Connect with us

Tax Light

Ketika Budaya Lahir Kembali

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Apa yang kamu rasakan saat ini? Itu pertanyaan menarik yang bisa menjelaskan apa yang dirasakan masyarakat Indonesia selama pandemi.

Kami pernah membuat lomba menciptakan tiga kata kesan positif selama pandemi yang memaksa semua pekerja melakukan pekerjaan dari rumah. Ada yang mengatakan, Bosan-Nonton-Tidur. Ada yang berjiwa idealis dan menuliskan, Lebih-Kreatif-Produktif. Dan ada satu yang menuliskan: Lupa-Sabtu-Minggu.

Bekerja di rumah, bagaikan bekerja di dunia tak berbatas. Dari satu tempat, kita bisa fokus pada beberapa rapat melalui media daring, yang sejatinya hal ini sulit dilakukan di kantor. Melakukan rapat di kantor sama dengan memindahkan tubuh dari satu lantai ke lantai lain, atau dari satu gedung ke gedung lain. Namun dengan mekanisme bekerja dari rumah, rapat adalah memindahkan mata dan menggerakkan pinggang tanpa bergerak!

Buat sebagian orang, ini adalah memindahkan dunia luar ke dalam rumah kita sendiri. Ingar-bingar kerja diganti celotehan dan tangisan kanak-kanak, teriakan pasangan, dan asisten rumah tangga, dan tidak akan terdeteksi oleh peserta rapat selama media video dan suara ditutup. Beberapa orang menyatakan mereka bisa bekerja dengan aman dari rumah, karena melihat pergerakan keluarga dengan mata kepala sendiri. Namun sebagian orang berpendapat, dunia menjadi stagnan dan membosankan! Mereka rindu pada rutinitas sehari-hari. Ke kantor, menjadi manusia yang sibuk secara body dan mind, dan melupakan bahwa soul mereka bisa jadi kosong.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Selamat datang, gaya hidup baru!

Mau tidak mau, suka tidak suka, maka kita berada di rumah saja. Survei dari Kantar, hampir 80 persen masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di rumah selama karantina. Rambu-rambunya jelas, social distancing, physical distancing, dan maskering.

Perubahan gaya hidup itu berdampak pada budaya yang digadang-gadang melahirkan karakter baru. Contohnya, tidak ada lagi kebiasaan ngafe dan ngemal, diganti pesanan untuk diantarkan ke rumah. Tidak ada memesan dari luar rumah, diganti masakan ibunda. Tidak perlu bangun pagi bersiap ke sekolah, karena guru-guru sudah siap dengan tugas seminggu penuh yang disisipkan pekerjaan rumah membuat video untuk membuktikan bahwa mereka berkegiatan di rumah, atau mengirimkan rekaman menjawab pertanyaan.

Kerja berjalan dengan waktu sebagaimana biasa, tapi tidak ada mobilitas. Tidak perlu dandan berlebihan; singkirkan sepatu hak tinggi; bahkan bisa belum mandi, saat Anda menghadapi rapat bersama di zoom meeting.

Suka atau tidak suka, lama-lama membiasa. Ini terjadi saat kegiatan tanpa tatap muka menjadi acuan layanan publik di mana saja. Ternyata, masyarakat Wajib Pajak yang melaporkan SPT Tahunan di akhir April kemarin juga tidak kalah semangatnya, walau mereka tidak mendapat bimbingan langsung di kantor-kantor pajak. Jalan keluarnya adalah konsultasi melalui media daring, menelepon Account Representative, melakukan chat, ikut hadir di kelas pajak daring berupa webinar dan grup WA, sehingga di hari terakhir yang melapor tembus 440 ribu SPT. Tahun lalu, yang lapor di hari terakhir sebesar 518 ribu SPT.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Apa kesimpulan yang dapat diambil? Dalam kondisi terpaksa, kita bisa! Karena kita bisa, lama-lama membiasa. Dan tentu saja harus berpikiran positif bahwa tidak semua masyarakat memanfaatkan pandemi sebagai alasan untuk tidak memenuhi kewajiban perpajakannya.

Bagaimana bisa tidak peduli? Lah, wong dari APBN saja anggaran untuk mengatasi pandemi bernama indah ini Rp 400-an triliun. Belum lagi banyaknya kebijakan berupa fasilitas perpajakan yang dikeluarkan untuk memberi kemudahan.

Ada juga yang namanya Pajak Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp 60-an triliun khusus membijaki dampak korona.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, itu artinya di depan kita ada dukungan pemerintah yang tanpa suara mengatakan, “Ini bukan bagianmu, ini merupakan bagianku.” Analoginya, seorang bocah menangis tidak bisa membayar es krim yang diinginkan, lantas ada yang datang kepadanya, memberikan es krim itu dengan tidak menerima bayaran dari sang bocah. Malaikat berhati emas itu mungkin saja adalah ibu, bapak, atau kakak kita.

Sederhananya, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Sebelum banyak bertanya, mungkin baiknya bertanya ke dalam diri sendiri, apakah aku bertanya karena tidak tahu, atau ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk melihat bahwa aku tahu?

Budaya lain yang dilahirkan adalah terciptanya kekuatan bagi ASN yang tempat bekerjanya bukan di home base, untuk bisa mengatasi rasa takut karena tidak mudik saat Lebaran untuk menghindari penyebaran virus. Tanpa disadari kepasrahan mereka melahirkan kekuatan yang luar biasa. Sekarang ini marak tercipta solidaritas dalam beramal dan bersedekah. Pernahkah Anda mengirim masakan yang dipesan dari teman pengusaha UMKM untuk dikirim ke rumah pegawai non-organik di kantor Anda? Para satpam, office boy, dan petugas cleaning service? Anda tidak tahu, kan, bagaimana dia mengatasi masalah keluarganya, sementara Anda bisa saja masih tetap memperoleh gaji walau ada pemotongan? Marilah berbagi walau sedikit.

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Sekarang ini, hidup berjalan dengan pertanyaan yang sulit: Kapan semua ini akan selesai?

Kapan selesainya, ya, aku kan sudah kangen kantor?

Sabar, sepertinya yang harus dipikirkan adalah pola pikir kita dahulu. Sepertinya, kita harus bersahabat dengan dia, sang wabah. Dan itu bisa bila dikawal kepasrahan tingkat tinggi, dengan upaya ekstra hati-hati. Satu, semua orang, toh, akan mati. Dua, kita dipaksa harus ikhtiar jaga diri sendiri. Andai semua sudah enggak parno dan ngeri, maka dia pun menghilang.

Itu kalimat tertinggi yang pernah saya dengar.

Saya enggak tahu…. Itu, kan, kata saya, bukan kata ahlinya. Yang jelas, kita sudah seperti terlahir kembali jadi manusia baru selama masa-masa karantina. Mengenali pasangan, anak-anak, ibu kos, saudara, orangtua, dan lain-lain insan satu atap. Kita seperti Gatotkaca yang terbang dari Kawah Candradimuka, tapi terbangnya di rumah saja.

Yang penting, di rumah ini, kita bisa menjadi guru dan berguru pada orang-orang terdekat. Oya, selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat berpuasa. Selamat Idulfitri. Selamat merenungi diri sendiri.

(A3, 020520)

Tax Light

Dunia sudah Tua

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Negara bisa terselamatkan melalui kesadaran warga negaranya dalam bernegara.

Dunia mengalami perubahan yang luar biasa di tahun 2020 ini. Dulu, kita pernah mendengar bahwa wanita tua yang cantik itu diibaratkan bagai dunia. Semakin tua, semakin menarik. Ada juga pepatah lama mengisyaratkan tentang perkembangan psikologis laki-laki, yaitu tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi. Ini bisa diartikan bahwa, semakin tua usia lelaki, bisa jadi semakin menjadi-jadi keinginannya.

Dari dua nasihat yang mengandung unsur gender, baik laki-laki dan perempuan, ternyata keduanya bisa disamakan dengan dunia. Artinya? Menjadi laki-laki atau perempuan, di zaman yang sudah menua ini, mengandung peran yang sama penting dan sama berbahayanya. Itu emansipasi? Bukan. Tidak selalu harus bicara emansipasi, saat kita menginginkan wanita tampil ke depan. Namun membiarkan laki-laki dan perempuan memilih sesuatu bukan lagi berdasarkan kodrat, melainkan kemampuan, adalah yang dipercaya sebagai pengarusutamaan gender.

Dan semuanya terjadi bagai “whoila abracadabra”, pada saat dunia sedang dilanda pandemi. Menariknya, virus ini turun dari langit seperti Batara Guru yang ingin mengajarkan kepada siswa-siswanya yang bandel, yaitu umat manusia sedunia.

Satu, kembalikan waktu pada keluarga. Itu pelajaran pertama saat virus korona menguar. Instruksi bekerja dari rumah benar-benar membuat peradaban berubah! Bayangkan! Rumah menjadi area kantor dan sekolah secara berbarengan. Semua tergantung pada media on-line. Mendadak, sistem pengawasan pekerjaan berubah, dari manual menjadi IT terintegrasi. Saat bekerja, mata dipaksa terbuka melihat kondisi anak-anak yang mungkin sudah jauh luput dari pengamatan. Muncul ketidaknyamanan.

Namun, the life must go on! Lahirlah kemudian kesadaran, bahwa ternyata kenyamanan itu menyenangkan. Bekerja dari rumah menghemat bensin. Menghemat waktu tempuh. Di sini, nilai integritas diuji. Sejatinya, bekerja dari rumah ya dimulai dari waktu yang sama seperti di kantor. Tetapi apakah anda benar-benar menaati ketentuan itu? Ada yang menyadari tanggung jawabnya. Maka habit di kantor ditransformasikan di rumah, selesai. Ada yang tidak. Hanya siap di depan piranti kerja apabila ada agenda. Akibatnya? Banyak waktu luang yang tidak efisien. Menurut mereka, ini kenyamanan, apabila gaji utuh. Apabila gaji tidak utuh, maka waktu yang tersedia dialokasikan menjadi waktu untuk menambah penghasilan sampingan. Ini semua berpulang dari kesadaran, selain kebutuhan. Tidak heran bila banyak perusahaan selain mengubah aturan tugas bekerja di kantor dari 25 persen kehadiran menjadi 50 persen, atau 0 persen alias tutup.

Dua, kembali fokus pada kesehatan. Itu pelajaran setelah menyadari, bahwa selama ini boro-boro berjemur, melihat matahari saja langka! Para komuter bisa ditanya, bagaimana mereka kehilangan waktu langka menikmati cahaya matahari. Iya sih, masih bisa melihat cahaya terbitnya matahari dari celah-celah jendela kendaraan umum, namun itu semua terlupakan karena kita lebih sibuk menikmati gawai selama perjalanan. Nah, coba cek teman-teman yang di isolasi mandiri baik di hotel atau di RS, apa yang diminta untuk mereka lakukan? Berjemur! Ya, dengan berjemur, vitamin D dari cahaya matahari membantu penyembuhan, ini terutama bagi mereka yang belum parah. Apakah kita pernah melakukan berjemur di keseharian? Itu langka lo.

Selain berjemur, semua pada hati-hati membeli makanan. Artinya, waktu kumpul-kumpul di resto, kedai, café, juga menurut atau berhenti. Selain protokoler kesehatan menggaungkan tetap jaga jarak, pakai masker dan jangan lupa cuci tangan. Menu rumah menjadi makanan mewah di kantor. Empat Sehat Lima  Sempurna menjadi santapan. Bosan? Wah tidak bisa, harus disantap! Ini, kan, sehat?

Tiga, meningkatnya kreativitas usaha. Ketika semakin banyak waktu di rumah, maka kreativitas untuk membunuh kebosanan, muncul. Akibatnya, bermunculan pengusaha-pengusaha muda menawarkan masakan dari sambal botolan rumahan, menu makan siang, roti dan kue, dan lain-lain. Awalnya saling menawarkan antarteman, kemudian membuka usaha di media sosial, kemudian tawaran datang, dan semangat baru datang. Maka dari itu, hal jamak saat mendengar kampanye publik tentang membeli dari usaha mikro, kecil, dan menengah, karena itu menandakan perguliran roda ekonomi. Ada hal menarik di negara tetangga saat krisis ekonomi, gaji pegawai di salah satu perusahaan besar negara tersebut, dinaikkan. Apa tujuannya? Supaya dapat belanja sehingga menjaga kesinambungan perputaran roda ekonomi. Wah, ini serius? Demikian konon kabarnya, karena perusahaan besar tersebut memiliki anggaran untuk sumber daya manusia yang besar.

Cerita di atas seperti mimpi. Seandainya saja kita tahu bakal ada pandemi, barangkali kita bisa memitigasi risiko dengan baik, seperti meningkatkan gaji pegawai di saat susah dan menginstruksikan agar mereka banyak belanja di pengusaha lokal dan banyak sedekah, tentunya! Teringat bagaimana itu terjadi di era Nabi Yusuf ketika raja bermimpi, dan beliau menafsirkan mimpi tersebut, kemudian mitigasi risiko dilakukan. Salah satunya menyimpan stok makanan di gudang negara, sehingga ketika musim kering datang, rakyat terselamatkan. Sayang, paranormal kita tidak ada yang secerdas Nabi Yusuf.

Kita semua sedang menghadapi krisis. Pembangunan terhambat, anggaran dialihkan untuk alasan kesehatan, hubungan sosial tergerus. Pemakaman khusus Covid semakin penuh dari hari ke hari, sementara di tengah impitan kebosanan, libur panjang meningkatkan kunjungan di berbagai tempat wisata. Kita bukan hanya sedang menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga krisis mental. Tekanan atas musibah yang dihadapi anggota keluarga membuat banyak yang berteriak di media sosial karena depresi, dan karena depresi pula, banyak pasangan memutuskan berpisah karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga saat dirumahkan. Belum ada data pasti, tapi itu terjadi di depan mata kita berulang kali. Akhirnya, semua sibuk menyelamatkan diri sendiri, dan keluarga.

Dari hari kehari mendengar kabar teman yang jatuh sakit atau bahkan meninggalkan kita semua, di sela kewajiban untuk tetap bekerja mencapai target, misalnya. Komunikasi melalui media daring sudah dianggap sulit, sehingga banyak yang nekad ketok pintu nasabah. Dan itu, bahaya! Karena keluhan yang terdengar adalah, kami harus mencapai target, apa pun risikonya. Memang, sangat dibutuhkan kesadaran pada tanggung jawab. Misalnya kepada pembayar pajak yang masih memiliki omzet dan keuntungan, untuk tetap membayar dan melaporkan pajak. Tanpa harus minta diketok pintu dulu, karena menerima tamu asing, kan ribet juga?

Di satu sisi adalah, banyaknya insentif untuk menjaga stabilnya perekonomian, diciptakannya undang-undang untuk meningkatkan investasi, merupakan hal positif yang perlu dimaknai dengan cerdas. Dan semua berperan mengawal perjalanan perekonomian dengan harapan di tahun depan akan lebih baik, pandemi berakhir, kembali normal. Selesai? Belum. Banyak yang harus ditata: Keadilan yang bagaimana yang dapat menyejahterakan masyarakat? Regulasi seperti apa yang dapat menenteramkan? Dan kepercayaan apalagi yang harus dibangun?

Baiklah, kita membatin saja. Say “good bye” kepada korona, di tahun 2021 mendatang. Say “no” kepada korupsi, karena kita butuh transparansi yang jelas dalam memajukan pembangunan. Dan, say “yes” untuk selalu taat membayar pajak.

Menurut Aristoteles, dalam panggung kehidupan manusia, penghormatan dan penghargaan jatuh kepada orang-orang yang menunjukkan sifat-sifat baiknya dalam tindakan. Kita punya kedewasaan dalam menentukan sifat baik yang mana yang akan dipilih. Dunia sudah tua, kita harus cepat menentukan tindakan. Negara bisa terselamatkan, karena kesadaran warga negaranya dalam bernegara.

Selamat menyadari sifat baik anda. Selamat Tahun Baru 2021.

Terima kasih atas empat tahun kebersamaan. Salam!

 

A3, 5 Desember 2020.

Lanjut baca

Tax Light

UNTUK SANG PAHLAWAN

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Sulit sekali membayangkan ada pahlawan lahir dari ketidaktahuan, dia tidak tahu

Kenapa jadi pahlawan?

Hanya saat dia dikuburkan di taman makam pahlawan, dia tidak merekam penghargaan terbesar pencapaian hidupnya

Sebagai pahlawan

 

Seandainya hidup bisa saja dia menolak gelar karena dia merasa

Kerjanya belum selesai dan dia bukan siapa-siapa, seandainya kerjanya pun belum selesai

 

Seperti itulah kita saat ini, di masa pandemi ini

Di masa kita bertanya tanya apakah kerja sudah selesai?

Bagi mereka yang berjuang untuk menyelamatkan jiwa,

Yang datang dan pergi tanpa atribut

Kepahlawanan

 

Padahal semua bakti diserahkan walau mungkin, dia menolak gelar itu saat tersematkan

 

Di kala masih mereguk nyala kehidupan

Itulah kenapa kita berpikir, pahlawan adalah gelar terberat

Pencapaian tertinggi

Yang dikaitkan dengan kerja atau mimpi seseorang

Buat orang lain

Buat bangsa dan negaranya

 

Dan kadang kita mencari-cari untuk sematkan

Bagi yang tetap berbagi di saat sulit, tetap mencoba menyelamatkan pundi negara

Dengan apa yang dia punya

Walau orang tak paham niatnya, apalagi menggelarinya pahlawan?

 

Betapa beratnya rasa hati kala mendapat penghargaan tertinggi ini dan kita tergugu

Apa yang kuperbuat

Untukmu?

 

Baiklah, biarkan manusia menilai manusia

Karena di sisi kita ada sang pencatat tak terlihat

Yang tertawa terpingkal-pingkal

Saat kita masih bertahta, dan meminta satu kata, atas sang jasa

Bukankah aku pahlawan?

 

Maka ijinkan dunia tertawa dan menangis sekaligus

Saat sang insan menoreh tanya

Aku pahlawan?

 

Selamat datang pahlawan sesungguhnya

Yang belum mati dan tak hendak mati di hati kami

Yang memikirkan sang negeri

Dalam diamnya

Dalam baktinya.

 

A3, 061120

Lanjut baca

Tax Light

Cermin Budaya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Tidak adakah rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif?

 

Menarik sekali saat kita dipaksa untuk menyaksikan bahwa ketidakpercayaan bermuara pada keyakinan atau ketidakyakinan. Ujung-ujungnya, kehidupan ditentukan dari kenyataan. Contohnya, ketika menghadapi gelombang kedua pandemi ini ternyata banyak yang tidak peduli karena masih tidak yakin, akibat dari tidak merasakan, sehingga memunculkan ketidakpercayaan. Maka, dia tidak hendak memakai masker di mana saja. Dia tetap melakukan aktivitas keseharian tanpa penjagaan, karena dia merasa dia tidak apa-apa. Dia menyaksikan lingkungannya biasa-biasa saja. Sampai kemudian terhenyak saat dia ditetapkan positif dan harus mendekam di balik dinding rumah sakit untuk memulihkan kesehatan!

Contohnya, simbak yang bergelar asisten rumah tangga. Karena di desanya tidak banyak yang dinyatakan positif, maka menurut dia, protokoler kesehatan Covid tidak mesti dijalankan. Toh, aman! Lantas dia memaksa untuk pulang kampung. Saat digelar informasi bahwa daerah tempat dia bekerja sudah hitam dan sarana transportasi tidak menjamin keamanan kesehatan, dia masih bergeming. Sampai kemudian anak simbak yang bekerja di ibu kota menelepon dan mengabarkan kebas rasa. Besok masih bekerja, katanya, kemudian baru diperiksa. Hasilnya, positif. Sejak itu, simbak tegang dan kami semua tegang melimpahi obat-obatan kepada anak simbak semata wayang, supaya di medan isolasinya dia berhasil berjuang untuk sembuh!

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Itulah yang memaksa simbak untuk tidak pulang karena gaji sebulannya habis untuk bekal si anak lanang. Dan kadang, dari kejadian itu, kita belajar kenal karakter saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Tidak akan percaya, bila tidak diterpa kenyataan, yang seharusnya dialami sendiri.

Mengerikan? Ya. Karena sejenis iklan edukasi dan infografis saja tidak menyadarkan bahwa dunia di luar sana, bahkan di sekitar kita, sedang prihatin. Itulah yang membuat, mengapa ketika di negara lain tren grafik jumlah penderita menurun di bulan September, di Indonesia masih meningkat dan mengkhawatirkan banyak pihak.

Semua itu seperti cermin budaya saja tampaknya. Malah bagi yang senang berekreasi, saat-saat semacam ini disebut saat menenteramkan untuk berwisata. Membawa keluarga, menikmati sepi di tempat tamasya. Tidak takut? Tidak! Toh perjalanan kehidupan sudah ada yang mengatur… Mungkin demikian pemikirannya. Bolehkah bila budaya demikian dinamakan budaya tidak peduli?

Bencana, merupakan suatu kesempatan. Saat kita diminta di rumah saja, itu merupakan suatu kesempatan. Kesempatan untuk menikmati kehidupan tanpa harus menyelesaikan tanggung jawab seperti bekerja dengan optimal, misalnya. Kesempatan juga untuk tidak menunaikan tanggung jawab kepada negara seperti membayar pajak, walau mungkin saja, tambahan penghasilan tetap mengalir. Bukankah yang lain juga tidak melakukannya? Tidak ada rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif. Itulah cermin budaya, di mana kita melihat orang lain melakukan, dan kita lakukan, kemudian menjadi perilaku bersama. Walaupun kondisi kita dan dia bisa jadi berbeda.

Negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Bagai jawaban, di siang beberapa hari lalu, saya membaca tentang fenomena “warm-glow-effect” yang ditemukan oleh James Anderoni di tahun 1989, tentang sensasi perasaan positif pada orang-orang yang melakukan kegiatan amal dan berbagi. Perasaan positif ini ternyata dikarenakan mereka membantu orang lain. Apa hubungannya dengan pandemi ini?

Konon, Jorge Moll dari National Institutes of Health melakukan kajian di tahun 2006, menemukan bahwa kegiatan memberi itu mengaktivasi rasa nyaman dan rasa saling percaya. Produksi endorfin dan dopamin meluap, sehingga mereka bahagia. Tindakan berbagi itu kemudian dapat meningkatkan kesehatan sang pelaku. Lantas, mungkin perlu jeda sejenak, apakah saat daerah kita dalam kondisi merah sampai hitam, kita pernah melakukan kegiatan berbagi? Misalnya, tetanggamu masuk rumah sakit karena dideteksi positif Covid, Anda pernah mengiriminya buah, susu atau bahkan obat-obatan herbal yang Anda percaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh? Atau, pernahkah Anda bangun di tengah malam untuk mendoakan kesehatannya, kemudian mengirimi pesan di media daring untuk menguatkan hatinya? Bukankah itu adalah berbagi?

Baca Juga: Menyiapkan Gugus Tugas Tingkat RT untuk Penanggulangan COVID-19

Boleh saja kita menutup pagar yang tinggi dan pintu rumah rapat-rapat untuk melindungi kita dari penularan wabah ini, tapi kita toh tidak perlu menutup pintu hati untuk berbagi kekuatan dan saling menguatkan bukan? Saat ini, dia sedang sakit, Anda tidak. Besok, mungkin dia sudah tidak ada dan Anda masih hidup. Tapi siapa tahu? Keadaan berbalik dan tahu-tahu Anda yang menjadi penderita? Tidak ada yang tahu.

Apabila kita mempelajari Peta Kesadaran, maka sebuah cara yang bereksistensi untuk memaafkan, memelihara dan mendukung yang lain itu memiliki frekuensi tinggi, yaitu 500, yang bernama cinta. Namun ada yang di bawahnya dan sudah cukup menebar positif, yaitu kesediaan, di mana keberlangsungan hidup ditentukan oleh sikap positif menyambut seluruh ekspresi kehidupan. Nilainya 310. Anda tahu nilai rendah kesadaran? Titik kulminatifnya adalah rasa takut, di mana energi ini melihat bahaya di mana-mana, Anda menjadi defensif, sibuk dengan masalah keamanan, posesif terhadap terhadap orang lain, gelisah, cemas, dan berjaga-jaga terus. Nilainya 100. Apakah Anda berada dalam level kesadaran seperti ini? Maka mari kita bercermin yang hayati.

Bagaimana caranya? Ayo, naik kelas! Berbagilah… Kembali pada kesadaran bahwa ketakutan tidak untuk dipanggil, tetapi untuk dikalahkan, maka coba hitung kembali tambahan penghasilan Anda sendiri di masa sulit ini. Siapa tahu Anda membuka bisnis baru dan tanpa Anda sadari bisnis ini bergerak maju? Bagian ujungnya adalah melakukan pemenuhan kewajiban membayar pajak, tentunya kan? Memang sebenarnya negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Kalau tidak percaya, mari sama-sama kita becermin, dan pecahkan cermin budaya yang membuat Anda masuk menjadi negatif dalam kesadaran Anda mengelola keyakinan, kepercayaan, yang berujung pada kenyataan. Katanya ingin sukses? Mari, bangkit! Demikian kata iklan, yang menyentuh hati kita diam-diam.

Baca Juga: Meracik Siasat Penyelamatan

A3, 041020

 

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News19 jam lalu

Peluang Investasi Reksadana “Offshore” Berprinsip Syariah

Jakarta, Majalahpajak.net – Bank DBS Indonesia berkomitmen menerapkan misi sustainability atau bisnis keberlanjutan. Salah satu pilar sustainability yang diusung adalah...

Breaking News2 hari lalu

Indonesia Darurat Bencana, ACT Ajak Masyarakat Bantu Korban

Jakarta, Majalahpajak.net – Awal tahun 2021, Indonesia dihadang bencana di berbagai daerah. Ada  gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di...

Breaking News3 hari lalu

Pegadaian Beri Bantuan untuk Korban Bencana Sumedang

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memberikan bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di kecamatan Cimanggung, kabupaten Sumedang. Bantuan...

Breaking News3 hari lalu

Holding BUMN untuk Pemberdayaan Ultramikro dan UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian BUMN berencana membentuk perusahaan holding terkait pembiayaan dan pemberdayaan ultramikro serta UMKM. Upaya ini merupakan langkah...

Breaking News6 hari lalu

Transaksi Digital Rawan Tindak Pidana Pencucian Uang

Jakarta, Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia  (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Keberadaan ekonomi digital turut memudahkan transaksi keuangan. Di antaranya membantu...

Breaking News1 minggu lalu

IHSG Positif di Januari, Ini Rekomendasi Saham-saham Prospektif

Jakarta Majalahpajak.net – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat pada Januari seiring dengan...

Breaking News1 minggu lalu

Jokowi Tepati Janjinya Jadi yang Pertama Divaksin Covid-19

Jakarta, Majalahpajak.net –  Seperti janjinya kepada masyarakat yang disampaikan sebelumnya, akhirnya Presiden Joko Widodo mendapatkan suntikan pertama dari vaksin virus...

Breaking News1 minggu lalu

Aliran Dana Asing ke Indonesia Diharapkan Perbaiki Kinerja IHSG

Jakarta, Majalahpajak.net – Pertumbuhan ekonomi Indonesia dilaporkan akan terus membaik dengan permintaan domestik dan belanja pemerintah yang akan menjadi kunci...

Breaking News1 minggu lalu

Peran Perbankan untuk Pemulihan Ekonomi Sangat Penting

Jakarta, Majalahpajak.net – Berbeda dengan krisis Asia maupun krisis global yang pernah terjadi sebelumnya, dampak pandemi Covid-19 terasa di segala...

Breaking News1 minggu lalu

WIKA Raih Penghargaan 10 Juta Jam Kerja Selamat

Makassar, Majalahpajak.net – Direktur QHSE PT WIJAYA KARYA (Persero) Tbk. (WIKA), Rudy Hartono memimpin upacara Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved