Terhubung dengan kami

Feature

Memantik Asa Pembatik Muda

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ia menanamkan rasa cinta anak-anak terhadap batik, mengajari mereka berkarya dan merawat warisan luhur budaya bangsa.

Guratan keceriaan puluhan pembatik cilik terpancar tatkala Anjani Sekar Arum pulang ke kediamannya, di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur membawa piala SATU Indonesia Awards 2017, Senin siang (2/11). Tak hanya itu, pendiri Sanggar Batik Andaka itu juga menenteng selembar hadiah simbolik dengan nominal 60 juta rupiah.

“Hore, Ibu menang, iku duite kanggo mlaku-mlaku nyang Jawa Timur ya, Bu,” celetuk salah satu anak sanggar itu. “Anjani tersenyum simpul, “Iya, iya, ini kalian loh yang juara, mbatike kudu apik, aja males,” jawabnya.

SATU Indonesia Awards adalah akronim dari Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia, sebuah apresiasi dari PT Astra International Tbk. kepada sosok inspiratif yang telah berinovasi di bidangnya. Pada ajang itu, Anjani berhasil menyingkirkan lebih dari tiga ribu peserta melalui pemberdayaan seni dan ekonomi kepada anak-anak usia 8 hingga 13 tahun.

Sejak tahun 2015, Anjani memang aktif menghimpun anak-anak yang ingin belajar dan melestarikan warisan bangsa, khususnya batik. Ia memulainya dengan menjaring siswa di seluruh sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas di Kota Batu. Sayangnya, awalnya, baru dua orang anak yang tertarik. Mereka adalah Aliya Diza, usia 9 tahun dan Salsa Adilla, usia 11 tahun yang tertarik belajar batik tulis. Mulai saat itu, setiap sore, Anjani rutin mengajarkan keahliannya membatik kepada kedua anak tersebut.

“Menurut saya, menjaga warisan bangsa harus ditanamkan sejak dini. Membatik itu mengajarkan anak untuk disiplin, telaten, dan sabar,” tutur pemilik Anjani Batik Galeri ini kepada Majalah Pajak.

Proses pembelajaran ia mulai dari membuka paradigma anak tentang keindahan batik. Anjani membuka dialog untuk merangsang imajinasi anak. Cara itu dinilai membuat anak-anak lebih mudah paham. Sebab, Anjani berpendapat, daya kreativitas anak-anak tidak bisa dibatasi. Imajinasi mereka luas dan lebih jujur mengekspresikan apa yang mereka lihat.

Setelah itu, dengan peralatan membatik yang telah ia sediakan, seperti kompor, canting (alat untuk melukis atau menggambar dengan coretan lilin malam pada kain yang hendak dibatik), kain katun, malam atau lilin, perempuan kelahiran Batu, 12 April 1991 ini mulai mengajarkan tahap demi tahap membatik.

Pertama, Anjani mengajak Aliya dan Salsa untuk menuangkan imajinasi apa pun di atas kain menggunakan pensil. Proses tersebut memakan waktu satu hingga dua hari. Anak-anak, kata Anjani, memiliki gaya motif yang khas hingga sekarang, yaitu motif lanskap kota. Setelah motif disetujui Anjani, barulah kedua pembatik cilik ini menuju proses canting. Ini adalah proses utama dalam membatik karena membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Pada kedua proses ini, Anjani tak ingin mengintervensi, sebab di situlah ia menjaga marwah keautentikan sang pembatik.

Setidaknya seluruh proses itu paling lama dikerjakan selama satu minggu. Aliya sudah mematenkan nama untuk karya batik tulisnya, yaitu Marubayu Rupo Batu Ayu. Sedangkan, Salsa belum ada nama tapi karyanya khas bermotif air terjun, yang terinspirasi dari air terjun di samping rumahnya.

Nilai ekonomi

Selanjutnya, giliran Anjani bertugas memasarkan karya pembatik-pembatik cilik itu. Syukurnya, Anjani yang juga menjadi guru seni dan budaya di salah satu sekolah, memudahkan langkahnya untuk memperkenalkan kepada Pemerintah Kota Batu. Gayung pun bersambut. Pasalnya, pemkot setempat tertarik membeli karya kedua pembatik cilik itu dan berkomitmen akan membeli setiap karya batik tulis sanggar Andaka, sebagai cindera mata resmi khas Batu. Harga batik tulis sepanjang dua meter dinilai Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu.

“Sepuluh persen dari penjualan batik untuk membeli kompor dan canting, lilin, dan bayar pajak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),” tambahnya. Selain itu, pembatik cilik juga harus membeli sendiri kain katun bahan untuk membatik seharga Rp 175 ribu.

Artinya, para pembatik cilik ini masih dapat mengantongi Rp 250 – 350 ribu per minggu. Sebulan, mereka mampu memproduksi empat sampai lima batik dengan penghasilan bersih Rp 1 juta-1,4 juta.

Gegap gempita sanggar tampaknya memancing anak-anak lain untuk ikut belajar membatik. Saat ini, siswa di Sanggarnya bertambah menjadi 30 orang. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu.

“Alhamdulillah, anak-anak berbakat ini selain berkarya juga membantu ekonomi keluarganya,” syukur Anjani.

Permintaan pasar yang makin tinggi, membuat pembatik cilik ini semakin giat membatik. Untuk meningkatkan nilai jual, Anjani bertransformasi dengan menggunakan kain Sutera. Modal kain Sutera sekitar Rp 1 juta–Rp 2 juta. Ia juga mem-branding batik karya anak di sanggarnya sebagai batik motif lanskap Kota Batu. Termasuk di dalamnya ada representasi berbagai macam buah khas Kota Batu, seperti apel dan stroberi.

Sempitnya sanggar juga membuat Anjani memberikan peralatan batik, seperti tiang penyangga batik, canting, dan kompor kepada pembatik cilik untuk dibawa pulang ke rumahnya masing-masing.

“Alhamdulillah, uang hadiah dari Astra akan saya gunakan untuk menyewa sanggar yang lebih besar,” tambah perempuan berkacamata ini.

Batik Bantengan

Sejatinya, apa yang dilakukan Anjani untuk anak-anak, merupakan pengabdiannya kepada kota kelahirannya. Sebab, jauh sebelum ia mendirikan sanggar, ia telah memopulerkan batik tulis khas Batu bernama “Bantengan” di dunia internasional. Tepatnya pada tahun 2014, ia diajak oleh Walikota Batu untuk pameran di Praha, Ceko.

Kecintaan Anjani pada batik tulis, ternyata sudah ada sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Anjani remaja sudah kerap membatik dengan motif kepala banteng. Inspirasinya, dari budaya bantengan, seni pertunjukan yang berasal dari kaki Gunung Arjuno, Jawa Timur.

“Batik itu harus punya narasi, enggak boleh asal-asalan. Contoh, saya membuat kepala banteng dengan motif bambu-bambu di setiap sisinya. Di ritual bantengan, memanggil leluhur, di sekelilingnya itu dipenuhi oleh bambu,” jelas Anjani.

Anjani mengaku belajar tentang batik secara autodidak. Namun, ia percaya, bakatnya mengalir dari sang ayah Agus Sulastri, seorang pelukis aliran realis.

“Ayah enggak pernah mengajari saya melukis, tapi sejak kecil saya suka memerhatikan gerak tangan ayah di atas kanvas,” yakin sulung tiga bersaudara ini.

Selain itu, dukungan sang bunda, Nanik Sulastri, menguatkan tekadnya untuk mengambil jurusan seni dan desain di Universitas Negeri Semarang (UNS), konsentrasi jurusan batik. Skripsinya fokus pada batik tulis Bantengan yang ia ciptakan saat SMA.

Tugas akhirnya itu membuat dosennya terkesan. Ia pun mendapat rekomendasi untuk meraih beasiswa pascasarjana di UNS, sekaligus menjadi dosen tetap di sana. Anjani menolak, ia memilih berkarya membatik seraya memberi edukasi kepada generasi penerus bangsa. Saat ini, bersama sanggar binaannya, ia sudah melanglang buana ke sejumlah negara di Eropa. Ia berharap, batik-batik karyanya dapat menjadi ikon kota Batu tercinta.

Menurut saya menjaga warisan bangsa harus ditanamkan sejak dini. Membatik itu mengajarkan anak untuk disiplin, telaten, dan sabar

Batik itu harus punya narasi, enggak boleh asal-asalan.-Aprilia Hariani

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Feature

Mengantar Depok Menjadi Kota Genius

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bersama generasi muda Depok, Didi menggerakkan ekonomi sosial berbasis digital untuk membangun Depok menjadi kota genius.

Sebelum jumpa di kantornya, di kawasan Margonda Depok, Pendiri Code Margonda, Didi Diarsa merekomendasikan Majalah Pajak untuk mencoba aplikasi TemanJalan garapannya. Uniknya, tak seperti aplikasi lainnya yang berjalan mandiri di atas sistem operasi telepon pintar (iOS atau Android), TemanJalan bekerja berbasis aplikasi Line. Aplikasi ini menawarkan layanan berbagi tumpangan, bagi mahasiswa atau pun pekerja dengan mudah, aman, dan yang harus dicatat, aplikasi ini free alias gratis!

Cara kerjanya, pengguna hanya harus add TemanJalan di Line, lalu menuliskan rute yang akan dituju, serta mencantumkan jadwal keberangkatan. Kali itu kami melakukan simulasi. Mengorder dari Kecamatan Sawangan, Kota Depok menuju Detos Mall, Depok. Selang beberapa menit, anggota lainnya menerima request tumpangan yang kami ajukan.

Untuk memudahkan koordinasi, terdapat fitur in-app chat yang dapat digunakan. Anda tak perlu khawatir, karena meski di antara pengguna sebelumnya tak saling kenal, keamanan aplikasi ini tak perlu diragukan. Baik pengendara dan penumpang, diharuskan mengunggah Kartu Mahasiswa atau KTP (Kartu Tanda Penduduk) sebelum melakukan perjalanan.

Berbeda dengan transportasi berbasis digital lainnya yang menerima pembayaran, pada TemanJalan, pemberi tumpangan atau driver hanya akan mendapat poin yang dapat ditukarkan dengan voucher bensin, pulsa, Starbucks, dan lain-lain.

“Bagaimana kesan menggunakan TemanJalan, punya teman baru, kan?” sambut Didi sesampainya kami di lantai 2 Detos Mall, Depok, Rabu sore (28/9).

Pria yang mengaku sudah 30 tahun tinggal di Depok itu, agaknya telah tahu persis kebutuhan masyarakat kota Depok, khususnya generasi milenial. Kota Belimbing ini memang dihuni oleh banyak mahasiswa dan pekerja. Terbukti, sejak diluncurkan 2016, TemanJalan sudah mencatat 32.509 perjalanan.

“Orientasi generasi milenial adalah mencari banyak kawan dan jaringan. Anda dapat bertukar wawasan selama perjalanan,” jelas Didi. Selain itu, tentu aplikasi juga dimaksudkan agar dapat membantu mengurai kemacetan lalu lintas di masyarakat urban.

Ternyata, di Depok, Didi tak hanya mengembangkan aplikasi TemanJalan. Ia juga menggerakkan pemuda Depok untuk mengembangkan aplikasi ekonomi berbasis sosial lainnya. Ide itu tercetus setelah ia memenuhi undangan workshop bertajuk “Ekonomi Kreatif berbasis Digital” dari sebuah yayasan milik Pangeran Charles di London tahun 2012 silam.

Dibantu tiga orang pemuda, kala itu, Didi menciptakan Aplikasi bernama Kostoom, untuk membantu para UMKM, khususnya penjahit di Kota Depok. Idenya sederhana, yakni bagaimana ibu rumah tangga memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk menerima order jahitan tanpa harus meninggalkan rumah.

Meskipun awalnya Didi bersama timnya harus bergerilya sosialisasi dari pintu ke pintu, kini setidaknya sudah lima ribu penjahit yang telah memanfaatkan aplikasi Kostoom.

“Dengan aplikasi Kostoom ibu-ibu di kota Depok punya quality time dengan keluarga dan punya penghasilan. Ini yang diinginkan sebuah kota,” kata anak pertama dari pasangan Oma Surya Saputra dan Maysarah ini.

Dalam pengembangan dan menciptakan aplikasi kreatif lainnya, Didi kini dibantu oleh ratusan pemuda dari berbagai macam kalangan. Mulai dari mahasiswa IT (Informasi Teknologi), dan 1.900 komunitas lainnya. Kini, Code Margonda adalah semacam coworking space yang dimanfaatkan anak-anak muda kreatif untuk menimba ilmu, saling bertukar pikiran dan berkolaborasi melahirkan produk-produk berbasis teknologi. Setidaknya sudah dua ribu kelas dibuka untuk menggelar pelatihan bisnis digital. Bahkan, Google sedang mendukung Code Margonda untuk melakukan program pelatihan developer dan programmer di sepuluh kota di Indonesia.

Usaha yang ia pimpin ini pun akhirnya belakangan mulai dilirik oleh Pemerintah Kota Depok. Di awal tahun 2017 beberapa kali, Code Margonda ditunjuk sebagai penyelenggara pelatihan UMKM Digital, pelatihan Android untuk birokrasi, dan lain-lain.

Genius city

Dengan melihat potensi keahlian pengembangan kreatif social industry di kota Depok, Didi meyakini, Depok tengah bersiap menjadi kota yang genius. Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Sembari menjelaskan, Didi mengutip isi buku The Geography of Genius yang ditulis Eric Weiner. Dikatakan bahwa, Yunani menjadi negara yang melahirkan ilmuwan genius, karena dikelilingi oleh sekolah dan perguruan tinggi.

“Saya pikir Depok tidak beda jauh dengan Yunani, karena juga dikelilingi oleh universitas. Saya melihat generasi muda Depok sangat kreatif. Ini yang akan mengantarkan Depok menjadi genius city,” yakin pria lulusan Geografi UNJ (Universitas Negeri Jakarta) tahun 2000 ini.

Kini Didi juga sedang mengembangkan Margonda Valley untuk mewadahi lebih banyak lagi generasi muda yang kreatif di bidang digital.

“Bayangkan Universitas Indonesia punya 100 ribu mahasiswa, Gunadarma punya 150 ribu mahasiswa. Sepuluh persen saja dari jumlah itu, pemuda dapat berkontribusi berinovasi mengembangkan UMKM masyarakat,” paparnya.

Didi berharap, nantinya genius city dapat menjadi penopang terkokoh PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kota Depok. Berkaca dari London, industri kreatif mampu berkontribusi 40 persen untuk APBN.

“Tapi pemerintah jangan ingin langsung memetik buah dari bisnis digital ini. Semoga dapat merumuskan pajak yang sesuai agar bisnis digital tumbuh terus dan negara makmur,” harapnya.

“Saya melihat generasi muda Depok sangat kreatif, ini yang akan mengantarkan Depok menjadi genius city.”

“Pemerintah jangan ingin langsung memetik buah dari bisnis digital ini. Semoga dapat merumuskan pajak yang sesuai agar bisnis digital tumbuh terus dan negara makmur.”-Novi Hafni dan Aprilia Hariani

Lanjutkan Membaca

Feature

Mencetak “Master” Andal Berkarakter

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Berawal dari emper sebuah masjid di kompleks terminal, Sekolah Master mengubah anak-anak marginal menjadi generasi cerdas dan memiliki karakter.

Sekolah Master bukanlah lembaga pendidikan tingkat expert atau sekolah tinggi seperti yang Anda bayangkan. Sekolah yang dirikan Nurrohim ini adalah akronim dari Sekolah Masjid dan terminal. Ada juga yang menyebutnya Sekolah Masyarakat Termarginal, atau berbagai sebutan lain yang senada. Namun, apalah arti sebuah lama. Pria kelahiran Tegal 1971 ini pun tak ambil pusing, orang mau menyebutnya dengan istilah apa. Yang pasti, sekolah itu ia bangun untuk memperjuangkan hak-hak dasar anak bangsa yang selama ini belum bisa dipenuhi oleh negara. Terutama anak-anak jalanan di seputar Depok, Jawa Barat dan sekitarnya.

Sekolah Master adalah sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) gratis yang berada Yayasan Bina Insan Mandiri (Yabim). Sekolah ini didirikan sekitar tahun 2000 untuk memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak jalanan yang berada di sekitar terminal terpadu Kota Depok, Jawa Barat.

Semua bermula dari keprihatinan Nurrohim dengan kondisi anak jalanan, pengamen, pedagang asongan, pemulung, dan anak-anak yatim dan dhuafa yang ada di seputar wilayah Depok. Terlebih lagi, bagi kota sekelas Depok yang mendeklarasikan diri sebagai kota pendidikan dan memiliki beberapa universitas ternama.

Awalnya, kegiatan belajar mengajar berlokasi di halaman Masjid Al-Muttaqien Teminal Depok. Namun, semakin lama, karena gratis, sekolah ini banyak diminati sehingga Nurrohim berpikir keras untuk mencarikan tempat yang lebih nyaman untuk kegiatan belajar mengajar. Dengan berbagai perjuangan dan dukungan para donatur, akhirnya PKMB Yabim bisa berdiri di tanah wakaf seluas 8000 meter persegi.

Meski gratis, mutu sekolah ini pun tak kalah dengan sekolah konvensional. Sekolah Master memiliki Program Pendidikan Usia Dini (PAUD) untuk usia 3-5 tahun, Program Sekolah Dasar (Paket A), Program Paket B (setara SMP), program Paket C (setara SMA), SMP-SMA terbuka. Selain itu, sekolah ini juga membekali peserta didiknya dengan berbagai pelatihan kewirausahaan. Mulai dari kursus komputer, menjahit dan kesenian.

Untuk membedah lebih jauh tentang PKBM Yabim, akhir Juli lalu Majalah Pajak mewawancarai Nurrrohim. Berikut petikannya.

Bisa Anda ceritakan gambaran latar belakang ketertarikan Bapak membina generasi muda yang tersisihkan?

