Connect with us

Breaking News

Insentif Pajak Bukan “Jebakan Batman”, Segera Manfaatkan

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Acara Tax Gathering bertajuk “Gotong Royong Membangun Negeri di Masa Pandemi” Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Jakarta Timur pada Rabu Pagi (22/7).

Memperingati Hari Pajak 14 Juli tahun ini, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Jakarta Timur menghelat acara Tax Gathering bertajuk “Gotong Royong Membangun Negeri di Masa Pandemi” pada Rabu Pagi (22/7). Acara dengan konsep seminar perpajakan melalui media virtual itu dipandu oleh TV News Anchor Aiman Witjaksono dengan narasumber dari Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo, Business and Communication Coach Helmy Yahya, Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta Diana Dewi.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta Timur Arfan menuturkan, peringatan Hari Pajak merupakan momentum spesial untuk fiskus dan Wajib Pajak (WP). Sebab, pajak memiliki peran ganda sebagai alat pengatur (regulerend) dan fungsi anggaran (budgetair). Dalam konteks pandemi, pajak berperan sebagai penjaga ekonomi melalui beragam insentif, sekaligus menjadi sumber penerimaan negara.

“Pajak jadi sokoguru negara, bagaimana tidak, pajak peran penting 70 sampai 80 persen sumber penerimaan kita. Sebagai sokoguru, pajak terus mendorong masyarakat, pengusaha, untuk melakukan kegiatan usaha, bukan untuk mematikan. Ini yang harus kita pahami, bahwa pajak adalah untuk kita semua,” kata Arfan.  Ia mengimbau agar WP segera dapat memanfaatkan pelbagai fasilitas yang diberikan pemerintah saat ini. Jangan sampai ada kekhawatiran “jebakan batman”, misalnya.

Berdasarkan rilis APBN KITA Senin (20/7) lalu, realisasi pemanfaatan insentif baru sekitar 10 persen dari anggaran sebesar Rp 120,6 triliun per akhir Juni 2020. Adapun insentif pajak yang diberikan meliputi, pajak penghasilan (PPh) Pasal 21, PPh Final UMKM, diskon 30 persen untuk PPh Pasal 25, dan restitusi pajak pertambahan nilai (PPN).

Hal senada juga diungkapkan oleh Prastowo. Staf Khusus Menteri Keuangan RI Bidang Komunikasi Strategis itu mengatakan, insentif pajak merupakan niat tulus pemerintah untuk melindung dunia usaha. Untuk itu, aturan terus diperbaharui untuk dapat mengakomodasi seluruh industri yang terdampak COVID-19.

Aturan paling anyar adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 86/PMK.03/2020 tentang Insentif untuk Wajib Pajak Terdampak Pandemi Korona Virus Disease 2019, yang ditetapkan pada 16 Juli 2020. Secara umum Pastowo mengatakan PMK ini mengatur tentang perluasan dari 1.062 klasifikasi lapangan usaha (KLU) menjadi 1.189, perubahan prosedur, dan perpanjangan waktu pemanfaatan insentif pajak yang semula sampai September menjadi Desember 2020.

“Bukan jebakan batman, pemerintah membantu. Makanya di aturan terbaru syarat sangat mudah—pemberitahuan secara on-line. Saat ini saya meletakkan pajak dalam kondisi berbeda. Pajak dulu pedang, sekarang pajak itu perisai, karena pajak menjaga kita dari bahaya, menjaga dunia usaha dan perekonomian. Dulu, pajak bicara penerimaan, sekarang tentang insentif. Berkah dari pandemi ini kita juga punya peluang menentukan arah-arah baru. Dan kembalinya negara kepada sektor-sektor ekonomi rakyat,” jelas Prastowo.

Selain peran pemerintah, Helmy Yahya juga mengajak masyarakat untuk kreatif untuk menangkap peluang usaha lain. Ia mengistilahkan dengan sebutan ICUU—Improve your character, Check the business, Upgrade your skills, Update the chanelling.

“Intinya kreatif, diferensiasi, dan baca situasi. Penjualan secara on-line adalah keharusan. Pemanfaatan media sosial bisa untuk jualan, personal branding. Kalau tidak bisa, pakai pihak ketiga, marketplace,” tambahnya.

Hal itu diamini oleh Diana Dewi. Ketika pandemi, CEO PT Suri Nusantara Jaya ini mengganti produk jualannya dari daging segar menjadi daging frozen. Selain dijajakan di 11 gerai off-line miliknya, Diana juga memasarkan produknya secara daring.

“Pengusaha itu adalah pejuang. Jadi jangan mengeluh, harus kreatif. Pandemi ini momentum untuk reformasi struktural dan ekonomi, peningkatan keahlian, mengubah metode bisnis dari off-line ke on-line serta menguatkan digitalisasi untuk aktivitas ekonomi dan sosial,” ujar Diana.

Saat ini Diana mengaku tengah gencar membantu menyosialisasikan insentif perpajakan kepada anggotanya.

Breaking News

BSI Luncurkan Griya Simuda untuk Nasabah Milenial

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) meluncurkan pembiayaan perumahan BSI Griya Simuda yang menyasar segmen milenial, dengan target penyaluran pada tahap awal sebesar Rp 500 miliar.

Produk pembiayaan perumahan ini menjadi bentuk nyata komitmen BSI yang kehadirannya diharapkan mampu menarik minat generasi milenial.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi mengatakan segmen milenial merupakan ekosistem yang sangat potensial bagi perbankan syariah, sehingga produk dan layanan yang diberikan harusnya mampu menyesuaikan dengan kebutuhan milenial dan perkembangan zaman yang serba mobile dan terus berubah.

“BSI Griya Simuda merupakan salah satu wujud penyesuaian produk untuk kaum milenial, di mana mereka membutuhkan dukungan dari lembaga keuangan dalam mewujudkan muda punya rumah hobi enggak ngalah,” ungkap Hery dalam keterangan tertulis dikutip Minggu (09/5/21).

Dalam peluncuran ini BSI mengundang mitra developer-developer secara daring sebagai ajang memperkenalkan produk secara lebih dekat selain penempatan tim konsumer di marketing office masing-masing developer.

Produk BSI Griya Simuda ini sekaligus merupakan bentuk nyata dari salah satu dari pesan Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat peluncuran Bank Syariah Indonesia yaitu “BSI harus bisa menarik minat milenial yang saat ini berjumlah 25,87 persen dari penduduk Indonesia”.

“Kami berharap produk baru ini mampu mendorong pencapaian target pembiayaan BSI Griya Hasanah, di mana porsi target pembiayaan BSI Griya Simuda untuk tahap awal ini adalah sebesar Rp 500 miliar,” ujar Hery.

Dengan jaringan kantor cabang Bank Syariah Indonesia yang luas diharapkan mampu menjangkau kaum milenial di berbagai daerah. Per Maret 2021, BSI telah menyalurkan pembiayaan Griya Hasanah sebesar Rp38 triliun, tumbuh 13,93  persen (yoy) sehingga dengan telah diluncurkannya BSI Griya SiMuda diharapkan mampu mendorong percepatan target BSI Griya Hasanah sampai dengan akhir tahun 2021.

BSI Griya Simuda merupakan pilihan yang tepat bagi generasi milenial dalam mewujudkan memiliki hunian sesuai syariah di usia muda di tengah pandemi dengan berbagai fitur di antaranya plafon pembiayaan hingga 120  persen lebih tinggi, angsuran pembiayaan yang fleksibel, jangka waktu hingga 30 tahun, dan DP mulai 0 persen.

Generasi milenial yang dekat dengan digital merupakan potensi yang harus dimanfaatkan. BSI Griya Simuda dapat diakses melalui sosial media dam website resmi Bank Syariah Indonesia bankbsi.co.id dan website rumahimpian.id. dengan website tersebut para millenial dapat mengetahui secara langsung persetujuan secara prinsip pengajuan pembiayaannya, sekaligus dapat mengatur sendiri besaran cicilan melalui kalkulator simulasi angsuran, memilih langsung rumah yang akan dibeli melalui katalog dari seluruh developer rekanan terbaik dibidangnya yang telah bekeja sama dengan Bank Syariah Indonesia.

BSI juga bekerja sama dengan developer-developer terbaik dibidangnya yang menjadi mitra dalam memberikan hunian yang sesuai keinginan generasi milenial seperti Perumnas, Ciputra, Jaya Real Property, Sinar Mas Land, Metropolitan Land, Summarecon dan developer-developer terkemuka lainnya.

 

Lanjut baca

Breaking News

Peran Indonesia dalam Standardisasi Pemajakan Global

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

John Hutagaol, Direktur Perpajakan Internasional 2017–2021

Indonesia aktif menyuarakan hak pemajakan digital untuk negara berkembang di berbagai forum internasional.

Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) senantiasa menjalin kerja sama dengan berbagai forum internasional demi bisa menyalurkan beragam aspirasi dan pengetahuan penerapan regulasi perpajakan global.

Direktur Perpajakan Internasional 2017–2021 John Hutagaol menuturkan, Indonesia aktif dalam Organisation for Economic and Co-operation and Development (OECD). Kendati tidak menjadi anggota OECD, Indonesia bersama empat negara lain terdaftar dalam program enhanced engagement yang dikenal dengan key partner pertama yang menandatangani framework of cooperation agreement (FCA) dan host country agreement (HCA).

OECD adalah sebuah organisasi internasional yang bertujuan untuk memperbaiki proses penyusunan kebijakan ekonomi negara anggota dan negara lain di dunia dengan menetapkan standar dan mendesain berbagai kebijakan untuk menyempurnakan fungsi ekonomi negara.

“Kita bukan termasuk negara maju, tetapi punya potensi ekonomi yang besar di dunia. Ini suatu kebanggaan. Indonesia aktif untuk membawa suara kepentingan Indonesia sendiri maupun kepentingan negara-negara berkembang, negara-negara pasar,” kata John. “Karena kalau kita bisa di forum-forum internasional, terutama BEPS (base erosion and profit shifting), kita bicara tentang bagian dari hak pemajakan. Bagaimana memajaki penghasilan lintas negara yang berasal dari transaksi ekonomi digital. Di forum internasional, kita harus menggawangi, menjaga kepentingan Indonesia dalam proses standardisasi pemajakan digital secara global.”

Demikian pula dalam forum Group of Twenty (G20), peran Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Buktinya, setelah pelaksanaan Indonesia ditetapkan sebagai negara Presidensi G20 di tahun 2022 mendatang.

Aktif berkontribusi

Kepala Kasubdit Perjanjian dan Kerja Sama Perpajakan Internasional Leli Listianawati menambahkan, berkat bergabungnya Indonesia di G20 dan Inclusive Framework on BEPS, Indonesia turut berpartisipasi dalam memerangi penyalahgunaan persetujuan penghindaran pajak berganda (P3B) atau tax treaty. Forum ini juga telah menetapkan standar global dalam pelaksanaan pertukaran informasi keuangan secara otomatis atau automatic exchange of financial account information (AEOI).

“Kita menjadi bagian dari masyarakat internasional yang mendukung terwujudnya transparasi perpajakan, sehingga kita bisa membantu otoritas pajak seluruh dunia dalam mengamankan penerimaan perpajakannya, melawan praktik penghindaran dan pengelakan pajak,” jelas Leli.

Lalu, dalam ASEAN Forum Taxation (AFT), Indonesia merupakan salah satu anggota yang cukup penting karena telah menerapkan standar internasional dalam sistem perpajakan domestik dan inclusive framework. Selain itu, Indonesia memiliki treaty network yang lengkap khususnya di kawasan regional Asia Tenggara (kecuali Myanmar) dan sistem pertukaran informasi yang memenuhi standar.

“Karena Indonesia dinilai cukup berhasil menerapkan EoI, beberapa kali permintaan untuk sharing pengalaman kepada negara-negara lain,” tambah Leli.

Dalam Study Group on Asian Tax Administration and Research (SGATAR) Indonesia bahkan terpilih menjadi Ketua SGATAR dan anggota. Forum tahunan yang didirikan sejak tahun 1970 ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama serta memperbaiki administrasi dan masalah-masalah perpajakan.

Indonesia juga tergabung dan terlibat mendirikan The Association of Tax Authorities of Islamic Countries (ATAIC), yakni sebuah organisasi yang didirikan oleh sebelas perwakilan negara Islam. Forum ini merupakan subsidiary agent yang berafiliasi dan memperoleh dukungan penuh dari Organisation of Islamic Cooperation (OIC).

“Tujuan pendirian ATAIC adalah untuk menyediakan forum diskusi dalam hal pengembangan kebijakan dan administrasi perpajakan atau zakat dalam meningkatkan perekonomian. Indonesia memiliki hak suara dalam keputusan yang diambil di dalam pertemuan kepala delegasi,” katanya.

Bersama Asian Development Bank (ADB), Indonesia juga aktif berkontribusi dalam forum. Indonesia pernah dua kali menjadi tuan rumah penyelenggara forum ADB (2016 dan 2018). Beberapa anggota ADB bahkan memberikan bantuan peningkatan kapasitas pegawai DJP.

Indonesia turut menjadi bagian dari Belt and Road Initiative Tax Administration Cooperation Mechanism (BRITACOM). Forum ini penting untuk memfasilitasi perdagangan dan investasi para anggota. Seperti diketahui, saat ini Indonesia tengah gencar menarik investasi.

Di tengah pandemi Covid-19, forum internasional secara khusus mengundang Indonesia untuk memaparkan kebijakan perpajakan di tengah pandemi, khususnya penanganan transfer pricing. Indonesia juga memiliki banyak perjanjian internasional dengan banyak negara demi mengoptimalkan potensi penghindaran pajak, antara lain dengan Jepang, Belanda, Australia, dan lain-lain.

Kerja sama DJP dan seluruh organisasi internasional diatur dalam beberapa aturan, di antaranya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 217/PMK.01/2018 sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 229/PMK.01/2019.

Lanjut baca

Breaking News

SystemEver dan PajakMania Dorong Kepatuhan Wajib Pajak

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Jakarta, Majalahpajak.net – Masih rendahnya tingkat kepatuhan Wajib Pajak masyarakat, ditengarai menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya rasio pajak di Indonesia. Tahun 2018, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) mencatat, rasio pajak Indonesia hanya 11,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Capaian tersebut, di bawah rata-rata negara-negara yang tergabung di OECD sekitar 34,3 persen.

Angka tersebut semakin menukik pada tahun 2019, rasio pajak Indonesia hanya sebesar 10,7 persen. Terlebih di masa pandemi, pendapatan masyarakat berkurang, dan sejumlah insentif diberikan pemerintah kepada beberapa kalangan masyarakat sehingga sejumlah kalangan tertentu tidak dibebaskan kewajibannya membayar pajak, rasio pajak sulit diharapkan naik.

Namun begitu, sebagai salah satu sumber penerimaan negara, kontribusi dari pajak merupakan hal yang krusial dicermati. Pasalnya, Indonesia memiliki potensi penerimaan pajak yang cukup besar. Ini bisa dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan, jumlah Produk Domestik Bruto Indonesia (PDB) yang relatif tinggi, yaitu sebesar Rp 15.833,9 triliun.

Reformasi perpajakan Indonesia memang tengah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Di antaranya program digitalisasi sistem administrasi perpajakan untuk memperbaiki pelayanan kepada Wajib Pajak, sekaligus penegakan hukum yang konsisten. Hal itu diharapkan dapat mendorong kepatuhan pajak (tax compliance).

Soal reformasi perpajakan, diakui Founder Komunitas PajakMania, Daniel William Legawa, sudah mulai menciptakan atmosfer yang mendorong kepatuhan pajak. Digitalisasi dalam administrasi pelayanan di antaranya, e-registration, e-filing, e-form, e-SPT dan e-faktur, dan iKSWP terbukti banyak memberikan kemudahan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Dikuatkan dengan terbitnya PMK No. 9/PMK.03/2018 merupakan sarana untuk meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak.

Daniel mengakui, implementasinya memang butuh waktu beradaptasi dengan teknologinya. Jika masyarakat sudah merasakan kemudahan, Daniel optimistis kepatuhan pajak masyarakat Indonesia meningkat.

Sebagai konsultan pajak dan tax specialist perusahaan multinasional, Daniel mengamati, kesadaran masyarakat untuk membayar pajak sudah tumbuh. Apalagi dengan melihat kemajuan pembangunan saat ini.

“Masyarakat banyak kok yang ingin patuh pajak. Hanya saja mereka tidak tahu bagaimana cara memulainya dan cara untuk patuhnya,” ungkap Daniel.

Menjawab kebutuhan tersebut, Komunitas Pajakmania sejak 2010 hadir untuk menyosialisasikan peraturan perpajakan di Indonesia, mengedukasi, serta memfasilitasi masyarakat, baik perorangan atau pelaku dunia usaha yang ingin menunaikan kewajiban pajaknya.

Kini Komunitas PajakMania sudah memiliki  anggota lebih dari 1000 orang dengan beragam latar belakang seperti konsultan pajak, staf pajak, pegawai kantor pajak, akademisi dan mahasiswa. Mereka secara rutin berdiskusi baik off-line dan on-line membahas isu terbaru dan insight terkini mengenai peraturan perpajakan di Indonesia, termasuk juga hal teknis penerapan aturan perpajakan, misalnya terkait aplikasi layanan on-line yang disediakan oleh DJP.

Meskipun pandemik, kegiatan Komunitas PajakMania konsisten menggelar berbagai diskusi rutin secara daring dan bekerja sama dengan sejumlah pihak. Salah satunya dengan SystemEver Indonesia, perusahaan teknologi Cloud ERP yang memiliki layanan i1-AccounTax Service yang dirancang untuk digunakan oleh konsultan pajak.

Menurut Daniel, sebagai konsultan pajak, kerap berhadapan dengan sejumlah kendala dalam penyusunan laporan pajak yang efektif dan efisien. Dinamisnya perkembangan teknologi dan modernisasi layanan, konsultan pajak dituntut cepat beradaptasi untuk membuat kepatuhan pajak itu menjadi mudah.

“Di dunia konsultan, sampai saat ini belum ada sebuah standar pasti, dokumen kertas kerja yang benar-benar dapat diandalkan untuk mengelola, menyusun dan mengarispkan data pajak klien,” ungkap Daniel.

Apalagi, kata Daniel, jika konsultan pajak memegang banyak klien dengan berbagai histori pajak dan aplikasi teknologi yang digunakan, tentu memakan waktu yang tidak sebentar untuk menganalisis dan membuat pelaporan pajak dengan cermat. Sangat dibutuhkan sistem atau software yang memberikan kemudahan dan penyederhanaan alur kerja secara administratif.

Hadirnya produk i1-AccounTax Service dari SystemEver Indonesia diharapkan Daniel bisa memberikan solusi bagi konsultan pajak dalam mengelola seluruh aspek administrasi perpajakan para klienya.

Keunggulan dari Produk i1- Account Tax Service ini di antaranya memiliki fitur khusus yaitu Journal Batch Upload yang mempermudah konsultan dalam melakukan unggah data klien, hanya dengan  satu kali unggah data dalam jumlah banyak, semudah copy paste dari Excel.

Dengan melakukan unggah data klien ke dalam produk i1 – Accoun Tax Service SystemEver, konsultan dapat melakukan pengecekan jurnal dan kesesuaian angka-angka pada laporan keuangan klien berdasarkan aturan berlaku dengan cepat dan mudah.

Fitur ini juga dapat mengurangi kemungkinan kesalahan input (human eror), sehingga dapat meningkatkan efisiensi kinerja dari perusahaan konsultan pajak dan akuntansi.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas PajakMania. Semoga  kepatuhan Wajib Pajak semakin meningkat. Kami akan terus mendukung kegiatan serupa dan meningkatkan skalasi kerja sama dengan berbagai pihak” tutur Chief in Representative SystemEver Indonesia, Kwon Oh Cheol.

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved