Connect with us

UMKM Corner

Hidupkan Ekosistem Halal Mulai dari UMKM

Diterbitkan

pada

Kehadiran BSI tidak lepas dari mimpi Indonesia mengembangkan industri halal yang dimulai dari UMKM.

Menurut laporan The State of Global Islamic Economy (SGIE) Report 2020–2021, ekonomi syariah Indonesia naik ke peringkat ke-4 dari peringkat ke-5 pada tahun 2019. Di tahun 2018 lalu, ekonomi syariah Indonesia berada di peringkat ke-10 dunia. Sementara, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia juga tengah bertumbuh pesat. Maka, tak heran jika pemerintah mengawinkan dua potensi itu menjadi penopang perekonomian nasional. Salah satunya dengan meresmikan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) pada 1 Februari 2021, yang merupakan merger dari PT BNI Syariah, PT Bank Rakyat Indonesia Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri.

Kepada Majalah Pajak, Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan, BSI terus berupaya meningkatkan bisnis sektor UMKM, melalui berbagai strategi, di antaranya penyaluran pembiayaan PEN (pemulihan ekonomi nasional); penyaluran pembiayaan KUR (kredit usaha rakyat); sinergi pembiayaan UMKM dengan pesantren, BUMN maupun lembaga lainnya; serta pelatihan bagi UMKM binaan. Saat ini segmen UMKM BSI tersebar di sektor produksi, perdagangan, dan jasa.

“BSI menyadari bahwa 60 juta UMKM di Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi bangsa, sehingga di tengah pandemi ini perlu mendapatkan dukungan serta akses dalam mengembangkan usaha, beradaptasi dengan teknologi untuk go digital, selain melakukan inovasi produk sehingga tercipta UMKM yang berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Hery, (29/8).

Sebagai wujud komitmen perusahaan, per Mei 2021, BSI telah menyalurkan pembiayaan UMKM hingga Rp 33,06 triliun atau sebesar 22,57 persen dari total pembiayaan. Angka ini disokong dari berbagai program dan sinergi pembiayaan dengan pesantren, BUMN, maupun lembaga lainnya.

Bank dengan aset sebesar Rp 234,4 triliun ini menyuburkan UMKM di pesantren dengan menyalurkan 1.000 Pertashop atau stasiun pengisian bahan bakar umum mini. Dalam pemberdayaan ekonomi pesantren, BSI bersinergi dengan PT Pertamina (Persero), Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), yang didorong oleh kementerian BUMN. Hery mengatakan, segmen UMKM menjadi salah satu fokus BSI dalam mengembangkan ekosistem halal yang bermanfaat bagi umat. Strategi yang dilakukan adalah menumbuhkan segmen UMKM berbasis ekosistem atau komunitas dan value chain yang terintegrasi.

“BSI berkomitmen memberikan dukungan produk dan jasa layanan perbankan bagi UMKM di lingkungan pesantren, mulai dari agen Laku Pandai, modal kerja untuk usaha, termasuk jika ingin membuka Pertashop,” jelas Hery.

BSI memiliki berbagai produk pembiayaan KUR BSI dengan plafon pembiayaan mulai dari Rp 10 juta hingga Rp 500 juta, proses cepat dan akad sesuai syariah.

Akselerasi penyalurkan permodalan dilakukan dengan menjemput bola dan berkolaborasi bersama pemerintah daerah setempat untuk mengembangkan UMKM, salah satunya ke Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Mei 2021 lalu.

“Kita komitmen untuk mendukung UMKM. Karena salah satu ‘DNA’-nya Bank Syariah Indonesia adalah mendukung UMKM. Dukungan untuk pelaku UMKM ini dilakukan melalui KUR, melalui produk dan layanan keuangan syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM. Pada dasarnya sepanjang ada potensi berkembang, ada aset ke depannya, dan tentunya perlu pembiayaan, maka kita support,” jelas Hery.

Ia memastikan, tidak ada batasan jenis UMKM yang akan mendapat dukungan. Menurut Hery, salah satu wilayah yang UMKM-nya kini didukung secara langsung maupun melalui sinergi dengan bank-bank himbara dan pemerintah Indonesia adalah Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kami juga melihat dimana memang ada potensi UMKM yang bagus, tidak hanya di daerah lain tapi termasuk di Yogyakarta yang bisa kita berikan pembiayaan sesuai ketentuan bank, tentunya kita jalankan. Batik oke, perdagangan, industri rumah olahan juga bisa dan banyak sektornya UMKM itu,” jelas Hery.

Pembinaan UMKM

Di samping pembiayaan, menurut Direktur Retail Banking BSI Kokok Alun Akbar, pihaknya juga mengadakan pelatihan dari proses pembinaan UMKM dari hulu ke hilir hingga pemasaran di e-commerce dan program strategis seperti pengembangan dalam bentuk pendampingan, pembiayaan, hingga edukasi dan literasi kepada UMKM di Indonesia. Komitmen ini telah diimplementasikan oleh BSI bersama Shopee Indonesia untuk menggelar pelatihan go digital bagi 1.000 UMKM yang dimulai sejak Juni hingga November 2021 mendatang.

“Bank Syariah Indonesia menyadari bahwa 60 juta UMKM di Indonesia merupakan tulang punggung ekonomi bangsa. UMKM perlu mendapatkan dukungan serta akses dalam mengembangkan usaha, beradaptasi dengan teknologi yang memungkinkan untuk go digital, selain melakukan inovasi produk. Dengan demikian, tercipta UMKM yang berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” jelas Kokok.

Pelatihan terdiri dari proses pembinaan UMKM dari hulu ke hilir, di antaranya memahami potensi bisnis on-line, customer behavior, fotografi produk, copywriting produk, hingga pemasaran di e-commerce. BSI juga melakukan beberapa program strategis seperti pengembangan dalam bentuk pendampingan, pembiayaan, hingga edukasi dan literasi kepada UMKM di Indonesia.

Lebih lanjut Kokok menyampaikan, bahwa BSI siap menjadi mitra keuangan sahabat UMKM melalui akses permodalan mikro, coaching dan fasilitator dengan para standby buyer melalui pemasaran produk baik off-line maupun on-line, sehingga keuangan keberlanjutan melalui bisnis UMKM dapat terus meningkat.

Salah satu nasabah UMKM BSI bernama Riri mengungkapkan, berkat pembiayaan yang diterima BSI, usaha baju renang Muslimnya dapat berkembang. Dengan pinjaman sekitar Rp 70 juta, pemilik usaha baju renang bermerek Swimsweets ini dapat membeli bahan produksi dalam jumlah banyak dan bisa langsung mengakses ke pabrik, sehingga berdampak multimanfaat bagi bisnisnya. Antara lain, dapat menekan biaya produksi yang bermuara pada terjangkaunya harga jual.

“Sebelumnya kita kan sudah punya proyeksi usaha kita mau seperti apa—mengeluarkan model apa. Hanya saja terbentur dana. Setelah dapat bantuan dana ini kita jadi bisa mewujudkan proyeksi-proyeksi bisnis kita,” kata Riri kepada Majalah Pajak, melalui telekonferensi, pada (1/8).

Ia mengakui, awalnya ia tak ingin meminjam modal di bank karena khawatir dengan proses administrasi yang sulit. Namun, ternyata BSI membantunya untuk menyesuaikan kebutuhan permodalan dengan memberi kemudahan. Faktor lain, pembiayaan berasal dari perbankan syariah yang koheren dengan bisnis yang ia tekuni, yakni fesyen Muslimah. Kini, usahanya berkembang tidak hanya baju renang, tetapi juga fesyen Muslimah lainnya seperti outer, masker, dan sebagainya.

UMKM Corner

Digitalisasi Lipat Tigakan Omzet Kuliner

Diterbitkan

pada

Penulis:

Digitalisasi membuat UMKM kuliner bertahan. Bahkan omzet mereka tumbuh pesat di tengah pandemi Covid-19.

PT Paxel Algorita Unggul (Paxel)—perusahaan rintisan (startup) logistik berbasis aplikasi yang mengusung layanan same day delivery dengan ongkos kirim flat—bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar e-Kuliner Awards 2021, akhir Juli 2021 lalu. Ajang ini digelar untuk mendukung dan memotivasi UMKM berinovasi memasarkan produknya secara digital.

Kepada Majalah Pajak, Chief Executive Officer (CEO) Paxel Bryant Christanto, mengatakan pemberian penghargaan merupakan dukungan kepada UMKM Indonesia agar mereka semakin fokus dan semangat berbisnis. Paxel menghadirkan penghargaan bergengsi kepada pelaku kuliner sepanjang Ramadan dan Idulfitri.

Selama periode Idulfitri lalu, Paxel melihat amat tingginya pertumbuhan pelaku UMKM kuliner. Paxel mencatat setidaknya ada 900 ribu makanan dari ratusan ribu pelaku UMKM kuliner on-line yang aktif mengirimkan dengan Paxel ke dalam dan luar kota.

“Ini sejalan dengan tren mengirim hampers yang meningkat mulai dari awal Ramadan, sekaligus akibat dari pelarangan mudik yang membuat banyak orang memilih untuk jajan makanan khas kampung halamannya sebagai obat kangen rumah,” ujar Bryan melalui keterangan tertulis, pada akhir Agustus 2021.

Berdasarkan data transaksi penjualan UMKM kuliner selama periode Lebaran 2021, terdapat 15 UMKM kuliner on-line dari 13 kota di Indonesia yang mencatatkan jumlah transaksi terbesar dan masuk dalam nominasi dari kota DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Denpasar, dan Makassar.

Ia menyampaikan, melalui teknologi dan logistik, Paxel telah membantu UMKM kuliner untuk memasarkan produknya kepada jutaan pelanggan baru se-Indonesia. Dengan digitalisasi, kenaikan omzet UMKM kuliner on-line bisa mencapai tiga kali lipat dengan jumlah order luar kota hingga ratusan ribu paket per bulan.

“Fakta menariknya berdasarkan data, kita mendapati bahwa makanan khas daerah tertentu menjadi favorit orang-orang di daerah lain, seperti orang Jabodetabek suka membeli bakwan Surabaya dan orang Bandung suka membeli pempek,” ungkap Bryant.

Ia memastikan, sejak berdiri di akhir tahun 2017, Paxel telah mengukuhkan posisinya sebagai ekosistem digital yang membantu memasarkan produk sekaligus mendorong lebih dari 1 juta pelaku UMKM kuliner berbasis digital di Indonesia, lewat layanan sameday delivery, dan platform belanja jajanan khas daerah—PaxelMarket.

Co-founder Paxel Zaldy Ilham Masita menambahkan, selama semester I-2021, Paxel tumbuh cukup stabil sekitar 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kontribusi terbesar berasal dari pengiriman makanan antarkota yang terus meningkat. Zaldi melihat industri jasa pengiriman semakin prospektif. Apalagi, bisnis logistik akan meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi digital.

“Logistik masih mempunyai prospek yang sangat bagus terutama logistik yang berbasis teknologi. Indonesia masih tertinggal dari sisi teknologi logistik dibandingkan negara-negara lain,” kata Zaldy.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan, apresiasi kepada Paxel sebagai salah satu penggerak perekonomian. Menurutnya, pelaku UMKM perlu diberikan pelatihan digital sekaligus kanal pemasaran yang memadai.

Sandiaga mengungkapkan, kuliner nusantara merupakan satu dari top tiga subsektor ekonomi kreatif yang mampu bertahan selama pandemi, bahkan berkembang dan mampu menggerakkan perekonomian selama pandemi Covid-19.

“Saya secara khusus mengapresiasi ajang penghargaan e-Kuliner Awards 2021 sebagai langkah positif yang perlu didukung, agar semakin memotivasi lebih banyak pelaku UMKM di Indonesia untuk berinovasi memasarkan produknya secara digital,” kata Sandiaga.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan, setiap daerah memiliki kuliner yang khas. Kekhasan ini bisa menjadi daya tarik karena cita rasa maupun kenangan di dalamnya.  Bahkan, tak jarang kuliner menjadi branding yang mengangkat nama suatu wilayah dan bahkan masuk menjadi salah satu subsektor yang menyumbang ekonomi kreatif Indonesia.

“Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kuliner sebagai subsektor penyumbang PDB terbesar dari ekonomi kreatif, rata-rata tiap tahun sekitar 43 persen dari total PDB ekonomi kreatif,” ungkap Sri Mulyani.

Pandemi Covid-19 membuatnya prihatin karena industri kuliner ikut terkena imbasnya, khususnya mereka yang berada di kawasan tujuan wisata. Namun, Sri Mulyani bersyukur karena di zaman digitalisasi ini, ada perkembangan tren yang bisa membantu industri kuliner, khususnya kuliner UMKM, seperti platform aplikasi berbasis transportasi, media sosial, dan marketplace. 

“Saya berharap pemilik usaha kuliner terus giat berinovasi agar bisa menawarkan produk kuliner yang berkualitas dan disukai oleh masyarakat. Tak hanya memenuhi selera, tetapi juga bisa memenuhi gaya hidup masyarakat,” harapnya.

Berbicara soal kuliner khas daerah, Sri Mulyani menyebut salah satu makanan kesukaannya adalah soto Semarang. Saat bertandang ke Semarang, ia berusaha menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu kedai soto Semarang. Ia gemar kudapan ini karena pernak-pernik pendamping soto yang banyak dan enak, seperti perkedel, tempe, hingga sate kerang.

Untuk menjaga daya tahan UMKM, pemerintah telah mengalokasikan anggaran dukungan terhadap UMKM dan korporasi sebesar Rp 184,3 triliun, serta dukungan insentif usaha sebesar Rp 58,46 triliun.

Sri Mulyani mengatakan, selain menopang ekonomi nasional, UMKM berperan penting membuat produk berkualitas dari sebuah kreativitas hingga dapat menciptakan kesempatan kerja.

“Saya berharap UMKM dapat semakin terpacu semangatnya untuk terus berkarya dan meningkatkan produktivitasnya. Yakinlah, perjuangan ini akan membuahkan hasil yang baik, sehingga produk-produk UMKM kelak dapat menembus pasar domestik maupun global. Bangkitnya UMKM adalah bangkitnya ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Lanjut baca

UMKM Corner

Prospek Subur Bisnis Hijau

Diterbitkan

pada

Tak hanya menjadi penyangga ekonomi, UMKM berbasis produk hijau juga ikut mengatasi masalah lingkungan.

Bagi sebagian orang, pandemi Covid-19 merupakan momentum untuk membangun kembali koneksi ekonomi dan lingkungan, termasuk bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ingin menerapkan prinsip tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs).

Di tengah pandemi Covid-19 industri pangan terbukti mampu bertahan, bahkan tumbuh. Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, pertumbuhan sektor pangan tetap tumbuh positif (2,19 persen) di kuartal II dan kuartal III tahun 2020—fase resesi Indonesia saat pandemi Covid-19.

Sebagai catatan, sektor pertanian memiliki arti luas, termasuk pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan peternakan, dan kehutanan. Peningkatan ini ditopang pertumbuhan pertanian dan subsektor perkebunan sawit, tanaman kopi, kakao, dan produk turunannya.

Dengan daya tahan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) secara spesifik menggelontorkan stimulus untuk membantu UMKM yang bergerak di sektor pertanian dan perikanan. Program itu dielaborasi menjadi program padat karya pertanian; banpres (bantuan presiden) UMKM Sektor Pertanian; subsidi bunga mikro/kredit usaha rakyat; dukungan pembiayaan koperasi dengan skema dana bergulir.

Selain itu, terdapat tujuh program di sektor pertanian yang terus dijalankan pemerintah untuk penguatan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani, yaitu pembangunan food estate; pengembangan klaster bisnis padi menggunakan pendekatan pengelolaan lahan yang awalnya tersegmentasi menjadi satu area; pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor dengan model kemitraan creating shared value (CSV) antara pemerintah pusat, daerah, swasta, dan petani.

Kemudian, ada kemitraan inklusif untuk komoditas hortikultura sebagai bentuk implementasi sinergi antara akademisi, bisnis, pemerintah, dan komunitas; dan pengembangan sistem agribisnis dari hulu ke hilir, yang mengedepankan pemberdayaan berkelanjutan.

Florikultura

Budidaya florikultura atau tanaman hias juga menjadi sorotan di tengah pandemi. Florikultura merupakan salah satu bagian dari subsektor hortikultura yang potensial secara bisnis dan upaya melestarikan lingkungan—menghasilkan oksigen dan pengolah limbah.

Permintaan tanaman hias bukan hanya berasal dari domestik, melainkan pasar dunia. Nilai ekspor florikultura terus meningkat. Pada 2018 nilai ekspor sektor ini 12,07 juta dollar AS, lalu naik berturut-turut menjadi 13,53 juta dollar AS dan 19,98 juta dollar AS pada 2019 dan 2020.

Melihat hal itu, Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian mendukung penuh sektor ini melalui beberapa kebijakan strategis, antara lain mempermudah izin ekspor, menambah negara mitra dagang, harmonisasi aturan protokol karantina baik bilateral maupun multilateral, mendorong pertumbuhan eksportir baru, meningkatkan frekuensi pengiriman dengan percepatan layanan ekspor, dan sebagainya.

Kementerian keuangan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Eximbank pun memberikan dorongan berupa bantuan pembiayaan KUR berorientasi ekspor. Belum lama ini LPEI menyalurkan pembiayaan untuk UMKM tanaman. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bahkan hadir dalam acara pelepasan ekspor tanaman hias itu, (5/5).

Eksportir Tanaman Hias Ricky Subagia mengatakan, saat ini ekspor tanaman hias semakin mudah. Ia hanya membutuhkan lahan seluas 250 meter persegi untuk membudidayakan tanaman hias seperti philoderon, calathea, dan adenium. Tanaman itu ia ekspor ke Jerman, Kanada, Belgia, dan Amerika Serikat. Dalam satu bulan volume ekspor mencapai 1.000–2.000 tanaman. Kita tahu, budidaya florikultura turut membantu mengatasi masalah lingkungan, karena ia mengolah sampah dan limbah menjadi pupuk atau media tanam.

Firdaus, petani sekaligus pengusaha tanaman hias, yakin bisnis tanaman tak kenal redup. Pandemi Covid-19 bahkan hanya membuat bisnis ini kian populer. Petani yang sudah menekuni florikultura sejak 2005 ini mengungkap, harga tanaman hias pun naik. Bahkan, dalam hitungan bulan harganya bisa naik tiga kali lipat. Contohnya, Aglaonema tricolour dengan ukuran sedang yang semula dibanderol Rp 300 ribu (Desember 2020), naik menjadi Rp 1,5 juta (Mei 2021). Ini terjadi karena aglaonema tidak bisa ditanam secara massal, sehingga tidak banyak yang bisa dijual dalam waktu bersamaan untuk memenuhi permintaan yang terus melonjak.

“Ya, pas pandemi naik. Tapi sebelumnya aglaonema harganya memang stabil naik. Pernah turun, tapi enggak pernah sampai anjlok, ya. Enggak pernah dari harga 200 ribu jadi 20 ribu,” kata Firdaus.

Lanjut baca

UMKM Corner

Berjemaah Menggeser Produk Luar

Diterbitkan

pada

Bangga dengan produk lokal digalakkan. Bagaimana dan akankah gerakan ini menyelamatkan UMKM Indonesia?

Beberapa tahun belakangan, istilah local pride kian populer di masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial. Dengan fesyen bermerek lokal, misalnya, mereka berfoto dan mengunggahnya di media sosial bertagar local pride atau bangga buatan Indonesia (#localpride #banggabuatanindonesia).

Sejatinya, produk lokal sudah melekat di berbagai aspek kehidupan, seperti pakaian, kuliner, kerajinan tangan, dan sebagainya. Namun, istilah local pride kini digaungkan sebagai sebuah gerakan untuk lebih bangga beli dan pakai produk dalam negeri. Terlebih ketika pandemi memaksa seluruh negara membatasi ekspor-impor. Masing-masing negara harus mampu bertumpu pada produknya sendiri.

Keberpihakan pemerintah pada produk lokal tentu sudah dimulai sejak dulu. Dukungan semakin nyata ketika usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) harus terpuruk di tengah badai pandemi. Di tahun 2020 pemerintah menghujani aneka stimulus, antara lain bantuan modal, restrukturisasi kredit, libur bayar pajak, dan sebagainya.

Setelahnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, (Gernas BBI), pada Mei 2020 atau sekitar dua bulan setelah pandemi mewabah negeri. Gerakan ini diharapkan sebagai ajakan kepada masyarakat untuk membeli dan bangga menggunakan produk UMKM lokal. Di sisi lain, pemerintah mendorong UMKM agar meningkatkan kualitas bahkan berinovasi tanpa batas. UMKM kudu mampu menangkap peluang saat negara importir tengah membatasi kegiatannya.

“Saya bersyukur negara dan bangsa kita memiliki banyak kekuatan, karya-karya hebat, dan produk-produk berkualitas yang lahir dari tangan saudara-saudara kita yang memiliki talenta hebat. Pandemi tidak menghalangi kita untuk berkreasi. Keterbatasan justru mendorong kita untuk bertransformasi, menggali potensi diri, dan menciptakan peluang-peluang,” kata Jokowi.

Kepala Negara ini mengingatkan, produk lokal merupakan simbol kebanggaan, menumbuhkan kepercayaan diri kita sebagai bangsa yang besar yang memiliki hasil karya bangsanya sendiri.

“Selamatkan tetangga, selamatkan kerabat, dan saudara-saudara kita dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan, peduli membantu tetangga yang tengah kesulitan. Bantu dengan belanja di usaha kecil, mikro, ultramikro dan dengan membeli karya-karya serta produk-produk Indonesia. Dengan kepedulian kita, saya optimistis semua segera bisa kita lewati,” kata Jokowi.

Bentuk konkret pemerintah dilakukan dengan mendorong UMKM masuk dalam platform digital. Sebab saat ini dari 60 juta, hanya 8 juta UMKM yang sudah berdagang on-line. Melalui Gernas BBI pemerintah menargetkan 2 juta UMKM masuk dalam ekosistem digital.

Jalan juang Gernas BBI diperkukuh melalui sinergi antarkementerian dan lembaga. Pemerintah serempak menghimpun dan memamerkan produk UMKM di lokasi strategis seperti bandara, stasiun, pelabuhan dan pusat perbelanjaan.

“Semua harus mendukung (Gernas BBI). Ini harus mulai digeser. Mereka (brand luar negeri) digeser ke tempat yang tidak strategis. Tempat strategis yang baik diberikan ruang untuk brand-brand lokal,” jelas Jokowi.

Kurang dari setahun, BBI membuahkan turunan program bernama Beli Kreatif Danau Toba, yang diluncurkan Februari 2021 lalu. Digawangi oleh Kementerian Pariwasata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), pemerintah mengajak masyarakat untuk membeli aneka produk dari UMKM di Danau Toba, Sumatera Utara. Tidak hanya nasional, tetapi juga hingga ke mancanegara.

“Kampanye ini akan dilengkapi dengan edukasi dan pendampingan bagi para pelaku kreatif dan UMKM untuk bisa benar-benar maju di industri digital. Bukan hanya sekadar bisa on boarding di marketplace,” kata Jokowi.

Pembinaan BBI dilakukan oleh semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, Bank Indonesia, hingga Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Pemberdayaan inklusif dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih antarlembaga.

Jokowi mengatakan, ada 3,8 juta UMKM yang terhubung ke dalam platform digital atau e-commerce berkat Gernas BBI yang digaungkan sekitar satu tahun yang lalu.

Serempak membina

Bank Indonesia (BI) turut memberikan dukungan terhadap gerakan BBI melalui berbagai program kreatif yang mengedepankan digitalisasi UMKM. Mulai awal 2021, BI melalui 46 kantor perwakilan di daerah akan terus bersinergi mendukung tercapainya 30 juta UMKM terhubung dengan ekosistem digital (onboarding) pada tahun 2023.

BI juga membantu memastikan produk UMKM terjaga kualitas dan kuantitasnya melalui program kurasi; menyelenggarakan berbagai kegiatan baik secara luring maupun daring; memperluas target pengguna quick response code Indonesian standard (QRIS) hingga 12 juta merchant pada 2021; dan mengampanyekan BBI melalui berbagai kegiatan.

Penerima manfaat

Salah satu pelaku UMKM binaan BI bernama Anjani Sekar Arum bersyukur dengan adanya program BBI. Di tengah pandemi 2020, usaha batik tulisnya turun drastis. Padahal ia mempekerjakan 42 pembatik yang harus digaji. Segala upaya pun ditempuh, salah satunya dengan mengikuti setiap program pemerintah agar tetap konsisten melestarikan warisan leluhur.

Anjani memiliki produk batik tulis dengan ciri khas motif kepala banteng. Inspirasinya, dari budaya bantengan, seni pertunjukan yang berasal dari kaki Gunung Arjuno, Jawa Timur. Untuk menghasilkan satu helai batik tulis dibutuhkan waktu sekitar satu minggu.

“Batik itu harus punya narasi, enggak boleh asal-asalan. Contoh, saya membuat kepala banteng dengan motif bambu-bambu di setiap sisinya. Di ritual bantengan, memanggil leluhur, di sekelilingnya itu dipenuhi oleh bambu,” jelas Anjani.

“Program bangga buatan lokal itu selain untuk mempromosikan produk-produk kita, juga membeli produk kita. Sudah dua tahun inilah pemerintah membuat sebuah program, ada anggaran negara itu yang digunakan wajib untuk membeli produk UMKM khususnya produk-produk kriya, salah satunya batik seperti saya,” kata Anjani kepada Majalah Pajak, pada (20/4).

Biasanya batik yang diborong oleh kementerian atau lembaga itu digunakan untuk cenderamata. Berkat gerakan BBI maupun dukungan multipihak, saat ini omzetnya kembali pulih dengan pertumbuhan mencapai 30 persen.

Selain itu, para UMKM binaan juga memiliki kesempatan untuk pameran di setiap pameran virtual. Beberapa kali Anjani bahkan dipercaya untuk menjadi narasumber di acara pelatihan program Gernas BBI yang dihelat kementerian maupun lembaga.

Lanjut baca

Populer