Connect with us

Bank & Finaance

“Lingua Franca” Ekonomi Hijau

Diterbitkan

pada

Foto : Ilustrasi

 

Indonesia kini telah memiliki standar nasional sektor ekonomi hijau sebagaimana Tiongkok, Uni Eropa, dan negara-negara ASEAN. Bagaimana penerapannya?

 

Majalahpajak.net – Menurut Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, potensi kerugian akibat perubahan iklim di tahun 2024 mencapai Rp 115 triliun—sebuah lonceng peringatan tentang pentingnya praktik ekonomi ramah lingkungan (green economy). Pelajaran dari pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir semakin mempertegas urgensi penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (environment, social, & governance/ESG) di seluruh kegiatan pembangunan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung sepenuhnya penerapan ekonomi hijau untuk mewujudkan keberlanjutan ekonomi. Ekonomi hijau bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan sosial masyarakat sekaligus mengurangi risiko kerusakan lingkungan. Kegiatan ekonomi hijau mengutamakan keselarasan dengan konsep pembangunan berkelanjutan, emisi karbon yang rendah, sumber daya dan energi terbarukan, penghematan sumber daya alam, dan keadilan sosial.

OJK telah menempuh berbagai kebijakan agar sektor keuangan dapat mengorientasikan bisnis menuju ekonomi hijau. Bahkan OJK telah memperkenalkan Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan Tahap I periode 2015–2019 untuk membangun kepedulian mengenai keuangan berkelanjutan. Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan Tahap II (2021–2025) kemudian dibuat untuk membentuk ekosistem keuangan berkelanjutan, salah satunya melalui peluncuran Taksonomi Hijau Indonesia.

“Taksonomi Hijau Indonesia dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan insentif dan disinsentif serta sebagai pedoman untuk keterbukaan informasi, manajemen risiko, dan pengembangan produk/jasa keuangan berkelanjutan yang inovatif bagi OJK dan emiten,” ujar Wimboh.

Baca Juga : Kita Kasih “Carrot” Lupa “Stick”

Taksonomi Hijau Indonesia merupakan pedoman untuk pengelompokan aktivitas ekonomi guna mendukung upaya perlindungan lingkungan hidup dan mitigasi serta adaptasi perubahan iklim. Pedoman ini menjadi acuan lembaga jasa keuangan, emiten dan perusahaan publik dalam menyamakan bahasa tentang kegiatan usaha yang tergolong hijau. Taksonomi Hijau Indonesia disusun secara komprehensif dan kolaboratif dengan mengkaji 2.733 klasifikasi sektor dan sub-sektor ekonomi yang melibatkan delapan kementerian, lembaga internasional, akademisi, dan lembaga riset, serta para penggiat lingkungan.

Delapan kementerian itu meliputi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH), Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertanian, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Dalam webinar Green Economy Outlook 2022, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan Indonesia kini telah memiliki standar nasional sektor ekonomi hijau sebagaimana Tiongkok, Uni Eropa, dan negara-negara ASEAN. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan daya saing Indonesia mata dunia. Nantinya OJK akan mengeluarkan berbagai regulasi terkait keterbukaan informasi, manajemen risiko, serta panduan dalam pengembangan produk dan jasa keuangan berkelanjutan yang inovatif.

“Saat ini OJK telah mengeluarkan pedoman dan kebijakan teknis terkait insentif prudensial untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik berbasis baterai,” kata Wimboh.

Inisiatif ramah lingkungan

Berbagai sektor usaha melakukan serangkaian inisiatif ramah lingkungan seiring implementasi Taksonomi Hijau, seperti percepatan dekarbonisasi BUMN, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN (2021–2030), perdagangan karbon, dan peta jalan pengembangan industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Sektor industri jasa keuangan, infrastruktur, manufaktur, transportasi, dan teknologi informasi kini terus bergerak menuju industri hijau. Industri sawit menerapkan inisiatif hijau melalui praktik minim limbah. Di sektor teknologi informasi, perusahaan teknologi Microsoft telah mengembangkan Microsoft Cloud for Sustainability untuk membantu perusahaan lain dalam melakukan manajemen data terkait program berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon.

Baca Juga : Jangan Stop di Jargon

Implementasi lain dari Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan Tahap II adalah mengenai kewajiban lembaga jasa keuangan untuk menyusun Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan dan menyampaikan Laporan Keberlanjutan bagi lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik.

Wimboh menerangkan, keuangan berkelanjutan merupakan inisiatif strategis OJK melalui beberapa program. Pertama, penerapan Taksonomi Hijau sebagai pedoman dalam pengembangan produk-produk inovatif. Kedua, pengembangan kerangka manajemen risiko di industri jasa keuangan dan pedoman pengawasan berbasis risiko dalam rangka penerapan risiko keuangan terkait iklim. Ketiga, pengembangan skema pembiayaan atau pendanaan yang inovatif dan feasible. Terakhir, peningkatan awareness dan capacity building untuk seluruh pemangku kepentingan.

Tampaknya pelaku pasar menyambut baik serangkaian kebijakan OJK di atas, terlihat dari penyerapan obligasi global sustainability atau green bond yang mencapai 1,9 miliar dollar AS di Singapore Exchange oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Barito Pacific Tbk.

Sejak tahun 2017 OJK telah menerbitkan beberapa regulasi untuk mendukung implementasi keuangan berkelanjutan. Regulasi itu telah mendapat sejumlah dukungan dalam bentuk implementasi pembiayaan berkelanjutan oleh delapan bank peserta Pilot Project First Movers, penyaluran portofolio hijau pada perbankan senilai Rp 809,75 triliun, penerbitan green bond PT Sarana Multi Infrastruktur sebesar Rp 500 miliar, peningkatan nilai indeks SRI-Kehati dengan dana kelolaan mencapai Rp 2,5 triliun, dan penerbitan ESG leaders index oleh Bursa Efek Indonesia.

Bank & Finaance

Jumpa Nasabah di Metasemesta

Diterbitkan

pada

Penulis:

Istimewa
BRI, diikuti BNI, tak lama lagi akan menghadirkan cabang virtual dan produk digital lainnya untuk melayani nasabah di metasemesta.

 

Majalahpajak.net – Indonesia, dengan kekayaan budaya dan kearifan lokalnya, berpeluang besar dalam pengembangan dunia virtual global (metaverse). Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Plate melalui keterangan tertulis, Selasa (15/02) menjelaskan, metaverse di Indonesia mulai terbentuk dari sektor yang memiliki ekosistem user paling adaptif untuk mengadopsi inovasi digital yang akan terus berevolusi dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Metaverse adalah istilah yang menggambarkan sebuah dunia virtual baru tempat orang dapat bermain gim, bekerja, dan berkomunikasi dengan orang lain dalam lingkungan virtual—hal yang dimungkinkan oleh perangkat virtual reality (VR). Tak hanya dapat digunakan untuk gaming dan pertukaran NFT (nonfungible token), metaverse juga dapat digunakan untuk membantu masyarakat berinteraksi, bekerja, dan belajar melalui teknologi tiga dimensi (3D) yang menstimulasi indra penglihatan, pendengaran, dan peraba.

Sasar nasabah

Di sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menjadi pelopor yang siap melayani kebutuhan nasabah dengan layanan metaverse. BRI turut serta dalam Program Metaverse Indonesia yang akan ditampilkan di acara Presidensi G20 pada Oktober 2022. Untuk pengembangan layanan perbankan di metaverse, BRI berkolaborasi dengan WIR Group melalui penandatanganan kerja sama (MoU) di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Selasa (8/02).

Baca Juga : Inovasi Digital Kuatkan Tiga Pilar

Direktur Konsumer BRI Handayani mengatakan, BRI akan semakin dekat dalam melayani masyarakat dengan menghadirkan virtual branch, edukasi perbankan, dan layanan digital lainnya yang dapat diakses kapan saja, di mana saja secara cepat, mudah, efektif, dan aman.

“Hadirnya BRI ke dunia metaverse diharapkan bisa menjadi journey baru yang menyenangkan untuk nasabah sekaligus dapat menjangkau masyarakat lebih luas lagi untuk melakukan berbagai layanan transaksi digital,” kata Handayani secara virtual.

Ia menambahkan, pihaknya selalu berupaya mengutamakan pengalaman nasabah dalam setiap layanan. Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan visi perseroan tahun 2025 sebagai The Most Valuable Banking Group & Champion of Financial Inclusion. BRI versi metaverse juga diharapkan dapat mendukung tema Presidensi G20 Indonesia.

Inovasi digital BRI yang saat ini telah mendapat sambutan masyarakat adalah aplikasi BRImo. Hingga akhir 2021, sebanyak 14,15 juta nasabah telah menggunakan BRImo dengan pertumbuhan transaksi year on year mencapai 66,24 persen.

Division of Head Retail Payment BRI Dhoni Ramadi mengungkapkan, konsep metaverse nantinya akan digabungkan dengan aplikasi BRImo agar BRI tidak ketinggalan dengan teknologi yang sudah diadopsi oleh banyak perusahaan di luar negeri. Pihaknya sangat antusias menjadi bagian dari Metaverse Indonesia agar dapat terus memberikan layanan dan produk berbasis digital kepada masyarakat.

CEO dan Co-Founder WIR Group Michael Budi menyatakan, metaverse merupakan peralihan konsep teknologi dari dua dimensi menjadi tiga dimensi. Penerapan teknologi 3D di perusahaan memungkinkan layanan bisa lebih cepat dan lebih lengkap.

Baca Juga : Daya Tarik dan Peta Bank Digital

Menyusul BRI, bank pelat merah lainnya yakni PT BNI (Persero) Tbk (BNI), juga siap merambah ke layanan metaverse dengan menggandeng perusahaan teknologi WIR Group. Direktur IT & Operasi BNI Y.B. Hariantono mengatakan, layanan metaverse merupakan lanjutan dari pengembangan layanan digital perbankan. Pihaknya akan membangun ekosistem bisnis digital yang relevan di dalam Metaverse Indonesia seiring tren global yang terjadi sekarang. Pengembangan dilakukan melalui penggabungan virtual reality, augmented reality (AR), dan artificial intelligence (AI) untuk menghadirkan pengalaman baru bagi nasabah dalam menikmati layanan perbankan digital.

“Semua orang di dunia berbondong-bondong menuju ke sana, tidak terkecuali BNI. Kami akan membentuk ekosistem bisnis yang baru di dalamnya, seperti digital branch, digital product, new services, dan engagement kepada customer yang attached dengan metaverse,” kata Y.B Hariantono secara virtual dalam penandatanganan kerja sama Program Metaverse Indonesia antara BNI dan WIR Group, Selasa (15/02).

Menurutnya, WIR Group, dengan pengalaman yang mumpuni di bidang pengembangan teknologi AR, adalah mitra yang tepat untuk merealisasikan rencana ekspansi BNI di metaverse. Sebagai bank yang terdepan dalam pengembangan perbankan digital, BNI juga akan fokus pada digital talent untuk membangun ekosistem nasabah digital di masa depan.

Ia menjelaskan, manusia akan masuk ke dalam dunia metaverse yang baru dan pancaindra dapat merasakan pengalaman unik yang berbeda dari dunia nyata. Metaverse mampu menghadirkan replika dunia nyata yang membawa manusia ke berbagai tempat tanpa harus bepergian secara fisik.

“Jika ada aktivitas ekonomi, artinya perbankan juga bisa masuk untuk membantu baik dari sisi transaksi, pertukaran, atau bahkan bisnis esensial perbankan sendiri yaitu menghimpun dana maupun menyalurkan kredit di dalam metaverse,” imbuhnya.

Lanjut baca

Populer