Connect with us

Leisure

Jejak Masa Lalu di Tepi Teluk Penyu

Ruruh Handayani

Published

on

Cilacap tak hanya lekat dengan Pulau Nusakambangan. Ada keindahan Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem yang menjadi saksi bisu sejarah kolonial di masa lalu.

Anda yang pulang mudik ke seputar Jawa Tengah, mungkin tidak asing dengan Cilacap, kabupaten terluas di Jawa Tengah. Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat ini memiliki luas sekitar 225.360.840 hektare atau mendiami sekitar 6,2 persen dari total wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Cilacap kini memiliki infrastruktur jalan yang cukup memadai serta sarana transportasi yang lengkap. Umumnya, wisatawan akan memilih transportasi darat. Dari Jakarta, waktu tempuh untuk perjalanan darat menggunakan bus atau kendaraan pribadi sekitar 7 jam, sedangkan jika dengan kereta api hanya sekitar 5 jam.

Jika ingin lebih cepat, Anda dapat memilih menggunakan pesawat terbang karena Cilacap juga memiliki lapangan terbang perintis Tunggul Wulung. Karena kapasitas landasan bandara yang masih kecil, pesawat komersial yang diperbolehkan mendarat saat ini hanya jenis pesawat perintis. Itu pun dengan rute terbatas, yakni Jakarta–Cilacap atau sebaliknya. Jadwal penerbangan pun tidak setiap hari. Jadi, sebelum berangkat, Anda harus mengecek jadwal penerbangan terlebih dahulu.

Selain Pulau Nusakambangan yang legendaris, Cilacap yang didukung dengan topografinya yang berupa dataran landai dan perbukitan juga memiliki potensi wisata alam nan menawan seperti pantai, perbukitan batu gamping (kapur), dan gua karst.

Tak hanya itu, keberadaan kabupaten ini juga tidak bisa dipisahkan oleh kepingan sejarahnya, terutama saat zaman kolonial Belanda. Tim Leisure Majalah Pajak yang mengunjungi Cilacap akhir April lalu mencoba menelusuri jejak-jejak kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh walau berusia tua.

Benteng Pendem

Untuk mendapatkan itu semua, kami berkunjung ke Benteng Pendem. Berada di kawasan wisata Pantai Teluk Penyu, benteng ini cukup mudah dijangkau karena hanya berjarak sekitar empat kilometer dari alun-alun Kabupaten Cilacap, atau sekitar 10 menit perjalanan. Ditemani seorang pemandu lokal bernama Andi, kami diajak berkeliling benteng seluas 6,5 hektare ini. Benteng yang sebelumnya terkubur selama lebih dari 100 tahun ini ditemukan pada tahun 1986. Pemerintah setempat kemudian menggalinya lalu menjadikannya sebagai cagar budaya dan objek wisata hingga saat ini.

Menurut Andi, benteng-benteng yang dinikmati oleh wisatawan saat ini hanya sekitar 60 persen dari total keseluruhan bangunan yang masih terkubur.

“Di dalam benteng ini diperkirakan terdapat 102 ruangan yang masih tertimbun pasir atau tertutup tanah. Jadi, sekitar 40 persen yang belum digali,” ujarnya.

Menengok sejarahnya, bangunan bernama asli Kustbatterij op de Landtong te Cilacap ini merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun secara bertahap selama 18 tahun, yakni tahun 1861 hingga 1879. Penamaan Benteng Pendem diberikan oleh masyarakat setempat karena bentuk bangunan yang sengaja terurug tanah, sehingga jika dilihat dari jauh, benteng itu seolah-olah hanya tampak seperti seonggok bukit.

Pemerintah Hindia Belanda memang tidak sembarangan memilih tempat ini sebagai pusat pertahanan mereka kala itu. Lokasinya yang berhadapan langsung dengan laut, membuat mereka dapat dengan mudah memantau musuh yang datang dari laut maupun darat.

