Connect with us

Tax Light

‘Hakuna Matata’

Aan Almaidah

Published

on

Gempa Lombok dan Palu adalah musibah. Namun, di balik itu ada banyak hikmah. Kita layak bersyukur, negara masih sigap menangani korban bencana. Dan itu karena pajak yang Anda bayarkan.

Kesedihan, kegembiraan, harapan, impian, ujian, dan anugerah, adakalanya datang berdampingan. Kehadiran mereka merupakan proses yang jarang disadari. Saat ditimpa musibah, sebenarnya anugerah sebentar lagi yang datang. Saat merasa sedih, sesungguhnya bahagia sedang mengintip. Pertanyaannya, apakah kita menyadari itu? Maka dalam bahasa Swahili yang dilontarkan Timon dan Pumbaa dalam film Lion King, frasa “hakuna matata” lantas menjadi populer. Artinya sederhana, jangan khawatir. No worries.

Lantas, siapa yang tidak khawatir saat berita pergerakan lempeng sudah menimbulkan bencana di mana-mana? Lombok. Palu. Gempa bagaikan peretas yang sulit dijangkau. Kesulitan bahan pokok membuat perilaku tidak sabar dan tidak puas muncul ke permukaan, sehingga terjadilah penjarahan di toko, supermarket, dan lain-lain. Alasan yang dijadikan pembenaran adalah, ini sedang bencana, jadi semuanya diperbolehkan. Di lain sisi persepsi, kisah heroik bermunculan tentang penuntasan tanggung jawab seorang petugas menara bandara yang melepas terbang pesawat di landasan pacu sebelum tertimpa reruntuhan menara.

“Di saat kesedihan dan ujian terjadi, negara hadir di tengah mereka. Dan perwakilan negara itu bernama pajak.”

Pray for Indonesia, sesungguhnya tagline yang paling tepat. Karena Lombok adalah kita. Palu adalah kita. Dan ini semua dinamakan ujian, buat saudara sebangsa yang sedang berduka. Penggalangan bantuan bergerak, termasuk simpatisan dan empatisan dari Direktorat Jenderal Pajak yang menyalurkan bantuan melalui jalur udara dan darat. Bantuan berupa obat-obatan, makanan dan tenda langsung terdistribusi kepada korban terdampak gempa, bahkan juga bantuan tenaga pegawai yang menjadi relawan di Palu dan Donggala. Rasa kesatuan itu sekaligus menyampaikan pesan bahwa di saat musibah dan bencana, di saat kesedihan dan ujian terjadi, negara hadir di tengah mereka. Dan perwakilan negara itu bernama pajak.

Selama ini, semua orang tahu, bagaimana gencarnya iklan tentang peran pajak. Pajak yang Anda bayar bermanfaat dalam membangun jembatan, jalan tol, perumahan, membantu fasilitas pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Namun, apakah kepatuhan bisa ditingkatkan hanya dengan membaca informasi dan iklan tentang peran pajak?

Sama dengan ujian yang berdampingan dengan anugerah, kepatuhan pun berjalan berdampingan dengan kepercayaan dan kesadaran. Dalam kondisi berduka seperti ini, kepercayaan hanya bisa ditingkatkan saat kita sudah tidak bisa berbicara banyak dan kemudian melakukannya dengan melebur bersama dalam menghibur rasa sakit yang dirasakan korban. Rasa sakit, menurut International Association for the Study of Pain (IASP, 1986), adalah pengalaman pribadi subjektif yang melibatkan kualitas sensorik (misalnya menusuk, membakar, nyeri) dan emosional (menakutkan, mengganggu, memuakkan). Dalam kondisi setelah bencana, akan timbul trauma, bentukan lain rasa sakit secara emosional. Pengalaman seperti bencana dapat dengan mudah teringat kembali oleh seseorang dalam bentuk mimpi buruk, atau kilas pikiran yang mengganggu. Saat dia mengingat suatu hal dari pengalaman tersebut, inilah yang dinamakan gangguan stres pascatrauma, dikenal dengan istilah PSTD atau post-traumatic stress disorder.

Trauma, juga dimiliki masyarakat Wajib Pajak yang merasa bahwa membayar pajak adalah beban, terutama setelah mengalami pemeriksaan, menerima surat imbauan atau bahkan sekadar visiting dari Account Representative kantor pajak tempatnya terdaftar. Trauma itu dapat ditimbulkan dari pengalaman sebelumnya, atau dari pengalaman orang terdekat yang diceritakan, dan kemudian membentuk stigma tentang pajak. Hal ini yang menjadi gangguan pikiran, sehingga sebuah kegiatan rutin berupa kunjungan fiskus ke lokasi usaha akan membuatnya berpikiran merasa diperlakukan tidak baik. Persepsi bahwa sesuatu hal itu menakutkan, memuakkan atau mengganggu, akan tertuang dalam perilaku mencetuskan rasa sakit secara emosional. Dampaknya adalah, petugas pajak diterima dengan perilaku emosional, seperti berwajah masam, tidak mau mendengar, enggan melihat, meninggikan suara dan tidak mau menerima apa pun penjelasan yang diberikan.

Nah, manusia itu memiliki lima elemen dalam tubuhnya, salah satunya logam dan api, selain air, bumi dan kayu. Manusia yang dihadapkan pada elemen api terus menerus mungkin akan memunculkan elemen api di dalam tubuhnya sendiri sehingga kendali atas nafsu amarah tidak bisa ditekan. Begitu pula saat ketidakpercayaan dan emosi Wajib Pajak ditonjolkan, maka akan berhadapan dengan kemarahan fiskus akibat trauma atas ketidakpercayaan yang terjadi dalam suasana rasa sakit emosional. Harus ada yang menjadi air. Harus ada yang membumi. Memunculkan elemen kayu pun tak apa karena salah satu sifat elemen kayu adalah pemberani dan kritis. Wajib Pajak yang kritis, tentunya dapat menggali kompetensi fiskus dengan pengetahuan yang dimiliki, dan itu sungguh merupakan simbiosis mutualisme untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kesimpulannya, semua orang di muka bumi ini mempunyai trauma yang dihasilkan dari pengalaman berproses kehidupannya. Trauma itu tidak lahir hanya dari bencana.

Beberapa cara penyembuhan trauma dilakukan dengan terus berpikir positif, fokus pada hal-hal yang menyenangkan, terbuka dan bersosialisasi dengan orang lain, serta menyibukkan diri. Menjadi relawan di saat bencana, sesungguhnya merupakan upaya terbaik dalam berbaur untuk meningkatkan kepatuhan. Atau, menggali hal-hal positif saat berhadapan dengan orang lain, dengan tamu asing atau dengan petugas pajak yang datang ke rumah atau tempat usaha anda.

Salah seorang Wajib Pajak di sebuah kota besar Provinsi A, pernah berkali-kali didaulat untuk bicara di depan gathering taxpayer hanya untuk memotivasi teman-temannya sesama Wajib Pajak untuk menunaikan kewajiban sebagai warga negara dalam membayar pajak. Ia berbicara pengalamannya yang menoreh trauma saat mengalami pemeriksaan. Namun, setelahnya, ia mengakui, “Saya baru memahami pajak setelah mendengarkan penjelasan petugasnya. Dan setelah saya membayar ketetapan hasil pemeriksaan, saya melihat sendiri bagaimana berkembangnya perusahaan saya,” cetusnya kalem.

Seorang ibu yang mendapatkan surat imbauan, pernah menangis karena rasa sakit emosional, tetapi di akhir tahun ia tampil memperoleh penghargaan dari kantor pajak terdaftar. Sang ibu takjub. “Setelah membayar pajak, saya tercengang,” katanya. “Order untuk saya meningkat berkali lipat,” ujarnya dengan mata berbinar.

Seorang pengusaha batik muda di Yogya, sangat ingin belajar menjadi Wajib Pajak yang patuh. Selain bersahabat dengan pejabat pajak di sana, banyak hal dia peroleh. Ketulusan, persahabatan, pemesanan karya bahan batiknya, termasuk informasi bagaimana cara memperoleh beasiswa LPDP. Dan dia berhasil meraih bea siswa itu! “Doakan saya,” bisiknya kepada sang sahabat pajak yang mendorongnya mengejar beasiswa, “untuk saya bisa berbagi tentang peran pajak… di dunia perkuliahan nanti.”

Semua pengalaman itu adalah bagian dari penyembuhan trauma. Bisa jadi, mereka adalah orang-orang yang terus menerus mendera pikirannya dengan pikiran positif. Mereka yang bisa memandang bahwa pengalaman pahit atau bencana adalah titik balik keberhasilan. Mereka yang mau belajar untuk mempercayai bahwa ujian adalah batu loncatan kematangan.

Kalau saja kita mau percaya….

Selama kita tidak dapat memprediksi sejauh mana lempeng bumi akan berhenti atau terus bergerak, maka hanya ada satu pilihan. Teruslah membayar pajak, untuk membantu saudara-saudara sebangsa kita yang sedang berduka. Yang kampung halamannya rusak parah dan perlu perhatian pemerintah untuk kembali membangun. Teruslah berkorban dan menggalang sumbangan dan bantuan untuk keutuhan negeri ini.

Selama sudah ada kesadaran dan kesepahaman pikiran, maka Hakuna Matata. No worries for the rest of your days… Jangan khawatir.

Setelah kesusahanmu, akan terbit kebahagiaanmu. Itulah filosofi.

Tax Light

Episode Baru

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

Menyusuri jalan tanpa rambu, mendaki dan terjal dengan aspal berliku

Kami tertunduk dalam penuh rasa haru, kepada mereka yang meluangkan ikhlasnya membayar pajak dalam makna pembangunan untuk satu…

 

Mungkin saja di sisi sebelahnya…

Mereka tidak bicara apa-apa karena masih tidak paham untuk apa?

Satu causanya saat bagaimana syiarkan pajak, dia penopang negara

Satu primanya adalah saling asuh sang patriot negeri, tuk kepalkan semangat tanpa senjata…

Ini yang saya berikan, mana kontribusimu?

 

Kebanggaan itu

Di tahun lalu, masih berlomba mencari arti

Namun miris mengiris saat krisis, tsunami mini bersenda di riuh ibu kota, air melapukkan bangunan saat senja, dan berenanglah ular, buaya, sesama kita yang mencari lenyapnya istana…

 

Kami tertunduk dalam berkaca melihat untaian mobil tersungkur tanpa sangkur, mereka yang tersujud tanpa wujud, alam tlah memberi tanda akan rusaknya sarana…

Atas nama keikhlasan yang berujung pada derma peran kita sebagai warga negara,

Melayang pikiran tentang bagainana kesejahteraan bisa ditegakkan, kala musibah tertanda  ujian  datangnya berbalur hujatan

 

Refleksi tahun lalu mengiringi detak nadi yang sesak dengan angkaranya

Resolusi tahun baru penuhi desah nafas yang membuncah dalam cita-cita dan kecewanya

Ahoy

Berbunyilah petasan dan menarilah kembang api, sebelum berganti kepedihan dan pertanyaan

Maka terlihat sepasang sahabat bernama ujian dan anugerah berdampingan memercik tanda baca di pikiran, mereka nelangsa dan berusaha  menggandeng kesabaran sebagai mitra kekuatan

 

2020 datang….

Konon, pencerahan tetap berjalan dalam skenario terapan

Apapun, negara harus tetap ditegakkan

Majulah mereka atas nama pahlawan yang merogoh kocek dalam kesetiaan dan pembelaan

Kita mulai lagi dengan membangun negeri

Kami Indonesia!

Kami bayar pajak untuk bangsa

A3, 070120

Continue Reading

Tax Light

“BING-o”

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

“Bingo!” Mari menyadarkan diri sejak saat ini—keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri!

Akhir tahun tidak selalu dimaknai dengan pesta. Sebaliknya, awal tahunlah yang biasanya disimbolkan dengan perayaan, harapan, atau, gebyar. Di masa kanak-kanak dahulu, TVRI, satu-satunya stasiun televisi Indonesia, akan menayangkan kaleidoskop kejadian, kegiatan dan berita sepanjang tahun di negeri ini. Nah, di akhir tahun menuju pergantian tahun, kami akan melek semalam suntuk hanya untuk menonton Operette Papiko yang dikomandani Tante Titiek Puspa masa itu.

Sesuai dengan namanya, kaleidoskop merupakan aneka peristiwa yang telah terjadi yang disajikan secara singkat. Sebagai pemirsa yang setia, kita bagai menonton tayangan yang mengingatkan pada rasa suka atau duka. Dan saat itu, sekelebat ada pikiran, “Eh, sudah mau selesai juga tahun ini….”

Masa kanak-kanak juga bagaikan sekelebat, dan mendadak usai. Time flies, katanya. Waktu berlalu sangat cepat. Tahu-tahu sudah 20 tahun, 25 tahun, 40 tahun, 50 tahun, dan 60 tahun… Pada usia ke-60 maka kata-katanya bukan mengagumi waktu yang berjalan cepat, tetapi malah menunggu waktu. Masak? Iya. Coba perhatikan kakek nenek kita yang sudah berusia 60 tahun lebih. Seringkah kita melihat mereka merenung? Tentu. Pernahkah menegur mereka untuk sekadar bertanya, kenapa merenung? “Menunggu waktu,” jawabnya.

Bingo!

Waktu merupakan kunci jawaban, saat kita tidak berhasil mencapai sesuatu. Kenapa demikian? Apabila kita mengalami kegagalan maka kita disarankan untuk tidak berputus asa, dan mengulangi sampai kita mencapai keberhasilan. Apabila kita merasa belum menemukan kepuasan maka kita akan terus memberikan yang terbaik sampai suatu saat berhasil mencetak prestasi. Semua yang kita lakukan dari dulu sampai sekarang, tergantung dari waktu.

Tanpa disadari, habit ini melekat saat kita bekerja atau berkegiatan seharian, disibukkan oleh pelanggan, atasan, agenda rapat dan kunjungan, sehingga satu hari berjalan begitu cepat. Apalagi bagi pelayan publik yang hampir 12 jam dalam sehari menangani keluhan atau proses permohonan, waktu apabila tidak diseling dengan istirahat, terasa melesat. Tiba-tiba kita terperangah, “Eh, sudah sore, ya?” Bahkan saking cepatnya waktu, ada yang menyesali, mengapa satu hari isinya hanya 24 jam? Seandainya sehari itu lebih dari 24 jam, tentu saja semua kegiatan bisa dirampungkan, demikian setiap orang beralasan. Tapi, percayakah Anda bila sehari berisi lebih dari 24 jam, Anda dapat menyelesaikan pekerjaan Anda?

Saya, tidak. Why, no?

Karena manusia itu punya kebiasaan lain selain sibuk, yaitu, menunda-nunda pekerjaan. Kebiasaan menunda-nunda tugas itu namanya procrastination, dan orang yang memiliki gejala ini disebut procrastinator. Konon, telah dilakukan penelitian bahwa mereka yang suka menunda pekerjaan disebabkan moody atau faktor impulsif, terlebih lagi mereka menemukan kompensasi kesenangan jangka pendek dengan tidak sesegera mungkin melakukan pekerjaannya. Apakah itu terjadi dalam keseharian kita semua? Contohnya, seorang pelaku usaha yang baru menjalankan kegiatan usaha, lantas saat diminta ber-NPWP, apakah dia akan segera mendaftarkan diri atau memilih untuk menunda mendaftar? Apabila dia sadar bahwa di bahunya ada tanggung jawab untuk menegakkan negara, maka dia memilih mendaftarkan diri segera sebagai Wajib Pajak sehingga untuk selanjutnya bisa menunaikan kewajibannya membayar pajak untuk bangsa dan negara. Nah, bagaimana kalau dia tidak suka, tidak sadar bahwa pajak itu penting, dan merasa bahwa tidak punya tanggung jawab mengamankan penerimaan negara…?

Apabila seseorang tidak menyukai satu pekerjaan maka otomatis dia akan mengalihkan energinya pada pekerjaan lain yang menurutnya bisa sebagai kompensasi, dan membuatnya sibuk. Akhirnya, pekerjaan yang selesai adalah pekerjaan nomor dua, sementara pekerjaan utama yang tidak menyenangkan, tanpa dia sadari akan semakin tertumpuk atau terlupakan. Jadi selain sibuk benar-benar bekerja, kita bisa menyibukkan diri sehingga dianggap benar-benar bekerja!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama.

Jadi, sebenarnya bekerja itu apa?

Bekerja itu adalah ketika kita tahu untuk apa kita bekerja. Kita tahu, saat dilahirkan di muka bumi, masing-masing dari kita memiliki tujuan. Sebagai apa? Ada yang memilih jadi guru, jadi tentara, jadi peneliti, jadi seniman, jadi pejabat, jadi preman, importir, eksportir, jadi pengusaha, termasuk juga Aparatur Sipil Negara. Namun, apa misi kita di dunia? Sesungguhnya misi manusia di dunia itu hanya satu, yaitu berbuat kebaikan kepada manusia lain. Tetapi kebaikan itu menurut kita hanya bisa dimaknai dengan berbagi materi.

Tidak juga, kok…. Kebaikan bisa dimulai dengan memberikan senyum di awal hari kepada teman seruangan kerja, atau membantu menyeberangkan lansia di jalan raya, atau menghindar dari menginjak semut yang kelihatan di bawah kaki kita. Kebaikan bisa juga dari berbagi ilmu, berbagi makanan, dan berbagi kesusahan untuk bisa saling menghibur. Kebaikan bisa dimaknai dengan memberi kebahagiaan, atau memberi sumbangan, atau bahkan mewartakan, bahwa membayar pajak itu juga kebaikan yang bertanggung jawab.

Kebaikan itu juga, saat seorang guru mengedukasi siswa-siswanya tentang peran pajak dalam pendidikan, seperti yang dilakukan peserta Lomba ngevlog Guru Bertutur Pajak yang diselenggarakan dengan adanya sinergi antara DJP dan PGRI memperingati Hari Guru. Esensinya saat ini bukan materi, tapi pencerahan dan awareness bagi generasi muda yang akan berbuah di masa mendatang.

Kalau kita juga aware bahwa pencapaian penerimaan pajak tahun ini masih di angka 70 sampai 80 persen, maka kita akan beramai-ramai menggencarkan kampanye bayar pajak tanpa harus diminta kantor pajak. Walaupun kita pernah membaca bahwa realisasi belum tercapainya penerimaan pajak antara lain karena melambatnya faktor pertumbuhan ekonomi global, dan harga komoditas yang belum menunjukkan perbaikan secara signifikan, kita tetap perlu berpikir. Bagaimana cara supaya target pajak bisa tercapai, dan masyarakat sekitar merasa punya tanggung jawab bersama? Duh, kalau pajak tidak tercapai, biaya gaji kita bagaimana ya? Apakah pembangunan di desa ini bisa terbengkalai? Bagaimana dengan anggaran kesehatan, pendidikan, dan lain-lain?

Mungkin baik juga direnungkan di malam hari, apakah kita harus membiayai negara dari utang? Bagaimana kalau utang belum dilunasi turun temurun, kasihan generasi anak cucu yang harus menjadi aktor utama menyelamatkan negara? Lantas, perhatikanlah wajah-wajah polos anak-anak di sebelah kita. Merekalah generasi muda yang perlu diselamatkan saat ini, bukan yang menyelamatkan, nanti. Itu kalau kita masih punya gengsi….

Bingo!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama. Saat mengucapkan “Bingo!”, kita mengekspresikan kepuasan atau keterkejutan pada hasil positif, bahwa negara akan maju kalau kesadaran perpajakannya terbangun kuat. Mari menyadarkan diri sendiri sejak saat ini, keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri! Mari tersadar dari tidur lelap yang panjang…. Dan di pengujung malam akhir tahun 2019, baiknya kita ucapkan salam….

“Selamat bangun di tahun 2020, untuk bersama mem-bingo-kan Indonesia Maju!”

Continue Reading

Tax Light

Prima

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Menjadi manusia prima adalah menjadi manusia yang bisa melihat ke dalam diri, lalu mencari jalan untuk bisa berarti bagi lingkungan agar bisa memberi manfaat.

Ketika orang berbicara dan mengucapkan kata prima, maka itu lekat dengan kesempurnaan. Sementara nilai Kesempurnaan merupakan bagian dari belief-nya atau nilai-nilai Kementerian Keuangan yang terdiri dari Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan dipungkas dengan nilai Kesempurnaan. Arti kata prima adalah sangat baik, dan utama, di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yang unik, kata prima dikenal sejak anak-anak belajar di jenjang pendidikan dasar, saat dikenalkan istilah bilangan prima dalam matematika. Bilangan prima, hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri.

Mengutak-atik bilangan tentunya menarik. Apalagi bila dikonversi dengan filosofi kehidupan. Bilangan termasuk prima apabila dia hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri, maka angka satu bukanlah bilangan prima karena pembaginya hanya satu. Seorang anak manusia yang hanya memikirkan satu hal saja, bukanlah manusia prima, atau utama. Manusia yang berpikir hanya satu hal saja mungkin kerepotan kalau harus dipaksa memikirkan banyak hal. Namun, apabila dalam proses berpikir, selain berpikir satu hal, dia dipaksa berpikir ke dalam dirinya sendiri, maka dia bisa menjadi manusia prima. Sampai di sini, apakah Anda bingung?

Kadang kala kita bekerja tidak mau repot. Kita bekerja standar, hanya melakukan yang diinstruksikan, atau ditulis dalam tugas pokok dan fungsi bagi amanah jabatan yang kita emban. Selebihnya, kita tidak mau tahu. Bahkan kalau ada tugas tambahan, kita akan berpikir, mengapa harus kita yang melakukannya? Sementara gajinya tidak nambah, apalagi ekstra tambahan. “Little-little to me, little little to me, but salary not up up”. Kita sudah berada di zona nyaman. Kerjakan saja punyamu, punya dia adalah urusannya. Maka bisa dipastikan bahwa unsur tepo seliro dan gotong royong akan mulai menipis perlahan-lahan.

Beda halnya kalau kita memfokuskan pada satu hal, dan kembali berpikir ke dalam diri sendiri. Apakah satu hal itu sudah cukup berarti bagi lingkungan kita? Apakah dengan rezeki yang diberikan Allah selama ini, kita sudah melepaskannya juga dalam bentuk sedekah? Dalam bentuk membayar zakat? Dalam bentuk kewajiban membayar pajak? Kita berpikir, kalau tidak melakukan hal itu, maka kita ini manfaatnya apa? Sampai di sini, Anda mungkin sudah tidak bingung lagi, bukan? Menjadi manusia prima, adalah menjadi manusia yang bisa berpikir tentang satu hal, yang apabila kembali ke dalam dirinya sendiri, maka dia akan mencari jalan untuk menjadi bermanfaat. Itulah, mengapa istilah prima, identik dengan utama. Dan mengapa, jumlah bilangan prima sangat minim dibandingkan bilangan lainnya.

Sekarang coba hitung, ada berapa jumlah bilangan prima dari kisaran angka 1 sampai 100? Sudah mengecek ke “Mbah Google”? Benar, hanya 25 buah bilangan prima! Berarti dari skala 1 sampai 100, ada 25 bilangan prima, dan 75 bilangan lainnya. Apabila dipresentasikan maka bilangan prima mencapai 20-25 persen dari 100 persen di 100 bilangan pertama. Ada satu teori yang sangat lekat dengan kehidupan kita dalam menyasar kebermanfaatan dengan presentasi itu. Pernah dengar Teori Pareto? Dikenal dengan nama The Pareto Principle, yaitu aturan 80-20, menyatakan bahwa dari banyak kejadian, sekitar 80 persen dari efeknya disebabkan oleh 20 persen dari penyebabnya. Prinsip ini dicetuskan Joseph M. Juran seorang pemikir manajemen bisnis, berdasarkan ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Pareto mengamati bahwa 80 persen pendapatan di Italia dimiliki oleh 20 persen jumlah populasi. Dalam implementasinya, 80 persen dari keluhan pelanggan muncul dari 20 persen produk atau jasa, sementara 20 persen dari produk atau jasa mencapai 80 persen dari keuntungan, atau 20 persen dari tenaga penjualan memproduksi 80 persen dari omzet perusahaan.

Kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong adanya pengetahuan

Berpikir Pareto secara kritis, mungkin ada benarnya perampingan eselonisasi. Mungkin saja 80 persen hasil kerja selama ini merupakan kerja keras hanya dari total 20 persen karyawan!

Contoh lain? Satu, silakan cek baju di lemari. Dari semua baju koleksi, yang kita pakai bisa saja hanya 20 persen karena kita suka baju itu saja. Sisanya? Ya, jarang dipakai. Kenapa tidak didonasikan saja? Dua, dari seluruh teman kita, berapa persenkah yang selalu mengingat kita? Apa ada sebanyak 20 persen saja? Maka fokuslah bersama teman-teman setia itu. Berikutnya, bagaimana dengan penghasilan kita per tahun? Berapa keuntungannya, dan dari keuntungan itu, digunakan untuk apa saja? Bagaimana kalau kita belajar menyumbangkan 20 persen dari keuntungan itu ke hal-hal yang bermanfaat?

Beranjak ke dunia pendidikan, semua kementerian dan lembaga menyasarkan program mereka kepada generasi muda. Bila melihat data peserta didik di Indonesia menurut jenjang pendidikan Tahun Ajaran 2017/2018, yaitu sebanyak 25,49 juta jiwa peserta didik tingkat SD; 10,13 juta jiwa peserta didik tingkat SMP; 4,78 juta jiwa peserta didik tingkat SMA dan; 4,7 juta jiwa tingkat SMK—total peserta didik mencapai 45,10 juta jiwa. Menerapkan hukum Pareto yang program kementerian dan lembaga hanya difokuskan bagi 20 persen siswa per jenjang pendidikan, maka di tahun 2045 kelak dampak program itu akan menyebar ke 80 persen pengusaha muda. Apakah bentuk dampaknya? Materi pembelajaran yang disisipkan secara inklusif saat mereka masih bersekolah di usia muda di jenjang SD, sampai SMA, misalnya materi edukasi pajak, materi bahaya narkoba, materi hindari penyebaran berita hoaks dan terorisme, akan menjadikan mereka Generasi Emas yang memiliki insting membela NKRI.

Saat Pajak Bertutur di launching di tahun 2017, tercatat 2000-an sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA dan PT mengikuti program Inklusi Perpajakan itu, dan melibatkan 27 ribu siswa yang notabene adalah generasi muda. Sasarannya? Tahun 2045, mereka bertumbuh kembang menjadi generasi muda usia produktif yang sadar pajak. Mereka paham bagaimana pajak dikumpulkan, bagaimana manfaat pajak kepada sesama, dan mereka memiliki kesadaran penuh bahwa membayar pajak adalah tanggung jawab yang tidak perlu lagi dipaksakan. Bisa dibayangkan, apabila kelak 80 persen penerimaan pajak di tahun 2045 ternyata 20 persen pembayar pajaknya adalah para pengusaha muda yang pernah mengikuti Pajak Bertutur di masa-masa SD sampai SMA mereka!

Dekade terakhir ini, pendekatan alternatif yang dilakukan oleh banyak otoritas pajak di dunia adalah Deference Model, yaitu mempertimbangkan perilaku Wajib Pajak dengan mempertimbangkan persepsi masyarakat terhadap pemerintah, tax morale, dan perilaku peers. Caranya dengan memengaruhi perilaku warga negara melalui peningkatan pengetahuan perpajakan melalui edukasi pajak. Tujuannya, tentu saja menanamkan kultur kepatuhan kepada setiap warga negara. Edukasi perpajakan memiliki sasaran, yang salah satunya disebut future taxpayers. Dialah yang kita kenal sebagai generasi muda, atau genmil zaman now. Yang nantinya menjadi generasi emas Indonesia. Jadi, kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, karena kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong dengan adanya pengetahuan, dan pengetahuan akan membangun persepsi atas pentingnya pajak bagi suatu bangsa.

Edukasi melalui penyuluhan kepada masyarakat dinyatakan akademisi sebagai sarana untuk mewujudkan kepatuhan sukarela. Untuk itulah, kegiatan edukasi disarankan untuk dilaksanakan kepada setiap warga negara sejak usia dini, melalui kurikulum pelajaran di sekolah. Dan hal ini sangat disadari oleh Pemerintah. Maka program demi program edukasi pun bermunculan. Semata-mata, semua berlandaskan tanggung jawab untuk menitipkan keberlangsungan pembangunan negeri ini.

Edukasi tidak tumbuh begitu saja. Dia disemai oleh mereka yang berpikiran seperti bilangan prima. Konsep berpikirnya adalah menetapkan secara fokus tujuan pendidikan anak manusia, mengembalikan semua pertanyaan kepada diri sendiri, untuk selanjutnya meraih kebermanfaatan semesta. Ya, prima adalah keutamaan. Menyinggung kata utama, seolah diingatkan nama Dirjen Pajak baru yang akan bekerja keras dan cerdas demi Indonesia. Selamat!-Aan Almaidah

Continue Reading

Breaking News

Breaking News1 minggu ago

Resmikan TaxPrime Compliance Center untuk Layanan Profesional

Firma konsultan pajak TaxPrime meresmikan kantor baru untuk TaxPrime Compliance Center di Jalan Guru Mughni 106, Setiabudi, Jakarta Selatan. TaxPrime...

Breaking News2 minggu ago

Bayar Pajak, Beasiswa Banyak

Jakarta, Majalahpajak.net-Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) terus menyempurnakan kurikulum sadar pajak dan menginstruksikan pembentukan relawan pajak...

Breaking News2 minggu ago

Penyelundupan Gerogoti Wibawa Negara

Jakarta, MajalahPajak.net- Kementerian Keuangan RI melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bersama Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan...

Breaking News2 minggu ago

Inovasi tak Sebatas Aplikasi

Jakarta, MajalahPajak.net-Tak sedikit Kantor Pelayanan Pajak (KPP) gugur dalam lomba Kantor Pelayanan Terbaik (KPT) tingkat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) karena hanya...

Breaking News2 minggu ago

Apresiasi untuk Guru Penutur Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net-Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan apresiasi kepada 10 pemenang lomba vlog bertajuk “Guru Bertutur Pajak (Gutupak)” di Kantor Pusat...

Breaking News2 minggu ago

Pengelola Dana Desa harus Melek Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia yang beranggotakan para pengajar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA UI) memberikan pendampingan bagi pengelola...

Breaking News2 minggu ago

Kemensos Ajak Dunia Usaha Andil Jangka Panjang dalam Progam KAT

Jakarta, Majalahpajak.net – Menteri Sosial Juliari P. Batubara mendorong dunia usaha turut berpartisipasi berjangka panjang bersama pemerintah dalam program Pemberdayaan...

Breaking News1 bulan ago

Bahaya Hepatitis bagi Ibu Hamil dan Janin

Banyak ibu hamil yang tidak menyadari dirinya terinfeksi virus hepatitis. Apa saja dampak hepatitis bagi si janin? Hepatitis adalah peradangan...

Breaking News2 bulan ago

IKPI: Omnibus Law Perlu Kajian Mendalam Sebelum Disahkan

Untuk mendukung program pemerintah menerbitkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menyelenggarakan diskusi perpajakan bertajuk “Omnibus Law...

Breaking News2 bulan ago

Kerja “Happy” Kejar Prestasi

Apresiasi kepada pegawai berprestasi tak hanya memicu kompetisi positif untuk meraih kinerja lebih baik, tapi juga membangun iklim kerja penuh...

Trending