Connect with us

Recollection

Maslahat Konsistensi Seorang Pendaki

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Foto: Majalah Pajak

Meraih medali perunggu dalam kejuaraan lari rintang ekstrem SEA Games 2019 adalah buah konsistensinya dalam berlatih dan menjaga pola hidup sehat.

Hujan mengguyur kawasan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu Subuh (1/2). Namun, Patuan Handaka tetap bergegas menjalani rangkaian latihan olahraga obstacle course race (OCR) atau lari rintang ekstrem bersama komunitas Indonesian Spartans.

Anda, sapaan akrab Patuan Handaka, merupakan Fungsional Pemeriksa di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bandung Cibeunying. Ia juga atlet peraih medali perunggu pada cabang olahraga OCR di Southeast Asian Games (SEA Games) 2019 di Filipina yang dihelat pada 30 November 2019–10 Desember 2019.

Tepat pukul 06.00 WIB, Anda bersama rekan komunitasnya memulai latihan dengan lari 21 kilometer, 13 obstacle, dilanjutkan dengan latihan strength and conditioning, dan latihan flexibility. Rangkaian latihan OCR hari itu, tuntas menjelang siang, sekitar pukul 11.00 WIB.

OCR adalah cabang olahraga baru di Indonesia. Bahkan, baru kali pertama dipertandingkan pada SEA Games 2019 lalu. Olahraga ini cukup ekstrem karena menggabungkan beberapa olahraga, seperti lari panjat tebing, merayap, melompat dan rintangan lainnya.

Baca Juga: Hidup Adalah Ujian Ketekunan

Konsisten olahraga

Sebelum mengikuti SEA Games 2019, Anda telah mengukir prestasi pada Turnamen Spartan Race dengan capaian medali emas kategori Age Group pada Juli 2019 di Malaysia, dan Agustus 2019 di Singapura. Spartan Race merupakan kejuaraan khusus OCR yang didirikan Amerika Serikat. Spartan, diambil dari nama pasukan militer di Kota Sparta, Yunani—pasukan militer terkuat di dunia sekitar abad VI.

“Kedua ajang itu open tournament. Jadi, setiap orang bebas mendaftar. Bukan atlet pun bisa. Saya tertarik dengan obstacle race karena ibaratnya ini lari militer dan memang kompetitor saya di kejuaraan adalah tentara,” kenang Anda kepada Majalah Pajak usai latihan, di salah satu kafe kawasan Bulungan, Jakarta Selatan.

Setelah membawa pulang medali emas, Komite Olimpiade Indonesia dan Federasi OCR Indonesia memilih Anda untuk bergabung dalam tim OCR Indonesia untuk SEA Games 2019 di Filipina. Anda terpilih bersama enam olahragawan lain yang berasal dari cabang olahraga panjat dinding, judo, dan pelari. Empat di antaranya memang berprofesi sebagai atlet, dua orang berprofesi sebagai pekerja lepas, dan Anda seorang amtenar.

“Ikut SEA Games kemarin bukan keputusan saya, kalau memikirkan background tidak mungkin karena saya bukan atlet. Saya pegawai yang kebetulan konsisten olahraga untuk meningkatkan performa kerja. Mungkin karena mereka mempertimbangkan capaian saya di open tournament Malaysia,” ungkap penggemar Kobe Bryant ini.

SEA Games 2019 cabang olahraga OCR memiliki kategori individu 500 meter, individu 5 km, individu women 100 meter, relay mix team 400 meter, dan assist mix team 400 meter. Terdapat 20 rintangan yang harus dilewati peserta, di antaranya invertical wall, low crawl, dan lain-lain.

Dengan persiapan sekitar satu bulan, tim OCR Indonesia meraih tiga perunggu pada kategori individu women 100 meter, relay mix team 400 meter, dan assist mix team 400 meter.

“Saya percaya kalau kita mengerjakan sesuatu dengan konsisten—benar-benar seratus persen—akan ada saja hal baik. Saya tidak nyangka Indonesia akan mengirimkan tim pada cabang olahraga OCR. Kalau saja sepanjang 2019 hasil saya biasa saja, latihan malas atau asal-asalan, mungkin saya tidak terpilih sebagai atlet di SEA Games,” syukur anak kedua dari pasangan Irwansyah Pulungan dan Netty ini.

Disiplin makan dan latihan

Saat persiapan SEA Games 2019, Anda sudah bertugas di KPP Pratama Bandung Cibeunying. Ia sempat pesimistis tidak dapat berlatih secara konsisten seperti ketika ia berada di Jakarta. Namun akhirnya ia tetap rutin berlatih. Ia ingin mengharumkan nama Indonesia dan instansi tercinta.

“Saya bangun jam lima subuh, jalan kaki ke kantor, absen—kebetulan dekat, terus lari di stadion atau lapangan sampai jam tujuh pagi. Pulangnya jam lima sampai jam delapan strength and conditioning, flexibility, plus skill obstacles. Saya tidur paling malam setengah sebelas, begitu setiap hari,” ungkap pria kelahiran Batang Toru, 2 Oktober 1989 ini.

Anda menilai, persiapan menuju kejuaraan terbilang singkat dan berat. Apalagi ia juga harus berusaha menjalankan latihan tanpa mengganggu pekerjaannya sebagai pemeriksa pajak.

Loading pemeriksaan di Bandung itu cukup tinggi, makanya berpotensi lembur. Tapi karena sore saya harus olahraga, saya harus maksimal menyelesaikan pekerjaan di jam kerja. Saya juga bersyukur karena olahraga dapat meningkatkan performa kerja, saya jadi jarang sekali sakit,” kata Anda.

Selain itu, Anda turut menjaga pola makan. Menu sarapan pagi hari adalah dua telur dadar dan susu, pukul 10.00 WIB ia makan camilan, pukul 12.00 WIB Anda makan nasi dan lauk pauk, dan pukul 15.00 WIB ia makan buah.

“Saya yakin dengan olahraga, menjaga pola makan, dan istirahat yang cukup akan menghindarkan kita dari rasa malas latihan, malas bekerja. Karena kita akan selalu merasa siap,” yakin pria yang pernah menjadi Pelaksana pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan (September 2018 hingga Oktober 2018) ini.