“Dulu, di sini asli tanahnya rata. Jadi, Belanda bikin bangunan-bangunan. Setelah itu bangunan sengaja ditimbun tanah untuk mengelabui musuh. Di atas tanah itu ditanami pepohonan biar enggak kelihatan, sehingga seolah-olah gundukan tanah itu hanya berupa bukit saja.”

Strategi penting lain yang dipikirkan Belanda pada waktu itu adalah membuat parit selebar 18 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter (setelah mengalami pendangkalan). Selain berfungsi sebagai penampungan air, parit yang dibangun mengelilingi benteng ini, juga digunakan untuk mempermudah patroli penjagaan tentara Belanda, dan menghambat laju musuh.

Walau di beberapa bagian terlihat dinding yang terkelupas, bangunan berusia lebih dari 150 tahun ini masih berdiri dengan kokoh. Arsitektur khas Eropa terlihat pada lengkungan di bagian atas pintu masuk setiap ruangan.

Secara garis besar, struktur bangunan yang bisa ditelusuri wisatawan saat ini terdiri dari 14 ruang barak, 2 ruang kesehatan, ruang akomodasi, ruang rapat perwira, ruang bawah tanah, ruang amunisi, ruang senjata, dan penjara. Andi menambahkan, sebetulnya terdapat terowongan yang konon terhubung dengan benteng di Pulau Nusakambangan. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada bukti yang bisa mendukung cerita tersebut.

Benteng ini merupakan saksi bisu sejarah yang penting untuk dilestarikan. Sayang, di setiap ruangan tersebut tidak disertai dengan lampu sehingga wisatawan cukup kesulitan melihat keseluruhan ruangan dan hanya dapat melihat sekilas melalui cahaya senter yang biasa dibawa oleh para pemandu. Kondisi becek bahkan banjir di beberapa area dalam ruangan juga membuat wisatawan tidak bisa seutuhnya merasakan jejak-jejak sejarah penting di sini.

Pantai Teluk Penyu

Setelah hampir seharian mengelilingi Benteng Pendem, kami menyempatkan diri mampir ke Pantai Teluk Penyu. Meski dinamakan Teluk Penyu, Anda tidak akan menemukan penyu-penyu yang berkeliaran dengan bebas di pesisir pantai. Penamaan teluk ini karena masyarakat setempat percaya bahwa dulu pantai ini merupakan rumah bagi penyu, sehingga banyak penyu bertelur dan berkembang biak di sini.

Walau tanpa penyu, pantai ini tetap digandrungi sebab wisatawan dapat mencicipi kelezatan aneka hidangan laut di rumah makan yang berjejer rapi di sepanjang area pantai. Setelah makan, kami tak lupa membeli suvenir berbahan kerang laut di toko yang juga mudah ditemukan di area ini.

Hari pun beranjak sore, ditemani semilir angin laut, kami sejenak menikmati sinar matahari yang pelan-pelan mulai tenggelam di ufuk barat sebelum kembali pulang ke Jakarta.

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

2 Comments

2 Comments

  1. Majalah Pajak

    Majalah Pajak

    3 Januari 2018 at 2:14 am

    Walau tanpa penyu, pantai ini tetap digandrungi sebab wisatawan dapat mencicipi kelezatan aneka hidangan laut di rumah makan yang berjejer rapi di sepanjang area pantai. Hmmm..

  2. Majalah Pajak

    Majalah Pajak

    3 Januari 2018 at 2:17 am

    Nice place..

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Eksotisme dan Prosesi di Negeri Dewa-Dewi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Istimewa

Tak cukup satu malam menjelajahi pesona Dieng. Selain alamnya yang eksotis, Dieng memiliki sejumlah bangunan bersejarah dan festival tahunan yang menarik.

 

Kabut tipis yang seolah enggan pergi menyelimuti kota, rindangnya pepohonan, deretan perbukitan nan hijau hingga kompleks pegunungan mulai dari Prau, Sindoro, Sumbing, dan puluhan gunung lainnya sebagai latar belakang lukisan alam nan memesona. Inilah lanskap alam yang bisa Anda amati lekat-lekat dan nikmati sepanjang hari saat berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Dataran Tinggi Dieng merupakan destinasi wisata terpopuler kedua di Jawa Tengah setelah Candi Borobudur. Wilayah Dieng mencakup Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo dengan area seluas kurang lebih 619,846 hektare. Dalam bahasa kawi, Dieng berasal dari dua gabungan kata di yang berarti ‘tempat’ atau ‘gunung’ dan hyang yang bermakna ‘dewa’. Letaknya yang berada di ketinggian sekitar 2093 meter di atas permukaan laut, membuat Dieng sering dijuluki sebagai Negeri di Atas Awan.

Layaknya sebuah negeri kayangan, konon Dieng dipercaya sebagai tempat dewa dan dewi bersemayam. Sejumlah destinasi yang berada di kawasan ini pun dipenuhi legenda dan sering dijadikan sebagai tempat pertapaan. Ini jualah yang menyebabkan Dieng selalu eksotis sekaligus misterius.

Saat kami berkunjung ke sana pada awal Juni lalu, hawa dingin di Dataran Tinggi Dieng terasa menusuk hingga ke tulang. Temperatur udara yang tertera pada seluler pintar kala itu menunjukkan angka delapan derajat celsius. Tak terbayang, bagaimana rasanya ketika suhu turun drastis di puncak kemarau bulan Agustus–September mendatang.

Pada suhu terendah, temperatur di sini bisa mencapai hingga minus sembilan derajat celsius. Suhu ini menyebabkan embun es muncul dan menutupi hampir semua tanaman rendah serta rerumputan, sehingga seolah tertutup salju. Kemunculan embun es ini juga selalu ditunggu oleh wisatawan. Banyak di antara mereka yang jauh-jauh datang dan bermalam di penginapan yang dikelola oleh warga (home stay) agar keesokan paginya dapat mengabadikan fenomena ini.

Di sisi lain, petani lokal justru menyebut kemunculan embun ini sebagai bun upas atau embun racun. Pasalnya, embun es yang terlampau tebal dapat mematikan tanaman kentang, kubis, dan beberapa jenis tanaman lainnya sehingga dapat terancam gagal panen.

Kami sempat mengunjungi beberapa destinasi utama di sana, salah satunya Telaga Warna. Telaga ini menyuguhkan hamparan keindahan perairan di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Nama telaga warna berasal dari keunikan telaga yang dapat berubah-ubah warna. Secara ilmiah, ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar matahari mengenainya, maka hasil pantulan warna air telaga tampak berwarna-warni.

Dieng juga memiliki wisata sejarah yang berada di kompleks Candi Arjuna. Berdasarkan catatan sejarah, Candi Arjuna dan beberapa candi di sekelilingnya diperkirakan dibangun sekitar awal abad ketujuh hingga sembilan Masehi. Di sinilah peradaban Mataram Kuno dimulai dan akhirnya menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan besar lainnya di tanah Jawa. Sejarahnya menarik untuk dikulik, bukan?

Kabar baiknya, kini wisatawan dapat mengetahui sejarah di balik berdirinya candi-candi ini melalui quick response code (QR Code) yang terpasang di sekitar bangunan candi. Anda cukup mendekatkan seluler pintar Anda agar aplikasi pembaca QR Code dapat memindai informasi yang tersimpan di dalamnya. Rencananya, QR Code juga akan dipasang di beberapa titik destinasi lainnya. Dengan begitu, wisatawan akan dengan mudah mengetahui informasi yang dibutuhkan hanya melalui gawai saja.

Kini wisatawan dapat mengetahui sejarah di balik berdirinya candi-candi ini melalui quick response code (QR Code) yang terpasang di sekitar bangunan candi

Bocah gimbal

Selain pesona alamnya, Dieng juga memiliki keunikan lain, yaitu bocah berambut gimbal. Entah bagaimana awalnya rambut gimbal itu berasal, tapi penduduk setempat meyakini anak gimbal dianggap sebagai keturunan dari pepunden atau leluhur pendiri Dataran Dieng, Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Rence. Konon, anak gimbal merupakan simbol kesejahteraan masyarakat Dieng. Semakin banyak anak gimbal di desa itu, maka semakin sejahtera penduduknya.

Umumnya, mereka berambut gimbal sejak beberapa bulan hingga berusia enam tahun. Rambut gimbal muncul begitu saja dan tumbuh secara alami. Gejala tumbuhnya rambut gimbal pada setiap anak sama, mereka mengalami demam bahkan terkadang hingga kejang. Jika sudah tumbuh, rambut tidak boleh dipotong sebelum si anak menyatakan keinginannya untuk potong rambut dan meminta sesuatu pada orangtuanya. Jika tidak dikabulkan, biasanya rambut akan tumbuh gimbal kembali walau sudah dipotong berkali-kali.

Pemotongan rambut pun tidak sembarangan, harus melalui prosesi ruwatan. Seiring berjalannya waktu, fenomena rambut gimbal justru menjadi daya tarik wisatawan. Momentum ini juga tak dilewatkan oleh kelompok sadar wisata setempat. Mereka mengemas upacara ruwatan dan menggabungkan dengan konten-konten menarik lainnya, di antaranya festival kreatif bertajuk Dieng Culture Festival. Ini juga sebagai upaya membantu orangtua yang kesulitan atau tidak mampu mengabulkan permintaan sang anak.

Tahun ini merupakan tahun kesepuluh diadakannya festival ini. Sejumlah aktivitas menarik juga telah dipersiapkan oleh panitia. Bagi wisatawan yang ingin menikmatinya, diharuskan membeli tiket dan memesan penginapan dari jauh-jauh hari. Bukan apa-apa, festival ini telah menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu wisatawan dan kemasyhurannya telah menggema hingga tingkat nasional, sehingga tiket pun akan cepat habis terjual.

Dengan membeli tiket, wisatawan berkesempatan menikmati sejumlah fasilitas dan aktivitas yang telah disediakan selama tiga hari berturut-turut. Mulai dari pentas seni tradisional, ketoprak, kirab budaya, jazz di atas awan yang menampilkan musisi-musisi nasional kenamaan, menerbangkan lampion bersama-sama, hingga menyaksikan rangkaian acara ruwatan anak rambut gimbal.

Bagi Anda yang datang ke acara ini, disarankan untuk menaati peraturan panitia seperti membawa botol air minum dan tas ramah lingkungan sendiri, tidak membuang sampah sembarangan, dan menerbangkan lampion di tempat yang telah ditentukan. Sisanya, Anda cukup menikmati seluruh rangkaian acara menarik ini. Sebelum pulang, pastikan juga Anda telah mencicipi sejumlah kuliner khas sini dan membawanya sebagai buah tangan. Ada mi ongklok, tempe kemul, semur kentang, kopi purwaceng, telur rebus Kawah Sikidang, dan Carica. – Ruruh Handayani

Continue Reading

Leisure

Menyongsong Mentari di Pucuk Luwuk

Aprilia Hariani K

Published

on

Pantai sebening kaca terbelah barisan bukit berkelok. Cahaya mentari yang menyelimuti keduanya melengkapi keelokan Pulau Dua Balantak.

Waktu masih menunjukkan pukul 01.15 WITA. Dini hari itu, tim Majalah Pajak dan KPP Pratama Luwuk sudah bersiap menuju Pulau Dua Balantak, Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah. Kami tak ingin melewatkan momen di tempat yang tersohor akan keindahan matahari terbitnya itu. Apalagi banyak yang mengatakan, Pulau Dua Balantak di Luwuk mirip dengan Pulau Kelor, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk menjawab rasa penasaran itu, kami ingin jelajahi keindahan pulau itu.

Kami memulai perjalanan dari Estrella Hotel & Conference Center yang terletak di Jalan Mandapar, kawasan Bukit Halimun, Tanjung Tuwis. Hanya 15 menit dari Bandara Syukuran Aminuddin Amir dengan menggunakan dua mobil berkapasitas masing-masing enam orang. Di Luwuk, tarif sewa mobil per hari sekitar Rp 200 hingga Rp 300 ribu.

Tim yang berjumlah delapan orang dibagi ke dalam dua mobil itu. Perjalanan diawali dengan menyisir jalan raya utama kota. Sesaat kemudian kami blusukan memasuki Desa Bunga. Perjalanan kami menyusuri lebatnya hutan di sisi kiri jalan dan laut di sisi kananya. Untungnya, infrastruktur jalan relatif baik—jalan beraspal mulus. Meski demikian, pengemudi tetap harus waspada karena minimnya penerangan jalan, juga gerombolan sapi dan kambing milik penduduk yang mendadak menyeberang jalan.

Dari balik setirnya, Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Luwuk, Jawahirul Fawaid, mengatakan, bahwa melepas hewan peliharaan di sekitar desa merupakan bagian dari tradisi penduduk di Luwuk.

“Enggak akan hilang (hewan peliharaan). Di sini aman. Jangankan hewan, motor ditinggal di pinggir jalan juga aman,” kata Fawaid. Setelah gerombolan hewan melintas, perjalanan dilanjutkan. Sejurus kemudian pemandangan berganti dengan perkampungan penduduk.

Akhirnya, sesuai target, dua jam lebih perjalanan kami ditempuh. Saat azan subuh berkumandang, tim sampai di Desa Pulo Dua. Di sanalah pos penyeberangan menuju Pulau Dua Balantak berada.

“Jangan salah, Desa Pulo Dua di sini (masih di daratan). Sedangkan Pulau Dua Balantak di seberang sana,” jelas Fawaid.

Sebenarnya, menurut Sekretaris Kantor KPP Pratama Luwuk, Aussie Nurul Anisa—yang juga ikut dalam rombongan—ada rumah warga yang bisa dijadikan penginapan di desa Pulau Dua. Biaya menginap di sana hanya Rp 100 ribu. Ini menjadi alternatif jika darmakelana tak ingin melakukan perjalanan tengah malam dari Banggai.

Setelah menitipkan mobil di tepi pantai, rombongan menyewa perahu untuk menuju pulau tujuan. Biaya sewa satu perahu sekitar Rp 300 ribu–Rp 350 ribu. Kapasitas perahu delapan hingga 10 orang.

“Ayo cepat, jangan sampai matahari keburu naik,” teriak Aussie yang sudah duduk di pinggir perahu. Kami pun lekas naik. Bismillah, mesin perahu ditarik. Sejurus kemudian jejak perahu menggoyang pantai biru kehijauan. Bening, karang-karang jelas terlihat.

Di waktu fajar itu juga, semesta menyuguhkan siluet gugusan bukit yang melengkung melindungi laut biru. Begitulah yang kami nikmati selama 23 menit. Hingga sesampai di tepi bukit, kami berhenti. Ya, salamat toka (selamat datang) di Pulau Dua Balantak.

Hanya dua langkah dari perairan, kami disambut oleh anak tangga yang menjulang di punggung bukit berkelok-kelok. Tak terhitung berapa jumlahnya. Sejenak mendongak, tampaknya perjalanan akan melelahkan. Untung saja pemerintah daerah setempat sudah membeton anak tangga dan memberi pengaman dari kayu pada kedua sisinya.

“Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.”

Samar-samar matahari muncul dari balik garis cakrawala, kami pun mempercepat pendakian. Menyenangkan. Apalagi ketika itu perjalanan eksklusif karena tak ada pengunjung lain selain kami. Hanya semilir angin memecah kesunyian.

Tak terasa lima belas menit kami mendaki. Tim akhirnya tiba di pertengahan bukit dengan pijakan tiga kali lebih lebar dari anak tangga lainnya. Tampaknya, itu adalah pos peristirahatan pertama. Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.

Dari sebelah timur, matahari kian menyeruak. Cahayanya memantul di dinding-dinding bukit. Perlahan, sinarnya menyelimuti hampir seluruh badan bukit. Jadilah bukit berwarna kuning keemasan. Tapi, suguhan ini bukan klimaks. Masih ada lagi pos di atasnya.

Sesaat kemudian tim kembali naik, hingga anak tangga terakhir. Posisinya nyaris dekat dengan puncak bukit. Di titik inilah pemandangan semakin membius. Tentunya ritual selfie tak boleh terlewatkan.

Matahari semakin terik, berulang kali kami menyeka keringat. Kami pun memutuskan untuk turun ke sisi kanan bukit. Sebab, di sana ada beberapa rumah kayu yang dibangun Pemda Banggai untuk para darmakelana. Namun, hati-hati. Perjalanan turun dari sisi kanan cukup curam. Tidak ada anak tangga seperti di sisi kiri seperti awal pendakian.

Berbekal ranting pohon dan kekompakan tim, rombongan akhirnya selamat sampai bawah. Benar saja, barisan rumah-rumah panggung dari kayu mengisi hamparan pasir Pulau Dua Balantak. Meski terkesan tak terurus, tapi di rumah itu, tim dapat memanfaatkannya sebagai kamar ganti untuk persiapan snorkeling.

Pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pulau juga bisa dipanjat dan diambil buahnya. Gratis. Kebetulan, kami berhasil memetik tujuh kelapa muda. “Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Continue Reading

Leisure

Cekungan Surga di Bumi Cendana

Ruruh Handayani

Published

on

Sumba tak hanya menyajikan adat budayanya yang lestari, tetapi juga limpahan surga tersembunyi yang mengundang.

Sumba semakin dikenal sebagai destinasi wisata yang tak kalah memesona dari pulau lain yang telah lama digandrungi wisatawan seperti Bali, Lombok, maupun Komodo. Apalagi, pada Februari lalu, Focus, majalah terbesar ketiga di Jerman, menobatkan Sumba sebagai satu dari 33 pulau terindah di dunia. Majalah itu mengulas, Sumba bukanlah sebagai tarian, melainkan sebagai mimpi pencarian yang harus diwujudkan, atau dengan kata lain, sebagai tujuan wisata yang semestinya dikunjungi—paling tidak sekali seumur hidup.

Kekuatan budaya

Pulau yang kerap disebut Pulau Cendana ini memiliki ragam kekayaan alam dan budaya yang lengkap. Kekuatan budaya diperlihatkan melalui rumah adat di beberapa perkampungan seperti Kampung Adat Praiwayang, Kampung Adat Tarung, Kampung Adat Praijing, dan Kampung Adat Ratenggaro yang dipertahankan hingga kini.

Arsitektur rumah adat yang unik dan menarik dengan atap menjulang menyerupai menara, dikaitkan dengan kepercayaan penduduk setempat kepada roh nenek moyang yang memiliki kedudukan tinggi atau yang biasa disebut Marapu.

Bagian rumah pun memiliki aturan yang mesti dijalankan tiap penghuninya. Bagian atas rumah atau loteng (uma daluku) dipergunakan untuk menyimpan bahan makanan serta benda pusaka yang dikeramatkan. Bagian tengah (rongu uma) menjadi pusat aktivitas keseharian para penghuni. Sedangkan bagian bawah atau kolong rumah (lei bangun) dipergunakan untuk memelihara ternak, seperti babi atau sapi.

Untuk memasuki rumah juga ada aturannya. Biasanya ada dua pintu yang terbuat dari tiang berukir, satu pintu khusus untuk laki-laki dan pintu lainnya khusus untuk perempuan. Kepala rumah tangga dan ibu pun masuk dari pintu yang berlainan.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi menginap di rumah adat dengan segala kesederhanaannya, tetua adat membolehkan tamu menginap di salah satu di rumah penduduk. Dengan catatan, tetap mengikuti aturan adat yang ada di masing-masing desa.

Selain menikmati alam hijau perbukitan, atau berinteraksi dan bercengkerama dengan penduduk lokal—terutama anak-anak kecil—yang hangat dan terbuka pada para wisatawan, Anda juga dapat mengenal lebih dekat hasil kerajinan tenun ikat Sumba yang sudah mendunia.

Pengunjung dapat mengamati pesona keindahan dari dua sisi—ketenangan Danau Weekuri dan gelora laut biru yang menghantam gugusan karang.

Surga tersembunyi

Selain budaya nan lestari, bumi Sumba juga berlimpah keindahan alam. Memiliki kontur tanah yang berbeda-beda, di pulau seluas 10.710 meter persegi ini terdapat padang sabana luas, hutan, air terjun, serta ragam jenis pantai eksotis, mulai dari yang memiliki ketenangan sepanjang hari, hingga pantai berombak tinggi yang digandrungi para peselancar.

Di antara destinasi yang telah lama terekspos, ada cekungan surga tersembunyi yang juga layak dikunjungi. Surga itu bernama Danau Weekuri atau Waikuri. Berlokasi di Sumba Barat Daya, tempat ini bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam dari pusat kota Tambolaka.

Danau ini sebenarnya adalah laguna yang terbentuk akibat air laut yang terus menerus masuk dari celah-celah batuan dan terjebak di dalamnya, hingga lama-kelamaan membuat cekungan berdinding batu karang semakin luas hingga menyerupai kolam atau danau.

Penduduk lokal menyebut laguna ini surga tersembunyi karena dari kejauhan, Anda hanya akan melihat batu karang dan beberapa pohon yang tumbuh di karang-karang itu, seolah kompak memagari dan menyembunyikan keindahannya. Pengunjung tak perlu khawatir terluka saat menuruni tebing menuju laguna, karena sudah tersedia tangga bersemen hingga ke bibir laguna.

Pesona Weekuri terletak pada bentuknya yang menyerupai kolam raksasa, dengan air berwarna hijau toska yang jernih dan beralaskan pasir putih. Tenangnya air akan membuat siapa saja yang mendekat tak tahan ingin menyelaminya. Namun, pengunjung yang belum mahir berenang mesti memerhatikan bagian-bagian yang aman, sebab laguna ini memiliki kedalaman bervariasi dari setengah meter hingga sekitar empat meter.

Selain pasir putih, saat berenang Anda juga akan dimanjakan dengan pemandangan bawah air seperti ikan-ikan kecil dan udang-udangan, rerumputan, juga beberapa koral. Wisatawan juga bisa sesekali memacu adrenalin dengan melompat dari jump spot yang telah disediakan. Tak hanya itu, karena memiliki kadar garam yang tinggi, Anda juga bisa mengapung di permukaan air dengan mudah, dan menyaksikan pemandangan alam berupa karang menjulang, pepohonan hijau juga awan putih nan berarak.

Pemerintah daerah setempat terus membenahi area wisata agar semakin nyaman dikunjungi. Kini, Anda bisa menyusuri puncak bukit tebing yang menjadi pembatas antara laguna dan laut lepas melalui jalur pejalan kaki yang terbuat dari kayu. Dari sini, pengunjung dapat mengamati pesona keindahan dari dua sisi. Satu sisi, adalah ketenangan Danau Weekuri dan di sisi lain ada lautan biru dengan ombaknya yang menghantam gugusan karang yang mengelilingi danau ini.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News4 minggu ago

Pendidikan Kita Gagal Menyuburkan Akhlak Mulia

Nilai-nilai karakter universal yang ditanamkan sejak usia dini berperan penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan siap berkompetisi...

Breaking News4 minggu ago

Calon Ibu harus Siap, Bayi Lahir harus Sehat

BKKBN berfungsi sangat strategis untuk menyokong keberhasilan pembangunan SDM, dimulai dengan menyiapkan kualitas calon ibu. Prioritas utama pemerintah ke depan...

Breaking News1 bulan ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News3 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News3 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News3 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News5 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News5 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News6 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News6 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Trending