Connect with us

Recollection

Gelombang Nikmat si ‘Nyawa Rangkap’

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Auditor sekaligus novelis ini memilih jalan bahagia untuk menjalani masa isolasi Covid-19. Di ruang sunyi nan beku itu ia hidup kembali dan mengukir kisahnya dalam sebuah buku.

 

Ruang senyap itu terasa lebih menyekap saat malam datang. Sekujur tubuh kaku bak berada di kulkas raksasa berdinding bata. Kerap kali ia menyelingkup di balik selimut agar jemarinya lebih luwes menulis status Facebook (FB).

“Dinginnya tidak manusiawi, tetapi kulkaswi.” Demikian Dedhi Suharto mengenang sekelumit dari tiga pekan masa isolasinya di Ruang 105 Kaca Piring, Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG), Cisarua, Bogor. Pria yang menjabat sebagai Auditor Madya Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan ini dinyatakan positif Covid-19 pada 6 Agustus 2020.

Namun, yang perlu digarisbawahi perawatan setiap pasien korona berbeda-beda, tergantung penyakit yang diderita. Kebetulan, Dedhi terdiagnosis hipoksia atau kurangnya oksigen dalam sel dan jaringan tubuh. Ia merasakan lemas saja saat itu. Untuk gejala hipoksia pasien perlu berada dalam ruang inap bertekanan negatif sebagai salah satu upaya penyembuhan.

“Saya mengalami hipoksia sampai drop 64 persen, bahkan pernah juga 55,8 persen. Menurut teorinya saya sudah mati. Jadi, saya ini orang yang hidup kembali. Untuk kasus yang seberat itu treatment-nya begitu. Jadi, kamar yang saya bilang kulkaswi ini diatur dengan tekanan negatif agar dapat menyerap infeksi,” ungkap Dedhi kepada Majalah Pajak, pada Rabu Petang (21/9).

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Ia menjelaskan, hipoksia terjadi bila kadar oksigen dalam arteri di bawah 90 persen, sementara ambang batas aman terbawah di angka 65 persen. Penjelasan ini ia dapat dari sahabatnya yang dokter.

“Namun, beberapa rekan hipoksia di angka 80-an sudah ada yang meninggal. Di Banyumas ada tiga orang yang meninggal ketika hipoksia pada angka 75 persen. Saya alami 55,8 persen tetapi masih bisa bertahan hidup itu sebuah keajaiban. Di Near Death Experience Sharing 30 Agustus saya disebut memiliki nyawa rangkap dua oleh host-nya.”

Pilih bahagia

Awalnya, tentu tidak mudah bagi Dedhi menerima takdir. Rasa khawatir, kecewa, dingin dan sunyinya ruang isolasi bercampur jadi satu. Kepiluan semakin bertambah tatkala istri dan anaknya juga dinyatakan positif Covid-19. Syukurnya, mereka hanya menjalani isolasi di rumah karantina yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor di kawasan Kemang. Hingga Dedhi tersadar, ia harus bahagia serta tetap bersyukur dalam menghadapi segala ketetapan ilahi.

“Tidak mudah menerima karena saya merasa saya sudah waspada Covid-19. Segala protokol kesehatan sudah dijalankan. Ketika saya masuk RSPG Cisarua saya sudah mulai menulis tiga paragraf berisi kabar dan doa ke grup-grup (WhatsApp). Buat saya penting agar semangat dan meningkatkan imunitas. Tulisan pertama kali itu berjudul Syukur atas syukur.” Sepenggal isinya, “dan sekarang aku menerima penuh syukur isolasi yang kujalani. Barusan ahli paru, opek, sahabatku yang kerja di RS Paru Cisarua bilang, ‘harusnya kamu kena sejak sebulan lalu, Dedh. Tapi ok, lawan.’”

Gubahan itu ternyata menjadi bahan bakar semangatnya dalam menjalani isolasi dengan bahagia di hari-hari berikutnya. Ia bertekad, menuliskan semua proses penyembuhannya. Toh, memang menulis adalah separuh napasnya. Dedhi sudah menelurkan tujuh buku, empat di antaranya adalah novel, yang antara lain berjudul Allah itu Dekat dan Pusaran Tawaf Cinta.

