Connect with us

UMKM Corner

Lima Penanya Terpilih “UMKM Corner” Periode 20 Oktober – 11 November 2020

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Sesuai dengan pengumuman Majalah Pajak pada Rabu (19/8/2020), untuk mendukung UMKM, Majalah Pajak meluncurkan rubrik “UMKM Corner”. Melalui rubrik ini, pembaca dapat bertanya seputar UMKM kepada narasumber melalui email. Rubrik UMKM Corner kali ini diampu langsung oleh Henda Roshenda Noor, Komisaris Utama Elcorps.

Bagi Taxpeople yang belum terpilih saat ini,  silakan kirimkan lagi pertaanyaan kalian melalui email umkmcorner.majalahpajak@gmail.com. Jangan lupa sertakan data diri, seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat lengkap, nama akun instagram.

Lima orang penanya terpilih akan mendapatkan apresiasi setiap minggunya. Jangan lupa ikuti instagram Majalah Pajak @majalahpajak untuk mendapatkan informasi terbaru.

Berikut ini adalah lima penanya terpilih yang dijawab langsung oleh oleh Henda Roshenda Noor, Periode 20 Oktober – 11 November 2020.

 

  1. Ana Setiyawati (Kota Malang. )

Pertanyaan:

Usaha makanan saya mulai berkembang dan saya ingin memasarkan via goofood atau grabfood. Namun, mereka mengambil 20 persen dari harga makanan, kalau saya menaikkan harga khusus buat mereka. Apakah pantas atau etikanya bagaimana ? (Harga akan beda dengan yang langsung beli di outlet).

Jawaban:

Dear, Mbak Ana

Betul pemasaran melalui ON akan diminta jasa 20 persen, biasanya yang saya tahu dalam penghitungan harga jual para penjual sudah memasukan unsur biaya itu, atau 50:50 , ini berlaku umum saja sih, lama lama konsumen akan teredukasi beli langsung dengan online akan berbeda harga.

 

  1. Yustika Wardhati (Kediri)

Perumahan mojoroto indah blok E no 21.

Pertanyaan:

Saya usaha fashion jahit sendiri, belum punya merek, bagaimana cara menentukan merek/brand yang mudah diingat orang. Demikian terima kasih.

Jawaban:

Dear, Mbak Yustika,

Selamat yaa sudah punya usaha sendiri, ini hebat. Semoga berkah dan sukses.

Merek biasanya yang unik enggak apa-apa, rada nyeleneh, asal dalam batas kepatutan di tatanan budaya kita.

 

3. Bella Novan (Bogor)

Pertanyaan:
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Semoga dalam keadaan sehat Ibu Henda. Terima kasih atas kesempatannya untuk bisa bertanya. Ibu, saya ingin bertanya terkait perbedaan usaha grosir dan distributor, apa yang membedakannya dan mohon juga jelaskan perbedaan plus minus nya dari usaha tersebut? Dan bagaimana sarannya agar kiat-kiatnya dari usaha tersebut berjalan lancar. Terima kasih atas kebaikannya menjawab pertanyaan ini.

Jawaban:

Wa’alaikum salam. Aamiin. Alhamdulillah, saya sehat, berharap Bella juga sehat. Grosir atau wholesale; biasanya diartikan  sebagai bentuk  penjualan barang atau merchandise kepada pengecer atau grosir (pedagang, atau konsumen akhir tetapi dalam jumlah yang besar atau banyak), biasanya  jika ke pengecer lagi dengan tujuan untuk dijual ke konsumen akhir.

Distributor biasanya diartikan sebagai perantara yang menyalurkan produk dari produsen /pabrikan/manufacture ke pengecer/ atau retailer. Jadi boleh dikatakan distributor adalah orang/ badan usaha yang menghubungkan atau menyalurkan antara produsen dengan pedagang grosir.

Menjadi distributor atau berjualan grosiran memang punya potensi keuntungan yang besar karena mendapat harga langsung dari produsen dan pastinya lebih rendah, tentu yang diharapkan akan keuntungan kolektif dan perputaran usaha yang harus cepat.

Kiatnya umum saja:

  1. Harus menentukan barang apa yang akan dijual, ini akan menentukan cara berjualan, tempat, modal, juga wilayah nya, misal kebutuhan harian masyarakat atau barang yang mempunyai daya tarik yang tinggi.
  2. Mencari produsen yang tepat ini juga tidak mudah, biasanya mereka sudah punya wilayah masing masing , dengan memilih produsen yg bagus kita akan terjamin dari mutu harga, kontinuitas produksi, ketepatan delivery dan sebagainya.
  3. Pengetahuan akan harga pasar barang yg kita jual, meningkatkan kepuasan pelanggan misalnya, dengan diskon yg menarik dan varian produk.
  4. Jangan lupa grosir membutuhkan perputaran usaha yang cepat, inventarisir secara teratur stock, juga disiplin menggunakan uang untuk perputaran usaha, melakukan pembukuan sederhana. Saat ini banyak program Accounting pajak sederhana, melakukan pencatatan agar ada historis usaha yang penting manakala dibutuhkan.

 

  1. Risky Novalia (Purwokerto Utara)

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum, Majalah Pajak dan Ibu Henda.

Nama saya Rizky, tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah. Orangtua saya memiliki usaha kuliner kebab yang mulai disukai orang-orang di wilayah sini dan berpikir untuk membuka cabang di tempat lain. Yang ingin saya tanyakan, seberapa penting kami perlu mendaftarkan merek dagang ke Ditjen HKI (Hak Kekayaan Intelektual)? Dan kapan waktu yang tepat saya bisa mendaftarkan merek? Berhubung usaha kami belum semaju yang lain, tapi saya miris dengan yang terjadi belakangan ini terkait perebutan hak merek dagang. Mohon pencerahannya untuk kami pelaku usaha mikro ya, Bu. Atas perhatian dan jawabannya, kami sampaikan terima kasih.

Jawaban:

Wa’alaikum salam.

Mbak Rizki selamat ya sudah punya usaha sendiri.

Jika saya sarankan tetap penting mengurus suratsurat yg terkait dengan aturan di negara kita, dan mendaftarkan merek,  ini akan sangat menolong manakala ada perselisihan dan juga untuk track record usaha. Membuka cabang ditempat lain memang salah satu cara untuk meluaskan pasar, rencana akan membuka usaha yang di manajeman sendiri atau pihak lain? Ini akan berbeda memulainya.

Jika dikelola sendiri, makan fikirkan—survei tempat yang akan di pakai, trend , pola distribusi stock, mana yg bisa dibeli ditempat mana yg hrs dipasok dari kantor pusat, penentuan team yang akan handle,upah di tempat, dan lain-lain. Jika akan dikerjasamakan (seperti wara laba), tentu harus perkuat dahulu branding produknya. Agar punya nilai tambah, saran saya pelajari (tidak bisa di sini karena panjang) seluk beluk yang harus disiapkan sebelum launch bisnisnya.

 

  1. Wahyu kurniawan @Wahyukrnwn (Banten)

085920713398

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Selamat pagi. Saya mau bertanya terkait dengan persyaratan bantuan UMKM diperlukan surat dari lembaga pengusul itu seperti apa ya? lalu apakah diperlukan laporan penggunaan dana bantuan tersebut?

 

Jawaban:

Surat yang dikeluarkan oleh lembaga pengusul dibutuhkan sebagai bukti kepemilikan usaha mikro dari calon penerima manfaat Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM). Untuk contoh surat bisa dilihat dan diunduh di laman www.depkop.go.id.
Anda bisa mendatangi lembaga-lembaga
pengusul resmi yang telah ditunjuk oleh Kementerian Koperasi dan UKM untuk meminta surat ini. Di antaranya:

– Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di provinsi dan kabupaten/kota
– Koperasi yang telah disahkan sebagai Badan Hukum

– Kementerian atau Lembaga

– Perbankan dan perusahaan pembiayaan yang telah terdaftar di OJK.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

UMKM Corner

Lima Penanya Terpilih UMKM Corner Priode 14 Oktober-28 Oktober 2020

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

UMKM Corner Priode 14 Oktober-28 Oktober

Jakarta, Majalahpajak.net – Sesuai dengan pengumuman Majalah Pajak pada Rabu (19/8/2020), untuk mendukung UMKM, Majalah Pajak meluncurkan rubrik “UMKM Corner”. Melalui rubrik ini, pembaca dapat bertanya seputar UMKM kepada narasumber melalui email. Rubrik UMKM Corner kali ini diampu langsung oleh Henda Roshenda Noor, Komisaris Utama Elcorps.

Bagi Taxpeople yang belum terpilih saat ini,  silakan kirimkan lagi pertaanyaan kalian melalui email umkmcorner.majalahpajak@gmail.com. Jangan lupa sertakan data diri, seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat lengkap, nama akun instagram.

Lima orang penanya terpilih akan mendapatkan apresiasi setiap minggunya. Jangan lupa ikuti instagram Majalah Pajak @majalahpajak untuk mendapatkan informasi terbaru.

Berikut ini adalah lima penanya terpilih yang dijawab langsung oleh oleh Henda Roshenda Noor, Periode 14 Oktober-28 Oktober 2020.

  1. Yudayanti F.(Yogyakarta)

Pertanyaan:

Saya ibu Yudayanti, karyawati yang sedang mencoba usaha frozen food di Yogya. Saya memerlukan pegawai untuk membantu usaha saya. Yang mau saya tanyakan, bagaimana sistem pembayaran/pengupahan mereka nantinya. Apakah per jumlah produksi yang mereka buat atau dengan pembayaran per minggu atau per bulan (namun kalau setara dengan UMK Yogya saya belum sanggup). Bagaimana menurut Ibu? Mohon sarannya.

Jawaban:

Mbak Yudayanti, saya ucapkan selamat terlebih dahulu karena sudah memulai usaha, ini keren. Sebetulnya mau pembayaran by jumlah produksi atau per minggu, per bulan, coba disimulasikan ke dalam laporan profit and loss-nya. Semua biaya gaji jangan lebih dari satu digit, persentasenya maksimal 9 persen di seluruh biaya. Pemilihan mingguan atau per produksi pembayarannya, tergantung jenis usahanya. Jika pemasarannya belum ada kepastian, sebaiknya per produksi, tetapi jika sudah masa production sebaiknya dipikirkan untuk memberikan kepastian memberi imbalan yang pasti (bulanan). Kedua metode itu masing-masing perhitungan pajaknya jangan lupa, ya.

  1. Agus Riyanto (Yogyakarta)

Pertanyaan:

Ingin menanyakan, saya sudah mendaftar NIB (Nomor Induk Berusaha) tetapi gagal dengan alasan NIK (Nomor Induk Kependudukan) saya tidak terdaftar di Dukcapil. sebagai informasi saya melakukan pindah KK (Kartu Keluarga) per April 2020. Terus bagaimana cara mengurus NIB secara offline ? Terimakasih.

Jawaban:

Dear Pak Agus, memperbaiki data e-KTP masih mungkin dilakukan. Mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan Pasal 64 ayat (8), bahwa dalam hal terjadi perubahan elemen data, rusak, atau hilang, penduduk pemilik KTP elektronik (e-KTP) wajib melaporkan kepada instansi pelaksana untuk dilakukan perubahan atau penggantian.

Pak Agus silakan melapor pada instansi pelaksana melalui camat atau lurah/kepala desa. Mintalah arahan apakah harus mengurus sendiri ke Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) atau bisa diuruskan oleh kelurahan. Sebelum mengurus dan memperbaiki data e-KTP, sebaiknya siapkan dokumen-dokumen pendukung. Seperti e-KTP, Kartu Keluarga, akta kelahiran, ijazah, surat nikah (bila ada), dan sebagainya. Demikian semoga membantu.

  1. Safira Husna Fadhila (Bekasi)

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb, saya baru lulus Arsitek dari Universitas Bina Nusantara, berencana mendirikan konsultan desain bersama teman-teman. Pertanyaan saya, apakah penyertaan modal harus dengan jumlah nominal yang sama atau salah satu lebih besar sehingga menentukan dia sebagai lead-nya mengingat kalau sama semua kedudukan kami bertiga jadi (merasa) sama? Terima kasih.

Jawaban:

Dear, Safira. Pengalaman saya, jangan disamaratakan karena akan sulit pengambilan keputusan, harus ada yang mayoritas agar efektif.

  1. Muhammad Daffa Irfani (DKI Jakarta)

Pertanyaan:

Saya mau tanya, saya sudah bisnis kuliner (kripik bayam) namun saya lihat banyak teman-teman yang berbisnis kekinian yang lagi booming seperti minuman kopi-kopian, dimsun, bakso Aci, dan lain-lain. Sepertinya hasilnya langsung keliatan. Apakah bisnis lebih menguntungkan yang ikut tren atau yang sesuai passion dan keunikan?

Jawaban:

Paling happy kalau kita berusaha sesuai passion, tetapi tidak selama bisnis harus passion, atau unik, yang penting bagaimana penjualannya? Jadi apa yang kita hasilkan harus ada pasarnya terlepas itu passion kita atau bukan. Cash di bisnis itu adalah nafasnya.

  1. Yudha

Pertanyaan:

Dear Bpk/ibu yang saya hormati. Perkenalkan nama saya Yudha, begini banyak orang – orang yang ter-PHK dan perusahaan juga collapse di masa Pandemi COVID seperti ini. Sejatinya pemerintah sudah menyiapkan alternatif lain bagi orang-orang yang terkena dampak ini tetapi di lapangan mungkin bapak atau ibu tahu bagaimana real-nya tidak merata dan tidak tepat sasaran, dan juga pemerintah menyiapkan program UMKM tetapi di lapangan juga tidak berjalan. Banyak masyarakat tidak mengetahui bagaimana cara mendapatkannya dan berapa nominal yang didapat, saya bukan tokoh masyarakat tetapi saya di lapangan banyak mendengar perkara ini. Saya mohon agar sosialisasi lebih di gencarkan lagi ke rt/rw dan gerakan melalui posyandu atau survei jadi tetap sasaran. Bagaimana tanggapan Bu Henda? Terima kasih.

Jawaban:

Pak Yudha yang baik, bisa dilihat di sosmed (sosial media), biasanya melalui RT/RW lingkungan setempat. Program bantuan UMKM Rp 2,4 juta tetapi melalui koperasi dan harus sudah menjadi anggota koperasi. Beberapa UMKM yang menjadi anggota koperasi di tempat saya mendapatkan bantuan itu.

Lanjut baca

UMKM Corner

Lima Penanya Terpilih “UMKM Corner” Periode 30 September -14 Oktober 2020

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Sesuai dengan pengumuman Majalah Pajak pada Rabu (19/8/2020), untuk mendukung UMKM, Majalah Pajak meluncurkan rubrik “UMKM Corner”. Melalui rubrik ini, pembaca dapat bertanya seputar UMKM kepada narasumber melalui email. Rubrik UMKM Corner kali ini diampu langsung oleh Henda Roshenda Noor, Komisaris Utama Elcorps.

Bagi Taxpeople yang belum terpilih saat ini,  silakan kirimkan lagi pertaanyaan kalian melalui email umkmcorner.majalahpajak@gmail.com. Jangan lupa sertakan data diri, seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat lengkap, nama akun instagram.

Lima orang penanya terpilih akan mendapatkan apresiasi setiap minggunya. Jangan lupa ikuti instagram Majalah Pajak @majalahpajak untuk mendapatkan informasi terbaru.

Berikut ini adalah lima penanya terpilih yang dijawab langsung oleh oleh Henda Roshenda Noor, Periode 30 September 14 Oktober 2020

 

  1. Rima Aruna (@meddyna26) – Bekasi Selatan

Pertanyaan:

Dear Majalah Pajak dan Ibu Henda. Saat ini, kan, lagi nge-hits tuh aplikasi TikTok. Nah, untuk pelaku UMKM efektif enggak untuk berjualan dengan aplikasi TikTok? 

Jawaban:

Dear Mbak Rima,

Saya senyum bacanya, itu produk kreatif. Nah bagaimana kita memanfaatkannya dengan tidak melanggar ini itu dari yg kontra, nyatanya saya lihat beberapa produk di-launch dengan aplikasi TikTok. Intinya bagaimana menancapkan produk kita supaya mudah diingat konsumen dan calon konsumen, harus unik kreatif mendidik, jangan lupa juga jujur dengan mutunya. Selamat Tik Tok-an, share ke saya ya, nanti saya like.

  1. Astrid AnindyaCijantung, Jakarta Timur

Pertanyaan:

Nama saya Astrid Anindya, saya mempunyai produk berupa minuman. Berdiri sudah hampir 3 tahun lebih. Sudah banyak yang menanyakan franchise produk saya, tetapi saya masih belum mengerti perjanjian apa yang harus saya siapkan. Sedangkan, modal saya juga pas-pasan. Sedangkan saya juga ingin produk minuman saya maju. Yang ingin saya tanya, bagaimana cara untuk menentukan jenis franchise yang sesuai dengan produk saya, agar dikemudian hari tidak ada yang dirugikan satu sama lain.

Jawaban:

Hallo Astri

Sebelum dijual apalagi di-franchisekan, dilengkapi dulu izin-izinya, apalagi itu minuman, jika sudah atau bisa paralel pikirkan cara memasarkannya. Jika ingin franchise, maka harus dipelajari benar-benar pasal-pasalnya, juga terkait dengan legal formal juga perpajakan-nya, mengantisipasi jika ada perselisihan dikemudian hari.

Mungkin coba dulu berupa jaringan, semacam distributor atau keagenan, itu lebih simple, jual putus artinya produk tidak bisa diretur kecuali dengan syarat tertentu. Ini penting agar resiko usang dan kedaluwarsa tidak di kita.

Antisipasi dengan produk tiruan, oleh karenanya segera patenkan, ini penting. Banyak yang tutup karena digugat padahal kita produk pertamanya. Franchise itu membutuhkan tools dan management yg lumayan, karena harus siap dengan team management, terutama FAST(finance),  MD(Merchandiser), dan marketing. Setiap saat, kontinuitas pasokan, diversifikasi produk harus sama tiap toko, mau toko consignee atau condignor, konsumen tidak akan tahu karenaambiance nya harus persis sama, panjang ya, boleh DM(Direct Message) deh kalau kurang jelas.

  1. Rere (Reva) Jakarta

Pertanyaan:

Yth. Majalah Pajak. Seperti kita ketahui bersama bahwa pandemi Korona membuat masyarakat tak terkecuali kami pelaku usaha UMKM masuk dalam masa sulit. Penurunan angka penjualan, terhambatnya distribusi, dan kesulitan bahan baku adalah masalah besar yang sedang kami hadapi. Apa kiat atau langkah dan strategi yang kami lakukan agar kami bisa lolos dari segala persoalan ini?

Jawaban:

Betul, bisnis secara umum sedang mengalami penurunan. Jika usaha rumahan tidak mempunyai diferensiasi, maka akan ditinggal konsumen. Coba Ibu buka usaha di bidang lainnya misalnya, di bidang jasa, bisa sebagai penghubung atau kita sebagai pelakunya. Itu tanpa modal. Kalaupun ada, sedikit.

Saat ini masyarakat sedang gandrung dengan makanan sehat, coba pakai diferensiasi itu—makanan sehat halal dan baik, terjangkau, dan dengan melakukan gimmick melalui bahasa marketing yang Ibu bisa baca di sosial media agar menarik orang untuk membeli. Jangan lupa jaga kualitas tetap konsisten bahkan lebih baikkarena berusaha kan untuk jangka panjang.

Untuk Lebih jelasnya silakan klik dan baca link di sini.

  1. Elisa Ostagfira (@ostagfira)

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Majalah Pajak dan narasumber. Saya minta tips dan sarannya, dong, gimana cara menjual barang di toko pakaian saya yang stoknya menumpuk, modelnya pun sudah ga up to date. Dan tidak mungkin saya stok lagi baju model terkini dengan modal yang minim. Sedangkan, pembeli, kan, pengennya baju yang up to date. Waktu saya juga terbatas, karena saya urus anak dan usaha kecil-kecilan saya yang lain. Untuk memulai bazar di saat pandemi ini pun enggak bisa. Mohon tips dan triknya, ya. Wassalam.

Jawaban:

Wassalamu’alaikum

Wah, ini memang masalah bersama dan klasik di-fashion, ya. karena kalau sudah ketinggalan model bukan rada lagi tapi sulit memasarkannya. Beberapa yang pernah dicoba sih, dibuat mix dan match satu dengan yang lain, lalu unggah di sosial media dengan menarik, tonjolkan keunggulannya, dan jangan lupa akses untuk mendapatkannya, dijual dengan bundling—dijual dalam satu batch. Jadi, bukan ke konsumen retail tapi ke agen dan pedagang dan terakhirdengan diskon yang menarik,

Kalau kendala waktu anak dan ada fokus usaha lain, tinggal memilih prioritasnya,Mbak.

  1. Aryanto (Banjarnegara)

Pertanyaan:

Selamat siang sayaAry dari Jawa Tengah. Mau bertanya, bagaimanakah solusi untuk pelaku usaha mikro aksesoris dimasa pandemi ini? Karena, dalam kondisi seperti ini masyarakat cenderung memilih untuk membeli bahan pokok dibanding lainya, sehingga untuk usaha seperti aksesoris jarang sekali peminatnya yang menimbulkan pendapatan turun drastis, bahkan tidak terjual sama sekali. Terimakasih.

Jawaban:

Pandemi ini, ternyata bukan “hanya” masalah dagangan kita. Tapi dagangan seluruh dunia terdampak. Coba produknya unggah di sosial media—tawarkan keunggulan dan harga yang bersaing, juga tawarkan diskon menarik untuk yang mau beli banyak. Bisa juga tawarkan pedagang yang butuh padanan aksesoris. Semoga tetep semangat, yaaaa.

Lanjut baca

UMKM Corner

Lima Penanya Terpilih “UMKM Corner” Periode 16 September hingga 30 September 2020

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Sejak diluncurkan pada Rabu (19/8/2020) lalu, rubrik “UMKM Corner” Majalahpajak.net kian mendapat sambutan positif dari pembaca. Terbukti dari antusiasme pembaca yang bertanya. Rubrik ini untuk memang dibuat untuk mendukung para pelaku UMKM. Melalui rubrik ini, pembaca dapat bertanya seputar UMKM kepada narasumber melalui email. Rubrik UMKM Corner ini diampu langsung oleh Henda Roshenda Noor, Komisaris Utama Elcorps.

Bagi Taxpeople yang belum terpilih saat ini,  silakan kirimkan lagi pertaanyaan kalian melalui email umkmcorner.majalahpajak@gmail.com. Jangan lupa sertakan data diri, seperti nama lengkap, nomor telepon, alamat lengkap, nama akun instagram.

Berikut ini daftar lima penanya terpilih yang berhak mendapatkan suvenir dari Majalah Pajak.

 

  1. Esita Tasbilya (@bly)

Pertanyaan : Dear Majalah Pajak. perkenalkan nama saya Esita Tasbiliya, salah satu siswi SMA di Bekasi. Saya tertarik pada permainan saham sejak kelas IX SMP. Saya sudah baca beberapa apa artikel pembelajaran tentang saham. Tapi, jujur saya sedikit kurang mengerti bagaimana kita bisa membandingkan saham yang baik untuk berinvestasi di jangka panjang. Mohon bantuannya terima kasih.

Jawaban:

Dear Esita,

Yang harus menjadi pertimbangan dalam memilih saham adalah fundamental perusahaannya bagus (bisnisnya, manajemennya, keuangannya, pasarnya) dan perusahaan tersebut terprediksi akan masih ada berpuluh tahun ke depan.

Yang pasti, investasi terbaik adalah investasi yang bisa memenuhi tujuan keuangan kita. Misalnya, dari sekarang lakukan persiapan untuk pensiun, biasanya pilih saham bank seperti Bank Mandiri sebagai aset finansialnya. Tetapi mungkin jika punya Bank BCA atau Bank BRI sama baiknya atau bisa jadi lebih baik. Nah kalau ditanya kapan saat yang tepat, saya ingat Slogan SAM: “Saat terbaik berinvestasi adalah 20 tahun lalu dan saat terbaik berikutnya adalah hari ini.” Selamat mencoba.

2.     Anjani Sekar (@anjaniisr)

 

Pertanyaan :

Assalamualaikum Majalah Pajak dan Ibu Henda yang terhormat. Sebelumnya perkenalkan nama saya Anjani dan masih bersekolah tingkat SMA kelas XI. Sebelumnya saya sudah banyak mencoba memulai bisnis berjualan untuk menghasilkan uang sendiri agar tidak terlalu merepotkan keluarga dan orang tua. Namun, karena adanya pandemi seperti ini, saya harus berjualan on-line. Awalnya pembeli ramai membeli jualan saya, tetapi lama kelamaan mulai berkurang. Pertanyaan saya, bagaimana cara menarik perhatian pelanggan dengan berjualan on-line di masa pandemi seperti ini? Dan, bagaimana cara mengembangkannya di saat saya masih harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum.

Jawaban:

Wassalamu’alaikum.

Bagus sekali niatnya, saya juga senang kalau ada anak muda sudah mulai berusaha sejak dini, walau harus menyiasati waktu di antara tugas-tugas sekolah. Coba cara seperti ini:

  1. Ada diskon yang menarik.
  2. Pelayanan cepet
  3. Rajin promosi
  4. Adakan giveaway

5, Reward/Bonus untuk konsumen

  1. Posting yang manfaat buat market
  2. Produk kategori yang tepat (basic) untuk kondisi saat ini

3. Dewi Yunita (@dewi_meysah)

Pertanyaan : Halo Ibu Henda Roshenda Noor, saya Dewi Yunita dari Bekasi Jawa Barat yang memiliki usaha kecil kaki kulkas yang terbuat dari Kayu. Di masa pandemi seperti ini untuk penjualan sangatlah menurun drastis dan tidak mudah untuk memasarkan barang khususnya daerah lokal. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana cara untuk bisa memulai pasar ekspor dan bagaikan prosedur perizinannya? Terima kasih.

Jawaban:

Dear Ibu Dewi,

Pada dasarnya ekspor dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk badan usaha baik yang berbentuk badan hukum ataupun bukan. Badan usaha ini tentu harus spesifik melihat syarat-syaratnya, seperti tidak mudah tetapi jangan patah semangat, ya. Semua harus di tekuni dengan fokus, badan usaha yang bisa dipilih di antaranya: Badan usaha berbentuk badan hukum, Perseroan Terbatas, Yayasan, Koperasi Badan usaha bukan berbentuk badan hukum, Persekutuan Perdata, CV, Firma atau Bu Dewi bisa melakukan usaha perorangan, yang membedakannya adalah bagi perseorangan hanya dapat mengekspor kelompok barang bebas ekspor. Sedangkan, lembaga dan badan usaha hanya dapat mengekspor kelompok barang bebas ekspor dan barang dibatasi ekspor. Coba Bu Dewi bisa melihatnya di perundang undangan mengenai ekspor.

4.    Tiniek Mirgianti (@danishomade)

Pertanyaan:

Bismillah. Assalamualaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh, Ibu. Di pandemi seperti ini daya beli orang semakin lemah, sedangkan pelaku UMKM semakin banyak yang baru bangun karena ingin survive di kondisi ini. Bagaimana cara kami yang berusaha bisnis makan di rumah agar penjualan tidak berkurang tanpa mengurangi kualitas dan harga?—persaingan harga cukup ketat karena daya beli masyarakat cenderung menurun. Terima kasih, Ibu DanishomadE.

Jawaban:

Wa’alaikum salam,

Betul yang Ibu bilang bisnis secara umum sedang mengalami penurunan, jika usaha rumahan tidak mempunyai diferensiasi maka akan ditinggal konsumen juga. Coba Ibu buka usaha di bidang lainnya misalnya di bidang jasa, bisa sebagai penghubung atau kita sebagai pelakunya, itu tanpa modal kalau pun ada sedikit.

Saat ini sedang gandrung Ibu-Ibu dengan makanan sehat, coba pakai diferensiasi itu, makanan sehat halal dan baik, dan terjangkau dengan melakukan gimmick melalui bahasa marketing yang Ibu bisa baca di sosmed yang menarik orang untuk membeli, jangan lupa jaga kualitas tetap konsisten bahkan lebih baik, karena berusaha kan untuk jangka panjang.

5. Irawati Maryam / AkiraKitchen (@maryaji)

Pertanyaan : Assallamualaikum. Dear Ibu Henda  & Majalah Pajak. Perkenalkan nama saya Irawati Maryam, domisili di Cibinong. Saya pemilik usaha rumahan di bidang kuliner sudah berjalan selama lima tahun. Untuk produk yang dihasilkan bermacam-macam olahan aneka cake, custom cake, makanan khas Palembang (pempek dan tekwan), ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan:

  1. Sebagai industri rumahan dengan market yang belum terlalu luas, apa perlu saya membuat izin usaha skala rumahan?

 

  1. Dari berbagai produk yang dihasilkan, apakah harus difokuskan di beberapa produk saja?

Demikian pertanyaan saya untuk melihat produk-produk yang saya hasilkan bisa dilihat di IG: Maryaji/#akira kitchen. Wassalamuallaikum.

Jawaban:

  1. Jika kita mau berusaha secara konsisten dan memerlukan track record usaha memang harus ada izin-izin sesuai skala usahanya, apalagi jika mau membesar, semua fasilitas mengharuskan ada identitas antara lain dengan izin-izin itu.
  2. Kalau dari pengalaman saya, banyak produk lebih sulit dalam me-manage-nya, dan tentu stoknya harus lebih banyak, risiko juga lebih banyak tetapi ini semua tergantung. Coba dibuat pareto produk mana yang paling diminati, itu yang nantinya difokuskan untuk dikembangkan menjadi lebih baik dan beda dengan yang lain.

 

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News10 jam lalu

Mampu Bertahan Hadapi Pandemi, Pegadaian Sabet 3 Penghargaan BUMN Award

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memperoleh tiga penghargaan bergengsi sekaligus dalam acara Bisnis Indonesia Top BUMN Award 2020. Perusahaan...

Breaking News15 jam lalu

Insentif Pajak Selamatkan Wajib Pajak dari Dampak Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Tujuh puluh persen dari 12.800 Wajib Pajak (WP) menilai insentif perpajakan mampu menyelamatkan usaha dari dampak pandemi...

Breaking News1 hari lalu

BUMN ini Buka Lowongan Kerja Bagi Lulusan Diploma

JAKARTA, Majapahpajak.net – Kabar gembira bagi para sarjana muda yang tengah mencari kerja. PT Rajawali Nusindo membuka berbagai lowongan kerja...

Breaking News2 hari lalu

Ini 5 Tren Pekerjaan Usai pandemi, Tenaga Kerja Harus Menyesuaikan Diri

Jakarta, Majalahpajak.net – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus lalu setidaknya terdapat 29,12 juta pekerja terimbas pandemi Covid-229. Sebanyak...

Breaking News5 hari lalu

Mandat diperluas, SMF Sokong Pemulihan Ekonomi Nasional Lebih Optimal

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF terus memperkuat perannya dalam mendukung percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)...

Breaking News7 hari lalu

Memontum Membangun Teknologi Informasi untuk Indonesia Maju

Jakarta, Majalahpajak.net – Di tengah upaya menghadapi dampak Covid-19, Pemerintah melalui APBN 2021 serius mendukung perkembangan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi...

Breaking News1 minggu lalu

Saatnya UMKM “Move On” dari Pandemi

Pemerintah berupaya melakukan percepatan pemulihan ekonomi dengan memberikan insentif di beberapa sektor usaha termasuk bagi pelaku Usaha mikro, kecil, dan...

Breaking News1 minggu lalu

IKPI Beri Masukan DJP Soal Aturan Pelaksanaan UU Cipta Kerja

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menyelenggarakan sosialisasi UU No. 11 Tahun 2020 Tentang...

Breaking News2 minggu lalu

Perda DKI Disahkan, Tidak Menggunakan Masker Didenda Rp 250 Ribu

Jakarta, Majalahpajak.net – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi memberlakukan Peraturan Daerah ( Perda) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Covid-19....

Breaking News2 minggu lalu

Merajut Kepedulian, Membangun Kesejahteraan Sosial

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Sosial bersama Forum CSR Kesejahteraan Sosial (Kesos) terus mendorong partisipasi aktif dunia usaha dalam penyelenggaraan tanggung jawab...

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved