Connect with us

Leisure

Gugus Surga di Maluku Tenggara

Diterbitkan

pada

Di bumi siwa lima nusa ina ama

Negeri seribu pulau terbentang di atas biru lautan

Ikang bakar, hingga makan colo-colo sagu katong jadi satu

Tifa kuli bia babunyi satukan barisan

Aroma cengkeh pala kaeng berang di kapala

Sebait lirik lagu berjudul “Paradise” ciptaan Tikang Palungku yang menjadi salah satu lagu tema Tour de Molvccas 2017 ini cukup merangkum sejuta keindahan alam, ragam budaya, serta kekuatan sejarah jalur rempah Maluku. Dengan sebutan lain the Moluccas, Maluku pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia, sebagai kebun surga tempat tiga rempah penting, yakni cengkih, pala, dan lada yang kala itu hanya tumbuh di sini.

Kini, walau rempah tidak membuat Maluku setenar dulu, pesona keindahan dan banyaknya keeksotisan pulau-pulau tersembunyi yang belum banyak dijamah, membuat provinsi ini diminati wisatawan domestik dan mancanegara. Apalagi, sejak adanya upaya kreatif juga inovatif dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, dan didukung dengan sarana transportasi, akomodasi, juga infrastruktur yang memadai.

“Breathtaking moment”

Bicara pulau-pulau tersembunyi, mari kita terbang menuju kepulauan Kei di wilayah tenggara Maluku. “Nyeberang dari sini 1,5 jam ke Tual. Kalau Tual itu kabupatennya sudah maju, itu benar-benar surga yang tersembunyi di situ,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Habiba Saimima saat merekomendasikan salah satu destinasi wisata Maluku pada kami, saat berkunjung ke sini akhir Agustus lalu.

Setelah mendarat di Kota Tual, Pulau Kei Kecil, wisatawan bisa mulai mengeksplor pulau ini maupun pulau nan cantik lainnya menggunakan speedboat atau perahu sewaan. Gugusan kepulauan Kei memiliki 119 pulau besar dan kecil, membentang seluas 7900 kilometer persegi, serta diberkati dengan perikanan dan objek pariwisata yang sangat kaya.

Saking cantiknya gugusan pulau ini, tahun lalu Kementerian Pariwisata RI pun menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer (the most popular hidden paradise).

Satu di antara surga tersembunyi itu adalah Pulau Bair. Pulau tak berpenghuni ini memiliki dua teluk yang saling berhadapan dan menyuguhkan kecantikan tak terkira. Air laut yang begitu jernih dan tenang dengan kemilau warna hijau toska yang memesona.

Belum lagi bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua—ini seperti versi mininya. Untuk mendapatkan sensasi breathtaking moment, Anda bisa menaiki salah satu bukit tersebut dan jangan lupa berfoto sebagai oleh-oleh untuk teman-teman Anda.

Meti Kei

Sebidang surga lainnya yang wajib singgahi adalah Pantai Ngurbloat yang terletak sekitar 18 kilometer dari Langgur, Ibu Kota Maluku Tenggara. Selain memiliki bibir pantai yang landai, pantai ini membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer, sehingga wisatawan kerap menamainya sebagai Pantai Panjang. Dan menariknya, pantai ini juga memiliki pasir putih sehalus tepung, loh. Saking halusnya, majalah National Geographic pernah menyebutnya sebagai pasir paling lembut di seluruh dunia.

Oktober adalah bulan yang paling tepat untuk menjelajahi pantai ini atau pantai lainnya di Pulau Kei. Sebab, dalam setahun, hanya di bulan itu, air laut di sekitar pulau ini surut jauh. Bayangkan, jika sebelumnya Anda harus menggunakan perahu menuju pulau lain, kini bisa berjalan kaki. Pemerintah daerah setempat pun memanfaatkan fenomena tersebut untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi. Setiap tanggal 22 atau 23 Oktober, di Pantai Panjang diadakan Festival Meti Kei.

“Meti kei itu airnya surut jauh. Jadi, ikan enggak sempat lari, tersembunyi di karang-karang, orang tinggal tombak saja, langsung disiapin bakar-bakaran ikan di sana. Itu bulan Oktober,” tambah Saimima.

Tak sekadar menjual potensi alam, kekhasan budaya masyarakat setempat dan potensi lainnya juga diperkenalkan di acara tersebut, seperti pameran mutiara sebagai hasil bumi unggulan, pergelaran kesenian yang mengekspos budaya Kei, tradisi leluhur menangkap ikan di laut, hingga pesta rakyat yang dipusatkan di sepanjang Pantai Panjang ini. Di sekitaran pulau ini juga telah tersedia banyak pilihan penginapan yang bisa Anda pilih, mulai dari homestay ataupun cottage tepi pantai. Mari katong pi ka Maluku!

“Saking cantiknya gugusan pulau ini, Kementerian Pariwisata RI menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer.”

“Bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua, hanya saja ini versi mininya.”- Wawancara: Agus Budiman, Penulis : Ruruh Handayani

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

1 Comment

1 Comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Vista Tersembunyi di Jagat Bali

Diterbitkan

pada

Penulis:

Bali memiliki ribuan pesona keindahan alam. Inilah daftar surga tersembunyi yang mungkin belum pernah Anda kunjungi di Pulau Dewata ini.

 

Keindahan dan budayanya yang lestari membuat Bali selalu terkenang di hati siapa pun yang pernah mengunjunginya. Bali menawarkan surga tropis dan keramahan penduduk lokal dengan segala adatnya yang terjaga.

Alam pesisir seperti pantai Kuta, Pandawa, Dreamland atau pun Sanur, merupakan sebagian dari objek wisata Bali yang sangat populer di sana. Saking terkenalnya, tempat-tempat ini kerap dipadati wisatawan sehingga mempersempit ruang privasi berlibur Anda. Untuk itu, berikut ini kami rekomendasikan beberapa keindahan “tersembunyi” yang belum diketahui banyak wisatawan, termasuk Anda.

Air dari langit

Salah satu tempat wisata yang kami rekomendasikan adalah air terjun Tukad Cepung. Keberadaan objek wisata ini mulai dikenal di kalangan warga lokal sekitar empat tahun lalu, tetapi belum banyak dikunjungi wisatawan lantaran tempatnya yang belum dikelola dan belum adanya fasilitas serta infrastruktur jalan yang memadai. Namun, seiring waktu warga dan pemerintah desa setempat mulai membenahi dan mengelolanya dengan baik.

Air terjun ini terletak di Desa Penida Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Dari Bandara Ngurah Rai, lokasinya bisa ditempuh dalam 75 menit, sementara dari Kota Denpasar sekitar 1 jam dengan kendaraan bermotor. Penjelajahan dimulai dengan menuruni ratusan undakan hingga tampak tebing di kanan-kiri dan aliran air yang mau tidak mau membasahi kaki Anda.

Meski sedikit melelahkan; Anda akan dihibur oleh rimbunnya tanaman, jernihnya aliran air parit, serta sapaan ramah dari warga sekitar yang bekerja di kebun atau ladang. Di sepanjang perjalanan setapak juga ada sejumlah kedai yang bisa Anda singgahi untuk beristirahat sembari mencicipi panganan dan minuman berbalut suasana alam tenang dan menyenangkan.

Sebelum mencapai air terjun, Anda akan berjumpa dengan sembilan air mancur Penglukatan. Namun, menurut pemerintah daerah setempat, wisatawan hanya bisa mendekati dua air mancur, karena tujuh pancuran lainnya hanya digunakan untuk keperluan keagamaan dan hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang telah disucikan.

Selain menyusuri sungai dengan aliran air jernih yang berasal dari air terjun, Anda juga akan melewati celah sempit di antara bebatuan, dan tebing-tebing batu tinggi yang ditumbuhi lumut, mengapit pada sisi kiri dan kanan sungai seolah menjadi sebuah gapura alam untuk menyambut wisatawan.

Keunikan lainnya, air terjun ini juga hanya bisa dilihat jika kita berada tepat 10-20 meter di depannya, ini disebabkan karena letaknya yang berada di bawah permukaan tanah sehingga menyerupai gua. Tak heran, Air terjun Tukad Cepung kerap disebut sebagai Air Terjun dari Langit.

Pencahayaan matahari yang masuk dari atas dan menyinari di bagian air terjun, membuat pesona keindahannya semakin memukau dan memberikan pengalaman spiritual bagi banyak orang. Selagi Anda di sini, jangan lupa untuk mengabadikannya melalui kamera.

Padang bunga

Selanjutnya, berkunjunglah ke Desa Temukus, Kecamatan Rendang, Karangasem, untuk menemukan Taman Edelweiss. Destinasi wisata ini dibuat sejak 2018 silam oleh pemerintah daerah untuk dikelola oleh masyarakat setempat dan diharapkan dapat memutar roda perekonomian pascaletusan Gunung Agung.

Uniknya, di taman ini Anda tidak akan menemukan bunga edelweiss pada umumnya, tetapi bunga kasna yang menawan dan mampu memberikan kesan seperti berada di area yang tertutupi salju. Semula, bunga ini tumbuh liar di sela bebatuan puncak Gunung Agung, dan kemudian dibudidayakan oleh warga sekitar di lahan rumah mereka. Selain untuk wisata, bunga kasna juga dijual untuk pelengkap beribadah umat Hindu dan sebagai bahan parfum.

Bunga kasna dapat tumbuh subur di Desa Temukus karena dipengaruhi oleh iklim dan suhu yang dingin. Berada di padang bunga kasna merupakan pengalaman nan menyenangkan, karena Anda dapat merasakan keindahan beserta aroma wangi yang khas dari bunga kasna. Udaranya yang sejuk serta pemandangan alam yang eksotis juga menjadikan tempat ini semakin menakjubkan.

Pengunjung yang datang pun bisa berwisata dengan nyaman karena tempat ini mengedepankan protokol kesehatan dan telah memiliki sertifikat Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif. Selain hamparan bunga Kasna, Anda bisa mendapati bunga gemitir atau marigold. Bunga Gemitir juga salah satu komponen penting di canang sari (sesaji harian). Taman yang dipenuhi dengan bunga berwarna oranye ini akan langsung menyegarkan mata Anda apalagi saat sedang mekar paripurna.

Untuk itu, Anda disarankan datang sekitar bulan Juni hingga Agustus, agar bisa mendapatkan pemandangan padang bunga dan gunung dalam satu bingkai foto yang memesona. Saat berburu foto atau swafoto, Anda dianjurkan berhati-hati agar tidak merusak tanaman bunga di sana. Nah, tak ada salahnya, ‘kan menjelajahi tempat-tempat yang terbilang baru ini untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda?

Yuk, liburan ke Bali!

Lanjut baca

Leisure

Ternate, Magnet Perahu Berlatar Gunung

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pulau-pulau kecil yang terbentuk dari aktivitas vulkanik memberi Ternate objek tamasya yang terbentang dari gunung hingga pantai.

Anda mungkin pernah mengamati gambar bagian belakang pecahan uang kertas Rp 1.000 tahun emisi 2000, yang menggambarkan keindahan Pulau Maitara berdampingan dengan Pulau Tidore. Nah, jika ingin melihat kedua ikon pariwisata di Provinsi Maluku Utara ini dari sudut pandang yang sama persis, Anda bisa mengunjungi Desa Ngade, Fitu, Ternate Selatan. Menuju ke lokasi ini, Anda akan menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Bandara Babullah, Ternate baik menggunakan motor maupun mobil.

Rumah-rumah sederhana di desa ini memiliki pemandangan lanskap laut berlatar Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Saat cuaca cerah, kedua pulau itu terlihat memiliki komposisi yang sempurna—persis seperti lukisan di uang seribu rupiah lengkap dengan perahu nelayannya. Namun, saat mendung dan cuaca berkabut, pemandangan salah satu pulau dapat tertutup.

Jangan lupa untuk berjalan ke lereng desa, menuju anjungan foto berlatar pegunungan, melengkapi objek wisata Maluku Utara yang terentang dari pantai hingga gunung.

Puas berfoto dari lereng puncak Fitu, Anda bisa sejenak menikmati teduh dan tenangnya Danau Ngade. Menariknya, danau yang juga disebut Danau Laguna ini terletak di tengah Desa Fitu yang konturnya berbukit-bukit, sehingga pemandangan yang Anda dapati dari sisi danau seolah dikelilingi oleh perbukitan nan menjulang.

Perairan laguna besar ini tampak kontras dengan lautan biru di dekatnya, yang hanya dipisahkan oleh jalan raya. Meski bertetangga dekat dengan laut, air Danau Ngade tetap tawar. Karena itulah, warga setempat juga memanfaatkan objek wisata ini untuk budidaya ikan air tawar seperti nila dan gurame. Bahkan, digunakan juga untuk mengairi perkebunan penduduk sekitar danau.

Tak sekadar mengagumi keindahannya dari pinggir danau, Anda juga bisa menikmatinya dengan berkeliling danau menggunakan kapal wisata. Selain itu, Anda juga bisa memancing di sini, dengan ikan yang banyak dan besar-besar. Tapi kalau keburu lapar, Anda bisa langsung menuju restoran apung di tepian laguna. Olahan ikan air tawar dengan bumbu dan sambal dabu-dabu khas Ternate dapat Anda santap sembari menikmati panorama danau tenang yang dikelilingi bukit hijau.

Laguna tersembunyi

Dari sini, Anda bisa melanjutkan perjalanan wisata menuju Pantai Sulamadaha, salah satu aset wisata penting Pulau Ternate, sekitar 22 kilometer dari Fitu, atau sekitar 46 menit dengan kendaraan bermotor. Panorama pantai ini telah dikenal oleh wisatawan lokal dan mancanegara.

Pantai Sulamadaha didominasi oleh pasir hitam dan batuan karang di sekitarnya yang tertata apik. Pasir hitam ini berasal dari materi vulkanik letusan Gunung Gamalama. Namun, untuk menguak rahasia keindahan Pantai Sulamadaha, Anda mesti menyusuri jalan setapak di atas tebing yang mengelilingi pantai selama sekitar sepuluh menit. Sembari menyusuri, Anda akan dipukau oleh pemandangan lautan lepas, dan Pulau Hiri yang tampak berdiri gagah laksana gunung di atas laut.

Sisi lain Pantai Sulamadaha akan menampakkan sebuah laguna tersembunyi yang luar biasa indahnya. Teluk Sulamadaha memiliki pantai berpasir putih, serta air yang sangat jernih sampai-sampai batuan karang berwarna dapat jelas terlihat dari atas permukaan air. Udara Ternate yang cukup kering dan terik pun sama sekali tidak terasa ketika Anda berada di teluk ini. Tempat ini benar-benar seperti oasis di pinggiran Ternate.

Namun, surga tersembunyi ini akan terasa lebih maksimal dinikmati bila Anda menjajal beragam aktivitas yang ditawarkan, mulai dari berenang, naik perahu atau banana boat, hingga snorkeling. Fasilitas di teluk ini, seperti warung makanan, penyewaan alat snorkeling, dan kamar bilas, juga terbilang lengkap dan dikelola rapi oleh warga setempat.

Nah, Ternate cantik, bukan? Jangan lupa untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat selama Anda berwisata, ya.

Lanjut baca

Leisure

Dendang Ambon Sepanjang Hari

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tak hanya sebagai perekat sosial, musik bagi warga Ambon merupakan identitas dan nilai tambah pariwisata.

Musik merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Kota Ambon. Musik seakan-akan menjadi denyut nadi pergerakan kota yang dikenal sebagai Ambon Manise ini, sampai muncul ungkapan “Orang Ambon bisa bernyanyi atau bersenandung sejak dalam perut”.

Masyarakat Ambon seperti memiliki DNA musik yang bukan hanya bagian dari seni, tetapi juga menjadi budaya Ambon. Banyak penyanyi asal Kota Ambon yang telah mengharumkan nama Indonesia di ajang kompetisi nasional dan internasional. Ini membuat musik Ambon telah menjadi barometer musik di Indonesia.

Tak hanya itu, musik saat ini merupakan wahana pemersatu yang mampu menciptakan kebersamaan antaragama dan menembus perbedaan. Bagi masyarakat Ambon, musik merupakan ikon, alat perdamaian, sekaligus nilai tambah pariwisata.

Kota Musik Dunia

Dengan semua latar belakang itu, pemerintah setempat pun mencanangkan Ambon sebagai City of Music atau Kota Musik sejak 2011 silam. Dan di tengah kesungguhan dan kedamaian masyarakatnya, Ambon dinobatkan sebagai Kota Musik Dunia oleh UNESCO pada 31 Oktober 2019.

Kota terbesar sekaligus ibu kota di Provinsi Maluku itu bersanding dengan 65 kota lain seperti Sevilla di Spanyol, Hamamatsu di Jepang, dan Liverpool di Inggris yang tergabung dalam Jaringan Organisasi Kota Kreatif.

Dus, Ambon sebagai satu-satunya kota di Asia Tenggara yang berhasil menjadi kota kreatif berbasis musik. Kala itu, Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay berkata, Kota Ambon terpilih karena telah mengedepankan budaya dalam banyak aspek kehidupan. Kota di ujung timur Indonesia ini juga menjadikan budaya sebagai pilar; bukan aksesori.

Ya, musik telah menjadi bagian dari identitas dan budaya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Ambon. Selain pesona pantai-pantai Ambon nan melegenda; wisatawan dapat menikmati kekhasan budaya, makanan khas, hingga musik tradisionalnya.

Nah, jika Anda termasuk pencinta musik dan ingin menjadi saksi sekaligus merasakan harmoni musik Ambon, tak ada salahnya berlibur ke sini dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Musik setiap hari

Identitas Ambon sebagai Kota Musik bisa Anda temukan terutama di malam hari. Di sudut-sudut kota, hampir setiap restoran atau kafe menampilkan musisi-musisi berbakat dengan berbagai macam genre. Selagi di sini, jangan lupa untuk memesan berbagai panganan khas Ambon seperti Rujak Natsepa, Koyabu Kasbi, Roti Kenari, dan Kopi Rarobang.

Sementara pagi atau sore hari Anda bisa berkunjung ke pantai Namalatu, pantai Santai, atau Pantai Halong. Selain bisa berpuas diri bermain dan menikmati keindahan pesisir pantai, Anda bisa saja menemukan sekumpulan anak muda tengah asyik membunyikan tahuri—terompet tradisional khas Maluku yang terbuat dari kerang atau bia, suling, totobuang, hingga pong-pong dan memainkan lagu-lagu daerah dengan merdunya.

Atau, Anda bisa datang tatkala pemerintah daerah mengadakan Festival Musik Ambon setiap tahunnya. Kota ini menyelenggarakan Seni Musik dan Festival Makanan yang melibatkan perwakilan dari kota dan wilayah lain di Maluku. Ada lagi Amboina International Music Festival yang berfokus tidak hanya pada musik tetapi juga pertunjukan dengan instrumen tradisional.

Pemuda-pemudinya juga kerap memanfaatkan momentum Hari Musik Kota Ambon yang diperingati setiap tanggal 29 Oktober, atau Hari Musik Nasional pada 9 Maret setiap tahunnya untuk membuat festival atau rangkaian kegiatan sederhana yang berkaitan dengan musik. Anda bisa secara puas menikmati ragam instrumen tradisional, tarian tradisional sarat makna seperti Cakalele, Timba Telur, Tari Lenso, dan lain-lain.

Terbaru, Ambon Music Office (AMO) sedang menyiapkan wisata musik di 10 destinasi unggulan di lima kecamatan di Kota Ambon pada tahun ini. Di antaranya musik bambu di Dusun Tuni, Amahusu Amboina Ukulele Kids Community, alat musik tifa di Soya, dan komunitas musik di Less Mollucans. Rencananya, program ini akan melengkapi acara musik yang telah ada di tahun sebelumnya yakni Sound Of Green, festival yang mengelaborasikan musik dan lingkungan sembari mengimplementasikan SDGs.

Lanjut baca

Populer