Connect with us

Green Kartini

Green Kartini: 10 Most Green-Driven Female Leaders 2022

Diterbitkan

pada

Foto : Rivan Frazri dan Istimewa

 

Majalahpajak.net – April 2022 adalah untuk kali kedua Majalah Pajak secara khusus memberikan apresiasi kepada kaum perempuan negeri ini. Tepat setahun lalu, April 2021, majalah ini memulainya dengan penamaan yang longgar—21 Most Inspiring Women. Saat itu, kami bertekad untuk menjadikan apresiasi kepada perempuan dan peran mereka sebagai tradisi kami di tiap April.

10 Most Green-Driven Female Leaders 2022 bisa dikatakan lahir dari akumulasi atau kolaborasi yang tidak sengaja dari setidaknya tiga kecenderungan: trendinya ekonomi atau bisnis hijau, melonjaknya investasi ESG, dan menguatnya kepemimpinan perempuan—yang kemudian mendapat booster dari pandemi Covid-19.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) meringkas ekonomi hijau sebagai ekonomi yang rendah karbon, efisien sumber daya, dan melibatkan masyarakat. Cerita ekonomi hijau setidaknya dapat dilacak mundur ke abad ke-18 dan ke-19, ketika mulai ada sekelompok investor ingin menghindari bisnis yang melibatkan alkohol, tembakau, perjudian, dan perbudakan.

Fast forward 200 tahun, di tahun 2004, di tengah ramainya isu dan kecemasan tentang perubahan iklim akibat praktik bisnis eksploitatif sejak era Revolusi Industri, PBB menerbitkan laporan dengan judul mirip janji atau malah peringatan: Who Cares Wins ‘siapa yang peduli, dialah yang menang’. Di sana dinyatakan, demi mendukung pertumbuhan aliran modal yang berkelanjutan, investor harus mengintegrasikan faktor environmental, social, dan governance—di sinilah istilah ESG muncul kali pertama.

Dalam dua dekade berikutnya, kebutuhan akan investasi berbasis ESG terus meningkat. Total dana kelolaan reksa dana untuk saham bertema ESG pada Oktober 2021 mencapai Rp 3,4 triliun, 80 kali dari angka di tahun 2016 yang sebesar Rp 42,2 miliar. Di tingkat global, dana kelolaan tahun 2021 adalah peningkatan 96 persen dari dana yang sama di tahun 2016.

Baca Juga : Kontribusi Kartini Masa Kini Melawan Dampak Pandemi

ESG memang kini jamak dipakai untuk mengukur “seberapa hijau” suatu bisnis. ESG menjadi takaran dalam mendeteksi keberlanjutan dan dampak etis sebuah investasi yang ditempuh perusahaan atau organisasi. Environmental mencakup bagaimana bisnis mendukung kelestarian lingkungan; social menelaah bagaimana bisnis memperlakukan SDM-nya; dan governance menguak bagaimana tata kelolanya (ketaatan pajak, struktur organisasi, dan sebagainya).

Dalam bisnis hijau yang naik daun ini, perusahaan dituntut menyeleraskan bisnis dan pengelolaan lingkungan secara terpadu. Perusahaan bersama dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan dituntut menggalakkan saluran di berbagai media digital untuk meningkatkan kesadaran partisipatif masyarakat dan untuk menciptakan budaya baru dan komitmen baru terhadap lingkungan.

Sementara pandemi Covid-19, tiba-tiba menyela sambil memaksa perusahaan untuk berpikir ulang tentang kebangkitan dan kelangsungan usaha mereka seraya membangun manusia yang lebih tangguh dan adaptif dengan kebutuhan masa depan. Selalu ada celah cerah. Pada akhirnya, perusahaan berpeluang mencapai bisnis hijau dengan bertransformasi, mengadopsi prinsip ramah lingkungan untuk menciptakan bisnis baru yang bertumbuh secara berkelanjutan. Dilihat dari perspektif ini, ternyata pandemi tak ubahnya tailwind bagi bisnis hijau—angin dari belakang yang searah dengan tujuan.

Dan berbicara tentang kelangsungan lingkungan, kita tidak mungkin mengesampingkan peran perempuan. Perempuan memiliki relasi yang kuat dengan baik-buruknya alam, karena merekalah yang banyak bersentuhan langsung dengan alam. Jadi, bagaimana mungkin menepikan partisipasi perempuan dalam pengelolaan lingkungan? Maka, di tengah krisis lingkungan hidup dan meningkatnya konflik sumber daya alam—alias kebutuhan akan bisnis hijau—peran perempuan justru harus kian menjadi perhatian.

Baca Juga : Membaca Peran “Green Kartini”

Lebih-lebih lagi bila itu digabungkan dengan kian mengemukanya peran perempuan dalam dunia bisnis dan pemerintahan. Makin banyak perempuan menjadi bos di perusahaan raksasa, menteri, atau bahkan pemimpin negara. Menurut sebuah laporan, Indonesia bahkan menempati peringkat ke-4 sebagai negara dengan pemimpin perempuan terbanyak. Umumnya mereka menjabat sebagai chief finance officer, human resources director, dan chief information officer. BUMN ditargetkan mencapai 15 persen kepemimpinan perempuan di tingkat komisaris—kini sudah 16 persen—dan ditargetkan mencapai 25 persen pada tahun 2023. Perhatikan, mereka ada di “lingkar kekuasaan”. Keputusan mereka memengaruhi strategi dan keputusan investasi perusahaan.

Dilihat dari uraian tadi, angka 10 di daftar 10 Most Green-Driven Female Leaders 2022 ini tentulah masih terlalu kecil. Jumlah pemimpin perempuan yang layak untuk kita apresiasi jauh lebih banyak. Mungkin, seperti majalah Time, kami seharusnya memakai bilangan 100. Namun, tanpa mengecilkan peran mereka yang di luar daftar ini, kami, toh, harus tetap membuat daftar kecil ini, dengan kadar subjektivitas tertentu, sambil berancang-ancang untuk meneruskan tradisi ini dengan lebih baik lagi di April tahun depan.

Maka, berikut ini, berdasarkan wawancara langsung, dan aneka sumber terbaik yang berhasil tergali, Majalah Pajak menetapkan 10 tokoh perempuan yang berkiprah di sektor yang menjadi perhatian majalah ini, yang melalui kepemimpinan mereka, perusahaan bergerak menuju bisnis yang berkelanjutan, bisnis yang hijau.

Green Kartini

Demi Digitalisasi Berujung Kesejahteraan

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Istimewa
Ia memperkuat peran OJK dalam pengembangan ekosistem digital di Indonesia untuk mengakselerasi laju digitalisasi industri keuangan yang berkelanjutan.

 

Majalahpajak.net – Dalam susunan Dewan Komisioner OJK periode 2017–2022, terdapat figur perempuan dengan pengalaman dan keahlian mumpuni: Nurhaida, Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia membidangi salah satu kewenangan OJK dalam mendorong inovasi keuangan digital.

Nurhaida menjelaskan, inovasi teknologi dapat berdampak negatif dan berpotensi mendisrupsi layanan jasa keuangan tradisional, bahkan dapat menimbulkan ketidakstabilan sektor keuangan dan persaingan yang tidak sehat. Maka, inovasi perlu diarahkan.

“Digitalisasi keuangan perlu dikelola supaya dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” papar Nurhaida kepada Majalah Pajak melalui keterangan tertulis, Sabtu (16/04).

Sekitar 55 juta penduduk Indonesia adalah skill workers. Pengguna internet pada Januari 2022 mencapai 204,2 juta, setara 73,7 persen penduduk Indonesia. Indonesia diproyeksikan menjadi negara berperekonomian terbesar di dunia tahun 2020. Karena itu, digitalisasi keuangan menjadi amat penting.

