Terhubung dengan kami

Business

Gencar Ekspansi ke Level Nasional

Sejar Panjaitan

Diterbitkan

pada

 

Membidik sektor UMKM dan infrastruktur, Bank BJB terus melebarkan jangkauan bisnis ke luar daerah Jawa Barat dan Banten.

Selain fokus ke pembiayaan di sektor ekonomi rakyat (UMKM), saat ini PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk mulai merambah ke pembiayaan infrastruktur sebagai penopang bisnis utama. Direktur Utama PT Bank BJB Tbk, Ahmad Irfan mengemukakan, pihaknya menargetkan Bank BJB bisa terus memperluas jangkauan bisnis hingga ke level nasional dan menjadi bank pilihan utama masyarakat Indonesia.

“Selama ini produk kredit kami banyak diserap oleh pelaku UMKM dan kegiatan pembangunan infrastruktur sehingga pertumbuhan kredit bisa terus terjaga,” jelas Irfan.

Pada triwulan I 2017, pertumbuhan kredit Bank BJB sebesar 13,6 persen dengan total kredit yang telah disalurkan mencapai Rp 62,7 triliun. Ia mengatakan, pertumbuhan kredit ini seiring dengan kemampuan menekan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di level 1,62 persen.

“Kami bersyukur bisa mencapai perkembangan bisnis yang menggembirakan meskipun dunia usaha secara umum sedang dalam kondisi yang kurang menguntungkan,” ujarnya.

Proyek infrastruktur

Di sektor infrastruktur, saat ini Bank BJB telah membiayai empat proyek jalan tol, 14 proyek pembangkit listrik, dan akan terus meningkatkan pembiayaan pada pembangunan tol maupun bandara.

Irfan menegaskan, sebagai salah satu dari 14 bank terbesar di Indonesia, Bank BJB berkomitmen untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang berperan penting dalam memacu perekonomian nasional.

“Kalau ekonomi tumbuh, ini tentu juga akan berdampak positif pada perkembangan bisnis perbankan,” imbuhnya.

Dalam proyek pembangunan jalan tol, Bank BJB turut serta mendanai pembangunan ruas tol Cikopo-Palimanan (Cipali), ruas tol Sentul Selatan-Kedunghalang, Kedungbadak-Simpang Yasmin, ruas tol Kanci-Pejagan, dan jalan tol Gempol-Pandaan-Karangjati.

Di proyek pembangunan pembangkit listrik, Bank BJB turut serta membiayai proyek pembangunan PLTU Keban Agung, Sumatera Selatan dan pembangunan 13 unit pembangkit listrik di seluruh Indonesia. Adapun proyek yang sedang dalam proses untuk dibiayai adalah pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat, ruas tol Bogor-Ciawi, dan tol Trans Sumatera.

Ia mengatakan, meningkatnya alokasi anggaran pemerintah untuk pembangunan infrastruktur merupakan peluang bisnis yang harus ditangkap oleh para pelaku usaha di industri infrastruktur maupun institusi keuangan dan perbankan seperti Bank BJB. –Novita Hifni

Business

Renyahnya Kemitraan Bisnis Kue Kering

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Lewat pola kemitraan yang dijalin bersama para agen dan distributor, J&C Cookies mampu bersaing merebut renyahnya pasar kue kering di dalam negeri dan bersiap ekspansi ke sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

Semangat membangun bisnis sekaligus berbagi keuntungan dengan para mitra pendukung telah menjadi tekad pemilik usaha kue kering bermerek J&C Cookies, Jodi Janitra. Sejak awal menjalankan usaha pada 11 April 1996 di Bandung, Jawa Barat dengan mempekerjakan beberapa karyawan, ia telah membangun kemitraan dengan para agen dan distributor yang kini tersebar di berbagai kota besar di Indonesia.

Jodi mengungkapkan, pola kemitraan ini bisa dijalankan dengan sistem dan persyaratan yang mudah sehingga bisnis kue keringnya bisa dijalankan kapan saja dan oleh siapa saja.

“Dengan sistem kemitraan yang mudah, tidak perlu modal besar maupun tempat usaha yang luas, bisnis kue kering sudah dapat dilakukan. Bahkan, bisnis ini sangat cocok untuk para ibu rumah tangga yang ingin mencari penghasilan tambahan,” urai Jodi kepada Majalah Pajak.

Melalui pola kemitraan, ia juga turut berbagi keuntungan dengan para mitra bisnisnya yang telah bergabung sebagai agen dan distributor. Bisnis kerakyatan ini pula yang menjadi alasannya untuk tidak memasarkan produk kue keringnya melalui jaringan supermarket.

“Dengan sistem kemitraan yang mudah, tidak perlu modal besar maupun tempat usaha yang luas, bisnis kue kering sudah dapat dilakukan. Bahkan, bisnis ini sangat cocok untuk para ibu rumah tangga.”

Para agen dan distributor yang menjadi mitra bisnis ini sekaligus berperan penting dalam memasarkan kue kering kepada konsumen sepanjang waktu dan tidak terbatas hanya saat menjelang hari raya saja.

“Motivasi kami ingin mengembangkan industri untuk memenuhi kebutuhan konsumen di saat Idul Fitri, Natal dan dan Tahun Baru dan Imlek, juga mendorong kue kering menjadi sajian sehari-hari,” jelasnya.

Standar internasional

Jodi menuturkan, hingga saat ini bisnisnya tak pernah berhenti berinovasi dalam memperkenalkan berbagai varian baru kue kering dan kemasan yang menarik. Jumlah agen terus meningkat dan jalur distribusi diperluas, serta membuka gerai baru di luar wilayah Jawa Barat dan Jabodetabek.

Aspek kualitas tentu menjadi perhatian utama. Selain telah mendapat sertifikasi Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), saat ini produknya juga telah memperoleh sertifikat Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yakni sistem keamanan pangan berdasarkan kajian ilmiah dan sistematis dengan standar internasional yang mengindentifikasi bahaya spesifik dan tindakan pengendaliannya untuk memastikan keamanan pangan. Sistem ini telah diterapkan sebagai bukti keseriusan untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggannya dan menegaskan produknya sebagai best brand home made cookies.

Ia memaparkan, kue kering yang diproduksinya tanpa bahan pengawet dengan cita rasa yang khas, diolah secara higienis melalui tangan-tangan terampil, serta memproduksi kemasan dengan desain khusus yang unik, menarik serta didukung teknologi modern.

“Kami ingin memperluas jaringan pemasaran ke seluruh Indonesia dan ekspor ke luar negeri, khususnya negara serumpun seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darusalam. Dalam waktu dekat, kami akan membuka gerai di Singapura,” ungkapnya.

Lanjutkan Membaca

Business

Kemitraan dan Inovasi

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Selain memperluas kemitraan, PT CRP juga terus berinovasi di bisnis kuliner agar produknya dapat semakin diminati dan dikenal luas di tingkat lokal hingga pasar global.

Perusahaan yang bergerak di bisnis kuliner, PT Citarasa Prima Indonesia Berjaya (CRP) berencana melakukan ekspansi di tahun ini dengan menambah gerai melalui sistem kemitraan. Perusahaan dengan sederet merek kuliner lokal seperti Nasi Goreng Rempah Mafia, Warunk UpNormal, dan Bakso Boedjangan ini kini telah memiliki 117 gerai. Sekitar 70 persen dari total gerai tersebut dimiliki oleh mitra usaha dan sisanya milik CRP.

Pendiri Grup CRP, Stefanie Kurniadi mengemukakan, bisnis harus dikelola dan dikembangkan secara terus-menerus. Sejak awal merintis usaha di bidang kuliner, ia mengaku tak pernah berhenti belajar dan terus berinovasi agar bisnisnya dapat menjangkau masyarakat luas.

“Saya ingin mengangkat brand lokal ke level global. Kalau orang datang ke New York, brand kita ada di sana. Jadi, jangan produk luar negeri saja yang meramaikan pasar Indonesia,” (kapan, di mana, kepada siapa dia berbicara?) kata perempuan kelahiran 11 Juni 1985 yang meraih penghargaan EY Entrepreneur of The Year di Monte Carlo, Monako di tahun 2015 bersama enam pengusaha terpilih dari seluruh dunia.

“Saya ingin mengangkat brand lokal ke level global. Kalau orang datang ke New York, brand kita ada di sana. Jadi, jangan produk luar negeri saja yang meramaikan pasar Indonesia”.

Bidik konsumen muda

Salah satu merek kuliner milik Grup CRP yang kini mengalami perkembangan cukup siginifikan adalah Warunk UpNormal. Membidik konsumen dari kalangan muda, bisnis yang dirintis pada 2014 di Bandung ini kini telah memiliki 65 gerai yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Restoran berkonsep modern minimalis yang dilengkapi fasilitas free-WiFi ini menyuguhkan aneka menu seperti mi, nasi goreng, dan roti bakar dengan harga yang cukup terjangkau bagi kalangan anak-anak muda, mulai dari Rp 10 ribuan hingga Rp20 ribuan.

Setelah memperkenalkan menu mi, Grup CRP menargetkan untuk membuka gerai baru di tahun ini untuk mempromosikan merek nasional melalui produk kopi sebagai menu andalan. Grup CRP kini merintis gerai baru di Bandung yang dinamai UpNormal Roasters dan menandai perluasan bisnisnya di industri kopi. Gerai baru ini ditujukan untuk mendukung petani lokal dengan mengangkat kearifan lokal dari produk kopi di berbagai daerah di Indonesia untuk disajikan kepada konsumen.

Selain kemitraan dan memperkenalkan menu baru, CRP juga ingin memperkuat kerja sama dengan Grup Salim yang sudah terbangun sejak tahun lalu. Salah satu produk Grup Salim yakni Indomie, merupakan menu andalan di gerai Warunk UpNormal. Melalui kerja sama ini, Grup Salim mengirim pasokan bahan baku yang dibutuhkan seperti Indomie dan kecap ke seluruh gerai CRP dalam perputaran yang terbilang cepat setiap dua hari sekali.

Grup Cita Rasa Prima Indonesia Berjaya merupakan rantai bisnis food and beverage berbasis di Indonesia. Saat ini terdapat lima merek yang bernaung di Grup CRP, yaitu Nasi Goreng Rempah Mafia, Warunk UpNormal, Bakso Boedjangan, Sambal Khas Karmila dan UpNormal Coffee Roaster.

Didirikan pada Oktober 2013 dengan merek pertama Nasi Goreng Rempah Mafia, grup bisnis ini melakukan kolaborasi  antara pengembangan produk, operasi, hubungan masyarakat, keuangan dan teknologi, dan administrasi. Secara keseluruhan, perusahaan telah mencapai pertumbuhan tiga kali lipat dari awal berdiri hingga tahun ini. Saat ini Grup CRP melayani lebih dari 35.000 konsumen setiap hari di semua gerainya dan menargetkan untuk mencapai lebih dari satu juta konsumen per hari pada semua merek di semua outlet dalam kurun waktu lima tahun mendatang.

Lanjutkan Membaca

Business

Pembiayaan Digital Bisnis Kuliner

Novi Hifani

Diterbitkan

pada

Penulis:

 

Lewat kolaborasi dengan Go-Jek, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) BNI untuk kalangan pebisnis UMKM kuliner semakin terarah dan tepat sasaran.

Data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Republik Indonesia menunjukkan sumbangan subsektor kuliner yang signifikan dalam usaha industri kreatif. Pada 2016, kontribusi kuliner merupakan yang terbesar dari 16 subsektor ekonomi kreatif, yakni mencapai 41,4 persen. Ini menunjukkan besarnya potensi industri kuliner untuk terus berkembang dan membuka peluang bisnis yang menjanjikan.

PT Bank BNI (Persero) Tbk menangkap peluang ini dengan meningkatkan alokasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi kalangan pebisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kuliner. Senior Executive Vice President (SEVP) Teknologi Informasi PT BNI (Persero) Tbk, Dadang Setiabudi mengemukakan, KUR disalurkan sesuai ketentuan pemerintah, yakni dengan bunga murah sebesar tujuh persen per tahun dan tanpa agunan. Untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi pebisnis UMKM kuliner, pihaknya berkolaborasi dengan PT Dompet Anak Bangsa atau Go-Pay milik PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek).

“Penyaluran pembiayaan dengan menggandeng Go-Jek membuat BNI bisa mengakses data transaksi yang akan memudahkannya menentukan pelaku UMKM yang layak mendapat kredit.”

KUR untuk UMKM kuliner

Dadang menjelaskan, melalui sinergi bisnis ini pihaknya menyediakan pembiayaan bagi UMKM kuliner yang tergabung dalam mitra Go-Food melalui skema KUR. Adapun pihak Go-Jek menyediakan dukungan berupa data transaksi mitra yang tergabung dalam layanan kuliner Go-Food.

“Skema pembiayaannya dengan konsep digital. Kerja sama ini sejalan dengan keinginan pemerintah agar menyalurkan KUR ke sektor produktif,” papar Dadang kepada wartawan di acara konferensi pers kerja sama BNI dan Go-Pay di Pasaraya Blok M, Jakarta, Selasa (13/3).

Ia meyakini, kolaborasi dengan Go-Jek akan mendorong penyaluran KUR ke sektor produktif seperti pebisnis UMKM kuliner semakin terarah dan tepat sasaran.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan PT BNI (Persero) Tbk, Catur Budi Harto. Menurutnya, strategi penyaluran pembiayaan dengan menggandeng Go-Jek ini membuat BNI bisa mengakses pemanfaatan data transaksi Go-Pay sehingga akan lebih memudahkan dalam menentukan pelaku UMKM yang memang layak mendapatkan kredit.

Pada tahap awal, KUR hanya dapat dicairkan sebagai Kredit Modal Kerja (KMK) dengan metode repayment angsuran. Dalam metode ini, pembayaran angsuran dilakukan per hari dari pendapatan debitur agar terasa lebih ringan. Penyaluran kredit bagi UMKM kuliner ini diharapkan dapat mencapai target realisasi penyaluran KUR ke sektor produktif minimal 50 persen dari target KUR yang ditetapkan pemerintah kepada BNI sebesar Rp 13,5 triliun.

Untuk tahun 2018, BNI mengalokasikan penyaluran KUR sebesar Rp 3 triliun ke sektor produktif yang separuhnya atau Rp1,5 triliun adalah untuk UMKM kuliner.

Di kesempatan yang sama, General Manager Divisi Usaha Kecil PT BNI (Persero) Tbk, Bambang Setiatmojo mengungkapkan, pemerintah menekankan untuk menyalurkan KUR ke sektor produktif seperti pertanian dan perikanan. Namun kenyataannya, penyaluran KUR ke sektor tersebut di tahun 2017 masih kurang optimal. Oleh sebab itu, pihaknya berinovasi untuk mengejar target penyaluran KUR, salah satunya dengan menggandeng Go-Jek. Pihaknya menargetkan untuk menyalurkan seluruh KUR bagi UMKM kuliner di tahun ini hingga seratus persen.

“Selain kuliner, kami masih punya pekerjaan rumah untuk menjembatani produsen dan konsumen dengan melakukan penetrasi ke pasar ritel untuk mengambil pasokan dari produsen UMKM,”ujar Bambang.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News2 minggu lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News5 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News6 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News7 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News9 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News9 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News10 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News12 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News3 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Advertisement Pajak-New01

Trending