Connect with us

Tax Issues

KADIN Usulkan Pengungkapan Aset Sukarela

Diterbitkan

pada

Herman Juwono Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Perpajakan KADIN

Untuk meningkatkan kepatuhan dan penerimaan pajak, KADIN Indonesia menyarankan pemerintah memberlakukan program pengungkapan aset sukarela.

Rencana program pengampunan pajak atau tax amnesty (TA) Jilid II telah tertuang dalam Rancangan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (RUU KUP). Kendati belum dibahas secara spesifik, hal itu telah tertuang dalam pemaparan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada rapat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (20/5).

Dalam paparan itu, dikatakan pemerintah akan memberikan kesempatan kepada Wajib Pajak (WP) untuk kembali mengungkapkan kewajiban perpajakan yang belum terpenuhi.

Pemerintah mengusulkan dua skema dalam program yang jamak disebut TA Jilid II itu. Pertama, pembayaran pajak penghasilan (PPh) dengan tarif lebih tinggi dari tarif tertinggi pengampunan pajak atas pengungkapan harta yang tidak atau belum sepenuhnya diungkapkan dalam pengampunan pajak. Kedua, pembayaran PPh dengan tarif normal atas pengungkapan harta yang belum dilaporkan dalam surat pemberitahuan (SPT) tahunan orang pribadi tahun pajak 2019.

Kedua skema ini dilaksanakan tanpa pengenaan sanksi dan diberikan tarif yang lebih rendah apabila harta itu diinvestasikan dalam surat berharga negara (SBN).

Beberapa hari setelah paparan itu diserahkan ke Panitia Kerja (Panja) Penerimaan Komisi XI DPR, Sri Mulyani Indrawati sedikit mengulas tentang program TA yang diusulkan dapat diberlakukan pada 2022 itu. Ia mengatakan, pemerintah akan menggunakan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Kemudian, pemerintah juga menggunakan data hasil program automatic exchange of information (AEoI) 2018 untuk menindaklanjuti kepatuhan pajak.

“Dari sana, terhadap beberapa ribu Wajib Pajak kita akan follow-up dan kita pasti akan menggunakan pasal-pasal yang ada dalam tax amnesty,” kata Sri Mulyani saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (24/5).

Eks-Direktur Pelaksana Bank Dunia itu memastikan, usulan program TA 2022 akan berfokus pada peningkatan kepatuhan WP sekaligus menggenjot penerimaan pajak.

“Kita akan lebih berfokus ke bagaimana meningkatkan compliance tanpa menciptakan perasaan ketidakadilan yang akan terus kita jaga, baik dalam kerangka tax amnesty atau dari sisi compliance facility yang kita berikan, sehingga masyarakat punya pilihan agar mereka lebih comply,” tuturnya.

Kepada Majalah Pajak, Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Perpajakan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Herman Juwono mengatakan, KADIN Indonesia mendukung penuh upaya pemerintah memberi kesempatan bagi WP untuk memperbaiki kepatuhan sukarela melalui program yang serupa dengan amnesti pajak. KADIN Indonesia mengusulkan program pengungkapan aset sukarela (PAS) final.

“Berdasarkan instruksi ketua umum, KADIN Indonesia sangat mendukung tax amnesty. Tapi namanya bukan TA Jilid II,” jelas Herman, Jumat (11/6).

PAS final

KADIN Indonesia menilai, pengungkapan aset sukarela dengan tarif pajak penghasilan (PPh) final akan bisa lebih diterima masyarakat daripada TA jilid II. Hal ini sekaligus untuk menangkis isu tentang inkonsistensi pemerintah untuk menyelenggarakan TA kembali.

“Tetapi, memang benar, menurut saya nanti (TA) akan menciptakan situasi yang makin memperburuk ketidakpercayaan WP kepada DJP. Baru lima tahun ada TA. Kalau tidak begitu, sampai empat tahun ke depan akan shortfall. Cocok PAS final. Apalah arti sebuah nama, terpenting mendorong penerimaan,” kata Herman.

Herman mengusulkan, sebaiknya PAS final diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, pengungkapan aset WP hingga akhir 2015—yang belum dilaporkan pada saat TA 2016 lalu. Adapun jangka waktu periode yang digunakan saat TA lima tahun lalu, yaitu 1980–2015. Kedua, memberikan kesempatan bagi WP untuk mengungkapkan harta kekayaannya dari periode 2016 hingga 2020.

“Kami mendukung karena ini bisa jadi cara agar pemerintah dapat uang cepat. Tapi, dengan cara tersebut tidak merusak compliance sehingga masih memberikan asas keadilan bagi Wajib Pajak yang sudah ikut serta dalam tax amnesty 2016–2017 lalu,” kata Herman.

KADIN Indonesia juga menyarankan agar tarif program PAS final sebesar 10 persen. Menurut Herman, angka itu cukup untuk mengakomodasi kewajiban dan kepercayaan WP.

“Jadi, tidak serendah tax amnesty 2016 lalu yang hanya 5 persen dan tidak sebesar batas atas tarif PPh orang pribadi sebesar 30 persen. Selain itu, pemerintah juga harus menghapus denda administrasi sebesar 200 persen,” jelas Herman.

Jika PAS final diterapkan di tengah pandemi Covid-19, Herman memperkirakan, otoritas pajak mampu mengumpulkan penerimaan pajak sekitar Rp 100 triliun. Pada TA 2016, pemerintah mengumpulkan uang tebusan sebesar Rp 114,54 triliun, dengan deklarasi harta mencapai Rp 4.884,26 triliun, dan repatriasi Rp 146,70 triliun.

KADIN Indonesia juga memproyeksikan, program PAS final akan memiliki punya efek berganda, antara lain menggairahkan iklim investasi karena aturan dana repatriasi harus diinvestasikan di dalam negeri, memperluas basis pajak, dan sebagainya.

Selain itu, program PAS final akan menjadi solusi bagi pemerintah yang tengah berusaha mengembalikan defisit anggaran di bawah 3 persen pada 2023.

“Saat ini penerimaan pajak menurun drastis, padahal kebutuhan banyak. Anggaran PEN tahun ini saja hampir Rp 700 triliun,” tambahnya.

Memasuki kuartal II-2021 defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) kembali membengkak. Bahkan, defisit anggaran naik hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Kementerian Keuangan mencatat, realisasi defisit anggaran hingga akhir April 2021 sebesar Rp 138,1 triliun, setara dengan 0,83 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini naik 85,5 persen dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 74,4 triliun atau setara 0,48 persen dari PDB.

Posisi defisit itu diakibatkan oleh penerimaan negara yang tumbuh tipis 6,5 persen menjadi Rp 585 triliun. Hingga akhir April 2021, pajak yang terkumpul Rp 374,9 triliun atau minus 0,5 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara, belanja negara tumbuh hingga 15,9 persen menjadi Rp 723 triliun. Maka, maklum jika banyak yang memprediksi target penerimaan pajak 2021 Rp 1.229,58 triliun tidak akan tercapai.

Dengan mengusulkan program TA dan reformasi perpajakan lainnya, pemerintah menargetkan penerimaan pajak menembus Rp 1.823,5 triliun hingga Rp 1.895,9 triliun.

Tax Issues

Krisis dan Dimensi Politik Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Prianto Budi Saptono Praktisi Perpajakan

Pajak menjadi instrumen politik penting dalam menanggulangi dampak pandemi. Strategi kebijakan fiskal yang ekspansif diharapkan dapat membantu masyarakat keluar dari krisis berkepanjangan.

Pajak merupakan instrumen politik yang menentukan dalam membangun perekonomian dan menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan. Praktisi perpajakan sekaligus ilmuwan politik Universitas Indonesia, Prianto Budi Saptono mengemukakan, sistem perpajakan merupakan hasil dari banyak pilihan kebijakan di masa lalu. Menurutnya, ketentuan perundang-undangan perpajakan adalah hasil dari kebijakan politik yang diamanatkan langsung oleh Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 23A.

“Setiap kebijakan tentu telah melalui kompromi antarpihak yang berkepentingan baik pemerintah sebagai bagian dari aktor politik dan DPR sebagai perwakilan masyarakat selaku Wajib Pajak,” jelas Prianto kepada Majalah Pajak melalui surat elektronik, Senin (21/06).

Pendiri perusahaan Konsultan Pajak Pratama Indomitra ini menuturkan, pajak sebagai pungutan wajib yang bersifat memaksa dan legal menurut undang-undang merupakan cerminan dari apa yang diinginkan pemerintah untuk rakyatnya. Ia mengutip penjelasan Kiser dan Karceski dalam sebuah literatur yang melihat sistem perpajakan sebagai hasil dari kondisi struktural (terutama struktur ekonomi dan hubungan geopolitik), institusi politik, dan interaksi antara keduanya.

Prianto menjelaskan, secara praktik pelaksanaan kewajiban perpajakan juga tidak terlepas dari aturan main (rule of game) yang ada di dalam undang-undang (UU) perpajakan beserta peraturan pelaksanaannya. Sejak tahun 1983 sampai sekarang sistem perpajakan di Indonesia mengacu pada sistem self-assessment. Hal ini dinyatakan secara eksplisit di dalam UU Perpajakan, khususnya UU KUP, UU PPh, dan UU PPN.

UU KUP mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan beserta perubahannya. UU PPh mengacu pada UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan beserta perubahannya. UU PPN mengacu pada UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah beserta perubahannya. Perubahan terakhir dari ketiga UU tersebut mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

“Dengan pemberlakuan UU Perpajakan berdasarkan omnibus law, WP harus meluangkan waktu lebih banyak untuk memahami ketentuan yang semakin rumit. Karena itu, biaya kepatuhan berpotensi meningkat dan kepatuhan sukarela akan lebih sulit tercapai,” paparnya.

Kebijakan fiskal ekspansif

Prianto menyoroti strategi konsolidasi fiskal yang diambil pemerintah di dalam menanggulangi dampak pandemi agar tidak semakin memperburuk keadaan ekonomi. Selain itu, pembiayaan berkelanjutan secara global juga diupayakan untuk menjamin keberlangsungan keuangan akibat dari utang global yang meningkat. Sebagai bagian dari komunitas global, Indonesia menghadapi situasi pandemi dengan kebijakan perpajakan yang mampu meningkatkan penerimaan dengan memperluas basis pajak dan menaikkan tarif pajak.

Ia melihat pemerintah menerapkan praktik global terbaik dengan meminimalkan keterbatasan kapasitas administrasi perpajakan. Pemerintah menyadari adanya keterbatasan ketersediaan data karena terdapat aset Wajib Pajak (WP) peserta program Tax Amnesty Juli 2016–Maret 2017 yang belum diungkap. Selain itu, data informasi keuangan yang diterima oleh Indonesia dari skema Automatic Exchange of Information (AEOI) masih memerlukan proses data matching. Sedangkan kualitas data dari Kementerian dan Lembaga sesuai Pasal 35A ayat 2 UU KUP masih beragam.

Oleh sebab itu, imbuhnya, pemerintah telah mengusulkan RUU KUP 2021 yang isinya seperti omnibus law perpajakan. Meskipun RUU tersebut mengubah UU KUP, isinya juga akan mengamandemen UU PPh, UU PPN, dan UU Cukai. Di dalam RUU tersebut juga ada usulan pajak baru berupa Pajak Karbon yang dikenakan atas emisi karbondioksida. Selain RUU KUP 2021, pemerintah juga sudah menggelontorkan berbagai alternatif kebijakan agar kondisi ekonomi bisa segera pulih.

“Kebijakan pemerintah sebetulnya masih on the track. Langkah yang diterapkan di tengah pandemi dapat disebut sebagai kebijakan fiskal ekspansif,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menguraikan, kebijakan fiskal ekspansif akan mendorong perlonggaran defisit anggaran dan peningkatan belanja pemerintah, baik karena peristiwa yang tidak direncanakan (seperti pandemi Covid-19) maupun karena lesunya ekonomi akibat pandemi. Peningkatan belanja pemerintah dan penurunan pajak dibutuhkan untuk mendorong peningkatan permintaan. Bila permintaan meningkat, terjadilah multiplier effect berupa produksi meningkat, lapangan kerja meluas, dan ekonomi pulih.

“Dengan kebijakan fiskal ekspansif, perekonomian dapat tumbuh kembali dan mengumpulkan lebih banyak pajak. Dengan pajak tersebut, utang dapat dilunasi sehingga defisit anggaran dan utang tidak menghasilkan efek yang merugikan,” kata Prianto.

Kebijakan fiskal ekspansif memang menjadi jurus pilihan pemerintah untuk memulihkan perekonomian. Kelak, saat ekonomi kembali pulih, pemerintah dapat memungut pajak kembali secara normal. Namun, bila ekonomi tak kunjung pulih dengan kebijakan fiskal ekspansif, pemerintah harus mencari cara lain, bisa pengenaan pajak transaksi elektronik, peningkatan tarif PPN atau penerapan multitarif PPN, penambahan lapis tarif PPh orang pribadi, tax amnesty jilid 2, sunset policy dan juga pajak karbon.

Ia tak memungkiri Program PEN yang belum maksimal jika dilihat dari masih rendahnya realisasi penyerapan anggaran yang baru mencapai Rp183,89 triliun atau setara 26,3 persen dari total pagu Rp 699,43 triliun dana yang terserap sampai dengan 11 Mei 2021. Kendati demikian, Prianto menilai hal tersebut tidak lantas menunjukkan bahwa program PEN belum tepat sasaran.

“Pemerintah sayangnya kurang jelas dan kurang komprehensif mengomunikasikan latar belakang serta bentuk dari setiap upaya pemulihan ekonomi yang dipilih sejauh ini,” kata Prianto.

Ia memberi contoh berita di berbagai media tentang rencana pemungutan PPN atas barang kebutuhan pokok (sembako) yang menuai kritik banyak kalangan, dari akademisi, peneliti, politisi, asosiasi, pengamat ekonomi, pengamat perpajakan, sampai masyarakat umum. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) baru belakangan memberikan penjelasan dan klarifikasi setelah isu ramai.

Prianto mengingatkan pentingnya otoritas pajak mempertimbangkan rekonstruksi hubungan antara otoritas pajak dan WP yang berorientasi pada pemberian stimulus bagi WP dengan tetap mengontrol tingkat kepatuhan di masa pemulihan ekonomi saat ini.

“Apa pun kebijakan pajak baru yang digulirkan pemerintah di situasi krisis sebaiknya tidak sampai mengikis kepatuhan pajak. Data dari OECD tahun 2020 mengungkapkan ada kecenderungan penurunan budaya kepatuhan pajak ketika krisis terjadi,” paparnya.

 

Lanjut baca

Tax Issues

Pajak Karbon, Instrumen Industri Hijau

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pajak karbon dapat menjadi instrumen penurun emisi karbon, mendorong pelaku ekonomi untuk mengaplikasikan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Komitmen Indonesia dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) memerlukan dukungan kebijakan yang dapat berjalan seiring dengan upaya mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau. Salah satu kebijakan yang dapat mendorong pelaku ekonomi untuk melakukan transformasi bisnis dan menerapkan teknologi rendah emisi adalah pajak karbon.

Menurut Organisasi Kerja Sama Ekonomi Dunia (Organisation for Economic Cooperation and Development/OECD), Indonesia berada di peringkat keempat penghasil emisi karbon dioksida (CO2) terbesar di dunia. Dalam konferensi pers virtual Maret 2021 lalu, Sekretaris Jenderal OECD, Angle Gurria memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Indonesia untuk segera menetapkan tarif pajak tinggi terhadap industri yang menghasilkan emisi karbon.

Penerapan pajak karbon bertujuan untuk mencegah perubahan iklim dan menekan kerusakan hutan akibat berbagai praktik ilegal yang memicu terjadinya deforestasi seperti kebakaran hutan dan pembukaan lahan kelapa sawit. Pajak karbon juga diharapkan dapat mempercepat transisi penggunaan bahan bakar fosil ke energi terbarukan sehingga keanekaragaman hayati pun dapat lebih terjaga.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengemukakan, tren emisi karbon di Indonesia akan terus naik terutama dari sektor energi. Menurutnya, perlu ada upaya untuk menurunkan emisi dan mengubah tren emisi karbon. Ia mengakui penerapan instrumen kebijakan seperti pajak karbon memang lazim dipakai dan diharapkan dapat mendorong pelaku ekonomi untuk mengaplikasikan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Fabby mengungkapkan, hingga saat ini belum ada patokan harga karbon yang baku. Pada pertemuan High Level Commission on Carbon Prices di tahun 2017 lalu, paparnya, harga karbon sekitar 40–80 dollar AS per ton pada 2020 dan pada 2030 diperkirakan naik menjadi sekitar 50–100 dollar AS per ton. Menurutnya, Indonesia bisa mulai dengan kisaran harga ini dan dinaikkan dari waktu ke waktu sesuai dengan kondisi ekonomi dan pasar.

“Hambatan penerapan pajak karbon adalah pada kesiapan pelaku pasar domestik dan konsistensi kebijakannya. Indonesia masih lemah dalam hal pengawasan dan pemberian sanksi. Legislasinya perlu diperkuat, kalau perlu dalam bentuk undang-undang,” kata Fabby.

Regulasi perdagangan karbon

Data yang dirilis World Research Institute mengungkapkan, lebih dari setengah emisi gas rumah kaca global disumbang sepuluh negara di dunia dengan Tiongkok sebagai penyumbang emisi terbesar hingga awal 2018. Pemerintah terus berupaya menekan emisi karbon dengan target sesuai Perjanjian Paris 2015, yaitu 29 persen pada 2030 dengan upaya sendiri atau ditekan hingga 41 persen dengan bantuan internasional.

Salah satu upaya yang ditempuh pemerintah adalah uji coba perdagangan karbon di sektor energi. Saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sedang menyusun regulasi perdagangan karbon yang sudah dalam proses final untuk segera terbit dalam bentuk peraturan presiden.

Sebagai langkah awal, terdapat 80 unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang akan melakukan uji coba perdagangan karbon, meliputi 19 unit pembangkit berkapasitas lebih dari 400 megawatt (MW), 51 unit PLTU kapasitas 100- 400 MW, dan 10 unit PLTU mulut tambang dengan daya 100-400 MW.

Sebelumnya dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional pada Mei 2021, Presiden Joko Widodo menyampaikan komitmennya untuk memperkuat ekonomi hijau di Indonesia. Dan untuk memperkuat ekonomi hijau, maka transformasi menuju energi baru dan terbarukan harus dimulai.

Presiden mengingatkan, saat ini persaingan pasar global sudah bergeser dari produk konvensional ke produk energi hijau yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan teknologi dan industri pun mulai beralih ke green technology dan green industry. Untuk itu pemerintah telah merencanakan pembangunan kawasan industri hijau di Kalimantan Utara yang memanfaatkan energi bersih. Salah satu sumber energi bersihnya adalah dari pembangkit listrik tenaga air yang memanfaatkan arus Sungai Kayan.

“Kami ingin memanfaatkan hydro power yang ada di Sungai Kayan dan ini akan menghasilkan energi hijau, energi baru terbarukan, yang akan disalurkan ke kawasan industri hijau sehingga muncul produk-produk hijau dari sana,” ungkap Jokowi.

Ia menekankan pentingnya pengembangan energi hijau agar industri di dalam negeri semakin berdaya tahan. Selain itu, imbuhnya, negara bisa menciptakan ketahanan pangan dan energi melalui diversifikasi sumber energi.

Lanjut baca

Tax Issues

Pajak Warisan dan Isu Keadilan

Diterbitkan

pada

Penulis:

Fajry Akbar, Research Manager Center of Indonesia Taxation Analysis (CITA)

Penerapan pajak warisan memiliki sejumlah tantangan. Penerimaan negara bukan tujuan pajak ini.

Pemajakan atas harta warisan mulai mencuat kembali dan menjadi perhatian banyak pihak. Era transparansi perpajakan dan ketimpangan antargenerasi turut mendorong wacana pengenaan pajak atas warisan (inheritance tax).

Pajak warisan sudah diterapkan di berbagai negara. Berdasarkan laporan International Bureau of Fiscal Documentation (IBFD) Tax Research Platform, sebanyak 77 dari 203 negara yang disurvei sudah menerapkan pajak warisan. Penerapan pajak yang menjadi bagian dari pajak kekayaan ini paling banyak di benua Afrika (27 negara) dan Eropa (26 negara). Sedangkan di Asia Tenggara, baru Thailand, Vietnam, dan Filipina yang menerapkannya.

Kebanyakan yang menjadi objek adalah harta bersih yang digunakan setelah dikurangi kewajiban lainnya termasuk kewajiban perpajakan dan utang dari si pemilik harta. Sedangkan untuk beberapa objek dapat dikecualikan atas pajak warisan, seperti memiliki nilai historis atau aset yang digunakan untuk kepentingan publik.

Lalu bagaimana pajak warisan di Indonesia, apalagi sebagian kalangan beranggapan pemajakan atas warisan dapat menjadi salah satu sumber penerimaan pajak di masa depan. Research Manager Center of Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar mengungkapkan definisi pajak warisan sendiri adalah pajak atas harta, tapi dia terutang ketika ada kematian dari si pemilik dan terjadi pengalihan atau aset transfer ke ahli waris.

“Itulah maksud arti sebetulnya dari pajak warisan. Dia masih satu bagian dari pajak atas harta kekayaan,” ungkapnya saat dihubungi Majalah Pajak melalui sambungan telepon, Jumat (18/06).

Ia menambahkan, isu pajak warisan mulai muncul setelah ada program Amnesti Pajak, karena salah satu yang dilihat saat itu adalah besarnya jumlah harta yang dideklarasikan. Dari sanalah muncul ide pajak atas kekayaan, yang kemudian diikuti gagasan pajak atas warisan.

Akan tetapi, sampai sekarang isu tersebut tidak pernah terdengar lagi maupun dibahas secara tuntas sehingga pengenaan atas pajak warisan belum ada di tingkat pusat. Padahal, di negara-negara maju, pajak kekayaan (wealth tax) saat ini sedang diributkan dan didiskusikan. Terlebih, PBB sempat mengatakan wealth tax bisa menjadi salah satu solusi pascapandemi Covid-19.

“Jadi, setiap negara mengalami defisit APBN mereka masing-masing, dan pascapandemi ini mereka mau enggak mau harus memperbaiki defisit negara tersebut. Solusinya, ya, salah satunya adalah muncul wealth tax itu,” tambahnya.

Tantangan

Fajry melanjutkan, jika ingin menerapkan pajak warisan di Indonesia, terdapat tantangan utama yang harus dihadapi yaitu valuasi atas aset waris itu. Menurutnya, untuk aset lancar seperti kas, memang mudah dinilai. Namun, penilaian akan sulit dilakukan—memerlukan jasa penilai profesional—jika aset warisan itu berupa harta yang memerlukan keahlian dan data khusus khusus untuk menaksirnya. Misalnya, properti, benda seni, harta tak berwujud, dan sebagainya.

“Butuh penilai, butuh mengetahui harga pasar,” ujar Fajry. “Ada dua opsi—apakah kita menggunakan aset lancar dengan keunggulan mudah memvaluasi, atau digunakan definisi aset secara luas, tidak hanya aset lancar, tapi juga bentuk harta lainnya bahkan sampai pada harta tak berwujud,” ujarnya.

Oleh karena itu, Fajry menyarankan alangkah baiknya menggunakan definisi aset secara luas karena jika didefinisikan hanya berbentuk aset lancar, WP akan mendistorsi pilihan penggunaan asetnya. “Kalau dikenakan secara luas, tidak akan terjadi distorsi penggunaan aset dari si WP tersebut,” jelasnya.

Tantangan lain terkait pajak warisan adalah isu pengenaan pajak berganda karena sebagian warisan akan terkait dengan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang masuk ke pajak daerah. Artinya, jika pemerintah pusat membidiknya sebagai objek—demikian pula dengan pemerintah daerah—akan timbullah risiko pengenaan pajak berganda.

“BPHTB waris sebetulnya merupakan boleh dibilang seperti atau seharusnya dia masuk ke dalam kategori pajak warisan. Cuma memang yang menjadi masalah selama ini adalah tidak optimal. Saya bisa bilang tidak optimal karena selama ini kenyataannya daerah-daerah ini masih sangat bergantung dari pajak pusat,” tuturnya.

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) melaporkan, inheritance tax dan estate tax, hanya berkontribusi 0,5 persen dari total penerimaan pajak—tergolong masih sangat kecil. Sebab, tujuan awal pajak ini memang bukan sekadar penerimaan, melainkan untuk memenuhi rasa keadilan.

“Karena kita tahu sendiri enggak cuma di Indonesia, di banyak negara pun aset itu sangat terkonsentrasi sekali di segelintir orang. Dari sinilah kita omong pajak atas warisan tersebut,” pungkasnya.

Lanjut baca

Populer