Connect with us

UMKM Corner

Lima Penanya Terpilih “UMKM Corner” Periode 30 September -14 Oktober 2020

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Sesuai dengan pengumuman Majalah Pajak pada Rabu (19/8/2020), untuk mendukung UMKM, Majalah Pajak meluncurkan rubrik “UMKM Corner”. Melalui rubrik ini, pembaca dapat bertanya seputar UMKM kepada narasumber melalui email. Rubrik UMKM Corner kali ini diampu langsung oleh Henda Roshenda Noor, Komisaris Utama Elcorps.

Bagi Taxpeople yang belum terpilih saat ini,  silakan kirimkan lagi pertaanyaan kalian melalui email umkmcorner.majalahpajak@gmail.com. Jangan lupa sertakan data diri, seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat lengkap, nama akun instagram.

Lima orang penanya terpilih akan mendapatkan apresiasi setiap minggunya. Jangan lupa ikuti instagram Majalah Pajak @majalahpajak untuk mendapatkan informasi terbaru.

Berikut ini adalah lima penanya terpilih yang dijawab langsung oleh oleh Henda Roshenda Noor, Periode 30 September 14 Oktober 2020

 

  1. Rima Aruna (@meddyna26) – Bekasi Selatan

Pertanyaan:

Dear Majalah Pajak dan Ibu Henda. Saat ini, kan, lagi nge-hits tuh aplikasi TikTok. Nah, untuk pelaku UMKM efektif enggak untuk berjualan dengan aplikasi TikTok? 

Jawaban:

Dear Mbak Rima,

Saya senyum bacanya, itu produk kreatif. Nah bagaimana kita memanfaatkannya dengan tidak melanggar ini itu dari yg kontra, nyatanya saya lihat beberapa produk di-launch dengan aplikasi TikTok. Intinya bagaimana menancapkan produk kita supaya mudah diingat konsumen dan calon konsumen, harus unik kreatif mendidik, jangan lupa juga jujur dengan mutunya. Selamat Tik Tok-an, share ke saya ya, nanti saya like.

  1. Astrid AnindyaCijantung, Jakarta Timur

Pertanyaan:

Nama saya Astrid Anindya, saya mempunyai produk berupa minuman. Berdiri sudah hampir 3 tahun lebih. Sudah banyak yang menanyakan franchise produk saya, tetapi saya masih belum mengerti perjanjian apa yang harus saya siapkan. Sedangkan, modal saya juga pas-pasan. Sedangkan saya juga ingin produk minuman saya maju. Yang ingin saya tanya, bagaimana cara untuk menentukan jenis franchise yang sesuai dengan produk saya, agar dikemudian hari tidak ada yang dirugikan satu sama lain.

Jawaban:

Hallo Astri

Sebelum dijual apalagi di-franchisekan, dilengkapi dulu izin-izinya, apalagi itu minuman, jika sudah atau bisa paralel pikirkan cara memasarkannya. Jika ingin franchise, maka harus dipelajari benar-benar pasal-pasalnya, juga terkait dengan legal formal juga perpajakan-nya, mengantisipasi jika ada perselisihan dikemudian hari.

Mungkin coba dulu berupa jaringan, semacam distributor atau keagenan, itu lebih simple, jual putus artinya produk tidak bisa diretur kecuali dengan syarat tertentu. Ini penting agar resiko usang dan kedaluwarsa tidak di kita.

Antisipasi dengan produk tiruan, oleh karenanya segera patenkan, ini penting. Banyak yang tutup karena digugat padahal kita produk pertamanya. Franchise itu membutuhkan tools dan management yg lumayan, karena harus siap dengan team management, terutama FAST(finance),  MD(Merchandiser), dan marketing. Setiap saat, kontinuitas pasokan, diversifikasi produk harus sama tiap toko, mau toko consignee atau condignor, konsumen tidak akan tahu karenaambiance nya harus persis sama, panjang ya, boleh DM(Direct Message) deh kalau kurang jelas.

  1. Rere (Reva) Jakarta

Pertanyaan:

Yth. Majalah Pajak. Seperti kita ketahui bersama bahwa pandemi Korona membuat masyarakat tak terkecuali kami pelaku usaha UMKM masuk dalam masa sulit. Penurunan angka penjualan, terhambatnya distribusi, dan kesulitan bahan baku adalah masalah besar yang sedang kami hadapi. Apa kiat atau langkah dan strategi yang kami lakukan agar kami bisa lolos dari segala persoalan ini?

Jawaban:

Betul, bisnis secara umum sedang mengalami penurunan. Jika usaha rumahan tidak mempunyai diferensiasi, maka akan ditinggal konsumen. Coba Ibu buka usaha di bidang lainnya misalnya, di bidang jasa, bisa sebagai penghubung atau kita sebagai pelakunya. Itu tanpa modal. Kalaupun ada, sedikit.

Saat ini masyarakat sedang gandrung dengan makanan sehat, coba pakai diferensiasi itu—makanan sehat halal dan baik, terjangkau, dan dengan melakukan gimmick melalui bahasa marketing yang Ibu bisa baca di sosial media agar menarik orang untuk membeli. Jangan lupa jaga kualitas tetap konsisten bahkan lebih baikkarena berusaha kan untuk jangka panjang.

Untuk Lebih jelasnya silakan klik dan baca link di sini.

  1. Elisa Ostagfira (@ostagfira)

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Majalah Pajak dan narasumber. Saya minta tips dan sarannya, dong, gimana cara menjual barang di toko pakaian saya yang stoknya menumpuk, modelnya pun sudah ga up to date. Dan tidak mungkin saya stok lagi baju model terkini dengan modal yang minim. Sedangkan, pembeli, kan, pengennya baju yang up to date. Waktu saya juga terbatas, karena saya urus anak dan usaha kecil-kecilan saya yang lain. Untuk memulai bazar di saat pandemi ini pun enggak bisa. Mohon tips dan triknya, ya. Wassalam.

Jawaban:

Wassalamu’alaikum

Wah, ini memang masalah bersama dan klasik di-fashion, ya. karena kalau sudah ketinggalan model bukan rada lagi tapi sulit memasarkannya. Beberapa yang pernah dicoba sih, dibuat mix dan match satu dengan yang lain, lalu unggah di sosial media dengan menarik, tonjolkan keunggulannya, dan jangan lupa akses untuk mendapatkannya, dijual dengan bundling—dijual dalam satu batch. Jadi, bukan ke konsumen retail tapi ke agen dan pedagang dan terakhirdengan diskon yang menarik,

Kalau kendala waktu anak dan ada fokus usaha lain, tinggal memilih prioritasnya,Mbak.

  1. Aryanto (Banjarnegara)

Pertanyaan:

Selamat siang sayaAry dari Jawa Tengah. Mau bertanya, bagaimanakah solusi untuk pelaku usaha mikro aksesoris dimasa pandemi ini? Karena, dalam kondisi seperti ini masyarakat cenderung memilih untuk membeli bahan pokok dibanding lainya, sehingga untuk usaha seperti aksesoris jarang sekali peminatnya yang menimbulkan pendapatan turun drastis, bahkan tidak terjual sama sekali. Terimakasih.

Jawaban:

Pandemi ini, ternyata bukan “hanya” masalah dagangan kita. Tapi dagangan seluruh dunia terdampak. Coba produknya unggah di sosial media—tawarkan keunggulan dan harga yang bersaing, juga tawarkan diskon menarik untuk yang mau beli banyak. Bisa juga tawarkan pedagang yang butuh padanan aksesoris. Semoga tetep semangat, yaaaa.

UMKM Corner

Lima Penanya Terpilih “UMKM Corner” Periode 16 September hingga 30 September 2020

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Sejak diluncurkan pada Rabu (19/8/2020) lalu, rubrik “UMKM Corner” Majalahpajak.net kian mendapat sambutan positif dari pembaca. Terbukti dari antusiasme pembaca yang bertanya. Rubrik ini untuk memang dibuat untuk mendukung para pelaku UMKM. Melalui rubrik ini, pembaca dapat bertanya seputar UMKM kepada narasumber melalui email. Rubrik UMKM Corner ini diampu langsung oleh Henda Roshenda Noor, Komisaris Utama Elcorps.

Bagi Taxpeople yang belum terpilih saat ini,  silakan kirimkan lagi pertaanyaan kalian melalui email umkmcorner.majalahpajak@gmail.com. Jangan lupa sertakan data diri, seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat lengkap, nama akun instagram.

Berikut ini daftar lima penanya terpilih yang berhak mendapatkan suvenir dari Majalah Pajak.

 

  1. Esita Tasbilya (@bly)

Pertanyaan : Dear Majalah Pajak. perkenalkan nama saya Esita Tasbiliya, salah satu siswi SMA di Bekasi. Saya tertarik pada permainan saham sejak kelas IX SMP. Saya sudah baca beberapa apa artikel pembelajaran tentang saham. Tapi, jujur saya sedikit kurang mengerti bagaimana kita bisa membandingkan saham yang baik untuk berinvestasi di jangka panjang. Mohon bantuannya terima kasih.

Jawaban:

Dear Esita,

Yang harus menjadi pertimbangan dalam memilih saham adalah fundamental perusahaannya bagus (bisnisnya, manajemennya, keuangannya, pasarnya) dan perusahaan tersebut terprediksi akan masih ada berpuluh tahun ke depan.

Yang pasti, investasi terbaik adalah investasi yang bisa memenuhi tujuan keuangan kita. Misalnya, dari sekarang lakukan persiapan untuk pensiun, biasanya pilih saham bank seperti Bank Mandiri sebagai aset finansialnya. Tetapi mungkin jika punya Bank BCA atau Bank BRI sama baiknya atau bisa jadi lebih baik. Nah kalau ditanya kapan saat yang tepat, saya ingat Slogan SAM: “Saat terbaik berinvestasi adalah 20 tahun lalu dan saat terbaik berikutnya adalah hari ini.” Selamat mencoba.

2.     Anjani Sekar (@anjaniisr)

 

Pertanyaan :

Assalamualaikum Majalah Pajak dan Ibu Henda yang terhormat. Sebelumnya perkenalkan nama saya Anjani dan masih bersekolah tingkat SMA kelas XI. Sebelumnya saya sudah banyak mencoba memulai bisnis berjualan untuk menghasilkan uang sendiri agar tidak terlalu merepotkan keluarga dan orang tua. Namun, karena adanya pandemi seperti ini, saya harus berjualan on-line. Awalnya pembeli ramai membeli jualan saya, tetapi lama kelamaan mulai berkurang. Pertanyaan saya, bagaimana cara menarik perhatian pelanggan dengan berjualan on-line di masa pandemi seperti ini? Dan, bagaimana cara mengembangkannya di saat saya masih harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum.

Jawaban:

Wassalamu’alaikum.

Bagus sekali niatnya, saya juga senang kalau ada anak muda sudah mulai berusaha sejak dini, walau harus menyiasati waktu di antara tugas-tugas sekolah. Coba cara seperti ini:

  1. Ada diskon yang menarik.
  2. Pelayanan cepet
  3. Rajin promosi
  4. Adakan giveaway

5, Reward/Bonus untuk konsumen

  1. Posting yang manfaat buat market
  2. Produk kategori yang tepat (basic) untuk kondisi saat ini

3. Dewi Yunita (@dewi_meysah)

Pertanyaan : Halo Ibu Henda Roshenda Noor, saya Dewi Yunita dari Bekasi Jawa Barat yang memiliki usaha kecil kaki kulkas yang terbuat dari Kayu. Di masa pandemi seperti ini untuk penjualan sangatlah menurun drastis dan tidak mudah untuk memasarkan barang khususnya daerah lokal. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana cara untuk bisa memulai pasar ekspor dan bagaikan prosedur perizinannya? Terima kasih.

Jawaban:

Dear Ibu Dewi,

Pada dasarnya ekspor dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk badan usaha baik yang berbentuk badan hukum ataupun bukan. Badan usaha ini tentu harus spesifik melihat syarat-syaratnya, seperti tidak mudah tetapi jangan patah semangat, ya. Semua harus di tekuni dengan fokus, badan usaha yang bisa dipilih di antaranya: Badan usaha berbentuk badan hukum, Perseroan Terbatas, Yayasan, Koperasi Badan usaha bukan berbentuk badan hukum, Persekutuan Perdata, CV, Firma atau Bu Dewi bisa melakukan usaha perorangan, yang membedakannya adalah bagi perseorangan hanya dapat mengekspor kelompok barang bebas ekspor. Sedangkan, lembaga dan badan usaha hanya dapat mengekspor kelompok barang bebas ekspor dan barang dibatasi ekspor. Coba Bu Dewi bisa melihatnya di perundang undangan mengenai ekspor.

4.    Tiniek Mirgianti (@danishomade)

Pertanyaan:

Bismillah. Assalamualaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh, Ibu. Di pandemi seperti ini daya beli orang semakin lemah, sedangkan pelaku UMKM semakin banyak yang baru bangun karena ingin survive di kondisi ini. Bagaimana cara kami yang berusaha bisnis makan di rumah agar penjualan tidak berkurang tanpa mengurangi kualitas dan harga?—persaingan harga cukup ketat karena daya beli masyarakat cenderung menurun. Terima kasih, Ibu DanishomadE.

Jawaban:

Wa’alaikum salam,

Betul yang Ibu bilang bisnis secara umum sedang mengalami penurunan, jika usaha rumahan tidak mempunyai diferensiasi maka akan ditinggal konsumen juga. Coba Ibu buka usaha di bidang lainnya misalnya di bidang jasa, bisa sebagai penghubung atau kita sebagai pelakunya, itu tanpa modal kalau pun ada sedikit.

Saat ini sedang gandrung Ibu-Ibu dengan makanan sehat, coba pakai diferensiasi itu, makanan sehat halal dan baik, dan terjangkau dengan melakukan gimmick melalui bahasa marketing yang Ibu bisa baca di sosmed yang menarik orang untuk membeli, jangan lupa jaga kualitas tetap konsisten bahkan lebih baik, karena berusaha kan untuk jangka panjang.

5. Irawati Maryam / AkiraKitchen (@maryaji)

Pertanyaan : Assallamualaikum. Dear Ibu Henda  & Majalah Pajak. Perkenalkan nama saya Irawati Maryam, domisili di Cibinong. Saya pemilik usaha rumahan di bidang kuliner sudah berjalan selama lima tahun. Untuk produk yang dihasilkan bermacam-macam olahan aneka cake, custom cake, makanan khas Palembang (pempek dan tekwan), ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan:

  1. Sebagai industri rumahan dengan market yang belum terlalu luas, apa perlu saya membuat izin usaha skala rumahan?

 

  1. Dari berbagai produk yang dihasilkan, apakah harus difokuskan di beberapa produk saja?

Demikian pertanyaan saya untuk melihat produk-produk yang saya hasilkan bisa dilihat di IG: Maryaji/#akira kitchen. Wassalamuallaikum.

Jawaban:

  1. Jika kita mau berusaha secara konsisten dan memerlukan track record usaha memang harus ada izin-izin sesuai skala usahanya, apalagi jika mau membesar, semua fasilitas mengharuskan ada identitas antara lain dengan izin-izin itu.
  2. Kalau dari pengalaman saya, banyak produk lebih sulit dalam me-manage-nya, dan tentu stoknya harus lebih banyak, risiko juga lebih banyak tetapi ini semua tergantung. Coba dibuat pareto produk mana yang paling diminati, itu yang nantinya difokuskan untuk dikembangkan menjadi lebih baik dan beda dengan yang lain.

 

Lanjut baca

UMKM Corner

Lima Penanya Terpilih “UMKM Corner” Periode Agustus-12 September 2020

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Sesuai dengan pengumuman Majalah Pajak pada Rabu (19/8/2020), untuk mendukung UMKM, Majalah Pajak meluncurkan rubrik “UMKM Corner”. Melalui rubrik ini, pembaca dapat bertanya seputar UMKM kepada narasumber melalui email. Rubrik UMKM Corner kali ini diampu langsung oleh Henda Roshenda Noor, Komisaris Utama Elcorps.

Bagi Taxpeople yang belum terpilih saat ini,  silakan kirimkan lagi pertaanyaan kalian melalui email umkmcorner.majalahpajak@gmail.com. Jangan lupa sertakan data diri, seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat lengkap, nama akun instagram.

Lima orang penanya terpilih akan mendapatkan apresiasi setiap minggunya. Jangan lupa ikuti instagram Majalah Pajak @majalahpajak untuk mendapatkan informasi terbaru.

Berikut ini adalah lima penanya terpilih yang dijawab langsung oleh oleh Henda Roshenda Noor, Periode Agustus-12 September 2020.

1. Meddy Ferdiana (@meddyna26)

Pertanyaan :

Dear Majalah Pajak dan narasumber. Saya dan kawan-kawan saat ini memiliki beberapa usaha rumahan yang bervariasi, kami terpikir untuk bisa mengembangkan usaha kami dengan bekerja sama dalam satu wadah tertentu, misalnya koperasi. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana cara membentuk koperasi bagi UMKM seperti kami, dan apa tip agar usaha kami tersebut bisa dapat berkembang bersama?

Jawaban:

Dear Meddy, senang dengan anak muda yang punya semangat kerja. Untuk membentuk Koperasi baiknya lihat UU Koperasi, di situ ada step by step-nya, juga minimal anggota. Jangan lupa notarisnya juga khusus yang punya sertifikat Notaris Koperasi. Saat ini pemerintah banyak menyalurkan kredit usaha melalui wadah koperasi. Semangat berkembang bersama itu bagus, jadi coba sabar ikuti step-stepnya ya, selamat mencoba.

2. Juwita (@ithakechee)

Pertanyaan:

Assalamualaikum Majalah Pajak dan Ibu Henda. Saya mau bertanya. Awalnya saya hanya seorang ibu rumah tangga, dikarenakan pandemi saat ini, saya harus membantu suami saya mencari uang. Saya sudah memulai berdagang makanan yang saya jual kepada kerabat, tetangga dan teman dekat. Namun saya ingin mengembangkan apa yang sudah saya miliki saat ini. Pertanyaan saya, apa ada bantuan pelatihan yang diberikan oleh pemerintah untuk UMKM yang baru seperti saya dikarenakan kondisi pandemi saat ini atau ada referensi bagi saya untuk mengikuti pelatihan gratis lainnya? Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih.

Jawaban:

Wassalamu’alaikum, Bu Juwita yang baik, banyak sekali pelatihan gratis baik itu dari pemerintah maupun perorangan swasta. Cobalah cari info melalui internet atau grup-grup UMKM di media sosial. Saya beri contoh infonya di bawah ini ya… Selamat mencoba

 

3. Rusmiati (@dapurbunda_umi)

Pertanyaan:

Halo Majalah Pajak. Apa sih kriteria untuk dikatakan sebagai UMKM itu? Dan untuk bisa mendapatkan bantuan pemerintah, apa usaha saya harus berbadan hukum?

Jawaban:

Pemerintah Indonesia membuat program bantuan dan subsidi untuk warga di saat masa pandemi virus corona (COVID-19), yang diberikan mulai Agustus-Desember 2020. Misal BLT, untuk pekerja yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dengan gaji di bawah Rp 5 juta. Bantuan Sosial khusus UMKM, Kartu Pekerja bagi yang terkena dampak PHK akibat Covid, untuk tenaga medis yang mendedikasikan diri merawat pasien; ada subsidi listrik dan subsidi BLT Dana Desa. Semua bantuan ini mempunyai syarat, yakni:

Syarat penerima BLT subsidi UMKM adalah sebagai berikut:

Warga Negara Indonesia;

Pelaku usaha mikro;

Bukan ASN;

Bukan anggota TNI/Polri;

Bukan pegawai BUMN/BUMD;

Memiliki tabungan dengan nominal di bawah Rp 2 juta;

Belum pernah atau sedang menerima pinjaman dari perbankan.

4. Nita Oktaviani Putri (@nitaoputri)

Pertanyaan:

Assalamualaikum, Ibu Henda yang baik, saya Nita masih bersekolah di tingkat SMA. Sebelum adanya pandemi, saya berjualan donat di kelas untuk membantu keluarga, selama saya jualan banyak teman-teman kelas saya yang membelinya. Namun, semenjak adanya pandemi sekolah saya melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yang di mana saya tidak bisa lagi berjualan di sekolah. Akhirnya saya mencoba berjualan secara online, namun pendapatannya menurun jauh dari biasanya. Pertanyaannya, bagaimana cara berjualan yang efektif di situasi pandemi seperti ini, tapi tidak terlalu menyita waktu? Karena saya juga harus menyelesaikan tugas-tugas dari sekolah. Lalu, perubahan apa saja yang ibu lakukan untuk beradaptasi saat pandemi ini? Terima kasih atas jawabannya, Bu. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jawaban:

Wassalamu’alaikum, Saya senang sekali Dik Nita ini sudah mau berusaha sejak dini, itu bagus harus disiplin alokasi waktu buat belajar ya. Ada beberapa pengalaman usaha yang tidak perlu modal yaitu reseller. Ini jika ditekuni luar biasa hasilnya, tetapi harus fokus. Coba bukan link yang menawarkan menjadi agen atau reseller, misal di Elzatta, atau menjadi penghubung antara supplier (bisa petani bisa penjual di pasar). Foto produk-produk dengan tampilan menarik, tawarkan ke lingkungan setempat, ada kalanya ikut WAG RT atau kompleks. Banyak manfaatnya, jangan lupa hitung berapa minimum penjualan agar tidak rugi di ongkos he-he-he.

5. Agus Suherman (@gerbong.eskrim_serua)

Pertanyaan :

Assalamualaikum. Saya Herman dari Depok. Ingin bertanya kepada ibu Ros, Pandemi Corona membuat sektor ekonomi lumpuh. Berbeda dengan krisis keuangan 1998, sektor mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga mengalami tekanan yang sangat dalam saat ini. Artinya, sektor ini bukan menjadi penyelamat tetapi justru butuh diselamatkan. Bagaimana cara para pelaku UMKM menjaga produktivitas di tengah imbauan PSBB? Yang bahkan sampai detik ini belum tahu kapan selesainya. Kemudian pasca-PSBB ini, pasti para pelaku usaha kecil sangat membutuhkan moda usaha kembali, adakah tip-tip dan stimulus untuk mendapatkan modal bagi para pelaku usaha?

Jawaban:

Di periode sebelumnya sudah saya  share, (lihat link di sini) memang  lebih mudah kalau sudah punya track record usaha yang salah satunya  dengan rekening Bank. Dan laporan keuangan sederhana, sebagian besar mensyaratkan seperti itu, Jika belum ada , mulai dari usaha yang tidak membutuhkan modal banyak misal menjadi agen, reseller atau penyedia jasa, tawarkan ke lingkungan terdekat ini mengurangi biaya handling dan transportasi,  seperti yang saya utarakan sebelumnya “Millenial Kills Everything, COVID-19 changes all Business ecosystem,  dibutuhkan ide yang kreatif dan kalau bisa yang anti-mainstream, harus berani, dan selalu updated dengan perkembangan kebutuhan masyarakat.

Lanjut baca

UMKM Corner

Lima Penanya Terpilih “UMKM Corner” Periode 19 Agustus 2020 – 2 September 2020

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Sesuai dengan pengumuman Majalah Pajak pada Rabu (19/8/2020), untuk mendukung UMKM, Majalah Pajak meluncurkan rubrik “UMKM Corner”. Melalui rubrik ini, pembaca dapat bertanya seputar UMKM kepada narasumber melalui email. Rubrik UMKM Corner kali ini diampu langsung oleh Henda Roshenda Noor, Komisaris Utama Elcorps.

Bagi Taxpeople yang belum terpilih saat ini,  silakan kirimkan lagi pertaanyaan kalian melalui email umkmcorner.majalahpajak@gmail.com. Jangan lupa sertakan data diri, seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat lengkap, nama akun instagram.

Lima orang penanya terpilih akan mendapatkan apresiasi setiap minggunya. Jangan lupa ikuti instagram Majalah Pajak @majalahpajak untuk mendapatkan informasi terbaru.

Berikut ini adalah lima penanya terpilih yang dijawab langsung oleh oleh Henda Roshenda Noor, Periode 19 Agustus 2020 – 2 September 2020.

 

1. Gatot Kartiko (Lampung)

Pertanyaan:

Perkenalkan Saya Gatot Kartiko UMKM Batik Gabovira Lampung. Saya ingin bertanya, bagaimana caranya UMKM untuk mendapatkan stimulus PEN. Karena di Lapangan Kami UMKM minim sekali Info tentang PEN?

Jawaban:

Halo, Pak Gatot, salam kenal juga, saya coba jawab ya, semoga manfaat. Melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pemerintah membantu   UMKM lewat berbagai cara, di antaranya, pertama, pelaku UMKM dibantu supaya cicilan kreditnya ditunda atau direstrukturisasi oleh bank atau lembaga pembiayaan. Pelaku usaha dapat mengajukan fasilitas ini dengan cara mengunjungi kantor cabang atau mengisi pengajuan di website resmi bank atau lembaga itu.

Kedua, bantuan modal kerja atau bantuan presiden (BanPres) kepada UMKM sebesar Rp 2,4 juta. Syarat UMKM dapat memanfaatkan ini yakni, pelaku usaha merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) Memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK), mempunyai usaha mikro yang dibuktikan dengan surat usulan dari pengusul lampirannya, bukan ASN, bukan anggota TNI/Polri, bukan pegawai BUMN/BUMD. Syarat lainnya, UMKM mesti didentifikasi dan diusulkan oleh lembaga pengusul, yaitu bisa dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi dan Kabupaten/Kota; koperasi yang telah disahkan sebagai badan hukum; kementerian/lembaga; perbankan dan perusahaan pembiayaan yang terdaftar di OJK; serta BUMN dan BLU.

Ketiga, pajak UMKM dibayar pemerintah sampai dengan Desember 2020. Caranya, pelaku usaha hanya melaporkan pemanfaatan stimulus ini lewat DJP on-line dan klik fitur layanan bernama e-reporting insentif covid-19. Di sana pelaku UMKM dapat mengisi formulir pelaporan sekaligus mengunggahnya.

2. Fakar Ahmad (Jakarta)

Pertanyaan:

Halo Majalah Pajak. Saya ada pertanyaan yang selama ini mungkin jadi pertanyaan yang lain juga. Kita tahu di masa pandemi ini banyak pelaku usaha yang mengalami kerugian dan bahkan kebangkrutan. Nah, kita sebagai pelaku usaha kecil—katakanlah UMKM, atau yang baru mau memulai suatu usaha. Bagaimana cara kita mendapatkan program bantuan dari pemerintah untuk para pelaku usaha atau UMKM untuk mendapatkan modal dan bagaimana kiat agar sukses dalam mengelola keuangan modal tersebut, dan sekiranya usaha apa yang sesuai dengan masa pandemi ini selain usaha kuliner atau reseller produk fashion? Terimakasih. Wassalam.

Jawab:

Salam, Pak Fakar,

Pemerintah Indonesia membuat program bantuan dan subsidi untuk warga di saat masa pandemi virus corona (COVID-19), yang diberikan mulai Agustus-Desember 2020. Misal BLT, untuk pekerja yang terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan dengan gaji di bawah Rp 5 juta. Bantuan Sosial khusus UMKM, Kartu Pekerja bagi yang terkena dampak PHK akibat Covid, untuk tenaga medis yang mendedikasikan diri merawat pasien; ada subsidi listrik dan subsidi BLT Dana Desa. Semua bantuan ini mempunyai syarat, yakni:

Syarat penerima BLT subsidi UMKM adalah sebegai berikut:

  1. Warga Negara Indonesia;
  2. Pelaku usaha mikro;
  3. Bukan ASN;
  4. Bukan anggota TNI/Polri;
  5. Bukan pegawai BUMN/BUMD;
  6. Memiliki tabungan dengan nominal di bawah Rp 2 juta;
  7. Belum pernah atau sedang menerima pinjaman dari perbankan.

Nah, poin b di atas menjawab pertanyaan Mas Fakar bagi yang, “…baru mau mulai usaha…” ini tidak termasuk dalam kebijakan penerima bantuan di atas.

Kiat mengelola keuangan dan  usaha yang sukses, tentu ada berbagai pengalaman yang setiap orang bisa saja berbeda. Modal usaha jangan dipakai untuk pembelanjaan konsumtif atau pisahkan pengelolaan keuangan agar mudah mengontrolnya, dan biasanya track record usaha akan sangat membantu dan dipercaya adalah jika disimpan di bank, bukan di bawah bantal—lihat poin (f).

Peluang usaha di masa Covid begini bukan hanya kuliner dan reseller produk fashion. Dan reseller, kan, bukan fashion saja. Misal, jasa pengiriman, bongkar pasang pindahan , memelihara ikan , sayuran, jadi guru privat, tentu dengan persyaratan aman yang di minta, dan lain-lain. Ayoo…  semangat!

3. Maher Steresmen

Pertanyaan:

Pagi, Ibu Henda Roshenda Noor. Salam kenal, Bu Henda, saya Sona. Mau tanya dong, Bu, seputar UMKM. Bagaimana mengembangkan bisnis rintisan di bidang jasa dengan modal yang tidak besar ya, Bu? Jujur, di saat pandemi ini bidang usaha cetakan yang saya geluti terasa sekali imbasnya. Sudah beberapa cara saya coba namun kondisi sekarang ini memang tidak bisa dihindari buat pelaku usaha seperti saya. Terima kasih ya, Bu Henda. Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Jawab:

Wassalamuálaikum, Pak Maher, semangat, Pak!

Pak Maher, bukankah usaha yang tidak banyak modal ( cash maksudnya) itu usaha jasa ya? Jasa keahlian yang dibutuhkan masyarakat. Kita perlu cermati apa saja ( tentu tiap daerah berbeda ya) jasa yang diperlukan. Jasa cetakan perlu kreativitas tinggi di saat sekarang masyarakat cenderung papperless ( jika usahanya berkaitan dengan paper). Tetapi, jasa design printing itu masih punya nilai tambah , asal unik dan kreatif. Coba tawarkan, misalnya cetakan untuk packaging (bisa makanan, bisa produk lain yang perlu packaging dalam pengirimannya. Kirimkan contoh dengan desain menarik tentu harga yang kompetitif). Saya melihat ini kebutuhannya cukup besar. Salah satu  kuncinya kita harus tahu memperoleh bahan baku yang bagus dan murah untuk menekan harga pokok.

4. Zahratunnisa—Dimsum Sholah (Tangerang)

Pertanyaan:

Selamat sore, saya admin produk UMKM Dimsum Sholah. Mohon izin bertanya; Selain dimsum, saya punya tiga macam produk yang berbeda tapi masih dalam bentuk kuliner. Untuk penghitungan pajak UKM, apa ketiganya  dihitung omzetnya atau satu produk saja yang dihitung? Terima kasih.

Jawab:

Salam selamat sore Bu Zahratunnisa. Untuk menghitung pajak tentu semua omzet dihitung disatukan selama dalam satu usaha WP. Namun, masing-masing produk perlu dihitung agar kita bisa lihat performance masing-masingnya sehingga  jadi bahan evaluasi, mana yang potensial bisa dilanjutkan, mana yang harus direm atau di-review, dicari tahu mengapa tidak bagus, misalnya. Selamat dan semangat terus ya, Pak!

5. Febbyana Regita (Depok)

Pertanyaan:

Sekarang ini jiwa pengusaha sudah ditanamkan sejak bangku sekolah melalui mata pelajaran Kewirausahaan.  Saya, kebetulan duduk di bangku SMA dan sudah berjualan jilbab. Bagaimana cara pengembangan usaha lewat peningkatan modal melalui pinjaman bank, sedangkan kami belum punya KTP? Apakah anak muda (belum punya KTP) seperti kami harus mengubur impian mengembangkan usaha lebih besar? padahal momentum yang ada adalah saat ini.

Jawab:

Halo, Dik Febby. Wah, jangan patah semangat, terus berusaha ya…! Jualan saja dengan kekuatan cash sendiri akan lebih bagus semua transaksi melalui tabungan (bisa mintakan buka tabungan ke ortunya jika belum punya KTP. Masalah usia itu penting karena usaha kita ada track record-nya). Walau berat dan susah, ini penting untuk pembelajaran dan menghargai setiap usaha, fokus dan konsisten tidak gampang menyerah!

Buat KTP, kan, tidak sulit. Eh, belum  17 tahun ya? Sayangnya semua persyaratan perbankan dan bantuan pemerintah itu salah satunya untuk yang sudah memiliki KTP.

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News23 jam lalu

Cak Lontong: Saya Pelawak yang Tidak Lucu

Komedian kondang Tanah Air membeberkan resep suksesnya menjadi pelawak di webinar dan peluncuran buku Anatomi Lelucon di Indonesia karya Darminto...

Breaking News1 hari lalu

Lokakarya Virtual Memahami Implementasi e-Faktur 3.0

Jakarta, Majalahpajak.net – Sejak awal tahun, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) melakukan serangkaian uji coba Implementasi aplikasi e-Faktur 3.0 terhadap sejumlah...

Breaking News2 hari lalu

ISEF Dorong Agar Indonesia Menjadi Pusat Fesyen Muslim Dunia

Jakarta, Majalahpajak.net –  Indonesia memiliki potensi sangat besar untuk menjadi pusat fesyen muslim dunia. Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) merupakan...

Breaking News4 hari lalu

Mitra Tepercaya Membangun Kepatuhan Sukarela

Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I) merayakan ulang tahun ke-5 secara virtual pada Rabu (21/10). Mengusung tema “AKP2I Sebagai Mitra...

Breaking News4 hari lalu

Fesyen Muslim Indonesia Rambah Eropa

Jakarta, MajalahPajak.net – Sepuluh desainer yang merupakan anggota Industri Kreatif Syariah Indonesia mengikuti ajang internasional Virtual Fashion Show Mercedes Benz...

Breaking News5 hari lalu

Drama Heroik Perjuangan Para Calon Pilot Muda

Jakarta, Majalahpajak.net – Film KADET 1947 garapan rumah produksi Temata kembali syuting sejak pertengahan September lalu di wilayah Yogyakarta. Film...

Breaking News5 hari lalu

ISEF 2020, Bangkitkan Spirit Positif dan Optimisme Pelaku Usaha Syariah

Jakarta, Majalahpajak.net – Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) merupakan kegiatan tahunan ekonomi dan keuangan syariah terbesar di Indonesia. Penyelenggaraan ISEF...

Breaking News5 hari lalu

Hendra Gunawan Menjabat Direktur Utama UOB Indonesia

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Bank UOB Indonesia (UOB Indonesia) menunjuk Hendra Gunawan sebagai Direktur Utama UOB Indonesia menggantikan Kevin Lam...

Breaking News1 minggu lalu

Ekonomi Kuartal ke-4 Membaik, Pemerintah Tetap Fokus Menjaga Pertumbuhan

Kasus pandemi COVID-19 di dunia masih mengalami eskalasi dan memicu ketidakpastian. Di Indonesia, kasus COVID-19 di beberapa daerah terkendali. Namun,...

Breaking News1 minggu lalu

Dukung Kemajuan Pasar Modal Indonesia, DJP Terima Penghargaan

Jakarta, Majalahpajak.net – Peran Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terhadap kemajuan pasar modal Indonesia mendapat penghargaan dan apresiasi dari para regulator...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved