Connect with us

Business

Kini Bisnis Digital Jadi Andalan

Diterbitkan

pada

Telkom melakukan strategi bisnis khusus dalam mengantisipasi dampak pandemi virus korona. Pendapatan Telkom di segmen data, internet, dan jasa teknologi melesat jauh.

Pandemi virus korona membuat hampir semua sektor usaha terkena dampaknya, tak terkecuali bisnis jasa telekomunikasi. Perusahaan telekomunikasi pelat merah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk/Telkom dalam kinerja laporan keuangan per 30 Juni 2020 mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih dari bisnis legacy yang meliputi layanan telepon dan pesan singkat (SMS—short message services). Penurunan pendapatan di lini bisnis ini mencapai 27,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yakni dari Rp 18 triliun menjadi Rp 13 triliun. Laba bersih Telkom tercatat sebesar Rp 11 triliun, turun tipis dari tahun sebelumnya yang senilai Rp 11,1 triliun.

Direktur Keuangan Telkom Heri Supriadi mengungkapkan, kontribusi pendapatan dari bisnis legacy masih sebesar 27–28 persen. Ia memperkirakan bisnis ini akan terus menurun di masa mendatang.

Berkah pandemi

Meski bisnis di layanan telepon dan pesan singkat menurun, pandemi ternyata membawa berkah di lini bisnis yang lain. Pendapatan Telkom di segmen data, internet, dan jasa teknologi serta bisnis broadband (Indihome) melesat jauh. Pendapatan di segmen data tercatat meningkat dari Rp 33,1 triliun menjadi Rp 35,3 triliun, sedangkan pendapatan Indihome naik dari Rp 8,7 triliun menjadi Rp 10,4 triliun.

Melihat perubahan pola kebiasaan baru masyarakat di masa pandemi, kini Telkom memfokuskan bisnisnya pada pengembangan di bisnis broadband dan digital sebagai tulang punggung pendapatan. Sebenarnya sejak 2019 lalu Telkom sebagai BUMN yang bergerak di bidang information communication and technology (ICT) sudah mulai melakukan transformasi menuju perusahaan telekomunikasi digital. Munculnya pandemi akhirnya mempercepat upaya transformasi tersebut.Tantangan di masa pandemi justru menjadi peluang bagi Telkom untuk melakukan inovasi produk dan layanan digital yang sangat dibutuhkan masyarakat di kala harus menjalankan segala kegiatan dari rumah.

Heri menjelaskan, pandemi secara tidak langsung telah mengubah gaya hidup dan kebutuhan seiring penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kondisi ini makin meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan internet yang memadai.

“Melalui infrastruktur, platform, dan layanan digital yang dimiliki, Telkom menangkap peluang dan menjadi enabler untuk setiap aktivitas masyarakat di masa pandemi,” jelas Heri Supriadi melalui keterangan tertulis di Jakarta (23/10).

Telkom kini menempatkan Digital Business Telkomsel dan IndiHome sebagai andalan pertumbuhan pendapatan. Pada semester pertama 2020, IndiHome membukukan pendapatan sebesar Rp 10,4 triliun atau tumbuh 19,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara, bisnis digital Telkomsel tumbuh 13,5 persen secara tahunan menjadi Rp 31,9 triliun dan meningkatkan kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan sebesar 72,4 persen dari 62,2 persen di tahun sebelumnya.

 

Business

Berkah Pandemi di Bisnis TI

Diterbitkan

pada

Penulis:

Permintaan terhadap layanan teknologi informasi melonjak tajam di masa pandemi. Bisnis WGS kian moncer karena tren ini.

Pandemi Covid-19 memberikan berkah tersendiri bagi sektor usaha di bidang teknologi informasi (TI). Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan berbasis teknologi dan informasi di era ekonomi digital terutama di masa pandemi kian menggairahkan prospek bisnis di sektor ini. Perusahaan konsultan TI, PT Walden Global Services (WGS), juga turut merasakan berkah pandemi. Direktur Operasional PT WGS, Yogi Arjan mengungkapkan, pendapatan perusahaan hingga pertengahan 2021 naik signifikan seiring naiknya permintaan terhadap jasa konsultan TI di berbagai sektor bisnis.

“Pada Juli 2021, terjadi peningkatan leads yang cukup signifikan dibanding Juli 2020. Pandemi justru memberikan peningkatan pada arus adopsi transformasi digital di banyak perusahaan. Ini menjadikan demand pada bisnis jasa konsultan IT (information technology) juga meningkat,” jelas Yogi kepada Majalah Pajak dalam wawancara virtual, Jumat (17/09).

Ia menguraikan tiga engagement model bisnis yang menjadi layanan utama WGS, yaitu project-based model, agile outsourcing, partnership dan networking. Pada project based model, WGS mengerjakan proyek dengan fixed scope, budget, resources, dan schedule.

“Selain mengerjakan project based dengan fixed scope, kami juga fokus pada agile outsourcing yang menuntut WGS untuk bisa menyediakan talent-talent yang secara berkala harus kami upgrade demi memenuhi kebutuhan klien,” paparnya.

Pola partnership dan networking juga memiliki value yang sangat penting bagi WGS. Seiring kebutuhan TI yang meningkat dan sangat beragam, permintaan ini tidak bisa ditangani sendiri. Untuk itu pihaknya memanfaatkan partner network untuk memenuhi kebutuhan klien yang memiliki kebutuhan spesifik maupun produk jadi yang saat itu belum dimiliki WGS.

Perusahaan yang telah beroperasi selama 12 tahun ini memiliki banyak klien dari berbagai sektor bisnis yang menempatkan WGS sebagai main trusted development partner untuk mengerjakan sejumlah proyek yang ada dalam roadmap bisnisnya. Nutrifood, misalnya, sejak 2011 hingga sekarang menjadi klien WGS untuk pengembangan aplikasi internal maupun eksternal perusahaan.

Di sektor perbankan, sejak 2016, BCA menyerahkan pengembangan aplikasi digitalnya kepada WGS. Beberapa BUMN seperti PT KAI dan PT Timah Tbk juga bermitra dengan WGS. Sejak 2017, WGS membantu PT Timah Tbk dalam membangun aplikasi antardivisi dan memberikan manfaat dalam pemangkasan jalur birokrasi yang akhirnya turut menurunkan cost perusahaan. Di PT KAI, WGS membenahi proses integrasi aplikasi digital layanan publik. Sementara di lingkup pemerintahan, instansi yang baru-baru ini berkolaborasi dengan WGS adalah DJP dalam pengembangan aplikasi layanan mobile M-Pajak.

Kinerja Bisnis

Berdiri sejak 2006, perusahaan yang memfokuskan bisnisnya pada software development dan customization services ini telah mengerjakan sekitar 500 proyek dari 250 klien. Divisi Consulting, Software Quality Assurance dan Business Development saling memperkuat layanan WGS yang diberikan kepada klien.

WGS melakukan upgrading skill kepada karyawan sebagai bagian dari profesional development dari segi kompetensi teknis, nonteknis, hingga akademis. Karyawan WGS menguasai hampir semua platform teknologi atau bahasa pemrograman terkini yang tersedia di market untuk berbagai jenis teknologi, baik back-end (Java, PHP laravel, Golang, Python, Ruby on Rails, ASP.net) maupun front-end (kotlin, Android, iOS, node.js, react.js, angular.js, vue.js).

“Kami senantiasa ingin menjadi hub bagi partner kami untuk dapat maju bersama. Selain terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kami senantiasa terus menjaga kualitas dalam delivery kepada klien kami,”ungkap Yogi.

Lanjut baca

Business

Alternatif Bertahan Produsen Semen

Diterbitkan

pada

Penulis:

Produsen semen menggunakan bahan bakar alternatif dari daur ulang limbah. Inovasi dan efisiensi sekaligus kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020 dan masih berlangsung sampai sekarang telah memicu peningkatan volume limbah medis. Permasalahan ini harus ditangani secara tepat mengingat dampak negatif dan berbahaya yang bisa ditimbulkan dari limbah medis terhadap kesehatan manusia jika dibuang begitu saja.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kini tengah berupaya mendorong industri semen untuk turut berperan serta dalam mengelola dan menangani limbah medis di dalam negeri dengan menggunakan fasilitas pabrik yang dimiliki.

“Kami berdiskusi dengan industri semen untuk menggunakan fasilitas pabrik mereka sebagai tempat penanganan limbah medis,” ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan pers, Selasa (3/8).

Ia menjelaskan, selama ini industri semen telah terbiasa untuk mengolah limbah industri seperti limbah sawit berupa spent bleaching earth, yaitu limbah padat yang dihasilkan dari proses penyulingan minyak dari industri oleokimia. Pihaknya masih melakukan penilaian untuk merealisasikan rencana ini sebagai bagian dari kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya dalam mendorong penerapan industri hijau di seluruh sektor industri manufaktur di Indonesia.

Menurutnya, langkah strategis dalam memperkuat ekonomi hijau dan teknologi serta produk ramah lingkungan akan mendukung penciptaan industri berkelanjutan dan berdaya saing di kancah global. Upaya ini merupakan momentum bagi Indonesia untuk menjadi bagian dari transformasi menuju pembangunan industri berkelanjutan. Ia menerangkan, industri hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sejalan dengan program Making Indonesia 4.0.

“Prinsip industri hijau ini mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat,” papar Agus Gumiwang di acara Launching Penghargaan Industri Hijau Tahun 2021.

Efisiensi industri semen

Produsen semen, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) dalam rilisnya menegaskan akan terus menerapkan program-program efisiensi demi menjaga arus kas sebagai prioritas selama kondisi perekonomian belum kembali pulih.

“Dinamika pandemi yang masih sangat memprihatinkan memberikan tantangan lebih besar untuk terus berinovasi dan menciptakan peluang-peluang baru untuk tetap bertahan dan bahkan mencapai pertumbuhan,” jelas Direktur Solusi Bangun Indonesia, Aulia Mulki Oemar dalam keterangan pers.

Salah satu upaya efisiensi dan kontribusi SMCB terhadap pembangunan berkelanjutan adalah dengan terus menggunakan bahan bakar alternatif dari pemanfaatan limbah industri dan sampah perkotaan. Langkah ini sejalan dengan kebijakan Kemenperin dalam mendorong praktik ramah lingkungan di semua sektor industri. Perluasan jangkauan layanan pengelolaan limbah ramah lingkungan ini juga bersinergi dengan induk usaha, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).

Pengelolaan limbah diwujudkan dengan kerja sama strategis yang dirintis SMCB bersama Taiheiyo Cement Corporation (TCC) dengan cakupan perluasan pasar ekspor semen beserta solusi pengelolaan limbah ramah lingkungan. Kerja sama strategis dengan TCC telah selesai dilakukan pada 21 Juli 2021 melalui proses right issue senilai Rp 3,1 triliun.

Dalam laporan keuangan Semester I tahun 2021, volume penjualan semen, terak (produk sampingan yang menyerupai batu kaca) dan ekspor SMCB tercatat naik 17,73 persen menjadi 6,229 ton. Pencapaian ini mampu meningkatkan laba bersih hingga 203,66 persen menjadi sebesar Rp 249 miliar dari Rp 82 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, konsumsi semen nasional mencapai 29 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 7,32 persen dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 27 juta ton. Sedangkan pasar ekspor mencapai 6,7 ton atau tumbuh 80,42 persen dari 3,7 ton pada tahun 2020.

Sedangkan induk usahanya, SMGR diproyeksikan memasuki kondisi yang lebih baik di semester II tahun ini seiring peningkatan penjualan semen curah mengikuti mulai menggeliatnya pengembangan proyek infrastruktur. Meski demikian, penjualan selama semester I tahun ini diperkirakan masih rendah dan bisa menyebabkan kinerja keuangan tahun ini tidak sesuai ekspektasi.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin berpandangan, Semen Indonesia masih menghadapi tantangan berat sepanjang semester I tahun ini. Namun kondisi akan mulai pulih di semester II. Proyeksi rendahnya volume penjualan semen pada paruh pertama tahun ini mendorong Mirae untuk merevisi turun target kinerja keuangan Semen Indonesia. Perkiraan pendapatan tahun ini dipangkas sekitar 0,9 persen menjadi Rp 38,2 triliun. Meski dipangkas, proyeksi tersebut masih menunjukkan pertumbuhan sekitar 8,7 persen dari realisasi tahun 2020.

Lanjut baca

Business

Bisnis Alkes Tersekat Bahan Baku

Diterbitkan

pada

Penulis:

Bisnis alat kesehatan meningkat tengah wabah. Namun, pengadaan bahan baku jadi kendala.

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret 2020 telah membuat pendapatan di sejumlah bidang usaha menurun. Di sisi lain, pandemi juga memberi berkah kepada beberapa sektor.

Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bagas Adhadirgha memaparkan pertumbuhan beberapa sektor usaha bahkan melonjak hingga 50 persen, seperti industri yang terkait dengan makanan dan perawatan personal terutama perawatan kesehatan maupun kebersihan. Menurutnya, pelaku usaha harus mampu berinovasi dan jeli melihat peluang baru di masa pandemi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

“Dengan big data bisa dilihat bahwa ada peluang-peluang baru yang muncul di era pandemi. Setiap pengusaha harus menerapkan digital marketing karena saat ini semua sudah bergerak ke digital,” jelas Bagas dalam webinar bertema “Tren dan Peluang Bisnis di Masa Pandemi”, Selasa (15/6).

Ia menjelaskan, teknologi cloud computing dapat dimanfaatkan untuk inovasi dan redefinisi ulang layanan serta bisnis dengan lebih cepat dan mudah. Selain itu, imbuhnya, penggunaan cloud computing juga mendukung target pemilik bisnis untuk melakukan ekspansi layanan dengan cepat dan mudah.

Hal senada disampaikan oleh pengusaha yang tergabung dalam HIPMI, Yudhi Andrianto. Menurutnya, aset pengusaha alat kesehatan masih tumbuh tinggi selama masa pandemi. Kenaikan permintaan untuk beberapa produk kesehatan seperti masker dan cairan pembersih tangan diakuinya menjadi peluang yang menggembirakan bagi pengusaha yang bergerak di sektor ini.

“Pengusaha telah berpindah ke pemasaran on-line dengan memanfaatkan internet dan e-commerce. Dengan inisiatif itulah pengusaha nasional dapat hidup di masa pandemi yang hingga sekarang masih melanda Indonesia,” papar Yudhi.

Kendala bahan baku

Pertumbuhan bisnis di sektor kesehatan selama pandemi mestinya menjadi berkah tersendiri bagi ekonomi nasional, tapi nyatanya kondisi ini bukan tanpa kendala. Selama setahun terakhir, kalangan pelaku usaha di bidang pengadaan alat-alat kesehatan masih sulit memperoleh pasokan alat-alat kesehatan, baik pengadaan dari jalur impor maupun dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium, Randy H. Teguh mengungkapkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sejak 2019 telah menerbitkan 200 izin usaha produksi alat kesehatan sehingga jumlah seluruhnya saat ini mencapai 500 usaha. Namun meningkatnya jumlah produsen alat kesehatan di dalam negeri tidak diiringi dengan bertambahnya pasokan alat kesehatan.

Menurutnya, penambahan usaha baru masih didominasi oleh alat kesehatan dengan adopsi teknologi rendah. Sementara industri baru yang menggunakan teknologi tinggi masih terbatas karena pendalaman industri alat kesehatan tidak sederhana. Kini cukup banyak pelaku usaha yang mulai melirik bisnis produksi alat kesehatan di dalam negeri, tetapi pengadaan bahan baku masih menjadi kendala.

Bahan baku untuk industri alat kesehatan di Indonesia sebagian besar didatangkan dari Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan merupakan produsen utama. Negara pemasok ini menerapkan pajak yang tinggi untuk ekspor bahan baku, sehingga harga perakitan bahan baku di dalam negeri justru lebih mahal dibandingkan dengan impor barang jadi. Akibatnya, jelas Randy, harga produk dalam negeri kalah bersaing dengan produk impor dan pihak rumah sakit tentu berpikir ulang untuk membeli produk yang lebih mahal.

Ia juga mengungkapkan kendala importasi yang masih terjadi adalah masa pemesanan yang terbatas karena sistem e-katalog yang sering terlambat. Selama ini rumah sakit membeli produk melalui katalog daring yang disediakan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Namun, terbatasnya masa pemesanan membuat pelaku usaha tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan dan mengantisipasi permintaan. Padahal, impor biasanya hanya dilakukan jika ada permintaan.

Terkait hal ini, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memastikan kebijakan kemudahan impor untuk alat kesehatan akan dipertahankan. Ia mengatakan, kelancaran rantai nilai produk-produk penting dalam penanganan Covid-19 telah menjadi norma yang disepakati dunia. Di masa pandemi yang penuh dengan segala permasalahan besar ini membuat tiap negara harus menerapkan strategi kebijakan dan cara-cara yang luar biasa.

“Semua negara keluar dari tupoksi biasa karena ini masalah luar biasa dan kita harus address secara luar biasa. Kita juga tidak bisa mengganggu mata rantai atau tambahan biaya dalam perdagangan karena menyangkut kepentingan kemanusiaan,” tegas Lutfi.

Koordinasi Kemenkes dengan kementerian/lembaga lainnya terus dilakukan untuk memastikan distribusi alat kesehatan dan obat-obatan bisa tersalurkan dengan baik selama kebijakan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Untuk mengatasi ketersediaan alat kesehatan dan obat-obatan yang akhir-akhir ini menipis, Kementerian Perdagangan akan membenahi semua penghambat kelancaran distribusi.

“Kita akan pastikan bahwa distribusi obat-obatan, alat kesehatan akan diperbaiki dan terus kita jalankan agar sesuai dengan koordinasi antara BPOM Kemenkes, Kemendag dan institusi terkait lainnya,” jelas Lutfi dalam konferensi pers “Ketersediaan Bahan Pokok dan Stabilitas Harga” di Jakarta, Senin (5/7).

Kemenkes mencatat dari 496 jenis alat kesehatan yang diperdagangkan dalam e-katalog pada 2019 sampai 2020, hanya 152 jenis produk yang bisa diproduksi di dalam negeri, sisanya harus diimpor. Di samping itu, hanya 2 dari 10 molekul obat dengan konsumsi terbesar yang diproduksi di dalam negeri; selebihnya masih harus diimpor. Namun, dari total 1.809 item obat yang diperdagangkan dalam e-katalog, hanya 56 item yang belum diproduksi di dalam negeri.

Lanjut baca

Populer