Connect with us

Entertainment

Lebih Ikhlas Kawal Pajak

Diterbitkan

pada

Foto: Istimewa

Pembalap nasional Rifat Sungkar merasa bersyukur hidup di era digital, ketika hampir seluruh aktivitasnya sehari-hari dipermudah oleh teknologi. Kemajuan teknologi informasi juga membuat Ditjen Pajak menciptakan inovasi-inovasi pelayanan yang dapat memudahkan Wajib Pajak.

Rifat menuturkan, telah banyak sistem baru yang diaplikasikan oleh kantor pajak, termasuk e-Filing, dan pembayaran pajak melalui e-commerce atau anjungan tunai mandiri.

“Untuk pelaporannya, kami sekeluarga pakai e-Filing, pembayarannya juga melalui transfer. Enggak repotlah sekarang,” ujar suami Sissy Priscillia ini kepada Majalah Pajak beberapa waktu lalu.

Wajib Pajak KPP Pratama Jakarta Pasar Rebo ini menambahkan, sistem pajak yang modern saat ini juga dibarengi dengan keberadaan petugas pajak yang kekinian dan humanis, sehingga ia tidak waswas untuk berkomunikasi dengan kepala kantor atau account representative yang ditugaskan untuk membantunya.

Baca Juga: Dulu Enggak “Ngeh” Pajak

“Kepala kantornya gaul banget itu, anak pajak paling gaul yang pernah saya kenal. Banyak sekali hal yang disampaikan oleh beliau, dan dengan mudahnya kami mengerti pajak. Sekarang, orang pajak jadi asyik, enggak menakuti. Santai saja karena komunikasinya dua arah dan juga diberikan kesempatan untuk diskusi,” papar pengamat automotif berusia 41 tahun ini.

“Jangan sampai (aturan) perpajakan (digital) itu sama (dengan aturan) dunia automotif Indonesia—sekarang banyak mobil listrik, begitu mobilnya sudah ada, patronnya enggak ada”

Bagi Rifat, upaya yang dilakukan Ditjen Pajak saat ini merupakan poin penting yang bisa membuat masyarakat lebih sadar dan rela bayar pajak.

“Ketika saya bertemu dengan sistem perpajakan seperti ini, memudahkan akses kita untuk berkomunikasi dan itu adalah kunci utama. Supaya orang lebih lega, lebih ikhlas untuk mengawal perpajakan ini. Karena, ini adalah salah satu income terbesar Indonesia, yang membuat Indonesia lebih maju.”

Pendiri Rifat Drive Labs yang juga tengah menggeluti dunia video blogging di YouTube ini berharap, Ditjen Pajak tidak memberlakukan aturan pajak yang tumpang tindih, terutama pemberlakuan pajak digital yang dapat memengaruhi keberadaan naravlog (vlogger).

Baca Juga: Ramzi: Ikhlas Bayar Pajak

“Jangan sampai (aturan) perpajakan (digital) itu sama (dengan aturan) dunia automotif Indonesia—sekarang banyak mobil listrik, begitu mobilnya sudah ada, patronnya enggak ada. Begitu juga dengan YouTube. Kalau kita come back sepuluh tahun ke belakang, YouTuber itu enggak ada. Jadi, nanti jangan tumpang tindih (terapkan aturan), akhirnya mengaplikasikan hal (aturan) yang salah,” pungkas Rifat.

Entertainment

Pulang ke Akar demi “Rumah Kenangan”

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Dunia kreatif mulai bangkit dan beradaptasi dengan kelaziman baru di masa pandemi ini. Sejumlah penyelenggara acara, rumah produksi, hingga pelaku seni menemukan celah bagaimana menghasilkan karya bermutu yang sama-sama bisa dinikmati seperti sebelum pandemi tiba.

Salah satunya adalah pertunjukan teater Rumah Kenangan yang dilakonkan oleh aktor kawakan Reza Rahadian. Rumah Kenangan merupakan pertunjukan teater daring pertama di Indonesia yang diproduksi selama masa pandemi, dilakukan tanpa penonton, dan dialihmediakan ke dalam bentuk film atau disebut juga cinema play. Teater ini ditayangkan di laman IndonesiaKaya.com secara eksklusif selama 2 hari, pada 15–16 Agustus lalu.

Baca Juga: Kenalkan Sastra lewat Siniar

Reza pun menyampaikan rasa senangnya karena bisa kembali ke panggung teater, meskipun dengan situasi yang berbeda. Cerita dan peran yang sangat menarik, apalagi disandingkan dengan beberapa pemain senior seperti Butet Kartaredjasa dan Ratna Riantiarno, membuat Reza tak bisa menolak ajakan sang penggagas acara Happy Salma.

“Buat saya Teh Happy itu adalah salah satu orang yang juga berhasil membujuk untuk saya kembali lagi ke akar, yaitu panggung karena saya berawal semuanya dari situ (teater),” ungkap aktor serbabisa ini saat jumpa pers virtual, Selasa (11/8).

Pada produksi ke-36 Titimangsa Foundation kali ini, Reza berperan sebagai Randy Wijaya, seorang anak yang memiliki jiwa seni tapi harus “terjebak” dan tinggal bersama keluarganya selama pandemi di dalam sebuah rumah penuh kenangan. Ia pun kudu latihan gitar berminggu-minggu karena perannya sebagai musisi.

“Metik gitarnya benarlah setidaknya, megang kuncinya juga enggak salah. Tapi saya tidak bisa bermain karena memang tidak menguasai alat musik gitar sama sekali, itu hanya dilakukan untuk kebutuhan karakter,” tuturnya.

Reza memang kerap diajak Happy Salma terlibat di beberapa pementasan teater sebelumnya. Sebut saja pentas teater Bunga Penutup Abad, Cinta Tak Pernah Sederhana, dan Perempuan Perempuan Chairil.

Di suatu kesempatan, pria kelahiran 5 Maret 1987 ini menuturkan kalau teater merupakan wadah pertamanya untuk belajar akting. Itu dilakukannya saat berumur 16 tahun di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Baca Juga: Mensyukuri Keragaman Nusantara

Bagi Reza, berperan di atas panggung teater memiliki sebuah keistimewaan dan sensasi, bahkan lebih seksi dari film. Saat berada di panggung teater, dia merasa pacuan adrenalin yang didapat begitu berbeda.

“Ada sesuatu yang magis banget, sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seperti rasanya berada di sebuah panggung bersama teman-teman, berkolaborasi bersama di waktu yang sama di tempat yang sama, susah banget untuk diungkapin,” ucapnya.

Lanjut baca

Entertainment

Manusia Kelelawar Kena Korona

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Penggemar berat film pahlawan super The Batman agaknya mesti bersabar lebih lama. Sebab, Warner Bros. mengabarkan salah satu anggota produksi film ini terkonfirmasi positif Covid-19.

Meski rumah produksi itu tidak menyebutkan nama dan perwakilan aktor asal Inggris ini tidak berkomentar, Vanity Fair memastikan bahwa Robert Pattinson si pemeran Batman atau Bruce Wayne adalah sosok yang dimaksud.

Setelah ditunda sejak Maret lalu karena adanya karantina (lockdown), pembuatan film yang baru dilanjutkan selama dua hari di Leavesden Studios, Inggris ini mesti dihentikan untuk kedua kalinya sampai keadaan dinyatakan aman untuk dilanjutkan.

Baca Juga: Dana Kesehatan Seniman Taat Pajak

Ketika orang pertama di lembar panggilan film yang sangat besar ini dites positif, efek riaknya sangat besar untuk produksi. Menurut protokol kesehatan yang berlaku, seseorang yang terkonfirmasi positif Covid-19 perlu dikarantina minimal 10 hari. Kemudian, dia dapat diizinkan untuk bekerja kembali jika tes berikutnya negatif dan tidak menunjukkan gejala.

Selain itu, siapa pun yang berada dalam jarak enam kaki dari bintang Twilight ini selama lebih dari 15 menit, harus segera diisolasi selama 14 hari, terlepas dari apakah mereka dites positif atau tidak.

Itu mungkin berarti semua aktor atau pemeran pengganti yang muncul di depan kamera dengan Pattinson tanpa masker, bersama dengan anggota kru yang ditugaskan untuk mendukungnya melalui pengambilan gambar—termasuk sang sutradara, Matt Reeves.

Film ini direncanakan akan rilis pada Juni 2021, tetapi akibat pandemi yang terjadi, film ditunda hingga Oktober 2021—atau lebih lama lagi.

Baca Juga: Saya harus ‘Give Back to the Community’

Lanjut baca

Entertainment

Peluk yang Serbabaru

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Sempat vakum usai kepergian suami tercinta Ashraf Sinclair tujuh bulan lalu, Bunga Citra Lestari kembali ke dunia hiburan dengan semangat baru. Wanita yang akrab disapa Unge atau BCL ini membayar rindu para penggemarnya dengan penampilannya di konser virtual Neno Fest Vol. 2, pada Sabtu (5/9).

Mengenakan gaun merah, BCL membawakan sekitar tujuh lagu kepada penonton dengan menyajikan konsep baru. Ia tampil terpisah dengan band pengiring, dan hadir di panggung dengan bentuk hologram.

Baca Juga: Sandra Dewi, Putri Negeri Laskar Pelangi

Suasana haru sempat mewarnai saat BCL memperkenalkan lagu terbaru yang dirilisnya pada Juli lalu berjudul “12 Tahun Terindah”. Lagu ini sengaja ia ciptakan dan persembahkan untuk mendiang suami.

“Kadang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Kebahagiaan, kesedihan, semua sudah digariskan. Semuanya harus dijalani dan harus dihadapi,” tuturnya sebelum membawakan lagu ini.

Wanita berusia 37 tahun ini bersyukur di tengah keterbatasan selama masa pandemi, ia bisa tetap berkarya dengan memanfaatkan teknologi dengan segala tantangan dan pelajarannya.

“Saya juga berharap kita semua bersama-sama turut berproses, dan memeluk dunia yang serbabaru ini, yang tentunya menawarkan segala kemungkinan dan keberhasilan untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Baca Juga: Tetap Kreatif, dengan Adaptasi dan Improvisasi

Lanjut baca

Populer