Connect with us

Leisure

Gugus Surga di Maluku Tenggara

Ruruh Handayani

Published

on

Di bumi siwa lima nusa ina ama

Negeri seribu pulau terbentang di atas biru lautan

Ikang bakar, hingga makan colo-colo sagu katong jadi satu

Tifa kuli bia babunyi satukan barisan

Aroma cengkeh pala kaeng berang di kapala

Sebait lirik lagu berjudul “Paradise” ciptaan Tikang Palungku yang menjadi salah satu lagu tema Tour de Molvccas 2017 ini cukup merangkum sejuta keindahan alam, ragam budaya, serta kekuatan sejarah jalur rempah Maluku. Dengan sebutan lain the Moluccas, Maluku pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia, sebagai kebun surga tempat tiga rempah penting, yakni cengkih, pala, dan lada yang kala itu hanya tumbuh di sini.

Kini, walau rempah tidak membuat Maluku setenar dulu, pesona keindahan dan banyaknya keeksotisan pulau-pulau tersembunyi yang belum banyak dijamah, membuat provinsi ini diminati wisatawan domestik dan mancanegara. Apalagi, sejak adanya upaya kreatif juga inovatif dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, dan didukung dengan sarana transportasi, akomodasi, juga infrastruktur yang memadai.

“Breathtaking moment”

Bicara pulau-pulau tersembunyi, mari kita terbang menuju kepulauan Kei di wilayah tenggara Maluku. “Nyeberang dari sini 1,5 jam ke Tual. Kalau Tual itu kabupatennya sudah maju, itu benar-benar surga yang tersembunyi di situ,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Habiba Saimima saat merekomendasikan salah satu destinasi wisata Maluku pada kami, saat berkunjung ke sini akhir Agustus lalu.

Setelah mendarat di Kota Tual, Pulau Kei Kecil, wisatawan bisa mulai mengeksplor pulau ini maupun pulau nan cantik lainnya menggunakan speedboat atau perahu sewaan. Gugusan kepulauan Kei memiliki 119 pulau besar dan kecil, membentang seluas 7900 kilometer persegi, serta diberkati dengan perikanan dan objek pariwisata yang sangat kaya.

Saking cantiknya gugusan pulau ini, tahun lalu Kementerian Pariwisata RI pun menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer (the most popular hidden paradise).

Satu di antara surga tersembunyi itu adalah Pulau Bair. Pulau tak berpenghuni ini memiliki dua teluk yang saling berhadapan dan menyuguhkan kecantikan tak terkira. Air laut yang begitu jernih dan tenang dengan kemilau warna hijau toska yang memesona.

Belum lagi bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua—ini seperti versi mininya. Untuk mendapatkan sensasi breathtaking moment, Anda bisa menaiki salah satu bukit tersebut dan jangan lupa berfoto sebagai oleh-oleh untuk teman-teman Anda.

Meti Kei

Sebidang surga lainnya yang wajib singgahi adalah Pantai Ngurbloat yang terletak sekitar 18 kilometer dari Langgur, Ibu Kota Maluku Tenggara. Selain memiliki bibir pantai yang landai, pantai ini membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer, sehingga wisatawan kerap menamainya sebagai Pantai Panjang. Dan menariknya, pantai ini juga memiliki pasir putih sehalus tepung, loh. Saking halusnya, majalah National Geographic pernah menyebutnya sebagai pasir paling lembut di seluruh dunia.

Oktober adalah bulan yang paling tepat untuk menjelajahi pantai ini atau pantai lainnya di Pulau Kei. Sebab, dalam setahun, hanya di bulan itu, air laut di sekitar pulau ini surut jauh. Bayangkan, jika sebelumnya Anda harus menggunakan perahu menuju pulau lain, kini bisa berjalan kaki. Pemerintah daerah setempat pun memanfaatkan fenomena tersebut untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi. Setiap tanggal 22 atau 23 Oktober, di Pantai Panjang diadakan Festival Meti Kei.

“Meti kei itu airnya surut jauh. Jadi, ikan enggak sempat lari, tersembunyi di karang-karang, orang tinggal tombak saja, langsung disiapin bakar-bakaran ikan di sana. Itu bulan Oktober,” tambah Saimima.

Tak sekadar menjual potensi alam, kekhasan budaya masyarakat setempat dan potensi lainnya juga diperkenalkan di acara tersebut, seperti pameran mutiara sebagai hasil bumi unggulan, pergelaran kesenian yang mengekspos budaya Kei, tradisi leluhur menangkap ikan di laut, hingga pesta rakyat yang dipusatkan di sepanjang Pantai Panjang ini. Di sekitaran pulau ini juga telah tersedia banyak pilihan penginapan yang bisa Anda pilih, mulai dari homestay ataupun cottage tepi pantai. Mari katong pi ka Maluku!

“Saking cantiknya gugusan pulau ini, Kementerian Pariwisata RI menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer.”

“Bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua, hanya saja ini versi mininya.”- Wawancara: Agus Budiman, Penulis : Ruruh Handayani

Editor Majalah Pajak Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

1 Comment

1 Comment

  1. Majalah Pajak

    Majalah Pajak

    3 Januari 2018 at 2:05 am

    “Saking cantiknya gugusan pulau ini, Kementerian Pariwisata RI menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer.”

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Menyongsong Mentari di Pucuk Luwuk

Aprilia Hariani K

Published

on

Pantai sebening kaca terbelah barisan bukit berkelok. Cahaya mentari yang menyelimuti keduanya melengkapi keelokan Pulau Dua Balantak.

Waktu masih menunjukkan pukul 01.15 WITA. Dini hari itu, tim Majalah Pajak dan KPP Pratama Luwuk sudah bersiap menuju Pulau Dua Balantak, Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah. Kami tak ingin melewatkan momen di tempat yang tersohor akan keindahan matahari terbitnya itu. Apalagi banyak yang mengatakan, Pulau Dua Balantak di Luwuk mirip dengan Pulau Kelor, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk menjawab rasa penasaran itu, kami ingin jelajahi keindahan pulau itu.

Kami memulai perjalanan dari Estrella Hotel & Conference Center yang terletak di Jalan Mandapar, kawasan Bukit Halimun, Tanjung Tuwis. Hanya 15 menit dari Bandara Syukuran Aminuddin Amir dengan menggunakan dua mobil berkapasitas masing-masing enam orang. Di Luwuk, tarif sewa mobil per hari sekitar Rp 200 hingga Rp 300 ribu.

Tim yang berjumlah delapan orang dibagi ke dalam dua mobil itu. Perjalanan diawali dengan menyisir jalan raya utama kota. Sesaat kemudian kami blusukan memasuki Desa Bunga. Perjalanan kami menyusuri lebatnya hutan di sisi kiri jalan dan laut di sisi kananya. Untungnya, infrastruktur jalan relatif baik—jalan beraspal mulus. Meski demikian, pengemudi tetap harus waspada karena minimnya penerangan jalan, juga gerombolan sapi dan kambing milik penduduk yang mendadak menyeberang jalan.

Dari balik setirnya, Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Luwuk, Jawahirul Fawaid, mengatakan, bahwa melepas hewan peliharaan di sekitar desa merupakan bagian dari tradisi penduduk di Luwuk.

“Enggak akan hilang (hewan peliharaan). Di sini aman. Jangankan hewan, motor ditinggal di pinggir jalan juga aman,” kata Fawaid. Setelah gerombolan hewan melintas, perjalanan dilanjutkan. Sejurus kemudian pemandangan berganti dengan perkampungan penduduk.

Akhirnya, sesuai target, dua jam lebih perjalanan kami ditempuh. Saat azan subuh berkumandang, tim sampai di Desa Pulo Dua. Di sanalah pos penyeberangan menuju Pulau Dua Balantak berada.

“Jangan salah, Desa Pulo Dua di sini (masih di daratan). Sedangkan Pulau Dua Balantak di seberang sana,” jelas Fawaid.

Sebenarnya, menurut Sekretaris Kantor KPP Pratama Luwuk, Aussie Nurul Anisa—yang juga ikut dalam rombongan—ada rumah warga yang bisa dijadikan penginapan di desa Pulau Dua. Biaya menginap di sana hanya Rp 100 ribu. Ini menjadi alternatif jika darmakelana tak ingin melakukan perjalanan tengah malam dari Banggai.

Setelah menitipkan mobil di tepi pantai, rombongan menyewa perahu untuk menuju pulau tujuan. Biaya sewa satu perahu sekitar Rp 300 ribu–Rp 350 ribu. Kapasitas perahu delapan hingga 10 orang.

“Ayo cepat, jangan sampai matahari keburu naik,” teriak Aussie yang sudah duduk di pinggir perahu. Kami pun lekas naik. Bismillah, mesin perahu ditarik. Sejurus kemudian jejak perahu menggoyang pantai biru kehijauan. Bening, karang-karang jelas terlihat.

Di waktu fajar itu juga, semesta menyuguhkan siluet gugusan bukit yang melengkung melindungi laut biru. Begitulah yang kami nikmati selama 23 menit. Hingga sesampai di tepi bukit, kami berhenti. Ya, salamat toka (selamat datang) di Pulau Dua Balantak.

Hanya dua langkah dari perairan, kami disambut oleh anak tangga yang menjulang di punggung bukit berkelok-kelok. Tak terhitung berapa jumlahnya. Sejenak mendongak, tampaknya perjalanan akan melelahkan. Untung saja pemerintah daerah setempat sudah membeton anak tangga dan memberi pengaman dari kayu pada kedua sisinya.

“Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.”

Samar-samar matahari muncul dari balik garis cakrawala, kami pun mempercepat pendakian. Menyenangkan. Apalagi ketika itu perjalanan eksklusif karena tak ada pengunjung lain selain kami. Hanya semilir angin memecah kesunyian.

Tak terasa lima belas menit kami mendaki. Tim akhirnya tiba di pertengahan bukit dengan pijakan tiga kali lebih lebar dari anak tangga lainnya. Tampaknya, itu adalah pos peristirahatan pertama. Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.

Dari sebelah timur, matahari kian menyeruak. Cahayanya memantul di dinding-dinding bukit. Perlahan, sinarnya menyelimuti hampir seluruh badan bukit. Jadilah bukit berwarna kuning keemasan. Tapi, suguhan ini bukan klimaks. Masih ada lagi pos di atasnya.

Sesaat kemudian tim kembali naik, hingga anak tangga terakhir. Posisinya nyaris dekat dengan puncak bukit. Di titik inilah pemandangan semakin membius. Tentunya ritual selfie tak boleh terlewatkan.

Matahari semakin terik, berulang kali kami menyeka keringat. Kami pun memutuskan untuk turun ke sisi kanan bukit. Sebab, di sana ada beberapa rumah kayu yang dibangun Pemda Banggai untuk para darmakelana. Namun, hati-hati. Perjalanan turun dari sisi kanan cukup curam. Tidak ada anak tangga seperti di sisi kiri seperti awal pendakian.

Berbekal ranting pohon dan kekompakan tim, rombongan akhirnya selamat sampai bawah. Benar saja, barisan rumah-rumah panggung dari kayu mengisi hamparan pasir Pulau Dua Balantak. Meski terkesan tak terurus, tapi di rumah itu, tim dapat memanfaatkannya sebagai kamar ganti untuk persiapan snorkeling.

Pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pulau juga bisa dipanjat dan diambil buahnya. Gratis. Kebetulan, kami berhasil memetik tujuh kelapa muda. “Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Continue Reading

Leisure

Cekungan Surga di Bumi Cendana

Ruruh Handayani

Published

on

Sumba tak hanya menyajikan adat budayanya yang lestari, tetapi juga limpahan surga tersembunyi yang mengundang.

Sumba semakin dikenal sebagai destinasi wisata yang tak kalah memesona dari pulau lain yang telah lama digandrungi wisatawan seperti Bali, Lombok, maupun Komodo. Apalagi, pada Februari lalu, Focus, majalah terbesar ketiga di Jerman, menobatkan Sumba sebagai satu dari 33 pulau terindah di dunia. Majalah itu mengulas, Sumba bukanlah sebagai tarian, melainkan sebagai mimpi pencarian yang harus diwujudkan, atau dengan kata lain, sebagai tujuan wisata yang semestinya dikunjungi—paling tidak sekali seumur hidup.

Kekuatan budaya

Pulau yang kerap disebut Pulau Cendana ini memiliki ragam kekayaan alam dan budaya yang lengkap. Kekuatan budaya diperlihatkan melalui rumah adat di beberapa perkampungan seperti Kampung Adat Praiwayang, Kampung Adat Tarung, Kampung Adat Praijing, dan Kampung Adat Ratenggaro yang dipertahankan hingga kini.

Arsitektur rumah adat yang unik dan menarik dengan atap menjulang menyerupai menara, dikaitkan dengan kepercayaan penduduk setempat kepada roh nenek moyang yang memiliki kedudukan tinggi atau yang biasa disebut Marapu.

Bagian rumah pun memiliki aturan yang mesti dijalankan tiap penghuninya. Bagian atas rumah atau loteng (uma daluku) dipergunakan untuk menyimpan bahan makanan serta benda pusaka yang dikeramatkan. Bagian tengah (rongu uma) menjadi pusat aktivitas keseharian para penghuni. Sedangkan bagian bawah atau kolong rumah (lei bangun) dipergunakan untuk memelihara ternak, seperti babi atau sapi.

Untuk memasuki rumah juga ada aturannya. Biasanya ada dua pintu yang terbuat dari tiang berukir, satu pintu khusus untuk laki-laki dan pintu lainnya khusus untuk perempuan. Kepala rumah tangga dan ibu pun masuk dari pintu yang berlainan.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi menginap di rumah adat dengan segala kesederhanaannya, tetua adat membolehkan tamu menginap di salah satu di rumah penduduk. Dengan catatan, tetap mengikuti aturan adat yang ada di masing-masing desa.

Selain menikmati alam hijau perbukitan, atau berinteraksi dan bercengkerama dengan penduduk lokal—terutama anak-anak kecil—yang hangat dan terbuka pada para wisatawan, Anda juga dapat mengenal lebih dekat hasil kerajinan tenun ikat Sumba yang sudah mendunia.

Pengunjung dapat mengamati pesona keindahan dari dua sisi—ketenangan Danau Weekuri dan gelora laut biru yang menghantam gugusan karang.

Surga tersembunyi

Selain budaya nan lestari, bumi Sumba juga berlimpah keindahan alam. Memiliki kontur tanah yang berbeda-beda, di pulau seluas 10.710 meter persegi ini terdapat padang sabana luas, hutan, air terjun, serta ragam jenis pantai eksotis, mulai dari yang memiliki ketenangan sepanjang hari, hingga pantai berombak tinggi yang digandrungi para peselancar.

Di antara destinasi yang telah lama terekspos, ada cekungan surga tersembunyi yang juga layak dikunjungi. Surga itu bernama Danau Weekuri atau Waikuri. Berlokasi di Sumba Barat Daya, tempat ini bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam dari pusat kota Tambolaka.

Danau ini sebenarnya adalah laguna yang terbentuk akibat air laut yang terus menerus masuk dari celah-celah batuan dan terjebak di dalamnya, hingga lama-kelamaan membuat cekungan berdinding batu karang semakin luas hingga menyerupai kolam atau danau.

Penduduk lokal menyebut laguna ini surga tersembunyi karena dari kejauhan, Anda hanya akan melihat batu karang dan beberapa pohon yang tumbuh di karang-karang itu, seolah kompak memagari dan menyembunyikan keindahannya. Pengunjung tak perlu khawatir terluka saat menuruni tebing menuju laguna, karena sudah tersedia tangga bersemen hingga ke bibir laguna.

Pesona Weekuri terletak pada bentuknya yang menyerupai kolam raksasa, dengan air berwarna hijau toska yang jernih dan beralaskan pasir putih. Tenangnya air akan membuat siapa saja yang mendekat tak tahan ingin menyelaminya. Namun, pengunjung yang belum mahir berenang mesti memerhatikan bagian-bagian yang aman, sebab laguna ini memiliki kedalaman bervariasi dari setengah meter hingga sekitar empat meter.

Selain pasir putih, saat berenang Anda juga akan dimanjakan dengan pemandangan bawah air seperti ikan-ikan kecil dan udang-udangan, rerumputan, juga beberapa koral. Wisatawan juga bisa sesekali memacu adrenalin dengan melompat dari jump spot yang telah disediakan. Tak hanya itu, karena memiliki kadar garam yang tinggi, Anda juga bisa mengapung di permukaan air dengan mudah, dan menyaksikan pemandangan alam berupa karang menjulang, pepohonan hijau juga awan putih nan berarak.

Pemerintah daerah setempat terus membenahi area wisata agar semakin nyaman dikunjungi. Kini, Anda bisa menyusuri puncak bukit tebing yang menjadi pembatas antara laguna dan laut lepas melalui jalur pejalan kaki yang terbuat dari kayu. Dari sini, pengunjung dapat mengamati pesona keindahan dari dua sisi. Satu sisi, adalah ketenangan Danau Weekuri dan di sisi lain ada lautan biru dengan ombaknya yang menghantam gugusan karang yang mengelilingi danau ini.

Continue Reading

Leisure

Jelajah Teater Alam Bumi Ciletuh

Ruruh Handayani

Published

on

Hamparan taman bumi lengkap dengan kekayaan alam hayati taman Bumi Ciletuh membuktikan betapa cantiknya Ibu Pertiwi tercinta.

Tanggal 17 April 2018 merupakan momen paling penting bagi warga Jawa Barat. Saat itu, United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dalam sidang Executive Board UNESCO di Paris, Prancis menetapkan Taman Bumi Ciletuh-Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat sebagai UNESCO Global Geopark, bersama dengan Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Status internasional ini menaikkan predikat National Geopark yang sudah disahkan sejak 2015 lalu.

Sebuah taman bumi dianggap layak dijadikan taman bumi dunia oleh UNESCO jika telah memenuhi tiga unsur, yakni biodiversity, geodiversity, dan cultural diversity. Artinya, sebuah kawasan taman bumi (geopark) harus memiliki batuan yang unik, keanekaragaman hayati, serta masyarakat berbudaya yang melindungi kawasan ini. Dan Ciletuh memiliki itu semua.

Meski demikian, pengukuhan ini tentu tidak datang begitu saja. Dibutuhkan perjuangan dan sinergi yang konsisten antarpemangku kepentingan. Bahkan, Deputi Wakil Tetap RI untuk UNESCO T.A Fauzi Soelaiman pernah menyatakan, perlu waktu lebih dari 13 tahun sejak ide agar Geopark Ciletuh-Palabuhanratu dapat dibentuk hingga kemudian diakui oleh badan khusus PBB ini.

Selain memberi rasa bangga, status geopark dunia dapat memperkuat identifikasi mereka dengan area itu. Tentu saja, semakin mendunia kawasan ini maka sumber pendapatan baru yang dihasilkan melalui geotourism akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.

Masyarakat dan pemerintah daerah setempat juga dituntut harus kompak dan konsisten memelihara, melestarikan, juga mengembangkan kawasan Ciletuh Palabuhanratu, sebab predikat hanya berlaku selama empat tahun. Setelahnya, fungsi dan kualitas UNESCO Geopark Global akan diperiksa ulang secara menyeluruh selama proses revalidasi. Jika, berdasarkan laporan evaluasi tim UNESCO, Ciletuh Palabuhanratu masih memenuhi kriteria, maka status itu akan berlanjut untuk periode empat tahun selanjutnya.

Lalu, keunikan dan keragaman wisata apa saja yang bisa Anda temukan jika berkunjung ke sini? Di Majalah Pajak edisi kemerdekaan ini, kami akan bawa Anda menyaksikan pesona alam Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang semoga makin membangkitkan rasa cinta Anda pada tanah air.

 “Saking luasnya pemandangan yang bisa dilihat dari sini, alam Ciletuh disebut juga sebagai teater alam raksasa (mega amfiteater).”

Geowisata

Di areal seluas 126.100 hektare yang mencakup 74 desa di 8 kecamatan ini, Anda dapat menikmati sekitar 70 destinasi wisata mulai dari curug (air terjun), bentang alam, pantai beserta pulau-pulau kecil, bebatuan estetik dan langka berumur lebih dari 60 juta tahun, hingga geyser. Jadi, dibutuhkan persiapan yang memadai dan meluangkan waktu yang cukup—setidaknya tiga hari—agar leluasa menjelajahi segala macam keindahannya.

Dari Jakarta, perjalanan dengan kendaraan bermotor ke UGG Ciletuh-Palabuhanratu bisa ditempuh kurang lebih delapan hingga sembilan jam. Beberapa kecamatan pertama yang Anda singgahi adalah Kecamatan Cisolok, Cikakak dan Palabuhanratu. Di tiga kecamatan ini beberapa tempatnya mungkin pernah Anda kunjungi sebelumnya, seperti Hotspring Cisolok, Pantai Cimaja, Sungai Citarik, atau Gua Lalay. Semua lokasi itu menawarkan pesona dan aktivitas yang berbeda-beda.

Setelah puas eksplorasi, Anda bisa beralih ke tiga kecamatan berikutnya, yakni Simpenan, Ciemas, dan Waluran. Di tiga kecamatan ini juga ada banyak destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan, di antaranya Pantai Palangpang, Pantai Loji, perkebunan teh dan buah naga, Puncak Darma, dan Vihara Dewi Kwan Im.

Pantai Palangpang dikenal juga sebagai basecamp para pelancong sebelum melanjutkan penjelajahan. Sebab, di lokasi inilah banyak terdapat jenis akomodasi yang dapat dipilih oleh wisatawan, dari homestay hingga resor ramah lingkungan. Beberapa penginapan juga dapat dengan mudah ditemui di dekat objek wisata lainnya.

Anda juga dapat singgah di Bukit Darma yang merupakan salah satu titik pandang Taman Bumi Ciletuh. Dari ketinggian sekitar 230 meter di atas permukaan laut ini, Anda dapat menyaksikan alam Ciletuh tak berujung yang berselimut pepohonan nan hijau, juga teluk Ciletuh yang bentuknya menyerupai tapal kuda, berhiaskan kapal-kapal nelayan dan tongkang yang terlihat seperti miniatur. Saking luasnya pemandangan yang bisa dilihat dari sini, alam Ciletuh disebut juga sebagai teater alam raksasa (mega amfiteater).

Keesokan harinya, Anda bisa melanjutkan petualangan menjelajahi curug. Jangan salah, ada sekitar 13 curug yang tersebar di kecamatan Ciemas, Waluran, dan Ciracap. Beberapa curug yang cukup menjadi idola wisatawan, yakni Curug Cimarinjung, Sodong, Cikanteh, Awang, Puncakjeruk, Gentong, dan Cikaso. Bisa dibilang, ini adalah surga bagi si penjelajah curug. Masing-masing curug juga memiliki ciri khas yang berbeda.

Cimarinjung, misalnya. Terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, akses menuju air terjun ini terbilang mudah. Cukup berkendara sekitar lima menit dari Pantai Palangpang, Anda sudah sampai di area parkir. Selanjutnya Anda bisa berjalan kaki sekitar lima menit menuju curug. Perjalanan juga terasa nyaman karena jalannya datar dan sudah di-conblock. Udara yang segar dan gemericik air dari aliran parit nan jernih pasti membuat Anda tak mau buru-buru pergi dari sini.

Dua bongkah batu besar berumput hijau yang ada teras pertama kerap disebut sebagai ciri khas curug setinggi 50 meter ini. Karakter lainnya juga tampak pada aliran airnya yang sempit keluar dari celah tebing nan perkasa, membentur latar batu di bawahnya hingga menimbulkan aliran air baru yang melebar.

Air terjun yang tak kalah memesona adalah Curug Awang yang berada di Desa Taman Jaya, Kecamatan Ciemas. Yang menarik, curug ini memiliki tebing setinggi 40 meter dengan lebar sekitar 60 meter. Saat musim hujan, debit air akan sangat deras hingga bisa menutupi seluruh tebing. Fenomena ini membuat curug menyerupai air terjun Niagara di Amerika Serikat.

Tak jarang penduduk lokal juga sering menyebutnya Niagara mini dan menjadi ikon UGG Ciletuh-Palabuhanratu. Pengunjung dapat berfoto di bagian atas tebing atau menelusuri ke bawah air terjun. Namun, sangat dianjurkan untuk memakai sandal gunung atau alas kakinya yang sesuai agar petualangan makin nyaman.

Festival budaya

Untuk menunjukkan kekayaan budaya milik masyarakat Sukabumi pada wisatawan, sejak 2015 lalu pemerintah daerah menggelar Ciletuh-Palabuhanratu Geopark Festival (CGF). Tahun ini, CGF keempat rencananya akan diadakan pada bulan Oktober mendatang. Di perhelatan ini, akan disuguhkan berbagai kegiatan seperti penampilan seni yang melibatkan 200 seniman seniwati, helaran budaya, Seni Cepet, Rengkak Panyadap, Jipeng (pertunjukan tanjidor dan topeng), Gondang (kesenian tradisional yang memakai instrumen alu), Pencak Silat, Wayang Golek, dan lainnya.

Tak ketinggalan juga ada pameran produk kerajinan dan kuliner khas masyarakat Ciletuh dan Palabuhanratu. Anda dapat membeli sejumlah kerajinan khas terbuat dari anyaman bambu misalnya kipas, wayang golek, gerabah, seruling. Selain itu Anda juga dapat memborong batik pakidulan. Batik ini menggunakan bahan pewarna alami dari tumbuhan yang dikembangkan dengan teknologi nanoyang.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News1 minggu ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News3 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Breaking News7 bulan ago

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News7 bulan ago

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News7 bulan ago

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News8 bulan ago

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News8 bulan ago

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News10 bulan ago

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News1 tahun ago

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News1 tahun ago

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Trending