Terhubung dengan kami

Feature

Film Adalah Jalan Hidup

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

 

 

Aku Ingin dapat bebas lepas

Aku ingin senantiasa merasa bahagia

Aku ingin dapat terbang

Bila tiada yang perduli

Demikian sepenggal lirik lagu “Aku Ingin” persembahan sutradara tersohor Indonesia, Mira Lesmana, untuk sang adik, Indra Lesmana di tahun 1980-an.

Kira-kira kala itu, usia Mira baru saja menginjak 16 tahun. Lirik itu tercipta usai ia menyiapkan buku pelajarannya ke dalam tas. Menurut Mira, tak ada maksud atau permintaan khusus. Di atas kertas tangannya menari begitu saja. “Sesuai judul lagu, aku ingin saja menuangkan ide. Aku ingin saja,” celetuknya seraya tertawa, di kantornya, di kawasan Bintaro, Tanggerang Selatan, pada Senin siang (26/2).

Darah bermusik, memang mengalir deras dari dalam diri Mira. Sang ayah adalah musisi jazz Jack Lesmana dan ibunda, Nien Lesmana adalah penyanyi poluler era 60-an. Tak heran jika sejak kecil Mira jago memainkan piano.

Namun, untuk urusan menulis lirik, Mira mengaku itu berasal dari kegemarannya pada puisi dan dongeng Nusantara. Pokoknya, jika guru SD-nya mendongeng, Mira kecil langsung duduk manis di bangku paling depan.

“Wah, waktu guru mendongeng, imajinasiku terbang bebas,” tambah perempuan kelahiran Jakarta, 8 Agustus 1964 ini.

Selain dongeng, di rumah ia juga melahap komik-komik silat tanah air. Seperti, Pendekar Seruling Gembala, Pengemis Kusta, dan Kembalinya Pengemis Kusta karangan Hengky, dan lain-lain. Bahkan, meskipun ia harus hijrah ke Australia untuk menemani Indra Lesmana menempuh pendidikan di Brooksfield Music Academy, ia tetap mencari buku-buku dongeng negeri Kanguru.

“Aku menilai film kita semakin berkualitas. Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi, ke depan industri perfilman bisa saja menjadi penyumbang terbesar penerimaan negara.”

Jalan hidup

Selain membaca buku dongeng, di Australia, hobi Mira bertambah, yaitu menonton film bersama keluarga di bioskop. Sebenarnya ini adalah ritual yang biasa dilakukan keluarganya di Jakarta. Namun, menurutnya, tak serutin di Australia. Maklum, kata Mira, di Jakarta hingga tahun 1980-an, belum ada bioskop multipleks.

Mira pun semakin menikmati ritual menonton film itu. Bahkan, tak hanya di bioskop. Di rumah ia dapat menonton tiga sampai lima film dalam sehari.

“Sejak saat itu saya selalu kagum pada sutradara film. Mereka bisa mereka buat film bagus-bagus seperti itu,” ujarnya.

Tak hanya menonton film, ia juga mempelajari buku-buku biografi sutradara-sutradara dunia.

“Ternyata film adalah jalan hidup, jalan untuk mempertahankan idealisme—jalan untuk mengekspresikan kegelisahan,” ucap Mira.

Ia pun semakin mantap untuk memilih jalan berbeda dari ayah dan adiknya sebagai musisi. Ia meminta izin kepada ayahnya, untuk melanjutkan studi perfilman di Sydney. Tekadnya tak terwujud lantaran terbentur syarat yang mengharuskan Mira melampirkan satu karya di bidang perfilman.

“Loh, aku kan baru ingin sekolah. Mana ada karya? Mereka justru merekomendasikan aku kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) terlebih dahulu selama satu tahun. Dengan begitu, aku bisa otomatis diterima di Sydney,” katanya.

Mira pun mendaftar di IKJ. Bahkan betah dan melupakan cita-citanya untuk menimba ilmu di luar negeri.

Selain kuliah, hari-hari istri dari aktor  Mathias Muchus dipenuhi dengan jadwal menonton teater. Baginya, teater adalah pertunjukan murni syarat idealisme. Tak terkungkung oleh aturan-aturan perfilman ala orde baru saat itu.

“Teater mengajarkan aku untuk tulus. Tidak mengharap penghargaan tapi teguh akan idenya,” ucap Mira mengepalkan kedua tangannya di atas meja.

Lulus kuliah, Mira dan sahabat karibnya, Riri Riza, mulai menyusun rencana pembuatan film Petualangan Sherina, film anak-anak yang kemudian akrab bagi masyarakat Indonesia.

“Saya merasa anak-anak harus ditolong waktu itu. Mereka harus diberi tontonan yang menghibur sekaligus memberi nilai. Saya enggak perduli dengan tren atau ketakutan lainnya,” tegas ibu Galih Galinggis dan Kafka Keandre ini.

“Dia pikir, dia yang paling hebat merasa paling jago dan paling dahsyat,” lantun Mira menembang salah satu soundtrack Petualangan Sherina yang ia gubah. “Dengan lirik lagu sederhana ini saya ingin memberi nilai-nilai sederhana—eh, jangan sombong, ya,” tambahnya.

Berkat keidealisannya itu, Petualangan Sherina dinikmati jutaan penonton dan disebut sebagai pembangkit industri perfilman yang tengah lesu.

Semenjak itulah karya-karya Mira semakin menggema, bahkan dibanjiri penghargaan. Sebut saja, Ada Apa dengan Cinta (AADC), Gie, Sang Pemimpi, Laskar Pelangi, dan berbagai film dokumenter.

Baginya, tak ada ramuan khusus untuk memproduksi sebuah film yang laku dan berisi. “Sebagai produser, konteks dan konten itu bagian dari proses membuat film. Kita juga harus paham siapa yang dibidik. Anak-anak, remaja, atau tua,” jelas MIra.

Untuk tahun 2018, peraih Piala Citra kategori penulis skenario terbaik untuk Ada Apa Dengan Cinta di Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2004 ini akan kembali mempersembahkan film anak-anak Ku Lari ke Pantai.

Perlu sekolah film

Mira berharap industri mampu menjadi salah satu sektor penyumbang terbesar penerimaan negara. Ia yakin, saat ini masyarakat sudah semakin percaya akan kualitas film-film Indonesia.

“Aku menilai film kita semakin berkualitas. Melihat antusiasme masyarakat yang tinggi, ke depan industri perfilman bisa saja menjadi penyumbang terbesar penerimaan negara,” harap peraih gelar Bachelor of Arts dari IKJ ini.

Untuk mewujudkannya, Mira mengajak pihak swasta maupun pemerintah untuk mendirikan sekolah-sekolah perfilman.

“Kita harus mempersiapkan supply yang bagus untuk industri ini,” tambahnya mengakhiri perbincangan.

 

Klik untuk Komen

TaxPoeple, Anda harus masuk log untuk mengirim komentar Masuk

Balas

Feature

Berawal dari Kerumitan Membayar Pajak

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

 

 

Saat mendirikan perusahaan di Indonesia beberapa tahun silam, ia dihadapkan pada rumitnya proses pembayaran pajak. Dari situ lahirlah aplikasi untuk menyederhanakannya.

Sebagian Wajib Pajak tentu sudah tak asing dengan OnlinePajak, sebuah aplikasi pelaporan pajak dalam jaringan (daring) yang dikembangkan perusahaan rintisan PT Achilles Advanced System. Aplikasi ini diciptakan untuk memberikan solusi menyederhanakan proses memenuhi kewajiban perpajakan di Indonesia yang sering kali dinilai masih rumit. Namun, bisa jadi para penggunanya tersebut tak menyangka jika penggagas aplikasi tersebut justru warga negara asing alias ekspatriat.

Adalah Charles Guinot, pria berkebangsaan Perancis yang mengaku jatuh hati pada Indonesia dan memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Perkenalan Charles Guinot dengan Indonesia dimulai sejak ia tinggal di Cina beberapa tahun sebelum memutuskan untuk hijrah ke Indonesia. Di negeri Panda tersebut, ia kerap mendengar seluk-beluk Indonesia. Ketertarikannya semakin mendalam ketika mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara berkembang yang kaya akan budaya dan tradisi.

Keinginan Charles bertualang ke berbagai negara memang bukan tanpa sebab. Ia ingin berjuang sendiri mendirikan perusahaan di luar dari perusahaan keluarga di tanah kelahirannya. Hingga akhirnya, di tahun 2013, Charles mantap menapaki Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kota tujuan mengenal lebih dalam tanah air. Di sana ia tekun belajar bahasa Indonesia dan perlahan mengenal budaya serta tradisi masyarakat Jawa khususnya.

“Saya suka Indonesia, suka Jogja, orangnya ramah dan selalu gembira,” seloroh pria penggemar sate dan mie goreng ini sembari tertawa saat ditemui di kantor OnlinePajak, pada Selasa siang (30/1).

Beberapa bulan di Kota Gudeg membuat Charles semakin percaya diri untuk mendirikan sebuah perusahaan kecil di Jakarta. Kala itu ia mencoba merintis perusahaan trading. Di situlah awal mula Charles mengenal sistem perpajakan Indonesia yang menurutnya terlalu rumit. Perusahaannya selalu dihadapkan dengan administrasi perpajakan yang menurutnya ribet dan memakan waktu lama.

Berangkat dari pengalaman itu, ia merasa, perlu adanya sebuah perangkat lunak yang mampu mempermudah proses administrasi atau pembayaran pajak di sebuah perusahaan.

“Saya merasa aneh, perusahaan kecil kebutuhan administrasi sangat banyak. Pegawai saya bolak-balik minta tanda tangan,” kata Charles.

Berbekal latar belakang pendidikan teknik robotic di Université de Technologie de Troyes, Perancis, Charles merasa tertantang untuk membangun perangkat lunak yang dapat mempermudah perusahaannya mengurus pajak. Lahirnya aplikasi yang kini dikenal dengan nama OnlinePajak. Butuh waktu empat tahun setengah lamanya, ia mencoba membangun aplikasi itu. Ia merasa senang mengintegrasikan antara teknik elektronik, teknologi informasi, dan regulasi perpajakan Indonesia. Terlebih, kecintaannya pada dunia ini sudah melekat sejak ia kecil.

Ketekunan, kegigihan, dan pantang menyerah Charles menghasilkan sebuah platform yang mampu memecahkan permasalahan administrasi perpajakan perusahaannya. Tak ada niat sebelumnya bagi Charles untuk mempersembahkan inovasinya untuk khalayak umum. Namun, ia merasa kebaikan perlu dibagi.

“Jika seluruh perusahaan di Indonesia sadar pajak maka pendapatan pemerintah akan meningkat. Saya bermimpi Indonesia akan lebih baik.”

Gratis

Tahun 2015, secara resmi Charles meluncurkan aplikasi berbasis website OnlinePajak kepada seluruh warga Indonesia yang bisa digunakan secara gratis. Aplikasi ini memudahkan penggunanya untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak dalam satu platform terintegrasi yang sederhana.

Misalnya, Wajib Pajak dapat melakukan perhitungan beberapa jenis pajak, seperti Pajak Penghasilan (PPh) 21, PPh 23, hingga Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Selain itu, pengguna dapat langsung membuat e-Faktur dan SPT dengan hanya menekan sebuah tombol.

Untuk memudahkan pengguna mereka membayar dan melaporkan pajak, OnlinePajak pun telah terkoneksi dengan sistem e-Billing dan e-Filing milik kantor pajak. OnlinePajak sendiri telah resmi menjadi aplikasi mitra DJP.

“Kami mempunyai dua buah server yang masing-masing telah terkoneksi dengan server e-Billing dan e-Filing di DJP,” jelas Charles.

Namun, khusus untuk pengguna individu yang ingin melaporkan SPT Tahunan Pribadi, tetap harus datang ke kantor pajak untuk mendapatkan Electronic Filing Identification Number (EFIN). Setelah memasukkan EFIN tersebut di platform OnlinePajak, barulah pelaporan bisa dilakukan.

Charles pun tak menduga, di tahun 2016 OnlinePajak mampu menghimpun pembayaran pajak kolektif sebesar Rp 2,7 triliun dan lebih dari Rp 40 triliun di 2017 . Saat ini OnlinePajak juga telah merangkul lebih dari 500.000 pengguna, termasuk di  antaranya Telkomsel, Tokopedia, GO-JEK, PT Astra Otoparts Tbk, Huawei Tech  Investment, Kawan Lama Group, dan masih banyak lagi.

Bagi Charles, kehadiran aplikasi tersebut adalah sebuah kebahagiaan. Ia selalu menganggap, dirinya warga dunia yang berusaha berkontribusi untuk kebaikan di mana pun ia berada. Tak ada pembeda, karena semua negara harus menuju kemajuan.

“Filosofi saya sederhana, hanya ingin berbagi kemudahan dan kebaikan. Apalagi pajak merupakan kebaikan bersama. Jika seluruh perusahaan di Indonesia sadar pajak, maka pendapatan pemerintah akan meningkat. Saya bermimpi Indonesia akan lebih baik,” harap pria yang menyukai pulau Komodo ini.

“Saya merasa aneh, perusahaan kecil kebutuhan administrasi sangat banyak. Pegawai saya bolak-balik minta tanda tangan.”

Lanjutkan Membaca

Feature

Memantik Asa Pembatik Muda

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Ia menanamkan rasa cinta anak-anak terhadap batik, mengajari mereka berkarya dan merawat warisan luhur budaya bangsa.

Guratan keceriaan puluhan pembatik cilik terpancar tatkala Anjani Sekar Arum pulang ke kediamannya, di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur membawa piala SATU Indonesia Awards 2017, Senin siang (2/11). Tak hanya itu, pendiri Sanggar Batik Andaka itu juga menenteng selembar hadiah simbolik dengan nominal 60 juta rupiah.

“Hore, Ibu menang, iku duite kanggo mlaku-mlaku nyang Jawa Timur ya, Bu,” celetuk salah satu anak sanggar itu. “Anjani tersenyum simpul, “Iya, iya, ini kalian loh yang juara, mbatike kudu apik, aja males,” jawabnya.

SATU Indonesia Awards adalah akronim dari Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia, sebuah apresiasi dari PT Astra International Tbk. kepada sosok inspiratif yang telah berinovasi di bidangnya. Pada ajang itu, Anjani berhasil menyingkirkan lebih dari tiga ribu peserta melalui pemberdayaan seni dan ekonomi kepada anak-anak usia 8 hingga 13 tahun.

Sejak tahun 2015, Anjani memang aktif menghimpun anak-anak yang ingin belajar dan melestarikan warisan bangsa, khususnya batik. Ia memulainya dengan menjaring siswa di seluruh sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas di Kota Batu. Sayangnya, awalnya, baru dua orang anak yang tertarik. Mereka adalah Aliya Diza, usia 9 tahun dan Salsa Adilla, usia 11 tahun yang tertarik belajar batik tulis. Mulai saat itu, setiap sore, Anjani rutin mengajarkan keahliannya membatik kepada kedua anak tersebut.

“Menurut saya, menjaga warisan bangsa harus ditanamkan sejak dini. Membatik itu mengajarkan anak untuk disiplin, telaten, dan sabar,” tutur pemilik Anjani Batik Galeri ini kepada Majalah Pajak.

Proses pembelajaran ia mulai dari membuka paradigma anak tentang keindahan batik. Anjani membuka dialog untuk merangsang imajinasi anak. Cara itu dinilai membuat anak-anak lebih mudah paham. Sebab, Anjani berpendapat, daya kreativitas anak-anak tidak bisa dibatasi. Imajinasi mereka luas dan lebih jujur mengekspresikan apa yang mereka lihat.

Setelah itu, dengan peralatan membatik yang telah ia sediakan, seperti kompor, canting (alat untuk melukis atau menggambar dengan coretan lilin malam pada kain yang hendak dibatik), kain katun, malam atau lilin, perempuan kelahiran Batu, 12 April 1991 ini mulai mengajarkan tahap demi tahap membatik.

Pertama, Anjani mengajak Aliya dan Salsa untuk menuangkan imajinasi apa pun di atas kain menggunakan pensil. Proses tersebut memakan waktu satu hingga dua hari. Anak-anak, kata Anjani, memiliki gaya motif yang khas hingga sekarang, yaitu motif lanskap kota. Setelah motif disetujui Anjani, barulah kedua pembatik cilik ini menuju proses canting. Ini adalah proses utama dalam membatik karena membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Pada kedua proses ini, Anjani tak ingin mengintervensi, sebab di situlah ia menjaga marwah keautentikan sang pembatik.

Setidaknya seluruh proses itu paling lama dikerjakan selama satu minggu. Aliya sudah mematenkan nama untuk karya batik tulisnya, yaitu Marubayu Rupo Batu Ayu. Sedangkan, Salsa belum ada nama tapi karyanya khas bermotif air terjun, yang terinspirasi dari air terjun di samping rumahnya.

Nilai ekonomi

Selanjutnya, giliran Anjani bertugas memasarkan karya pembatik-pembatik cilik itu. Syukurnya, Anjani yang juga menjadi guru seni dan budaya di salah satu sekolah, memudahkan langkahnya untuk memperkenalkan kepada Pemerintah Kota Batu. Gayung pun bersambut. Pasalnya, pemkot setempat tertarik membeli karya kedua pembatik cilik itu dan berkomitmen akan membeli setiap karya batik tulis sanggar Andaka, sebagai cindera mata resmi khas Batu. Harga batik tulis sepanjang dua meter dinilai Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu.

“Sepuluh persen dari penjualan batik untuk membeli kompor dan canting, lilin, dan bayar pajak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),” tambahnya. Selain itu, pembatik cilik juga harus membeli sendiri kain katun bahan untuk membatik seharga Rp 175 ribu.

Artinya, para pembatik cilik ini masih dapat mengantongi Rp 250 – 350 ribu per minggu. Sebulan, mereka mampu memproduksi empat sampai lima batik dengan penghasilan bersih Rp 1 juta-1,4 juta.

Gegap gempita sanggar tampaknya memancing anak-anak lain untuk ikut belajar membatik. Saat ini, siswa di Sanggarnya bertambah menjadi 30 orang. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu.

“Alhamdulillah, anak-anak berbakat ini selain berkarya juga membantu ekonomi keluarganya,” syukur Anjani.

Permintaan pasar yang makin tinggi, membuat pembatik cilik ini semakin giat membatik. Untuk meningkatkan nilai jual, Anjani bertransformasi dengan menggunakan kain Sutera. Modal kain Sutera sekitar Rp 1 juta–Rp 2 juta. Ia juga mem-branding batik karya anak di sanggarnya sebagai batik motif lanskap Kota Batu. Termasuk di dalamnya ada representasi berbagai macam buah khas Kota Batu, seperti apel dan stroberi.

Sempitnya sanggar juga membuat Anjani memberikan peralatan batik, seperti tiang penyangga batik, canting, dan kompor kepada pembatik cilik untuk dibawa pulang ke rumahnya masing-masing.

“Alhamdulillah, uang hadiah dari Astra akan saya gunakan untuk menyewa sanggar yang lebih besar,” tambah perempuan berkacamata ini.

Batik Bantengan

Sejatinya, apa yang dilakukan Anjani untuk anak-anak, merupakan pengabdiannya kepada kota kelahirannya. Sebab, jauh sebelum ia mendirikan sanggar, ia telah memopulerkan batik tulis khas Batu bernama “Bantengan” di dunia internasional. Tepatnya pada tahun 2014, ia diajak oleh Walikota Batu untuk pameran di Praha, Ceko.

Kecintaan Anjani pada batik tulis, ternyata sudah ada sejak ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Anjani remaja sudah kerap membatik dengan motif kepala banteng. Inspirasinya, dari budaya bantengan, seni pertunjukan yang berasal dari kaki Gunung Arjuno, Jawa Timur.

“Batik itu harus punya narasi, enggak boleh asal-asalan. Contoh, saya membuat kepala banteng dengan motif bambu-bambu di setiap sisinya. Di ritual bantengan, memanggil leluhur, di sekelilingnya itu dipenuhi oleh bambu,” jelas Anjani.

Anjani mengaku belajar tentang batik secara autodidak. Namun, ia percaya, bakatnya mengalir dari sang ayah Agus Sulastri, seorang pelukis aliran realis.

“Ayah enggak pernah mengajari saya melukis, tapi sejak kecil saya suka memerhatikan gerak tangan ayah di atas kanvas,” yakin sulung tiga bersaudara ini.

Selain itu, dukungan sang bunda, Nanik Sulastri, menguatkan tekadnya untuk mengambil jurusan seni dan desain di Universitas Negeri Semarang (UNS), konsentrasi jurusan batik. Skripsinya fokus pada batik tulis Bantengan yang ia ciptakan saat SMA.

Tugas akhirnya itu membuat dosennya terkesan. Ia pun mendapat rekomendasi untuk meraih beasiswa pascasarjana di UNS, sekaligus menjadi dosen tetap di sana. Anjani menolak, ia memilih berkarya membatik seraya memberi edukasi kepada generasi penerus bangsa. Saat ini, bersama sanggar binaannya, ia sudah melanglang buana ke sejumlah negara di Eropa. Ia berharap, batik-batik karyanya dapat menjadi ikon kota Batu tercinta.

Menurut saya menjaga warisan bangsa harus ditanamkan sejak dini. Membatik itu mengajarkan anak untuk disiplin, telaten, dan sabar

Batik itu harus punya narasi, enggak boleh asal-asalan.-Aprilia Hariani

Lanjutkan Membaca

Feature

Mengantar Depok Menjadi Kota Genius

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Bersama generasi muda Depok, Didi menggerakkan ekonomi sosial berbasis digital untuk membangun Depok menjadi kota genius.

Sebelum jumpa di kantornya, di kawasan Margonda Depok, Pendiri Code Margonda, Didi Diarsa merekomendasikan Majalah Pajak untuk mencoba aplikasi TemanJalan garapannya. Uniknya, tak seperti aplikasi lainnya yang berjalan mandiri di atas sistem operasi telepon pintar (iOS atau Android), TemanJalan bekerja berbasis aplikasi Line. Aplikasi ini menawarkan layanan berbagi tumpangan, bagi mahasiswa atau pun pekerja dengan mudah, aman, dan yang harus dicatat, aplikasi ini free alias gratis!

Cara kerjanya, pengguna hanya harus add TemanJalan di Line, lalu menuliskan rute yang akan dituju, serta mencantumkan jadwal keberangkatan. Kali itu kami melakukan simulasi. Mengorder dari Kecamatan Sawangan, Kota Depok menuju Detos Mall, Depok. Selang beberapa menit, anggota lainnya menerima request tumpangan yang kami ajukan.

Untuk memudahkan koordinasi, terdapat fitur in-app chat yang dapat digunakan. Anda tak perlu khawatir, karena meski di antara pengguna sebelumnya tak saling kenal, keamanan aplikasi ini tak perlu diragukan. Baik pengendara dan penumpang, diharuskan mengunggah Kartu Mahasiswa atau KTP (Kartu Tanda Penduduk) sebelum melakukan perjalanan.

Berbeda dengan transportasi berbasis digital lainnya yang menerima pembayaran, pada TemanJalan, pemberi tumpangan atau driver hanya akan mendapat poin yang dapat ditukarkan dengan voucher bensin, pulsa, Starbucks, dan lain-lain.

“Bagaimana kesan menggunakan TemanJalan, punya teman baru, kan?” sambut Didi sesampainya kami di lantai 2 Detos Mall, Depok, Rabu sore (28/9).

Pria yang mengaku sudah 30 tahun tinggal di Depok itu, agaknya telah tahu persis kebutuhan masyarakat kota Depok, khususnya generasi milenial. Kota Belimbing ini memang dihuni oleh banyak mahasiswa dan pekerja. Terbukti, sejak diluncurkan 2016, TemanJalan sudah mencatat 32.509 perjalanan.

“Orientasi generasi milenial adalah mencari banyak kawan dan jaringan. Anda dapat bertukar wawasan selama perjalanan,” jelas Didi. Selain itu, tentu aplikasi juga dimaksudkan agar dapat membantu mengurai kemacetan lalu lintas di masyarakat urban.

Ternyata, di Depok, Didi tak hanya mengembangkan aplikasi TemanJalan. Ia juga menggerakkan pemuda Depok untuk mengembangkan aplikasi ekonomi berbasis sosial lainnya. Ide itu tercetus setelah ia memenuhi undangan workshop bertajuk “Ekonomi Kreatif berbasis Digital” dari sebuah yayasan milik Pangeran Charles di London tahun 2012 silam.

Dibantu tiga orang pemuda, kala itu, Didi menciptakan Aplikasi bernama Kostoom, untuk membantu para UMKM, khususnya penjahit di Kota Depok. Idenya sederhana, yakni bagaimana ibu rumah tangga memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk menerima order jahitan tanpa harus meninggalkan rumah.

Meskipun awalnya Didi bersama timnya harus bergerilya sosialisasi dari pintu ke pintu, kini setidaknya sudah lima ribu penjahit yang telah memanfaatkan aplikasi Kostoom.

“Dengan aplikasi Kostoom ibu-ibu di kota Depok punya quality time dengan keluarga dan punya penghasilan. Ini yang diinginkan sebuah kota,” kata anak pertama dari pasangan Oma Surya Saputra dan Maysarah ini.

Dalam pengembangan dan menciptakan aplikasi kreatif lainnya, Didi kini dibantu oleh ratusan pemuda dari berbagai macam kalangan. Mulai dari mahasiswa IT (Informasi Teknologi), dan 1.900 komunitas lainnya. Kini, Code Margonda adalah semacam coworking space yang dimanfaatkan anak-anak muda kreatif untuk menimba ilmu, saling bertukar pikiran dan berkolaborasi melahirkan produk-produk berbasis teknologi. Setidaknya sudah dua ribu kelas dibuka untuk menggelar pelatihan bisnis digital. Bahkan, Google sedang mendukung Code Margonda untuk melakukan program pelatihan developer dan programmer di sepuluh kota di Indonesia.

Usaha yang ia pimpin ini pun akhirnya belakangan mulai dilirik oleh Pemerintah Kota Depok. Di awal tahun 2017 beberapa kali, Code Margonda ditunjuk sebagai penyelenggara pelatihan UMKM Digital, pelatihan Android untuk birokrasi, dan lain-lain.

Genius city

Dengan melihat potensi keahlian pengembangan kreatif social industry di kota Depok, Didi meyakini, Depok tengah bersiap menjadi kota yang genius. Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Sembari menjelaskan, Didi mengutip isi buku The Geography of Genius yang ditulis Eric Weiner. Dikatakan bahwa, Yunani menjadi negara yang melahirkan ilmuwan genius, karena dikelilingi oleh sekolah dan perguruan tinggi.

“Saya pikir Depok tidak beda jauh dengan Yunani, karena juga dikelilingi oleh universitas. Saya melihat generasi muda Depok sangat kreatif. Ini yang akan mengantarkan Depok menjadi genius city,” yakin pria lulusan Geografi UNJ (Universitas Negeri Jakarta) tahun 2000 ini.

Kini Didi juga sedang mengembangkan Margonda Valley untuk mewadahi lebih banyak lagi generasi muda yang kreatif di bidang digital.

“Bayangkan Universitas Indonesia punya 100 ribu mahasiswa, Gunadarma punya 150 ribu mahasiswa. Sepuluh persen saja dari jumlah itu, pemuda dapat berkontribusi berinovasi mengembangkan UMKM masyarakat,” paparnya.

Didi berharap, nantinya genius city dapat menjadi penopang terkokoh PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kota Depok. Berkaca dari London, industri kreatif mampu berkontribusi 40 persen untuk APBN.

“Tapi pemerintah jangan ingin langsung memetik buah dari bisnis digital ini. Semoga dapat merumuskan pajak yang sesuai agar bisnis digital tumbuh terus dan negara makmur,” harapnya.

“Saya melihat generasi muda Depok sangat kreatif, ini yang akan mengantarkan Depok menjadi genius city.”

“Pemerintah jangan ingin langsung memetik buah dari bisnis digital ini. Semoga dapat merumuskan pajak yang sesuai agar bisnis digital tumbuh terus dan negara makmur.”-Novi Hafni dan Aprilia Hariani

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News1 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News3 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News4 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Breaking News6 bulan lalu

Topik Pajak sudah di Rumah-Rumah Kopi

  Melalui sosialisasi yang intens dan pemahaman kultur masyarakat setempat, kesadaran pajak muncul. Kondisi geografis Provinsi Maluku terdiri atas kepulauan,...

Breaking News6 bulan lalu

Amankan Penerimaan Pajak di Papua dan Maluku

Waktu yang tersisa untuk mencapai target penerimaan pajak 2017 tinggal beberapa bulan. Menyadari itu, Kanwil DJP Papua dan Maluku mengundang...

Breaking News7 bulan lalu

Memupuk Talenta Warga Sekitar

Penulis : Novita Hifni Holcim melakukan kegiatan pemberdayaan yang bersinergi dengan bisnis perusahaan untuk kemajuan bersama. Pengembangan masyarakat (community development)...

Breaking News9 bulan lalu

“You Can Run but You Can’t Hide Understanding E-commerce Tax & Bank Secrecy”

Pajak E-commerce dan PERPPU no. 1 thn 2017 (tentang keterbukaan rahasia keuangan) merupakan topik yang hangat dan sedang sering diperbincangkan....

Breaking News1 tahun lalu

Tidak Memetik tanpa Menanam

Kepercayaan Wajib Pajak sangat bergantung pada “equal treatment” yang mereka dapatkan dari institusi pajak, baik dari sisi pelayanan, sosialisasi maupun...

Breaking News2 tahun lalu

Bea Cukai dan DJP Mesti Bersinergi Menggali Potensi Pajak

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi kinerja Drirektorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI tahun 2015. Sesuai...

Analysis2 tahun lalu

CITA: Tanpa Konvergensi Visioner, Insentif Pajak menggerus potensi pajak

Oleh: Yustinus Prastowo Program Pemerintah hanya akan berhasil jika didukung penerimaan yang cukup. Kita ingat pepatah “Besar pasak daripada tiang”....

Advertisement Pajak-New01

Trending