Connect with us

Up Close

JEMPUT MIMPI DI WAKTU MUDA

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto : Majalah Pajak

Sukses merintis bisnis sejak masih usia belia, kini lewat HIPMI ia ingin mencetak pengusaha-pengusaha muda yang andal dan menjadi agen perubahan.

Orang sukses di masa tua sudah banyak. Namun, sukses sejak muda masih bisa dihitung jari. Kira-kira hal itulah yang mendorong Mardani H Maming rela bekerja keras sejak usianya masih belia. Ketika kebanyakan anak kuliahan seusianya memilih menghabiskan waktu mereka untuk kongko bersama teman-temannya di sela-sela waktu kuliah, pria kelahiran Batulicin, 17 September 1981 ini lebih memilih menenggelamkan dirinya menekuni dunia usaha. Ia memang boleh dibilang banyak kehilangan waktu bermainnya pada saat usia belia. Namun, pengorbanan besar itu telah mengantarkannya sebagai sosok mapan dengan karier dan prestasi yang sangat cemerlang.

“Saya memang kehilangan waktu bermain saya, tetapi saya tidak menyesalinya. Anak muda lain lagi menikmati masa-masa bermain mereka, saya sibuk dengan bisnis, dunia usaha saya. Saya tidak menikmati masa kuliah seperti anak muda pada umumnya, hanya bekerja dan bekerja,” tutur Mardani kepada Majalah Pajak di kantor PT. Batulicin 69, Gedung Tresury, Jakarta Selatan, Senin (17/02).

Mengenakan kaos oblong putih berpadu celana jins panjang, dan sepatu slip on hitam, Mardani berbagi kisah perjalanan hidupnya sejak menekuni dunia usaha hingga kariernya di dunia politik. Kini, pemilik sekaligus CEO PT Batulicin 69 dan PT Maming 69, perusahaan holding yang membawahi 35 anak perusahaan yang bergerak di bisnis pertambangan mineral, penyewaan alat berat, dan properti ini juga menjabat sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2019-2022.

Selain menjadi pengusaha tambang yang sukses, Mardani tercatat memiliki karier politik yang sangat membanggakan. Karier politik Mardani mulai mencuat saat ia menjadi anggota DPRD kabupaten Tanah Bumbu dari fraksi PDIP pada 2009. Setahun menjadi anggota legislatif, pada 2010 ia mencalonkan diri sebagai bupati Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan untuk 2010–2015. Kala itu usianya baru mencapai 28 tahun. Saat terpilih, ia pun dinobatkan sebagai bupati termuda di Indonesia oleh Museum Rekor Indonesia (Muri).

Saat menjabat bupati, Mardani berhasil membawa Kabupaten Tanah Bumbu menjadi salah satu daerah termaju di Kalimantan Selatan. Ia dinilai berhasil meningkatkan pembangunan infrastruktur, sumber daya manusia melalui pendidikan, dan pembangunan ekonomi, serta memperbaiki tata kelola pemerintahan di Kabupaten Tanah Bumbu. Atas prestasi itu, pada 2013 ia memperoleh penghargaan Innovative Government Award dari Kementerian Dalam Negeri. Berbagai prestasi itu mengantarkan Mardani terpilih kembali sebagai bupati pada untuk periode 2016-2021. Setahun kemudian ia mendapat penghargaan sebagai Leader Award 2017 dari Kementerian Dalam Negeri. Namun, pada 2018, ia memilih mengundurkan diri dengan hormat saat memasuki tahun kedua kepemimpinannya untuk visi ke depan yang lebih besar.

Doktrin sang ayah

Darah kepemimpinan dan jiwa wirausaha Mardani rupanya menurun dari sosok sang ayah, almarhum H Maming yang semasa hidupnya menjabat sebagai kepala desa sekaligus seorang pengusaha batubara. Mardani mengenyam pendidikan dasar dan menengah di tanah kelahirannya Batulicin. Memasuki SMA, ia hijrah ke Jawa Timur dan melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Karang Rejo Tulung Agung, Jawa Timur.

“Dari dulu sudah didoktrin oleh bapak saya, enggak boleh jadi pegawai. Pokoknya harus jadi pengusaha. Nah, karena dari kecil saya sekolah di Jawa, melihat orang Jawa kerja, pulang kampung jadi pintar sendiri ‘kan? Karena di Jawa banyak orang sudah mengerjakan, di Kalimantan orang belum ada yang mengerjakan,” tutur pria yang tahun 2013 lalu dinobatkan sebagai Tokoh Muda Berprestasi oleh surat kabar Jawa Pos ini.

Usai tamat SMA, Mardani kembali ke Kalimantan Selatan dan melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (Unlam). Tamat S1, ia kembali ke Jawa untuk melanjutkan S2 Program Studi Magister Kajian Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional (Wasantanas) di Universitas Brawijaya, kemudian mengambil Program Doktor (S3) Ilmu Sosial di Universitas Airlangga Surabaya.

Doktrin lain dari orangtua yang membuat Mardani meraih kesuksesan karier adalah kejujuran, komitmen, dan yang paling penting, fokus dalam mengerjakan sesuatu.

“Dalam berbisnis beliau (ayah) mengajarkan, harus fokus, punya target, habis itu menyempurnakan bisnis dari hilir sampai hulu. Kalau dilihat dari sekolah, kan, saya tidak nyambung dengan pekerjaan saya yang utama, bisnis tambang. Tapi dari dulu saya kerja tambang, dari tahun 2000 sampai sekarang. Jadi 20 tahun kerjanya tambang saja, enggak mau ke lain-lain,” kata bapak dua anak penyuka olah raga off road ini. Mardani menilai, banyak anak muda yang gagal membangun bisnis karena kurang fokus terhadap bidang usaha mereka. “Anak muda itu biasanya jatuhnya di situ. Enggak fokus dengan apa yang ia kerjakan. Baru berhasil satu, sudah mau mencoba yang lain,” lanjutnya.

Selain fokus, menurut Mardani, membangun bisnis harus bisa menyasar mulai dari hilir hingga hulunya. Di bidang tambang batubara yang ia tekuni, misalnya, Mardani tak hanya bergerak pada proses penambangan saja, tetapi merambah bisnis lain yang beririsan dengan tambang.

“Bisnis tambang yang sempurna itu seperti apa? Kalau batubara, misalnya, ada tambangnya, ada IUP (izin usaha pertambangan)-nya, ada alat beratnya, ada jalannya, ada pelabuhannya, ada stockpile-nya, ada tongkangnya, ada vessel-nya, ada PLTU-nya. Inilah rangkaian bisnis tambang yang sempurna dari hilir sampai hulu,” terang Mardani.

Dengan merambah sisi hilir hingga hulu, masing-masing lini bisnis yang saling terkait itu akhirnya bisa saling menopang satu sama lain sehingga jika salah satu lini sedang lesu, lini yang lain bisa menutupinya.

Anak muda di semua lini

Mardani menilai, saat ini anak muda harus menjadi agen perubahan untuk kemajuan bangsa. Apalagi kini Indonesia mulai memasuki bonus demografi, yakni kondisi jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding penduduk berusia tidak produktif. Karena itu, Indonesia harus menyiapkan sumber daya manusia andal untuk menghadapi bonus demografi itu.

Mardani mengaku, salah satu alasan ia mencalonkan diri sebagai ketua umum BPP HIPMI, tak lain ingin mengajak anak-anak muda untuk menyatukan pikiran, bahwa anak muda adalah penerus tongkat estafet dari generasi sebelumnya dan harus bisa hadir di semua lini.

“Sudah saatnya anak muda harus bisa hadir di semua lini. Menjadi eksekutif, hadir di legislatif, menjadi pengusaha, di bidang olahraga, dan banyak bidang lainnya. Karena kalau mau mengubah bangsa dan negara ini tidak lepas dari perubahan atau semangat anak muda,” ujar Mardani.

Untuk mewujudkan itu, Mardani mengaku telah mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo agar pemerintah berani menempatkan anak muda sebagai pimpinan BUMN sebagai upaya regenerasi kepemimpinan. Regenerasi itu dibutuhkan agar BUMN semakin adaptif dan mampu memimpin perubahan.

“Saya minta kepada Pak Presiden agar masa transisi, misalnya BUMN dari 142 perusahaan BUMN, sepuluh persen di antaranya anak muda,” kata Mardani. “Masa orang tua semua yang jadi komisaris, direktur, sehingga nanti kalau era bonus demografi itu tiba kita tidak mempunyai anak muda yang andal yang punya kapasitas luar biasa karena tidak dilatih sejak dia muda sama seniornya.”

Mardani yakin, jika sejak saat ini dipersiapkan masa transisi itu maka lima hingga sepuluh tahun ke depan akan banyak anak muda yang hebat karena sudah dipersiapkan oleh senior mereka sejak awal. Namun, sebaliknya, jika tidak dilatih dari sekarang, bonus demografi justru akan menjadi bencana demografi. Untuk itu, Mardani berjanji akan memperjuangkan regulasi yang berpihak kepada anak muda, terutama dalam menciptakan kesempatan mereka untuk berani menjadi pengusaha.- Waluyo Hanjarwadi

Up Close

Yang Dapat Fasilitas, Wajib Bermitra dengan Pengusaha Lokal

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Kementerian Investasi menjadi “local focus point” yang mengurusi investasi dari dalam dan luar negeri, di tingkat pusat dan daerah, termasuk menghidupkan UMKM.

Lahirnya Kementerian Investasi (Keminves) yang disahkan pada April lalu menjadi angin segar bagi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam meracik strategi mengakselerasi investasi di Indonesia. Jika selama ini BKPM hanya sebatas mengeksekusi kebijakan di bidang investasi, dengan menjelma kementerian kini BKPM memiliki kewenangan untuk membuat aturan atau menentukan skema regulasi untuk mewujudkan investasi. Di samping itu, juga dapat menyelaraskan atau mengolaborasikan berbagai proyek investasi di kementerian teknis terkait.

Bahlil mengatakan, Keminves akan menjadi local focus point yang mengurus investasi, tidak hanya investasi dari luar negeri tapi juga dalam negeri. Tak kalah penting juga mengurus alur dan strategi pengembangan investasi yang ada di daerah yang selama ini kurang mendapat porsi dari pusat. Singkatnya, Keminves memiliki fungsi perumusan dan penetapan kebijakan di bidang investasi, koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang investasi, serta eksekusi dalam peningkatan realisasi investasi di Indonesia.

Sebulan setelah pembentukan Keminves, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2021 tentang Satuan Tugas Percepatan Investasi yang ditetapkan pada tanggal 4 Mei 2021. Satgas ini pun diketuai oleh Menteri Investasi Bahlil Lahadalia.

Satgas Investasi memiliki sejumlah tugas. Pertama, memastikan realisasi investasi setiap pelaku usaha penanaman modal dalam negeri maupun penanaman modal asing yang berminat dan atau yang telah mendapatkan perizinan berusaha. Kedua, menyelesaikan secara cepat permasalahan dan hambatan (debottlenecking) untuk sektor-sektor usaha yang terkendala perizinan berusaha dalam rangka investasi.

Ketiga, mendorong percepatan usaha bagi sektor-sektor yang memiliki karakteristik cepat menghasilkan devisa, menghasilkan lapangan pekerjaan, dan pengembangan ekonomi regional atau lokal. Keempat, mempercepat pelaksanaan kerja sama antara investor dengan usaha mikro, kecil, dan menengah. Kelima, memberikan rekomendasi penindakan administratif kepada pimpinan kementerian/lembaga/otoritas dan pemerintah daerah, baik tingkat provinsi, kabupaten atau kota terhadap pejabat atau pegawai yang menghambat pelaksanaan investasi maupun yang dapat menambah biaya berinvestasi di Indonesia.

Selanjutnya, Satgas Investasi memiliki kewenangan menetapkan keputusan terkait realisasi investasi yang harus segera ditindaklanjuti kementerian/lembaga/otoritas/pemerintah daerah; dan melakukan koordinasi terkait realisasi investasi dengan kementerian/lembaga/otoritas/pemerintah daerah.

Setelah dilantik menjadi Menteri Investasi sekaligus Ketua Satgas Investasi, Bahlil diberi tugas oleh Presiden Joko Widodo untuk merumuskan strategi menarik investasi sekaligus memetakan permasalahan yang ada, termasuk di 15 kawasan ekonomi khusus (KEK) yang menjadi prioritas. Lantas, bagaimana langkah Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dalam mengimplementasikan berbagai tugas yang dipikul itu agar target investasi Rp 900 triliun tahun ini bisa terealisasi?

 

Berikut petikannya.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) kini resmi mengalami perubahan nomenklatur menjadi Kementerian Investasi. Selain nomenklatur, apa saja yang berubah dari sisi tupoksi sebagai Kementerian Investasi?

Setelah menjadi kementerian, terdapat penambahan kewenangan bagi Kementerian Investasi/BKPM yaitu fungsi perumusan dan penetapan kebijakan, sehingga kini Kementerian Investasi/BKPM memiliki fungsi perumusan dan penetapan kebijakan di bidang investasi, koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang investasi, serta eksekusi dalam peningkatan realisasi investasi di Indonesia.

Jadi, perbedaan tugas pokok dan fungsi Kementerian Investasi dengan BKPM utamanya, terletak pada wewenang dalam membuat kebijakan atau ketentuan terkait penanaman modal.

Selama ini BKPM mengeksekusi regulasi, kami mengeksekusi Permen (Peraturan Menteri), kemudian Undang-Undang maupun PP (Peraturan Pemerintah). Kami tidak bisa membuat regulasi, untuk membuat aturan, model permainan untuk investasi, tapi dengan Kementerian Investasi itu bisa. Di samping itu, dengan berubahnya BKPM menjadi Kementerian Investasi, kami dapat menyelaraskan atau mengolaborasikan berbagai proyek investasi di kementerian teknis.

Kementerian Investasi akan menjadi local focus point yang mengurus investasi tidak hanya dari luar negeri tapi juga dalam negeri, serta mengurus investasi yang ada di pemerintah pusat juga daerah.

Bagaimana kami kolaborasikan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang baik karena harus diakui visi besar presiden transformasi ekonomi tujuan hilirisasi meningkatkan nilai tambah.

Kementerian Investasi menjadi key point untuk menghubungkan/menyinergikan investasi PMA maupun PMDN, baik level pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar menjadi satu pintu. Upaya apa saja yang akan dilakukan untuk mencapai itu?

Dengan diundangkannya UU Cipta Kerja tahun 2020 dan peraturan pelaksanaannya, antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021, pelayanan perizinan berusaha baik untuk pemerintah pusat maupun pemerintah daerah wajib dilakukan melalui Sistem Online Single Submission (Sistem OSS) berbasis risiko.

Selain itu, PP No 5 Tahun 2021 dan PP Nomor 6 Tahun 2021 juga mengatur mengenai Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) mengenai perizinan berusaha yang menjadi acuan tunggal bagi pemerintah pusat dan daerah.

Problem investor selama ini antara lain terkait infrastruktur, tumpang tindih perizinan, pembebasan lahan, dan kebijakan sektoral. Apa saja yang dilakukan Kementerian Investasi untuk mengatasi berbagai problem itu khususnya untuk pembangunan di Kawasan Industri Terpadu (KIT) dan seperti apa progresnya saat ini?

Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, dari total area seluas 4.300 hektare, tahap 1 seluas 450 hektare sudah habis terjual dan bulan lalu sudah dilakukan groundbreaking KCC Glass yang akan membangun pabrik kaca terbesar di Asia Tenggara.

Di KIT Batang, investor mendapatkan fasilitas berupa pelayanan perizinan serta insentif sehingga investor cukup membawa modal dan teknologi.

Selain itu, harga tanah yang terjangkau serta kemudahan akses dan infrastruktur menjadi daya tarik bagi investor untuk berinvestasi di KIT Batang.

Tahun ini target investasi yang masuk diharapkan mencapai Rp 856 triliun. Data terakhir semester I realisasi mencapai Rp 219,7 triliun atau tumbuh 4,3 persen dari tahun lalu. Hingga bulan ini seperti apa realisasinya?

Saat ini Kementerian Investasi/BKPM masih mengumpulkan laporan perkembangan realisasi investasi untuk periode Triwulan II tahun 2021 dan akan mengumumkan laporannya pada bulan Juli. Namun, kami optimistis bahwa target tersebut akan tercapai, bahkan mencapai target Rp 900 triliun seperti yang diminta oleh Presiden Jokowi.

Dari target itu, sektor apa saja fokus area investasi yang dibuka oleh Kementerian Investasi baik PMA maupun PMDN?

Kementerian Investasi memiliki beberapa sektor yang menjadi prioritas untuk ditarik investasinya, antara lain industri farmasi dan alat kesehatan; industri kendaraan bermotor; energi baru dan terbarukan; infrastruktur; dan industri hilirisasi sumber daya alam.

Anda kerap terjun langsung ke lapangan untuk memetakan permasalahan investasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), permasalahan apa saja yang ditemukan dan apa strategi Anda untuk memastikan investasi KEK berjalan lancar?

Kementerian Investasi/BKPM terus berupaya mendorong investasi melalui sektor-sektor prioritas yang memiliki nilai tambah dan hilirisasi industri, salah satunya melalui pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK).

Permasalahan yang sering ditemui dalam pembangunan kawasan adalah permasalahan lahan. Lahan yang ditetapkan baru dikuasai sebagian kecil atau harga lahan yang ditawarkan kepada investor tinggi sehingga tidak menarik. Selain itu, infrastruktur pendukung yang belum siap juga memengaruhi minat investor untuk masuk ke kawasan tersebut.

Di Palu, misalnya, saya diskusi dengan para tenant KEK Palu untuk memetakan permasalahan yang dihadapi. Dalam diskusi juga diformulasikan kebijakan untuk mempercepat masuknya tenant ke KEK Palu. Para pengusaha menyampaikan beberapa kendala yang dihadapi selama berinvestasi di KEK Palu, seperti kendala pembebasan lahan dan ketersediaan bahan baku (raw material) yang tidak mencukupi untuk proses produksi.

Kami merumuskan berbagai formulasi strategi kebijakan yang dibutuhkan sehingga tenant di KEK Palu dapat segera merealisasikan investasinya, dengan syarat investor tersebut berkomitmen untuk berkolaborasi dengan pengusaha daerah pada proses bisnis ataupun pembangunannya.

Rata-rata kawasan industri di daerah kurang berkembang, karena kurangnya intervensi pemerintah pusat dan apalagi dananya dari daerah.

Kami juga melakukan kunjungan kerja ke KEK Bitung, Sulawesi Utara dan siap membawa masuk calon investor di bidang hilirisasi perikanan. Kita sudah dapat calon investor, terutama di bidang hilirisasi perikanan. Makanya saya datang untuk mengecek, tapi kepastiannya akan bagaimana setelah kami kembali ke Jakarta untuk memformulasikannya.

Kedatangan saya ke KEK Bitung sebagai tindak lanjut atas arahan langsung dari Presiden Joko Widodo untuk melihat permasalahan dan hambatan yang dialami KEK Bitung. Beberapa kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pengembangan KEK Bitung ini di antaranya adalah pengusahaan lahan, juga belum optimalnya fungsi pelabuhan Bitung dan infrastruktur penunjang lainnya di sekitar kawasan.

Dari hasil yang kami tinjau, permasalahan tanah sudah akan selesai dan terkait konektivitas pelabuhan dan jalan tol sudah bagus. Saya akan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk mempercepat proses pengembangannya.

Presiden Jokowi menginginkan Indonesia bukan hanya ramah investasi yang bisa menciptakan lapangan kerja, tapi juga investasi ramah lingkungan. Bagaimana Kementerian Investasi menerjemahkan keinginan Presiden?

Kementerian Investasi/BKPM sangat mendorong investasi yang ramah lingkungan. Contohnya adalah pembangunan PLTS terapung di Cirata oleh Masdar, investor dari UAE. Selain itu, hilirisasi nikel menjadi baterai untuk kendaraan bermotor listrik juga mendorong penggunaan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.

Anda juga ingin mengolaborasikan pengusaha-pengusaha besar dengan UMKM, baik yang ada di daerah maupun nasional untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Seperti apa skema yang dibuat agar kolaborasi itu terwujud?

Kementerian Investasi/BKPM selalu mendorong investor untuk bermitra dengan UMKM maupun pengusaha nasional yang ada di daerah, sehingga pemerataan investasi benar-benar terjadi dengan menciptakan pengusaha-pengusaha besar baru di daerah. Harus kita sinergikan pengusaha-pengusaha besar dengan UMKM, pengusaha besar dengan pengusaha yang ada di daerah dan pengusaha nasional. Kolaborasi inilah yang bisa kita jadikan instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kita meningkat juga bisa berjalan.

Kami memulai dari investor yang mendapatkan insentif wajib bermitra dengan pengusaha lokal yang ada daerah. Selain itu, satgas percepatan investasi yang baru saja dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2021 tentang Satuan Tugas Percepatan Investasi juga salah satu tugasnya adalah memastikan kemitraan antara UMKM dan investasi besar.

Adanya Keppres Nomor 11 Tahun 2021 tersebut, pemerintah akan mempercepat proses kolaborasi antara pengusaha besar dengan UMKM di daerah. Jadi akan mendorong pemerataan kesejahteraan. Diharapkan akan tumbuh pengusaha-pengusaha di setiap daerah. Tidak melulu yang kaya itu-itu saja.

Satgas Investasi dibentuk juga untuk melakukan pengawalan end to end dan penyelesaian hambatan pelaksanaan berusaha. Dengan demikian akan meningkatkan investasi dan kemudahan berusaha dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja.

Kementerian Investasi akan bekerja sama dengan pihak Kejaksaan dan Polri untuk melaksanakan amanat yang besar dari Bapak Presiden. Kami siap menjalankan dengan komitmen penuh, mengeksekusi dengan baik agar hambatan bisa diselesaikan dan realisasi investasinya terjadi.

 

Adakah investasi yang secara spesifik diarahkan untuk dapat menggiatkan bisnis UMKM kita?

Investor yang mendapatkan fasilitas fiskal (tax holiday, tax allowance, dan fasilitas pembebasan bea masuk bagi impor mesin/bahan baku) diwajibkan untuk bermitra dengan pengusaha lokal (UMKM dan pengusaha nasional) yang ada di daerah tempat investasi tersebut. Investor wajib menandatangani surat pernyataan yang akan ditindaklanjuti dengan kontrak dengan para pengusaha di daerah. Ini sejalan dengan tujuan investasi yaitu menciptakan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja sehingga masyarakat sekitar dapat merasakan manfaat masuknya investasi ke daerahnya.

Terhadap investasi di level kabupaten/pemda (regional) di seluruh Indonesia, yang kadang berjalan tapi tidak sesuai dengan harapan pemerintah pusat yang berpikir untuk kepentingan nasional, apa kewenangan/otoritas kementerian Anda? Apa Langkah/sanksi/kebijakan yang akan Anda tempuh untuk menyinergikan agenda investasi pusat-daerah?

Kementerian Investasi/BKPM memiliki hubungan yang baik dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi dan Kabupaten/kota di seluruh Indonesia dan melakukan sinergi dalam fasilitasi investasi yang ada di daerah bersama dengan DPMPTSP. Terkait dengan kinerja pelayanan investasi baik di pusat maupun di daerah, Kementerian Investasi/BKPM bersama dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri menyelenggarakan kegiatan penilaian kinerja PTSP dan percepatan pelaksanaan berusaha (PPB) bagi pemerintah daerah dan PPB bagi Kementerian/Lembaga. Kegiatan penilaian ini juga melibatkan organisasi pengusaha, HIPMI. Hal ini merupakan amanah dari Perpres 42 Tahun 2020 tentang Pemberian Penghargaan dan/atau Pengenaan Sanksi kepada Kementerian Negara/Lembaga dan Pemerintah Daerah.

Bagaimana Kementerian Investasi bersinergi dengan Kemenkeu, terutama untuk menarik investasi di tengah upaya pemerintah menggenjot penerimaan perpajakan untuk kemandirian APBN?

Kementerian Investasi/BKPM dan Kementerian Keuangan melakukan kerja sama dalam rangka optimalisasi penerimaan negara dan peningkatan realisasi investasi. Kementerian Investasi/BKPM meningkatkan target realisasi investasi untuk tahun 2021 dan 2022, sehingga aktivitas ekonomi akan berjalan yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan negara dari perpajakan.

Selain itu, kami juga akan berhati-hati dalam memberikan fasilitas fiskal baik dalam bentuk tax holiday, tax allowance, maupun fasilitas pembebasan bea masuk bagi impor mesin/bahan baku.

Lanjut baca

Up Close

Transit Karier Anak Terminal

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Kawan-kawannya pernah menyebutnya gila”. Sejak kecil ia terbiasa bekerja keras. Ia pantang menyerah dan berani ambil risiko atas keputusannya.

Lengking klakson bersahut-sahutan, deru mesin angkutan umum berebut penumpang, atau bisingnya suara pedagang asongan menjajakan dagangan di terminal adalah pemandangan yang biasa bagi Bahlil Lahadalia. Namun, itu kisah puluhan tahun lalu. Cerita masa lampau, sebelum ia menjelma menjadi sosok pengusaha sukses yang kemudian menjadi orang nomor satu di Kementerian Investasi Republik Indonesia.

Bahlil tumbuh dan besar di lingkungan kehidupan yang penuh tantangan. Mendengar kisahnya, ingatan serasa dibawa kembali ke era 90-an, ketika mendiang Franky Sahilatua memopulerkan lagu “Terminal” ciptaan Iwan Fals.

Hangatnya matahari/Membakar tapak kaki/Siang itu di sebuah terminal/Yang tak rapi/Wajah pejalan kaki/Kusut mengutuk hari/Jari-jari kekar kondektur/Genit goda daki/Bocah kurus tak berbaju/Yang tak kenal bapaknya/Tajam matamu/Liar mencari mangsa….”

Bahlil pernah menjadi bagian dari kisah dalam lagu itu. Bedanya, ia bukan tak mengenal bapaknya seperti diceritakan lirik lagu itu. Ia justru sangat mengenal dan dekat dengan bapak-ibunya. Sang bapak adalah kuli bangunan dengan penghasilan pas-pasan, sementara ibunda bekerja sebagai buruh binatu.

Bahlil kecil yang ingin membantu beban ekonomi keluarganya, sejak belia sudah belajar berjualan kue di lingkungan sekolahnya. Ia memulai pendidikan dasarnya di SD Negeri 1 Seram Timur, Maluku. Dari hasil berjualan itulah ia bisa membeli peralatan sekolah bahkan bisa menyisihkan untuk membeli kelereng, mainan “mewah” kesukaannya.

“Sejak SD saya itu memang sudah jualan kue. Itu terjadi bukan karena ingin—saya juga dulu enggak ingin jadi pengusaha—tapi karena keterpaksaan. Karena memang keluarga saya itu, mamah saya itu, kan, laundry di rumah orang. Bapak saya itu buruh bangunan,” Bahlil mengisahkan.

Lulus SD, ia melanjutkan SMP Negeri di Seram Timur. Ia sekolah sembari bekerja sebagai kondektur angkutan umum, dan sesekali berjualan ikan di pasar.

“Saya SMP pun, karena memang kondisi orang tua susah. Akhirnya, saya pernah jadi kondektur angkot, jualan ikan di pasar. Pernah jadi helper excavator dari kontraktor. Pernah tinggal di hutan pada saat musim libur sekolah.”

Bahlil lahir di Banda, Maluku Tengah pada 7 Agustus 1976, tetapi sebagian masa remajanya akhirnya ia habiskan di tanah Papua. Setelah lulus SMP, ia ikut hijrah kedua orangtuanya ke Fakfak, Papua. Di sana ia melanjutkan sekolah di SMEA Yapis Fakfak. Di bangku SMEA, anak kedua dari delapan bersaudara ini juga pernah menjadi sopir angkot paruh waktu. Lagi-lagi, hasil kerjanya pun ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya.

Meski sebagai keluarga kurang mampu, semangat Bahlil untuk belajar tak pernah surut. Saat menempuh pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay, Jayapura, pun semua biaya ia cukupi sendiri. Bahlil tinggal di barak asrama. Orangtuanya awalnya bahkan tidak tahu jika ia melanjutkan kuliah. Untuk mencukupi kuliah, ia menjadi pendorong gerobak di pasar sembari menjadi penjual koran. Sebab, tak mungkin mengharapkan kiriman logistik dari orangtua seperti mahasiswa pada umumnya. Bahlil hanya belanja ketika mendapatkan uang. Makan pun ia usahakan seirit mungkin.

“Saya makannya setengah nasi, setengah bubur supaya dapat banyak. Kalau beras sudah habis, saya sarapan pagi pakai buah mangga muda yang jatuh di samping asrama. Karena itu di semester enam, saya busung lapar. Jadi, penderitaan yang paling menderita itu saya rasain. Pada saat saya sakit itulah saya bertekad harus berhenti menjadi miskin—dan cara satu-satunya adalah dengan jadi pengusaha,” tutur Bahlil.

Kerasnya kehidupan akhirnya menempa Bahlil menjadi “petarung” tangguh yang enggan menyerah dengan sulitnya kehidupan. Di kampus itulah, melalui berbagai organisasi mahasiswa yang ia ikuti, leadership dan mindset kewirausahaan Bahlil terbentuk. Sambil merampungkan kuliah, ia sepat menjadi karyawan kontrak Sucofindo. Selama satu tahun bekerja, saat itu ia bisa memberikan profit kepada perusahaan. Kala itu senilai Rp 10 miliar lebih. Ide-ide Bahlil pun terbilang out of the box.

Terdorong keinginannya menjadi pengusaha, Bahlil pun nekat keluar dari perusahaan, meskipun gajinya saat itu cukup untuk hidup yang lebih baik. Demi mimpinya yang lebih besar, ia lepaskan segala fasilitas yang ia dapatkan sebagai karyawan. Setelah keluar kerja, Bahlil pun merumuskan konsep membangun perusahaan konsultan dan teknologi informasi yang kemudian ia ajukan kepada investor kenalannya yang ada di Jakarta. Konsep itu ia kerjakan sendiri.

“Waktu itu perusahaan mau dibangun apabila ada konsep. Saya ditunjuk untuk jadi direktur di perusahaan tersebut. Karena perusahaan baru dibangun, dan ide dasarnya dari saya, proposal FS-nya (studi kelayakan) itu saya sendiri buat dengan cara, ya mulai dari nol. Konsepnya diterima, setelah itu baru diajuin, punya duit,” kata Bahlil.

Di perusahaan yang ia rintis itu, Bahlil hanya bertahan satu tahun dua bulan kemudian memutuskan keluar barisan. Padahal, saat itu gajinya sudah mencapai Rp 35 juta rupiah per bulan. Bahlil pun melanjutkan mimpinya untuk membangun perusahaannya sendiri. Jatuh bangun tentu saja kerap ia lalui. Bahkan kembali ke titik minus lagi.

“Banyak teman yang bilang saya gila, termasuk pacar yang sekarang jadi istri saya. Dulu (kami) hampir putus gara-gara saya jadi gembel lagi. Hidup saya sudah aman nyaman, kok bisa mengambil risiko yang pada akhirnya jatuh lagi,” kata Bahlil.

Namun, Bahlil tak pernah menyerah. Tahun 2013, Pemilik PT Rifa Capital ini bergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Singkat kata, seiring kerja keras yang ia lakukan, perusahaannya pun kian berkembang di beberapa bidang. Kini ia memiliki beberapa perusahaan. Ia tercatat memiliki beberapa perusahaan di sektor perkebunan, properti, transportasi, pertambangan, dan konstruksi. Ia juga mengusahakan 11.000 hektare tambang nikel di Halmahera Maluku Utara.

Karier Bahlil pun kian menanjak. Tahun 2015, ia terpilih menjadi Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI, hingga akhirnya diminta bergabung di Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo mewakili kalangan pengusaha dan profesional. Ia menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang kini menjelma Kementerian Investasi Republik Indonesia.

Bahlil menyadari, ia bisa menjadi pengusaha bukan karena nasab, juga bukan karena nasib. Ia memang merancang sebuah desain untuk dirinya. Desain itu menurutnya adalah gabungan antara nasab dan nasib ditambah pengetahuan akademi yang memadai. Sebab, menurut Bahlil, kompetisi di dunia entrepreuner saat ini tidak bisa hanya masuk ke konsep, tapi harus betul-betul dirancang secara dini, didesain secara dini, agar bisa dieksekusi dengan baik sesuai dengan gol yang direncanakan.

 

Lanjut baca

Advertorial

Taat Membawa Berkat

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Ron…

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Rony Imanuel ini di acara Spectaxcular 2021 bertema “Pajak untuk Vaksin”, Senin (22/03). Mongol ikut mengingatkan pentingnya disiplin diri […]

The post Taat Membawa Berkat appeared first on Majalah Pajak.

Lanjut baca
/

Populer