Terhubung dengan kami

Business

Kemitraan dan Inovasi

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Selain memperluas kemitraan, PT CRP juga terus berinovasi di bisnis kuliner agar produknya dapat semakin diminati dan dikenal luas di tingkat lokal hingga pasar global.

Perusahaan yang bergerak di bisnis kuliner, PT Citarasa Prima Indonesia Berjaya (CRP) berencana melakukan ekspansi di tahun ini dengan menambah gerai melalui sistem kemitraan. Perusahaan dengan sederet merek kuliner lokal seperti Nasi Goreng Rempah Mafia, Warunk UpNormal, dan Bakso Boedjangan ini kini telah memiliki 117 gerai. Sekitar 70 persen dari total gerai tersebut dimiliki oleh mitra usaha dan sisanya milik CRP.

Pendiri Grup CRP, Stefanie Kurniadi mengemukakan, bisnis harus dikelola dan dikembangkan secara terus-menerus. Sejak awal merintis usaha di bidang kuliner, ia mengaku tak pernah berhenti belajar dan terus berinovasi agar bisnisnya dapat menjangkau masyarakat luas.

“Saya ingin mengangkat brand lokal ke level global. Kalau orang datang ke New York, brand kita ada di sana. Jadi, jangan produk luar negeri saja yang meramaikan pasar Indonesia,” (kapan, di mana, kepada siapa dia berbicara?) kata perempuan kelahiran 11 Juni 1985 yang meraih penghargaan EY Entrepreneur of The Year di Monte Carlo, Monako di tahun 2015 bersama enam pengusaha terpilih dari seluruh dunia.

“Saya ingin mengangkat brand lokal ke level global. Kalau orang datang ke New York, brand kita ada di sana. Jadi, jangan produk luar negeri saja yang meramaikan pasar Indonesia”.

Bidik konsumen muda

Salah satu merek kuliner milik Grup CRP yang kini mengalami perkembangan cukup siginifikan adalah Warunk UpNormal. Membidik konsumen dari kalangan muda, bisnis yang dirintis pada 2014 di Bandung ini kini telah memiliki 65 gerai yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Restoran berkonsep modern minimalis yang dilengkapi fasilitas free-WiFi ini menyuguhkan aneka menu seperti mi, nasi goreng, dan roti bakar dengan harga yang cukup terjangkau bagi kalangan anak-anak muda, mulai dari Rp 10 ribuan hingga Rp20 ribuan.

Setelah memperkenalkan menu mi, Grup CRP menargetkan untuk membuka gerai baru di tahun ini untuk mempromosikan merek nasional melalui produk kopi sebagai menu andalan. Grup CRP kini merintis gerai baru di Bandung yang dinamai UpNormal Roasters dan menandai perluasan bisnisnya di industri kopi. Gerai baru ini ditujukan untuk mendukung petani lokal dengan mengangkat kearifan lokal dari produk kopi di berbagai daerah di Indonesia untuk disajikan kepada konsumen.

Selain kemitraan dan memperkenalkan menu baru, CRP juga ingin memperkuat kerja sama dengan Grup Salim yang sudah terbangun sejak tahun lalu. Salah satu produk Grup Salim yakni Indomie, merupakan menu andalan di gerai Warunk UpNormal. Melalui kerja sama ini, Grup Salim mengirim pasokan bahan baku yang dibutuhkan seperti Indomie dan kecap ke seluruh gerai CRP dalam perputaran yang terbilang cepat setiap dua hari sekali.

Grup Cita Rasa Prima Indonesia Berjaya merupakan rantai bisnis food and beverage berbasis di Indonesia. Saat ini terdapat lima merek yang bernaung di Grup CRP, yaitu Nasi Goreng Rempah Mafia, Warunk UpNormal, Bakso Boedjangan, Sambal Khas Karmila dan UpNormal Coffee Roaster.

Didirikan pada Oktober 2013 dengan merek pertama Nasi Goreng Rempah Mafia, grup bisnis ini melakukan kolaborasi  antara pengembangan produk, operasi, hubungan masyarakat, keuangan dan teknologi, dan administrasi. Secara keseluruhan, perusahaan telah mencapai pertumbuhan tiga kali lipat dari awal berdiri hingga tahun ini. Saat ini Grup CRP melayani lebih dari 35.000 konsumen setiap hari di semua gerainya dan menargetkan untuk mencapai lebih dari satu juta konsumen per hari pada semua merek di semua outlet dalam kurun waktu lima tahun mendatang.

Business

Pembiayaan Digital Bisnis Kuliner

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

 

Lewat kolaborasi dengan Go-Jek, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) BNI untuk kalangan pebisnis UMKM kuliner semakin terarah dan tepat sasaran.

Data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia menunjukkan sumbangan subsektor kuliner yang signifikan dalam usaha industri kreatif. Pada 2016, kontribusi kuliner merupakan yang terbesar dari 16 subsektor ekonomi kreatif, yakni mencapai 41,4 persen. Ini menunjukkan besarnya potensi industri kuliner untuk terus berkembang dan membuka peluang bisnis yang menjanjikan.

PT Bank BNI (Persero) Tbk menangkap peluang ini dengan meningkatkan alokasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi kalangan pebisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kuliner. Senior Executive Vice President (SEVP) Teknologi Informasi PT BNI (Persero) Tbk, Dadang Setiabudi mengemukakan, KUR disalurkan sesuai ketentuan pemerintah, yakni dengan bunga murah sebesar tujuh persen per tahun dan tanpa agunan. Untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi pebisnis UMKM kuliner, pihaknya berkolaborasi dengan PT Dompet Anak Bangsa atau Go-Pay milik PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek).

“Penyaluran pembiayaan dengan menggandeng Go-Jek membuat BNI bisa mengakses data transaksi yang akan memudahkannya menentukan pelaku UMKM yang layak mendapat kredit.”

KUR untuk UMKM kuliner

Dadang menjelaskan, melalui sinergi bisnis ini pihaknya menyediakan pembiayaan bagi UMKM kuliner yang tergabung dalam mitra Go-Food melalui skema KUR. Adapun pihak Go-Jek menyediakan dukungan berupa data transaksi mitra yang tergabung dalam layanan kuliner Go-Food.

“Skema pembiayaannya dengan konsep digital. Kerja sama ini sejalan dengan keinginan pemerintah agar menyalurkan KUR ke sektor produktif,” papar Dadang kepada wartawan di acara konferensi pers kerja sama BNI dan Go-Pay di Pasaraya Blok M, Jakarta, Selasa (13/3).

Ia meyakini, kolaborasi dengan Go-Jek akan mendorong penyaluran KUR ke sektor produktif seperti pebisnis UMKM kuliner semakin terarah dan tepat sasaran.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan PT BNI (Persero) Tbk, Catur Budi Harto. Menurutnya, strategi penyaluran pembiayaan dengan menggandeng Go-Jek ini membuat BNI bisa mengakses pemanfaatan data transaksi Go-Pay sehingga akan lebih memudahkan dalam menentukan pelaku UMKM yang memang layak mendapatkan kredit.

Pada tahap awal, KUR hanya dapat dicairkan sebagai Kredit Modal Kerja (KMK) dengan metode repayment angsuran. Dalam metode ini, pembayaran angsuran dilakukan per hari dari pendapatan debitur agar terasa lebih ringan. Penyaluran kredit bagi UMKM kuliner ini diharapkan dapat mencapai target realisasi penyaluran KUR ke sektor produktif minimal 50 persen dari target KUR yang ditetapkan pemerintah kepada BNI sebesar Rp 13,5 triliun.

Untuk tahun 2018, BNI mengalokasikan penyaluran KUR sebesar Rp 3 triliun ke sektor produktif yang separuhnya atau Rp1,5 triliun adalah untuk UMKM kuliner.

Di kesempatan yang sama, General Manager Divisi Usaha Kecil PT BNI (Persero) Tbk, Bambang Setiatmojo mengungkapkan, pemerintah menekankan untuk menyalurkan KUR ke sektor produktif seperti pertanian dan perikanan. Namun kenyataannya, penyaluran KUR ke sektor tersebut di tahun 2017 masih kurang optimal. Oleh sebab itu, pihaknya berinovasi untuk mengejar target penyaluran KUR, salah satunya dengan menggandeng Go-Jek. Pihaknya menargetkan untuk menyalurkan seluruh KUR bagi UMKM kuliner di tahun ini hingga seratus persen.

“Selain kuliner, kami masih punya pekerjaan rumah untuk menjembatani produsen dan konsumen dengan melakukan penetrasi ke pasar ritel untuk mengambil pasokan dari produsen UMKM,”ujar Bambang.

Lanjutkan Membaca

Business

Menangkap Peluang “E-Dagang”

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

 

Menyambut era ekonomi digital, PT Pos Indonesia (Persero) membangun kemitraan dengan pelaku e-dagang.

Perkembangan bisnis di era digital menuntut perusahaan untuk merancang strategi yang tepat dalam menyesuaikan diri dengan perubahan dan menangkap peluang baru. Perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor jasa logistik, PT Pos Indonesia (Persero) mengantisipasi perubahan di era ekonomi digital saat ini dengan membangun kemitraan bersama para pelaku bisnis e-dagang (e-commerce).

Kemitraan dengan pelaku e-dagang telah dijalin sejak 2016 yang merupakan langkah ekspansi bisnis untuk melayani jasa kurir bagi segmen pasar on-line melalui platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Perseroan melayani jasa kurir bagi sejumlah e-dagang yang kini telah menjadi mitra bisnis, seperti Bukalapak, Tokopedia, dan Zalora.

Berbagai fitur ditawarkan untuk melayani kebutuhan para pelaku bisnis on-line yang meliputi jemput kiriman oleh kurir, layanan notifikasi pemberitahuan status kiriman, kemudahan penanganan keluhan pelanggan melalui akses layanan Halo 161 selama 24 jam, jaminan keamanan dan jaminan ganti rugi barang kiriman.

Aneka jenis barang kini bisa memanfaatkan layanan pengiriman, mulai dari alat-alat rumah-tangga, pakaian, peralatan elektronik, barang konsumsi hingga barang kiriman yang termasuk golongan berbahaya maupun berharga.

Kemitraan baru

Sumbangan pengiriman barang dari e-dagang terhadap pertumbuhan bisnis perseroan sejauh ini telah mencapai 15 persen. Ini membuat perseroan terdorong untuk terus menjajaki kemitraan baru dengan pelaku e-dagang.

Pada Februari 2018, perseroan memperluas kemitraan bisnisnya lewat kerja sama dengan PT Kioson Komersial Indonesia Tbk dalam penyediaan logistik. Kemitraan baru ini diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam melayani pengiriman logistik ke seluruh pelosok Indonesia.

Direktur Informasi dan Teknologi PT Pos Indonesia (Persero) Charles Sitorus mengemukakan, perseroan mengemban misi menjadi tulang punggung utama bisnis e-dagang di Indonesia. Untuk itu, ia harus mencari mitra bisnis tepercaya yang mempunyai potensi bisnis jangka panjang dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami senang dapat bekerja sama dengan Kioson yang memiiki 30.000 mitra di seluruh Indonesia,” kata Charles kepada wartawan di Jakarta, Senin (13/2).

Ia menambahkan, konsumen dan pelaku e-dagang akan diuntungkan oleh kemudahan mengakses barang kebutuhan. Sedangkan para mitra Kioson akan menjadi bagian dari sistem logistik perseroan terutama bagi pelanggan e-dagang.

Bagi mitra Kioson, kemitraan ini adalah solusi untuk mengatasi minimnya jangkauan penyelenggaraan bisnis jasa kurir ke berbagai kota di Indonesia. Dan akhirnya masyarakat juga akan lebih mudah dalam mengirim dan mengambil barang tanpa perlu khawatir salah alamat.

Lanjutkan Membaca

Business

Kolaborasi dengan Pemda

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

 

Selain memperluas jangkauan bisnis, kehadiran  Go-Jek di Banyuwangi juga turut menggerakkan ekonomi lokal.

Layanan aplikasi transportasi daring Go-Jek terus berinovasi mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Pada November 2017, untuk pertama kalinya perusahaan jasa transportasi berbasis teknologi ini melebarkan usahanya di daerah lewat kolaborasi secara resmi dengan pemerintahan setempat yang diawali dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Chief Executive Officer (CEO)  Go-Jek, Nadiem Makarim mengemukakan, pihaknya membuat kesepakatan kerja sama dengan Pemkab Banyuwangi di tiga sektor, yakni kesehatan, UMKM, dan transportasi. Di sektor kesehatan, Go-Jek memperkenalkan fitur Go-Send untuk mendukung program Gancang Aron atau lekas sembuh. Fitur ini dirancang untuk memberikan layanan pengiriman obat ke tempat tinggal konsumen. Adapun bagi warga miskin, Go-Jek dan Pemkab Banyuwangi secara bersama-sama memberikan bantuan subsidi.

“Subsidi diberikan sebagai salah satu bagian dari program CSR kami. Program ini berlangsung selama setahun dan nantinya bisa dikembangkan lagi,” ungkap Nadiem.

Di sektor UMKM, pihaknya turut serta mengoptimalkan UMKM setempat melalui ajang Pesta Kuliner Go-Food yang diselenggarakan pada Desember 2017. Saat ini terdapat 40 UMKM di Banyuwangi yang menjadi mitra Go-Food.

Sedangkan di sektor transportasi, pihaknya mengajak perusahaan taksi lokal untuk bergabung dan mau menerima pesanan dari aplikasi Go-Jek. Saat ini terdapat sekitar 800 tukang ojek yang telah digandeng oleh Pemkab Banyuwangi untuk bergabung dengan Go-Jek.

Setelah Banyuwangi, imbuh Nadiem, pihaknya terbuka untuk berkolaborasi dengan pemda lainnya di bidang transportasi, pengembangan UMKM, dan inklusi keuangan.

Tumbuhkan ekonomi lokal

Terkait kesepakatan yang dijalin dengan Go-Jek, Bupati Banyuwangi Abdullah Awar Anas meyakini bahwa sekarang adalah era kolaborasi sehingga tidak bisa hanya berjalan sendiri-sendiri. Ia berharap kehadiran Go-Jek di daerahnya bukan hanya mengejar kepentingan bisnis melainkan juga misi sosial. Hadirnya  Go-Jek juga dapat turut menggerakkan ekonomi lokal, baik dari segi mitra pengemudi maupun pertumbuhan bisnis skala mikro, kecil dan menengah.

“Ini selaras dengan model kewirausahaan sosial yang memang diterapkan  Go-Jek sejak awal,” jelas Azwar.

Ia memaparkan, aplikasi  Go-Jek sudah dikenal luas di masyarakat termasuk kalangan wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi. Wisatawan dengan mudah dapat memesan makanan lewat aplikasi Go-Food sambil bersantai di tempat penginapan. Azwar juga meminta  Go-Jek untuk merangkul para pelaku usaha kecil di bidang kuliner yang berjualan di gang sempit karena tak punya cukup modal untuk menyewa tempat di lokasi strategis, tapi memiliki cita rasa kuliner yang enak.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News3 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News5 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News6 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News8 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News8 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News9 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News11 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Analysis3 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak daripada tiang”....

Advertisement Pajak-New01

Trending