Connect with us

Topic

Kobarkan Semangat Eksportir Muda

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Pelaku usaha berorientasi ekspor mengajak dan menyebarkan semangat kaum muda dan pelaku UMKM untuk merambah pasar internasional.

Era bonus demografi dan kemajuan teknologi informasi telah memberikan warna baru pada komposisi sosial ekonomi Indonesia. Berbagai inovasi lahir dari para pelaku ekonomi yang kini kian banyak diisi oleh anak-anak muda Indonesia. Mereka tak puas hanya sebagai pekerja dan berlomba-lomba mengambil peran menjadi pelaku usaha. Mulai dari usaha mikro, kecil menengah (UMKM) maupun usaha yang telah berskala besar.

Saat ini setidaknya lebih dari 65 juta UMKM telah tersebar di Indonesia. Dari tahun ke tahun, jumlahnya terus meningkat. Pada 2016, ada 61,7 juta UMKM di Indonesia dan pada 2018, jumlah UMKM telah mencapai 64,2 Juta dan diprediksi akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Peran UMKM pun sangat signifikan bagi ekonomi negeri ini. Mereka memiliki kontribusi sebesar 60,3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Selain itu, UMKM menyerap 97 persen dari total tenaga kerja dan 99 persen dari total lapangan kerja.

Melihat besarnya potensi itu, UMKM jelas tak bisa dipandang sebelah mata. Tak heran, pemerintah pun jor-joran mendukung para pelaku UMKM ini dengan berbagai program, mulai dari tataran regulasi hingga dukungan teknis. Selain pemerintah, institusi swasta, badan usaha pun memberikan perhatian lebih terhadap UMKM, salah satunya, Komunitas Eksportir Muda Indonesia (KEMI).

Dikutip dari situs resmi KEMI, komunitas ini terbentuk dari gagasan para pelaku usaha Indonesia yang berorientasi ekspor untuk mengajak dan menyebarkan semangat ekspor bagi kaum muda dan pelaku UMKM untuk berani bergerak merambah ceruk pasar internasional. KEMI menilai, banyak industri kecil dan menengah (IKM) di Indonesia yang mempunyai kualitas produk bagus dan berpotensi pasar ekspor. Namun, ketidakmampuan mengakses pasar, kurangnya pengetahuan tentang seluk beluk melakukan ekspor para pelaku UMKM membuat produk-produk IKM yang bagus sebenarnya bagus itu tak terjangkau di pasar internasional.

KEMI dibentuk antara lain untuk memberikan pembinaan dan pendampingan bagi pengusaha muda UMKM agar bisa melakukan ekspor perdana produk UMKM mereka. Saat ini, KEMI telah memiliki lebih dari 3.600 anggota yang mayoritas adalah pelaku UMKM yang fokus menembus pasar ekspor.

KEMI fokus memberikan pelatihan kepada calon eksportir muda Indonesia; memberikan bimbingan manajemen, produksi dan pemasaran; membantu dalam memberikan informasi pasar; dan memasarkan produk anggota KEMI ke pasar global.

Pada Februari lalu, untuk memperkuat dukungan agar UMKM lebih mudah melakukan ekspor, KEMI perwakilan Turki meresmikan kantor kesekretariatan di Istanbul, Turki. Pembukaan sekretariat itu dibarengi dengan pembukaan Toko Organic Botanic Gida Sanayi Ticaret LTD.STI.

Organic Botanic menyediakan rempah, makanan kering, dan buah-buahan tropis Indonesia di samping produk sejenis asal Turki. Toko ini juga menyediakan berbagai bahan makanan setempat sebagai strategi bisnis untuk menarik pembeli lokal dan memperkenalkan produk Indonesia ke warga Turki dan warga asing lainnya.

Ketua Perwakilan DPP KEMI untuk Republik Turki Lenny Milla yang juga pemegang saham mayoritas Organic Botanic mengatakan, toko tersebut rencananya akan dijadikan sebagai pusat tempat memajang produk-produk UMKM Indonesia dan produk Turki yang bisa dinikmati oleh orang asing dan masyarakat Indonesia yang tinggal di Turki dan rindu dengan jajanan Indonesia. Kerja sama dengan pelaku UMKM ini sementara ini menurut Lenny masih melalui sistem jual-titip (konsinyasi).

“Kantor Kesekretariatan KEMI Perwakilan Turki diharapkan bisa menjadi pusat informasi bagi teman-teman UMKM di Indonesia tentang ekspor produk ke Turki, baik persyaratan, perizinan dan contoh barang yang layak ekspor dari sisi produk, kemasan, dan bahan,” kata Leny melalui keterangan tertulis Februari lalu.

Lenny bersyukur KEMI Turki yang baru terbentuk tahun lalu akhirnya bisa menginspirasi diaspora di negara lain seperti Jerman, Belanda, dan Australia untuk membentuk KEMI perwakilan di negara masing-masing. Dengan semakin banyaknya perwakilan KEMI di berbagai negara, ia berharap, peluang UMKM untuk naik kelas melalui pasar ekspor pun semakin lebar.

Editor, IT Development Majalah Pajak

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Topic

Genggam Erat Gas Kehidupan

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Semangat dan keberanian berinovasi menjadi modal terpenting yang harus dimiliki pelaku UMKM.

Kopi sudah menjadi gaya hidup kalangan milenial. Permintaan kopi semakin tinggi, dan kafe atau kedai kopi kian menjamur. Menurut Speciality Coffee Association of Indonesia (SCAI), pertumbuhan usaha kedai kopi tahun 2019 mencapai 19 persen, kemudian 20 persen di tahun 2020, dan diproyeksikan naik lagi di tahun ini.

Eni Wartuti, pemilik Gandasari Coffee mengakui Indonesia bahkan sudah menjadi negara penghasil kopi terbesar di dunia bersama Brasil, Vietnam, dan Kolombia. “Kita harus bangga dan percaya diri bahwa dunia harus mengakui Indonesia adalah surganya kopi,” ungkapnya saat ditemui Majalah Pajak, Minggu (20/03).

Menurutnya, kopi Indonesia memiliki kualitas dan cita rasa tersendiri berkat kondisi alamnya. “Kultur tanah Indonesia yang tropis dan ada letusan gunung berapi itu pengaruhi cita rasa kopi.”

Eni menilai bisnis kopi sangatlah menjanjikan karena banyak bagian yang bisa dibisniskan, dari hulu sampai hilir. “Kalau mau jualan air, ya, kafe, penyeduhan. Kalau mau jualan biji masuk ke supplier. Kalau membuat produk dari olahan kopi itu diolah menjadi beberapa produk olahan kopi,” jelasnya.

Gandasari Coffee, berawal dari satu kilogram kopi. Berkat keuletan Eni memasarkan produknya dan membangun jaringan, perlahan-lahan bisnis kopinya berbuah manis. Ia pun dapat membeli peralatan penunjang produksi. Dalam waktu tiga tahun, usahanya berkembang bagus.

Di masa pandemi, penjualan produk Gandasari Coffee malah meningkat sampai 70 persen. Ia bahkan sempat kewalahan melayani permintaan kopi dari luar negeri. “Kairo minta 30 kontainer, Australia, Dubai, sampai Syiria, mereka kontak saya minta kopi 40 ton. Hal ini menandakan bahwa ternyata kopi Indonesia sudah mulai banyak yang mengenali,” ujarnya.

Kelebihan kopi racikan Eni terletak pada prosesnya yang mempertahankan cara tradisional. Ia melakukan penyangraian (roasting) dengan menggunakan gerabah agar kualitas dan cita rasa kopi dapat bertahan.

Naik kelas

Eni kerap membagikan pengalamannya melalui pelatihan buat pelaku UMKM di berbagai daerah. Ia berpendapat modal besar bukanlah menjadi faktor utama kemajuan UMKM; untuk naik kelas, semangat dan kreativitas justru lebih penting.

“Kuncinya kita harus terus semangat, walaupun kita enggak punya duit, atau ada korona. Kalau kita semangat, itu adalah gas kehidupan,” imbuhnya.

Selain semangat, UMKM harus fokus dan berani melakukan inovasi. Kesabaran yang ekstra diperlukan untuk mempertahankan kualitas dan layanan. Pelaku UMKM juga ia sarankan memiliki company profile yang jelas dan mengikuti perkembangan zaman. Mereka harus memanfaatkan media sosial untuk melakukan promosi.

“Selain itu yang tak kalah penting adalah fast response. Saat itu juga harus closing. Jadi, harus punya strategi bagaimana mengunci atau closing. Perilaku pelanggan saat ini dengan dulu beda, saat ini maunya cepat, dan tidak nanti-nanti,” ujarnya.

Inovasi lainnya adalah pelaku UMKM harus berani bermain dalam hal kemasan produk karena 35 persen orang tertarik dan melakukan transaksi berdasarkan melihat tampilan gambar dan warna. Oleh karena itu, desain produk pun menjadi penting dalam memasarkan sebuah produk.

Kendala

Kendati banyak kendala dalam berusaha, Eni menyarankan pelaku UMKM tidak bergantung kepada bantuan pemerintah. Menurutnya, bantuan itu biasanya berupa pembinaan usaha seperti cara pengembangan usaha, cara memasarkan, dan pengemasan.

“Sebagai pengusaha kita harus fleksibel di mana pun. Kita enggak bisa bergantung dalam waktu yang sudah ditentukan. Karena kita per jam, per detik, itu kita terhubung dengan orang baru, orang banyak dan di mana pun dan kita harus siap,” kata Eni.

Kendala yang masih kerap ia temui adalah sulitnya mengurus Surat Keterangan Asal (SKA) untuk melakukan ekspor. SKA atau biasa disebut Certificate of Origin (COO) adalah sertifikat menyatakan bahwa barang/komoditas yang diekspor memang berasal dari daerah/negara pengekspor.

“Jadi, yang saya amati kesulitannya masih di birokrasi, alot banget. Katanya bikin sistem on-line, tapi sistemnya itu error,” tuturnya.

Kendala lainnya adalah tidak tersedianya kontainer dan kapal sehingga harga kargo menjadi lebih mahal. Eni berharap pemerintah dan asosiasi dapat lekas menyelesaikan hal ini.

Lanjut baca

Topic

Menyambut Keniscayaan Digitalisasi

Novita Hifni

Diterbitkan

pada

Penulis:

Untuk mempercepat proses digitalisasi UMKM, Kementerian Koperasi dan UKM mengerahkan relawan pendamping.

Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi tumpuan ekonomi di tengah pandemi. Pelaku UMKM kini terus dipacu menuju digitalisasi yang sudah menjadi keniscayaan. Kementerian Koperasi dan UKM (kemenkop UKM) mengupayakan percepatan digitalisasi UMKM melalui sebuah program relawan mentor yang diberi nama Micro Mentor Indonesia. Program yang berkolaborasi dengan Mastercard Academy 2.0 ini mengajak para ahli menjadi mentor untuk membantu UMKM.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, program pendampingan oleh mentor ini telah merekrut 10 ribu pendamping dan menjangkau 40 ribu UMKM. Ia mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang sangat besar dan pada tahun 2025 nilainya diperkirakan mencapai Rp 1.800 triliun. Oleh karenanya, UMKM harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan perlu pengelolaan yang tepat agar potensi pasar ekonomi digital yang besar ini tidak dikuasai oleh asing.

“Digitalisasi adalah keniscayaan. Program relawan mentor ini akan menjadi gerakan solidaritas kebangkitan UMKM dengan mempercepat digitalisasi,” kata Teten di Tangerang, Kamis (11/03).

Micro Mentor Indonesia akan melatih dan mendampingi UMKM tentang cara penggunaan platform, lalu diintegrasikan dengan platform pelatihan berbasis daring milik Kemenkop UKM.

Dukungan UU Cipta Kerja

Aspek lain yang turut membantu percepatan digitalisasi UMKM adalah lahirnya Undang-Undang Cipta Kerja. Melalui beberapa klausul, UU tersebut memberikan keleluasaan dan kemudahan bagi UMKM dalam menghadapi berbagai kebutuhan di masa pandemi, salah satunya untuk mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri yang belum terpenuhi di dalam negeri seperti bidang teknologi digital.

Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital, Kreativitas dan Sumber Daya Manusia Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Mira Tayyiba melihat keberadaan Undang-Undang Cipta Kerja yang telah ditetapkan sebagai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tidak hanya memiliki proyeksi panjang di masa depan tapi juga sangat kontekstual untuk mengatasi berbagai tantangan perekonomian Indonesia di masa pandemi.

Ia memberikan contoh kebutuhan UMKM akan tenaga ahli untuk kepentingan digitalisasi kini bisa terakomodasi oleh UU tersebut yang memang memberikan kemudahan perizinan bagi tenaga asing dengan kualifikasi keahlian tertentu bekerja di Indonesia.

Kemenkop UKM telah menyiapkan empat strategi pengembangan digitalisasi UMKM. Strategi itu meliputi peningkatan SDM dengan mempersiapkan kapasitas pelaku UMKM yang kompetitif, mengintervensi perbaikan proses bisnis UMKM yang diturunkan ke dalam beberapa program, perluasan akses pasar yang salah satunya melalui kerja sama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) agar pelaku UMKM bisa menjadi vendor pengadaan barang dan jasa pemerintah, dan menyuarakan pahlawan lokal pelaku UMKM.

Kemenkop dan UKM mencatat sebanyak 37 ribu pelaku UMKM terdampak pandemi, padahal sektor ini merupakan penggerak utama perekonomian nasional. Pada 2018, sektor UMKM menyumbang 60,34 persen terhadap produk domestik bruto dan menyerap 116 juta orang atau 97,02 persen dari total pekerja di Indonesia.

Kebijakan pemulihan ekonomi yang digulirkan pemerintah di masa pandemi memberikan alokasi anggaran khusus untuk sektor UMKM sebesar Rp 123,46 triliun. Berbagai program afirmatif juga dilakukan, seperti pendampingan dalam pengelolaan usaha, dukungan sarana dan prasarana, serta digitalisasi UMKM. Digitalisasi UMKM menjadi agenda penting untuk pemulihan sekaligus juga transformasi menuju ekonomi digital.

Menurut Kepala UKM Center Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia T.M. Zakir Machmud, salah satu cara bertahan di saat pandemi adalah digitalisasi. Dengan bertransformasi secara digital, hubungan dengan konsumen maupun dengan penyedia bahan baku bisa dilakukan. Para pelaku UMKM konvensional yang selama ini lebih banyak bertransaksi secara tradisional dan bertatap muka baik dengan konsumen maupun penyedia bahan baku akan sangat terbantu oleh digitalisasi.

Ia membeberkan tantangan digitalisasi proses bisnis UMKM yang kerap terkendala oleh pola pikir pelaku usahanya sendiri. Oleh karenanya, perlu ada pendampingan untuk membantu digitalisasi UMKM melalui kegiatan pelatihan, diskusi, atau konsultasi.

Zakir menilai Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebagai bentuk kehadiran negara bagi pelaku UMKM. Namun pelaku usaha yang bisa memanfaatkan program itu masih terbatas karena mayoritas UMKM berada di level mikro yang belum tersentuh layanan perbankan atau belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Hal ini menjadi bagian dari persoalan legalitas yang belum dipenuhi banyak pelaku UMKM. Padahal, legalitas merupakan salah satu prasyarat penting bagi UMKM untuk berkembang.

Terkait persoalan ini, Direktur Utama Smesco Indonesia Leonard Theosabrata melihat salah satu faktor yang menyebabkan UMKM sulit berkembang adalah masih rendahnya kesadaran pelaku UMKM untuk melegalkan usaha.

Ia menambahkan, pelaku UMKM yang tidak memiliki izin maupun kapasitas data transaksi yang tercatat akan sulit untuk lebih berkembang lagi. Selain itu UMKM juga membutuhkan pelatihan untuk mengembangkan usahanya. Saat ini pihaknya beserta Kemenkop UKM memiliki beragam program untuk memberikan pelatihan serta pendampingan bagi UMKM.

“Kami ada banyak program dan webinar yang bisa diikuti oleh UMKM. Kegiatan pelatihannya dikemas dalam berbagai materi yang mengajarkan cara mengembangkan usaha,” papar Leonard.

Lanjut baca

Topic

Naik Kelas Lewat Klastering

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat HIPMI Mardani H. Maming

HIPMI menggagas pengelompokan bisnis UMKM agar mereka “bankable” dan berkembang pesat.

Menurut Kementerian Koperasi dan UKM, sekitar 20 juta pelaku UMKM di Indonesia saat ini tergolong belum layak dan belum memenuhi syarat perbankan (unbankable). Padahal, banyak di antara mereka yang memiliki usaha yang layak dan berprospek bagus (feasible).

Memang, di sisi lain, bank atau lembaga keuangan merupakan industri yang highly regulated (punya aturan yang ketat) dan harus menjunjung kehati-hatian (prudent) ketika mengeluarkan kredit. Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Mardani H. Maming menilai, masalah klasik inilah yang menyebabkan pelaku UMKM sulit mendapatkan modal usaha untuk mengembangkan usahanya, apalagi naik kelas.

“Mereka tidak punya report keuangan, tidak punya jaminan yang diminta oleh bank, literasi keuangannya masih rendah. Jadi, ini masalah mendasar sekaligus kompleks,” ujarnya kepada Majalah Pajak, Sabtu (20/3).

Klastering bisnis UMKM yang digagas HIPMI sejak awal pandemi, Maret 2020, diharapkan menjadi salah satu pengurai benang kusut ini.

Perlu dukungan

Mardani mengemukakan, dengan pengelompokan usaha sejenis dalam wilayah yang berdekatan secara geografis akan terbangun sinergi dan ekosistem bisnis yang komprehensif dari hulu hingga hilir. Mulai dari produksi atau keluarnya sebuah komoditas, pembuatan nilai tambah, sampai ke pemakai akhir.

“Kuncinya yang menjadi perhatian HIPMI terhadap klastering bisnis adalah bagaimana para pelaku usaha sampai dengan UMKM level paling bawah bisa meningkat kesejahterannya,” kata Mardani.

Mantan Bupati Tanah Bumbu ini bilang, klastering bisnis melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pertama, tentu para pelaku UMKM.

“Klastering bisnis ini dibuat atas sebuah konsep bisnis yang sama misalnya kelompok petani padi, kelompok petani jagung, kelompok pengolahan,” kata Mardani.

Kedua, HIPMI atau pengusaha-pengusaha yang lebih mapan sebagai pembuat klastering bisnis atau offtaker-nya. Selain mengelompokkan pelaku UMKM; offtaker juga bertugas memberikan pendampingan, pelatihan, quality control; penjamin untuk lembaga keuangan, hingga menentukan pasar atau penyerap hasil usaha.

Ketiga, lembaga keuangan. Mereka adalah institusi yang akan mengalirkan modal tambahan buat para pelaku usaha, bukan sekadar pada offtaker-nya tapi bahkan pada pelaku usaha yang paling bawah, sepanjang mereka menjadi bagian dari ekosistem bisnis itu.

Selain itu juga adanya dukungan dari lembaga pendukung seperti pemerintah, perbankan, penyedia jasa pelatihan, dan lain sebagainya. Terpenting pada proses ini, HIPMI atau offtaker bisa menjadi jembatan antara pelaku UMKM dan perbankan agar kesepakatan kredit terjadi.

Selama ini perbankan melakukan assessment pelaku UMKM secara satu per satu sehingga menghabiskan waktu dan sumber daya manusia perbankan. Dengan klastering bisnis, akan terbentuklah bulking system, sehingga yang dinilai hanya satu kesatuan klastering. Begitu bisnis satu klaster feasible, bank akan melihat penjamin beserta seluruh pelaku UMKM bagus semua sehingga semua yang menjadi klastering bisnis akan menjadi debitur bank.

“Ketika UMKM masuk ke dalam klastering bisnis dengan ekosistem bisnis yang disambungkan oleh offtaker ini, maka mereka secara langsung masuk ke bagian bisnis yang feasible, dan yang lebih penting daripada itu adalah bankable.”

Kredit yang disalurkan perbankan juga akan bermanfaat bagi pemerintah karena akan mempercepat pengembangan sektor riil sekaligus memberdayakan UMKM. Artinya, kesempatan kerja akan bertambah, ekonomi tumbuh, dan kemiskinan tertanggulangi.

“Kredit UMKM memberikan keleluasaan dalam hal pembayaran cicilan dan jangka waktu yang lebih panjang, sehingga para penggiat usaha dapat mengukur kemampuan finansialnya dengan pengembangan usaha yang dilakukan. Ditambah lagi, pinjaman ini memiliki suku bunga pinjaman kredit yang lebih kecil dibandingkan dengan suku bunga pinjaman pada umumnya,” ungkap Mardani.

Berjalan di 10 provinsi

Mardani menuturkan, saat ini klastering bisnis telah berjalan di 10 provinsi. Salah satunya, klastering petani kopra di Maluku Utara. Sebelum ada klastering, para petani tidak punya wawasan dan teknologi sehingga tidak berkesempatan membuat produk dengan kualitas tinggi.

Dengan adanya HIPMI sebagai offtaker, para petani ini bisa mendapatkan edukasi, oven, rumah kaca, sekaligus permodalan sehingga bisa membuat kopra putih yang berkualitas lebih baik dan punya nilai ekonomis tinggi.

“Tadinya kopra asalan mereka harganya Rp 6 ribu (per kilogram), lalu menjadi kopra putih harganya bisa sekitar Rp 11 ribu (per kilogram). Harganya meningkat, padahal dengan sumber atau bahan yang sama, tapi mereka punya kualitas produk yang lebih baik,” ucapnya.

Lalu ada juga klastering kopi di NTT. Petani kopi yang terbiasa menjual red cherry atau buah kopi, dilatih dan dan dibina sehingga mampu mengolah buah kopi menjadi green bean yang harganya jauh lebih tinggi. Yang lainnya adalah klastering jasa jual beli komoditas gula yang tergabung dalam sebuah koperasi di Ciamis, Jawa Barat.

Ketika melakukan proses bisnis, mereka seringkali terbentur modal. HIPMI datang dan menjadi peminjam modal atau lender dengan bunga yang rendah, agar pelaku UMKM bisa punya volume transaksi yang lebih besar, dan otomatis mereka punya margin yang lebih besar setiap bulannya.

“Misalnya, mereka punya modal Rp 2 juta, lalu kami tambahkan pinjaman Rp 8 juta dengan bunga hanya 6 persen per tahun, sehingga mereka punya modal Rp 10 juta. Jadi, kami hadir sebagai penjamin pembiayaan yang mudah dan murah,” ucapnya.

Potensi kredit

Mardani mengemukakan, untuk menggerakkan perekonomian, pemerintah mesti menggerakkan UMKM melalui regulasi yang pro UMKM, dan insentif yang tepat sasaran.

“Pemerintah tidak usah mengeluarkan uang terlalu banyak, tapi regulasi yang bisa memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan PDB secara agregat nasional,” imbuhnya.

Salah satu contohnya adalah dengan memberikan penjaminan kredit misalnya sebesar Rp 5 triliun. Uang penjaminan itu akan masuk ke lembaga penjaminan kredit BUMN seperti Jamkrindo atau Askrindo. Dari nilai itu, maka akan ada nilai premi sebesar 5 persen yang bisa menjadi potensi kredit buat UMKM senilai Rp 100 triliun, tanpa perlu adanya penjaminan karena sudah dijaminkan pemerintah.

“Ini, kan, pindah aja dari kantong kanan ke kantong kiri. Jadi, ketika UKM di-inject Rp 100 triliun, maka akan ada potensi ekonomi tiga kali lipat atau sekitar Rp 300 triliun. Pola-pola seperti ini yang perlu dibangun oleh pemerintah untuk membuat multiplier effect dalam konteks ekonomi.”

Ia pun berharap, pemerintah dapat memberikan pelatihan, pendampingan, dan stimulus berdampak langsung kepada UMKM agar mereka bertahan dan tumbuh di tengah pandemi Covid-19.

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved