Connect with us

Leisure

Jejak Masa Lalu di Tepi Teluk Penyu

Diterbitkan

pada

Cilacap tak hanya lekat dengan Pulau Nusakambangan. Ada keindahan Pantai Teluk Penyu dan Benteng Pendem yang menjadi saksi bisu sejarah kolonial di masa lalu.

Anda yang pulang mudik ke seputar Jawa Tengah, mungkin tidak asing dengan Cilacap, kabupaten terluas di Jawa Tengah. Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat ini memiliki luas sekitar 225.360.840 hektare atau mendiami sekitar 6,2 persen dari total wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Cilacap kini memiliki infrastruktur jalan yang cukup memadai serta sarana transportasi yang lengkap. Umumnya, wisatawan akan memilih transportasi darat. Dari Jakarta, waktu tempuh untuk perjalanan darat menggunakan bus atau kendaraan pribadi sekitar 7 jam, sedangkan jika dengan kereta api hanya sekitar 5 jam.

Jika ingin lebih cepat, Anda dapat memilih menggunakan pesawat terbang karena Cilacap juga memiliki lapangan terbang perintis Tunggul Wulung. Karena kapasitas landasan bandara yang masih kecil, pesawat komersial yang diperbolehkan mendarat saat ini hanya jenis pesawat perintis. Itu pun dengan rute terbatas, yakni Jakarta–Cilacap atau sebaliknya. Jadwal penerbangan pun tidak setiap hari. Jadi, sebelum berangkat, Anda harus mengecek jadwal penerbangan terlebih dahulu.

Selain Pulau Nusakambangan yang legendaris, Cilacap yang didukung dengan topografinya yang berupa dataran landai dan perbukitan juga memiliki potensi wisata alam nan menawan seperti pantai, perbukitan batu gamping (kapur), dan gua karst.

Tak hanya itu, keberadaan kabupaten ini juga tidak bisa dipisahkan oleh kepingan sejarahnya, terutama saat zaman kolonial Belanda. Tim Leisure Majalah Pajak yang mengunjungi Cilacap akhir April lalu mencoba menelusuri jejak-jejak kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh walau berusia tua.

Benteng Pendem

Untuk mendapatkan itu semua, kami berkunjung ke Benteng Pendem. Berada di kawasan wisata Pantai Teluk Penyu, benteng ini cukup mudah dijangkau karena hanya berjarak sekitar empat kilometer dari alun-alun Kabupaten Cilacap, atau sekitar 10 menit perjalanan. Ditemani seorang pemandu lokal bernama Andi, kami diajak berkeliling benteng seluas 6,5 hektare ini. Benteng yang sebelumnya terkubur selama lebih dari 100 tahun ini ditemukan pada tahun 1986. Pemerintah setempat kemudian menggalinya lalu menjadikannya sebagai cagar budaya dan objek wisata hingga saat ini.

Menurut Andi, benteng-benteng yang dinikmati oleh wisatawan saat ini hanya sekitar 60 persen dari total keseluruhan bangunan yang masih terkubur.

“Di dalam benteng ini diperkirakan terdapat 102 ruangan yang masih tertimbun pasir atau tertutup tanah. Jadi, sekitar 40 persen yang belum digali,” ujarnya.

Menengok sejarahnya, bangunan bernama asli Kustbatterij op de Landtong te Cilacap ini merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun secara bertahap selama 18 tahun, yakni tahun 1861 hingga 1879. Penamaan Benteng Pendem diberikan oleh masyarakat setempat karena bentuk bangunan yang sengaja terurug tanah, sehingga jika dilihat dari jauh, benteng itu seolah-olah hanya tampak seperti seonggok bukit.

Pemerintah Hindia Belanda memang tidak sembarangan memilih tempat ini sebagai pusat pertahanan mereka kala itu. Lokasinya yang berhadapan langsung dengan laut, membuat mereka dapat dengan mudah memantau musuh yang datang dari laut maupun darat.

“Dulu, di sini asli tanahnya rata. Jadi, Belanda bikin bangunan-bangunan. Setelah itu bangunan sengaja ditimbun tanah untuk mengelabui musuh. Di atas tanah itu ditanami pepohonan biar enggak kelihatan, sehingga seolah-olah gundukan tanah itu hanya berupa bukit saja.”

Strategi penting lain yang dipikirkan Belanda pada waktu itu adalah membuat parit selebar 18 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter (setelah mengalami pendangkalan). Selain berfungsi sebagai penampungan air, parit yang dibangun mengelilingi benteng ini, juga digunakan untuk mempermudah patroli penjagaan tentara Belanda, dan menghambat laju musuh.

Walau di beberapa bagian terlihat dinding yang terkelupas, bangunan berusia lebih dari 150 tahun ini masih berdiri dengan kokoh. Arsitektur khas Eropa terlihat pada lengkungan di bagian atas pintu masuk setiap ruangan.

Secara garis besar, struktur bangunan yang bisa ditelusuri wisatawan saat ini terdiri dari 14 ruang barak, 2 ruang kesehatan, ruang akomodasi, ruang rapat perwira, ruang bawah tanah, ruang amunisi, ruang senjata, dan penjara. Andi menambahkan, sebetulnya terdapat terowongan yang konon terhubung dengan benteng di Pulau Nusakambangan. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada bukti yang bisa mendukung cerita tersebut.

Benteng ini merupakan saksi bisu sejarah yang penting untuk dilestarikan. Sayang, di setiap ruangan tersebut tidak disertai dengan lampu sehingga wisatawan cukup kesulitan melihat keseluruhan ruangan dan hanya dapat melihat sekilas melalui cahaya senter yang biasa dibawa oleh para pemandu. Kondisi becek bahkan banjir di beberapa area dalam ruangan juga membuat wisatawan tidak bisa seutuhnya merasakan jejak-jejak sejarah penting di sini.

Pantai Teluk Penyu

Setelah hampir seharian mengelilingi Benteng Pendem, kami menyempatkan diri mampir ke Pantai Teluk Penyu. Meski dinamakan Teluk Penyu, Anda tidak akan menemukan penyu-penyu yang berkeliaran dengan bebas di pesisir pantai. Penamaan teluk ini karena masyarakat setempat percaya bahwa dulu pantai ini merupakan rumah bagi penyu, sehingga banyak penyu bertelur dan berkembang biak di sini.

Walau tanpa penyu, pantai ini tetap digandrungi sebab wisatawan dapat mencicipi kelezatan aneka hidangan laut di rumah makan yang berjejer rapi di sepanjang area pantai. Setelah makan, kami tak lupa membeli suvenir berbahan kerang laut di toko yang juga mudah ditemukan di area ini.

Hari pun beranjak sore, ditemani semilir angin laut, kami sejenak menikmati sinar matahari yang pelan-pelan mulai tenggelam di ufuk barat sebelum kembali pulang ke Jakarta.

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

3 Comments

3 Comments

  1. Pingback: 11 Kawasan Wisata Cilacap, Muara Percampuran Budaya Banyumasan Dan Sunda – BlogPedia

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Ternate, Magnet Perahu Berlatar Gunung

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pulau-pulau kecil yang terbentuk dari aktivitas vulkanik memberi Ternate objek tamasya yang terbentang dari gunung hingga pantai.

Anda mungkin pernah mengamati gambar bagian belakang pecahan uang kertas Rp 1.000 tahun emisi 2000, yang menggambarkan keindahan Pulau Maitara berdampingan dengan Pulau Tidore. Nah, jika ingin melihat kedua ikon pariwisata di Provinsi Maluku Utara ini dari sudut pandang yang sama persis, Anda bisa mengunjungi Desa Ngade, Fitu, Ternate Selatan. Menuju ke lokasi ini, Anda akan menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Bandara Babullah, Ternate baik menggunakan motor maupun mobil.

Rumah-rumah sederhana di desa ini memiliki pemandangan lanskap laut berlatar Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Saat cuaca cerah, kedua pulau itu terlihat memiliki komposisi yang sempurna—persis seperti lukisan di uang seribu rupiah lengkap dengan perahu nelayannya. Namun, saat mendung dan cuaca berkabut, pemandangan salah satu pulau dapat tertutup.

Jangan lupa untuk berjalan ke lereng desa, menuju anjungan foto berlatar pegunungan, melengkapi objek wisata Maluku Utara yang terentang dari pantai hingga gunung.

Puas berfoto dari lereng puncak Fitu, Anda bisa sejenak menikmati teduh dan tenangnya Danau Ngade. Menariknya, danau yang juga disebut Danau Laguna ini terletak di tengah Desa Fitu yang konturnya berbukit-bukit, sehingga pemandangan yang Anda dapati dari sisi danau seolah dikelilingi oleh perbukitan nan menjulang.

Perairan laguna besar ini tampak kontras dengan lautan biru di dekatnya, yang hanya dipisahkan oleh jalan raya. Meski bertetangga dekat dengan laut, air Danau Ngade tetap tawar. Karena itulah, warga setempat juga memanfaatkan objek wisata ini untuk budidaya ikan air tawar seperti nila dan gurame. Bahkan, digunakan juga untuk mengairi perkebunan penduduk sekitar danau.

Tak sekadar mengagumi keindahannya dari pinggir danau, Anda juga bisa menikmatinya dengan berkeliling danau menggunakan kapal wisata. Selain itu, Anda juga bisa memancing di sini, dengan ikan yang banyak dan besar-besar. Tapi kalau keburu lapar, Anda bisa langsung menuju restoran apung di tepian laguna. Olahan ikan air tawar dengan bumbu dan sambal dabu-dabu khas Ternate dapat Anda santap sembari menikmati panorama danau tenang yang dikelilingi bukit hijau.

Laguna tersembunyi

Dari sini, Anda bisa melanjutkan perjalanan wisata menuju Pantai Sulamadaha, salah satu aset wisata penting Pulau Ternate, sekitar 22 kilometer dari Fitu, atau sekitar 46 menit dengan kendaraan bermotor. Panorama pantai ini telah dikenal oleh wisatawan lokal dan mancanegara.

Pantai Sulamadaha didominasi oleh pasir hitam dan batuan karang di sekitarnya yang tertata apik. Pasir hitam ini berasal dari materi vulkanik letusan Gunung Gamalama. Namun, untuk menguak rahasia keindahan Pantai Sulamadaha, Anda mesti menyusuri jalan setapak di atas tebing yang mengelilingi pantai selama sekitar sepuluh menit. Sembari menyusuri, Anda akan dipukau oleh pemandangan lautan lepas, dan Pulau Hiri yang tampak berdiri gagah laksana gunung di atas laut.

Sisi lain Pantai Sulamadaha akan menampakkan sebuah laguna tersembunyi yang luar biasa indahnya. Teluk Sulamadaha memiliki pantai berpasir putih, serta air yang sangat jernih sampai-sampai batuan karang berwarna dapat jelas terlihat dari atas permukaan air. Udara Ternate yang cukup kering dan terik pun sama sekali tidak terasa ketika Anda berada di teluk ini. Tempat ini benar-benar seperti oasis di pinggiran Ternate.

Namun, surga tersembunyi ini akan terasa lebih maksimal dinikmati bila Anda menjajal beragam aktivitas yang ditawarkan, mulai dari berenang, naik perahu atau banana boat, hingga snorkeling. Fasilitas di teluk ini, seperti warung makanan, penyewaan alat snorkeling, dan kamar bilas, juga terbilang lengkap dan dikelola rapi oleh warga setempat.

Nah, Ternate cantik, bukan? Jangan lupa untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat selama Anda berwisata, ya.

Lanjut baca

Advertorial

Taat Membawa Berkat

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Ron…

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Rony Imanuel ini di acara Spectaxcular 2021 bertema “Pajak untuk Vaksin”, Senin (22/03). Mongol ikut mengingatkan pentingnya disiplin diri […]

The post Taat Membawa Berkat appeared first on Majalah Pajak.

Lanjut baca

Leisure

Dendang Ambon Sepanjang Hari

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tak hanya sebagai perekat sosial, musik bagi warga Ambon merupakan identitas dan nilai tambah pariwisata.

Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Kota Ambon. Musik seakan-akan menjadi denyut nadi pergerakan kota yang dikenal sebagai Ambon Manise ini, sampai muncul ungkapan “Orang Ambon bisa bernyanyi atau bersenandung sejak dalam perut”.

Masyarakat Ambon seperti memiliki DNA musik yang bukan hanya bagian dari seni, tetapi juga menjadi budaya Ambon. Banyak penyanyi asal Kota Ambon yang telah mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi nasional dan internasional. Ini membuat musik Ambon telah menjadi barometer musik di Indonesia.

Tak hanya itu, musik saat ini merupakan wahana pemersatu yang mampu menciptakan kebersamaan antaragama dan menembus perbedaan. Bagi masyarakat Ambon, musik merupakan ikon, alat perdamaian, sekaligus nilai tambah pariwisata.

Kota Musik Dunia

Dengan semua latar belakang itu, pemerintah setempat pun mencanangkan Ambon sebagai City of Music atau Kota Musik sejak 2011 silam. Dan di tengah kesungguhan dan kedamaian masyarakatnya, Ambon dinobatkan sebagai Kota Musik Dunia oleh UNESCO pada 31 Oktober 2019.

Kota terbesar sekaligus ibu kota di Provinsi Maluku itu bersanding dengan 65 kota lain seperti Sevilla di Spanyol, Hamamatsu di Jepang, dan Liverpool di Inggris yang tergabung dalam Jaringan Organisasi Kota Kreatif.

Dus, Ambon sebagai satu-satunya kota di Asia Tenggara yang berhasil menjadi kota kreatif berbasis musik. Kala itu, Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay berkata, Kota Ambon terpilih karena telah mengedepankan budaya dalam banyak aspek kehidupan. Kota di ujung timur Indonesia ini juga menjadikan budaya sebagai pilar; bukan aksesori.

Ya, musik telah menjadi bagian dari identitas dan budaya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Ambon. Selain pesona pantai-pantai Ambon nan melegenda; wisatawan dapat menikmati kekhasan budaya, makanan khas, hingga musik tradisionalnya.

Nah, jika Anda termasuk pencinta musik dan ingin menjadi saksi sekaligus merasakan harmoni musik Ambon, tak ada salahnya berlibur ke sini dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Musik setiap hari

Identitas Ambon sebagai Kota Musik bisa Anda temukan terutama di malam hari. Di sudut-sudut kota, hampir setiap restoran atau kafe menampilkan musisi-musisi berbakat dengan berbagai macam genre. Selagi di sini, jangan lupa untuk memesan berbagai panganan khas Ambon seperti Rujak Natsepa, Koyabu Kasbi, Roti Kenari, dan Kopi Rarobang.

Sementara pagi atau sore hari Anda bisa berkunjung ke pantai Namalatu, pantai Santai, atau Pantai Halong. Selain bisa berpuas diri bermain dan menikmati keindahan pesisir pantai, Anda bisa saja menemukan sekumpulan anak muda tengah asyik membunyikan tahuri—terompet tradisional khas Maluku yang terbuat dari kerang atau bia, suling, totobuang, hingga pong-pong dan memainkan lagu-lagu daerah dengan merdunya.

Atau, Anda bisa datang tatkala pemerintah daerah mengadakan Festival Musik Ambon setiap tahunnya. Kota ini menyelenggarakan Seni Musik dan Festival Makanan yang melibatkan perwakilan dari kota dan wilayah lain di Maluku. Ada lagi Amboina International Music Festival yang berfokus tidak hanya pada musik tetapi juga pertunjukan dengan instrumen tradisional.

Pemuda-pemudinya juga kerap memanfaatkan momentum Hari Musik Kota Ambon yang diperingati setiap tanggal 29 Oktober, atau Hari Musik Nasional pada 9 Maret setiap tahunnya untuk membuat festival atau rangkaian kegiatan sederhana yang berkaitan dengan musik. Anda bisa secara puas menikmati ragam instrumen tradisional, tarian tradisional sarat makna seperti Cakalele, Timba Telur, Tari Lenso, dan lain-lain.

Terbaru, Ambon Music Office (AMO) sedang menyiapkan wisata musik di 10 destinasi unggulan di lima kecamatan di Kota Ambon pada tahun ini. Di antaranya musik bambu di Dusun Tuni, Amahusu Amboina Ukulele Kids Community, alat musik tifa di Soya, dan komunitas musik di Less Mollucans. Rencananya, program ini akan melengkapi acara musik yang telah ada di tahun sebelumnya yakni Sound Of Green, festival yang mengelaborasikan musik dan lingkungan sembari mengimplementasikan SDGs.

Lanjut baca

Populer