleh seluruh pegawai pajak.

Ditemui di ruangannya pada Senin sore (16/10), Ikhun, panggilan akrab Solikhun, berkisah, sejatinya TKB versi Android baru ia kembangkan saat ia menjabat pada tahun 2015. Sebelumnya, TKB versi on-line desktop telah dibangun dari tahun 2008 hingga 2011.

Pengembangan itu bukan tanpa sebab. Ia bersama tim melakukan sebuah survei yang menunjukkan masih banyaknya ketidakseragaman petugas pajak menyampaikan informasi perpajakan. Hal itu karena keterbatasan akses TKB di desktop kantor.

Ikhun pun segera menambah kapasitas server agar aplikasi berbasis web ini dapat diakses seluruh pegawai. Menu informasi diperlengkap, menjadi Peraturan Perpajakan, Tax Treaty, FAQ, Resume, Kurs Pajak, Formulir Pajak, Alamat Unit DJP, dan Knowledge Perpajakan. Sayangnya, berdasarkan survei yang dilakukan, tak semua pegawai memanfaatkan aplikasi TKB ini. Terbukti dengan masih adanya ketidakseragaman petugas pajak memberikan pengetahuan perpajakan.

Bak gayung bersambut, fakta di lapangan itu berujung pada sebuah Perdirjen Nomor 27 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan. Isinya, seluruh petugas helpdesk yang ada di Kantor Pelayanan Pajak (KPP), wajib menggunakan aplikasi TKB.

Terintegrasi

Ide pengembangan teknologi informasi internal, terus dikembangkan. Bersama tim, pria yang pernah meraih penghargaan sebagai Pejabat Eselon IV terbaik di Kanwil DJP Bengkulu dan Lampung tahun 2013 itu kembali meluncurkan aplikasi Helpdesk pada Mei 2017 lalu. Fungsinya pun kian canggih. Tak hanya menu peraturan saja, para petugas helpdesk dapat mencatat segala konsultasi Wajib Pajak dalam aplikasi, yang otomatis terintegrasi ke KPP, Kantor Wilayah (Kanwil), hingga Kantor Pusat DJP.

“Petugas pajak dapat merekam keluhan, mencatat NPWP-nya, cetak ulang data konsultasi, dan cetak register. Semua tools-nya sudah ada pada aplikasi Helpdesk. Kepala KPP, kanwil semua bisa memantau kapan pun dan di mana saja,” jelas Ikhun. Dengan informasi yang terintegrasi, pengaduan yang paling populer akan menjadi tema penyuluhan. “Paling sering dikeluhkan Surat Pemberitahuan Pepajakan (SPT) online, e-faktur, dan pertanyaan kewajiban pajak,” tambahnya.

Ikhun mengatakan, kapasitas server dan bandwidth atau lebar cakupan frekuensi aplikasi ini cukup besar sehingga tak akan error, sekalipun diakses secara bersamaan oleh 48 ribu petugas yang mencatatkan keluhan. Aplikasi mobile TKB dan Helpdesk ini bisa berjalan pada platform Android v4.1 (Jelly Bean), dengan minimum processor CPU 1 GHz-1,5 GHz, memory RAM 1 GB. Untuk mengaksesnya, pegawai pajak dapat mengaktivasi melalui email, kemudian login ke Sistem Informasi Keuangan Kepegawaian dan Aktiva (SIKKA) pegawai.

Dengan pengembangan teknologi terintegrasi ini, Ikhun mencatat, sudah terdapat 15.883 peraturan, 1.453 resume, 1.739 FAQ, 934 KMK nilai kurs pajak, Formulir pajak pada menu “Taxes”. Sedangkan, untuk menu Sharing and Knowledge” ada 33 konten modul galpot (Penggalian Potensi), 141 Risalah Putusan Pengadilan, 93 MoU, 149 worksheet, 73 tip dan trik, 600 info unit kerja, 118 bahan sosialisasi.

Mulai suka teknologi

Bidang teknologi, khususnya teknologi perpajakan, memang sudah tak asing bagi pria kelahiran Lumajang, 1 Febuari 1971 ini. Karier pertamanya dimulai di kantor Pajak Bumi Bangunan (PBB) Jakarta Utara sebagai operator konsul. Tugasnya memastikan komputer, aplikasi, database, hardware, software berjalan dengan baik.

