Connect with us

Topic

Inovasi Digital belum Tersusul Literasi

Diterbitkan

pada

Inovasi digital perbankan menciptakan kemudahan dan efisiensi. Namun, kehadirannya harus diimbangi literasi keuangan digital yang memadai bagi masyarakat.

Seiring pembatasan aktivitas sosial di ruang publik pada masa pandemi Covid-19, pola interaksi masyarakat di banyak hal pun telah bergeser, termasuk dalam kegiatan ekonomi. Wabah ini seakan menjadi momentum mengakselerasi pengembangan digitalisasi serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Pandemi ini juga menggeser pola kebiasaan konsumen dan pelaku bisnis. Di sektor jasa keuangan, misalnya, perbankan berlomba-lomba membuat berbagai layanan digital untuk kemudahan bertransaksi dan memberikan pelayanan kepada nasabah mereka.

Bagi konsumen, digitalisasi perbankan membuat cara bertransaksi dan berinteraksi jadi lebih mudah, cepat dan efisien. Demikian juga bagi institusi perbankan. Digitalisasi terbukti mampu membuat bank lebih efisien. Fakta itu terlihat dari penurunan rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) bank umum konvensional pada Maret 2021. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio BOPO sebesar 86,44 persen pada Maret 2021 dibandingkan dengan posisi sama di tahun lalu yang sebesar 88,84 persen.

BOPO merupakan rasio antara biaya operasi terhadap pendapatan operasi. Biaya operasi adalah biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam menjalankan aktivitas usaha utamanya. Sementara pendapatan operasi adalah pendapatan utama bank yang diperoleh dari penempatan dana dalam bentuk kredit dan pendapatan operasi lainnya. Semakin kecil BOPO berarti semakin efisien perbankan dalam menjalankan aktivitas usahanya.

Salah satu bank yang merasakan efisiensi berkat inovasi digital adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Pada Mei 2021 rasio BOPO bank ini menurun dibandingkan posisi Desember 2020. BTN menargetkan hingga akhir tahun 2021 rasio BOPO diproyeksikan akan semakin turun hingga mencapai target di bawah 90 persen.

Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo mengklaim, pada masa pandemi ini transaksi melalui layanan digital banking atau e-channel perseroan mencapai 96 persen dari total transaksi. Dari total transaksi finansial melalui e-channel dan teller sebesar 200.885.753 transaksi dan total transaksi e-channel sebesar 192.183.992 transaksi.

“Kenaikan jumlah transaksi melalui e-channel itu mengindikasikan bahwa layanan mobile banking, internet banking dan cash management system (CMS) telah memudahkan nasabah dalam bertransaksi. BTN akan terus berupaya semakin memperkuat layanan digital banking di tengah pandemi Covid-19 yang masih belum usai,” kata Haru dalam pernyataannya di Jakarta pertengahan Juli lalu.

Ada enam fokus strategi yang dilakukan BTN untuk memperkuat layanan digitalnya. Pertama, akuisisi pengguna layanan digital BTN, baik nasabah baru dan nasabah existing serta meningkatkan transaksi dengan meningkatkan aktivitas pemasaran produk digital banking. Kedua, mengembangkan fitur layanan berbasis kebutuhan personal. Dengan demikian, nasabah bisa menikmati kebutuhan layanan terkini yang ada. Ketiga, akselerasi penambahan fitur dan layanan pembayaran serta layanan pembelian pada semua channel layanan digital.

Keempat, BTN akan membangun sistem layanan baru yang secara langsung dapat meningkatkan pengguna dan transaksi pada kanal layanan digital. Kelima, memperkuat layanan BTN Housing Ecosystem baik layanan bagi pengembang perumahan maupun masyarakat penghuni dari perumahan tersebut (pra-KPR, realisasi KPR, pasca-KPR) agar selalu terhubung dengan BTN. Terakhir, process acceleration, yaitu percepatan penambahan fitur, layanan pembayaran dan layanan pembelian pada semua kanal layanan digital dengan menerapkan proses partnership dan pengembangan aplikasi yang efisien dan efektif.

Tak mau ketinggalan, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) pun melakukan hal serupa. Salah satu anggota Himbara ini juga mampu menekan BOPO berkat inovasi digital dan automasi proses bisnis menjadi lebih efisien. Pada Mei 2021, BOPO BNI berada di angka 79,3 persen atau membaik dari posisi akhir tahun 2020 yang berada di angka 93,3 persen.

Corporate Secretary BNI Mucharom mengatakan, per Maret 2021, jumlah pengguna BNI Mobile Banking mencapai 8,56 juta atau tumbuh 58,4 persen dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 5,41 juta nasabah. Nilai transaksinya mencapai Rp 138 triliun pada Maret 2021 atau tumbuh 33,2 persen dibandingkan pada Maret 2020 yang hanya sebesar Rp 103 triliun.

Menurut Mucharom, tingginya animo pengguna BNI Mobile Banking karena fitur-fitur yang tersedia di dalamnya kian mempermudah nasabah. Misalnya Biometric Login, User-ID Auto Filling, Point+ Integration, Account Opening, Loan Aplication, Credit Card Integration, hingga tersedianya QR Payment. Ke depan, untuk memanjakan nasabahnya, BNI berencana menanamkan fitur Personal Finance Management hingga SME Solution Integration.

Selain BNI Mobile Banking, penguatan BNI Direct dan Integrated Portal juga menjadi salah satu langkah BNI untuk menjaga rasio BOPO. BNI Direct dirancang bagi nasabah untuk dapat melakukan transaksi perbankan secara menyeluruh menggunakan portal dan aplikasi yang meliputi fitur layanan Payment Management, Collecting Management, Liquidity Management, Value Chain Management, dan Open Banking Solution.

Terintegrasi

Perbankan swasta pun enggan ketinggalan. PT Bank Central Asia Tbk (BCA), misalnya, semakin getol melakukan inovasi digital sektor perbankan dan finansial. Fitur terbaru yang ditawarkan salah satu bank swasta terbesar di Indonesia itu adalah digital banking #DibikinSimpel dalam upaya mempermudah nasabah, termasuk bagi milenial saat bertransaksi perbankan. Hingga Maret 2021, layanan mobile banking BCA tercatat sebesar Rp 852 triliun. Angka tersebut tumbuh 37,1 persen secara tahunan. BCA juga terus memperkuat ekosistem finansial, penyempurnaan dan modernisasi dari infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki. Hal ini untuk mendukung keandalan dan keamanan berbagai layanan perbankan transaksi digital.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia (Persero) Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, digitalisasi bukan sekadar membangun kanal baru, tetapi juga ekosistem yang terintegrasi. Menurutnya, peralihan nasabah yang terbiasa internet banking dan mobile banking pun masih relatif susah karena masing-masing nasabah memiliki pandangannya sendiri. Ada yang berasumsi token dan pin masih lebih aman. Selain itu, karena sudah menjadi kebiasaan, pandangan mereka pun susah diubah.

“Jika aplikasi digital banking ingin user friendly, maka harus bisa menghadirkan semua yang dibutuhkan nasabah. Saat ini, BCA juga berupaya untuk memperkuat ekosistem digitalnya dengan memperkuat platform ekosistem dan kolaborasi fintech,” kata Jahja dalam Webinar bertajuk “Bank Digital: Solusi Kemudahan Bertransaksi di Tengah Pandemi” di Jakarta Juni lalu.

Tujuan kolaborasi dengan fintech itu menurut Jahja adalah untuk mendorong inovasi. Misalnya, bagaimana cara kerja fintech, cara mengatasi masalah, dan cara mendapatkan data. Sepanjang pandemi ini, Jahja mengklaim, BCA sudah bisa melakukan on-line open account, sekitar 11 ribu akun nasabah yang didaftarkan secara on-line tanpa harus datang ke cabang. Sejak sistem itu dikenalkan tahun lalu sudah 2,6 juta nasabah BCA yang berhasil membuka rekening on-line.

Dukungan literasi

Selain fokus berinovasi, seyogianya perbankan juga memiliki tanggung jawab untuk membangun literasi keuangan digital kepada masyarakat. Porsi akselerasi inovasi dan literasi keuangan digital haruslah seimbang, dan seirama. Sebab, faktanya saat tingkat literasi digital masyarakat Indonesia tergolong masih rendah.

Tahun lalu, di hadapan para pelaku fintech, Presiden Joko Widodo menyampaikan, tingkat literasi keuangan digital Indonesia baru mencapai 35,5 persen. Sementara berdasarkan survei Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), indeks literasi digital nasional ada di angka 3,47 dari skala 1-4. Hal ini menunjukkan bahwa indeks literasi digital RI ada di level sedang, tetapi belum mencapai tingkat yang baik.

Rendahnya literasi keuangan digital itu membuat masyarakat masih mudah tertipu oleh kejahatan siber (cyber crime), mulai risiko pencurian data pribadi, fraud, hingga kasus dana hilang nasabah di perbankan. Kejahatan itu terjadi bukan hanya semata-mata masalah keamanan sistem perbankan, tetapi sering kali karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang sistem keuangan digital.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, banyak pengaduan konsumen terkait layanan jasa keuangan digital, mulai dari kasus sederhana hingga kejahatan kompleks. Contohnya kasus pencurian nomor Personal Identification Number (PIN) dan One-Time Password (OTP) yang sering kali dilakukan melalui sambungan telepon. Untuk itu, penting bagi masyarakat untuk memahami keuangan digital agar bisa menggunakan layanan keuangan secara optimal sekaligus memahami manfaat, risiko serta hak dan kewajibannya. Dengan pemahaman yang memadai, konsumen tidak akan mudah ditipu atau menjadi korban kejahatan digital.

Topic

Ambil Berkah Ekosistem Konvensional

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok. BCA Syariah

 

Masih rendahnya literasi perbankan syariah, BCA Syariah andalkan dua strategi untuk terus berkembang.

 

Majalahpajak.net – Ekonomi yang mulai pulih berdampak positif pada kinerja perbankan syariah di Indonesia, salah satunya, pada PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah). Bank ini menutup kinerja perusahaan di 2021 dengan pertumbuhan positif dari sisi aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga (DPK).

Per Desember 2021, Aset BCA Syariah tumbuh 9,5 persen year-on-year (yoy) menjadi Rp 10,6 triliun dibandingkan Desember 2020 yang tercatat sebesar Rp 9,7 triliun. Peningkatan ini antara lain didukung oleh pertumbuhan DPK baik dari tabungan, giro dan deposito, yang mencapai Rp 7,7 triliun, meningkat 12,1 persen dibandingkan DPK di Desember 2020.

Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengungkapkan, BCA Syariah menerapkan beberapa strategi untuk mengembangkan perbankan syariah di tanah air. Di antaranya, menekan cost of fund dengan meningkatkan komposisi dana murah. Kalau cost of fund rendah, bank dapat menyalurkan pembiayaan dengan lebih kompetitif ke sektor yang potensial. Dengan meningkatnya volume pembiayaan yang berkualitas maka bank jadi makin profitable.

Kedua, BCA Syariah berkembang dengan memperkuat ekosistem yang telah ada pada BCA konvensional. Menurut Yuli, sebagian orang memilih bank syariah lantaran faktor belief (keyakinan), tetapi sebagian besar orang berpikir secara rasional, yaitu memilih bank syariah berdasarkan manfaat dan keunggulan yang ditawarkan bank. “Di titik itulah perbankan syariah harus bersaing dengan bank syariah lain, bahkan dengan bank konvensional,” ungkapnya kepada Majalah Pajak, Selasa (26/04).

Baca Juga: Menebar Berkah Pasar Modal Syariah

Untuk menarik minat masyarakat dalam menempatkan dananya, BCA Syariah terus berupaya meningkatkan fitur-fitur pada transaksi perbankan elektronik. Caranya dengan mengadopsi teknologi dan layanan yang saat ini ada di induk. “Agar transaksi antara nasabah BCA dengan nasabah BCA Syariah makin seamless,” tambah Yuli.

Porsi edukasi

Yuli menilai penting juga bagi industri perbankan syariah untuk memasifkan edukasi. Maklum, indeks literasi perbankan syariah secara nasional masih sekitar 9–11 persen. Artinya, dari setiap 100 orang, hanya 9 orang yang tahu tentang syariah. Padahal, perbankan syariah memiliki berbagai keunggulan di antaranya selaras dengan maqashid syariah atau tujuan-tujuan syariat Islam, yaitu memelihara agama, jiwa, pikiran, keturunan, dan harta. Maqashid syariah koheren dengan konsep ESG yang dirumuskan pemerintah.

“Jadi, harusnya buat bank syariah, menerapkan ESG bukanlah hal baru. Mengembangkan ekonomi dengan menjaga keseimbangan lingkungan, itu semua turunan dari maqashid syariah,” jelas Yuli.

“Di dalam sistem perbankan syariah, dilihat benar, ‘Kamu kebutuhannya apa? Oh, jual-beli, oke pakai murabahah. Oh, kamu sewa, oke pake ijaroh.’ Bisa pakai IMBT yang kemudian IMBT ini diterjemahkan oleh orang, ‘Oh, kalau pakai IMBT karena dia sistemnya itu sewa menyewa, maka bisa sebagai tax planning.’ Nah, itu salah satu keunggulan. Karena memang secara nature kebutuhan nasabah itu sebenarnya beda-beda,” ungkap Yuli.

Masyarakat beranggapan akad di perbankan syariah berbeda-beda sehingga terkesan rumit. Padahal, itu berkaitan dengan spesifikasi kebutuhan transaksi berdasarkan prinsip Islam. Ini menandakan pentingnya edukasi terkait akad pembiayaan yang ada di perbankan syariah. “Kita di perbankan syariah memang harus punya porsi besar untuk edukasi,” tutur Yuli.

Baca Juga: “Fastabiqul khairat” di Industri Halal

Pentingnya sinergi

Edukasi dan sosialisasi layanan syariah juga dikemas dalam berbagai kegiatan. BCA Syariah memanfaatkan ekosistem yang ada dengan menguatkan literasi kepada masyarakat melalui kegiatan sinergi dengan regulator dan event yang diselenggarakan oleh BCA sebagai induk usaha.

“Mungkin familiar dengan BCA Expoversary yang di situ KPR BCA bunganya 2,65 persen. BCA Syariah hadir menawarkan solusi pembiayaan KPR iB dengan margin yang sama. Supaya orang lebih aware bahwa produk syariah sama menariknya. Ekosistem itu sangat penting. Nah, kita BCA Syariah ini beruntung karena selalu bisa bersinergi dengan BCA. Kalau bank syariah yang sendirian membangun ekosistem itu, luar biasa mahal,” jelasnya.

BCA Syariah mengapresiasi langkah pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan yang kini tengah melakukan kegiatan literasi dalam berbagai bidang. Apalagi, kini telah berdiri bank syariah yang besar, yakni Bank Syariah Indonesia (BSI).

“BSI itu fungsinya sebagai lokomotif dan sebagai literasi juga. Coba enggak ada yang besar, orang enggak akan sadar tentang perbankan syariah,” kata Yuli.

Menurut Yuli, mula-mula orang akan sadar syariah, kemudian mencari alternatif di lingkungan perbankan syariah.

“Begitu sadar syariah, orang akan cari bank syariah dengan banyak keunggulan. Dengan dukungan ekosistem induk usaha BCA, kami berharap dapat men-drive orang untuk cari tahu BCA Syariah,” pungkasnya.

Lanjut baca

Topic

Tanam Inovasi di Lahan Subur

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Istimewa

 

Keuangan syariah menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di industri keuangan global. Pemerintah berjanji mendukung.

 

Majalahpajak.net – Kementerian Keuangan mencatat total aset keuangan syariah Indonesia pada akhir Desember 2021 mencapai 143,7 miliar dollar AS atau setara Rp 2.061,52 triliun (kurs Rp 14.346 per dollar AS), tumbuh sebesar 13,82 persen.

“Pangsa pasar keuangan syariah domestik tahun lalu mencapai 10,6 persen. Pertumbuhan aset dan pangsa pasar keuangan syariah ini menunjukkan potensi yang sangat kuat di sektor keuangan berbasis syariah dan juga selaras dengan implementasi Environment, Social, and Governance (ESG),” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada kegiatan Global Islamic Invesment Forum (GIIF) di Jakarta, Jumat (25/03).

Sri Mulyani mengungkapkan fokus pemerintah saat ini untuk mempromosikan lebih banyak instrumen keuangan sosial seperti Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) guna menciptakan potensi ekonomi yang cukup besar. Upaya ini akan terus dilakukan agar seluruh potensi ekonomi yang dimiliki bisa diraih oleh Indonesia. Di sisi lain, makin meluasnya penerapan prinsip-prinsip ESG dalam keuangan syariah Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia sangat selaras.

“Kami percaya bahwa kesesuaian nilai dan prinsip Islam dengan prinsip ESG akan memberikan lahan subur bagi pengembangan investasi yang berbasis dan konsisten dengan ESG, tetapi juga sesuai dengan nilai Islam,” terangnya.

Keuangan syariah telah menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di industri keuangan global, melampaui pasar keuangan konvensional. Global Islamic Economic Report (2020) memperkirakan nilai aset keuangan syariah meningkat 13,9 persen pada 2019, dari 2,52 triliun dollar AS menjadi 2,88 triliun dollar AS. Di masa pandemi, keuangan syariah di Indonesia pada 2021 tumbuh positif sejalan dengan tren global yang meningkat. Dari sisi perbankan pada Mei 2021, aset perbankan syariah tumbuh 15,6 persen (year-on-year) atau mencapai Rp 598,2 triliun.

Baca Juga: “Golden Time” Ekosistem Syariah

“Kisah sukses Indonesia sebagai pasar berkembang untuk terus berinovasi dalam instrumen keuangan, baik itu komitmen terhadap lingkungan maupun keyakinan kami pada syariah, merupakan salah satu perkembangan terpenting yang akan terus kami kembangkan dan dukung,”paparnya.

Prinsip keadilan

Pemerintah melihat adanya potensi pengembangan yang sangat besar dalam sektor keuangan syariah karena menekankan prinsip atau nilai Islam seperti keadilan pada praktik keuangan syariah terutama melalui skema risk-sharing (berbagi risiko). Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu, keuangan syariah merupakan cara, kerangka, yang mengatur aset dan transaksi berdasarkan prinsip keadilan dan kerelaan. Prinsip-prinsip tersebut akan terimplementasi ke dalam proses pengembangan keuangan syariah, terutama dalam mendesain skema berbagi risiko yang semakin baik.

Potensi keuangan syariah juga terlihat dari pasar modal syariah dengan jumlah investor yang terus meningkat secara signifikan. Pada Juli 2021, outstanding sukuk negara Indonesia tercatat sebesar Rp 1.076,01 triliun atau tumbuh sebesar 10,75 persen dan diperkirakan akan terus tumbuh di masa mendatang.

Di pasar internasional, Indonesia berada di antara para kontributor utama penerbitan sukuk global. Sukuk (negara) menjadi salah satu sumber pembiayaan yang dapat diandalkan. Dalam periode 2013-2021, terdapat 3.447 proyek yang dibiayai melalui sukuk. Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengoptimalkan pasar keuangan syariah dengan mengembangkan lebih banyak varian pembiayaan melalui sukuk atau blended finance, seperti CWLS dan Green Sukuk.

Baca Juga: Kembangkan Tekfin Syariah Lewat Kerja Sama

Seiring perkembangan ekosistem financial technology, (tekfin), aset tekfin syariah di Indonesia pada Juni 2021 mencapai Rp 134 miliar atau sekitar 3 persen dari total aset Sukuk di Indonesia. Meski kontribusi terhadap keseluruhan aset tekfin relatif kecil, aset tekfin syariah telah meningkat lebih dari 50 kali lipat dalam 2,5 tahun terakhir.

Global Islamic Fintech Report (2021) mencatat, Indonesia merupakan salah satu negara terbesar dalam hal market size transaksi tekfin syariah yang mencapai 2,9 miliar dollar AS selama tahun 2020. Indonesia berada di posisi 5 besar setelah Arab Saudi (17,9 miliar dollar AS), Iran (9,2 miliar dollar AS), Uni Emirat Arab (3,7 miliar dollar AS), dan Malaysia (3 miliar dollar AS).

Inovasi produk

Sebelumnya, Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyampaikan tentang urgensi keuangan berkelanjutan di Indonesia sebagai dukungan menyeluruh dari industri jasa keuangan terhadap pertumbuhan berkelanjutan yang dihasilkan dari keselarasan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Oleh karenanya, ia mendorong perbankan syariah untuk terus melakukan inovasi dan mengembangkan produk keuangan berkelanjutan, salah satunya melalui Green Sukuk. Instrumen pendanaan ini mendukung proyek-proyek berwawasan lingkungan untuk memitigasi dan mengadaptasi risiko perubahan iklim.

Adapun Industri yang termasuk dalam kategori berkelanjutan meliputi energi terbarukan, efisiensi energi, konservasi sumber daya alam, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan air limbah, dan adaptasi perubahan iklim.

Lanjut baca

Topic

Awalilah dengan Inisiatif Global

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa dan Dok. KNEKS

Indonesia optimistis mampu meraih target sebagai pusat industri halal di 2024 sekaligus pionir inisiatif industri halal. Dari mana optimisme itu?

 

Majalahpajak.net – State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) 2022 yang dirilis oleh DinarStandard, di Dubai pada akhir Maret lalu menyebutkan, Indonesia mampu mempertahankan posisinya pada The Global Islamic Economy Indicator (GIEI). Indonesia menduduki peringkat keempat setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirate Arab.

Sementara, peringkat indikator Halal Food naik ke posisi dua tertinggi di dunia setelah Malaysia; yang salah satu faktornya disebabkan adanya peningkatan ekspor makanan halal ke negara-negara OKI sebanyak 16 persen. Melihat capaian ini, agaknya  Indonesia dapat percaya diri bahwa ia akan menjadi pusat halal dunia—tentu jika diiringi dengan optimalisasi pengembangan industri halal.

SGIER 2022 mengungkap kalau sebanyak 1,9 miliar Muslim dunia di tahun 2021 membelanjakan sekitar 2 triliun dollar AS atau setara dengan Rp 29,33 kuadriliun di sektor makanan, farmasi, kosmetik, mode, perjalanan, dan pariwisata. Pengeluaran ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 8,9 persen dari tahun 2020; dengan aset keuangan Islam diperkirakan tumbuh menjadi 3,6 triliun dollar AS di tahun 2021 atau naik 7,8 persen dari 3,4 triliun dollar AS pada 2020.

Hal itu menandakan ekonomi syariah dan industri halal dipandang sebagai sumber mesin pertumbuhan ekonomi baru dalam beberapa tahun terakhir, dan menjadi bagian inti ekonomi kebijakan pemulihan pandemi Covid-19.

Pusat produsen halal

Dengan peredaran nilai yang super besar itu, tidaklah berlebihan apabila Indonesia juga bisa mengambil porsi kue yang besar. Dus, Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin menyampaikan, Indonesia perlu untuk turut serta, fastabiqul khairat—berlomba-lomba dalam kebaikan—melalui peningkatan kualitas dan produktivitas industri halal, agar produk nasional memiliki daya saing dan diminati tidak hanya oleh konsumen domestik, tetapi juga oleh masyarakat global.

Ia juga pernah menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia pada 2024 akan menjadi produsen halal terbesar dunia. Mengingat, Indonesia adalah negara dengan populasi penganut Islam terbesar di muka bumi—dari jumlah 270 juta penduduk, sekitar 85 persennya Muslim—yang bisa menjadi pasar terbesar untuk produk dan layanan halal.

Baca Juga: Kembangkan Tekfin Syariah Lewat Kerja Sama

“Kita yakin, kenapa? Karena kita punya kekuatan dan peluang. Konsumen dalam negeri kita pasti sudah besar, tinggal bagaimana kita menjadi produsen halal sebagai global hub-nya,” ucap Ketua Harian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) ini.

Ma’ruf Amin mengemukakan, kekuatan dan peluang yang dimaksud salah satunya adalah sektor ekonomi dan keuangan syariah nasional telah teruji mampu menyangga ekonomi Indonesia selama pandemi, bahkan berjalan secara inklusif melalui pemberdayaan ekonomi seluruh lapisan masyarakat.

Selanjutnya, faktor jumlah penduduk dan permintaan, serta gaya hidup halal yang semakin marak di Indonesia bahkan dunia, dipastikan membuka peluang yang besar bagi pertumbuhan produk halal.

“Bagi umat Islam sendiri, mengonsumsi produk halal sejatinya bukan hanya soal keimanan, tetapi juga terkait dengan aspek kesehatan dan keamanan produk,” imbuhnya.

Terakhir, kekuatan sektor keuangan syariah harus dapat bersinergi untuk mengembangkan sektor industri produk halal, khususnya dukungan aspek pembiayaan.

Direktur Industri Produk Halal KNEKS Afdhal Aliasar tak menampik kalau populasi Indonesia yang besar itu masih berada di sisi konsumen. Katanya, kita pengimpor produk halal dari banyak negara setiap tahunnya, mencapai hampir 150 miliar dollar AS. Namun, mengamini Ma’ruf Amin ia masih menganggap target itu masih realistis dan secara optimis bisa tercapai.

“Kalau kita lihat datanya, ada suatu pergerakan yang nyata bahwa di bidang industri halal, khususnya di bidang halal food, Indonesia memperlihatkan suatu kemajuan yang eksponensial. Nomor 1-nya memang masih dipegang Malaysia, tapi Insya Allah akan kita kalahkan, karena kita besar sekali,” kata Afdhal kepada Majalah Pajak secara virtual, Senin (25/4).

Di sisi lain, potensi industri halal dalam negeri sudah sangat besar. Afdhal mengklaim, angka halal value chain di sektor pertanian, agrikultura, perikanan, makanan-minuman, termasuk pariwisata mencapai hampir 20 persen dari PDB. Namun, di luar itu terdapat banyak sekali produk halal yang tidak memerlukan sertifikasi halal, tetapi belum tercatat sebagai produk halal.

“Contoh, crude palm oil (CPO) dan produk turunannya adalah produk halal karena terbuat dari nabati, prosesnya juga tidak ada kontaminasi dengan produk-produk yang nonhalal. Dan itu angkanya besar, jauh lebih besar daripada Malaysia punya ekspor atau pun negara lain,” urainya.

Karena itu, KNEKS telah bekerja sama dengan Kementerian Keuangan dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, lembaga Indonesia National Single Window, dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) membuat program kodifikasi data sertifikasi halal ke dalam data ekspor dan impor Indonesia.

“Alhamdulillah, kita berhasil menyinkronkan data sertifikasi halal dengan data di pelaporan ekspor barang (PEB) Ditjen Bea dan Cukai, dan lembaga Indonesia National Single Window,” ucapnya.

Dengan begitu, Indonesia akan segera bisa mendeteksi seberapa banyak pergerakan produk perdagangan halal Indonesia dalam dan luar negeri. Menurutnya, data statistik sangat penting untuk menunjang kebijakan-kebijakan berikutnya yang lebih valid.

Baca Juga: Lembaga Zakat, Kemenkeu, dan Kemensos harus Kolaborasi

“Kan, kita harus mampu melihat permintaan konsumen tidak hanya dari sisi jumlah, tapi preferensi konsumen perlu dipahami betul; supaya produk kita bisa kompetitif di pasar internasional. Ke depannya, ini menjadi suatu trigger inisiasi global untuk penguatan halal integrity—bagaimana integritas produk halal bisa dipercaya di perdagangan global,” jelasnya.

Afdhal memastikan, dengan kodifikasi data elektronik, pertukaran data sertifikasi halal bisa dilakukan secara digital secure dan akan meningkatkan integritas perdagangan produk halal dunia. Dengan demikian, ia berharap Indonesia bisa jadi pionir hal baru bagi kemajuan industri halal dunia.

“Ini inisiatifnya Indonesia. Jadi, kalau kita mau jadi pemimpin industri halal dunia, pusat produsen halal dunia, harus punya inisiatif global. Kita harus sampaikan kepada negara konsumen halal dunia, kalau Indonesia itu leader, we are not the follower—harus menginisiasi sesuatu hal yang baru, yang bisa membuat industri halal dunia bisa menjadi lebih baik.”

Lanjut baca

Populer