Connect with us

Leisure

Gugus Surga di Maluku Tenggara

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Di bumi siwa lima nusa ina ama

Negeri seribu pulau terbentang di atas biru lautan

Ikang bakar, hingga makan colo-colo sagu katong jadi satu

Tifa kuli bia babunyi satukan barisan

Aroma cengkeh pala kaeng berang di kapala

Sebait lirik lagu berjudul “Paradise” ciptaan Tikang Palungku yang menjadi salah satu lagu tema Tour de Molvccas 2017 ini cukup merangkum sejuta keindahan alam, ragam budaya, serta kekuatan sejarah jalur rempah Maluku. Dengan sebutan lain the Moluccas, Maluku pernah menjadi pusat perdagangan rempah dunia, sebagai kebun surga tempat tiga rempah penting, yakni cengkih, pala, dan lada yang kala itu hanya tumbuh di sini.

Kini, walau rempah tidak membuat Maluku setenar dulu, pesona keindahan dan banyaknya keeksotisan pulau-pulau tersembunyi yang belum banyak dijamah, membuat provinsi ini diminati wisatawan domestik dan mancanegara. Apalagi, sejak adanya upaya kreatif juga inovatif dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, dan didukung dengan sarana transportasi, akomodasi, juga infrastruktur yang memadai.

“Breathtaking moment”

Bicara pulau-pulau tersembunyi, mari kita terbang menuju kepulauan Kei di wilayah tenggara Maluku. “Nyeberang dari sini 1,5 jam ke Tual. Kalau Tual itu kabupatennya sudah maju, itu benar-benar surga yang tersembunyi di situ,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku Habiba Saimima saat merekomendasikan salah satu destinasi wisata Maluku pada kami, saat berkunjung ke sini akhir Agustus lalu.

Setelah mendarat di Kota Tual, Pulau Kei Kecil, wisatawan bisa mulai mengeksplor pulau ini maupun pulau nan cantik lainnya menggunakan speedboat atau perahu sewaan. Gugusan kepulauan Kei memiliki 119 pulau besar dan kecil, membentang seluas 7900 kilometer persegi, serta diberkati dengan perikanan dan objek pariwisata yang sangat kaya.

Saking cantiknya gugusan pulau ini, tahun lalu Kementerian Pariwisata RI pun menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer (the most popular hidden paradise).

Satu di antara surga tersembunyi itu adalah Pulau Bair. Pulau tak berpenghuni ini memiliki dua teluk yang saling berhadapan dan menyuguhkan kecantikan tak terkira. Air laut yang begitu jernih dan tenang dengan kemilau warna hijau toska yang memesona.

Belum lagi bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua—ini seperti versi mininya. Untuk mendapatkan sensasi breathtaking moment, Anda bisa menaiki salah satu bukit tersebut dan jangan lupa berfoto sebagai oleh-oleh untuk teman-teman Anda.

Meti Kei

Sebidang surga lainnya yang wajib singgahi adalah Pantai Ngurbloat yang terletak sekitar 18 kilometer dari Langgur, Ibu Kota Maluku Tenggara. Selain memiliki bibir pantai yang landai, pantai ini membentang sepanjang kurang lebih tiga kilometer, sehingga wisatawan kerap menamainya sebagai Pantai Panjang. Dan menariknya, pantai ini juga memiliki pasir putih sehalus tepung, loh. Saking halusnya, majalah National Geographic pernah menyebutnya sebagai pasir paling lembut di seluruh dunia.

Oktober adalah bulan yang paling tepat untuk menjelajahi pantai ini atau pantai lainnya di Pulau Kei. Sebab, dalam setahun, hanya di bulan itu, air laut di sekitar pulau ini surut jauh. Bayangkan, jika sebelumnya Anda harus menggunakan perahu menuju pulau lain, kini bisa berjalan kaki. Pemerintah daerah setempat pun memanfaatkan fenomena tersebut untuk menarik wisatawan lebih banyak lagi. Setiap tanggal 22 atau 23 Oktober, di Pantai Panjang diadakan Festival Meti Kei.