Kemudian, menjabat sebagai Kasi Pengolahan Data dan Informasi  (PDI) KPP Tangerang Dua 2006, Kasi PDI KPP Pratama Jakarta Mataram 2007 hingga 2011, dan Kasi PDI KPP Tanjung Karang 2011-2015. Sekitar tahun 2013, Ikhun juga pernah dinobatkan DJP sebagai penulis makalah terbaik pertama tingkat nasional tahun 2013. Temanya, tentu tak jauh-jauh dari teknologi, yakni “Menggali Potensi Penerimaan Pajak Sektor Properti dengan Memanfaatkan Citra Satelit”.

Kecintaan Ikhun pada teknologi memang sudah dimulai sejak Sekolah Menengah Atas (SMA). Kedua orangtuanya, H. Achmad Baidlowi dan Hj. Djoemiyah sudah memfasilitasinya dengan Komputer Pentium generasi pertama, yang notabene masih jarang dimiliki oleh seusianya.

“Saya memang besar di Teknologi Informasi,” seloroh Ikhun.

Ketika masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), ia bahkan sering ke Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, untuk sekadar mencari rental komputer. Ia telah meyakini, masa depan DJP terletak dari kemampuan pengawasan berbasis teknologi.

“Sejak kuliah di STAN tahun 1993 saya sudah meyakini, teknologi terintegrasi akan memperkuat fungsi pengawasan. Kapan kita bisa memanfaatkan data, dan kapan kita bisa mengawasi Wajib Pajak,” jelas pria lulusan pascasarjana Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknik Bandung (ITB) ini.

“Petugas pajak dapat merekam keluhan, mencatat NPWP-nya, cetak ulang data konsultasi, dan cetak register. Tools-nya sudah ada di aplikasi Helpdesk.”

“Sejak kuliah di STAN tahun 1993 saya sudah meyakini, teknologi terintergasi akan memperkuat fungsi pengawasan. Kapan kita bisa memanfaatkan data, dan kapan kita bisa mengawasi Wajib Pajak.”- Aprilia Hariani

Lanjutkan Membaca

Recollection

Belajar “Narima ing Pandum” dan Esensi Mengabdi

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rutinitas tugas negara tak menyurutkan cintanya pada nilai luhur budaya tanah kelahirannya. Di sela kesibukan bekerja sebagai pegawai pajak, ia masih sempat mengabdi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Jarum jam di pergelangan tangan Sucipto Heru Nugroho belum sepenuhnya menunjuk angka 06.00. Suasana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pagi itu masih sunyi. Dingin udara menyusup ke rongga pori-pori. Pria kelahiran Yogyakarta 37 tahun silam ini berjalan tanpa alas kaki mendekati regol (gerbang) Srimanganti yang menghubungkan halaman Kamandungan Lor dengan halaman Srimanganti. Mengenakan busana peranakan lengkap khas Abdi Dalem, hari itu Heru, panggilan akrab Sucipto Heru Nugroho, tampak gagah. Surjan lurik telupat berpadu apik dengan blangkon dan kain batik.

Sampai di depan regol, dengan cekatan tangan Heru membuka gembok kuno sebesar kepalan telapak tangan orang dewasa yang mengunci rapat regol itu. Perlahan-lahan, didorongnya masing-masing sisi daun pintu regol yang terbuat dari pelat besi hitam yang tak kalah lawas itu hingga terbuka lebar. Ia menarik napas panjang, membiarkan sejuk udara pagi Yogyakarta mengalir lembut ke paru-parunya. Beberapa saat kemudian, ia kembali mengayunkan kakinya menuju Siti Hinggil Ler, melewati beberapa bangsal hingga ke sampai ke Bangsal Pagelaran.

Agak jauh di arah utara, Alun-Alun Lor Keraton terbentang luas dikelilingi beragam pepohonan pada tiap sisinya. Kyai Dewandaru dan Kyai Wijayandaru yang tambun tampak berdiri kokoh di tengah-tengah alun-alun. Auranya begitu wingit. Sulur-sulur akarnya berkelindan, menjuntai jatuh dari sela rimbun daun-daunnya yang hijau pekat. Sejak ratusan tahun silam, dua beringin raksasa itu sudah menjadi saksi bisu geliat peradaban di bumi Mataram itu, dari waktu ke waktu.

Heru menyapa beberapa kanca (rekan) Abdi Dalem yang tengah sibuk menjalankan tugasnya masing-masing. Selama dua puluh empat jam ke depan, ia akan berada di lingkungan keraton itu bersama mereka untuk menjalankan perannya sebagai Abdi Dalem yang melayani raja dan rakyatnya, juga siapa saja yang datang ke Keraton Yogyakarta.

Seperti biasanya, di sela-sela tugasnya, ia selalu mengisi waktu dengan berbincang dengan para Abdi Dalem lainnya yang datang dari berbagai macam latar belakang dan profesi. Ada yang pegawai negeri sipil (PNS) seperti dirinya, ada dari TNI, rakyat biasa, pejabat, profesional, dan lain-lain. Meski berasal dari beragam latar belakang profesi, jabatan, mereka tetap saling menghormati. Di keraton, mereka diikat oleh tradisi kerukunan dan kebersamaan. Itu sebabnya, dalam berkomunikasi keseharian di keraton pun mereka wajib menggunakan bahasa bagongan. Bahasa yang sejak masa Kerajaan Mataram diterapkan di lingkungan keraton. Tujuannya untuk membangun suasana demokrasi dan menghilangkan kesenjangan di antara para pejabat istana dan keluarga raja, termasuk di antara Abdi Dalem.

Di luar pekerjaannya sebagai Abdi Dalem, Heru berdinas sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan. Tepatnya sebagai Account Representative (AR) KPP Pratama Purwokerto. Sebagai sosok berlatar PNS, sebenarnya ia bisa memilih menjadi Abdi Dalem Keprajan. Namun, Heru lebih suka menjadi Abdi Dalem Punokawan yang bertugas di lapangan. Itu pun sebagai Abdi Dalem Caos yang hanya bertugas selama sepuluh hari sekali di saat tugasnya sebagai PNS libur.

“Beberapa kali Panghageng di Tepas (kantor keraton) menawarkan untuk menjadi Abdi Dalem Keprajan karena saya PNS, tapi saya tidak mau. Saya ingin melayani raja dan rakyat yang ingin mengenal keraton,” tutur Heru saat berbincang dengan Majalah Pajak pertengahan September lalu.

Sebagai Abdi Dalem Punokawan, tugas Heru memang di lapangan. Ia diberi titah menjaga gerbang keraton dan dianugerahi nama keraton Mas Jajar Purakso Nugroho. Tanggung jawabnya hanya membuka beberapa regol keraton di pagi hari, berpatroli menjaga keamanan keraton dan membantu para wisatawan yang berkunjung ke kompleks keraton. Pada sore hari, sekitar pukul 14.00 ia harus kembali menutup regol-regol itu sebagai pertanda keraton sudah tertutup untuk umum.

Cinta tradisi dan budaya

Keputusan untuk mengabdi di keraton dilakukan Heru semata-mata atas nama cinta dan baktinya kepada tradisi dan budaya. Bukan mencari pujian, pangkat, apalagi kedudukan. Hidupnya sudah cukup mapan. Meski belum punya jabatan tinggi, pekerjaannya sebagai PNS di DJP sudah cukup untuk menopang kehidupannya dan keluarga.

Keinginan Heru menjadi Abdi Dalem sesungguhnya sudah lama tebersit sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Apalagi sejak kecil ia memang sudah mencintai budaya Jawa. Di saat gegap gempita musik pop melanda kalangan remaja, kala itu Heru justru lebih senang mendengarkan, cerita wayang di radio atau televisi. Ia bahkan tak peduli pada ejekan teman-teman sebayanya.

“Ru, kowe kuna tenan. Wayang kaya iku kok dirungokake wae. Apik ngrungokake Sheila on 7 (Ru, kamu kuno sekali. Wayang kaya gitu kok didegarkan. Bagus, mendengarkan Sheila on 7),” kata Heru menirukan ejekan sang kawan. Kala itu Heru bergeming, tak sedikit pun berniat mengganti frekuensi radionya.

Di rumah, orangtuanya, Sutjipto dan Endang Sumardiyati juga kerap melantunkan tembang-tembang Jawa. Apalagi, Kakek canggah dan sang paman ternyata juga sudah terlebih dahulu menjadi seorang abdi dalem keraton.

