Connect with us

Tax Light

Korona dan Bayangannya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Foto ilustrasi: Istimewa

Korona memang tengah menjadi momok dunia. Namun, jangan terjebak pada ketakutan membabi buta. Kendalikan diri—tenangkan hati, berpikir positif. Percayalah, manusia punya daya tak terbatas.

Satu pertanyaan yang keluar dari ananda saya yang mengesankan saat musim Korona adalah, “Mami, selama hidup Mami, apakah pernah mengalami kondisi seperti ini?”

Saya tersenyum padanya seraya menggeleng. Lantas saya terkenang kedua orangtua yang sudah tiada. Karena, lanjut anak saya yang baru googling wabah pandemi per satu abad itu, ini terjadi seratus tahun sekali, dan saya merasakannya.

Dialog semacam ini sangat menyentuh—buat saya. Saya dan papinya bertanya bagaimana reaksi teman-temannya, dan dia menjawab bahwa ada yang ringan saja dan ada yang agak serius. Tapi yang utama, mereka kehilangan wadah berekspresi. Dan teman seangkatan atau kakak kelasnya merasa gelisah bukan karena Korona, tetapi ada yang terampas dari kehidupan mereka. Ngafe bareng, ngupi cantik, kumpul dengan komunitas, atau belajar bareng di rumah teman.

Baca Juga:Pemerintah Bebaskan PPN Belanja Barang dan Jasa Terkait Penanggulangan Korona

Sementara di sisi lain, reaksi orang sangat beragam terhadap bencana nasional ini—internasional, malah. Berita datang bertubi-tubi di beranda sosial media pribadi. Tidak terseleksi dan penuh data dari berbagai belahan dunia walau tidak jelas data valid atau tidaknya. Orang visual akan membayangkan virus ini dengan gambaran apa yang terjadi di belahan dunia. Orang auditori akan mendengarkan video dengan saksama dengan hati tersayat, dan orang kinestetik membaca berita sambil bicara dalam hati seraya merasakan sendi-sendinya gemeletak rapuh. Lantas, lahirlah kecemasan, kekhawatiran, dan kekritisan luar biasa. Pertanyaannya, apa sih yang membuat seseorang dapat membayangkan sesuatu sehingga menjadikan dia cemas, sedih atau marah?

“Kondisi fisiologimu mengubah caramu membayangkan kondisi dan melihat dunia ini.”

Manusia, dipengaruhi banyak faktor. Kita mungkin secara tidak sadar mencontoh reaksi orangtua kita atau panutan kita saat menghadapi pengalaman semacam itu. Misalnya, saat Anda kecil, ibu Anda selalu cemas saat ayah Anda terlambat pulang kerja, sehingga membentuk kecemasan dalam pikiran Anda setiap ayah Anda terlambat pulang kerja. Nah ini terbawa sampai Anda dewasa. Jika ayah atau ibu Anda pernah bicara bagaimana mereka tidak percaya sama pasangannya, bisa jadi Anda telah mencontoh pola itu. Terbentuklah suatu keyakinan, sikap, nilai-nilai dan pengalaman di masa lalu yang memengaruhi bayangan yang kita buat saat menghadapi sesuatu.

Baca Juga: Efek Korona, Penerimaan Pajak kuartal I Turun 2,5 Persen

Yang lebih penting lagi, ada faktor yang sangat menentukan cara kita melihat dan membayangkan dunia. Ini ada dalam diri kita. Namanya pola penggunaan fisiologi diri sendiri. Cara kita bernapas,  sikap tubuh, ketegangan otot, apa yang dimakan, fungsi biokimia dalam tubuh, berpengaruh besar pada kondisi kita. Ketika sekarang suami Anda diminta kerja, Anda sangat khawatir dia tertular, kan? Namun itu semua tergantung kondisi tubuh Anda. Pas Anda lagi oke, maka walaupun dia terlambat pulang, It’s fine  buat Anda, bisa jadi masih ada kerjaan lainnya. Kalau Anda dalam kondisi fisiologi lagi letih apalagi baper baca berita hoaks, Anda bisa saja berpikir negatif. Anda takut dia kebanyakan kerja, terus ketemu siapa, orangnya sehatkah? Wah, pikiran jadi ribet dan tambah pusinglah kita!

Apa yang membuat kita seperti itu? Bayangan! Membayangkan itu berkorelasi positif dengan memikirkan yang berdampak pada kondisi fisiologi. Kondisi fisiologimu mengubah caramu membayangkan kondisi dan melihat dunia ini. Menurut W. Mitchell, yang terpenting itu bukan apa yang terjadi pada dirimu, melainkan caramu membayangkan hal itu terjadi. So, kunci untuk menciptakan hasil yang diinginkan adalah dengan membayangkan sesuatu dengan cara yang membuat kita ada dalam kondisi  berdaya, semangat, sehingga terdorong untuk melakukan hal-hal yang berkualitas dalam menciptakan hasil yang diinginkan.

Memang sih, mungkin kalian pada bertanya, memangnya Korona bisa dilawan hanya dengan bayangan? Kalau pekerjaan kita hanya membaca berita negatif dan video ngeri, ya, enggak bisalah. Kalau kita enggak bisa disiplin dalam tata tertib menjaga kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, ya enggak bisalah.

Eh, tubuh bisa diajak bicara, loh. Kasih diri kita bayangan sehat dan arahkan pada kondisi fisiologi yang tenang, insyaallah kita sehat.

Ya coba itu aja dulu! Keyakinan bisa mengalahkan angka statistik. Tapi keyakinan yang cerdas, bukan yang menantang! Nah, ini yang disebut bagaimana kita bisa mengenal diri kita sendiri? Bagaimana kalau kita tidak punya konsep mengendalikan diri kita sendiri?

Baca Juga: Jutaan Pekerja Kena PHK, Aji Mumpung Pengusaha?

Tetap bayangkan keindahan, tetap laporkan SPT dan ngebayar pajak, karena keikhlasan bayar pajak sekarang yang bisa membentuk bayangan indah buat Indonesia masa depan.

Satu lagi, bayangkanlah kenyataan! Mari berterima kasih kepada Allah bahwa Korona sudah hilang, di saat kita sambut Ramadan.

Percayalah, manusia itu punya daya tak terbatas, kata Anthony Robbins (Unlimited Power). Namun manusia sering kesulitan membayangkan Tuhan ada di mana. Padahal, dari pandemi ini, Tuhan banyak mengajari kita melalui Korona, bahwa kita bisa lebih dekat dengan-Nya melalui dialog dalam diri sendiri, menyelami nurani dan dasar jiwa. Sangat dekat sebenarnya….

Tax Light

Ketika Budaya Lahir Kembali

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Apa yang kamu rasakan saat ini? Itu pertanyaan menarik yang bisa menjelaskan apa yang dirasakan masyarakat Indonesia selama pandemi.

Kami pernah membuat lomba menciptakan tiga kata kesan positif selama pandemi yang memaksa semua pekerja melakukan pekerjaan dari rumah. Ada yang mengatakan, Bosan-Nonton-Tidur. Ada yang berjiwa idealis dan menuliskan, Lebih-Kreatif-Produktif. Dan ada satu yang menuliskan: Lupa-Sabtu-Minggu.

Bekerja di rumah, bagaikan bekerja di dunia tak berbatas. Dari satu tempat, kita bisa fokus pada beberapa rapat melalui media daring, yang sejatinya hal ini sulit dilakukan di kantor. Melakukan rapat di kantor sama dengan memindahkan tubuh dari satu lantai ke lantai lain, atau dari satu gedung ke gedung lain. Namun dengan mekanisme bekerja dari rumah, rapat adalah memindahkan mata dan menggerakkan pinggang tanpa bergerak!

Buat sebagian orang, ini adalah memindahkan dunia luar ke dalam rumah kita sendiri. Ingar-bingar kerja diganti celotehan dan tangisan kanak-kanak, teriakan pasangan, dan asisten rumah tangga, dan tidak akan terdeteksi oleh peserta rapat selama media video dan suara ditutup. Beberapa orang menyatakan mereka bisa bekerja dengan aman dari rumah, karena melihat pergerakan keluarga dengan mata kepala sendiri. Namun sebagian orang berpendapat, dunia menjadi stagnan dan membosankan! Mereka rindu pada rutinitas sehari-hari. Ke kantor, menjadi manusia yang sibuk secara body dan mind, dan melupakan bahwa soul mereka bisa jadi kosong.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Selamat datang, gaya hidup baru!

Mau tidak mau, suka tidak suka, maka kita berada di rumah saja. Survei dari Kantar, hampir 80 persen masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di rumah selama karantina. Rambu-rambunya jelas, social distancing, physical distancing, dan maskering.

Perubahan gaya hidup itu berdampak pada budaya yang digadang-gadang melahirkan karakter baru. Contohnya, tidak ada lagi kebiasaan ngafe dan ngemal, diganti pesanan untuk diantarkan ke rumah. Tidak ada memesan dari luar rumah, diganti masakan ibunda. Tidak perlu bangun pagi bersiap ke sekolah, karena guru-guru sudah siap dengan tugas seminggu penuh yang disisipkan pekerjaan rumah membuat video untuk membuktikan bahwa mereka berkegiatan di rumah, atau mengirimkan rekaman menjawab pertanyaan.

Kerja berjalan dengan waktu sebagaimana biasa, tapi tidak ada mobilitas. Tidak perlu dandan berlebihan; singkirkan sepatu hak tinggi; bahkan bisa belum mandi, saat Anda menghadapi rapat bersama di zoom meeting.

Suka atau tidak suka, lama-lama membiasa. Ini terjadi saat kegiatan tanpa tatap muka menjadi acuan layanan publik di mana saja. Ternyata, masyarakat Wajib Pajak yang melaporkan SPT Tahunan di akhir April kemarin juga tidak kalah semangatnya, walau mereka tidak mendapat bimbingan langsung di kantor-kantor pajak. Jalan keluarnya adalah konsultasi melalui media daring, menelepon Account Representative, melakukan chat, ikut hadir di kelas pajak daring berupa webinar dan grup WA, sehingga di hari terakhir yang melapor tembus 440 ribu SPT. Tahun lalu, yang lapor di hari terakhir sebesar 518 ribu SPT.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Apa kesimpulan yang dapat diambil? Dalam kondisi terpaksa, kita bisa! Karena kita bisa, lama-lama membiasa. Dan tentu saja harus berpikiran positif bahwa tidak semua masyarakat memanfaatkan pandemi sebagai alasan untuk tidak memenuhi kewajiban perpajakannya.

Bagaimana bisa tidak peduli? Lah, wong dari APBN saja anggaran untuk mengatasi pandemi bernama indah ini Rp 400-an triliun. Belum lagi banyaknya kebijakan berupa fasilitas perpajakan yang dikeluarkan untuk memberi kemudahan.

Ada juga yang namanya Pajak Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp 60-an triliun khusus membijaki dampak korona.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, itu artinya di depan kita ada dukungan pemerintah yang tanpa suara mengatakan, “Ini bukan bagianmu, ini merupakan bagianku.” Analoginya, seorang bocah menangis tidak bisa membayar es krim yang diinginkan, lantas ada yang datang kepadanya, memberikan es krim itu dengan tidak menerima bayaran dari sang bocah. Malaikat berhati emas itu mungkin saja adalah ibu, bapak, atau kakak kita.

Sederhananya, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Sebelum banyak bertanya, mungkin baiknya bertanya ke dalam diri sendiri, apakah aku bertanya karena tidak tahu, atau ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk melihat bahwa aku tahu?

Budaya lain yang dilahirkan adalah terciptanya kekuatan bagi ASN yang tempat bekerjanya bukan di home base, untuk bisa mengatasi rasa takut karena tidak mudik saat Lebaran untuk menghindari penyebaran virus. Tanpa disadari kepasrahan mereka melahirkan kekuatan yang luar biasa. Sekarang ini marak tercipta solidaritas dalam beramal dan bersedekah. Pernahkah Anda mengirim masakan yang dipesan dari teman pengusaha UMKM untuk dikirim ke rumah pegawai non-organik di kantor Anda? Para satpam, office boy, dan petugas cleaning service? Anda tidak tahu, kan, bagaimana dia mengatasi masalah keluarganya, sementara Anda bisa saja masih tetap memperoleh gaji walau ada pemotongan? Marilah berbagi walau sedikit.

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Sekarang ini, hidup berjalan dengan pertanyaan yang sulit: Kapan semua ini akan selesai?

Kapan selesainya, ya, aku kan sudah kangen kantor?

Sabar, sepertinya yang harus dipikirkan adalah pola pikir kita dahulu. Sepertinya, kita harus bersahabat dengan dia, sang wabah. Dan itu bisa bila dikawal kepasrahan tingkat tinggi, dengan upaya ekstra hati-hati. Satu, semua orang, toh, akan mati. Dua, kita dipaksa harus ikhtiar jaga diri sendiri. Andai semua sudah enggak parno dan ngeri, maka dia pun menghilang.

Itu kalimat tertinggi yang pernah saya dengar.

Saya enggak tahu…. Itu, kan, kata saya, bukan kata ahlinya. Yang jelas, kita sudah seperti terlahir kembali jadi manusia baru selama masa-masa karantina. Mengenali pasangan, anak-anak, ibu kos, saudara, orangtua, dan lain-lain insan satu atap. Kita seperti Gatotkaca yang terbang dari Kawah Candradimuka, tapi terbangnya di rumah saja.

Yang penting, di rumah ini, kita bisa menjadi guru dan berguru pada orang-orang terdekat. Oya, selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat berpuasa. Selamat Idulfitri. Selamat merenungi diri sendiri.

(A3, 020520)

Lanjut baca

Tax Light

Lapor Awal, Lebih Nyaman

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Islustrasi

Menghadapi musim penyampaian SPT Tahunan tahun ini DJP, bekerja sama dengan organisasi konsultan pajak untuk memberikan layanan dan bimbingan e-Filing secara gratis.

Sejak awal Februari 2020, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah membentuk Satuan tugas (Satgas) Pemantauan Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan tingkat pusat, Kantor Wilayah (Kanwil), dan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama. Satgas bertugas menanggulangi hambatan proses pelaporan SPT Tahunan secara on-line (e-Filing) maupun manual. Hal ini diungkapkan Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) DJP Hestu Yoga Saksama, di ruangannya, pada Rabu Sore (26/2).

Ia menjelaskan, Satgas tingkat kantor pusat digawangi oleh Direktorat P2Humas DJP dalam hal pelayanan serta sosialisasi e-Filing, Direktorat Peraturan Perpajakan II terkait masalah hambatan regulasi, dan Direktorat Teknologi Informasi dan Komunikasi yang bertugas menjamin kelancaran akses informasi teknologi—server dan bandwidth (kapasitas maksimum transfer yang dapat dilakukan pada satu waktu dalam pertukaran data).

“Satgas menjaga kelancaran penyampaian SPT Tahunan e-Filing, terutama soal kesiapan IT-nya, baik server maupun bandwidth harus dijaga fokus sampai akhir Maret atau April. Tahun lalu, 600 ribuan SPT per hari masuk masih aman,” tegas Hestu.

Untuk memperkuat pelayanan dan sosialisasi, Satgas telah berkolaborasi dengan Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I), dan Perkumpulan Konsultan Praktisi Perpajakan Indonesia (PERKOPPI). Mereka akan membantu Wajib Pajak melaporkan SPT Tahunan dengan e-Filing tanpa dipungut biaya. Salah satu contoh yang sudah berjalan misalnya, diselenggarakannya “Pojok Pajak Pelaporan SPT PPh Tahunan Orang Pribadi” oleh KPP Pratama Tanah Abang Tiga di FX Sudirman Mal lantai lima, pada (20-21/2). Layanan ini meliputi bimbingan e-Filing, e-Form (formulir elektronik), aktivasi dan cetak ulang Electronic Filing Identification Number (EFIN), serta konsultasi perpajakan.

“Di Indonesia ada tiga asosiasi konsultan pajak. Kami sudah minta ketiganya untuk berkoordinasi dengan KPP-KPP memberikan layanan dan bimbingan e-Filing secara gratis, entah di mal atau di KPP,” kata Hestu.

Pada tingkat KPP Pratama, Satgas terdiri dari Seksi Pelayanan dan Account Representative (AR). Satgas pada tingkat ini bertugas menjemput bola dengan mendatangi perusahaan-perusahaan terdaftar untuk melakukan pelaporan SPT Tahunan dengan e-Filing secara massal.

“Satgas KPP dan Kanwil enggak masalah mendatangi perusahaan, mengumpulkan seluruh karyawan untuk e-Filing. Atau Satgas membuka kelas-kelas pajak di KPP, satu kelas bisa 20 sampai 30 WP. Di sana kita bimbing untuk mengisi,” tuturnya.

Selain itu, Satgas sudah memiliki sekitar 4.700 relawan pajak yang berasal dari mahasiswa di perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Pada akhir Januari 2020 misalnya, Dirjen Pajak Suryo Utomo mengukuhkan 869 relawan pajak dari tujuh perguruan tinggi di wilayah kerja Kanwil DJP Jawa Barat Tiga. Untuk menjadi relawan pajak, mahasiswa harus melewati ujian tertulis dan pembinaan tugas dan kewajiban. Mereka harus memiliki performa pelayanan sesuai standar serta menjaga kerahasiaan WP. Relawan pajak dapat membantu melakukan layanan di KPP maupun tax center di kampusnya.

“Nah, relawan pajak yang punya tax center membuka layanan e-Filing terutama untuk para dosen dan pegawai di universitasnya,” tambahnya.

Selaras dengan itu, Satgas mengirimkan imbauan penyampaian SPT Tahunan kepada 12 juta WP melalui pesan elektronik sejak awal Februari 2020. Berbagai media sosial DJP juga telah mendakwahkan sosialisasi itu dengan gaya bahasa kekinian. Sebagai contoh, sosialisasi melalui Twitter pada (25/1), “nungguin balesan chat doi yang katanya mau ngajak ngopi tapi cuma dibaca doang? Mending e-filing dulu aja. #Lebih AwalLebihNyaman #SudahPunya Tapi Belum.”

Sosialisasi juga dikemas ciamik melalui komik, lagu “Sudah Punya Tapi Belum” bergenre dangdut koplo, mengadopsi ilustrasi yang sedang viral—poster film Parasite, hingga menggelar Spectaxcular 2020.

“Strategi sosialisasi kita sudah mulai sejak awal semenarik mungkin. Kita tekankan lebih awal lebih nyaman,” tambahnya.

Kepatuhan WP

Dengan berbagai strategi itu Hestu optimistis tingkat kepatuhan WP meningkat dari 73 persen menjadi 85 persen. Ia menjelaskan, bahwa definisi kepatuhan pajak ada dua. Pertama, kepatuhan formal, yaitu membandingkan realisasi SPT yang masuk dengan WP terdaftar wajib SPT. Kedua, kepatuhan material atau kepatuhan WP dalam melaporkan SPT Tahunan dengan baik dan benar sesuai dengan aturan.

Di tahun 2018 WP terdaftar atau memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) berjumlah 38.651.622, WP terdaftar wajib SPT 17. 653. 046, tetapi realisasi SPT hanya 12. 551. 444. Alhasil, tingkat kepatuhan WP tahun 2018 sebesar 71 persen.

Sementara, tahun 2019 WP terdaftar tercatat 41. 996. 743, WP terdaftar wajib SPT 18. 334. 683, realisasi SPT yang menyampaikan SPT hanya 13. 394. 502. Dengan Demikian, tingkat kepatuhan WP tahun 2019 sebesar 73 persen. Dari jumlah itu, di tahun 2019 WP yang menggunakan e-Filing sebesar 91 persen.

“Kepatuhan Wajib Pajak kita adalah kepatuhan formal karena kepatuhan material susah untuk memastikan persentasenya. Makanya, wajib punya NPWP yang di atas PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) saja. Kalau di bawah PTKP bisa ke KPP untuk di NE-kan (non-efektif) agar tidak berkewajiban mengisi SPT. Perusahaan boleh mengimbau pegawainya,” jelas Hestu. Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.010/2016, PTKP untuk WP Orang Pribadi sebesar Rp 54 juta per tahun.—Aprilia Hariani

Lanjut baca

Tax Light

CAHAYAKAN INDONESIA

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Saat mengitari bumi perlahan, atmosfer bertanya pada semesta, mengapa

bencana bisa jadi wacana canda?

Semesta merasuki jiwa-jiwa yang basah oleh gelombang pasang namun kering dalam terpaan

 

Aku tak tahu lagi, keluh sang jiwa

Kepada siapa, kita bagaimana?

 

Sementara derai panas mentari masih butuh pelapis demi lapis yang meneduhkan

tanpa harus terinci dalam kandungan materi

 

Dunia kian renta namun gelegaknya masih menyala

Putaran doa kian melesat

namun berliku  mencari arah kebenaran

Dan angkara berjalan memunguti ketakutan

Cemetinya terdengar jauh tak padam

Menyelinapi putus asa,

Mengorek bagaimana bentuk asa, dari apa dan di mana?

 

Cahaya semakin letih menguarkan nyala

Kelamnya terpuruk di organ kasat mata

Noktah itu

Konon namanya, kesadaran

 

Maka semesta kembali melayang keluar dari jiwa dan menyapa sang korona, sang pelapis matahari yang setia

 

Katanya, sudah tidak ada yang percaya pada perannya

Kembalikan saja mereka pada tanggung jawabnya

Di saat masih menggumam doa, kembalilah pada inti membangun bangsa

Sampaikanlah! Pinta udara pada cahaya

Namun cahaya masih mengeringkan air mata

Bagaimana bisa?

Mereka masih berlomba mengejar yang tak nyata

Mereka lupa, untuk apa dan bagaimana?

Membuat pijar diri sendiri,  apalagi mencahayakan Indonesia.

 

Tegaklah. Mandirikan kita.

Paling tidak

Kita ada

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News13 jam lalu

ISEI Beri Tiga Usulan untuk Pemulihan Ekonomi dari Pandemi Covid-19

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) mengusulkan tiga langkah untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional pascapandemi Covid-19 di masa normal baru (new...

Breaking News1 hari lalu

Ada Peluang Besar Investasi dan Pembiayaan Ramah Lingkungan di Indonesia

Bank DBS Indonesia menilai, saat ini peluang investasi dan pembiayaan ramah lingkungan di Indonesia sangat besar. Tahun ini, pemerintah berencana...

Penerapan prosedur standar kenormalan baru (new normal) di sarana publik/Foto: Kemenparekraf Penerapan prosedur standar kenormalan baru (new normal) di sarana publik/Foto: Kemenparekraf
Breaking News2 hari lalu

Penerapan Kenormalan Baru Jadi Peluang Sektor Parekraf Bangkit Lebih Cepat

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Dampak COVID-19 di sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Ari Juliano Gema mengatakan, penerapan prosedur...

Breaking News3 hari lalu

Sambut Normal Baru, OJK Terbitkan Stimulus Lanjutan untuk Perbankan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan kebijakan lanjutan di sektor perbankan untuk memberikan ruang likuiditas dan permodalan perbankan. Kebijakan relaksasi ketentuan...

Breaking News3 hari lalu

Solusi Investasi dan Perlindungan Diri Menjelang Usia Nonproduktif

Bank DBS Indonesia dan Manulife Indonesia berupaya menjawab kebutuhan nasabah dalam membantu mewujudkan tujuan keuangan mereka di masa depan. Hal...

Breaking News3 hari lalu

BI Perpanjang Kebijakan Penyesuaian Jadwal Kegiatan Operasional dan Layanan Publik

Mengacu pada situasi COVID-19 terkini, Bank Indonesia (BI) memperpanjang kebijakan penyesuaian jadwal kegiatan operasional dan layanan publik hingga 15 Juni...

Breaking News4 hari lalu

Ini Panduan Normal Baru Wajib Diterapkan Instansi atau Perusahaan

Pamdemi COVID-19 telah melahirkan normal baru (new normal) dalam kehidupan sehari-hari. New normal yang dimaksud adalah menerapkan gaya hidup sesuai...

Breaking News4 hari lalu

17 Tahun Berturut-turut Bank Indonesia Raih Opini WTP dari BPK

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) memberikan predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kepada  Bank Indonesia (BI). Predikat itu...

Breaking News5 hari lalu

Jika COVID-19 Tak Kunjung Reda, PSBB Jakarta Diperpanjang dan Lebih Ketat

Anies imbau warga Jakarta mematuhi PSBB. Jika COVID-19 tak Kunjung reda, PSBB Jakarta bakal diperpanjang dan diberlakukan lebih ketat. Masyarakat...

Breaking News1 minggu lalu

Insentif Pajak di Tengah Wabah

Sepertinya edisi “Taxclopedia” kali ini paling banyak memuat dasar hukum untuk topik yang dibicarakan. Bahkan, saat tulisan ini dibuat, pemerintah...

Trending