Menurut Anda, kebahagiaan terbesar dalam mengikuti SEA Games 2019 adalah Kepala KPP Pratama Bandung Cibeunying dan Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jawa Barat Satu mendukungnya penuh. Apalagi ketika Dirjen Pajak Suryo Utomo secara khusus mengundangnya untuk memberi ucapan selamat atas pencapaiannya.

Pendaki gunung

Sebenarnya, menjalani olahraga yang teratur bermula dari tahun 2014. Ketika itu, ia tengah menjalani tugas belajar Program Diploma (Prodip) IV Akuntansi Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN. Saat libur semester, Anda bersama Kelompok Pencinta Alam PKN STAN atau STAPALA berencana mendaki tujuh gunung di Indonesia—Gunung Kerinci (Sumatera Barat), Bukit Raya (Kalimantan Tengah), Latimojong (Sulawesi Selatan), Binaiya (Maluku), Rinjani (Nusa Tenggara Barat), Semeru (Jawa Timur), dan Castensz Pyramid (Papua).

Dalam persiapan mendaki, Anda bersama rekan lainnya melakukan olahraga rutin selama delapan bulan. Olahraga yang dilakukan adalah lari dan memanjat tebing dua kali dalam sehari setiap pagi dan sore. Mereka juga berlatih jalan cepat mendaki Gunung Gede Pangrango di Bogor pada akhir pekan.

“Nah, sejak agenda seven summits saya terbiasa rutin olahraga. Saya membatasi junkfood, minuman gula berlebih. Boleh dibilang STAPALA yang mendidik dan membesarkan saya,” kata pengagum Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa era tahun 60-an ini.

Akhirnya, sekitar 2015 misi itu tercapai. Sepanjang perjalanan yang ia ingat hanya kegembiraan dan rasa syukur.

Setahun kemudian, ia kembali merencanakan safari ke Gunung Elbrus yang merupakan gunung tertinggi di Eropa. Persiapan pendakian kali ini lebih berat. Satu hari kira-kira Anda berlatih selama lima sampai enam jam. Dua jam di pagi hari (lari, strength and conditioning, flexibility), dua jam di sore hari (lari, strength and conditioning, flexibility), dan satu jam di malam hari (latihan fisik di gym).

“Menu latihan dari pelatih. Memang kurvanya begitu, dalam seminggu tidak boleh setiap hari di-push. Dua hari tubuh harus istirahat,” lanjutnya. Dengan persiapan yang baik, pada tahun 2017 Anda mampu mendaki Gunung Elbrus nyaris tanpa menghadapi kendala yang berarti.

Sepulangnya dari sana, ia bersama empat orang kawannya kembali melakukan pendakian gunung tertinggi di Amerika Selatan (Gunung Aconcagua) dan gunung tertinggi di Afrika (Gunung Kilimanjaro) pada tahun 2018. Di pendakian kali ini Anda menemui hambatan soal makanan. Lidahnya tak cocok menyantap makanan siap saji seperti sup kacang merah atau bubur khas kedua negara itu. Alhasil, sepanjang mendaki Anda hanya makan biskuit yang ia bawa sendiri.

“Bagi saya naik gunung adalah perjalanan spiritual. Di gunung saya bisa melihat kuasa Tuhan, merenungkan dan mencari makna hidup. Apalagi naik gunung mengajarkan saya untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, tidak ceroboh, disiplin, jangan sampai menyusahkan orang lain,” kata Anda.

Saking cintanya, Anda lebih suka disebut pendaki gunung ketimbang atlet. “Saya ini apa ya? Pendaki gunung sajalah,” serunya tertawa.

Ya, kini atlet OCR sekaligus pendaki gunung ini tengah mempersiapkan diri mengikuti Spartan Race 2020 pada Februari, Juli, Agustus, dan Desember. Anda berharap, dapat kembali mengharumkan nama Indonesia dan instansi tercinta, DJP.

“Saya ingin tiga hal dalam hidup saya seimbang—kehidupan pribadi, pekerjaan, dan hobi. Terlepas ada kejuaraan atau tidak, latihan tetap dikerjakan karena olahraga bisa meningkatkan tiga hal tadi,” tutup Anda.- Aprilia Hariani

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Recollection

Terbentuk Kuat karena Benturan

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Dok Pribadi

Benturan demi benturan yang ia songsong, mengantarnya ke tempat dan karya yang ia ingini: di balik layar penyusun kebijakan.

Kira-kira pukul 21:10 WIB, Rabu (29/4), Andi Nugroho Suryo Kuncoro baru menerima telekonferensi dengan Majalah Pajak. Penulis pidato dan Analis Kebijakan Pusat Analisis dan Harmonisasi (Pushaka) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ini terpaksa mengundur jadwal wawancara pada sore hari lantaran harus menyempurnakan bahan pemaparan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk rapat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat mengenai Perkembangan Asumsi Ekonomi Makro dan Postur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Setelahnya, Andi merampungkan risalah rapat Kabinet Indonesia Maju dan Presiden RI.

“Mohon maaf, ya. Harap maklum. Jam kerja agak anomali, 24 jam per tujuh hari. Jadi, by request banget untuk mendukung rapat para pimpinan. Seperti misalnya kemarin saya sudah sanggupin jadi narsum, tiba-tiba pas lagi ngisi acara, saya diminta menyimak ratas (rapat terbatas) Menteri dengan Presiden,” ucap Andi yang masih berkemeja biru muda—seragam Kemenkeu setiap Rabu—memulai perbincangan.

Meski begitu, Andi merasa sangat bersyukur telah dipercaya berkontribusi, berproses, dan menjadi bagian dari tim di balik layar. Terlebih, saat pemerintah tengah menyusun kebijakan yang velox et exactus—cepat dan akurat—dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19.

Baca Juga: Fisik Sehat, Kerja Semangat

“Menjadi speechwriter waktu tidur jadi berkurang, paling lama empat jam sehari, tapi saya justru senang dan enjoy. Memang dasarnya saya suka baca buku dan menulis. Saya jadi paham bagaimana policymakers bersakit-sakit, bekerja keras, dan dituntut superadaptif di situasi resesi dan krisis multidimensi akibat COVID-19. Saya enggak berhenti belajar dan beradaptasi. Lama kelamaan akan terbiasa dan pasti akan ketemu ritmenya, apa pun medannya,” ujarnya.

Andi lantas memberi gambaran tugas yang ia emban sejak Januari 2020 itu. Misalnya, pada hari Selasa (28/4), Sri Mulyani dijadwalkan memberikan konferensi pers. Maka, di hari sebelumnya (27/4), Andi bersama tim mengumpulkan input dari seluruh unit eselon I terkait untuk mendukung bahan pemaparan. Setelah itu, Andi menjahitnya menjadi naskah pidato atau pun bahan pemaparan konferensi pers. Kemudian, draf diserahkan kepada Menkeu atau Wamenkeu untuk ditelaah.

“Untuk membuat naskah pidato non-seremonial, lanskap kebijakan dan arus keadaan ekonomi, sosial, dan politik harus dianalisis dan diharmoniskan. Unit kerja di Kemenkeu, kan jamak, ada yang ngomongin fiskal, kekayaan negara, pajak, surat utang negara, cukai, atau lainnya. Biasanya saya diberi waktu sehari atau dua hari untuk menulis semuanya dalam satu speech,” kata pria kelahiran Bantul, Yogyakarta, 35 tahun silam ini.

Namun, tentu jadwal Menkeu tidak konstan. Banyak perubahan agenda tak terduga yang menuntutnya sigap sepanjang waktu. Sebagai contoh, Selasa lalu, Andi mendadak harus menyusun naskah materi telekonferensi dengan para ekonom nasional dan analis kebijakan di Indonesia. Kala itu, Andi kudu menyelesaikannya dalam dua jam saja.

‘‘Kuncinya kita mesti saksama dan komprehensif memahami arah kebijakan publik dan fokus pemerintah. Apalagi kami, tim, bukan cuma menulis data. Tim bekerja menganalisis kebijakan,“ tambahnya.

Seperti yang diketahui, kini pemerintah telah fokus menyusun kebijakan menangkal resesi akibat COVID-19 yang ditempuh melalui pemberian stimulus, relaksasi, refocusing anggaran, strategi pembiayaan, penjaminan risiko, dan sebagainya.

“Semua stimulus fokusnya kesehatan publik, social safety net, dan dukungan UMKM. Seluruh dunia fokusnya sama, cara boleh jamak, tapi serupa countercyclical-nya. Sekarang ini semua kebijakan untuk mengantisipasi agar krisis kesehatan tak tereskalasi menjadi krisis sosial, ekonomi, dan politik lebih mendalam. This pandemic is a new species of crisis, kegotongroyongan orang Indonesia diuji betul kali ini,” ungkap Andi.

Baca Juga: BI Perpanjang Kebijakan Penyesuaian Jadwal Kegiatan Operasional dan Layanan Publik

Namun, Andi yakin, Indonesia bisa menghadapi kondisi ini karena telah teruji pada krisis 1998 dan 2008.

“Semakin terbiasa kita dengan krisis, semakin kuat jiwa kita. Saya punya semangat hidup, terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk,” ucap Andi mengutip tulisan Tan Malaka dalam bukunya Dari Penjara ke Penjara.

Berburu beasiswa

Prinsip itu pula yang Andi tanamkan saat memburu beasiswa ke luar negeri sekitar delapan tahun silam. Kala itu, Andi masih menjabat pemeriksa di KPP di Kanwil DJP Bali. Ia ingin mendalami ilmu kebijakan ekonomi agar dapat dipercaya di posisi yang lebih strategis.

Semakin terbiasa kita dengan krisis, semakin kuat jiwa kita. Saya punya semangat hidup, terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.

‘‘DJP sifatnya administratif, ilmu yang saya dapatkan banyak sekali. Kita menjadi streetwise karena kita kontak langsung dengan mikronya, tak sekadar makronya. Buat saya, DJP membekali saya dengan microfundamental yang jarang dimiliki para ekonom. Sudah waktunya saya hijrah belajar makronya di ranah kebijakan. Bahwa selama ini kita sebagai enforcer melihat UU adalah untuk ditegakkan, kini saatnya saya berpikir tentang bagaimana UU itu diciptakan. Misalnya, kenapa tarifnya tidak disesuaikan dengan kondisi investasi nasional; konsumsi; arus barang, jasa, dan kapital; dan lain sebagainya termasuk dinamika geopolitik global,” kata pengagum Amartya Sen (pemenang penghargaan Nobel di bidang ekonomi tahun 1998) ini.

Jauh sebelum itu, semasa kuliah, Andi sudah termotivasi untuk melanjutkan sekolah dari mentornya di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang bernama Zezen Zaenal Mutaqin. Ia juga terinspirasi oleh Rektor UIN Azyumardi Azra tahun 2006 yang merupakan peraih beasiswa Fullbright di Universitas Colombia.

“Saya dapat exposure kuliah ke luar negeri malah dari UIN, bukan dari STAN. Jadi, tahun 2005 itu walaupun saya anak STAN, saya malah mainnya ke UIN. Dari Formaci juga saya belajar untuk berani ngomong, belajar berdiskusi dengan semua komponen organisasi kampus seperti PMII, HMI, HTI, GMNI, semua bisa rukun membahas filsafat, ilmu sosial dan ekonomi,” ungkap Andi.

Dari Formaci pula pria kerkacamata bulat ini mulai tertarik membaca buku-buku karangan Karl Marx, Adam Smith, Bastiat, Von Mises, Joseph E.Stiglitz (peraih Nobel bidang ekonomi tahun 2001), E.F. Schumacher, Amartya Sen, dan sebagainya. Bahkan, ia pun mendalami ilmu hermeneutika, cabang filsafat yang mempelajari interpretasi makna.

“Sampai sekarang poin buku Amartya Sen menjadi landasan berpikir saya. Bagaimana mengukur kesejahteraan manusia di suatu teritori itu tak boleh melulu dengan GDP (gross domestic bruto). Makanya beliau menemukan human development index, beyond just GDP. Pembangunan bukan diukur dari GDP, tapi bagaimana distribusi pembangunan di daerah memberi kemerdekaan pada manusia segala kelas, termasuk kemerdekaan mengakses kesehatan, pendidikan, energi tanpa segregasi dan diskriminasi,” papar Andi.

Baca Juga: Sambut Normal Baru, OJK Terbitkan Stimulus Lanjutan untuk Perbankan

Singkat kisah, setelah lulus dari Program Diploma Akuntansi PKN STAN dan enam tahun bertugas di DJP, Andi mencoba mewujudkan mimpinya dengan mengikuti tujuh kali seleksi beasiswa di Scholarship Program for Strengthening the Reforming Institution (SPIRIT), Fullbright, Stuned, Chevening, United States Agency for International Development (USAID), dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Hasilnya, gagal. Proses ini ia jalani dari tahun 2011 hingga 2016.

“Sebenarnya saya sudah diterima USAID, tapi enggak dapat izin dari pusat (DJP). Alasannya saya enggak tahu. Ini benturan pertama saya yang terberat,” kenangnya.

Untungnya, semangat Andi masih sekuat baja. Ia kembali mencoba peruntungan ke delapannya dengan mengikuti seleksi beasiswa Financial Education and Training Agency (FETA) angkatan pertama—beasiswa untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenkeu dari Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) yang dananya berasal dari Bank Dunia. Syukurnya, kali ini Andi lolos.

Di tengah menjalani karantina di Pusdiklat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) PKN STAN, Andi mendapat Letter of Acceptance (LoA)surat yang menyatakan diterima menjadi mahasiswa—dari tujuh universitas di Amerika sekaligus yakni, dari Duke University, University of Southern California (USC), School of International and Public Affairs (SIPA) Columbia University, State University of New York (SUNY) at Buffalo, University of Denver, dan Cornell University.

Ya, tujuh kali gagal, di tujuh kampus ternama pula Andi diterima. Andi lantas memilih Prodi Ekonomi di SUNY karena ia ingin konsisten mendalami ekonomi. Namun, berapa hari setelahnya staf Kepala PPSDM memberi arahan untuk membatalkan pilihan itu.

“Daftar beasiswa sudah sakit, daftar ke kampus di New York itu susah. Sudah dapat LoA senang-senang, eh, malah ditegur. Kata Kepala PPSDM, ‘Ngapain ngambil economics, ngambil public policy atau administration policy saja. Saya sedih banget waktu itu. Ya, sudah, mungkin terbentur lagi, tetap lanjut,” kenang suami Nawang ini.

Jejak Ben Anderson

Tak ingin berlarut dalam kesedihan, ia memutuskan mengambil program Economic and Financial Policy di Cornell University. Kali ini Andi punya tiga alasan. Pertama, ia ingin mengikuti jejak profesor sejarah dan politik dari Cornell University yang sudah meneliti tentang Indonesia sejak Presiden RI Sukarno yakni, Ben Anderson. Kedua, Andi ingin merasakan pengalaman penulis novel Para Priyayi Umar Kayam saat kuliah di Cornell University. Ketiga, ia tertantang menjadi satu-satunya wakil dari Asia Tenggara yang meraih master di bidang kebijakan ekonomi dan keuangan dari Cornell University.

Maka, ayah Shah Wildan Dipo Alam, Cornell Digdaya Nawasandi, dan Abyasa Cayuga ini menjalani studi dengan maksimal. Setahun setelahnya ia mulai menyusun tesis mengenai dampak makroekonomi dan sosioekonomi UU Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak.

Penelitiannya, yang disupervisi oleh Profesor Norman T. Uphoff dan Profesor Iwan Jaya Azis ini, menggunakan 1.295 variabel untuk menghitung dampak kebijakan pengampunan pajak terhadap indikator makroekonomi dan sosioekonomi seperti, pengangguran, kesenjangan ekonomi, investasi, dan sebagainya. Penelitian itu menghasilkan tujuh simulasi. Salah satu simulasi menyimpulkan, bahwa kebijakan pengampunan pajak bisa menimbulkan kontraksi bagi perekonomian dalam negeri.

“Kebijakan tax amnesty bisa sukses, tapi dengan ongkos melebarnya income inequality antara urban dan rural, ataupun rich and poor jika repatriasi dibarengi dengan perilaku risk taking dari perbankan dengan menempatkan dana tersebut ke instrumen keuangan berisiko tinggi,” ungkap Andi.

Kesimpulan tesisnya pun membuat Profesor Iwan khawatir. ‘‘Prof Iwan nanya gini, ‘Apa kamu siap pulang ke Indonesia dimusuhi oleh para pembuat kebijakan? Saya jawab, ‘Saya yakin hasil penelitian ini saya tarik dari model ekonomi yang benar—bukan sekadar evaluasi before and after dari ekonometrik. Tapi mengukur dampak jika ada atau tidak adanya tax amnesty,’” papar Andi.

Baca Juga: Ini Panduan Normal Baru Wajib Diterapkan Instansi atau Perusahaan

Setelah menjalani tugas belajar, Andi pulang ke tanah air dan bertugas di Seksi Pemeriksaan Transfer Pricing Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan DJP tahun 2018. Menurut Andi, selama sekitar 13 tahun berkarier di DJP ia memetik kesimpulan bahwa tak ada gading yang tak retak, kebijakan fiskal selalu mengandung lag.

“Menjadi pegawai DJP kita dituntut memahami banyak behavior Wajib Pajak dan interaksi antarperusahaan. Akhirnya, kita punya dasar ilmu mikroekonomi yang baik. Menjadi auditor pajak contohnya, harus terlatih guts-nya dalam mendeteksi skema tax avoidance (penghindaran pajak) maupun tax evasion (penggelapan pajak),” kata Andi.

Kini, Andi bertugas di posisi yang ia dambakan dulu. Bekerja pada tataran penyusunan kebijakan. Ia semakin yakin kita adalah tuan atas waktu kita sendiri. Kita bebas memilih untuk diam atau berjuang.

“Terbentur, terbentur, terbentur, nantinya kita akan terbentuk. Sekolah, cari beasiswa, bekerja, semua itu pasti banyak benturannya. Lebih baik kita hancur lebur lalu bangun kembali, daripada mengeluh atau termangu diri. Karya kita sekarang adalah hasil kerja kita di masa lalu,” kata putra sulung Isti Widayati dan Kuwatono ini, mengakhiri perbincangan.

Lanjut baca

Recollection

Cekatan Menangkal Hoaks

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok Pribadi

Di tengah Pandemi COVID-19 ia dituntut ekstra cekatan menyampaikan informasi. Jangan sampai publik panik karena termakan hoaks.

 

Belum genap seminggu Rahayu Puspasari menakhodai Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Namun, ia mesti bekerja maraton menyampaikan informasi secara rinci kepada awak media mengenai Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 6/KM.7/2020 tentang Penyaluran Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan dan Dana Bantuan Operasional Kesehatan Dalam Rangka Pencegahan dan/atau Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dikeluarkan pada (15/3).

Baca Juga: Refleksi Rectoverso

Puspa, sapaan karib perempuan kelahiran Pontianak 2 Februari 1972 ini mengatakan, strategi komunikasi Kemenkeu yaitu menyampaikan informasi dengan cepat dan rinci. Jangan sampai publik menjadi korban hoaks (informasi bohong) sehingga menimbulkan kepanikan. Begitu amanat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat melantiknya, Senin (9/3).

“Kontestasi dalam informasi begitu banyak dan itu juga kreatif. Bahkan full timer untuk membuat hoaks, sehingga kita harus mampu menangkal itu,” Puspa mengulang pesan Sri Mulyani.

Menurut Puspa, di era kemajuan teknologi ini hoaks tidak bisa dihindari. Sebab setiap warga negara memiliki kepentingannya masing-masing, baik kepentingan politik maupun ekonomi. Maka sang juru bicara atau jubir pemerintah dituntut ekstra cekatan mengendalikannya.

Dalam konteks menghadapi Pandemi COVID-19, publik juga mesti bijak memfilter informasi yang membanjiri jagat media sosial. Puspa meyakinkan, pemerintah fokus pada krisis kesehatan sekaligus mengantisipasi dampak ekonominya.

“Dalam situasi sekarang masyarakat harus mengikuti kapten kapal. Jangan sampai kocar-kacir hanya karena hoaks. Kalau masyarakat tidak panic buying, stok kita aman, tidak akan kekurangan. Pemerintah terus berkoordinasi aktif untuk melakukan antisipasi dampaknya terhadap perekonomian nasional,” tegas Puspa, melalui telepon, pada pertengahan Maret 2020.

Baca Juga: Mudik Resmi Dilarang, Ada Denda Bagi yang Melanggar

Seperti diketahui pemerintah telah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Menteri Keuangan bertindak sebagai salah satu pengarah yang bertugas menjaga stabilitas fiskal, refocusing anggaran, menyelamatkan sektor-sektor informal, dan membantu sektor usaha yang terdampak. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor I Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman Yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan.

Puspa menjelaskan, secara umum Perppu mengatur langkah mitigasi pengeluaran tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 sebesar Rp 405,1 triliun. Rinciannya, yaitu Rp 75 triliun intervensi di bidang kesehatan dalam penanggulangan COVID-19; Rp 110 triliun untuk tambahan jaringan pengamanan sosial; Rp 70,1 triliun untuk mendukung industri melalui insentif pajak dan bea masuk serta stimulus Kredit Usaha Rakyat; lalu Rp 150 triliun untuk pemulihan ekonomi pasca-COVID-19.

Di bidang perpajakan, Perppu itu berisi penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) dari 25 persen menjadi 22 persen di tahun 2020 dan di tahun 2021 menjadi 20 persen. Lalu, penurunan tarif PPh Badan go public sebesar 3 persen atau lebih rendah dibandingkan dari tarif umum.

“Pemerintah sebagai yang sering diserang hoaks harus bergerak cepat menangkalnya dengan memviralkan informasi melalui teman-teman media—KLI memberikan penjelasan melalui siaran pers, KLI standby melayani wawancara melalui telepon, konferensi pers kita di situasi genting pun kita lakukan melalui aplikasi,” tegasnya.

“Dalam situasi sekarang masyarakat harus mengikuti kapten kapal. Jangan sampai kocar-kacir hanya karena hoaks.”

Tekad jadi ASN

Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjabat kepala biro KLI, Puspa menyadari, pekerjaannya itu sangat protokoler, menuntut kecermatan dan kehati-hatian dalam menyampaikan pesan dari lembaganya. Namun, ia senang melakukan pengabdian itu karena sejak muda ia telah bercita-cita menjadi ASN, tepatnya saat ia masih di bangku Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 1 Yogyakarta sekitar tahun 1989. Puspa resah dengan beberapa kawannya yang kerap mengkritik pemerintah dan ASN.

Baca Juga: Aphantasia

“Saya sama teman-teman sering diskusi soal negara. Mereka kebanyakan menyalahkan pemerintah—pokoknya semua gara-gara pemerintah. Bahkan, ya, mereka tutup mata sama program pemerintah yang bagus. Karena pemikiran kita semua sudah begitu, pemerintah negatif,” kenang pengagum Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela ini.

Tekad menjadi ASN semakin menggebu tatkala pada 1990 ia terpilih mengikuti pertukaran pelajar ke Akenohoshi Kooto Gakko—salah satu SMA di Jepang. Selain belajar, Puspa aktif memperkenalkan budaya tanah air lewat beragam festival di sekolah itu. Bahkan, ia sempat menjadi guru les bahasa Indonesia untuk teman sekelasnya.

“Mungkin karena keterbatasan informasi—di tahun itu belum ada internet. Jadi, teman-teman di sana (Jepang) banyak yang bertanya tentang Indonesia. Ternyata kita lebih bisa mengapresiasi Indonesia justru ketika kita ada di luar,” kata Puspa.

Setahun kemudian, ia pulang ke tanah air untuk melanjutkan persiapan ujian sekolah sekaligus tes masuk perguruan tinggi. Puspa lantas memilih Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)—sekarang Politeknik Keuangan Negara STAN—agar bisa menjadi ASN. Ia ingin menjadi bagian dalam reformasi birokrasi.

Terlibat reorganisasi

Karier Puspa sebagai ASN dimulai pada 1994. Lulus dari STAN, ia menjadi pegawai di Badan Akuntansi Keuangan Negara (BAKUN) yang sekarang menjadi Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Tiga tahun kemudian ia melanjutkan pendidikan di Prodi Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Jakarta. Tak lama, ia mendapat tugas belajar di Universitas Monash Australia untuk jurusan manajemen strategis.

Setelah mendapat gelar Master of Business Administration (MBA), Puspa dipercaya menjabat sebagai Kepala Subbidang Standar Akuntansi Keuangan Pemerintah. Kala itu ia turut menjadi salah satu anggota Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 84 Tahun 2004. Secara umum tugas KSAP adalah mempersiapkan penyusunan konsep Rancangan Peraturan Pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan sebagai acuan yang wajib diterapkan dalam menyusun serta melaporkan laporan keuangan pusat dan daerah.

Syahdan, ia didaulat menjadi Sekretaris Satuan Tugas Reorganisasi Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) kini menjadi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). Kata Puspa, tugas pertama DJKN yaitu, penertiban Barang Milik Negara (BMN) yang terdiri dari kegiatan inventarisasi, penilaian, pemetaan permasalahan BMN, koreksi nilai neraca pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL).

“Perubahan itu titik awal LKPP keluar dari disclaimer opinion menjadi opini wajar dengan pengecualian dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Semua hasil kerja bakti bersama,” kata peserta diklat Negotiation and Competitive Decision Making di Harvard Business School ini.

Sekitar tahun 2009, Puspa melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Curtin Australia. Setelah lulus Puspa diamanahi tugas sebagai Pelaksana (Fungsional Umum) Seksi Kekayaan Negara Dipisahkan IA DJKN pada 2011, lalu menjabat Kepala Subdirektorat Kekayaan Negara Dipisahkan Dipisahkan I DJKN di tahun 2014.

Di tahun yang sama, ibu dua anak ini ditugaskan oleh Menteri Keuangan ke-28 Muhammad Chatib Basri untuk menjadi Ketua Tim Pengkaji Pembentukan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) sesuai tata cara pendirian Badan Layanan Umum. LMAN didirikan pada 16 Desember 2015 berdasarkan PMK No. 219/PMK.01/2015 dengan tugas di antaranya, pelayanan pengembangan usaha, analisis pasar properti, pengembangan strategi bisnis jasa penilaian dan konsultasi manajemen aset, pengadaan, konstruksi, dan lain-lain. Pada 2017 Puspa diangkat menjadi Direktur LMAN dan menjabat sebagai Direktur Utama LMAN di tahun 2018.

Baca Juga: Gaungkan Dukungan—dan Kritikan

“Waktu itu saya bikin kajiannya, membentuk organisasinya, dari A sampai Z. Jadi, saya selalu dikasih tugas mengawal yang baru atau menghadapi situasi sulit. Memulai sesuatu yang baru tidak mungkin menggunakan cara lama dan biasa,” kata pencinta olahraga menyelam ini.

Kini, Puspa mengemban tugas baru sebagai Kepala Biro KLI. Di bawah kepemimpinannya, vokalis Band Bhinneka Swara ini berencana mengubah strategi komunikasi tiap instansi di bawah Kemenkeu.

“Karena baru dilantik dan langsung menghadapi masalah COVID-19, saya baru menyisir kekuatan atau kekurangan secara umum. Intinya ke depan saya ingin, misal, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dan lainnya fokus pada tugasnya. Kalau sekarang, kan, DJP bikin strategi komunikasi juga—bikin majalah, sosialisasi di media sosial,” kata penggemar penyanyI Celine Dion dan Lea Simanjuntak ini.

Menurut Puspa, pencapaian hidupnya tak terlepas dari doa dan wejangan kedua orangtuanya yang ia pegang teguh hingga sekarang. Ibundanya Sumadji mengajarkannya untuk berpikir visioner, jalani penuh keyakinan, dan raih pendidikan setinggi mungkin. Sedangkan ayahandanya mengajarkannya untuk disiplin dan jangan pantang menyerah.

“Biasanya tantangan justru datang dari lingkungan internal kita—perasaan enggak percaya, enggak bisa, susah. Perasaan itu ternyata membombardir kita. Nah, di situ kita harus punya keyakinan untuk mencoba,” tutupnya.-Aprillia Hariani

 

Lanjut baca

Recollection

Dengarkan Laguku, Dendang Kepatuhan

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Majalah Pajak

Lagu dangdut koplo gubahannya sempat viral di media sosial. Tema liriknya memang tentang pajak karena lewat lagu ia ingin lebih mudah mengenalkan pajak kepada masyarakat.

Sudah punya tapi belum, sekaranglah waktunya.

Sudah punya tapi belum, laporkan pajaknya.

Sudah punya NPWP, jangan lupa lapor pajaknya.

Sudah punya NPWP, Pakai e-filing aja.

Lapor pajak joss, Hey ho!

Begitulah larik syair lagu dangdut koplo berjudul “Sudah Punya Tapi Belum” yang telah diunggah di akun resmi media sosial Direktorat Jenderal Pajak (DJP), pada Jumat (28/2). Lagu ini merupakan aransemen dari tembang “Lapor Pajak Heyho” karya Pelaksana Sekretariat Direktorat Jenderal Febri Noviardi, yang viral pada tahun lalu.

Kira-kira liriknya begini: “Lapor Pajak, Hey Ho. Bisa di mana saja. Lapor pajak, hey ho. Pakai e-filing aja.” Bedanya, lagu “Lapor Pajak Hey Ho genre musiknya adalah dangdut, sedangkan lagu “Sudah Punya Tapi Belum” berjenis musik koplo atau subaliran musik dangdut dengan ciri khas irama yang cepat dari gendangnya.

Sang komponis, Febri, piawai mengawinkan lirik yang mudah diingat dan nada yang sedap untuk bergoyang. Bahkan lagu “Hey Ho Lapor Pajak” punya “goyang hey ho” yang populer pada acara sosialisasi e-filing Spectaxcular 2019. Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga seluruh yang hadir di acara itu turut berdendang.

“Saya mendukung sekali kegiatan untuk lebih memasyarakatkan e-filing. Saya berkesempatan mengikuti #GoyangHeyHo sembari mengikuti irama dari lagu Lapor Pajak Heyho. Baik lagu maupun goyang ini semuanya dibuat oleh pegawai-pegawai @ditjenpajakri @kemenkeuri,” demikian tulis Sri Mulyani lewat Instagramnya.

Ditantang

Febri tak mengira lagu dangdut perdananya dapat mudah diterima khalayak. Semua bermula saat Febri bertugas sebagai Pelaksana Subdirektorat Humas Perpajakan Direktorat P2Humas DJP tahun 2018. Ketika itu, Kepala Subdirektorat Humas Perpajakan Direktorat P2Humas DJP, Ani Natalia, memintanya membuat lagu dangdut untuk sosialisasi penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) melalui e-filing.

Tantangan itu bukan tanpa sebab. Musikalitas Febri sebenarnya sudah terbukti melalui lagu-lagu ciptaannya terdahulu, seperti “Amnesti Pajak”, “Reformasi Perpajakan”, “UMKM”, dan sebagainya. Semua lagu itu bergenre pop. Febri juga sudah dikenal sebagai pegawai yang memiliki suara ciamik.

“Saya ditantang bikin lagu dangdut. Karena enggak tahu harus ngapain, seminggu full, setiap hari saya dengerin lagu Bang Rhoma Irama—saya dengerin di kantor, di toilet, di rumah. Sampai diprotes orang rumah,” kenang Febri mengawali perbincangan dengan Majalah Pajak di Kopi Kita, Gedung B, Kantor Pusat DJP, pada Kamis Sore (13/2).

Menurut Febri, pemilihan referensi ini dikarenakan lagu ciptaan raja dangdut itu mudah diterima oleh seluruh kalangan. Terlebih, lagu gubahan Rhoma Irama juga syarat makna atau nasihat. Sebut saja, “Judi”, “Begadang”, “Darah Muda”, dan masih banyak lagi.

“Saya dengarkan lagu (Rhoma Irama) selama seminggu, memang harus ada atmosfernya dulu. Satu minggu kemudian nemu notasi dengan cara humming (senandung) ‘na-na-na, na-na-na’. Biasanya lagu pop saya pakai gitar,” kisahnya.

Setelah nada disetujui oleh P2Humas DJP, Febri melanjutkan proses penulisan lirik. Penggemar Raisa ini berusaha memilih diksi yang simpel dan repitisi agar mudah diingat pendengar. Proses penulisan lirik pun membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu.

“Setelah jadi, seperti ada yang kurang. Enggak sengaja nemu ‘Hey Ho’ sebagai gimmick aja. Eh, malah itu yang bikin seru,” syukur pria berkacamata ini.

Awal tahun 2020, Febri kembali menerima tantangan mengaransemen lagu dangdut “Lapor Pajak Hey Ho” menjadi lagu dangdut koplo. Kali ini Febri mengambil inspirasi dari lagu karya Didi Kempot. Ia bersyukur, proses pembuatan lagu koplo tahun ini hanya memakan waktu sekitar tiga hari. Lagu ini kemudian berganti judul menjadi “Sudah Punya Tapi Belum”.

“Kenapa saya enggak mau bikin baru karena masyarakat biar enggak bingung. Nanti takut terlalu banyak lagu e-filing jadi enggak nempel. Prosesnya sebentar—ganti sedikit lirik dan ubah aransemen. Pemilihan koplo, mungkin karena sedang booming,“ ungkapnya. Lagu Febri itu diputuskan berganti judul menjadi “Sudah Punya Tapi Belum”.

Sebelumnya, ia juga sudah menelurkan lagu bergenre pop berjudul “Sadar Pajak”. Proses pencarian notasi terbilang lancar. Seminggu kelar. Terlebih dalam penulisan lirik, Febri dibantu oleh Kepala Subdirektorat Penyuluhan Pajak P2Humas DJP Aan Almaidah Anwar.

“Sadar pajak, ayo kita tanamkan dari sekarang demi masa depan. Sadar pajak, untuk kejayaan untuk kita dan Indonesia. Sadar pajak dalam pendidikan,” demikian lirik refrain lagu itu.

Menurut Febri, lirik pada penutup lagu “Sadar Pajak” merupakan sumbangsih ide dari Aan Almaidah Anwar. “Cinta ada dalam doa, tanggung jawab dalam rasa, pajak ada dalam jiwa.”

“Lagu ‘Sadar Pajak’ adalah kolaborasi antara saya dan Ibu Aan. Karena lagu pop—jenis musik saya banget, saya enggak menemui kesulitan. Herannya, setiap ada tantangan membuat lagu dari kantor, saya kerjakan dengan lancar, kalau buat istri atau anak enggak bisa-bisa,” seloroh pengagum Fiersa Besari ini.

Febri mengaku tidak memiliki ritual tertentu dalam proses pembuatan lagu. Harus sembari minum kopi atau teh, misalnya. Ia hanya memanfaatkan waktu istirahat kantor maupun waktu senggang di rumah. Febri juga tidak mematok waktu khusus dalam menemukan inspirasi. “Istilahnya deadline pasti kelar, tapi bukan ngasal. Saya bersyukur setiap saya kirim (lagunya), tidak ada revisi,” kata Febri.

Gang H. Lihan

Talenta bermusik Febri lahir dari Gang H. Lihan, kawasan Jakarta Timur. Di gang depan perumahannya itu ia sering berkumpul untuk nyanyi bersama. Lagu langganan mereka adalah karya Wayang Band, seperti “Dongeng”, “Dimensi”, “Bayang”. Febri dan kawannya yang baru duduk di bangku kelas lima sekolah dasar (SD), sama-sama bermimpi menjadi pemain drum cilik Wayang Band bernama Gilang Ariestya.

“Berawal dari nyanyi-nyanyi di gang, kita patungan sewa studio musik. Semua anak gantian mau main drum. Kita sih membayangkan jadi si Gilang,” kenangnya tertawa.

Pulang ke rumah, pria kelahiran 23 November 1988 ini meminta orangtua untuk mengikuti les drum. Bapaknya, Taharuddin pun menyetujui. Lulus SD, ia justru lebih tertarik mempelajari gitar. Alasannya, harga gitar jauh lebih murah ketimbang drum. Berbekal gitar baru dari kakaknya dan music book selection (MBS), Febri mempelajari kunci gitar nyaris setiap hari.

“Pokoknya satu minggu harus menguasai satu lagu,” tekadnya kala itu.

Masuk sekolah menengah atas (SMA), Febri mulai mempelajari bas, kibor, hingga piano. Di masa ini Febri sudah mencoba membuat lagu bergenre pop. Inspirasi lagu tentu dari pengalaman percintaannya.

Menjelang lulus, ia berniat mempersembahkan lagu ciptaannya sendiri untuk ayahnya. Judulnya, “Beautiful Eyes”. Febri ingin menunjukkan bahwa ia telah mampu memainkan seluruh alat musik sendiri. Ia masih ingat liriknya, “Only a wish remains, waiting our sight to meet. Until that time comes, let my eyes looking for nothing.”

“Ceritanya mau pamer ke Bapak, ini loh perjuangan saya belajar alat musik dari kecil. Saya bisa main gitar, bas, drum—satu per satu direkam. Tapi vokalnya bukan saya, ada teman namanya Gilang,” kata bungsu dari empat bersaudara ini.

Setelah lagu jadi, Febri memberikan hasil karyanya kepada bapak dan ibunya, Illiyanti berbentuk cakram padat atau compact disc (CD). Mereka mendengarkan lagu itu bersama di ruang keluarga.

“Saya enggak peduli kamu bisa main berapa instrumen, menurut saya kamu tidak akan dianggap orang kalau kamu enggak jadi penyanyi,” kata Febri menirukan penuturan ayahnya kala itu.

Febri tertantang. Ia kemudian bertekad untuk belajar teknik menyanyi. “Wah, panas dong saya. Saya ditantang lagi nih. Dari situ saya belajar teknik pernapasan, teknik menyanyi dari YouTube sendiri. Setiap nongkrong sama teman saya nyanyi. Walaupun dicaci maki tetap PD (percaya diri),” kenangnya.

Jadi penyanyi

Saat menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Febri berjumpa dengan Oskar Mahendra sekitar tahun 2010. Kebetulan, Oskar juga hobi menyanyi maupun memainkan alat musik. Hingga akhirnya ia dan Oskar mencoba menyanyikan ulang lagu-lagu pop sekaligus mengunggahnya di YouTube.

Sekitar tahun 2011 nama Febri dan Oskar viral di media sosial. Waktu itu, lagu yang mereka nyanyikan berjudul “Risalah Hati” Dewa ditonton oleh ratusan ribu orang. Keduanya pun dibanjiri tawaran nyanyi di pelbagai acara sekolah maupun perusahaan. Kala itu, bayaran sekali manggung mencapai sekitar Rp 10 juta. Febri pun kian mantap menekuni industri tarik suara ini. Di tahun 2013, label musik ternama menggaetnya untuk membentuk duo bernama Boom 13 serta meluncurkan single berjudul “Jalan-Jalan Lagi”.

“Bapak enggak bilang apa-apa ternyata sekarang saya bisa nyanyi, mungkin gengsi. Bapak bisa melihat secinta itu saya sama musik, sejak kecil belajar musik, tapi Bapak enggak setuju kalau musik jadi sumber pendapatan. Saya minta waktu satu tahun lagi untuk membuktikan,” kata Febri.

Sembari menyelesaikan kuliah, Boom 13 tetap manggung. Kalaupun tidak ada tawaran nyanyi, Febri beberapa kali bekerja paruh waktu sebagai music director di salah satu TV swasta ternama di tanah air. Pendapatan yang tidak menentu membuatnya semakin waswas. Hingga akhirnya sekitar tahun 2014 ia memutuskan untuk mengikuti tes dan diterima sebagai pegawai DJP.

“Walaupun karier di dunia musik belum maksimal, tapi akhirnya tersalurkan dan bermanfaat untuk instansi. Tidak ada usaha yang sia-sia, di sini saya bisa membuat lagu dengan tema perpajakan. Lewat lagu saya berharap masyarakat semakin sadar pajak,” syukur Febri.-Aprilia Hariani

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News14 jam lalu

ISEI Beri Tiga Usulan untuk Pemulihan Ekonomi dari Pandemi Covid-19

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) mengusulkan tiga langkah untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional pascapandemi Covid-19 di masa normal baru (new...

Breaking News2 hari lalu

Ada Peluang Besar Investasi dan Pembiayaan Ramah Lingkungan di Indonesia

Bank DBS Indonesia menilai, saat ini peluang investasi dan pembiayaan ramah lingkungan di Indonesia sangat besar. Tahun ini, pemerintah berencana...

Penerapan prosedur standar kenormalan baru (new normal) di sarana publik/Foto: Kemenparekraf Penerapan prosedur standar kenormalan baru (new normal) di sarana publik/Foto: Kemenparekraf
Breaking News2 hari lalu

Penerapan Kenormalan Baru Jadi Peluang Sektor Parekraf Bangkit Lebih Cepat

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Dampak COVID-19 di sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Ari Juliano Gema mengatakan, penerapan prosedur...

Breaking News3 hari lalu

Sambut Normal Baru, OJK Terbitkan Stimulus Lanjutan untuk Perbankan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan kebijakan lanjutan di sektor perbankan untuk memberikan ruang likuiditas dan permodalan perbankan. Kebijakan relaksasi ketentuan...

Breaking News3 hari lalu

Solusi Investasi dan Perlindungan Diri Menjelang Usia Nonproduktif

Bank DBS Indonesia dan Manulife Indonesia berupaya menjawab kebutuhan nasabah dalam membantu mewujudkan tujuan keuangan mereka di masa depan. Hal...

Breaking News4 hari lalu

BI Perpanjang Kebijakan Penyesuaian Jadwal Kegiatan Operasional dan Layanan Publik

Mengacu pada situasi COVID-19 terkini, Bank Indonesia (BI) memperpanjang kebijakan penyesuaian jadwal kegiatan operasional dan layanan publik hingga 15 Juni...

Breaking News4 hari lalu

Ini Panduan Normal Baru Wajib Diterapkan Instansi atau Perusahaan

Pamdemi COVID-19 telah melahirkan normal baru (new normal) dalam kehidupan sehari-hari. New normal yang dimaksud adalah menerapkan gaya hidup sesuai...

Breaking News5 hari lalu

17 Tahun Berturut-turut Bank Indonesia Raih Opini WTP dari BPK

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) memberikan predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kepada  Bank Indonesia (BI). Predikat itu...

Breaking News5 hari lalu

Jika COVID-19 Tak Kunjung Reda, PSBB Jakarta Diperpanjang dan Lebih Ketat

Anies imbau warga Jakarta mematuhi PSBB. Jika COVID-19 tak Kunjung reda, PSBB Jakarta bakal diperpanjang dan diberlakukan lebih ketat. Masyarakat...

Breaking News1 minggu lalu

Insentif Pajak di Tengah Wabah

Sepertinya edisi “Taxclopedia” kali ini paling banyak memuat dasar hukum untuk topik yang dibicarakan. Bahkan, saat tulisan ini dibuat, pemerintah...

Trending