Semua bermula dari keprihatinan saya, karena Depok yang mendeklarasikan sebagai kota pendidikan dan religi, tapi masih banyak adik-adik kita di usia pendidikan yang tersisihkan. Ironis bila kota yang penuh dengan universitas favorit seperti Universitas Indonesia, Universitas Gunadarma, dan Universitas Pancasila ini masih banyak adik-adik kita yang terlunta-lunta hidup menggelandang dan tidak punya keahlian. Saat itu saja (tahun 2000) BPS menyajikan data, lulusan SD yang mau ke SMP ada 600 anak yang tidak bisa sekolah. Mungkin karena Kota Depok yang berdiri tanggal 27 April 1999 adalah kota yang baru memisahkan diri dari Kabupaten Bogor, sehingga perhatian hal-hal seperti ini masih kurang maksimal. Atas dasar itu, saya coba mendirikan Sekolah Master yang bernaung di bawah Yayasan Bina Insan Mandiri.

Kalau bentuk yayasannya langsung dibangun saat itu juga atau belakangan?

Sekolah ini dirintis tahun 2000, dan setelah awal 2003, baru bikin kelompok kelas-kelasnya. Awalnya klasifikasinya hanya anak anak, remaja, dan dewasa, fokusnya lebih ke pembinaan karakter, pengajian halaqo, dan keterampilan wirausaha. Setelah itu kami termotivasi untuk dilegalkan dan selanjutnya bersertifikasi agar lulusannya bisa ikut ujian persamaan. Tadinya cuma ijazah lokal, informal, atau nonformal. Ya semacam ijazah BLK (balai latihan kerja), karena memang kerja sama dengan beberapa lembaga kursus. Awalnya, karena saya hanya berpikir untuk percepatan bagaimana saya merekomendasikan ke dunia kerja. Akan tetapi ternyata ada tuntutan harus ada ijazah formalnya. Sehingga saya coba bagaimana supaya anak yang akhlaknya sudah baik, perilakunya sudah bagus, keterampilannya sudah cukup, dan besertifikat bisa mendapatkan ijazah sekolah formal, agar bisa terserap dunia kerja. Agar minimal mendapatkan ijazah SMP dan SMA, akhirnya dibentuklah sekolah yang bisa menginduk ke SMP dan SMA negeri, namanya SMP, SMA terbuka.

Tapi usaha Itu masih terkendala. Anak anak ini di awal ijazah harus ada KTP, dan KK orang tuanya, serta akta kelahiran. Kenyataannya dokumen yang dibutuhkan tersebut umumnya mereka tidak punya. Kemudian kami lakukan berbagai terobosan, membicarakan masalah sosial ini dengan Kepala Dinas, Kepala Sekolah, Walikota, dan DPRD supaya ada solusi dan dukungan. Awalnya, kami baru mendapatkan dukungan bagi yang dokumennya lengkap. Namun lumayan, hal itu tetap bisa membantu masalah ketersediaan ruang sekolah negeri yang umumnya terbatas bagi mereka yang tersisihkan. Oleh karenanya, saya dahulukan bagi mereka yang dokumennya lengkap, dimasukkan ke sekolah negeri, tapi belajar bisa di sini dan enggak perlu bayar. Nanti ijazahnya dari sekolah negeri. Alhamdulillah, ide ini bisa diterima dan membantu melayani yang tidak tertampung di sekolah negeri karena saya, kan, enggak memungut. Akhirnya didukung bahkan kami bisa kerja sama dengan sekolah negeri, dan sekarang sudah berjalan.

Hanya untuk yang berikutnya, karena program pemerintah yang selalu diawali dengan identitas, sementara mereka banyak yang “bodong”, menjadi tantangan baru pada waktu itu agar mereka bisa bersekolah. Akhirnya, saya bikin sekolah yang membuat mereka bisa bersekolah, walau hanya cukup tulis nama saja. itu namanya PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat). Saya kasih nama Bina Insan Mandiri, sama kaya nama yayasannya. Mereka bisa ikut ujian setara SD paket A, setara SMP paket B, dan setara SMA paket C. Dengan ini bahkan bisa bebas umur. Mulai dari anak-anak sampai yang punya anak.

Dengan model yang terakhir ini, saya bisa membantu banyak orang, termasuk mereka yang di Lapas-lapas, seperti Lapas Pondok Rancek, Pledang, dan terakhir kami sedang proses kerja sama dengan Lapas Gunung Sindur (LGS). Di LGS penghuninya banyak remaja yang terjerat mafia Narkoba. Mereka sebagai kurir kena hukuman sampai delapan tahun, dan tentu saja jam sekolah mereka hilang. Oleh karena itulah kami buat program paket di sana, bekerja sama dengan Dewan Dakwah untuk membina akhlak penghuni lapas remaja tersebut. Program ini sudah berjalan 6 tahun—bahkan Pak Susno Duaji adalah salah satu pengajar senior di sekolah master yang di Lapas. Jadi, kami kerja sama dengan dan libatkan tahanan yang berbobot secara keilmuan. Sebagai imbalannya, yang bersangkutan dapat kemudahan seperti remisi, dan keringanan hukuman.

Model pendidikan seperti apa yang Anda terapkan di sekolah ini?

Saya bikin program yang pertama, yang prioritasnya adalah pendidikan. Karena dengan pendidikan saya yakin kita dapat memutus rantai kemiskinan. Apa pun namanya yang penting mereka bisa terbina, dan kami fokuskan pendidikan berbasis karakter dan entrepreneur. Terserah namanya dari mulai yang wira-wiri, wira-suara, wira-nada, wira-karya, atau wira swasta. Fokus kami, di awal perjalanan, mereka kami bina agar akhlaknya baik. Terus nanti kami ikutkan ujian persamaan yang disetarakan, yakni Paket A, paket B, Paket C. Setelah itu dibekali dengan keterampilan kewirausahaan. Saya ingin membina anak-anak ini supaya cerdas, aktif, dan mandiri, berakhlak karimah. Bahkan kami berkomitmen sebagai program yang visinya selain melayani yang tidak terlayani, menjangkau yang tidak terjangkau, dari usia anak-anak sampai yang punya anak.

Kami juga punya program satu keluarga satu sarjana. Visi itu kami kristalkan, ingin bagaimana menjadikan masyarakat marginal menjadi master-master keahlian yang mandiri. Indah, kan, bila satu keluarga yang marginal tadi ada S2-nya yang berkualitas. Maka kami berupaya walaupun hari ini Yabim baru menyediakan pendidikan tingkat TK, SD, SMP, dan SMA, nanti ke depan mereka akan mampu membanggakan dan mengangkat derajat keluarganya, karena hadirnya pengabdian masyarakat, pengasuhan dan pendampingan.

Metode dan sistem pembelajarannya hampir sama (dengan sekolah reguler). Hanya saja ada yang harus disesuaikan pendekatannya. Untuk TK kami menginduk pada pendidikan IHF (Indonesia Heritage Foundation), seperti pendidikan karakter dengan sistem yang tersentral. Kalau SD, SMP, SMA kita mengacu kurikulum Diknas, tapi pendekatan pembelajarannya menggunakan pendekatan bimbingan belajar privat. Di antaranya 20-30 persen tatap muka dan tutorial, 70% belajar mandiri. Karena enggak semua bisa mengikuti waktu penuh. Kami berikan dispensasi belajar di rumah mandiri tiga hari, dengan cara memberi tugas. Tugas itu akan didiskusikan dengan mentor dan pengajarnya pada saat datang ke kelas nantinya.

Tiga hal yang ditekankan adalah hasil ujian nasional, pendidikan karakter, dan terbangunnya jiwa kewirausahaan. Kami tidak membebankan standar yang tinggi bagi mereka, cukup mencapai standar kompetensi terendah, karena sejak ijazah di tangan, mereka telah siap dan punya keberanian menggunakan keterampilan yang diperoleh di sini dan dibutuhkan dunia kerja. Termasuk karakter yang kenyataannya justru menjadi kunci sukses mereka.

Oleh karena itu, kami sangat serius menyiapkan budi pekerti mereka melalui penanaman akidah, akhlak, dan adab. Kami berusaha menyiapkan hasil didik yang siap bekerja sama, toleransi, memiliki empati yang kuat, peduli, mempunyai rasa kekeluargaan, mudah bersosialisasi, peka terhadap kejadian di lingkungannya, untuk selanjutnya saling tolong menolong dalam kebaikan, cepat tanggap untuk aksi langsung, serta punya karya yang memberikan kebaikan.

Kami juga mengembangkan sikap rasa syukur, bahwa keprihatinan sebetulnya adalah pendidikan yang sangat bermanfaat dari Yang Maha Kuasa agar kita menjadi kuat. Pengembangan rasa syukur ini kita namakan pelajaran ke-Masteran. Bahwa menjadi master seyogianya berangkat dari sebuah keprihatinan, kepedulian terhadap problem masyarakat sekitar. Bagaimana kita bersikap ketika kita melihat suatu masalah, jangan sampai kita sibuk meributkan masalahnya, tapi bagaimana mencari solusi atas masalah tersebut. Kita jadikan suatu masalah menjadi masalah kita bersama, agar semua orang akan tergerak bersama-sama memikul masalah tersebut sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

Dengan memikul beban bersama-sama, maka beban akan jauh lebih ringan, dan solusi-solusi tangan Allah Swt insya Allah akan hadir pada saatnya. Misalnya saja masalah Pendidikan anak-anak terpinggirkan ini, dengan dipikul bersama-sama, pendidikan yang mahal itu ternyata bisa teratasi tidak harus mahal, tapi sebaliknya walaupun murah bukan berarti murahan.

Setelah lulus ditempa di Sekolah Master ini apakah akan dilepaskan, atau ada semacam beasiswa ke perguruan tinggi—tadi Anda katakan, di sini jenjang pendidikan tertinggi baru tingkat SLTA?

Melalui jaringan silaturahmi (donatur) kami bisa kuliahkan mereka ke mana-mana—Di UI sudah ada 20 anak lebih, bahkan ada sampai kuliah ke luar negeri. Anda bisa lihat di YouTube. Searching saja Sekolah Master Depok. Tahun ini dari 13 anak yang lulus, dua orang ke UI. Tahun lalu dua orang juga. Selalu minimal dua orang diterima di UI. Tapi bisa 4, bisa 5 orang. Itu sebabnya yang akhirnya Master ini bisa berkembang. Dengan perkembangan ini,saya berharap Master bisa menjadi laboratorium kehidupan untuk semua pusat kajian dan penelitian tesis, disertasi, dari berbagai perguruan tinggi, dalam negeri dan luar negeri.

Mereka juga saling mengasuh sehingga ikatan emosional dan batinnya menyatu. Mereka juga saling berbagi pengalaman, dan solusi ketika menjadi kakak asuh. Mereka yang kuliah di sekitar Depok ini menjadi relawan. Relawan itu adalah inti kegiatan kami. Anak-anak itu kami siapkan, dan dimotivasi sesuai potensinya. Ada yang kelas akademis, yang taktis, yang ahli bisnis, yang bisa elektro, sinematografi, fotografer, dan editing. Contohnya, ada anak di sini yang jadi seorang kreator film Sopo Jarwo. Dia telah disiapkan lab yang bagus yang terkoneksi dengan internet.

Kami juga bermimpi segera punya sekolah tinggi berbasis pada karakter dan keahlian. Inginnya menyiapkan anak-anak yang divonis bermasalah itu nantinya bisa mandiri, bahkan bisa menjadi entrepreneur berkelas, sehingga cap atau anggapan mereka biang masalah, pelaku kriminal, dan susah diatur bisa kita buktikan bahwa itu semua tidak benar. Kemiskinan dan ketelantaran sebetulnya akibat dari sistem dan tatanan sosial yang ada saat ini, yang membuat orang saling tidak peduli dan saling menyengsarakan.

Khusus untuk yang berminat pada masalah keimanan, kami ada kelas tahfidz. Kelas ini dikonsentrasikan pada pendalaman materi keagamaan, akidah, yang kelak diproyeksikan dapat kuliah beasiswa ke Timur Tengah. Di antara mereka sudah ada yang dikirim ke Turki, ke Madinah, dan ke Libya. Sedangkan untuk yang kelas akademisnya, umumnya di kirim ke UI.

Tahun ini ada berapa siswa yang belajar di sini?

Kalau tahun ini, siswa TK ada 120 siswa, SD 550 orang, SMP sekitar 600-an siswa, dan SMA sekitar 800 siswa.

Hingga saat ini sudah berapa orang anak-anak marginal yang lulus dan menjadi sarjana atau bekerja?

Kalau yang sarjana sudah hampir 300-an. Kalau yang lulusan SMA saja sudah ribuan alumni Master. Selama ini komposisi kelulusannya, kita contohkan yang kelulusan tahun 2006 atau 2007. Yang ujian enggak kurang dari 600-800 siswa. Komposisinya 15-20 persen masuk perguruan tinggi. Jadi, setiap 100 orang, rata-rata 15 orang ke perguruan tinggi, dan 15 lagi diterima beasiswa di perguruan tinggi swasta, 50 persen lagi kerja di sektor formal, seperti di pom bensin, toko ritel/minimarket, buruh pabrik, perkantoran, satpam, cleaning service dan sebagainya. Ada 15 orang lainnya ada yang membuka usaha sendiri. Sayangnya 10-20 persen masih menganggur. Paling tidak kami berharap jumlah entrepreneur yang baru 10 persen bisa kami tingkatkan menjadi 15 persen, dan nantinya mereka bisa menyerap teman-temannya yang masih menganggur.

Kami juga berharap mereka yang bekerja sebagai operator honorer seperti cleaning service, office boy, baby sitter, dan SPG bisa mempunyai rencana hidup yang lebih matang. Sehingga mereka yang SD bisa segera mengambil paket B, yang SMP bisa mengambil paket C, dan yang SMA bisa kuliah. Untuk itu kami juga punya kelas eksekutif malam, yaitu Jumat, Sabtu, dan Minggu malam. Mereka sekolah gratis juga, dan kelak diharapkan mereka bisa membuat rencana keuangannya sendiri, dan menikmati kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.

Untuk kuliah kami juga membantu negosiasi dengan universitas swasta agar mau memberikan beasiswa. Universitas atau sekolah tinggi yang bisa diajak bekerja sama kami sampaikan informasinya ke alumni yang sudah bekerja, dan mereka bisa berkuliah dengan diberikan beasiswa diskon dan cicilan yang mereka mampu mencicilnya. Mudah-mudah ikhtiar ini bisa meningkatkan karier dan taraf hidup mereka. Kami selalu mengingatkan mereka untuk selalu menjadi pekerja keras yang jujur, agar ijazah mereka kelak bermanfaat karena karakter dan produktivitas mereka yang menonjol.

Walaupun di Indonesia masih melihat asal sekolah. Kami yakin etos dan hasil kerja tetap menjadi pilihan dunia usaha. Kami tidak ingin mental mereka seperti orang-orang yang memaksa masuk sekolah favorit dan akhirnya rusak mental karena main “duit”. Kita tidak bisa menunggu pemerintah mampu memerhatikan pendidikan seperti di negara maju, yang sekolahnya bagus, gurunya bagus, dan gratis buat mereka yang kemampuan ekonominya terbatas. Jadi sebelum nantinya sekolah seperti Master ini tidak diperlukan lagi karena infrastruktur pendidikan di Indonesia yang sudah bagus, kita semua harus berjuang bagi mereka-mereka yang masih tertindas kehidupan sosialnya. Ini menjadi tugas kita semua.

Para pengajarnya dari mana dan bagaimana gambaran latar belakang mereka?

Kalau relawan tetapnya ada 80-an guru, tapi totalnya 200 guru dan narasumber yang silih berganti. Ada yang karena lagi bikin skripsi sambil mengajar; bikin tesis, disertasi, penelitian, dan yang sedang tugas kuliah. Mereka keluar masuk saja. Kalau relawan tidak banyak kayak “jailangkung” datang enggak diundang, pergi enggak diantar.

Di sini kami menyadari punya keterbatasan secara finansial dan keilmuan, jadi kami membangun kemitraan dengan para praktisi, akademisi, perguruan tinggi, dan kalangan dunia usaha, dinas terkait, pemda, dinas pendidikan, kesehatan, dinas sosial, dan Satpol PP. Mereka itu kami coba libatkan semua. Alhamdulillah banyak dari mereka mau jadi guru tamu di sini. Kalangan dunia usaha dan professional ada satu hari untuk mengajar. Bukan hanya aktivis pengabdian masyarakat, guru, mahasiswa atau dosen, tapi juga kalangan dunia usaha tingkat manajerial. Namanya guru tamu, yang kami libatkan di hari Sabtu di kelas inspirasi. Ada juga teman teman jurnalis dan penulis yang melibatkan diri. Tentunya banyak yang berharap, walaupun masih kelas 1, 2 , dan 3, terinspirasi bagaimana bisa menjadi penulis, dan jurnalis. Alhamdulillah jurnalis atau wartawan yang terlibat banyak yang dari media terkenal, yang mau menceritakan karya-karyanya dari sisi dinamika dari proses ide sampai dengan tulisan tersebut selesai.

Kami berusaha setransparan mungkin, dan Alhamdulillah, banyak mengundang SDM yang bagus untuk ikut sebagai relawan. Mereka yang kami undang, juga bersedia untuk kerja sama mewujudkan impian dan harapan anak-anak terlanjur percaya dengan kami. Kami terharu, mereka punya impian bahwa jendela masa depan mereka ada di sekolah Master. Tugas kita bagaimana memfasilitasi anak-anak ini supaya impian dan harapan mulia tersebut terwujud.

Di Master ada istilah relawan, guru inti, pendamping, dan guru tamu. Dengan itu kami lebih mudah mengajak berbagai kalangan untuk terlibat, Bersama-sama membentuk profesionalitas para peserta didik dari kalangan yang selama ini marah dengan lingkungan yang mencampakkan mereka. Menjadi suatu pengalaman yang indah yang akan terpatri kelak, bila mereka yang menaruh marah dan ketidakpedulian, bisa bangkit menjadi masyarakat yang produktif dan menebarkan kebaikan bagi lingkungan yang dulunya mereka rasakan tidak memedulikan mereka.

Mimpi itu membuat kami mencoba berbagai cara dan terobosan yang akrobatik, tidak sekadar inovatif, kreatif, dan atraktif, tapi dalam waktu yang singkat padat, anak ini harus bisa punya pengalaman pembelajaran yang menyenangkan dan sekaligus mampu menguasai materi. Bukan sekadar teori tapi bisa aplikasi. Kami di sini didesak dengan waktu yang singkat, dan ditambah lagi muridnya, kan ribuan. Hampir 3000-an di sini. Di TK, SD, SMP, dan SMA. Yang di Master saja ada 2000-an, sedang sisanya di cabang-cabang yang banyak.

Jadi, sekolah ini juga memiliki cabang di berbagai daerah?

Ya. Cabang kami sudah ada di Cianjur, Jonggol, Tangerang, Bekasi, dan Jakarta. Kalau ada acara khusus guru tamu, mereka kami undang ke sini (Depok).

Awal mendirikan sekolah ini Anda, kan, pakai dana pribadi. Seiring perkembangan, dengan banyaknya murid, pastinya butuh dukungan finansial yang cukup. Dari mana anda mendapatkan dana?

Master ini benar-benar dari para donatur yang digerakkan Allah Swt. Kesempatan publikasi pun baru ada setelah kami menuai prestasi. Jadi, awalnya dari pengalaman orang yang bingung dari urusan alam rahim sampai alam Barzah di sini. Sekarang malah banyak mahasiswa yang bingung mau riset datang ke sini dari berbagai perguruan tinggi. Alhamdulillah, Master ini sudah menjadi laboratorium kedua mereka, tempat penelitian dan pengkajian, dan sekaligus mereka menjadi relawan. Sebagai SDM unggul yang ikut terlibat, ketika mereka belajar dengan sungguh-sungguh dan ada tempat untuk riset, insya Allah hasilnya akan jauh lebih baik.

Oleh karenanya, tidak heran bila teman-teman dosen, dan mahasiswa pilih datang ke sini. Tentunya kenyataan itu tidak kita sia-sia untuk dimanfaatkan dengan baik untuk berbagi pengalaman sampai menyiapkan anak-anak di sini ikut di berbagai events. Semua tanpa modal pribadi, anak-anak Master bisa ikut lomba dan olimpiade sains, dan lomba-lomba lainnya, di sekitar Kota Depok, tingkat propinsi Jawa Barat bahkan sampai tingkat nasional. Mereka juga membantu bimbel gratis, yang membuat anak-anak Master lulus ujian seleksi perguruan tinggi favorit. Tampaknya seperti membingungkan para media, tapi kenyataan ini ada. Maka sering ditulis, jadi headline media nasional.

Alhamdulillah, anak pemulung, pengamen, dan masyarakat marginal bisa masuk media besar dengan sebuah kebanggaan dan mimpi, malah mengundang komisaris perusahaan, dan direktur yang baca. Ini semua yang menjadi modal sosial kami. Kesempatan inilah yang tidak disia-siakan mengundang CSR mereka. “Saya minta tolong bisa dikasih space, saya mau bikin lokasi pembelajaran ini, nanti branding-nya saya taruh.” Masuklah berbagai CSR perusahaan seperti Danamon, Mandiri, Antam, dan beberapa lagi bank. Mereka datang dengan proposal yang tidak ribet. Mereka juga terbantu, penyaluran program CSR mereka bukan untuk yang abal-abal.

Menurut mereka sekarang ini banyak uka-uka dan hantu blao. Jadi, dengan adanya tempat seperti ini mereka aman untuk datang. Jadi, modalnya, ya, cuma DUIT, yaitu Doa, Usaha, Iman dan Tawakal, nanti urusannya kita serahkan pada Allah yang menggerakkan hati. Sebagai timbal balik kami, tempat ini di sini jadi tempat riset teman teman untuk menggali dan berpengalaman, bagaimana saudara-saudara kita yang pernah kehilangan kesempatan terdidik bisa diajak menjadi manusia Indonesia yang produktif dan beretika.

Apa saja tantangan yang dialami dalam mengelola pusat belajar ini. apalagi letaknya di jantung kota Depok?

Lahan ini memang kebetulan berada di segi tiga emas kota Depok. Sangat strategis, apalagi sekarang Perda-nya di RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) di sini adalah kawasan bisnis. Sehingga tempat yang strategis dan menggiurkan untuk selalu terancam bila mereka tidak sadar bahwa ini adalah kegiatan bisnis juga, yaitu bisnis sosial atau sosio-preneur. Sebelumnya di sini seperti membedah hutan. Di sini dulu ibaratnya, orang bilang, tempat buang anak monyet. Tempat ini tidak ada orang yang mau melirik. Di sini kawasan yang kumuh, kawasan prostitusi, perjudian, dan pinggiran pojok terminal.

Di perencanaan tata kotanya pada waktu itu, di sini adalah kawasan permukiman dan ruang terbuka hijau, sehingga tidak pernah ada yang melirik. Cuma, dengan pesatnya pembangunan kota Depok, perubahan itu terjadi, terutama karena ada gerakan partai politik yang akhirnya membuat kekuatan kapitalis, dan liberalis tertarik masuk ke sini. Malah peran mereka menjadi dominan. Sudah menjadi pembicaraan umum di sekitar sini bahwa mereka menjadi sponsor siapa yang menjadi gubernur atau walikota. Akhirnya, yang dirasakan kami-kami masyarakat bawah, kekuatan politik sekarang kalah oleh kekuatan finansial. Kami merasa terancam dengan perubahan peraturan di sini yang cenderung melupakan sejarah dan perjuangan masyarakatnya.

Dialog untuk menegakkan keadilan diabaikan, dan bisnis sosial yang seharusnya diperhatikan dan disinergikan tidak diperhatikan. Faktanya yang kami lihat bahkan lingkungan Depok ini sudah di “kup” (dikuasai) oleh pengembang yang hanya memikirkan keuntungan pribadi, sementara masyarakat dibayar hanya untuk cukup hidup. Sekarang kami merasa terancam dan terteror karena beberapa kali mereka-mereka ingin mengambil lahan ini dengan berbagai cara. Sempat ada tekanan, diancam akan digusur.

Jadi, yang menjadi hambatan, justru salah satunya yang terberat karena tempat telah berubah menjadi lingkungan bisnis yang diminati banyak pemodal.

Apa yang Anda lakukan untuk “melawan” sehingga tempat ini masih ada hingga saat ini?

Sekarang tertanam di benak kami syarat orang untuk maju, pertama, tahan intimidasi, banyak silaturahmi, dan punya prestasi. Sekarang kami bertahan, dan semua itu kami hadapi. Mulai dari urusan birokrasi, eksternal, dan internal itu sudah biasa. Apalagi banyak anak kami yang masih terjerat jaringan mafia-mafia, dan dalam proses rehabilitasi. Memberikan pengajaran, pendidikan, dan mengurangi jumlah kriminalisasi tidaklah mudah dan harus bertahap, tapi sekarang dijadikan alasan kami penyebab dan melindungi mereka. Lokasi ini dulu dipilih karena mudah dan murahnya dijangkau mereka-mereka yang tertindas. Tapi, dengan penjelasan yang baik, alhamdulillah, pelan-pelan mereka sekarang ini mulai paham dan sudah ada kerja sama. Jadi, hambatan dari sisi internal, eksternal, itu banyak, Cuma itu bagian dari risiko dan konsekuensi apa yang kami jalankan.

Alhamdulillah, intinya kalau kita mau istikamah insya Allah akan membawa berkah dan karamah dan sekarang terbukti. Kita mulai dari emperan, sekarang ini asetnya sudah punya sendiri kita beli dalam bentuk wakaf. Kami ada 8000 m2 di sini, dan punya cabang di tempat lain, punya pondok pesantren, punya rumah-rumah tahfidz, alhamdulillah. Semoga berkah. Berkah ngurusin romusahrombongan muka susah—yang membantu dengan doa mereka. Bila mereka menjadi muka senang dan muka saleh, kita semua menikmati berkahnya, Insya Allah. Semua aset di sini kontribusi umat, orang baik yang hatinya digerakkan Allah. Semua ini mereknya “Kasio”—dikasih orang semua. Waluyo Hanjarwadi

Lanjutkan Membaca

Feature

Politik Versi Bambang Soesatyo

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tax People Share!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Banyak yang memuji komitmen dan konsistensinya dalam usaha membongkar kasus-kasus korupsi. Namun tak sedikit pula yang meragukan keseriusannya mendukung gerakan antirasuah di republik ini. Apalagi inisiasinya menggugat Kementerian Hukum dan HAM terkait kebijakan moratorium pengetatan remisi, serta gagasannya merevisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi. Tetapi begitulah percaturan di dunia politik. Intrik demi intrik dipantik dan dikobarkan menjadi api polemik tafsir, yang mendewasakan publik dalam berbagai versi masing-masing.

Bambang Soesatyo agaknya tidak ambil pusing dicap sebagai politisi enigmatik atau bahkan dituduh sekadar cari panggung demi melanggengkan kekuasaanya. “Orang mau bilang apa, sah-sah saja. Kita punya jalan masing-masing,” katanya. Yang pasti bagi Anggota Komisi III DPR RI Partai Golkar ini, apa yang ia lakukan sebagai Wakil Rakyat semata-mata bentuk sumbangsihnya bagi kemajuan bangsa.

Kekuasaan itu untuk sebesar-besarnya kepentingan masyarakat. Politik itu cuma alat untuk mencapai tujuan, untuk mendorong agar masyarakat mendapat sesuatu yang lebih baik,” ujar pria kelahiran Jakarta 10 September 1962 ini, kepada Majalah Pajak di ruang kerjanya di Gedung DPR RI.

Menurutnya sebagai anggota DPR, ia tidak ingin munafik, seperti berlagak miskin, padahal punya kemampuan lebih. “Saya tidak berlagak miskin, berlagak susah tapi mengelabui rakyat. Yang penting apa yang kita peroleh hasil dari jalan yang benar, tidak mencuri uang negara.” ujar Bambang yang memang telah menjadi salah satu Direksi PT Codeco Timber, jauh sebelum menjadi anggota DPR. Ia menyayangkan sikap orang yang berpura-pura tampil sederhana tapi menipu rakyat,”Ada teman-teman yang sebenarnya memiliki kemampuan tapi selalu berlagak miskin. Mungkin karena mereka tak mau bayar pajak banyak,” sindirnya tertawa.

Menurutnya, merintis karir politik tidaklah mudah. “Bisa mencapai DPR itu bukan perjalanan yang mudah. Saya lima kali nyalon baru bisa jadi anggota. Yang pertama kali di nomor urut 18, masih jauhlah, baru jadi penggembira di Dapil Semarang. Lalu berikutnya di nomor 8 di Dapil Tegal. Lalu nomor 4, di Brebes.” Tahun 2009, Bambang baru bisa nomor urut 2 di bawah Prio Budi Santoso, bertarung di Dapil Jawa Tengah. Baru belakangan, karena Prio pindah ke Dapil Jawa Timur, akhirnya Bambang naik ke urutan pertama memperoleh suara terbanyak.

Simak wawancara lengakap dengan Bambang Soesatyo di Majalah Pajak  cetak VOL XXI

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

Tax People Share!8374      157SharesPT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di...

Breaking News2 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Tax People Share!         Post Views: 2.129

Breaking News4 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

Tax People Share!          Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri...

Breaking News4 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Tax People Share!        Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan...

Breaking News5 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Tax People Share!        Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat...

Breaking News7 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Tax People Share!        Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang...

Breaking News12 bulan lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Tax People Share!        Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan,...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Tax People Share!        Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Tax People Share!        Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak...

Breaking News2 tahun lalu

Ini Cara Kerja Listrik Tenaga Air Versi Tri Mumpuni

Tax People Share!        Air dari sungai dibendung kemudian dialirkan melalui parit. Kira-kira 300 hingga 500 meter dari bendungan, sebagian air dialirkan...

Advertisement Pajak-New01

Trending