“Saya semakin penasaran apa yang dikerjakan abdi dalem keraton. Dan sejak dulu rasanya selalu terpanggil untuk mengabdi pada raja,” ungkapnya.

Niat tulus Heru sempat sirna ketika krisis ekonomi Indonesia pada 1998. Heru remaja yang baru lulus SMA itu berpikir pragmatis untuk menyelamatkan masa depannya. Ia kemudian bertekad untuk menjadi abdi negara dengan mendaftar Program Diploma I Keuangan Spesialisasi Kebendaharaan Negara STAN. Ia pun diterima dan hijrah ke Semarang. Padatnya rutinitas kampus perlahan membuat pria berkacamata ini tak sempat mendengar cerita wayang atau lagu-lagu Jawa di radio, apalagi menyaksikan pergelaran wayang seperti di kampung halamannya. Lambat laun niat untuk melamar menjadi Abdi Dalem keraton pun surut begitu saja.

Lulus pendidikan, Heru langsung bertugas di Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KPPBB) Surakarta sebelum kemudian dimutasi ke (KPP Pratama Klaten Tahun 2007. Sejak bertugas di KPP Pratama Klaten itulah niat menjadi Abdi Dalem kembali membuncah. Ia merasa terpanggil untuk mengabdi pada raja dan belajar lebih dalam tentang budaya dan tradisi leluhurnya.

“Saya bersyukur dapat mengabdi pada negara dengan menghimpun pajak. Tapi saya ingin juga belajar ikhlas mengabdi pada raja saya,” ucapnya.

Ikhlas dan bersyukur

Menjadi Abdi Dalem, bagi Heru adalah sekaligus wahana untuk menempa keikhlasan. Tempat ia belajar filosofi narima ing pandum, sikap hidup menerima dan mensyukuri segala anugerah Yang Mahakuasa.

Narima ing pandum menjadi bekal saya menjalankan kewajiban menjadi AR di KPP Purwokerto. Gaji yang saya terima wajib disyukuri, tanpa harus korupsi. Artinya, menjadi abdi dalem membentuk integritas,” tutur suami dari Chrisna Wardhani ini.

Ia berharap dapat mengamalkan secara utuh falsafah ajaran Keraton hamemayu hayuning bawana di hidupnya, yang maknanya, manusia harus memerhatikan tiga aspek. Pertama, rahayuning bawana kaurba waskithaning manungsa atau kelestarian dan keselamatan dunia ditentukan oleh kebijaksanaan manusia. Kedua, darmaning satriya mahanani rahayuning negara, yang berarti pengabdian satria menyebabkan kesejahteraan dan ketenteraman negara. Ketiga, rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane. Artinya, kesejahteraan dan ketenteraman manusia terjadi karena manusianya.

“Kita semua dapat menjadi seorang satria menjalankan Hamemayu Hayuning Bawana asalkan kita punya semangat golong-gilig. Semangat persatuan dan kesatuan antara manusia dengan Tuhan, manusianya, dan alam,” tutupnya.

“Narima ing pandum menjadi bekal saya menjalankan kewajiban menjadi AR di KPP Purwokerto. Gaji yang saya terima wajib disyukuri, tanpa harus korupsi.”

“Saya bersyukur dapat mengabdi pada negara dengan menghimpun pajak. Tapi saya ingin juga belajar ikhlas mengabdi pada raja saya.” – Waluyo Hanjarwadi

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

Tax People Share!8374      157SharesPT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di...

Breaking News2 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Tax People Share!         Post Views: 2.129

Breaking News4 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

Tax People Share!          Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri...

Breaking News4 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Tax People Share!        Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan...

Breaking News5 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Tax People Share!        Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat...

Breaking News7 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Tax People Share!        Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang...

Breaking News12 bulan lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Tax People Share!        Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan,...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Tax People Share!        Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Tax People Share!        Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak...

Breaking News2 tahun lalu

Ini Cara Kerja Listrik Tenaga Air Versi Tri Mumpuni

Tax People Share!        Air dari sungai dibendung kemudian dialirkan melalui parit. Kira-kira 300 hingga 500 meter dari bendungan, sebagian air dialirkan...

Advertisement Pajak-New01

Trending