Baca Juga : Menyambut Keniscayaan Digitalisasi

OJK memakai pendekatan “safe touch light harbour” untuk menciptakan responsible innovation”, yaitu dengan mendorong inovasi yang memajukan inklusi dan literasi keuangan seraya memastikan aspek mitigasi risiko siber, keamanan data, dan perlindungan konsumen. Melalui POJK Nomor 13 Tahun 2018 tentang Inovasi Keuangan Digital, misalnya, OJK memberi payung hukum untuk seluruh inovasi di lingkup sektor keuangan digital.

“Kita patut berbangga bahwa pemerintah pun mengapreasiasi kontribusi nyata fintech sebagai mitra pemerintah dalam mendukung keberhasilan berbagai program, seperti penjualan SBN retail on-line melalui mitra distribusi fintech,” ungkap perempuan kelahiran Padang Panjang, 27 Juni 1959 ini.

Program kemitraan pemerintah dan fintech lainnya yang menuai keberhasilan adalah penyaluran bansos secara nontunai, pendistribusian Kartu Pra-Kerja untuk 5,3 juta penerima baru, penggunaan e-money, serta pelaporan, dan pembayaran pajak secara daring.

Sementara, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang berbagai model bisnis keuangan digital dan berbagai risikonya, OJK meluncurkan program Digital Financial Literacy dan menjalin kerja sama dengan regulator lain, asosiasi, dan akademisi.

Baca Juga : Indonesia Urutan Ketiga Asia Tenggara dalam Kesiapan Digitalisasi Bisnis

“Kebutuhan literasi keuangan semakin signifikan karena rendahnya tingkat pendidikan dan keberagaman penduduk, terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini mengalami kesenjangan pemenuhan kebutuhan, masyarakat terpencil, serta perempuan,” jelas Nurhaida.

Peraih MBA dari Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat ini mengawali karier di Kementerian Keuangan pada 1989. Ia pernah menjadi Staf Ahli Bidang Kebijakan dan Regulasi Jasa Keuangan dan Pasar Modal Kementerian Keuangan RI (2011), Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (2011–2012), hingga menjadi Anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (2012–2017).

Sejumlah penghargaan berhasil diraihnya, seperti 71 Indonesian Inspiring Women dari Obsession Media Group, Thomas Mural Medallion dari Indiana University, dan 99 Most Powerful Women dari Globe Asia.

Lanjut baca

Green Kartini

Pelestari Peran Pertiwi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Rivan Fazry
Melalui Pertiwi, Emma ingin memastikan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berkontribusi dan memimpin di Pertamina—sembari menjunjung prinsip keberlanjutan.

 

Majalahpajak.net – Mengacu pada sustainability report tahun 2020, Pertamina berhasil menurunkan emisi sebesar 27 persen. Per September 2021, Pertamina berhasil menaikkan peringkat ESG secara signifikan menjadi medium risk dengan nilai 28,1 dan menempati posisi 15 dari 251 perusahaan dunia.

Emma Sri Martini, Direktur Keuangan Pertamina, mengatakan bisnis yang tidak memerhatikan keberlangsungan sejatinya sedang memusnahkan pijakan bisnisnya sendiri. Dan sebaliknya, menjaga alam sebetulnya berdampak langsung kepada kelangsungan usaha.

“Dampak dari green economy concept, dampak dari preserve alam itu sangat direct kepada keberlangsungan bisnis,” kata perempuan kelahiran Majalengka, 22 Maret 1970 ini kepada Majalah Pajak, Senin (4/4).

Baca Juga : SDA Optimalkan, Lingkungan Lestarikan

Komite keberlangsungan

Komitmen tanggung jawab Pertamina kepada lingkungan dan keberlanjutan diejawantahkan melalui strategi 10 Fokus Keberlanjutan Pertamina yang mencakup mengatasi perubahan iklim, mengurangi jejak lingkungan, melindungi keanekaragaman hayati, kesehatan dan keselamatan, pencegahan insiden skala besar, perekrutan, pengembangan dan retensi karyawan, inovasi dan penelitian, keterlibatan dan dampak komunitas, keamanan digital, serta etika perusahaan.

Untuk memastikan strategi ESG terterapkan hingga unit terkecilnya, Pertamina membentuk Sustainability Committee yang diketuai oleh direktur utama dengan dibantu direktur keuangan; direktur strategi, portofolio, dan pengembangan usaha; dan direktur logistik dan infrastruktur.

“Komite ini menunjukkan bahwa affirmative policy dan affirmative action dari kami terkait dengan sustainability principal, dan juga ESG strategic initiative ini harus dijalankan dan dimonitor di seluruh lini,” imbuh Emma.

Emma berujar, suara atau komitmen pemimpin merupakan hal penting dalam pemberlakuan kebijakan ESG dan SDGs, apalagi Pertamina punya banyak anak dan cucu perusahaan. Selanjutnya, kebijakan itu harus realistis, melibatkan perangkat organisasinya mulai dari komite ESG hingga wakil-wakil subholding dan anak perusahaan, memiliki program kerja dan strategi, sampai monitoring dan sosialisasi.

Baca Juga : Momentum untuk Ekonomi Hijau

“Implementasinya disesuaikan dengan karakter bisnisnya masing-masing subholding, tapi esensinya harus diberlakukan ke seluruh kru,” kata Emma.

Peran Pertiwi

Emma bercerita, sejak 21 April 2021, di Pertamina terbentuk Pertiwi, yakni organisasi yang menampung suara dan kreativitas perwira (pekerja) perempuan Pertamina. Diketuai oleh Emma, Pertiwi (kependekan dari Perwira Pertamina Tangguh, Berintegritas, Berwibawa, dan Berinovasi) memiliki empat pilar pembidangan yang juga berkorelasi dengan 17 item di SDGs.

Pertama, development yang menyiapkan penerus perwira perempuan menjadi the next leader. Kedua, sustainability, yakni turut memonitor implementasi keberlanjutan. Ketiga, wellbeing, memastikan lingkungan kerja nyaman buat para perwira wanita. Keempat, partnership and communication, yang menandakan Pertamina adaptif dan siap berkolaborasi dengan pihak eksternal seperti UN Women, USAID, dan IBCWE.

“Jadi, untuk memastikan pelaksanaan fokus strategi ESG terimplementasikan dan tercapai dengan baik, ada aspek struktural secara formal melalui pembentukan komite, dan dari sisi organisasi ada Pertiwi,” terang Emma.

Pertiwi juga telah memberikan pengakuan berupa Pertiwi Awards bagi insan Pertamina yang menyalurkan berbagai macam inovasi dan ide-ide segar untuk kemajuan perusahaan.

“Boleh dibilang Pertiwi seperti setengah shareholder karena mereka bisa memberikan kritik, masukan kepada manajemen—bahkan policy makeryang bisa meningkatkan kinerja atau memperbaiki kebijakan yang ada,” katanya.

Lanjut baca

Green Kartini

Menavigasi Inovasi Keuangan di Era Disrupsi

Diterbitkan

pada

Foto : Dok. PT. BCA
Bagi Direktur Keuangan BCA Tbk Vera Eva Lim, tantangan setiap pemimpin adalah menavigasi perusahaan melewati perubahan.

 

Majalahpajak.net – Pandemi Covid-19 telah menciptakan banyak perubahan dalam kehidupan. Namun, perubahan itu berhasil diadopsi oleh PT Bank Central Asia (BCA) Tbk menjadi peluang yang harus disambut dengan inovasi. Bank yang berdiri sejak 1950 ini bahkan meluncurkan PT Bank Digital BCA yang memberikan layanan perbankan digital sepenuhnya sejak Juli 2021. Bank Digital BCA juga akan fokus melayani segmen milenial.

“Kami terus berinvestasi di bidang IT (information technology), termasuk keamanan cyber, agar BCA dapat mempertahankan posisinya sebagai lembaga keuangan tepercaya dan andal dalam bisnis perbankan,” ungkap Direktur Keuangan BCA Tbk Vera Eva Lim kepada Majalah Pajak, Jumat, (08/04/2022).

Inovasi dan agilitas menjadi kunci BCA dalam memperkaya customer experience, sekaligus membuatnya kian relevan di tengah era digital. Basis nasabah pun diperluas lewat kerja sama dengan mitra strategis seperti perusahaan e-commerce dan fintech.

Baca Juga : Daya Tarik dan Peta Bank Digital

Berkat layanan digitalnya yang andal, jumlah rekening nasabah BCA meningkat 49,7 persen selama tiga tahun terakhir, yaitu mencapai sekitar 28,5 juta rekening dengan 22,8 juta nasabah terdaftar. Pengguna mobile banking juga meningkat tiga kali lipat hingga mencapai 20,8 juta.

Rendah karbon

Tak hanya itu, pengembangan produk, layanan, dan operasional secara digital terus ditingkatkan guna mengakselerasi tujuan BCA sebagai perusahaan yang ramah lingkungan. BCA memperkirakan, emisi karbon yang diturunkannya mencapai 3.257 tCO2 (setara-ton CO2) selama tahun 2021 berkat pergeseran signifikan pola transaksi nasabah dari kantor cabang fisik ke digital network. Selama tahun 2021, BCA juga menghemat sekitar 6 ton kertas, setara dengan 21 tCO2.

Selain itu, BCA juga mengusung pilar yang mewakili sejumlah tujuan keberlanjutan, di antaranya quality education, gender equality, decent work and economic growth, industry innovation and infrastructure, reduced inequalities, dan climate action.

Menyadari pentingnya ESG untuk menopang kinerja bisnis dalam jangka panjang. BCA mendukung transisi secara bertahap dari business as usual ke ekonomi rendah karbon.

“Inisiatif BCA di bidang keuangan berkelanjutan, perbankan ramah lingkungan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan tata kelola perusahaan yang baik selaras dengan sembilan tujuan terpilih dari SDG,” jelas Vera.

Sebuah tim yang didominasi generasi muda dibentuk untuk menyusun rencana kerja dalam mewujudkan ESG itu. Kini, portofolio keuangan berkelanjutan BCA telah melampaui target, yaitu tumbuh 20,9 persen menjadi Rp 154,4 triliun atau berkontribusi 24,8 persen terhadap total kredit portofolio di BCA.

BCA juga mengolah sampah elektronik berupa perangkat yang sudah tidak digunakan lagi. Sebanyak 4,4 ton limbah mesin electronic data capture (EDC) didaur ulang dengan hanya sekitar 5 persen komponen yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Kemudian, limbah kartu sekitar 1 ton itu diolah kembali menjadi bahan bangunan untuk pembangunan gedung perkantoran BCA.

Baca Juga : Inovasi Digital belum Tersusul Literasi

Vera merasa beruntung, semangat inovasi yang diusung BCA semakin melengkapi khazanah pengalamannya di industri perbankan. Sejak berkarier sebagai Asisten Manager Keuangan PT Asuransi Sinarmas (1987–1988), Kepala Bagian Corporate Planning dan Information System Bank Danamon (1990), hingga Kepala Bagian Keuangan Bank Danamon (2006), Vera telah melalui pelbagai krisis dan perubahan zaman yang memantik lahirnya inovasi.

“Perbankan adalah sektor yang sangat dinamis dan penuh tantangan. Hal yang paling menarik dan menantang adalah proyek merger sembilan bank pada saat krisis moneter 1998–1999. Tidak semua bankir dapat mengalami pengalaman berharga tersebut,” kenangnya.

Bagi Vera, hidup adalah kesediaan untuk terus belajar dan mengatasi tantangan.

“Hidup adalah perjalanan di mana kita terus belajar. Saat ini hampir semua industri, termasuk sektor perbankan dihadapkan pada disrupsi digital yang menjadi tantangan setiap pemimpin dalam menavigasi perubahan yang terjadi,” kata Vera.

Lanjut baca

Populer