Connect with us

Management

Indonesia dan Krisis Kepemimpinan

Diterbitkan

pada

Hasil penelitian terkini dari lembaga konsultasi Right Management, menunjuk sedikitnya jumlah high potential leaders untuk mengisi potensi penting di perusahaan. Tentu kondisi ini menjadi keprihatinan para top executive. Dari 2.200 sampel pemimpin bisnis di 13 negara dari 24 industri, hanya 13 persen saja yang menurut mereka program pengembangan kepemimpinannya menghasilkan pemimpin yang dibutuhkan perusahaan di masa depan. Kondisi ini berlaku juga di Indonesia.

Kegagalan mengembangkan high potential leaders tidak hanya berakibat perusahaan akan mengalami krisis kepemimpinan di masa dating, tapi juga menghamburkan waktu dan uang. Berdasarkan survey McKensey, perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat mengeluarkan dana hingga 14 triliunan dollar se tahun untuk program pengembangan kepemimpinan. Di Indonesia untuk program sejenis yang customize mencapai 100 juta rupiah per orang, per program. Sedangkan untuk program magister manajemen di sekolah manajemen terkemuka mencapai 100 juta per orang untuk jangka waktu 2 tahun. Hal ini menunjukkan dua hal. Pertama, minimnya ketersediaan high potential leaders, kedua, program pengembangan kepemimpinan yang dijalankan oleh banyak perusahaan saat ini tidak berjalan efektif.

Ada lima hal yang menyebabkan program pengembangan kepemimpinan tidak mencapai sasaran. Yang pertama karena gagal mengidentifikasikan tantangan bisnis. Daniel Goleman, mahaguru Emotional Intelligence memberi istilah “VUCA” untuk menggambarkan kondisi bisnis masa depan, yakni volatile, uncertain, complex, dan ambiguous. Untuk menghadapi tantangan tersebut kompetensi yang dibutuhkan pemimpin masa depan meliputi Strategic Orientation, Market Insight, Results Orientation, Customer Impact, Collaboration and Influence, Organizational Development, Team Leadership dan Transformational Leadership. Kegagalan mengidentifikasikan tantangan masa dating berakibat pada kegagalan berikutnya yaitu, kegagalan mendesain pengembangan kompetensi yang tepat.

Kedua, kegagalan mendesain program. Setelah mengetahu kebutuhan kompetensi pemimpin masa dating, langkah selanjutnya adalah melakukan assessment kompetensi terhadap kandidat pemimpin untuk mendapatkan gap kompetensi yang dimiliki kandidat. Gap kompetensi tentunya akan berbeda satu dengan kandidat lainnya, oleh karena itu seharusnya program pengembangan juga didesain berbeda. Namun sebagai panduan umum dapat menggunakan prinsip dari Center for Creative Leadership 10:20:70 yaitu 10 persen in class training, 20 persen feedback dan coaching, dan 70 persen adalah real experience.

Ketiga, mengabaikan peran manajer lini. Sering peran manajer lini terlupakan, padahal merekalah yang setiap saat berinteraksi dengan peserta di lapangan. Merak secara langsung berinteraksi dengan para kandidat, oleh karenanya manajer lini ini seharusnya diajak untuk ikut mengembangkan kandidat pemimpin dan mengontrol implementasinya.

Ke-empat, melupakan strategi “human capital”. Banyak kejadian mengindikasikan bahwa program pengembangan kepemimpinan dalam strategi human capital diabaikan. Peserta merasakan, program tersebut tidak ada keterkaitannya dengan career management, performance management, serta reward and punishment. Lebih parah lagi, pada praktiknya banyak ditemukan bahwa kolega yang tidak ikut program pengembangan ternyata diangkat pada posisi kunci. Sementara yang ikut tidak mendapatkan posisi tersebut.

Terkahir yang kelima, tidak dukungan “top management”. Tanpa dukungan top management membuat kandidat leader kehilangan keyakinan bahwa program ini strategis. Dukungan nyata berupa konsistensi kebijakan pada saat melaksanakan program ini, akan membuat semua pihak mendukung suksesnya propgram pengembangan kepemimpinan.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Strategi Efisiensi di Tengah Krisis Ekonomi | Majalah Pajak

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Management

Keluar dari Jebakan Likuiditas

Diterbitkan

pada

Penulis:

Aries Heru Prasetyo, Ph.D, CRMP, Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM

Agar selamat hingga pandemi berakhir, pengusaha patut mencermati kebijakan likuiditas secara lebih disiplin.

 

Penulis: Aries Heru Prasetyo, Ph.D, CRMP, Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM

 

Salah satu pembelajaran paling berharga selama masa pandemi ini adalah meluputkan diri dari jebakan likuiditas. Betapa tidak, sejak pandemi berlangsung, gempuran pertama terjadi dari sisi penurunan daya beli masyarakat sebagai akibat sebagian kalangan memilih untuk tidak membelanjakan dana yang dimiliki, dan sebagian lagi mengalami penurunan pendapatan.

Maka dalam sekejap mata, realitas itu menempatkan perusahaan dalam posisi sulit. Hanya dalam hitungan bulan, animo pasar menunjukkan bahwa mereka hanya mampu membeli produk secara nontunai. Seakan tak ada pilihan lain, transaksi penjualan diwarnai dengan mekanisme kredit.

Sayangnya, tingginya pencatatan dari sisi pendapatan itu tidak diiringi dengan uang kas yang masuk ke dalam perusahaan. Di sana-sini permintaan untuk penjadwalan ulang terus terjadi. Dengan kata lain nilai piutang perusahaan meningkat drastis.

Fenomena tersebut sebenarnya cukup mencekam. Betapa tidak, pada catatan laporan kinerja keuangan tak tampak permasalahan yang begitu berarti dari sisi modal kerja. Ada banyak perusahaan yang melihat bahwa nilai aset lancarnya masih jauh di atas utang lancarnya. Artinya, ketika kewajiban pelunasan utang jangka pendek ramai-ramai jatuh tempo, perusahaan masih mempunyai kemampuan untuk melunasinya. Namun kenyataannya, nilai kas perusahaan sudah di ambang batas bawah. Inilah kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Beberapa rekan pengusaha muda tak segan-segan menggunakan tabungan perusahaan hingga menyuntikkan modal kembali dengan dana pribadinya. Itu semua dilakukan untuk bertahan di masa sulit ini. Kini pertanyaannya, sampai kapan kita mampu menggunakan dana internal itu untuk mendukung operasional perusahaan?

Yang pasti harus adalah menciptakan efisiensi. Mulai berhitung pengeluaran mana saja yang dapat ditekan. Tak jarang pilihannya jatuh kepada pengurangan tenaga kerja. Alih-alih menyelesaikan masalah, opsi itu malah berujung pada munculnya problematika yang jauh lebih luas.

Sekarang, belajar dari semua pengalaman tersebut, sebagai pengusaha, kita kiranya patut mencermati kebijakan likuiditas secara lebih disiplin, misalnya dengan memerhatikan sisi likuiditas perusahaan sehari-hari.

Likuiditas perlu didefinisikan secara lebih tegas, yakni ketersediaan uang tunai perusahaan. Sebab, piutang belum sepenuhnya menjadi bagian dari dompet kita sampai benar-benar tertagih dan dana tunainya masuk ke dalam rekening perusahaan. Bila itu yang menjadi pemahaman kita, maka sekarang fokuslah pada penjualan tunai.

Bagi sebagian dari kita mungkin menjual produk secara tunai merupakan tantangan tersendiri. Namun hanya inilah jalan satu-satunya hingga perekonomian membaik. Lebih baik kita menurunkan sedikit target laba dari setiap unit yang terjual agar sisi kesejukan dapat mengalir deras ke rekening perusahaan.

Kedua, kebijakan kredit kiranya perlu diterapkan secara tegas dan disiplin. Evaluasi daya bayar konsumen secara lebih serius. Bila perlu, pemanfaatan agunan dikembalikan ke posisinya yang penting untuk jaga-jaga kalau-kalau si konsumen tiba-tiba kehilangan kemampuannya.

Ketiga, memperkuat permodalan. Sekaranglah saatnya pemilik perusahaan menunjukkan kasih sayangnya kepada perusahaannya secara lebih nyata. Bila perusahaan masih mempunyai dana lebih, selesaikan utang lebih dini agar beban biaya modal perusahaan dapat menurun.

Inti dari ketiga mekanisme tersebut adalah agar perusahaan dapat mempunyai kelincahan dalam beroperasi, setidaknya hingga pandemi ini dinyatakan berakhir.

Lanjut baca

Management

Rantai Pasok Antariksa: Lompatan Kuantum untuk Blockchain

Diterbitkan

pada

Ricky Virona Martono Core Faculty PPM School of Management

Teknologi blockchain tidak lagi sekadar menghubungkan produsen, distributor, dan konsumen, tapi juga dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih ekstrem.

 

Teknologi dalam rantai pasok antariksa menghubungkan pesawat ulang-alik dengan stasiun di Bumi dan di luar angkasa. Di setiap pesawat dan stasiun pun terdapat ribuan jenis komponen yang saling terkait fungsinya, serta terhubung sampai ke pemasok untuk memantau kinerja dan perawatannya.

Sebelum teknologi digunakan pada proses operasi di angkasa, terjadi banyak sekali proses, yakni procurement, production and quality management, compliance, risk assessment, dan innovation, sehingga dibutuhkan infrastruktur yang kuat, aman, dan saling terintegrasi.

Teknologi blockchain dapat memperkuat dan mempercepat berbagai proses dari manufaktur sampai dengan peluncuran roket, menghubungkan berbagai pihak mulai dari tahap desain (misalnya oleh perguruan tinggi), perakitan, peluncuran, sampai kembali lagi ke Bumi (oleh pihak pemerintah dan perusahaan swasta).

Teknologi blockchain tidak lagi sekadar menghubungkan produsen, distributor, dan konsumen, tapi juga dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih ekstrem, yaitu menghubungkan manusia dan peralatan pada jarak ratusan ribu kilometer.

Peran blockchain dalam industri luar angkasa (PwC Analysis, 2019) adalah sebagai berikut:

  1. Space finance, mengurangi penghalang dalam rangka menggalang modal, dengan cara membuka akses seluas-luasnya bagi sistem keuangan.
  2. Space asset tokenization, menerapkan sistem token-based ownership bagi seluruh aset seperti spacecrafts dan satelit.
  3. Space industry procurement, mendorong proses procurement yang efisien dan sistem audit yang kuat ke seluruh pihak di berbagai negara.
  4. Manufacturing supply chain management, meningkatkan visibility, traceability, dan accountability dari berbagai jenis barang untuk kebutuhan menjelajah angkasa.
  5. Secure satellite communication, menggunakan satelit-satelit sebagai yang menjalankan fungsi blockchain untuk proses penyimpanan dan pengolahan.

Kemampuan untuk memantau secara tepat dan mengelola pergerakan pesawat di angkasa dan komponen di Bumi teramat sangat penting. Kesalahan kecil saja dapat mengakibatkan bencana. Bukan tidak mungkin kesalahan kecil ini dapat memaksa batalnya sebuah proyek dan peningkatan biaya. Sebuah kabel elektronik, atau baut yang kurang kencang, dapat mengakibatkan penundaan sebuah proyek selama beberapa hari.

Peran blockchain sangat penting untuk memantau potensi penghambat. Pada industri pesawat terbang, perusahaan Boeing sudah memanfaatkan teknologi blockchain untuk mengefisienkan proses operasinya dengan tetap menjaga kualitas.

Sebagai ilustrasi, sebuah pesawat Boeing 737 terdiri dari ratusan ribu komponen yang diproduksi oleh ratusan pemasok di dalam dan luar negeri. Targetnya adalah, secara rata-rata, merakit ratusan ribu komponen tersebut menjadi satu buah pesawat per hari. Sementara itu, sebuah pesawat luar angkasa dirakit dari 2,5 juta komponen yang diproduksi oleh ribuan pemasok. Dengan demikian, tidak heran jika perusahaan swasta ikut terlibat. SpaceX, misalnya, mampu memproduki sendiri sekitar 70 persen dari komponennya, dan mengalihdayakan produksi 30 persen komponen lainnya. SpaceX pun mampu mendaur ulang komponen yang telah digunakan, untuk dipakai pada proyek peluncuran pesawat luar angkasa berikutnya.

Untuk dapat menggunakan lagi komponen yang sudah dipakai, tentunya perlu pengawasan yang baik pada ribuan komponen agar sesuai standar kualitas SpaceX (compliance) sejak dari produksi bahan mentah, manufaktur, peluncuran pesawat, dan proses recycle. Teknologi blockchain adalah jawabannya.

Di sisi lain, karena industri ruang angkasa menggunakan teknologi blockchain, maka ancaman paling serius adalah risiko cyber di angkasa. Dan karena yang terlibat dalam industri ini adalah negara dan swasta maka ancaman cyber ini menjadi ancaman bagi infrastruktur internasional seperti pembajakan, pencurian data, dan penggunaan data secara ilegal.

Pada tahun 2015 ada kesepakatan terkait cyber dan space materials dari 42 negara, yaitu Wassenaar Arrangement. Sementara itu, langkah dari United Nations (UN) adalah membentuk Committee on Peaceful Uses of Outer Space untuk melindungi objek di angkasa dari tindakan yang ilegal.

Bukan hanya berperan sebagai penghubung manusia dan teknologi, teknologi blockchain membantu peran membentuk hub/gateway di luar angkasa, misalnya dalam rangka umat manusia menuju Planet Mars.

Lanjut baca

Management

Rantai Pasok Antariksa: Batas Terakhir

Diterbitkan

pada

Rantai pasok berkembang drastis: dari sekadar efisiensi ruang atau integrasi sistem informasi dan profit, menjadi kendaraan ambisi manusia menjelajah angkasa.

Keingintahuan manusia dan perkembangan teknologi mendorong usaha-usaha manusia menjelajah langit dan luar angkasa. Berbagai tujuan dan tantangan dalam eksplorasi langit memaksa manusia berpikir bagaimana mengirim manusia, peralatan dan teknologi, pesawat luar angkasa (spacecraft), dan berbagai jenis barang pendukung (makanan, air, oksigen untuk manusia) dari Bumi ke antariksa dan kembali lagi secara aman, efisien, dan kinerja yang konsisten. Jangan berharap keberhasilan akan tercapai jika masih mengutamakan faktor biaya sebagai tujuan yang akan dicapai.

Menurut American Institute of Aeronautics and Astronautics (AIAA), Space Supply Chain merupakan strategi design and development, akuisisi (teknologi dan inventori), penyimpanan, pergerakan dan distribusi, perawatan, dan disposisi materi di angkasa, pergerakan manusia untuk tujuan eksplorasi dan medis, dan kontrak kerja sama pengadaan berbagai material pendukung, untuk tujuan menuju angkasa.

Tujuan utama eksplorasi the final frontier (batas terakhir) ini adalah mengirim manusia dan teknologi ke luar angkasa dengan beban yang paling optimum dengan target pengembangan penelitian, komunikasi via satelit, potensi teknologi di masa depan.

Penelitian dari Florida Institute of Technology menunjukkan bahwa dalam industri ini terdapat 1.500 pemasok yang berperan, ada 84 satelit dan roket yang diluncurkan pada tahun 2011, biaya untuk mengirim satu roket ke orbit Bumi sebesar 316 juta dollar AS, dan bujet untuk Global Space Economy Commercial Revenues and Government Budget di tahun 2011 sebesar 289,77 miliar dollar AS.

Dari gambaran di atas, rantai pasok antariksa diperkirakan menjadi sebuah proyek operasi jaringan rantai pasok terbesar yang pernah dilakukan manusia. Ini adalah sebuah dunia dengan peluang tanpa batas, yang bukan sekadar melakukan pengiriman manusia (astronaut), makanan, air, oksigen, sumber energi dan komponen (suku cadang) pesawat ulang alik.

Jaringan rantai pasok antariksa dimulai dengan kebutuhan bahan mentah yang digali dari alam, yang menyebar di berbagai negara. Contohnya adalah kebutuhan alumunium dan titanium. Berbagai bahan mentah ini dikirim ke beberapa lokasi manufaktur pesawat dan berbagai peralatan, yang juga menyebar di berbagai negara. Setelah itu dirakit ke satu wilayah, baru kemudian dikirim ke luar angkasa.

Yang paling mendekati adalah sistem rantai pasok pesawat terbang, di mana berbagai komponen didesain dan diproduksi di berbagai negara, kemudian dikirim ke satu negara yang merakit semuanya.

Tantangan berikutnya adalah proses kembali (return) ke Bumi, proses pembuangan sampah, dan daur ulang komponen untuk proyek berikutnya. Di belakangnya adalah proses persiapan modal, teknologi informasi, dan sumber daya manusia yang akan dikirim ke angkasa dan yang memantau di Bumi. Kenyataannya, tidak ada satu pihak yang mampu mengerjakan ini semua sendiri saja, persis seperti pada kolaborasi berbagai perusahaan dalam memproduksi pesawat terbang.

Jika pada tahun 1960-an, NASA berhasil mengirim manusia pertama ke Bulan, maka saat ini kita patut menyadari bahwa industri angkasa luar telah berubah dari kebanggaan capaian sebuah negara menjadi kolaborasi erat antarpihak yang memiliki potensi kontribusi nyata.

Semakin banyak negara dan perusahaan swasta yang berperan dalam eksplorasi angkasa dan bukan lagi sekadar bentuk kompetisi dari negara-negara adidaya. Pengembangan teknologi yang rumit bukan lagi hanya milik pemerintah.

Contohnya adalah Massachusetts Institute of Technology Interplanetary Supply Chain Management and Logistics Architectures (MIT IPSCM & LA) dengan proyek pengembangan terintegrasi dalam rantai pasok antraplanet pada eksplorasi angkasa yang berkelanjutan dalam rangkaian Bumi-Bulan-Mars. Kemudian, kolaborasi China Aerospace Industry Corporation (CASC), Indian Space Research Organisation (ISRO) dan European Space Agency (ESA) untuk meningkatkan efisiensi space operations.

Kolaborasi lainnya adalah pengadaan dan perawatan peralatan elektronik dan komponen untuk satelit, peralatan sinyal analog, peralatan pengamatan bumi, satelit komunikasi, dan navigasi. Selain itu, perusahaan swasta seperti SpaceX dan Arianespace melakukan riset peluncuran roket dengan biaya efisien dan memanfaatkan teknologi yang dapat didaur ulang (recycle).

Rumitnya jaringan (network) dan kolaborasi rantai pasok antariksa ini tentunya sepadan dengan benefit bagi umat manusia di masa depan.

Lanjut baca

Populer