“Meti kei itu airnya surut jauh. Jadi, ikan enggak sempat lari, tersembunyi di karang-karang, orang tinggal tombak saja, langsung disiapin bakar-bakaran ikan di sana. Itu bulan Oktober,” tambah Saimima.

Tak sekadar menjual potensi alam, kekhasan budaya masyarakat setempat dan potensi lainnya juga diperkenalkan di acara tersebut, seperti pameran mutiara sebagai hasil bumi unggulan, pergelaran kesenian yang mengekspos budaya Kei, tradisi leluhur menangkap ikan di laut, hingga pesta rakyat yang dipusatkan di sepanjang Pantai Panjang ini. Di sekitaran pulau ini juga telah tersedia banyak pilihan penginapan yang bisa Anda pilih, mulai dari homestay ataupun cottage tepi pantai. Mari katong pi ka Maluku!

“Saking cantiknya gugusan pulau ini, Kementerian Pariwisata RI menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer.”

“Bukit-bukit karst kecil dan besar yang berjajar di sana-sini akan mengingatkan kita pada Raja Ampat di Papua, hanya saja ini versi mininya.”- Wawancara: Agus Budiman, Penulis : Ruruh Handayani

Editor Majalah Pajak
Freelance writer, Part-time Traveller, Full-time learner

1 Comment

1 Comment

  1. Majalah Pajak

    Majalah Pajak

    3 Januari 2018 at 2:05 am

    “Saking cantiknya gugusan pulau ini, Kementerian Pariwisata RI menganugerahinya sebagai surga tersembunyi paling populer.”

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Usai Pandemi, Ayo Rekreasi

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Merencanakan perjalanan wisata dan utak-atik tanggal berlibur bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan selama di rumah saja.

Musim korona memang membuat gerak kita terbatas. Jangankan bepergian ke luar kota, ke rumah tetangga pun kita ragu-ragu. Namun, yakinlah badai korona akan berlalu dan kita dapat kembali bepergian. Sementara berdiam diri di rumah, bukan berarti kita tidak bisa merencanakan perjalanan, ‘kan? Apalagi, masih banyak tempat wisata impian yang belum sempat kita kunjungi.

Untuk membantu Anda membuat bucket list wisata, berikut kami rangkum 3 dari 10 destinasi wisata Bali Baru yang saat ini masih terus disempurnakan pemerintah. Tempat wisata prioritas Bali Baru ini terus dipercantik, sembari menunggu kedatangan Anda, setelah pandemi berlalu.

1.Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Labuhan Bajo adalah desa kecil di Kecamatan Komodo, NTT. Meskipun kecil, bentangan alamnya membuat siapa pun yang datang akan terkagum-kagum. Selain masuk dalam 5 destinasi super prioritas, Labuan Bajo rencananya akan dijadikan destinasi super premium. Artinya, tiket masuk dan tarif hotel akan dibanderol mahal.

Labuan Bajo merupakan pintu masuk ke Pulau Komodo—pulau habitat komodo (Varanus komodoensis), satwa sangat langka sekaligus spesies reptil terbesar di dunia. Jika Anda memiliki waktu dan biaya lebih, cobalah ambil paket Live in Board. Paket wisata ini menawarkan sensasi seru menginap di sebuah kapal sejenis pinisi yang menawarkan fasilitas lengkap mulai dari kamar tidur nyaman, kamar mandi bersih, ruang makan sekaligus dek kapal nan romantis, hingga keindahan laut dan perbukitan hijau alam Flores yang bisa Anda nikmati sepuasnya.

Baca Juga: Infrastruktur Pacu Pertumbuhan Pariwisata

Biasanya, agen wisata akan menawarkan paket menginap 3 hari 2 malam. Di hari pertama, sailing trip dimulai dari Pelabuhan Labuan Bajo dan hopping islands ke pulau-pulau eksotis, yakni Pulau Kelor, Pulau Rinca, dan Pulau Kalong. Hari kedua, kapal pinisi akan membawa Anda kembali main ke pulau-pulau kecil yang tak berpenghuni yakni Pulau Padar, Pink Beach, dan Gili Lawa.

Di sela-sela perjalanan, Anda juga akan mampir ke Manta Point di sekitar Loh Liang, Taman Nasional Komodo. Di sini, Anda bisa puas menyelami laut lepas dan bermain dengan sekelompok manta yang ramah. Malam terakhir, kapal akan bersandar di Pulau Kanawa. Surga tersembunyi di Flores ini merupakan pulau resor ramah lingkungan.

Selain bermain di pasir putih, berenang, dan bermalas-malasan, Anda juga bisa trekking ke bukit kecil di belakang penginapan. Dari atas, akan terlihat jelas Pulau Kanawa yang begitu indah. Waktu terbaik menaiki bukit yakni saat sore hari, karena puncak bukit ini juga menjadi tempat favorit wisatawan untuk menikmati matahari tenggelam.

Tempat wisata prioritas Bali Baru ini terus dipercantik, sembari menunggu kedatangan Anda, setelah pandemi berlalu.

2. Danau Toba, Sumatera Utara

Suasana sejuk menyegarkan, hamparan air jernih membiru, dan pemandangan memesona pegunungan hijau adalah sebagian kecil saja dari imaji Danau Toba. Danau kaldera seluas 1.145 kilometer persegi ini ditempatkan sebagai danau terluas di Asia Tenggara dan danau vulkanik terbesar di dunia. Menariknya, di tengah danau raksasa yang berada 900 meter di atas permukaan laut itu, berdiam sebuah Pulau Samosir dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.

Meskipun telah menjadi tempat tujuan wisata sejak lama, Samosir merupakan keindahan alam yang belum terjamah. Di pulau ini Anda bisa mengunjungi pemandian air panas Aek Rangat Pangururan Samosir. Air panas berasal dari sumber mata air yang keluar dari batu kapur gunung aktif Pusuk Buhit. Air panas dialirkan ke kolam-kolam yang dikelola oleh penduduk setempat dan didukung oleh Pemda Samosir.

Daerah sekitar Danau Toba memiliki hutan-hutan pinus yang tertata asri. Sementara, di pinggiran danau terdapat beberapa air terjun yang wajib disinggahi. Pemerintah tengah mengembangkan lembah eksotis The Kaldera Nomadic Escape di Toba Samosir sebagai atraksi baru di kawasan Danau Toba. The Caldera merupakan amenitas wisata kembara atau nomadic tourism yang dikembangkan oleh Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT).

Baca Juga: Pembangunan Sirkuit MotoGP Mandalika Berlanjut, Diharapkan Dongkrak Sektor Pariwisata

Ada berbagai pilihan akomodasi berupa kemah mewah (glamourous camping) dan homepod. Homepod anyar yang dibangun Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini adalah salah satu pilot project Amenitas di Kawasan Danau Toba. Pembangunan yang selesai pada pertengahan September lalu itu dilengkapi dengan instalasi air conditioner dan televisi yang menambah kenyamanan para tamunya.

3. Mandalika, Nusa Tenggara Barat

Menurut masyarakat Sasak—suku asli yang berada di Pulau Lombok—nama Mandalika berasal dari nama Putri Mandalika yang dipercaya hidup pada zaman dahulu kala. Berjarak 25 menit dari Bandara Internasional Lombok, Mandalika memiliki ciri khas teluk yang besar, pasir putih yang terbentang luas, serta bukit-bukit hijau yang menenangkan mata. Kawasan ini memiliki garis pantai yang sangat panjang sehingga dibagi menjadi beberapa nama pantai, seperti Pantai Seger, Tanjung Aan dan Kuta.

Masing-masing pantainya memiliki dataran pasir yang landai dan perairan dangkalnya pun cukup luas dan tenang. Pasir di pantai-pantai Mandalika pun terbilang unik dan belum tentu bisa ditemukan di daerah lain. Ada yang bentuknya kasar dan besar seperti merica, sehingga wisatawan menyebutnya Pantai Merica.

Mandalika juga dikenal dengan tradisi Bau Nyale, yakni kegiatan mencari cacing laut berwarna-warni yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika di sekitar pantai. Cacing laut ini biasanya hanya keluar di bulan Februari atau Maret setiap tahunnya. Wisatawan akan berbaur dengan warga, bersama-sama menyingsingkan lengan, menggulung celana dan siap dengan alat tangkap tradisional masing-masing, menikmati keseruan menangkap nyale (cacing).

Sejak ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata pada 2014 silam, pembangunan kawasan Mandalika terlihat di sana-sini. Ditujukan menjadi destinasi wisata kelas dunia, KEK terpadu Mandalika akan dilengkapi dengan ragam fasilitas mulai dari hotel bintang lima, luxury camping ground, eco-electric train, 71 hektare taman edukasi mangrove, kereta gantung sepanjang 4 kilometer, lapangan golf, hingga sirkuit balap MotoGP.

Lanjut baca

Leisure

Keeksotisan Lembah Lereng Slamet

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Agrowisata di lereng Gunung Slamet ini tak hanya menyejahterakan warganya, tapi juga menambah perbendaharaan wisata kreatif di Indonesia.

 

Salah satu implementasi Nawacita ketiga—membangun Indonesia dari pinggiran, adalah terbentuknya desa-desa mandiri yang mampu mengoptimalkan potensi daerah, baik dari sumber daya manusia ataupun sumber daya alam.

Lembah Asri Serang (D’Las) merupakan salah satu wujud keberhasilan itu. Terletak di Desa Wisata Serang, Purbalingga, Jawa Tengah, D’Las menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). D’Las yang berada di lembah lereng timur Gunung Selamet ini mulai beroperasi sejak 2010 silam, setelah Desa Serang ditetapkan sebagai desa wisata oleh mantan Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko.

Mulanya, D’Las dibentuk dari hasil swadaya masyarakat yang digagas oleh Sugito, Kepala Desa Serang kala itu. Sugito membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan mengandalkan wisata petik stroberi. Beberapa warung makan turut dibangun di tepi jalan desa yang juga merupakan jalur utama menuju pos terakhir jalur pendakian Gunung Slamet dari Purbalingga.

Baca Juga: Menghidupkan Literasi dan Wisata Histori

Seiring waktu, kawasan ini semakin ramai dikunjungi wisatawan. Maka, untuk menjaga profesionalitas D’Las dijalankan dengan konsep pemberdayaan masyarakat, yang dikelola oleh Pokdarwis dan berinduk pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dengan dana patungan, sedikit demi sedikit warga mampu mencicil berbagai perlengkapan kegiatan outbound sebagai penyemarak kawasan D’Las dan merapikan kawasan wisata.

Agrowisata

Objek wisata berhawa sejuk ini cukup mudah ditemukan karena berada di jalur alternatif Banyumas–Pantura. Tak jarang, tempat yang dulu dikenal dengan nama Rest Area Serang ini disinggahi para pemudik untuk rehat sejenak, sembari menyegarkan mata, juga tubuh. Sementara, jika Anda datang dari pusat Kota Purbalingga, D’Las dapat dicapai setelah berkendara sekitar 45 menit. Atau, 10 menit dari Jalan Raya Purbalingga–Pemalang.

“Kompleks agrowisata ini akan menjadi sarana edukasi sekaligus tempat berlibur menyenangkan bagi Anda dan keluarga.”

Kompleks agrowisata ini akan menjadi sarana edukasi sekaligus tempat berlibur menyenangkan bagi Anda dan keluarga. Anda bisa memetik stroberi dan makan sepuasnya di kebun. Atau, menimbangnya untuk dibawa pulang. Selain itu, Anda juga bisa mengunjungi perkebunan kubis (kol), sawi, kentang, dan wortel. Atau, membeli beragam bibit pohon bunga untuk ditanam di rumah.

Buah hati Anda dapat diajarkan untuk mengasihi dan cara merawat hewan di rumah kelinci. Si anak dibebaskan untuk memegang, bermain, hingga memberi makan kelinci-kelinci di sana. Lalu, ada juga taman bermain yang lengkap dan menyenangkan. Mau yang lebih menantang? Ajaklah anak Anda menyusuri liku-liku labirin hingga menemukan jalan keluarnya.

Baca Juga: Wisata ala Sultan di Jantung Bintan

Sejumlah aktivitas menyenangkan lainnya juga bisa dilakukan di sini seperti berenang, berkuda, dan berswafoto. Namun, bagi Anda si pemacu adrenalin, wajib menjajal serangkaian kegiatan mancakrida (outbound) yang telah disediakan, seperti luncur gantung (flying fox), titian tinggi (high rope), dan motor ATV. Ada juga Rapelling, paket wisata yang akan menguji nyali Anda dengan menyusuri tebing setinggi 30 meter.

Di sini juga disediakan pusat jajanan untuk pengunjung yang ingin mencari oleh-oleh berbagai olahan buah stroberi seperti getuk, keripik daun stroberi, sirup, dan winbery (sejenis minuman dari stroberi yang telah difermentasi).

Festival tahunan

Anda bisa berkunjung ke D’Las saat masyarakat setempat mengadakan acara tahunan, Festival Gunung Slamet (FGS). Biasanya, festival ini dilakukan saat bulan Asyura—hari ke-10, (bulan Muharam dalam kalender Hijriyah). Pada festival ini, kemeriahan lebih terasa karena pengunjung dan warga tumpah ruah bersama-sama menikmati tradisi turun-menurun ini.

Kegiatan festival diawali dengan prosesi pengambilan air di sumber mata air Sikopyah, Dusun Kaliurip, Desa Serang. Air akan dibawa menggunakan 777 lodong (tempat air dari bambu) oleh warga desa setempat yang terdiri dari para ibu, remaja putri, dan para pemuda.

Baca Juga: Ke Sumenep Aku ‘kan Menepi

Konon, simbol 777 menandakan pitulungan yang bermakna air itu membawa pertolongan kepada warga masyarakat Serang dan Purbalingga. Tak heran, warga setempat menyebut mata air Sikopyah sebagai air kehidupan. Air dalam lodong-lodong itu kemudian dibawa menuju Balai Desa Serang untuk disemayamkan hingga hari terakhir festival dan dibagikan kepada warga dan pengunjung.

Festival ini juga dimeriahkan dengan perang buah tomat, pentas seni kuda lumping, pertunjukan wayang kulit, dan Akustik Gunung yang menghadirkan musisi kenamaan. Festival budaya ini biasanya berlangsung selama tiga hari. Untuk itu, disarankan bagi Anda mencari informasi acara dan ketersediaan sarana akomodasi sejak jauh-jauh hari.-Ruruh Handayani

Lanjut baca

Leisure

Wisata ala Sultan di Jantung Bintan

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Bintan memiliki kawasan wisata terpadu nan eksklusif dengan ragam daya tarik wisata, resor, dan surga kuliner. Siapkan kantong rada tebal.

Pulau Bintan saat ini telah menjadi salah satu tujuan wisata yang diminati pelancong mancanegara. Selain lokasi yang cukup dekat dari Malaysia dan Singapura, perkembangan infrastruktur di lokasi-lokasi wisatanya juga semakin disempurnakan.

Memiliki luas wilayah mencapai 87.777,84 kilometer persegi, pulau yang terbesar di Kepulauan Riau ini hanya memiliki luas daratan 1,49 persen atau sekitar 1.319,51 kilometer persegi. Terbayang, kan, pulau tropis ini dikepung perairan? Untuk memaksimalkan potensi strategis ini, pemerintah setempat mendatangkan beberapa investor dari luar negeri seperti Malaysia, Rusia, dan Singapura. Hasilnya, Bintan semakin cantik. Berbagai fasilitas akomodasi yang dimiliki membuat Bintan menjadi objek wisata kelas dunia.

Untuk menuju Pulau Bintan, Anda bisa memilih salah satu dari tiga jalur yang tersedia. Melalui penerbangan langsung ke Batam lalu menyeberang dengan kapal cepat sekitar 15 menit ke pelabuhan Bulang Linggi, Tanjung Pinang; penerbangan langsung ke Bandara Raja Haji Fisabilillah International Airport, Bintan; atau melalui Singapura dan menempuh jalur laut sekitar satu jam dengan kapal cepat.

Destinasi yang selalu menjadi incaran pelancong adalah kawasan wisata Lagoi Bay. Diresmikan 31 Mei 2015 oleh Jusuf Kalla—Wakil Presiden RI saat itu, teluk yang berhadapan langsung ke Laut Cina Selatan ini merupakan kawasan wisata terpadu yang eksklusif di Pulau Bintan. Di Lagoi Bay, Anda akan dimanjakan dengan bentangan alam nan indah, atraksi wisata menarik, hingga deretan resor premium.

Baca Juga:Ke Sumenep Aku ‘kan Menepi

Ragam atraksi

Salah satu atraksi wisata yang menarik dikunjungi di area seluas 1300 hektare ini adalah Rumah Imagi. Museum ilusi optikal ini berisi banyak ragam lukisan tiga dimensi dengan berbagai pola dan tema. Cocok sekali bagi Anda yang berimajinasi tinggi atau penyuka fotografi juga seni. Anda bisa menikmati keseruannya dengan berswafoto pada 50 lebih spot foto bertemakan Pulau Bintan yang disajikan dengan berbagai trik, seperti sensasi ruangan terbalik atau trik tiga dimensi.

Setelah puas bermain di Rumah Imagi, Anda bisa mengunjungi Treasure Bay Bintan. Di sini, Anda akan menjumpai kolam renang raksasa terbesar se-Asia Tenggara. Betapa tidak, dengan luas 6,3 hektare, panjang kolam renang ini seukuran 50 kolam renang olimpiade yang digabungkan jadi satu.

Dibutuhkan sekitar 115 juta kubik air untuk memenuhi kolam renang air asin ini. Bagian tepi kolam bermaterial fiber sengaja didesain landai dan di tepi bagian atas yang tak terkena air ditutupi oleh pasir agar benar-benar menyerupai pantai.

Treasure Bay juga ramah lingkungan yang dibuktikan dengan penggunaan produk kimia 100 kali lebih sedikit dibandingkan dengan kolam renang pada umumnya. Selain itu, kolam ini juga memakai teknologi penyaring air inbivatid Crystal Lagoons yang diklaim ramah lingkungan, hemat energi, dan lebih efisien. Inilah mengapa kolam renang itu memiliki air yang sangat jernih dan berwarna kebiruan.

Selain berenang, Anda juga bisa mencoba ragam kegiatan olahraga air seperti paddleboard, inflatable kayak, jetovator, dan flyboard ride. Puas bermain air, Anda bisa berkeliling area ini dengan berjalan kaki maupun menyewa segway atau skuter.

Masih di area yang sama, Anda juga bisa mendayung di sepanjang pantai dan memasuki hutan bakau di Bintan dengan kayak (kano) ramah lingkungan, ditemani pemandu wisata dari Treasure Bay. Tak ada salahnya sesekali menghirup nikmatnya udara segar, sekaligus menghargai keindahan alam yang tenang, ditemani kicauan burung-burung yang dengan senang terbang di habitatnya.

Malamnya, Anda bisa mampir ke Lagoi Bay Lantern Park. Anda bisa menyusuri jalur pejalan kaki sepanjang 300 meter yang berhiaskan lentera berbentuk aneka hewan laut seperti ikan, gurita, dan ubur-ubur. Ada juga lentera dengan bentuk hewan langka Indonesia seperti badak, gajah Sumatra, atau komodo.

Kawasan ini juga dilengkapi dengan sentra kuliner berupa kafe dan restoran. Anda bisa memilih macam-macam hidangan yang ditawarkan. Ada hidangan laut; makanan ala barat; hingga makanan tradisional khas Bintan, seperti gonggong, rendang sapi, atau otak-otak; dan makanan Indonesia lainnya.

Kalau Anda tidak tergolong “sultan”—olok-olok warganet untuk orang yang kelebihan uang—sebelum berkunjung ke Bintan, pastikan jadwal perjalanan dan keuangan Anda terencana dengan baik, karena memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit.-Ruruh Handayani

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News5 jam lalu

DBS dan Temasek Foundation Berikan Ribuan Makanan Siap Saji untuk Pekerja Lepas dan Masyarakat Terdampak

Temasek Foundation (TF) bekerja sama dengan Bank DBS Indonesia memberikan bantuan makanan siap saji bagi pekerja harian lepas dan masyarakat...

Breaking News12 jam lalu

Industri Tembakau Dihantam Pandemi, Pemerintah Diharapkan Pikirkan Nasib Petani

Nasib tiga juta petani tembakau di Indonesia di ujung tanduk karena industri tembakau dihantam pandemi. Tanaman tembakau kini sedang memasuki...

Breaking News16 jam lalu

Pariwisata Bali Optimistis Bisa ‘Berteman’ dengan Covid-19

Ketua Pasar ASEAN dari Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) Bali Febrina Budiman mengatakan, industri pariwisata di...

Breaking News1 hari lalu

OJK Imbau Pengelola Dana Tapera Ikuti Aturan Pemerintah

Pemerintah telah memberikan insentif untuk mempermudah beroperasinya pengelola dana tabungan perumahan rakyat (Tapera) melalui Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP...

Breaking News2 hari lalu

Menaker Terbitkan Surat Edaran untuk Menjaga Kelangsungan Usaha di Masa Pandemi

Untuk melindungi keberlangsungan usaha dari dampak pandemi Covid-19 Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemenaker) menerbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor...

Breaking News2 hari lalu

Kemenparekaf Pilih Enam Bidang Usaha Prioritas untuk Uji Coba Protokol Tatanan Hidup Baru

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf)/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menetapkan enam bidang usaha pariwisata dan ekonomi kreatif untuk...

Breaking News3 hari lalu

Dukung Petugas Medis, Ariston Thermo Sumbang Water Heater untuk RS Rujukan Covid-19 di Jakarta

Data BNPB pada 3 Juni 2020 menyebutkan,  ada 27.549 kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia. Sebanyak 17.951 orang dalam perawatan,...

Breaking News3 hari lalu

Agar Bisnis Tetap Atraktif di Tengah Pandemi—Simulasi Skenario, Litigasi “Force Majeure”

“Para pelaku usaha startup perlu mencari celah agar terus menjaga keberlangsungan bisnis di tengah resesi ekonomi global, khususnya dalam menjaga...

Breaking News4 hari lalu

40 Persen Pengguna Internet Asia Pasifik Hadapi Kebocoran Data Pribadi

Asyik berselancar di dunia maya membuat pengguna internet sering kali lupa diri. Entah sekadar main gim, mengunduh berkas gratis dari...

Breaking News5 hari lalu

Sambut Normal Baru, Yogyakarta Siapkan “Ubo Rampe” Buka Pariwisata

Sudah kangen suasana asri Yogyakarta? Jangan khawatir, tak lama lagi ini Kota Gudeg itu bakal membuka sektor pariwisatanya. Saat ini...

Trending