Connect with us

Tax Light

INDIRA

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

 

Indira adalah soal rasa keadilan—kesadaran akan nilai buah keselarasan dan keseimbangan di antara semua pihak untuk menikmati sesuatu yang menjadi haknya. Ia akan muncul manakala ada sesuatu yang kurang pada tempatnya. Lantas, bagaimana harus menyikapinya?

 

Membaca kata Indira, terbayang sosok wanita besi di India, bernama Indira Gandhi. Indira jelas tidak mengingatkan pada alam, tetapi pada kata sifat. Dalam bahasa Hindi, Indira berarti “Perasaan pada keadilan”, bila diberikan sebagai nama anak perempuan. Kenapa tertarik kepada keadilan? Seperti kita tahu, bulan Juni adalah awal tahun ajaran baru. Saat ini para orang tua yang mencari sekolah SMP dan SMA bagi anaknya dihadapkan pada jalur keadilan yang meresahkan. Pertama, gunakan jalur prestasi, yang hanya berkisar 5 persen dari seluruh siswa yang diterima. Jalur prestasi dibagi dua, dari hasil Ujian Nasional, dan penghargaan prestasi yang bisa ditunjukkan melalui sertifikat lomba berjenjang.

Kita tahu, nyaris seluruh siswa membayangkan UN sebagai momok. Ngeri. Akhirnya, mereka memilih lepaskan jalur ini karena ada jalur berikutnya. Jalur kedua, adalah jalur zonasi. Dan inilah jawaban keadilan itu. Sekolah favorit tidak bisa mendominasi kecerdasan intelektual karena jalur ini mendominasi 90 persen penerimaan siswa. Bagaimana kalau rumah saya jauh dari sekolah yang berkualitas baik? Maka, mendaftarlah di sekolah yang ada. Anggap itu sekolah terbaik buat ananda kita. Jadi, sekolah tidak bisa memilih dari hasil ujian siswa atau prestasi? Tidak juga, ada yang namanya jalur kombinasi. Pendaftaran bisa melalui hasil prestasi dan zonasi, misalnya.

Masih resah? Ada berita gembira dengan prinsip keadilan ini. Tersebutlah jalur terakhir berupa kepindahan orang tua yang berkisar 5 persen. Berbahagialah para orang tua yang merupakan pegawai BUMN atau ASN apabila dimutasi mendekati tahun ajaran baru karena sekolah yang diminati anak mempunyai pintu terbuka, walaupun tetap saja ada seleksi yang lain berupa nilai dan pembuktian kecerdasan intelektual melalui piagam kejuaraan atau sertifikat. Namun kebijakan pendidikan yang lebih mementingkan keadilan ini, baik dicermati seluruh instansi kementerian dan lembaga yang akan mengeluarkan Surat Keputusan Mutasi. Ketika dikeluarkan sebelum penerimaan siswa didik, maka besar peluang untuk menyekolahkan anak di sekolah yang diinginkan karena jalur kepindahan orang tua.

Nantinya, diharapkan setiap sekolah memiliki prinsip keadilan dalam mendidik siswa-siswinya. Tidak ada sekolah favorit, karena ada pemerataan hak sekolah untuk mendapatkan siswa siswi berkualitas. Diharapkan setiap siswa siswi mampu mengangkat nama baik sekolah karena konsentrasi belajar, terlebih jarak sekolah sangat dekat dengan rumah. Diharapkan, konsentrasi penempatan guru terbaik juga bisa mengikuti prinsip keadilan ini, dan pendidik akan bisa bersepeda dari rumah ke sekolah dengan bahagia, seperti zaman guru Umar Bakrie. Visi kebijakan ini, kalau bisa diterawang lebih lanjut, adalah mengembalikan keluarga kepada keluarga. Seorang ayah atau ibu yang bekerja, didekatkan dengan keluarganya. Seorang siswa didik bersekolah yang didekatkan dengan lokasi rumahnya.

Prinsip mengembalikan keluarga pada keluarga, telah dirilis pada konsep perpajakan.  Sistem pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, dengan pemenuhan kewajiban perpajakan dilakukan oleh kepala keluarga. Artinya, Nomor Pokok Wajib Pajak cukup menjadi tanggung jawab suami yang merupakan representasi seluruh anggota keluarga. Apabila ada istri atau anak yang mempunyai penghasilan, maka kewajiban perpajakannya dapat digabung ke suami atau ayah, sebagai kepala keluarga. Selain itu, pengenaan konsep keluarga dalam pemajakan juga berlaku terhadap Wajib Pajak Badan, yaitu anak perusahaan yang dianggap sebagai keluarga cukup hanya memperoleh NPWP cabang yang berarti menginduk pada kantor pusatnya sebagai sang “kepala keluarga perusahaan”.

“Peran kaum wanita sangat strategis dalam menanamkan kesadaran pajak melalui edukasi informal di lingkungan keluarga.”

Dewasa ini, puncak kebutuhan berupa aktualisasi diri mulai melejit sehingga peluang bekerja meningkatkan produktivitas dalam menambah penghasilan juga dilakukan kaum wanita di rumah tangga. Terbukanya kesempatan menambah penghasilan rumah tangga juga berdampak pada adanya potensi meningkatkan penerimaan negara dari pajak penghasilan. So, wanita yang telah menikah dan memilih melaporkan kewajiban perpajakannya secara terpisah dari suami dapat memiliki NPWP sendiri. Prinsip ini mengusung kompetensi dan kapabilitas pada diri wanita, yang dikenal dengan nama pengarusutamaan gender. Adakah alasan lain dalam menerapkan kebijakan wanita dapat memilih ber-NPWP sendiri? Ada. Wanita, ternyata diyakini lebih patuh dalam menjalankan aturan perpajakan. Peran kaum wanita sangat strategis dalam menanamkan kesadaran pajak melalui edukasi informal di lingkungan keluarga. Di Jepang, otoritas pajak lebih memfokuskan edukasi pajak pada calon wajib pajak masa depan yang bergender wanita. Lihatlah, bahkan edukasi pajak pun berawal dari edukasi di keluarga.

Bagaimana dengan generasi muda yang sekarang hidup seatap dengan orang tua yang sama-sama bekerja? Perlu dipikirkan prinsip keadilan berbasis keluarga seperti penerimaan siswa baru. Coba kita cermati jam macet di daerah kita, biasanya terjadi di jam-jam sepulang kerja. Kalau Anda pernah melihat  jam macet di Malaysia, ada yang menarik karena kepadatan lalu-lintas usai kerja terbagi dua, yaitu antara pukul 15 sore atau pukul 16.30. Waktu  kepulangan ditentukan oleh waktu masuk kerja yang juga terbagi dua, lebih pagi atau mengikuti standar. Beberapa instansi di tanah air mengikuti kebijakan ini dan memutuskan jam kerja lebih singkat dengan waktu kepulangan lebih awal. Kebijakan ini diharapkan untuk memperbesar waktu kebersamaan keluarga sehingga peran orang tua dan kewajiban anak tetap terpenuhi. Ini pilihan. Sayangnya kebijakan ini dibahas dengan nada cemburu dan mempertanyakan, apakah produk kinerjanya bisa diharapkan optimal?

Bekerja, buat sebagian orang, dimaknai dengan menghabiskan waktu. “Bahkan, 24 jam sehari itu masih kurang buat saya,” demikian tutur seorang pejabat. Untuk orang-orang seperti ini, kita namakan saja workaholic. Menurut Wikipedia, artinya adalah suatu kondisi dari seseorang yang mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain. Konon juga,  mereka bersahabat dengan kecanduan kerja, mengejar karier dan menganggap mereka adalah satu-satunya yang bisa mengerjakan pekerjaan dengan benar. Sayangnya, istilah ini disebut berbeda dengan bekerja keras, namun ketagihan bekerja. Meskipun istilah workaholic biasanya memiliki konotasi negatif, maka kadang-kadang digunakan oleh orang-orang yang ingin menyatakan kesetiaan mereka ke salah satu dari hal positif dalam karier. Satu hal lagi, saat kata ini melekat kepada manusia, memungkinkan Anda untuk jauh dari keluarga. Anda protes?

Tentu saja! Zaman now, apabila Anda tidak bekerja keras, maka akan sulit bertahan di tengah kompetisi globalisasi. Eyang Abraham Harold Maslow sudah mengestimasi semua tuntutan itu dengan prinsip kebutuhannya. Kebutuhan terpuncak adalah aktualisasi diri. Kita bicara positifnya. Saat seseorang membutuhkan aktualisasi diri, maka dia akan melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Bisa menerima hal-hal yang tidak bisa ditoleransi, memiliki spontanitas dalam pikiran dan aksi, menginginkan privasi, dan sangat, sangat kreatif. Itu baru beberapa dari unsur pembentuk karakter aktualisasi diri manusia.

Tentu saja, kreativitas selalu menarik untuk dibahas karena perlu mempertimbangkan kematangan emosi. Hidup kreatif itu tergantung emosi, ini seperti dituliskan J.Maurus dalam buku Make Your Emotion Work For You. Satu, dengan tetap bersikap sederhana. Teori sederhana menurut Zen Habits adalah dengan mengenali apa yang paling penting bagi kita, dan meninggalkan yang lainnya. Kuncinya: Fokus! Dua, membuat hidup terasa nyata lewat penderitaan, karena emosi dimatangkan melalui tahapan penderitaan.  Semisal Anda sakit, maka nikmatilah rasa sakit itu. Semisal Anda dihujat, maka terimalah hujatan itu. Penderitaan, membuat kita pada akhirnya dapat mengembangkan emosi, menjalani hidup, serta mencetuskan kreativitas. Coba perhatikan para seniman besar. Mereka yang paling menderitalah yang berhasil menjadi seniman besar, karena tanpa disadari mereka bersahabat dengan penderitaan dan memaknainya dengan bijaksana. Kuncinya: Enjoy!

Apabila jam kerja masih belum diubah, maka ubahlah suasana kerja di kantor Anda. Ciptakan harmoni. Keseimbangan. Semua perlu kreativitas yang akan menumbuhkan inovasi. Apabila masa bekerja sudah lama tapi masih belum dimutasi, tetaplah fokus. Tuntutan untuk bekerja kembali kepada keluarga memang memerlukan perjuangan. Salah satunya adalah menorehkan legacy atau prestasi, sebelum terbang ke unit kerja yang lain. Satu lagi, apabila Anda ingin menikmati hidup, maka jangan lupa bayar pajak ya… supaya bisa jemawa kalau menuntut sesuatu dan bicara “Saya bayar pajak looh….”

Prinsip keadilan akan selalu menjadi tuntutan. Namun, saat menuntut, kita perlu juga memaafkan, karena bisa saja orang atau unit kerja yang kita tuntut belum bisa mewujudkan tuntutan kita. Salahkah mereka? Tentu tidak. Sama seperti setelah berpuasa sebulan penuh dan menemui hari suci Idul Fitri, maka bermaafan merupakan kegiatan yang penting. Anda tahu, memberi maaf adalah sifat baik seseorang yang pemberani?

Salah satu dari pesan Indira Gandhi yang berkesan adalah “Forgiveness is a virtue of the brave”. Dengan memaafkan, Anda sudah memilih untuk menjadi seorang pemberani!

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Tax Light

Episode Baru

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

Menyusuri jalan tanpa rambu, mendaki dan terjal dengan aspal berliku

Kami tertunduk dalam penuh rasa haru, kepada mereka yang meluangkan ikhlasnya membayar pajak dalam makna pembangunan untuk satu…

 

Mungkin saja di sisi sebelahnya…

Mereka tidak bicara apa-apa karena masih tidak paham untuk apa?

Satu causanya saat bagaimana syiarkan pajak, dia penopang negara

Satu primanya adalah saling asuh sang patriot negeri, tuk kepalkan semangat tanpa senjata…

Ini yang saya berikan, mana kontribusimu?

 

Kebanggaan itu

Di tahun lalu, masih berlomba mencari arti

Namun miris mengiris saat krisis, tsunami mini bersenda di riuh ibu kota, air melapukkan bangunan saat senja, dan berenanglah ular, buaya, sesama kita yang mencari lenyapnya istana…

 

Kami tertunduk dalam berkaca melihat untaian mobil tersungkur tanpa sangkur, mereka yang tersujud tanpa wujud, alam tlah memberi tanda akan rusaknya sarana…

Atas nama keikhlasan yang berujung pada derma peran kita sebagai warga negara,

Melayang pikiran tentang bagainana kesejahteraan bisa ditegakkan, kala musibah tertanda  ujian  datangnya berbalur hujatan

 

Refleksi tahun lalu mengiringi detak nadi yang sesak dengan angkaranya

Resolusi tahun baru penuhi desah nafas yang membuncah dalam cita-cita dan kecewanya

Ahoy

Berbunyilah petasan dan menarilah kembang api, sebelum berganti kepedihan dan pertanyaan

Maka terlihat sepasang sahabat bernama ujian dan anugerah berdampingan memercik tanda baca di pikiran, mereka nelangsa dan berusaha  menggandeng kesabaran sebagai mitra kekuatan

 

2020 datang….

Konon, pencerahan tetap berjalan dalam skenario terapan

Apapun, negara harus tetap ditegakkan

Majulah mereka atas nama pahlawan yang merogoh kocek dalam kesetiaan dan pembelaan

Kita mulai lagi dengan membangun negeri

Kami Indonesia!

Kami bayar pajak untuk bangsa

A3, 070120

Continue Reading

Tax Light

“BING-o”

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

“Bingo!” Mari menyadarkan diri sejak saat ini—keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri!

Akhir tahun tidak selalu dimaknai dengan pesta. Sebaliknya, awal tahunlah yang biasanya disimbolkan dengan perayaan, harapan, atau, gebyar. Di masa kanak-kanak dahulu, TVRI, satu-satunya stasiun televisi Indonesia, akan menayangkan kaleidoskop kejadian, kegiatan dan berita sepanjang tahun di negeri ini. Nah, di akhir tahun menuju pergantian tahun, kami akan melek semalam suntuk hanya untuk menonton Operette Papiko yang dikomandani Tante Titiek Puspa masa itu.

Sesuai dengan namanya, kaleidoskop merupakan aneka peristiwa yang telah terjadi yang disajikan secara singkat. Sebagai pemirsa yang setia, kita bagai menonton tayangan yang mengingatkan pada rasa suka atau duka. Dan saat itu, sekelebat ada pikiran, “Eh, sudah mau selesai juga tahun ini….”

Masa kanak-kanak juga bagaikan sekelebat, dan mendadak usai. Time flies, katanya. Waktu berlalu sangat cepat. Tahu-tahu sudah 20 tahun, 25 tahun, 40 tahun, 50 tahun, dan 60 tahun… Pada usia ke-60 maka kata-katanya bukan mengagumi waktu yang berjalan cepat, tetapi malah menunggu waktu. Masak? Iya. Coba perhatikan kakek nenek kita yang sudah berusia 60 tahun lebih. Seringkah kita melihat mereka merenung? Tentu. Pernahkah menegur mereka untuk sekadar bertanya, kenapa merenung? “Menunggu waktu,” jawabnya.

Bingo!

Waktu merupakan kunci jawaban, saat kita tidak berhasil mencapai sesuatu. Kenapa demikian? Apabila kita mengalami kegagalan maka kita disarankan untuk tidak berputus asa, dan mengulangi sampai kita mencapai keberhasilan. Apabila kita merasa belum menemukan kepuasan maka kita akan terus memberikan yang terbaik sampai suatu saat berhasil mencetak prestasi. Semua yang kita lakukan dari dulu sampai sekarang, tergantung dari waktu.

Tanpa disadari, habit ini melekat saat kita bekerja atau berkegiatan seharian, disibukkan oleh pelanggan, atasan, agenda rapat dan kunjungan, sehingga satu hari berjalan begitu cepat. Apalagi bagi pelayan publik yang hampir 12 jam dalam sehari menangani keluhan atau proses permohonan, waktu apabila tidak diseling dengan istirahat, terasa melesat. Tiba-tiba kita terperangah, “Eh, sudah sore, ya?” Bahkan saking cepatnya waktu, ada yang menyesali, mengapa satu hari isinya hanya 24 jam? Seandainya sehari itu lebih dari 24 jam, tentu saja semua kegiatan bisa dirampungkan, demikian setiap orang beralasan. Tapi, percayakah Anda bila sehari berisi lebih dari 24 jam, Anda dapat menyelesaikan pekerjaan Anda?

Saya, tidak. Why, no?

Karena manusia itu punya kebiasaan lain selain sibuk, yaitu, menunda-nunda pekerjaan. Kebiasaan menunda-nunda tugas itu namanya procrastination, dan orang yang memiliki gejala ini disebut procrastinator. Konon, telah dilakukan penelitian bahwa mereka yang suka menunda pekerjaan disebabkan moody atau faktor impulsif, terlebih lagi mereka menemukan kompensasi kesenangan jangka pendek dengan tidak sesegera mungkin melakukan pekerjaannya. Apakah itu terjadi dalam keseharian kita semua? Contohnya, seorang pelaku usaha yang baru menjalankan kegiatan usaha, lantas saat diminta ber-NPWP, apakah dia akan segera mendaftarkan diri atau memilih untuk menunda mendaftar? Apabila dia sadar bahwa di bahunya ada tanggung jawab untuk menegakkan negara, maka dia memilih mendaftarkan diri segera sebagai Wajib Pajak sehingga untuk selanjutnya bisa menunaikan kewajibannya membayar pajak untuk bangsa dan negara. Nah, bagaimana kalau dia tidak suka, tidak sadar bahwa pajak itu penting, dan merasa bahwa tidak punya tanggung jawab mengamankan penerimaan negara…?

Apabila seseorang tidak menyukai satu pekerjaan maka otomatis dia akan mengalihkan energinya pada pekerjaan lain yang menurutnya bisa sebagai kompensasi, dan membuatnya sibuk. Akhirnya, pekerjaan yang selesai adalah pekerjaan nomor dua, sementara pekerjaan utama yang tidak menyenangkan, tanpa dia sadari akan semakin tertumpuk atau terlupakan. Jadi selain sibuk benar-benar bekerja, kita bisa menyibukkan diri sehingga dianggap benar-benar bekerja!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama.

Jadi, sebenarnya bekerja itu apa?

Bekerja itu adalah ketika kita tahu untuk apa kita bekerja. Kita tahu, saat dilahirkan di muka bumi, masing-masing dari kita memiliki tujuan. Sebagai apa? Ada yang memilih jadi guru, jadi tentara, jadi peneliti, jadi seniman, jadi pejabat, jadi preman, importir, eksportir, jadi pengusaha, termasuk juga Aparatur Sipil Negara. Namun, apa misi kita di dunia? Sesungguhnya misi manusia di dunia itu hanya satu, yaitu berbuat kebaikan kepada manusia lain. Tetapi kebaikan itu menurut kita hanya bisa dimaknai dengan berbagi materi.

Tidak juga, kok…. Kebaikan bisa dimulai dengan memberikan senyum di awal hari kepada teman seruangan kerja, atau membantu menyeberangkan lansia di jalan raya, atau menghindar dari menginjak semut yang kelihatan di bawah kaki kita. Kebaikan bisa juga dari berbagi ilmu, berbagi makanan, dan berbagi kesusahan untuk bisa saling menghibur. Kebaikan bisa dimaknai dengan memberi kebahagiaan, atau memberi sumbangan, atau bahkan mewartakan, bahwa membayar pajak itu juga kebaikan yang bertanggung jawab.

Kebaikan itu juga, saat seorang guru mengedukasi siswa-siswanya tentang peran pajak dalam pendidikan, seperti yang dilakukan peserta Lomba ngevlog Guru Bertutur Pajak yang diselenggarakan dengan adanya sinergi antara DJP dan PGRI memperingati Hari Guru. Esensinya saat ini bukan materi, tapi pencerahan dan awareness bagi generasi muda yang akan berbuah di masa mendatang.

Kalau kita juga aware bahwa pencapaian penerimaan pajak tahun ini masih di angka 70 sampai 80 persen, maka kita akan beramai-ramai menggencarkan kampanye bayar pajak tanpa harus diminta kantor pajak. Walaupun kita pernah membaca bahwa realisasi belum tercapainya penerimaan pajak antara lain karena melambatnya faktor pertumbuhan ekonomi global, dan harga komoditas yang belum menunjukkan perbaikan secara signifikan, kita tetap perlu berpikir. Bagaimana cara supaya target pajak bisa tercapai, dan masyarakat sekitar merasa punya tanggung jawab bersama? Duh, kalau pajak tidak tercapai, biaya gaji kita bagaimana ya? Apakah pembangunan di desa ini bisa terbengkalai? Bagaimana dengan anggaran kesehatan, pendidikan, dan lain-lain?

Mungkin baik juga direnungkan di malam hari, apakah kita harus membiayai negara dari utang? Bagaimana kalau utang belum dilunasi turun temurun, kasihan generasi anak cucu yang harus menjadi aktor utama menyelamatkan negara? Lantas, perhatikanlah wajah-wajah polos anak-anak di sebelah kita. Merekalah generasi muda yang perlu diselamatkan saat ini, bukan yang menyelamatkan, nanti. Itu kalau kita masih punya gengsi….

Bingo!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama. Saat mengucapkan “Bingo!”, kita mengekspresikan kepuasan atau keterkejutan pada hasil positif, bahwa negara akan maju kalau kesadaran perpajakannya terbangun kuat. Mari menyadarkan diri sendiri sejak saat ini, keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri! Mari tersadar dari tidur lelap yang panjang…. Dan di pengujung malam akhir tahun 2019, baiknya kita ucapkan salam….

“Selamat bangun di tahun 2020, untuk bersama mem-bingo-kan Indonesia Maju!”

Continue Reading

Tax Light

Prima

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Menjadi manusia prima adalah menjadi manusia yang bisa melihat ke dalam diri, lalu mencari jalan untuk bisa berarti bagi lingkungan agar bisa memberi manfaat.

Ketika orang berbicara dan mengucapkan kata prima, maka itu lekat dengan kesempurnaan. Sementara nilai Kesempurnaan merupakan bagian dari belief-nya atau nilai-nilai Kementerian Keuangan yang terdiri dari Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan dipungkas dengan nilai Kesempurnaan. Arti kata prima adalah sangat baik, dan utama, di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yang unik, kata prima dikenal sejak anak-anak belajar di jenjang pendidikan dasar, saat dikenalkan istilah bilangan prima dalam matematika. Bilangan prima, hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri.

Mengutak-atik bilangan tentunya menarik. Apalagi bila dikonversi dengan filosofi kehidupan. Bilangan termasuk prima apabila dia hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri, maka angka satu bukanlah bilangan prima karena pembaginya hanya satu. Seorang anak manusia yang hanya memikirkan satu hal saja, bukanlah manusia prima, atau utama. Manusia yang berpikir hanya satu hal saja mungkin kerepotan kalau harus dipaksa memikirkan banyak hal. Namun, apabila dalam proses berpikir, selain berpikir satu hal, dia dipaksa berpikir ke dalam dirinya sendiri, maka dia bisa menjadi manusia prima. Sampai di sini, apakah Anda bingung?

Kadang kala kita bekerja tidak mau repot. Kita bekerja standar, hanya melakukan yang diinstruksikan, atau ditulis dalam tugas pokok dan fungsi bagi amanah jabatan yang kita emban. Selebihnya, kita tidak mau tahu. Bahkan kalau ada tugas tambahan, kita akan berpikir, mengapa harus kita yang melakukannya? Sementara gajinya tidak nambah, apalagi ekstra tambahan. “Little-little to me, little little to me, but salary not up up”. Kita sudah berada di zona nyaman. Kerjakan saja punyamu, punya dia adalah urusannya. Maka bisa dipastikan bahwa unsur tepo seliro dan gotong royong akan mulai menipis perlahan-lahan.

Beda halnya kalau kita memfokuskan pada satu hal, dan kembali berpikir ke dalam diri sendiri. Apakah satu hal itu sudah cukup berarti bagi lingkungan kita? Apakah dengan rezeki yang diberikan Allah selama ini, kita sudah melepaskannya juga dalam bentuk sedekah? Dalam bentuk membayar zakat? Dalam bentuk kewajiban membayar pajak? Kita berpikir, kalau tidak melakukan hal itu, maka kita ini manfaatnya apa? Sampai di sini, Anda mungkin sudah tidak bingung lagi, bukan? Menjadi manusia prima, adalah menjadi manusia yang bisa berpikir tentang satu hal, yang apabila kembali ke dalam dirinya sendiri, maka dia akan mencari jalan untuk menjadi bermanfaat. Itulah, mengapa istilah prima, identik dengan utama. Dan mengapa, jumlah bilangan prima sangat minim dibandingkan bilangan lainnya.

Sekarang coba hitung, ada berapa jumlah bilangan prima dari kisaran angka 1 sampai 100? Sudah mengecek ke “Mbah Google”? Benar, hanya 25 buah bilangan prima! Berarti dari skala 1 sampai 100, ada 25 bilangan prima, dan 75 bilangan lainnya. Apabila dipresentasikan maka bilangan prima mencapai 20-25 persen dari 100 persen di 100 bilangan pertama. Ada satu teori yang sangat lekat dengan kehidupan kita dalam menyasar kebermanfaatan dengan presentasi itu. Pernah dengar Teori Pareto? Dikenal dengan nama The Pareto Principle, yaitu aturan 80-20, menyatakan bahwa dari banyak kejadian, sekitar 80 persen dari efeknya disebabkan oleh 20 persen dari penyebabnya. Prinsip ini dicetuskan Joseph M. Juran seorang pemikir manajemen bisnis, berdasarkan ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Pareto mengamati bahwa 80 persen pendapatan di Italia dimiliki oleh 20 persen jumlah populasi. Dalam implementasinya, 80 persen dari keluhan pelanggan muncul dari 20 persen produk atau jasa, sementara 20 persen dari produk atau jasa mencapai 80 persen dari keuntungan, atau 20 persen dari tenaga penjualan memproduksi 80 persen dari omzet perusahaan.

Kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong adanya pengetahuan

Berpikir Pareto secara kritis, mungkin ada benarnya perampingan eselonisasi. Mungkin saja 80 persen hasil kerja selama ini merupakan kerja keras hanya dari total 20 persen karyawan!

Contoh lain? Satu, silakan cek baju di lemari. Dari semua baju koleksi, yang kita pakai bisa saja hanya 20 persen karena kita suka baju itu saja. Sisanya? Ya, jarang dipakai. Kenapa tidak didonasikan saja? Dua, dari seluruh teman kita, berapa persenkah yang selalu mengingat kita? Apa ada sebanyak 20 persen saja? Maka fokuslah bersama teman-teman setia itu. Berikutnya, bagaimana dengan penghasilan kita per tahun? Berapa keuntungannya, dan dari keuntungan itu, digunakan untuk apa saja? Bagaimana kalau kita belajar menyumbangkan 20 persen dari keuntungan itu ke hal-hal yang bermanfaat?

Beranjak ke dunia pendidikan, semua kementerian dan lembaga menyasarkan program mereka kepada generasi muda. Bila melihat data peserta didik di Indonesia menurut jenjang pendidikan Tahun Ajaran 2017/2018, yaitu sebanyak 25,49 juta jiwa peserta didik tingkat SD; 10,13 juta jiwa peserta didik tingkat SMP; 4,78 juta jiwa peserta didik tingkat SMA dan; 4,7 juta jiwa tingkat SMK—total peserta didik mencapai 45,10 juta jiwa. Menerapkan hukum Pareto yang program kementerian dan lembaga hanya difokuskan bagi 20 persen siswa per jenjang pendidikan, maka di tahun 2045 kelak dampak program itu akan menyebar ke 80 persen pengusaha muda. Apakah bentuk dampaknya? Materi pembelajaran yang disisipkan secara inklusif saat mereka masih bersekolah di usia muda di jenjang SD, sampai SMA, misalnya materi edukasi pajak, materi bahaya narkoba, materi hindari penyebaran berita hoaks dan terorisme, akan menjadikan mereka Generasi Emas yang memiliki insting membela NKRI.

Saat Pajak Bertutur di launching di tahun 2017, tercatat 2000-an sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA dan PT mengikuti program Inklusi Perpajakan itu, dan melibatkan 27 ribu siswa yang notabene adalah generasi muda. Sasarannya? Tahun 2045, mereka bertumbuh kembang menjadi generasi muda usia produktif yang sadar pajak. Mereka paham bagaimana pajak dikumpulkan, bagaimana manfaat pajak kepada sesama, dan mereka memiliki kesadaran penuh bahwa membayar pajak adalah tanggung jawab yang tidak perlu lagi dipaksakan. Bisa dibayangkan, apabila kelak 80 persen penerimaan pajak di tahun 2045 ternyata 20 persen pembayar pajaknya adalah para pengusaha muda yang pernah mengikuti Pajak Bertutur di masa-masa SD sampai SMA mereka!

Dekade terakhir ini, pendekatan alternatif yang dilakukan oleh banyak otoritas pajak di dunia adalah Deference Model, yaitu mempertimbangkan perilaku Wajib Pajak dengan mempertimbangkan persepsi masyarakat terhadap pemerintah, tax morale, dan perilaku peers. Caranya dengan memengaruhi perilaku warga negara melalui peningkatan pengetahuan perpajakan melalui edukasi pajak. Tujuannya, tentu saja menanamkan kultur kepatuhan kepada setiap warga negara. Edukasi perpajakan memiliki sasaran, yang salah satunya disebut future taxpayers. Dialah yang kita kenal sebagai generasi muda, atau genmil zaman now. Yang nantinya menjadi generasi emas Indonesia. Jadi, kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, karena kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong dengan adanya pengetahuan, dan pengetahuan akan membangun persepsi atas pentingnya pajak bagi suatu bangsa.

Edukasi melalui penyuluhan kepada masyarakat dinyatakan akademisi sebagai sarana untuk mewujudkan kepatuhan sukarela. Untuk itulah, kegiatan edukasi disarankan untuk dilaksanakan kepada setiap warga negara sejak usia dini, melalui kurikulum pelajaran di sekolah. Dan hal ini sangat disadari oleh Pemerintah. Maka program demi program edukasi pun bermunculan. Semata-mata, semua berlandaskan tanggung jawab untuk menitipkan keberlangsungan pembangunan negeri ini.

Edukasi tidak tumbuh begitu saja. Dia disemai oleh mereka yang berpikiran seperti bilangan prima. Konsep berpikirnya adalah menetapkan secara fokus tujuan pendidikan anak manusia, mengembalikan semua pertanyaan kepada diri sendiri, untuk selanjutnya meraih kebermanfaatan semesta. Ya, prima adalah keutamaan. Menyinggung kata utama, seolah diingatkan nama Dirjen Pajak baru yang akan bekerja keras dan cerdas demi Indonesia. Selamat!-Aan Almaidah

Continue Reading

Breaking News

Breaking News1 minggu ago

Resmikan TaxPrime Compliance Center untuk Layanan Profesional

Firma konsultan pajak TaxPrime meresmikan kantor baru untuk TaxPrime Compliance Center di Jalan Guru Mughni 106, Setiabudi, Jakarta Selatan. TaxPrime...

Breaking News2 minggu ago

Bayar Pajak, Beasiswa Banyak

Jakarta, Majalahpajak.net-Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) terus menyempurnakan kurikulum sadar pajak dan menginstruksikan pembentukan relawan pajak...

Breaking News2 minggu ago

Penyelundupan Gerogoti Wibawa Negara

Jakarta, MajalahPajak.net- Kementerian Keuangan RI melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bersama Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan...

Breaking News2 minggu ago

Inovasi tak Sebatas Aplikasi

Jakarta, MajalahPajak.net-Tak sedikit Kantor Pelayanan Pajak (KPP) gugur dalam lomba Kantor Pelayanan Terbaik (KPT) tingkat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) karena hanya...

Breaking News2 minggu ago

Apresiasi untuk Guru Penutur Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net-Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan apresiasi kepada 10 pemenang lomba vlog bertajuk “Guru Bertutur Pajak (Gutupak)” di Kantor Pusat...

Breaking News2 minggu ago

Pengelola Dana Desa harus Melek Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia yang beranggotakan para pengajar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA UI) memberikan pendampingan bagi pengelola...

Breaking News2 minggu ago

Kemensos Ajak Dunia Usaha Andil Jangka Panjang dalam Progam KAT

Jakarta, Majalahpajak.net – Menteri Sosial Juliari P. Batubara mendorong dunia usaha turut berpartisipasi berjangka panjang bersama pemerintah dalam program Pemberdayaan...

Breaking News1 bulan ago

Bahaya Hepatitis bagi Ibu Hamil dan Janin

Banyak ibu hamil yang tidak menyadari dirinya terinfeksi virus hepatitis. Apa saja dampak hepatitis bagi si janin? Hepatitis adalah peradangan...

Breaking News2 bulan ago

IKPI: Omnibus Law Perlu Kajian Mendalam Sebelum Disahkan

Untuk mendukung program pemerintah menerbitkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menyelenggarakan diskusi perpajakan bertajuk “Omnibus Law...

Breaking News2 bulan ago

Kerja “Happy” Kejar Prestasi

Apresiasi kepada pegawai berprestasi tak hanya memicu kompetisi positif untuk meraih kinerja lebih baik, tapi juga membangun iklim kerja penuh...

Trending