Connect with us

Recollection

Membumikan Pajak tanpa Teriak

Aprilia Hariani K

Published

on

 

Lewat tulisan, ia ingin menyampaikan kepada masyarakat, betapa pentingnya peran pajak—tanpa harus marah, apalagi berteriak.

Sekitar pukul 18:00 WIB, Johana Lanjar Wibowo sudah berada di dalam kereta Commuter Line menuju kediamannya di kawasan Depok. Nyaris setiap hari, Fungsional Pemeriksa Pajak Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Lima itu selalu menggunakan Moda transportasi umum untuk menuju kantornya yang terletak di kawasan Kalibata, Jakarta.

Jo—sapaan hangat Johana Lanjar Wibowo—mengaku begitu menikmati suasana padatnya kereta. Baginya, momen hiruk-pikuk suasana kereta merupakan sumber inspirasi untuk tulisannya.

“Saya melihat antusiasnya masyarakat naik kereta jadi mau teriak, ‘Ini (fasilitas) yang kalian gunakan dari uang pajak, Koh!’” seloroh Jo gemas. Maklum, sebagai pegawai pajak, agaknya pola pikir Jo memang tak bisa jauh dari urusan penerimaan pajak. Apalagi, tingkat kepatuhan pajak di Indonesia tergolong masih rendah. Fakta itulah yang membuat Jo acap kali gelisah dan berusaha menganalisis yang menjadi penyebab rendahnya kepatuhan Wajib pajak di Indonesia.

Namun, Jo tak ingin membumikan kesadaran pajak dengan berteriak. Ia memilih medium yang lebih sepi, tetapi memiliki kekuatan tak bertepi, yakni tulisan. Hasil telaah itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah tulisan yang ia bukukan. Buku pertamanya yang ia publikasikan berjudul KWSP Otimalkan Penerimaan Pajak.

Dalam buku itu, ia menyebut, faktor utama yang memengaruhi kepatuhan pajak adalah ketersediaan data yang memadai. Upaya yang sudah dilakukan Direktorat Jenderal Pajak untuk menghimpun data pun beragam. Mulai dari Pendaftaran Wajib Pajak Masal (PWPM), sunset policy, Sensus Pajak Nasional (SPN), amnesti pajak, dan Konfirmasi Status Wajib Pajak (KWSP).

Dalam tulisannya, Jo berpendapat bahwa KWSP merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kepatuhan, lantaran juga dilakukan oleh instansi lainnya. Misalnya Kemendagri menerbitkan Permendagri Nomor 223 Tahun 2016 Tentang KSWP dalam pemberian Layanan Publik Tertentu di Lingkungan Pemerintah Daerah.

Dengan adanya regulasi itu, pemerintah daerah diwajibkan melakukan prosedur KWSP sebelum memberikan layanan publik, seperti izin usaha perdagangan, izin mendirikan bangunan, dan lain-lain.

“Saya tidak men-judge Wajib Pajak, melainkan menonjolkan upaya pemerintah yang selama ini sudah dilakukan.”

“Saya ingin menjelaskan tentang pajak dengan edukatif kepada masyarakat, dan tidak menakut-nakuti, atau berteriak—marah-marah. Saya tidak men-judge Wajib Pajak, melainkan menonjolkan upaya pemerintah yang selama ini sudah dilakukan,” tutur Jo di ruang kerjanya akhir Desember 2017 lalu.

Rupanya padatnya rutinitas pekerjaan tak menyurutkan semangat dan produktivitasnya dalam menulis. Bagi pria yang mengawali karier sebagai pelaksana di KPP Pratama Jakarta Gambir Tiga tahun 2011 hingga 2013 itu, tantangan pekerjaan justru menjadi inspirasi tersendiri.

Misalnya, ketika sedang letih melayani Wajib Pajak menjelang periode akhir program Pengampunan Pajak tahun 2016 lalu. Alih-alih kehilangan semangat karena letih, Jo yang sering berada di kantor hingga pukul 04:00 WIB pagi itu justru kian bersemangat menuliskan pengalamannya melayani Wajib Pajak hingga menjelang pagi. Jo merasakan betapa antusiasnya Wajib Pajak mengikuti program itu hingga pukul 12:00 WIB malam. Hasil interaksinya dengan Wajib Pajak itu salah satunya menjadi tulisan berjudul “Pasca Tax Amnesty, Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dimuat di media massa. Tulisan-tulisan Jo, sebagian ia kirimkan ke media internal kantor. Seperti pajak.co.id, Majalah Keuangan, juga Majalah Pajak. Di website milik pribadinya (johanalanjar.id) Jo rutin mem-posting gagasannya.

Diajak duet penulis idola

Selain menulis, membaca adalah aktivitas yang tak bisa terpisahkan bagi Jo. Kegemarannya membaca buku inilah yang membawanya pada kesempatan tak terduga. Pada pertengahan tahun 2016 tepatnya, ia berkenalan dengan pegawai pajak Kanwil DJP Sumatera Selatan dan Bangka Belitung Erikson Wijaya yang menjadi penulis buku 1001 Hal Tentang Pajak. Melalui surat elektronik dan WhatsApp, Jo dan penulis idolanya itu pun saling bertukar pikiran.

Diskusi berujung pada ajakan Erikson untuk duet menulis buku. Temanya, tentu soal pajak. Merasa tertantang, Jo mantap menerima ajakan itu. Tepatnya, pada Desember 2016, proses pengerjaan buku itu di mulai.

Sejak saat itu, Jo mencoba mencari formulasi menulis isu-isu terkini soal perpajakan dengan penjabaran yang lebih sederhana agar mudah dipahami pembaca. Hingga kemudian memutuskan untuk menulis tentang Asset Tracing (penelusuran harta) dalam rangka pemeriksaan pajak. Jo mencoba menyederhanakan regulasi dengan realitas yang ada di lapangan.

Enam bulan berselang, bersama Erikson Wijaya, Jo membukukan beberapa tulisannya, yakni “Perlakukan Fiskal Atas Biaya Catu Beras Pada Perusahaan Kelapa Sawit”; “Bendahara Pemerintah: ‘Saka Guru’ APBN”; “Pre-Populated SPT–Sarana Pengawasan Pemberi Kerja”; dan masih banyak lagi. Dan tepat pada Juni 2017, buku setebal 252 halaman berjudul Isu–Isu Kontemporer Perpajakan terbit. Ia persembahkan buku ini untuk sang istri, Dinar Gusti Mahardika, dan kedua anaknya.

Sambutan dari berbagai kalangan pun berdatangan. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti mengungkapkan, bak pepatah tak kenal maka tak sayang, buku itu mencoba untuk memperlihatkan sisi lain dari sosok yang ditakutkan, yaitu pajak.

Tak kalah mengejutkan bagi Jo, Kepala KPP PMA Lima, Ana, mengapresiasi karyanya dengan membeli seribu buku dan dibagikan ke KPP di lingkungan Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus dan Wajib Pajak Besar.

“Saya sangat bangga pegawai mampu mengembangkan diri. Apalagi membuahkan karya,” kata Ana.

Bagi Jo, yang terpenting ia dapat menjadi kepanjangan tangan dari instansinya dalam mengedukasi masyarakat.

“Ini tugas saya menjadi abdi negara, sekaligus menyalurkan hobi. Saya ingin membumikan pajak,” ucap relawan Kemenkeu Mengajar ini.

Ingin jadi wartawan

Ketertarikan Jo pada membaca sesungguhnya sudah ada sejak kecil. Sejak sekolah dasar, pria kelahiran Demak, 23 Januari 1988 ini rajin membeli surat kabar Suara Merdeka, dan tabloid Yunior. Selain itu, ia juga rajin membaca buku-buku fiksi kumpulan cerita pendek. Menurutnya, membaca lebih mengasyikkan daripada bermain selayaknya anak kebanyakan. Sesekali ia mencoba mengarang puisi, tapi tak begitu seserius membaca.

“Lupa karena cuma corat-coret,” ucap Jo, mencoba mengingat saat Majalah Pajak memintanya membacakan salah satu puisi gubahannya.

Putra pertama dari pasangan Suwarno dan Sri Warsini ini juga suka sekali menonton acara berita. Ia terkesan dengan para wartawan yang gagah melaporkan peristiwa. “Sejak itu cita-cita saya jadi wartawan,” kenangnya tertawa.

Namun, ambisi kecilnya itu perlahan sirna ketika ia mulai jatuh cinta dengan matematika. Menurut Jo, matematika sangat menantang. Sejak itu ia mulai menggeser orientasi membacanya, dari dunia jurnalistik ke dunia sains matematika. Kala itu, ia persiapkan dirinya untuk ikut perlombaan olimpiade Matematika tingkat Sekolah Dasar Demak. Hampir setiap hari ia bergulat dengan rumus-rumus matematika, hingga tak sempat lagi membaca yang lain. Hasilnya, Jo kecil meraih peringkat pertama pada olimpiade itu.

Kedua orangtuanya, yang notabene adalah pengajar, berperan banyak mengantarkan Jo pada kegemilangan prestasi akademik. Di tingkat sekolah menengah pertama, ia pun meraih nilai sepuluh Ujian Nasional Matematika dan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi se-Kabupaten Demak tahun 2003.

Menapaki jenjang sekolah menengah atas, Jo kembali menantang dirinya untuk merantau ke kota Semarang. Alasannya sederhana: ia ingin punya lebih banyak teman antardaerah. Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Semarang menjadi pilihannya.

“Saya suka tantangan. Sekolah di daerah orang mengajarkan untuk disiplin waktu dan dapat mudah beradaptasi. Apalagi SMAN 3 Semarang sekolah favorit, sekolahnya Ibu Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati,” kata penerima sertifikat Certified of Hypnotist dari ibhcenter.org ini.

Jiwa kompetisi semakin mendarah daging pada diri Jo. Meskipun perjalanan jauh antardaerah ia tempuh, ia selalu rajin dan disiplin belajar. Hal itulah yang akhirnya mengantarkannya kembali menjadi juara pertama Lomba Komputer Matematika se-Jawa Tengah tahun 2006 di tingkat Sekolah Menengah Atas dan sederajat.

Prestasi itu sempat membuat Jo berbesar kepala. Ia merasa yakin betul menerima tantangan sang paman, Sridana Paminto, untuk dapat masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). “Durung pinter, yen durung ketampa STAN (Belum pandai, jika belum diterima STAN),” ucap Jo menirukan tantangan sang paman kala itu.

Namun takdir berkata lain. Saat itu Jo tak lolos dan memutuskan kuliah di Universitas Gadjah Mada. Di tahun berikutnya,ia membuktikan tantangan sang Paman, ia kukeuh mengikuti tes ujian masuk STAN dan diterima di program Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi Pemerintahan.

Saat menjadi mahasiswa, ia memulai menulis narasi harian di log pribadinya. Sesekali di sana ia mencurahkan kritiknya mengenai politik mahasiswa di kampus. Kini, fragmen perjalanan hidupan Jo membawanya kembali jatuh cinta pada dunia literasi. Ia seperti menemui titik baliknya kembali. Bahkan kini ia memprogram dirinya untuk bisa membaca satu buku, satu bulan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Recollection

Akhir Tualang sang Pialang

W Hanjarwadi

Published

on

Petualangannya sebagai pialang pernah mengantarkannya pada kemapanan finansial. Namun, memilih alih profesi karena hari-harinya selalu dirundung ketegangan.

Saham merupakan instrumen investasi yang menjanjikan keuntungan cukup menggiurkan. Pemegang saham perusahaan, misalnya, bisa mendapat pemasukan dari pembagian laba perusahaan berdasarkan jumlah saham yang mereka pegang. Pemilik saham juga berpotensi meraup capital gain dari penjualan kembali saham yang mereka beli sebelumnya.

Ada dua tujuan orang bermain saham, yakni jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek biasanya dilakukan oleh trader atau orang yang berkecimpung dalam trading saham. Trader adalah sebutan untuk seseorang yang berdagang di pasar valuta asing atau pasar saham. Trader menyelesaikan operasi perdagangannya dengan menggunakan dana mereka sendiri atau dengan menggunakan dana investor yang telah dialokasikan sebagai dana kelolaan. Trader mendapatkan uang melalui perubahan harga instrumen yang mereka perdagangkan.

Tujuan jangka panjang biasanya dilakukan oleh para investor saham, yakni mereka yang menempatkan dananya dalam instrumen investasi di pasar saham untuk ditahan dalam jangka waktu panjang. Investor ada dua jenis, yakni institusi dan perorangan. Investor biasanya membutuhkan broker atau pialang saham sebagai perantara dalam bertransaksi atau melakukan jual beli saham di pasar modal. Pialang saham bisa perorangan atau firma.

Sebagai seorang perantara, menjadi pialang berarti harus siap bermain roller coaster. Salah perhitungan, berarti kerugian. Perasaan seperti itulah yang dulu sering dirasakan Eddi Wahyudi, mantan pialang saham yang kini bekerja sebagai Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak.

“Kematangan emosi pialang juga penting, karena antara rakus dan gigih itu beda tipis.”

“Seorang pialang harus memiliki kematangan emosi,” tutur Eddi kepada Majalah Pajak di ruangannya, kantor Pusat Ditjen Pajak, pada Senin petang (17/9).

Kiprah Eddi di dunia pasar modal dimulai sejak tahun 1997. Usai pekerjaan di proyek kontraktornya rampung, kala itu sarjana teknik Universitas Islam Indonesia ini melamar ke sebuah perusahaan trading. Alasannya simpel. “Saya tertarik saja,” ujar pria kelahiran Semarang, 1 Juni 1971 ini seraya tertawa.

Di perusahaan barunya itu, awalnya Eddi hanya staf biasa. Namun, kecakapannya di bidang statistik dan matematika, membuat Eddi dipercaya menggawangi divisi riset. Tak berapa lama, ia dipercaya menjadi pialang komoditas, saham, dan forex atau valas (valuta asing). Sejak saat itu kebiasaan Eddi pun mulai berubah.

“Hampir 24 jam nonstop saya berada di tiga layar komputernya sekaligus, baik di kantor maupun di ruang kerjanya di rumah.”

Komputer satu untuk memantau berita media massa, komputer dua untuk memantau situs trading, komputer tiga khusus untuk transaksi. Ibaratnya, mata Eddi harus setajam elang menganalisis fluktuasi pasar yang bergerak secepat kilat. Setiap spekulasi harus akurat. Sebab, lengah sedikit saja akan rugi.

“Roller coaster”

Seperti pialang pada umumnya, Eddi pun mengibaratkan masa mudanya itu sebagai wahana roller coaster. Walaupun, ia mengakui kemapanan yang ia dapatkan setimpal. Apalagi, Eddi waktu itu ia baru berusia 26 tahun dan belum menikah.

Forex itu hitungannya detik. Hidupku seperti roller coaster. Jantung naik-turun, 24 jam tidak tidur kalau lagi kenceng karena sebagai pialang, kita harus mengamankan supaya tidak rugi, untung, atau rugi sedikit,” tutur pria pencinta dunia robotik ini.

Menurut Eddi, spekulasi juga jangan asal tebak kancing. Sebelum melakukan trading, pialang harus mempelajari fundamental analysis. Langkah awal, pialang harus mengetahui kondisi pasar. Bisa melalui website rujukan, memantau isu ekonomi terkini seperti kebijakan Federal Reserve System (Bank Sentral AS), harga minyak, dan lain-lain. Hal tak kalah penting adalah memerhatikan sektor industri yang tengah menguat dan lemah. Kemudian, mencari kandidat saham potensial untuk diperdagangkan. Selain itu, Eddi juga mesti menganalisis kekuatan fundamental pasar yang berguna mengetahui batas tertinggi dan terendah harga yang pernah dicapai dalam 52 minggu ke belakang. Dengan begitu, pialang akan mampu mengetahui harga target yang akan dicapai ataupun stop-loss.

Fundamental analysis (FA) dan technical analysis (TA) ini sebagai kompas para pialang untuk menentukan when to buy and when to sell,” kata Eddi.

Kepiawaian Eddi berspekulasi mengantarkannya pada posisi yang mapan pada usia yang relatif muda. Bisa dikatakan, ia menjelma pialang yang cukup andal. Eddi bahkan pernah menulis buku saku untuk menjadi panduan rekan-rekan trader-nya.

Namun, terkadang ia juga rugi hingga ratusan juta rupiah. Suatu waktu, Eddi mendapat klien, investor yang cukup besar. Eddi melakukan strategi investasi konservatif dengan waktu trading satu sampai tiga minggu. Polanya, mengikuti pergerakan harga pasar.

Dengan perlakukan konservatif, biasanya seorang pialang harus memutuskan untuk fokus pada saham yang memiliki fundamental kuat. Stock rating-nya pun antara 8 hingga 10. Dalam kondisi ini, pialang biasanya menentukan harga terendah dan tertinggi dalam enam bulan terakhir, minimal 20 persen pergerakan dari harga awal. Teori ini tampaknya tak melulu tepat. Entah mengapa, menurut Eddi, meski telah mengikuti rambu-rambu itu, harga sahamnya jatuh dan merugi hingga ribuan dollar AS.

Gagal menerapkan rambu-rambu konservatif itu, Eddi terbang ke Singapura untuk belajar kursus pasar modal. Ia masih penasaran karena meski telah mengikuti teori yang ada, toh, masih merugi juga. Walaupun akhirnya ia mampu mati-matian mengembalikan modal investor hingga di titik ekuilibrium.

“Apa yang salah, ya? Masih saja loss,” rutuknya dalam hati ketika itu. Cukup lama Eddi merenung. Ia berusaha terus mencari sendiri jawabannya. “Benar, fundamental analysis dan technical analysis sebagai kompas, tapi kematangan emosi pialang juga penting. Karena antara rakus dan gigih itu beda tipis,” kata Eddi. “Bagi anak muda yang tidak siap, disarankan menggunakan jasa manajer investasi saja,” tambahnya kemudian.

Pensiun dari pialang

Hidup dalam hari-hari penuh ketegangan bak roller coaster membuat Eddy berkontemplasi. Akhirnya, tahun 1998, ia membuat keputusan yang mengagetkan kawan-kawan pialangnya. Suami Dyan Septita ini memutuskan hengkang dari dunia pialang.

“Aku memutuskan untuk stop,” kata Eddi.

Krisis moneter yang sedang melanda Indonesia tahun itu membuat Eddi semakin mantap melepas predikat pialang yang selama ini melekat. Sang ayah yang bekerja sebagai pegawai Kementerian Keuangan merekomendasikannya untuk mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Eddi mengikuti saran sang ayah dan lulus dalam seleksi itu.

Babak baru kehidupan Eddi pun dimulai. Tahun 1998, ia menjabat sebagai staf penilaian properti Subdirektorat Tanah dan Bangunan Pajak. Di sana, ia dan pegawai lainnya, Edy Sukarno, Herwin Hendramulia Siregar ditugaskan membuat sistem Daftar Biaya Komponen Bangunan (DBKB) 2000. DBKB 2000 merupakan sistem penilaian bangunan yang mempermudah penilaian bangunan dengan struktur high rise building. Sistem itu berhasil diadopsi Ditjen Pajak. Bahkan, hingga sekarang masih langgeng digunakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Setelah itu Eddi juga membuat sistem penilaian jalan tol, bandara, kilang minyak, dan menara telekomunikasi.

Saat ia menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pondok Aren tahun 2015—2017, Eddi juga meracik sistem berbasis komunitas. Ia bersama pegawainya mengumpulkan pelaku UMKM itu dalam satu komunitas, membekali mereka dengan strategi pengembangan usaha dan edukasi perpajakan. Komunitas UMKM itu diberi nama UMKM Sahabat Pajak (USP). Berkat USP, KPP Pratama Pondok Aren meraih juara nasional KPP Percontohan Tahun 2017. Kini, USP diadopsi oleh sejumlah KPP di Indonesia.

Continue Reading

Recollection

“Ngomik” Berbagi tanpa Menggurui

Aprilia Hariani K

Published

on

Lewat komik ia tak hanya sekadar berbagi cerita, tapi juga ingin berbagi inspirasi dan nilai-nilai kebaikan kepada khalayak tanpa harus menggurui.

Komik Tintin dan Picaros adalah salah satu koleksi buku yang tak akan pernah bisa dilupakan Ardian Chandra. Pria asli Jombang, Jawa Timur yang kelak lebih dikenal dengan nama pena Squ ini mengenal komik terjemahan dengan judul asli The Adventures of Tintin and The Picaros ciptaan Herge itu sekitar tahun ’80-an. Ketika itu usianya belum genap 10 tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap pulang sekolah, sembari duduk bersandar di tembok teras rumahnya di Desa Babatan, ia asyik menikmati komik yang serial pertamanya dipublikasikan di koran Belgia, Le Vingtième Siècle tahun 1929 itu.

Sesekali ia mengalihkan perhatian pada secarik kertas di sisinya yang sengaja ia siapkan, lalu membuat coretan-coretan membentuk sketsa-sketsa tokoh kartun. Terkadang ia menghapus sketsa itu jika hasilnya tak sesuai dengan imajinasinya. Rupanya itulah cara Ardian kecil mengabadikan tokoh-tokoh imajiner yang tiba-tiba muncul di kepalanya ketika membaca komik itu.

Ya, komikus yang juga berkarier di Direktorat jenderal Pajak sebagai Fungsional Pemeriksa Muda KPP Pratama Setiabudi itu mengaku, sejak kecil memang penggila komik, cerita pendek, dan novel. Baginya waktu luang adalah kesempatan emas untuk melahap habis cerita demi cerita pada setiap buku. Apalagi setelah itu ia dapat melampiaskan bakat menggambar dengan lebih imajinatif. Jika sudah larut dengan buku-buku yang dibacanya, Ardian bisa lupa dengan rasa laparnya. Ia masih ingat betul ketika sang bunda selalu dibuat repot dan berteriak-teriak demi mengingatkan makan siangnya.

“Tintin membuka jalan imajinasi, memberi semangat menggambar. Kisahnya seru, mengajarkan untuk setia pada profesi, jujur, pintar untuk membantu sesama,” kata Squ di kantornya di KPP Pratama Setiabudi, Jakarta, Senin petang (23/7).

Masih terpatri pula di benaknya, gambar pertama yang ia torehkan di atas kertasnya usai membaca komik populer itu. Sebuah sketsa anak laki-laki bermata sipit, hampir mirip jurnalis di komik Herge itu. Hanya saja, versi yang ia gambar kala itu tanpa leher. Melihat gambar itu sang kakak, Dewayanti, kontan meledek Squ sembari terbahak. “Eh, gambar orang itu punya leher. Terus, rambutnya mana?” celetuk Dewayanti.

Sejak saat itulah Squ semakin terpacu untuk menggambar. Beranjak sekolah menengah pertama ia sudah mulai mencoba membuat komik genre silat yang dimuat di majalah sekolah. Salah satu judul yang masih diingatnya adalah Arit Anthrax yang terpajang di majalah dinding (mading) sekolahnya, SMA Negeri 2 Jombang. Cerita Arit Anthrax, diilhami oleh buku-buku cerita, semisal serial Nagasasra dan Sabuk Inten karya S.H Mintardja yang ia baca di perpustakaan milik bibinya. Inspirasi gambar komik perdananya itu bersumber dari serial komik Tintin. Penguasaan narasi kisah serta pembendaharaan kata, ia dapatkan dari novel-novel yang senantiasa ia lahap di waktu senggang. Sebut saja, 43 seri novel Trio Dektektif yang dikarang Alfred Hitchcock, Lima Sekawan dari penulis fiksi asal Inggris Enid Blyton, dan masih banyak lagi.

“Banyak komikus yang gambarnya bagus tapi tidak bisa menulis. Mustahil bisa menulis, jika tidak rajin membaca. Membaca, menulis, menggambar satu kesatuan,” kata pria berkaca mata ini.

Keyakinannya itu ia manifestasikan ke dalam sebuah novel bernuansa romantik. Bahkan saat remaja, Squ sudah percaya diri menyodorkan naskah novelnya ke penerbit tersohor di Indonesia. Kendati berkali-kali ditolak, ia pantang menyerah. Mimpinya tetap ia peluk erat.

“Kalau ada amplop besar datang, itu dari Gramedia. Berarti naskah saya dikembaliin. Sedih,” ujarnya mengenang.

Squ enggan berlama-lama larut dalam kesedihan. Semakin ditolak, api semangat justru semakin berkobar. Beberapa minggu setelah penolakan, Squ kembali menggambar juga menulis. Sayang, arsip tulisannya itu hilang sebelum sempat dipublikasikan. Namun, mimpinya tetap melekat. Apalagi ketika masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) 1996 ia didaulat menjadi kartunis dan komikus di majalah kampusnya.

“Salah satu karikatur yang saya ingat soal isu lulusan STAN enggak ada ikatan dinas lagi,” kenang Squ.

“Ternyata ketika niat kita berkarya agar bisa bermanfaat untuk orang lain, maka Allah kasih rezeki tidak terduga.”

Pengin jadi baik

Lulus kuliah dan berkarier menjadi fiskus di Ditjen Pajak tetap tak menghalangi mimpi Squ menjadi komikus. Ia konsisten menelurkan karya, baik berupa cerpen, novel, ataupun karikatur. Ada juga komik, meski hanya beberapa lembar.

Hasil imajinasinya itu tak pernah ia biarkan mengendap begitu saja. Ia membagikan ke blog pribadi, blog kantor, serta Facebook. “Alhamdulillah, bagus responsnya,” ujarnya tersenyum lega.

Tahun 2008, ketika ia dimutasi ke KPP Mojekerto, karier di bidang komik dimulai bisa dibilang benar-benar ia tekuni lebih serius. Squ bersama sang istri dan anak tinggal di Desa Plemahan. Di sana, sang istri menjadi guru mengaji di musala dekat rumah. Squ pun tertarik berbagi ilmu agama dengan sekitar 70 anak-anak itu. Nah, di momen hidup ini Squ mengaku ingin menjadi orang yang lebih baik. “Dan, saya yakin semua orang pengin jadi baik,” tegasnya.

Keyakinan Squ itu, kemudian ia narasikan ke dalam sebuah cerita pendek yang berkembang menjadi buku komik Pengen Jadi Baik jilid satu sampai empat yang ia terbitkan selama rentang tahun 2014-2018. Tokohnya tak lagi fiksi. Seluruh anggota keluarga sebagai tokoh nyata dalam cerita. Menariknya, Squ mampu mengemas unsur islami dengan renyah. Ia juga cakap memberi bumbu humor di sela-sela mendakwahkan ilmu agama di komiknya. Seperti nukilan percakapan di buku Pengen Jadi Baik berikut ini:

“Aku dikatain terus sama anak-anak lain. Kevin Bogang, Kevin ompong,” Kata Kevin kepada ayahnya dalam komik itu. Si ayah menjawab, “Yuk rajin gosok gigi biar gigi sehat. Bersiwak (gosok gigi) merupakan sunah Rasulullah Saw. Bisa pakai siwak atau sikat dan pasta gigi.”

Naskahnya itu ia luncurkan dalam bentuk buku elektronik Pengen Jadi Baik (2011) secara gratis. Hingga akhirnya, impian itu datang. Salah satu penerbit menghubunginya, menawarkan untuk menerbitkan tulisan-tulisan Squ dalam sebuah buku.

“Ya Allah, impian sejak kecil punya buku terwujud. Ternyata ketika niat kita berkarya agar bisa bermanfaat untuk orang lain, maka Allah kasih rezeki tidak terduga,” ungkap Squ dalam hati kala itu.

Tahun 2014 komik Pengen Jadi Baik I terbit, disusul Pengen Jadi Baik 2 (2015), Pengen Jadi Baik 3 (2016), dan Pengen Jadi Baik 4 (2018). “Alhamdulillah, seluruh komik kini menjadi best seller di Gramedia. Penerbit yang pernah menolak naskah saya dulu,” syukur Squ. Sekitar 90 ribu komik telah terjual. Tahun ini ia juga akan membagikan gratis buklet komik Riba Bukan Opsi.

Di tengah kesuksesan Squ menjadi penulis sekaligus komikus, ia mengaku harus pula bekerja dengan maksimal sebagai fiskus. Ia harus mampu membagi waktu istirahatnya untuk terus membuat karya.

“Pulang kerja bikin komik sampai larut malam. Kadang sampai dini hari. Sebelum dan sesudah Subuh juga sesempatnya ngomik, baru berangkat kerja,” kata Squ yang juga mengaku pernah ditegur pimpinan lantaran dinilai ada penurunan kinerja. Namun, ia mengaku tak patah hati, baginya teguran itu menjadi bahan introspeksi diri dan penyemangatnya bekerja. Selain bekerja sesuai fungsi, Squ kerap ditugaskan membuat karikatur maupun komik layanan perpajakan di kantornya. Bagi Squ mimpinya saat ini tak lagi milik sendiri. Seutuhnya ia niatkan agar bermanfaat bagi khalayak.

Continue Reading

Recollection

‘Tsunami Gayus’ dan Langgam Penghibur sang Fiskus

Aprilia Hariani K

Published

on

Gayus adalah sejarah kelam yang tak akan pernah bisa dihapus. Namun, ia juga setitik hikmah untuk saling menguatkan dan terus berbenah.

The night seems to fade

But the moonlight lingers on

There are wonders for everyone

The stars shine so bright

Demikian petikan lagu “Kingston Town” karya UB40 yang diaransemen ulang dan dinyanyikan Iqbal Alamsjah dalam album perdananya yang dirilis 2010 silam. Iqbal—begitu lelaki kelahiran Jakarta ini biasa disapa—memang bukanlah musisi tanah air sekondang Chrisye, Broery Marantika atau penyanyi kawakan lainnya. Namun, soal kualitas suara, ia tak bisa dipandang sebelah mata. Terbukti, penyanyi senior sekelas Dewi Yull pun mau berduet dan merilis album bersamanya.

Bagi lelaki yang sejak tahun 2014 hingga 2017 menjabat Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik (humas) Kementerian Pariwisata ini, menyanyi bukan saja sarana menyalurkan hobi, tapi juga menyeimbangkan otak kanannya. Sebelum hijrah ke Kementerian Pariwisata, Iqbal bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sejak tahun 1990 dengan jabatan terakhir sebagai Direktur P2Humas Direktorat Jenderal Pajak.

Ide Iqbal untuk mengaransemen lagu UB40 itu bukan tanpa alasan. Selain ia memang hobi tarik suara, kala itu ia ingin menghibur rekan-rekan sejawatnya yang terpukul ketika mencuatnya kasus Gayus Tambunan. Seperti kita tahu, tahun 2010 silam, Kementerian Keuangan dan DJP terpukul dengan kasus suap itu. Kala itu banyak pegawai pajak yang malu dan terluka karena dedikasi mereka ternodai. Peristiwa itu sungguh menyakitkan. Namun, selalu ada hikmah positif di balik sebuah bencana. Kasus itu menjadi momentum revitalisasi reformasi birokrasi, tidak saja bagi DJP, tapi bagi banyak institusi pemerintah lainnya.

“Situasi saat itu, kami (pegawai pajak) seperti terkena bencana tsunami. Kami semua ‘sakit perut’, tsunami gara-gara Gayus,” kisahnya seraya mengelus dada.

Bagaimana tidak, Iqbal ingat betul, dampak kasus Gayus telah menyerang mental para fiskus. Bahkan, untuk turun dari angkutan umum di depan Kantor Pusat DJP pun pegawai pajak malu.

“Karena kernet bus selalu bilang, halte depan kantor adalah halte Gayus. ‘Gayus turun, Gayus turun, Gayus turun,’” kata Iqbal.

Menyulut semangat

Perih dan pahit yang melanda institusinya inilah yang memantik semangat Iqbal untuk menghibur dan menyulut semangat rekan-rekan sejawatnya melalui musik. Seperti kata filsuf Yunani Phytagoras, bermusik adalah sebuah jalan untuk membersihkan roh sehingga pada masa sang filsuf itu, musik begitu dimuliakan.

“Saya bikin album ini tidak lain untuk menetralisasi keadaan teman-teman. Bukan sok, ya. Saya hanya ingin menghibur teman-teman dengan musik supaya mereka tidak terfokus pada perbuatan (kasus) yang tidak mereka lakukan,” ucap pria yang pernah menjabat Kabid P2humas Kanwil DJP Jawa Timur Tahun 2008 ini.

Selain lagu UB40, dalam album perdananya itu, Iqbal juga mendendangkan lagu “What a wonderful World”— Louis Armstrong, “The Way it Used to Be”— Engelbert Humperdinck, dan lagu lokal “Manusia “ milik Radja. Ia berharap lagu-lagu itu dapat memantik semangat teman-temannya.

“Seperti kata hadis, khoirunnas anfa’uhum linnas. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama,” jelasnya.

Sebagai Direktur P2Humas kala itu, adanya kasus itu membuat Iqbal pun harus tanah menghadapi hantaman berita miring dari berbagai media nasional maupun internasional. Iqbal dituntut cermat dan tepat memberi penjelasan menghadapi serbuan pertanyaan para jurnalis setiap harinya, bahkan setiap menit melalui pesan singkat yang masuk ke ponselnya.

Kala itu, ia pun akhirnya membuat program edukasi perpajakan untuk wartawan setiap hari Jumat, sekaligus untuk mengakomodasi para wartawan dalam menghimpun informasi dari Ditjen Pajak secara akurat dan faktual.

“Bukan untuk soal kasus itu saja. Tapi saya juga jelaskan ke wartawan kerangka kerja prosedur masing-masing Direktorat. Kenapa Wajib Pajak (WP) ini diperiksa, ada kriterianya. Bagaimana WP Keberatan, bagaimana banding ke pengadilan, dan lain-lain. Teman-teman (wartawan) kami beri penjelasan yang benar supaya menulisnya juga benar,” ungkapnya.

“Gelombang tsunami” itu rupanya tak berakhir begitu saja. Di luar pagar kantor, mentalnya juga diuji dengan harus menghadapi ratusan demonstran. Momen perih ini berlangsung nyaris setiap hari selama empat bulan.

”Stres, pusing, seperti tsunami. Tapi, prinsip saya, ke mana-mana kami harus dapat memberikan penjelasan yang benar kepada para stakeholders, bukan hanya bentuk pembelaan,” kata Kasubdit Sarana Tenaga Penyuluhan Direktorat Penyuluhan Perpajakan DJP tahun 2002 ini.

Meski demikian, di balik semua gelombang yang menerjang, Iqbal tetap bersyukur ada hikmahnya. “Mungkin jika tidak ada ‘tsunami’ itu, album ini tidak ada,” kata pria yang hobi cocok tanam tabulampot ini.

Untuk para pegawai Ditjen Pajak, Iqbal berpesan agar selalu ingat akan seruan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati agar bekerja dengan profesional dan tahan godaan.

Anak Betawi

Kecintaan Iqbal pada musik sebenarnya bermula dari sebuah piringan hitam milik ayahnya, H. M. Djamin Ali. Hampir saban hari lagu-lagu lawas diputar di rumahnya, di daerah Tanah Abang Jakarta.

“Setiap hari lagu ‘Fatwa Pujangga’ diputar, kami menyanyi bersama. Suka duka, nyanyi. Eh, hidup ini enjoy aji, cuy ,” ungkap penyuka rompi kulit ini dengan logat Betawinya.

“Semua yang kukatakan rasanya tak berlebihan. Lalu bagaimana agar dapat yakinkan hatimu. Namun bila kau ragukan, sudah jangan kau paksakan. Setidaknya kau telah tahu segalaku untukmu…” lanjut Iqbal melantunkan lagu “Segala Untukmu” dalam album The Legend Reborn yang ia rilis bersama Dewi Yull pada awal 2018 lalu.

Bakat menyanyi Iqbal itu rupanya tercium oleh ayahnya. Apalagi saat itu ia juga gemar menikmati pertunjukan sebuah teater di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini. Khawatir tercebur ke dunia seni kian dalam, ayahnya dengan tegas melarang Iqbal menjadi musisi ataupun seniman. Alasannya klasik—kehidupan seniman yang cenderung dianggap tak terjamin secara ekonomi.

“Mending sekolah dulu,” kata Iqbal menirukan perkataan ayahnya waktu itu.

Kecemasan ayahanda dipatuhi oleh Iqbal. Ia sadar, musik memang sudah ada dalam sukmanya, tapi ia juga percaya, tak harus jadi musisi untuk dapat bermusik. Karenanya, ia kemudian fokus pada pendidikan dengan masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

“Di STAN itu sistem gugur, ketat sistem belajarnya. Tantangan kitalah untuk mengikutinya. Tapi, nyanyi bisa dilakukan di mana saja. Musik tidak terbatas ruang,” ujarnya, sebelum kembali mendendangkan lagu “Kharisma Cinta” dari album keduanya. “Cinta sungguh indah cintamu… Walaupun terasa hampa jika engkau tiada…”

Kerja kerasnya pun mengantarkannya menjadi seorang sarjana/Diploma IV. Di tahun 1990, ia menjabat sebagai Kepala Subseksi Pemeriksaan (UPPP) Bandar Lampung. Kemudian, di tahun 1996, ia meraih beasiswa di Vanderbilt University, Amerika Serikat.

Prinsip saya, ke mana-mana kami harus dapat memberikan penjelasan yang benar kepada para stakeholders, bukan hanya bentuk pembelaan.

Titik balik

Dua puluh empat tahun mengabdi di Ditjen Pajak mengantarkan Iqbal pada suatu keputusan tak biasa. Tepat tahun 2014, ia memilih pindah haluan dengan melamar di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf). Alasannya sederhana. Kepada Menteri Parekraf saat itu, Mari Elka Pangestu, yang mewawancarainya, Iqbal menjawab ia ingin memaksimalkan otak kanannya. Selain itu, ingin menjembatani anak-anak muda yang kreatif agar bisa mengali potensi mereka.

Syahdan, Iqbal diterima dan menjabat sebagai Direktur Ekonomi kreatif berbasis Desain dan Iptek (EKMDI). Iqbal, mengingat momen itu sebagai sebuah titik balik seorang anak Betawi yang cinta seni. Di bawah nakhodanya, sejumlah program yang memopulerkan istilah ekonomi kreatif pun terbangun. Misalnya, dalam hal mencipta lagu, paradigmanya bukan sekadar budaya atau seni, tapi juga mengandung esensi ekonomi kreatif. Ia juga fokus mendorong film animasi dan komik, buku fiksi dan nonfiksi, audio video, dan periklanan cetak maupun digital.

Dalam perjalanannya, rezim pemerintah pun berganti. Menteri Kabinet Kerja Jokowi-JK, Dr. Arief Yahya Msc sebagai Menteri Pariwisata, mendaulat Iqbal menjadi Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik (humas) Kementerian Pariwisata 2014–2017. Di sinilah kembali titik balik ia temui. Jabatan yang mempertemukannya lagi dengan awak media. Tahun lalu, Iqbal bahkan mampu mengantarkan Kementerian Pariwisata meraih dua penghargaan di ajang Anugerah Media Humas 2017 yang diadakan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Bakohumas. Pada tahun yang sama ia juga memperkenalkan nama panggungnya sebagai Billy Collomero dan meluncurkan album The Legend Reborn hasil duetnya dengan Dewi Yull. Nama panggung Billy Collomerro diusulkan oleh si pencipta lagu, Harry Tasman.

Tahun ini masa pensiun Billy Collomerro telah tiba. Namun, bukan berarti jiwa seninya ikut purna. Ia masih ingin merilis Album religi pop rock bersama Ian Antono (Godbless). Ia juga berniat merilis buku motivasi untuk memberi semangat para pensiunan pegawai negeri sipil untuk berkarya di bidang apa pun.

“Kita lihat saja Haji Muhidin (Latief Sitepu) jadi pemain sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Usia 66 tahun, pensiunan Kementerian Perhubungan jadi aktor antagonis terbaik,” sebut Doktor Marketing Strategik lulusan Universitas Padjajaran tahun 2007 ini.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News2 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News2 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News2 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News3 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News3 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News4 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News5 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News9 bulan ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News10 bulan ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News11 bulan ago

Majalah Pajak Print Review

Trending