Baca Juga: Kesadaran Masyarakat Membuat Angka Kasus Baru Covid-19 Kian Turun

“Di ruangan isolasi saya harus menghadapi manajemen stres yang luar biasa. Pokoknya saya enggak boleh sedih. Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih hati bahagia dalam menghadapi Covid-19.”

Hari isolasi berikutnya rasa bahagia semakin membuncah. Nikmat ini dilukiskan dalam gawainya berupa coretan berjudul Hati yang Bahagia. Isinya tentang pengalamannya sekamar dengan dua pasien lain di ruang 205 Kaca Piring— ruang sebelum dimasukkan ke kamar superdingin. Salah satu dari mereka mengalami batuk yang cukup kronis.

Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih untuk bahagia.

“Kalau berpegang pada Pak Musthopa bahwa kedua paru-paruku sudah dipenuhi kuman-kuman, ya, wajar kalau aku ditempatkan dengan dua pasien yang benar-benar secara fisik tampak sebagai penyandang penyakit paru-paru karena mereka satunya sering batuk dan satunya sering berdahak. Sedangkan aku tidak. Terus terang aku agak galau,” tulis Dedhi yang kemudian dibagikan ke akun FB-nya.

Syahdan, ia ditempatkan seorang diri di kamar 105 kaca piring. Ia tetap istikamah. Dedhi curahkankan semua rasa dan pengalaman itu lewat frasa. Bahkan satu hari Dedhi mampu menulis empat sampai tujuh tema dalam dinding media sosialnya. Beberapa sajak juga ia ciptakan di balik selimutnya, di antaranya adalah puisi berjudul “Jiwa Merdeka”.

Singkat kisah, di hari ke-20 masa isolasi atau tepat tanggal 23 Agustus 2020, kondisinya semakin membaik. Ia sudah bisa tidur nyenyak lima sampai enam jam per hari. Saking lelapnya, ia mendapat bunga mimpi berjumpa dengan atasannya Rina Robiati dan rekan kerjanya Suharso di kantornya. Sekitar tengah malam ia terbangun dan menuliskan mimpinya itu ke media sosial. Ya, segala kondisi yang dirasakan ia bagikan ke khalayak. Beberapa tema tulisan lainnya meliputi kenikmatan makanan, kenikmatan doa, kenikmatan sastra, dan sebagainya.

Unggahannya dibanjiri respons dari para sahabatnya. Ada yang mendoakan, bertanya kondisi, hingga beberapa menyarankan Dedhi untuk menulis novel.

“Saat saya posting di FB, semua mengusulkan untuk menulis novel lagi tentang kondisi saya. Padahal lagi sakit, tapi itu yang menyemangati saya. Kena Covid-19 berat ini saya belum tahu akan happy ending atau meninggal. Kalau saya sembuh saya akan menulis buku.”

Gelombang nikmat

Tepat pada 24 Agustus 2020, Dedhi diperbolehkan pulang ke rumah setelah dua kali hasil uji usapnya (swab) negatif. Akan tetapi, dokter menyarankannya untuk melakukan karantina mandiri karena kasus Dedhi terbilang berat.

“Bayangkan saya sudah lama isolasi di rumah sakit, sekarang disuruh karantina mandiri lagi, ya sudah saya manfaatkan untuk menulis buku. Ketika saya sembuh, saya seperti ada tanggung jawab moral untuk menulis buku.”

Hari pertama di rumah ia langsung mengumpulkan tulisannya di FB. Dedhi juga menghubungi dokter untuk dimintai penjelasan mengenai penyakitnya secara komprehensif. Menariknya, Dedhi menulis subjudul untuk perawat dan juru masak di RSPG Cisarua. Judulnya: Para Profesional Mulia dan Jiwa Penuh Kebajikan.

Baca Juga: Ini Kebiasaan Baru Masyarakat di Masa Pandemi

“Saya ingin mengangkat pembahasan jiwa kebajikan dari para juru masak yang sudah menghidangkan makanan maknyus sampai membuat saya menangis. Padahal, saya tidak gampang menangis. Makanannya sederhana: nasi, ayam goreng, sayur bening, susu kedelai, tapi terasa lezat di lidah saya.”

Selama 14 hari di rumah Dedhi mampu merampungkan novel berjudul Gelombang Cinta dan Nikmat Sang Penyintas Badai Covid 19. Penulis Qur’anic Intelligence Quotient ini meyakini bahwa segala ketetapan ilahi adalah hamparan karunia tiada batas. Nyaris 400 novel ini ludes dalam jangka waktu kurang dari dua pekan. “Suatu keajaiban,” sebutnya.

Perpustakaan sekolah

Kegemarannya pada menulis barangkali bermula ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Keputran V Pekalongan. Saat jam istirahat, Dedhi cilik memilih pergi ke perpustakaan sekolah lantaran uang saku yang kurang atau terkadang tidak ada. Dari situ ia mulai mengenal pelbagai buku sastra, khususnya sajak. Minat bacanya semakin menggebu ketika ayahnya langganan surat kabar Suara Merdeka. Di waktu senggang, pria kelahiran Pekalongan, 10 Agustus 2020 ini pun kerap mengunjungi perpustakaan penyewa buku yang tak jauh dari rumahnya.

“Meskipun saya dilahirkan dalam kondisi yang kurang berada dan di rumah enggak ada budaya baca tapi kami suka mengikuti informasi. Ibu saya suka mendengarkan radio dan bapak baca koran,” kenangnya.

Fase gemar membacanya berlanjut pada hobi menulis. Di lingkungan sekolah, Dedhi sudah tersohor sebagai penulis cilik. Hingga suatu hari, kawannya berkata, “Tulisanmu mirip dengan buku Lima Sekawan.

Dedhi yang sebelumnya tak mengetahui buku karya Enid Blyton itu pun langsung meminjamnya. “Karena tulisan saya tentang petualangan mungkin seperti mirip dan begitu baca Lima Sekawan saya jadi semakin cinta dengan membaca,” kata Dedhi.

Beranjak SMP ia mulai menulis kolom “BOM/bursa orang muda” di surat kabar Wawasan yang terbit saban sore di Semarang. Tulisan Dedhi dimuat setidaknya dua kali dalam sebulan.

“Tulisan itu semacam opini apa saja. Saya makin mulai percaya diri menulis saat tulisan saya dimuat di kolom itu. Tulisan yang dimuat mendapat honor,” kenangnya lagi.

Kepiawaiannya dalam menjahit narasi membuatnya terpilih menjadi Pimpinan Umum majalah internal Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pekalongan. Ia mengelola Majalah Citra bersama rekan redaksi lainnya. Kegiatan senada berlanjut hingga bangku universitas. Di PKN STAN ia masuk dalam unit kegiatan pers mahasiswa dan bercita-cita menerbitkan satu buku selama hidup. Harapannya terkabul.

Baca Juga: DBS dan Tanijoy Kampanyekan Gaya Hidup “Zero Food Waste” untuk Atasi Perubahan Iklim

“Menulis adalah bagian dari sejarah hidup saya. Satu kalimat yang mewakili hobi saya ini adalah kebahagiaan. Ya, menulis adalah kebahagiaan,” tutup Ketua Umum Senat Mahasiswa STAN (1996–1997) ini.

 

Advertorial

Taat Membawa Berkat

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Ron…

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Seniman dan dunia hiburan, menurut Mongol Stres, menjadi pihak yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 yang tengah berlangsung ini. “Karena suah enggak ada lagi yang ngumpulin massa dan bikin acara 100–1.000 orang,” ungkap komedian bernama asli Rony Imanuel ini di acara Spectaxcular 2021 bertema “Pajak untuk Vaksin”, Senin (22/03). Mongol ikut mengingatkan pentingnya disiplin diri […]

The post Taat Membawa Berkat appeared first on Majalah Pajak.

Lanjut baca

Recollection

Harmonikan Frekuensi Kemitraan

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Musik tidak dihasilkan dari satu nada, melainkan kesatuan dan kesinambungan suara. Begitu pula kepatuhan pajak, DJP membutuhkan peran semua pihak.

Beberapa jam sebelum berbuka puasa, Rabu (5/5/2021), Majalah Pajak berkesempatan berbincang dengan Ikhwanudin di ruangannya. Kepala Seksi Kemitraan Wajib Pajak Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) DJP ini rupanya baru saja selesai mengoordinasikan sosialisasi insentif pajak untuk Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Seperti diketahui, saat ini pemerintah memperpanjang masa pemberlakuan fasilitas insentif pajak berupa pembebasan pajak penghasilan (PPh) dan pajak pertambahan nilai (PPN).

Ya, beberapa tahun belakangan ini DJP terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari asosiasi, kementerian/lembaga, sivitas akademika, dan sebagainya. Sebab, sejatinya kepatuhan pajak merupakan cita-cita bersama untuk kemajuan Indonesia.

“Kita memperkuat jaringan kemitraan yang pada hakikatnya adalah sebuah proses membangun komunikasi atau hubungan, berbagi ide, visi, komitmen, informasi,” kata pria yang biasa dipanggil Ikhwan ini.

DJP intensif menjalin koordinasi dengan asosiasi dunia usaha, yaitu Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Harmonisasi juga terjaga bersama empat asosiasi konsultan pajak, yaitu Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (APKP2I), Perkumpulan Konsultan Praktisi Perpajakan Indonesia (PERKOPPI), dan Perkumpulan Praktisi dan Profesi Konsultan Pajak Indonesia (P3KPI).

Kunci strategi kemitraan yang dilakukan adalah saling membantu menyukseskan program kerja mitra. Ikhwan mencontohkan, “Asosiasi memiliki program kerja peningkatan kapasitas dan sosialisasi peraturan perpajakan; DJP membantu menyelenggarakan dan menghadirkan narasumber. Sebaliknya, di setiap penyusunan peraturan teknis, DJP melakukan serap aspirasi dan meminta asosiasi untuk memberi masukan.”

Contoh konkret, DJP melakukan diskusi intensif bersama asosiasi pengusaha dan konsultan dalam penyusunan draf Undang-Undang Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja (UU CK). Alhasil, tidak ada resistensi ketika aturan sapujagat itu terbit. Pola seirama dilakukan pula ketika penyusunan regulasi turunan UU CK, misalnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9/2021 tentang perlakuan perpajakan untuk mendukung kemudahan berusaha dan PMK Nomor 18/PMK.03/2021 tentang Peraturan Kementerian Keuangan (PMK) tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja di Bidang Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

“Bersama asosiasi, konsultan, mitra kerja lainnya, kita sama-sama menyusun program. Berjalan seperti satu tim. Semua menjalankan fungsinya mengedukasi kesadaran pajak, membangun sistem perpajakan yang baik,” kata eks-Kepala Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Pamekasan ini.

Seksi Kerja Kemitraan Wajib Pajak P2Humas DJP juga bertugas menjajaki komunikasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), khususnya Komisi XI DPR RI. Sepanjang 2020–2021, DPR dan DJP menyamakan persepsi mengenai UU CK klaster perpajakan.

“Dengan Komisi XI DPR RI kami melakukan sosialisasi bersama dengan melibatkan unit eselon I lainnya di Kemenkeu. Kami juga mengundang kepala daerah setempat. Semua menyamakan frekuensi bagaimana kebijakan nantinya dapat diimplementasikan dengan baik,” kata Ikhwan.

DJP bersyukur saat ini semua elemen dapat satu suara melantunkan kesadaran pajak. “Saya pikir selama ini hanya miskomunikasi. Padahal, mereka semua menunggu untuk saling diskusi, memberi masukan yang baik bagi perpajakan di Indonesia,” tambahnya.

DJP juga menjembatani masyarakat untuk mengenal investasi di pasar modal dan membantu pengusaha untuk melakukan initial public offering (IPO). Upaya itu diwujudkan melalui kerja sama yang dibina dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam penyelenggaraan kegiatan bertajuk Go Public Workshop Road to initial public offering (IPO) yang diikuti lebih dari 2.000 Wajib Pajak (WP) dan acara puncak bertema Capital Market Summit and Expo (CMSE).

Dalam kegiatan yang berlangsung pada tahun 2020 itu, DJP menerima apresiasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO), yakni PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) karena mendukung kemajuan pasar modal Indonesia.

“Berkat acara CMSE itu ada peningkatan WP yang contribute di sana. Karena WP awalnya takut masuk (BEI). Kami jelaskan, WP kalau masuk bursa, laporannya menjadi rapi dan terbuka karena melalui audit terlebih dahulu. Mereka yang masuk ke bursa formatnya berstandar internasional,” jelas Ikhwan.

DJP merangkul pula 287 tax center di universitas di seluruh Indonesia. Mahasiswa dan dosen diajak berperan memberi konsultasi perpajakan, khususnya ketika masa pelaporan surat pemberitahuan (SPT) tahunan. Komitmen ini dituangkan dalam penyelenggaraan Forum Tax Center Nasional dan penandatanganan kesepakatan bersama Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI).

“Dulu ATPETSI dan DJP berjalan sendiri-sendiri. Setelah kita komunikasi, ternyata tujuannya sama, mengedukasi kesadaran pajak. Ke depan kami ingin mengembangkan tax center supaya perannya lebih luas. Itu masih didiskusikan kita bantu infrastrukturnya,” kata Ikhwan.

Musik alat komunikasi

Ikhwan memang tumbuh dari lingkungan yang menjunjung tinggi nilai gotong royong. Perusahaan multinasional tempat ia bekerja mengandalkan kerja sama antardivisi dalam mencapai target perusahaan.

“Saya bekerja di bagian keuangan dan akuntansi, kadang membantu divisi lain di bagian marketing biar targetnya tercapai. Kalau di swasta saling bekerja sama, yang penting target tercapai. Etos kerja di swasta dulu jadi penentu, bahwa kerja maksimal, bekerja lebih dari yang semestinya tapi terukur dan adil,” kenang pria kelahiran Lampung, 28 Mei 1975 ini.

Meneropong lebih jauh, nilai kebersamaan telah tertanam sejak Ikhwan kecil. Ayahnya, Abdullah Ali Akbar, membangun keharmonisan sembilan anaknya melalui musik. Seluruh anak wajib menguasai alat musik yang berbeda supaya dapat melantunkan lagu bersama.

“Ternyata Bapak menggunakan musik sebagai alat komunikasi. Bapak mengajarkan kesembilan anaknya sejak kecil untuk nge-jam bareng biar saling kompak. Nge-jam, mencairkan hubungan, ketawa-ketawa. Lagu favorit kami dulu ‘Melayang’ (January Christy) dan ‘Kumpul Bocah’ (Vina Panduwinata),” kenang pria yang piawai memainkan gitar ini.

Kala itu, ayahnya berpesan agar seluruh anaknya memiliki studio musik sendiri di rumahnya masing-masing. Jika ada salah satu yang kesulitan biaya, saudara lainnya harus saling membantu. Kini keinginan itu pun terwujud.

Bakat bermain musik juga menjadi modal bagi Ikhwan dalam bergaul. Ketika menjabat sebagai Kepala Seksi Pelayanan Kanwil DJP Jakarta Barat, musik digunakan Ikhwan sebagai sarana membangun kerja sama. Ia dan tim bahkan sempat menciptakan lagu bersama.

Jakbar berkibar yakin menang/bekerja keras juga bekerja cerdas/ menjunjung integritas/saling sinergi dengan sepenuh hati demi ibu pertiwi,” begitu penggalan lagu berjudul “Jakbar Berkibar” itu.

Lanjut baca

Recollection

Jadi Insinyur Mesin Kehumasan

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Penulis:

Kepiawaiannya membangun relasi sejak remaja menjadi fondasinya dalam memperkuat sinergi antara DJP dengan pemangku kepentingan. Ia ingin semua pihak turut andil membangun kesadaran pajak.

Beberapa hari setelah pelantikannya sebagai Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) DJP, awal Februari lalu Majalah Pajak menghubungi Neilmaldrin Noor melalui pesan singkat untuk berkenalan sembari menanyakan beberapa hal seputar perkembangan penyampaian SPT Tahunan. Tak sampai 10 menit, pria yang biasa disapa Neil ini sudah merespons.

Pola serupa terjadi sepanjang tiga bulan setelah menjabat. Kebetulan kami cukup intens mengonfirmasi segala isu perpajakan kepadanya. Ia tetap responsif dan menjawab pertanyaan hingga tuntas.

Neil ternyata memang terbiasa membuka ruang komunikasi secara intensif kepada para juru warta sejak ia menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Nusa Tenggara; Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara; Jawa Timur I; Jawa Barat I. Bedanya, kini jumlah pesan singkat dari pewarta lebih banyak masuk di gawainya. Beberapa waktu belakangan Neil pernah menerima hingga 50 pesan dari pewarta dalam sehari.

“Saya sudah terbiasa berinteraksi dengan teman-teman di media lokal. Seperti di Jawa Timur media sangat dekat sekali dengan kita, sinerginya sudah sangat terasa. Sebisa mungkin kita memberikan respons kepada teman-teman media, setidaknya kami menjelaskan. Membangun komunikasi yang baik sangat penting, agar tidak terjadi salah tafsir. Teman-teman media pun dengan senang hati membantu memberitakan,” kata Neil kepada Majalah Pajak, di ruangannya, Senin (27/4).

Menurutnya, saat ini DJP tidak bisa berjalan sendiri dalam membangun kepercayaan. Seluruh pihak harus saling berkomunikasi dan berkolaborasi membangun kesadaran pajak. Beberapa tahun belakangan, DJP memang membangun upaya ini. Misalnya, program inklusi kesadaran pajak yang melibatkan kementerian dan lembaga terkait.

“Sebenarnya menjaga citra ini bukan hanya pekerjaan P2Humas. Justru seberapa baik pun kehumasan mempunyai strategi tapi kalau tidak didukung oleh teman-teman yang di lapangan (Kanwil, KPP) dan seluruh masyarakat, maka akan sia-sia. Karena citra akan terbentuk dari kepercayaan semua pihak,” kata Neil.

Oleh karena itu, strategi P2Humas DJP saat ini adalah memperkuat kerja sama dengan pemangku kepentingan, mulai dari asosiasi, komunitas, dan kementerian/lembaga. Sosialisasi Kesadaran Pajak ditanamkan secara serempak dari hulu ke hilir agar Indonesia mencapai rasio kepatuhan berkualitas. Artinya, tidak hanya sebatas kepatuhan formil, yakni menyampaikan SPT Tahunan secara tepat waktu, tetapi juga kepatuhan material, yaitu mengisi SPT Tahunan dengan sebenar-benarnya.

“DJP perkuat sinergi agar mencapai level kepatuhan berkualitas. Pengujian kepatuhan material sudah lebih kepada peningkatan produktivitas pengawasan Wajib Pajak (WP) strategis dan kewilayahan. Efektivitas pemanfaatan data pihak ketiga AEOI (automatic exchange of information) juga kita analisis dan kami turunkan ke kantor wilayah, sampai teman-teman KPP,” jelasnya.

Di sisi lain, DJP terus berusaha meningkatkan layanan perpajakan, khususnya pada saat pandemi Covid-19. Layanan serba-elektronik ditingkatkan mulai dari e-Filing, e-Faktur, e-Bupot, dan sebagainya. Di tengah pandemi DJP mengakselerasi program click, call, dan counter (3C). Artinya, WP tak perlu lagi datang ke kantor pajak untuk menunaikan kewajiban perpajakannya, semua layanan mengandalkan teknologi informasi.

Di tengah pandemi, kolaborasi dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci peningkatan penyampaian SPT Tahunan orang pribadi (OP). Per 31 Maret SPT Tahunan WP OP meningkat 26,6 persen dari 8,9 juta (2020) menjadi 11,3 juta (2021).

Hal senada juga diterapkan dalam hal penyuluhan. DJP bekerja sama dengan universitas melalui program relawan pajak dan menggandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memberi edukasi pajak kepada usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Jadi, memang P2humas tahun ini memperkuat penyuluhan. Seperti apa yang digariskan pimpinan, bagaimana penyuluhan-penyuluhan ini bisa memperluas basis pajak,” tambahnya.

Sebelumnya, Neil juga punya pengalaman di bidang penyuluhan. Di tahun 2006, ia menjabat sebagai Kepala Subdit Pengembangan Penyuluhan di Direktorat Transformasi Proses Bisnis. Tugas utamanya mendesain kebijakan transformasi bisnis, memonitor pelaksanaan, menyosialisasikan ke unit vertikal DJP seluruh Indonesia (KPP atau KP2KP), menghimpun saran, memperbaiki, dan mengevaluasi.

Kala itu, DJP tengah membangun prototipe e-SPT. Neil bertanggung jawab memastikan pengembangan e-SPT dapat memenuhi sasarannya dan dapat diimplementasikan dengan baik. Lebih dari satu dekade berlalu, kini e-SPT sudah mapan diimplementasikan oleh seluruh WP.

“Kita intens di teman-teman di lapangan, KP2KP (Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan) seluruh Indonesia, membina hubungan sebagai salah satu tugas melakukan evaluasi dan pengembangan terhadap proses bisnis dari penyuluhan,” kata Neil.

Pada periode itu, DJP tengah melakukan reformasi jilid II yang menitikberatkan pada peningkatan kontrol internal DJP dan pelayanan kepada WP. Ini dilakukan dengan mereformasi proses bisnis dan teknologi informasi.

Kemudian, dibuat pula standar operating procedure (SOP) pelayanan perpajakan untuk memberikan panduan baku dalam pelayanan. Produk yang terkenal masa itu adalah 16 layanan unggulan DJP, salah satunya perihal pembuatan nomor pokok wajib pajak (NPWP) dalam satu hari kerja.

Modif automotif

Neil baru menyadari, keterampilannya membangun relasi sebenarnya telah terpupuk sejak remaja. Sejak di SMP hingga di kampus, ia gemar berkumpul.

“Saya senang berteman dengan semua kalangan. Itu mungkin memberikan saya insight bagaimana bergaul. Bagi saya belajar itu kebutuhan. Seperti kita lapar, ya makan; ngantuk, ya tidur,” kata pria kelahiran 4 Juli 1969 ini.

Selain itu, Neil muda juga senang memodifikasi kendaraan, terutama mobil. Tanpa disadari kesenangan yang diwariskan sang ayah ini membentuk karakter Neil menjadi pribadi yang disiplin, tekun, dan berpikir sistematis dalam menyelesaikan masalah.

“Dari hobi modifikasi ternyata diajarkan bahwa kita harus berpikir runut—ketika membongkar, kita harus pelajari masalahnya apa, bagaimana menyelesaikannya, kemudian kita memerhatikan prosesnya sehingga mengembalikan lagi ke kondisi yang lebih baik. Melatih proses berpikir dalam mengambil keputusan dan kebijakan,” kata pria pencinta olahraga bersepeda ini.

Kegemarannya ini membuat Neil muda bercita-cita menjadi insinyur teknik mesin. Terlebih ayahnya juga merupakan insinyur teknik sipil yang berkarier di sebuah kementerian.

“Waktu sekolah saya ambil jurusan fisika (IPA) karena waktu sekolah saya punya bayangan, cita-cita saya ingin seperti ayah—ASN, insinyur teknik. Tapi enggak tahu dapat hidayah dari mana, saya pilih kuliah ekonomi,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana ini.

Rupanya di bangku kuliah itu, kegemarannya kepada matematika membuatnya kian tertarik kepada ilmu ekonomi. Karier Neil pun diawali dengan menjadi staf di bagian keuangan di salah satu perusahaan Jepang.

Sekitar satu setengah tahun berjalan, ia ingin melanjutkan pendidikan strata dua di bidang ekonomi. Akan tetapi, keinginan itu akan sulit terwujud jika Neil masih bekerja di perusahaan itu, karena ritme pekerjaan di sana sangat padat.

“Pesan orangtua, kita harus terus belajar. Ketika itu saya melihat bahwa saya perlu pengetahuan yang lebih banyak lagi,” kenang Neil.

Akhirnya, takdir mempertemukan Neil dengan momentum seleksi tes masuk DJP pada tahun 1995. Ia mendapat informasi, DJP memberikan peluang besar kepada pegawainya untuk menimba ilmu bahkan ke luar negeri.

Setelah diterima, Neil memulai karier di Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Gambir dan turut andil dalam proses pemekaran KPP Gambir Satu dan Dua. Sekitar dua tahun kemudian, mimpinya terwujud: Ia berangkat ke Illinois, AS untuk menimba ilmu di University of Illinois at Urbana-Champaign.

 

Lanjut baca
/

Populer