Connect with us

Tax Light

Klaster

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Pendekatan klaster dinilai strategis karena integratif dalam meningkatkan daya tawar; menguntungkan karena berdampak pada pengembangan wilayah. Ia juga mendorong inovasi melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan.

 

Seorang teman menanyakan kepada saya alamat rumah si Fulan, teman saya. Ketika saya menjawab bahwa rumahnya ada di klaster A, maka komennya ringan dan sedikit menyentuh, “Wih, rumahnya di klaster, ya!” Kesannya, ada kekaguman di balik kata-kata itu.

Saya membayangkan bahwa klaster di perumahan itu biasanya lengkap dengan fasum dan fasos seperti adanya taman, tempat merokok, sarana anak-anak bermain, dan menekankan kesan bahwa yang tinggal di klaster itu hurang hayah. Sekarang ini klaster bisa saja tidak terdiri dari tanah yang luas, tapi memiliki protokoler tersendiri. Misalnya, untuk di perumahan, setiap memasuki klaster kita perlu meninggalkan KTP di pos satpam. Ada portal atau gerbang yang ditutup pada jam tertentu di malam hari sehingga tidak semua pengunjung bisa keluar masuk seenaknya. Jadi, istilah klaster di sini dipakai karena para pengembang mendesain pola perumahan yang berkelompok dengan satu pintu sebagai akses masuk dan juga keluar.

Istilah klaster, menariknya, lebih mengacu pada kelompok atau gugus. Biasanya ditulis dengan Bahasa Inggris yaitu cluster, kemudian terjadi penyerapan dalam Bahasa Indonesia berdasarkan adaptasi fonologi, menjadi klaster. Klaster, juga mengingatkan kita kepada virus korona. Pada awal virus korona yang ditemukan di Indonesia, tiga pasien pertama berasal dari sebuah klaster yang disebut klaster dansa. Dan pada gelombang kedua ini, tersebut bahwa konon penyebaran virus tersebut meluas kepada klaster perkantoran dan sekolah-sekolah. Penggunaan istilah klaster ini merujuk pada mereka yang tertular di tempat yang sama. Maka, kata klaster di masa pandemi ini menjadi marak karena menunjuk satu wilayah atau daerah apabila terjadi suatu kegiatan yang menyebabkan pesertanya tertular virus dan daerah menjadi zona merah. Contohnya, pada suatu upacara keagamaan yang kemudian pesertanya tertular menjadi positif di Sulawesi, maka nama klaster mengikuti nama daerah tersebut, dengan tujuan lain agar masyarakat berhati-hati bila ke sana.

Baca Juga: Angin yang Berbisik

Apabila kita membandingkan arti kata klaster di perumahan, dan arti kata klaster di daerah zona merah pandemi, maka kata klaster memiliki makna yang unik. Klaster kemudian mengingatkan kita pada keunikan suatu tempat, baik karena eksklusivitasnya maupun sinyal kewaspadaannya.

Dan bila diurut ke masa-masa sebelumnya, ternyata terdapat suatu pola pembinaan yang dilakukan berdasarkan mekanisme klaster yang bertujuan mengembangkan perekonomian rakyat. Katakanlah, upaya pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang dilakukan oleh Bank Indonesia, yang berinisiatif memfasilitasi kegiatan pembentukan klaster UMKM di Kalimantan Barat (https://www.bi.go.id). Pendekatan klaster ini dinilai strategis, karena bersifat integratif dalam meningkatkan daya tawar dan menguntungkan karena berdampak pada pengembangan wilayah. Selain itu, pendekatan klaster juga mampu mendorong adanya inovasi melalui pertukaran pengalaman dan pengetahuan antar pelaku UMKM dalam menghadapi tantangan globalisasi.

Di saat pandemi ini, konon, tidak semua pelaku usaha mengalami penurunan keuntungan. Ada juga yang mengalami peningkatan omzet seperti usaha frozen food. Dan kita semua tahu bahwa hampir setiap kementerian memiliki tanggung jawab terhadap pelaku UMKM yang merupakan binaannya. Intinya, untuk mengembangkan pembinaan yang terintegrasi, diperlukan perlakuan dari hulu ke hilir, di mana dari awal berdirinya usaha, membangun merek atas usaha, mendapatkan perizinan komoditas dan status usaha, sampai kemudian setelah memetik hasilnya, tidak melupakan kewajiban perpajakan selaku warga negara.

Alangkah indahnya bila kegiatan memahami pajak dan mengedukasi teman-teman sejawat dalam mengatasi kendala pelaporan perpajakan menular ke klaster lain.

Salah satu komunitas yang tanpa disadari mengikuti konsep klaster atau kewilayahan, adalah Komunitas UMKM Sahabat Pajak (USP). Saat ini, komunitas ini giat menggencarkan gerakan sadar pajak, termasuk membimbing rekan-rekannya pengusaha UMKM untuk memanfaatkan insentif perpajakan dengan istilah yang akrab di telinga, yaitu Cuti Bayar Pajak. Dengan kewajiban membayar pajak final sebesar 0,5 persen dari omzet yang ditiadakan sampai akhir tahun 2020, maka fasilitas ini membutuhkan upaya syiar yang dilakukan dan diikuti dengan kepercayaan. Intinya, negara sangat mendukung kegiatan usaha sehingga menggelontorkan sejumlah insentif perpajakan termasuk kepada pelaku UMKM di negeri ini.

Baca Juga: Negeri Tanpa Angsa

Salah satu program untuk mendukung UMKM ini dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak bernama program Bussiness Development Service (BDS) yang tujuan utamanya adalah membuat UMKM naik kelas, serta meningkatkan kepatuhan perpajakannya. Bagaimana caranya? Melalui strategi edukasi dan kegiatan penyuluhan yang terintegrasi, dengan tema yang disesuaikan kebutuhan, misalnya, bagaimana cara memfoto produk, membuat iklan di media sosial, cara melakukan pembukuan, sampai terakhir bagaimana cara menghitung pajak yang dibayar dari keuntungan yang diperoleh? Hanya 0,5 persen, bisa saja berupa nominal yang tidak sebanding dengan kebutuhan sekuler sehari-hari sebagai manusia biasa.

Nah, di suatu wilayah yang mungkin tidak terbaca, semua gerakan yang diawali jerih payah untuk belajar memahami pajak, dan bagaimana mengedukasi teman-teman sejawat dalam mengatasi semua kendala pelaporan dan pembayaran pajak, merupakan suatu tindakan heroik! Alangkah indahnya bila kegiatan tersebut menular ke wilayah-wilayah atau klaster-klaster lain, membentuk komunitas yang berjuang bersama untuk tegaknya Indonesia.

Namun saat ini, kita masih tetap harus berhati-hati walaupun beberapa wilayah mengumumkan zona hijau. Pernah ingat ramalan bahwa bulan Agustus merupakan puncak gelombang kedua menyebarnya virus ini? Ketakutan bukan hanya milik petugas medis, tetapi juga seluruh masyarakat di wilayah mana pun! Mari kita sama berharap bahwa perputaran ekonomi mulai menggeliat kembali tanpa harus melupakan protokoler kesehatan. Agustus ini, bagaimanapun, bulan suci buat kita semua, karena Indonesia sudah menapaki usia ke-75. Seumpama manusia, Indonesia harus dijaga hati-hati agar terhindarkan dari rentannya kesehatan atas pandemi ini.

Mendadak ingin menulis satu nasihat, bahwa virus ini mendekat pada ketakutan tak bertuan, dan dia sangat benci menetap pada cinta dan keyakinan.

(A3, 080820)

Baca Juga: Berlari Bersama Waktu

Tax Light

Dunia sudah Tua

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Negara bisa terselamatkan melalui kesadaran warga negaranya dalam bernegara.

Dunia mengalami perubahan yang luar biasa di tahun 2020 ini. Dulu, kita pernah mendengar bahwa wanita tua yang cantik itu diibaratkan bagai dunia. Semakin tua, semakin menarik. Ada juga pepatah lama mengisyaratkan tentang perkembangan psikologis laki-laki, yaitu tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi. Ini bisa diartikan bahwa, semakin tua usia lelaki, bisa jadi semakin menjadi-jadi keinginannya.

Dari dua nasihat yang mengandung unsur gender, baik laki-laki dan perempuan, ternyata keduanya bisa disamakan dengan dunia. Artinya? Menjadi laki-laki atau perempuan, di zaman yang sudah menua ini, mengandung peran yang sama penting dan sama berbahayanya. Itu emansipasi? Bukan. Tidak selalu harus bicara emansipasi, saat kita menginginkan wanita tampil ke depan. Namun membiarkan laki-laki dan perempuan memilih sesuatu bukan lagi berdasarkan kodrat, melainkan kemampuan, adalah yang dipercaya sebagai pengarusutamaan gender.

Dan semuanya terjadi bagai “whoila abracadabra”, pada saat dunia sedang dilanda pandemi. Menariknya, virus ini turun dari langit seperti Batara Guru yang ingin mengajarkan kepada siswa-siswanya yang bandel, yaitu umat manusia sedunia.

Satu, kembalikan waktu pada keluarga. Itu pelajaran pertama saat virus korona menguar. Instruksi bekerja dari rumah benar-benar membuat peradaban berubah! Bayangkan! Rumah menjadi area kantor dan sekolah secara berbarengan. Semua tergantung pada media on-line. Mendadak, sistem pengawasan pekerjaan berubah, dari manual menjadi IT terintegrasi. Saat bekerja, mata dipaksa terbuka melihat kondisi anak-anak yang mungkin sudah jauh luput dari pengamatan. Muncul ketidaknyamanan.

Namun, the life must go on! Lahirlah kemudian kesadaran, bahwa ternyata kenyamanan itu menyenangkan. Bekerja dari rumah menghemat bensin. Menghemat waktu tempuh. Di sini, nilai integritas diuji. Sejatinya, bekerja dari rumah ya dimulai dari waktu yang sama seperti di kantor. Tetapi apakah anda benar-benar menaati ketentuan itu? Ada yang menyadari tanggung jawabnya. Maka habit di kantor ditransformasikan di rumah, selesai. Ada yang tidak. Hanya siap di depan piranti kerja apabila ada agenda. Akibatnya? Banyak waktu luang yang tidak efisien. Menurut mereka, ini kenyamanan, apabila gaji utuh. Apabila gaji tidak utuh, maka waktu yang tersedia dialokasikan menjadi waktu untuk menambah penghasilan sampingan. Ini semua berpulang dari kesadaran, selain kebutuhan. Tidak heran bila banyak perusahaan selain mengubah aturan tugas bekerja di kantor dari 25 persen kehadiran menjadi 50 persen, atau 0 persen alias tutup.

Dua, kembali fokus pada kesehatan. Itu pelajaran setelah menyadari, bahwa selama ini boro-boro berjemur, melihat matahari saja langka! Para komuter bisa ditanya, bagaimana mereka kehilangan waktu langka menikmati cahaya matahari. Iya sih, masih bisa melihat cahaya terbitnya matahari dari celah-celah jendela kendaraan umum, namun itu semua terlupakan karena kita lebih sibuk menikmati gawai selama perjalanan. Nah, coba cek teman-teman yang di isolasi mandiri baik di hotel atau di RS, apa yang diminta untuk mereka lakukan? Berjemur! Ya, dengan berjemur, vitamin D dari cahaya matahari membantu penyembuhan, ini terutama bagi mereka yang belum parah. Apakah kita pernah melakukan berjemur di keseharian? Itu langka lo.

Selain berjemur, semua pada hati-hati membeli makanan. Artinya, waktu kumpul-kumpul di resto, kedai, café, juga menurut atau berhenti. Selain protokoler kesehatan menggaungkan tetap jaga jarak, pakai masker dan jangan lupa cuci tangan. Menu rumah menjadi makanan mewah di kantor. Empat Sehat Lima  Sempurna menjadi santapan. Bosan? Wah tidak bisa, harus disantap! Ini, kan, sehat?

Tiga, meningkatnya kreativitas usaha. Ketika semakin banyak waktu di rumah, maka kreativitas untuk membunuh kebosanan, muncul. Akibatnya, bermunculan pengusaha-pengusaha muda menawarkan masakan dari sambal botolan rumahan, menu makan siang, roti dan kue, dan lain-lain. Awalnya saling menawarkan antarteman, kemudian membuka usaha di media sosial, kemudian tawaran datang, dan semangat baru datang. Maka dari itu, hal jamak saat mendengar kampanye publik tentang membeli dari usaha mikro, kecil, dan menengah, karena itu menandakan perguliran roda ekonomi. Ada hal menarik di negara tetangga saat krisis ekonomi, gaji pegawai di salah satu perusahaan besar negara tersebut, dinaikkan. Apa tujuannya? Supaya dapat belanja sehingga menjaga kesinambungan perputaran roda ekonomi. Wah, ini serius? Demikian konon kabarnya, karena perusahaan besar tersebut memiliki anggaran untuk sumber daya manusia yang besar.

Cerita di atas seperti mimpi. Seandainya saja kita tahu bakal ada pandemi, barangkali kita bisa memitigasi risiko dengan baik, seperti meningkatkan gaji pegawai di saat susah dan menginstruksikan agar mereka banyak belanja di pengusaha lokal dan banyak sedekah, tentunya! Teringat bagaimana itu terjadi di era Nabi Yusuf ketika raja bermimpi, dan beliau menafsirkan mimpi tersebut, kemudian mitigasi risiko dilakukan. Salah satunya menyimpan stok makanan di gudang negara, sehingga ketika musim kering datang, rakyat terselamatkan. Sayang, paranormal kita tidak ada yang secerdas Nabi Yusuf.

Kita semua sedang menghadapi krisis. Pembangunan terhambat, anggaran dialihkan untuk alasan kesehatan, hubungan sosial tergerus. Pemakaman khusus Covid semakin penuh dari hari ke hari, sementara di tengah impitan kebosanan, libur panjang meningkatkan kunjungan di berbagai tempat wisata. Kita bukan hanya sedang menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga krisis mental. Tekanan atas musibah yang dihadapi anggota keluarga membuat banyak yang berteriak di media sosial karena depresi, dan karena depresi pula, banyak pasangan memutuskan berpisah karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga saat dirumahkan. Belum ada data pasti, tapi itu terjadi di depan mata kita berulang kali. Akhirnya, semua sibuk menyelamatkan diri sendiri, dan keluarga.

Dari hari kehari mendengar kabar teman yang jatuh sakit atau bahkan meninggalkan kita semua, di sela kewajiban untuk tetap bekerja mencapai target, misalnya. Komunikasi melalui media daring sudah dianggap sulit, sehingga banyak yang nekad ketok pintu nasabah. Dan itu, bahaya! Karena keluhan yang terdengar adalah, kami harus mencapai target, apa pun risikonya. Memang, sangat dibutuhkan kesadaran pada tanggung jawab. Misalnya kepada pembayar pajak yang masih memiliki omzet dan keuntungan, untuk tetap membayar dan melaporkan pajak. Tanpa harus minta diketok pintu dulu, karena menerima tamu asing, kan ribet juga?

Di satu sisi adalah, banyaknya insentif untuk menjaga stabilnya perekonomian, diciptakannya undang-undang untuk meningkatkan investasi, merupakan hal positif yang perlu dimaknai dengan cerdas. Dan semua berperan mengawal perjalanan perekonomian dengan harapan di tahun depan akan lebih baik, pandemi berakhir, kembali normal. Selesai? Belum. Banyak yang harus ditata: Keadilan yang bagaimana yang dapat menyejahterakan masyarakat? Regulasi seperti apa yang dapat menenteramkan? Dan kepercayaan apalagi yang harus dibangun?

Baiklah, kita membatin saja. Say “good bye” kepada korona, di tahun 2021 mendatang. Say “no” kepada korupsi, karena kita butuh transparansi yang jelas dalam memajukan pembangunan. Dan, say “yes” untuk selalu taat membayar pajak.

Menurut Aristoteles, dalam panggung kehidupan manusia, penghormatan dan penghargaan jatuh kepada orang-orang yang menunjukkan sifat-sifat baiknya dalam tindakan. Kita punya kedewasaan dalam menentukan sifat baik yang mana yang akan dipilih. Dunia sudah tua, kita harus cepat menentukan tindakan. Negara bisa terselamatkan, karena kesadaran warga negaranya dalam bernegara.

Selamat menyadari sifat baik anda. Selamat Tahun Baru 2021.

Terima kasih atas empat tahun kebersamaan. Salam!

 

A3, 5 Desember 2020.

Lanjut baca

Tax Light

UNTUK SANG PAHLAWAN

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Sulit sekali membayangkan ada pahlawan lahir dari ketidaktahuan, dia tidak tahu

Kenapa jadi pahlawan?

Hanya saat dia dikuburkan di taman makam pahlawan, dia tidak merekam penghargaan terbesar pencapaian hidupnya

Sebagai pahlawan

 

Seandainya hidup bisa saja dia menolak gelar karena dia merasa

Kerjanya belum selesai dan dia bukan siapa-siapa, seandainya kerjanya pun belum selesai

 

Seperti itulah kita saat ini, di masa pandemi ini

Di masa kita bertanya tanya apakah kerja sudah selesai?

Bagi mereka yang berjuang untuk menyelamatkan jiwa,

Yang datang dan pergi tanpa atribut

Kepahlawanan

 

Padahal semua bakti diserahkan walau mungkin, dia menolak gelar itu saat tersematkan

 

Di kala masih mereguk nyala kehidupan

Itulah kenapa kita berpikir, pahlawan adalah gelar terberat

Pencapaian tertinggi

Yang dikaitkan dengan kerja atau mimpi seseorang

Buat orang lain

Buat bangsa dan negaranya

 

Dan kadang kita mencari-cari untuk sematkan

Bagi yang tetap berbagi di saat sulit, tetap mencoba menyelamatkan pundi negara

Dengan apa yang dia punya

Walau orang tak paham niatnya, apalagi menggelarinya pahlawan?

 

Betapa beratnya rasa hati kala mendapat penghargaan tertinggi ini dan kita tergugu

Apa yang kuperbuat

Untukmu?

 

Baiklah, biarkan manusia menilai manusia

Karena di sisi kita ada sang pencatat tak terlihat

Yang tertawa terpingkal-pingkal

Saat kita masih bertahta, dan meminta satu kata, atas sang jasa

Bukankah aku pahlawan?

 

Maka ijinkan dunia tertawa dan menangis sekaligus

Saat sang insan menoreh tanya

Aku pahlawan?

 

Selamat datang pahlawan sesungguhnya

Yang belum mati dan tak hendak mati di hati kami

Yang memikirkan sang negeri

Dalam diamnya

Dalam baktinya.

 

A3, 061120

Lanjut baca

Tax Light

Cermin Budaya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Tidak adakah rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif?

 

Menarik sekali saat kita dipaksa untuk menyaksikan bahwa ketidakpercayaan bermuara pada keyakinan atau ketidakyakinan. Ujung-ujungnya, kehidupan ditentukan dari kenyataan. Contohnya, ketika menghadapi gelombang kedua pandemi ini ternyata banyak yang tidak peduli karena masih tidak yakin, akibat dari tidak merasakan, sehingga memunculkan ketidakpercayaan. Maka, dia tidak hendak memakai masker di mana saja. Dia tetap melakukan aktivitas keseharian tanpa penjagaan, karena dia merasa dia tidak apa-apa. Dia menyaksikan lingkungannya biasa-biasa saja. Sampai kemudian terhenyak saat dia ditetapkan positif dan harus mendekam di balik dinding rumah sakit untuk memulihkan kesehatan!

Contohnya, simbak yang bergelar asisten rumah tangga. Karena di desanya tidak banyak yang dinyatakan positif, maka menurut dia, protokoler kesehatan Covid tidak mesti dijalankan. Toh, aman! Lantas dia memaksa untuk pulang kampung. Saat digelar informasi bahwa daerah tempat dia bekerja sudah hitam dan sarana transportasi tidak menjamin keamanan kesehatan, dia masih bergeming. Sampai kemudian anak simbak yang bekerja di ibu kota menelepon dan mengabarkan kebas rasa. Besok masih bekerja, katanya, kemudian baru diperiksa. Hasilnya, positif. Sejak itu, simbak tegang dan kami semua tegang melimpahi obat-obatan kepada anak simbak semata wayang, supaya di medan isolasinya dia berhasil berjuang untuk sembuh!

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Itulah yang memaksa simbak untuk tidak pulang karena gaji sebulannya habis untuk bekal si anak lanang. Dan kadang, dari kejadian itu, kita belajar kenal karakter saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Tidak akan percaya, bila tidak diterpa kenyataan, yang seharusnya dialami sendiri.

Mengerikan? Ya. Karena sejenis iklan edukasi dan infografis saja tidak menyadarkan bahwa dunia di luar sana, bahkan di sekitar kita, sedang prihatin. Itulah yang membuat, mengapa ketika di negara lain tren grafik jumlah penderita menurun di bulan September, di Indonesia masih meningkat dan mengkhawatirkan banyak pihak.

Semua itu seperti cermin budaya saja tampaknya. Malah bagi yang senang berekreasi, saat-saat semacam ini disebut saat menenteramkan untuk berwisata. Membawa keluarga, menikmati sepi di tempat tamasya. Tidak takut? Tidak! Toh perjalanan kehidupan sudah ada yang mengatur… Mungkin demikian pemikirannya. Bolehkah bila budaya demikian dinamakan budaya tidak peduli?

Bencana, merupakan suatu kesempatan. Saat kita diminta di rumah saja, itu merupakan suatu kesempatan. Kesempatan untuk menikmati kehidupan tanpa harus menyelesaikan tanggung jawab seperti bekerja dengan optimal, misalnya. Kesempatan juga untuk tidak menunaikan tanggung jawab kepada negara seperti membayar pajak, walau mungkin saja, tambahan penghasilan tetap mengalir. Bukankah yang lain juga tidak melakukannya? Tidak ada rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif. Itulah cermin budaya, di mana kita melihat orang lain melakukan, dan kita lakukan, kemudian menjadi perilaku bersama. Walaupun kondisi kita dan dia bisa jadi berbeda.

Negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Bagai jawaban, di siang beberapa hari lalu, saya membaca tentang fenomena “warm-glow-effect” yang ditemukan oleh James Anderoni di tahun 1989, tentang sensasi perasaan positif pada orang-orang yang melakukan kegiatan amal dan berbagi. Perasaan positif ini ternyata dikarenakan mereka membantu orang lain. Apa hubungannya dengan pandemi ini?

Konon, Jorge Moll dari National Institutes of Health melakukan kajian di tahun 2006, menemukan bahwa kegiatan memberi itu mengaktivasi rasa nyaman dan rasa saling percaya. Produksi endorfin dan dopamin meluap, sehingga mereka bahagia. Tindakan berbagi itu kemudian dapat meningkatkan kesehatan sang pelaku. Lantas, mungkin perlu jeda sejenak, apakah saat daerah kita dalam kondisi merah sampai hitam, kita pernah melakukan kegiatan berbagi? Misalnya, tetanggamu masuk rumah sakit karena dideteksi positif Covid, Anda pernah mengiriminya buah, susu atau bahkan obat-obatan herbal yang Anda percaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh? Atau, pernahkah Anda bangun di tengah malam untuk mendoakan kesehatannya, kemudian mengirimi pesan di media daring untuk menguatkan hatinya? Bukankah itu adalah berbagi?

Baca Juga: Menyiapkan Gugus Tugas Tingkat RT untuk Penanggulangan COVID-19

Boleh saja kita menutup pagar yang tinggi dan pintu rumah rapat-rapat untuk melindungi kita dari penularan wabah ini, tapi kita toh tidak perlu menutup pintu hati untuk berbagi kekuatan dan saling menguatkan bukan? Saat ini, dia sedang sakit, Anda tidak. Besok, mungkin dia sudah tidak ada dan Anda masih hidup. Tapi siapa tahu? Keadaan berbalik dan tahu-tahu Anda yang menjadi penderita? Tidak ada yang tahu.

Apabila kita mempelajari Peta Kesadaran, maka sebuah cara yang bereksistensi untuk memaafkan, memelihara dan mendukung yang lain itu memiliki frekuensi tinggi, yaitu 500, yang bernama cinta. Namun ada yang di bawahnya dan sudah cukup menebar positif, yaitu kesediaan, di mana keberlangsungan hidup ditentukan oleh sikap positif menyambut seluruh ekspresi kehidupan. Nilainya 310. Anda tahu nilai rendah kesadaran? Titik kulminatifnya adalah rasa takut, di mana energi ini melihat bahaya di mana-mana, Anda menjadi defensif, sibuk dengan masalah keamanan, posesif terhadap terhadap orang lain, gelisah, cemas, dan berjaga-jaga terus. Nilainya 100. Apakah Anda berada dalam level kesadaran seperti ini? Maka mari kita bercermin yang hayati.

Bagaimana caranya? Ayo, naik kelas! Berbagilah… Kembali pada kesadaran bahwa ketakutan tidak untuk dipanggil, tetapi untuk dikalahkan, maka coba hitung kembali tambahan penghasilan Anda sendiri di masa sulit ini. Siapa tahu Anda membuka bisnis baru dan tanpa Anda sadari bisnis ini bergerak maju? Bagian ujungnya adalah melakukan pemenuhan kewajiban membayar pajak, tentunya kan? Memang sebenarnya negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Kalau tidak percaya, mari sama-sama kita becermin, dan pecahkan cermin budaya yang membuat Anda masuk menjadi negatif dalam kesadaran Anda mengelola keyakinan, kepercayaan, yang berujung pada kenyataan. Katanya ingin sukses? Mari, bangkit! Demikian kata iklan, yang menyentuh hati kita diam-diam.

Baca Juga: Meracik Siasat Penyelamatan

A3, 041020

 

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News9 jam lalu

Meski Pandemi, Industri Manufaktur Masih Ekspansif

Jakarta, Majalahpajak.net – Industri manufaktur di tanah air masih menunjukkan geliat positif di tengah gempuran dampak pandemi Covid-19. Ini tecermin...

Breaking News2 hari lalu

Kemendag Bantu Korban Gempa di Sulawesi Barat

Mamuju, Majalahpajak.net – Kementerian Perdagangan menyalurkan bantuan “Kemendag Peduli” berupa 1.000 paket barang kebutuhan pokok (bapok) untuk membantu masyarakat terdampak...

Breaking News5 hari lalu

Mitigasi Risiko Sengketa “Transfer Pricing”

Jakarta, Majalahpajak.net – Potensi kontroversi transfer pricing atas transaksi afiliasi yang dilakukan oleh grup multinasional yang berada di Indonesia maupun...

Breaking News6 hari lalu

Pacu Ekonomi, Kemenperin Tingkatkan Daya Saing Industri

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen terus meningkatkan upaya mendukung peningkatan daya saing industri guna memacu produktivitas dan pertumbuhan...

Breaking News1 minggu lalu

Pemanfaatan Biomassa untuk Energi Terbarukan

Jakarta, Majalahpajak.net  – PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) (RNI) terus mendorong peningkatan bisnis Anggota BUMN Klaster Pangan. Salah satunya melalui...

Breaking News2 minggu lalu

Pemerintah Dorong Kecukupan Air Bersih dan Sanitasi untuk Masyarakat

Jakarta, Majalahpajak.net – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, masih ada 15 persen dari masyarakat Indonesia atau sekitar 40 juta...

Breaking News2 minggu lalu

Ini Program Prioritas KKP untuk Tingkatkan Kapasitas SDM

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong tiga program prioritas utama, yakni peningkatan kesejahteraan nelayan dan PNBP...

Breaking News2 minggu lalu

Indonesia-Hongaria Bahas Potensi Kerja Sama Lanjutan

Jakarta, Majalahpajak.net – Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Hongaria Péter Szijjártó menemui Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa di Gedung Bappenas,...

Breaking News2 minggu lalu

Terkait Dugaan Korupsi, Perwakilan Buruh Bakal Geruduk Kantor BPJS

Jakarta, Majalahpajak.net – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyampaikan, KSPI dan perwakilan buruh-buruh Indonesia akan melakukan aksi...

Breaking News3 minggu lalu

UMKM Melek Digital dan Pandai Membaca Peluang

Jakarta, Majalahpajak.net – Pandemi yang tidak kunjung mereda membuat ekonomi Indonesia diprediksi masih akan tertekan tahun ini. Di sektor industri...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved