Connect with us

TAX PEOPLE

Kampanyekanlah Pajak Lewat Humor

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Masih banyak masyarakat yang terjebak paradigma lawas, pajak itu sulit dan menakutkan. Adakah cara kreatif membongkar persepsi usang itu?

 

Segala hal yang berhubungan pajak, oleh sebagian orang masih dianggap sesuatu yang rumit dan membingungkan. Mulai dari menghitung, tata cara pelaporannya hingga memahami peraturannya. Padahal, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) senantiasa selalu membuat inovasi untuk memudahkan Wajib Pajak. Misalnya, penyederhanaan atau simplifikasi peraturan perpajakan. Di sisi pelaporan, saat ini sistem administrasi perpajakan pun sudah didukung oleh kemajuan teknologi informasi. Seharusnya, urusan pajak menjadi lebih mudah.

Lantas, kenapa masih banyak yang menganggap urusan perpajakan itu masih ribet dan menakutkan? Menurut Yasser Fikry, penyebabnya tak lain adalah sulitnya mengeliminasi paradigma lama masyarakat soal pajak. Penulis yang juga aktor acara komedi di beberapa stasiun televisi itu menilai, untuk bisa membongkar paradigma lama itu, DJP harus menanamankan paradigma baru dalam upaya sosialisasi dengan cara tak biasa sehingga melekat kuat di benak masyarakat.

Baca Juga: Serius Berhumor

“Sekarang sebenarnya DJP sudah bagus, tetapi kalau sosialisasi terkait pajak bisa ditingkatkan lagi saya rasa akan membawa dampak positif bagi para wajib pajak,” tutur dosen Universitas Sahid Jakarta itu.

Pendapat Yasser itu berangkat dari pengalamannya sendiri. Pria kelahiran Jakarta, 23 Desember 1969 ini mengaku, sejak SMP sudah mengenal pajak. Namun, Yasser tak tertarik untuk tahu lebih dalam terkait masalah-masalah pajak dan sejenisnya karena telanjur punya paradigma bahwa pajak itu membingungkan.

“Suka bingung sendiri. Selama ini saya minta bantuan teman yang paham soal pajak untuk bantu saya memahami prosedurnya,” ujar penulis buku Komunikasi Komedi Radio-Televisi-Film: Selebrasi Komedian Indonesia itu kepada Majalah Pajak akhir Juni lalu.

Jika dibuat pola yang lebih ringan, dengan bahasa yang lebih membumi—mungkin menggunakan humor—akan lebih membantu masyarakat luas memahami arti dan fungsi pajak.”

Karenanya, menurut Chief Creative Officer Institut Humor Indonesia Kini (Ihik3) ini DJP harus melakukan sosialisasi yang lebih membumi dan dengan cara-cara yang tidak biasa. Misalnya melalui humor. Sebagai informasi, Ihik3 adalah pusat kegiatan humor yang mengelola humor secara serius dan profesional berbasis pengalaman, ilmu pengetahuan, dan riset yang komprehensif. Lembaga ini didukung oleh literatur dari dalam maupun luar negeri dan ditangani para praktisi dan akademisi peminat humor.

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

“Karena seolah terkesan pajak itu bikin pusing dan banyak makan waktu sehingga banyak orang merasa agak ‘terganggu’ dengan hal itu. Jika dibuat pola yang lebih ringan dengan penayangan info terkait pajak dengan bahasa yang lebih membumi—mungkin menggunakan humor—akan lebih membantu masyarakat luas memahami arti dan fungsi pajak,” tutur Yasser.

Ungkapan lulusan S2 jurusan Komunikasi Hiburan di STIKOM Interstudi itu bukan tanpa alasan. Menurut Arthur Asa Berger—Profesor Emeritus di bidang Siaran dan Seni Komunikasi Elektronik San Francisco State University, humor tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi atau berbagi makna, tetapi juga untuk menciptakan sebuah hubungan antara penerima pesan dengan humor itu sendiri.

Yasser mengatakan, sejak tahun 2017 lalu, Ihik3 juga telah melakukan riset tentang humor generasi milenial. Ia yakin, humor bisa masuk ke ranah mana saja, disajikan dan dinikmati oleh siapa saja, termasuk untuk mengampanyekan inklusi kesadaran pajak.

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

TAX PEOPLE

Masa Muda, Masa Eksplorasi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Karin Novilda Selebgram, Influencer/Foto: Istimewa

Influencer dan kreator konten Karin Novilda atau Awkarin mengungkapkan banyak orang yang hanya fokus kepada Covid-19 saja, dan melupakan penyakit lain yang sama bahayanya, misalnya penyakit mental.

“Menurut aku penyakit mental ini adalah salah satu dampak juga dari Covid-19, karena orang yang tadinya setiap hari kerja keluar, bisa hangout keluar, namun kemudian dia harus di isolasi di rumah. Itu juga sangat memengaruhi mental kita,” ungkapnya dalam siniar (podcast) Rujak (Ruang Pajak) yang diadakan oleh Kantor Wilayah DJP Jakarta Timur, Selasa (28/09).

Ia berpendapat, jika ingin sehat dan bahagia, manusia harus menjaga dan menyeimbangkan dua hal, yaitu kesehatan fisik dan kesehatan mental.

Wanita berusia 23 tahun ini menekankan pentingnya anak muda untuk mempunyai konsep haus ilmu.

“Lu harus selalu ngerasa haus akan pengetahuan karena pengetahuan itu enggak ada limitnya. Dan, selagi masa produktif juga, di masa muda, kenapa enggak coba explore semuanya?” ujarnya.

Wanita dengan 7,1 juta pengikut di Instagram ini juga menjelaskan bahwa pajak merupakan kewajiban yang memang harus ditunaikan oleh setiap warga negara Indonesia.

“Fasilitas yang kita nikmati selama ini di Indonesia tanpa disadari sebenarnya merupakan bagian dari kita membayar pajak. Kadang orang suka komplain kenapa jalan kayak gini segala macam. Ya, mungkin lu belum bayar pajak kali,” jelasnya.

Menurut Awkarin, banyak generasi muda dan masyarakat yang masih takut dengan kata pajak, yang didasari oleh kurangnya pengetahuan dan edukasi tentang pajak di masyarakat.

Ia berharap generasi muda sekarang mau mengedepankan riset dan tidak apatis terhadap pajak. Dengan riset dan mencari tahu tentang pajak, mereka akan memiliki kesadaran bahwa pajak itu penting. Selanjutnya, mereka dapat turut mengedukasi orang lain agar ikut taat pajak.

“Anak muda zaman sekarang yang sukses harusnya melihat masyarakat middle to low. Mereka justru yang taat pajak. Apa enggak malu sama mereka yang pendapatannya tidak seperti kalian, tapi mereka taat pajak?” imbuhnya.

Lanjut baca

TAX PEOPLE

Awali dengan yang Sederhana

Diterbitkan

pada

Penulis:

Rizky Febian/Foto: Tri Wisnu Husdianto

Penyanyi sekaligus influencer Rizky Febian mengungkapkan, di saat pandemi seperti sekarang hampir semua bidang terkena dampak. Baik itu pekerja seni, pegawai kantoran dan maupun sektor lainnya. Menurutnya, yang menjadikan hal itu sulit adalah masih banyak masyarakat sulit beradaptasi dalam menghadapi pandemi tersebut.

“Jadi, harus putar otak bagaimana caranya untuk tetap bisa bertahan dan memikirkan kira-kira ada peluang apa di era pandemi seperti sekarang,” ungkapnya kepada Majalah Pajak melalui sambungan telepon, Senin (27/09).

Awal pandemi terjadi, Rizky mengaku sempat mengalami kesulitan. Terlebih saat itu ia baru mengeluarkan single terbaru dan ditakutkan tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi. Sampai akhirnya ia merilis lagu tentang pandemi berjudul “Melawan demi Dunia”, dan ternyata masyarakat merespons dengan baik.

Menurut pria kelahiran 25 Februari 1998 ini, tiap orang harus tetap kreatif dan tidak menganggap pandemi ini sebagai hambatan untuk taat pajak. Apalagi di era digital seperti sekarang, pelayanan pajak telah kian membaik dan sudah didukung dengan sistem daring.

“Dengan taat pajak, setidaknya kita men-support untuk kesejahteraan negeri kita. Sekarang, kan, juga dipermudah. Apa-apa lewat sistem on-line, pelayanan juga lebih ramah dan gampang. Jadi, menurut aku justru kalau ingin dianggap sebagai warga negara Indonesia yang baik, awali dari hal yang sederhana dulu, yaitu taat pajak,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pajak bukanlah hal untuk ditakuti, karena justru dari hasil pajaklah pemerintah melayani kepentingan masyarakat, seperti penyediaan vaksin Covid-19 dan pembangunan Indonesia ke depan.

Tak ingin lalai menunaikan kewajiban perpajakannya lantaran terhalang kesibukan, Rizky sampai meminta bantuan orang khusus. Ia ingin dapat menjalankan kewajiban perpajakannya secara tepat waktu.

Pria yang kerap dipanggil Iki ini berharap, manfaat pajak ke depannya dapat lebih dirasakan oleh sektor industri kreatif dengan cara menyediakan wadah khusus bagi seniman untuk berkreativitas.

“Sampai detik ini musisi hanya di jadikan sebagai hiburan saja. Aku berharap ke depannya musik bisa menjadi suatu hal yang patut diperhitungkan,” pungkasnya.

Lanjut baca

TAX PEOPLE

Terbantu Insentif dan Kolaborasi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pandemi Covid-19 sangat memukul seluruh sektor usaha, tak terkecuali usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aktor sekaligus pelaku UMKM Teuku Wisnu mengungkapkan, sektor yang paling besar terkena dampak pandemi adalah pariwisata, termasuk usaha oleh-oleh.

“Ketika pandemi, kan, ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB), sehingga enggak ada mobilisasi atau wisatawan ke Malang. Ini sangat memukul kami di bisnis oleh-oleh. Penurunan omzet bisa sampai 90 persen,” ungkapnya dalam webinar “Sosialisasi Pajak dan UMKM Pekan Raya Perpajakan 2021”, Rabu (14/07).

Melihat hal tersebut, ia bersama manajemen sempat ingin memutuskan untuk tidak produksi secara total dan menutup semua gerai. Namun, akhirnya ia memutuskan untuk tetap bertahan dengan hanya membuka dua dari delapan gerai yang biasa dibuka.

Suami Shireen Sungkar ini menjelaskan, untuk bertahan di masa pandemi ia antara lain berkolaborasi dengan pelaku usaha lain, mulai dari menjadi official store Arema Malang, hingga bergabung dalam event Virtual Run. Selain itu, untuk tetap dekat dengan pelanggan, ia juga membuat customer reward dan beberapa kejutan atau hadiah kecil. Bahkan, ia memberanikan diri membuka dua cabang baru untuk membangkitkan semangat pelaku usaha di industri pariwisata.

Aktor kelahiran Aceh ini sangat mengapresiasi pemerintah khususnya dalam pemberian insentif pajak bagi pelaku UMKM.

“Bagaimanapun juga pajak kalau misalnya di finance itu kita masukkan di cost sehingga bahasanya jadi beban yang harus kita bayar. Ketika insentif ini kita dapat di masa pandemi, benar-benar membantu terutama para pelaku UMKM,” jelasnya.

Menurutnya, membayar pajak bagi para pelaku usaha itu penting banget, karena salah satu pendapatan negara berasal dari pajak. “Dengan membayar pajak, berarti kita ikut membantu menyumbang negara untuk kemaslahatan masyarakat dan mengembangkan negara kita dengan sebaik mungkin,” ujarnya.

Ia melanjutkan, membayar pajak juga dapat memberikan poin positif bagi pelaku usaha atau WP. Membayar pajak akan menghindarkan WP dari masalah pajak di kemudian hari, serta meningkatkan legalitas, profesionalitas, dan kredibilitas usaha.

Di kesempatan itu, ia berharap peraturan perpajakan yang kompleks dapat disederhanakan dan diantarkan dengan sosialisasi yang optimal.

“Dibikin sesimpel mungkin agar yang lain juga bisa taat pajak. Selain itu, kalau bisa, tarif pajaknya jangan terlalu tinggi,” pungkasnya.

Lanjut baca

Populer