Connect with us

Tax Light

Episode Baru

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

Menyusuri jalan tanpa rambu, mendaki dan terjal dengan aspal berliku

Kami tertunduk dalam penuh rasa haru, kepada mereka yang meluangkan ikhlasnya membayar pajak dalam makna pembangunan untuk satu…

 

Mungkin saja di sisi sebelahnya…

Mereka tidak bicara apa-apa karena masih tidak paham untuk apa?

Satu causanya saat bagaimana syiarkan pajak, dia penopang negara

Satu primanya adalah saling asuh sang patriot negeri, tuk kepalkan semangat tanpa senjata…

Ini yang saya berikan, mana kontribusimu?

 

Kebanggaan itu

Di tahun lalu, masih berlomba mencari arti

Namun miris mengiris saat krisis, tsunami mini bersenda di riuh ibu kota, air melapukkan bangunan saat senja, dan berenanglah ular, buaya, sesama kita yang mencari lenyapnya istana…

 

Kami tertunduk dalam berkaca melihat untaian mobil tersungkur tanpa sangkur, mereka yang tersujud tanpa wujud, alam tlah memberi tanda akan rusaknya sarana…

Atas nama keikhlasan yang berujung pada derma peran kita sebagai warga negara,

Melayang pikiran tentang bagainana kesejahteraan bisa ditegakkan, kala musibah tertanda  ujian  datangnya berbalur hujatan

 

Refleksi tahun lalu mengiringi detak nadi yang sesak dengan angkaranya

Resolusi tahun baru penuhi desah nafas yang membuncah dalam cita-cita dan kecewanya

Ahoy

Berbunyilah petasan dan menarilah kembang api, sebelum berganti kepedihan dan pertanyaan

Maka terlihat sepasang sahabat bernama ujian dan anugerah berdampingan memercik tanda baca di pikiran, mereka nelangsa dan berusaha  menggandeng kesabaran sebagai mitra kekuatan

 

2020 datang….

Konon, pencerahan tetap berjalan dalam skenario terapan

Apapun, negara harus tetap ditegakkan

Majulah mereka atas nama pahlawan yang merogoh kocek dalam kesetiaan dan pembelaan

Kita mulai lagi dengan membangun negeri

Kami Indonesia!

Kami bayar pajak untuk bangsa

A3, 070120

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Tax Light

“BING-o”

Aan Almaidah

Published

on

Foto: Ilustrasi

“Bingo!” Mari menyadarkan diri sejak saat ini—keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri!

Akhir tahun tidak selalu dimaknai dengan pesta. Sebaliknya, awal tahunlah yang biasanya disimbolkan dengan perayaan, harapan, atau, gebyar. Di masa kanak-kanak dahulu, TVRI, satu-satunya stasiun televisi Indonesia, akan menayangkan kaleidoskop kejadian, kegiatan dan berita sepanjang tahun di negeri ini. Nah, di akhir tahun menuju pergantian tahun, kami akan melek semalam suntuk hanya untuk menonton Operette Papiko yang dikomandani Tante Titiek Puspa masa itu.

Sesuai dengan namanya, kaleidoskop merupakan aneka peristiwa yang telah terjadi yang disajikan secara singkat. Sebagai pemirsa yang setia, kita bagai menonton tayangan yang mengingatkan pada rasa suka atau duka. Dan saat itu, sekelebat ada pikiran, “Eh, sudah mau selesai juga tahun ini….”

Masa kanak-kanak juga bagaikan sekelebat, dan mendadak usai. Time flies, katanya. Waktu berlalu sangat cepat. Tahu-tahu sudah 20 tahun, 25 tahun, 40 tahun, 50 tahun, dan 60 tahun… Pada usia ke-60 maka kata-katanya bukan mengagumi waktu yang berjalan cepat, tetapi malah menunggu waktu. Masak? Iya. Coba perhatikan kakek nenek kita yang sudah berusia 60 tahun lebih. Seringkah kita melihat mereka merenung? Tentu. Pernahkah menegur mereka untuk sekadar bertanya, kenapa merenung? “Menunggu waktu,” jawabnya.

Bingo!

Waktu merupakan kunci jawaban, saat kita tidak berhasil mencapai sesuatu. Kenapa demikian? Apabila kita mengalami kegagalan maka kita disarankan untuk tidak berputus asa, dan mengulangi sampai kita mencapai keberhasilan. Apabila kita merasa belum menemukan kepuasan maka kita akan terus memberikan yang terbaik sampai suatu saat berhasil mencetak prestasi. Semua yang kita lakukan dari dulu sampai sekarang, tergantung dari waktu.

Tanpa disadari, habit ini melekat saat kita bekerja atau berkegiatan seharian, disibukkan oleh pelanggan, atasan, agenda rapat dan kunjungan, sehingga satu hari berjalan begitu cepat. Apalagi bagi pelayan publik yang hampir 12 jam dalam sehari menangani keluhan atau proses permohonan, waktu apabila tidak diseling dengan istirahat, terasa melesat. Tiba-tiba kita terperangah, “Eh, sudah sore, ya?” Bahkan saking cepatnya waktu, ada yang menyesali, mengapa satu hari isinya hanya 24 jam? Seandainya sehari itu lebih dari 24 jam, tentu saja semua kegiatan bisa dirampungkan, demikian setiap orang beralasan. Tapi, percayakah Anda bila sehari berisi lebih dari 24 jam, Anda dapat menyelesaikan pekerjaan Anda?

Saya, tidak. Why, no?

Karena manusia itu punya kebiasaan lain selain sibuk, yaitu, menunda-nunda pekerjaan. Kebiasaan menunda-nunda tugas itu namanya procrastination, dan orang yang memiliki gejala ini disebut procrastinator. Konon, telah dilakukan penelitian bahwa mereka yang suka menunda pekerjaan disebabkan moody atau faktor impulsif, terlebih lagi mereka menemukan kompensasi kesenangan jangka pendek dengan tidak sesegera mungkin melakukan pekerjaannya. Apakah itu terjadi dalam keseharian kita semua? Contohnya, seorang pelaku usaha yang baru menjalankan kegiatan usaha, lantas saat diminta ber-NPWP, apakah dia akan segera mendaftarkan diri atau memilih untuk menunda mendaftar? Apabila dia sadar bahwa di bahunya ada tanggung jawab untuk menegakkan negara, maka dia memilih mendaftarkan diri segera sebagai Wajib Pajak sehingga untuk selanjutnya bisa menunaikan kewajibannya membayar pajak untuk bangsa dan negara. Nah, bagaimana kalau dia tidak suka, tidak sadar bahwa pajak itu penting, dan merasa bahwa tidak punya tanggung jawab mengamankan penerimaan negara…?

Apabila seseorang tidak menyukai satu pekerjaan maka otomatis dia akan mengalihkan energinya pada pekerjaan lain yang menurutnya bisa sebagai kompensasi, dan membuatnya sibuk. Akhirnya, pekerjaan yang selesai adalah pekerjaan nomor dua, sementara pekerjaan utama yang tidak menyenangkan, tanpa dia sadari akan semakin tertumpuk atau terlupakan. Jadi selain sibuk benar-benar bekerja, kita bisa menyibukkan diri sehingga dianggap benar-benar bekerja!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama.

Jadi, sebenarnya bekerja itu apa?

Bekerja itu adalah ketika kita tahu untuk apa kita bekerja. Kita tahu, saat dilahirkan di muka bumi, masing-masing dari kita memiliki tujuan. Sebagai apa? Ada yang memilih jadi guru, jadi tentara, jadi peneliti, jadi seniman, jadi pejabat, jadi preman, importir, eksportir, jadi pengusaha, termasuk juga Aparatur Sipil Negara. Namun, apa misi kita di dunia? Sesungguhnya misi manusia di dunia itu hanya satu, yaitu berbuat kebaikan kepada manusia lain. Tetapi kebaikan itu menurut kita hanya bisa dimaknai dengan berbagi materi.

Tidak juga, kok…. Kebaikan bisa dimulai dengan memberikan senyum di awal hari kepada teman seruangan kerja, atau membantu menyeberangkan lansia di jalan raya, atau menghindar dari menginjak semut yang kelihatan di bawah kaki kita. Kebaikan bisa juga dari berbagi ilmu, berbagi makanan, dan berbagi kesusahan untuk bisa saling menghibur. Kebaikan bisa dimaknai dengan memberi kebahagiaan, atau memberi sumbangan, atau bahkan mewartakan, bahwa membayar pajak itu juga kebaikan yang bertanggung jawab.

Kebaikan itu juga, saat seorang guru mengedukasi siswa-siswanya tentang peran pajak dalam pendidikan, seperti yang dilakukan peserta Lomba ngevlog Guru Bertutur Pajak yang diselenggarakan dengan adanya sinergi antara DJP dan PGRI memperingati Hari Guru. Esensinya saat ini bukan materi, tapi pencerahan dan awareness bagi generasi muda yang akan berbuah di masa mendatang.

Kalau kita juga aware bahwa pencapaian penerimaan pajak tahun ini masih di angka 70 sampai 80 persen, maka kita akan beramai-ramai menggencarkan kampanye bayar pajak tanpa harus diminta kantor pajak. Walaupun kita pernah membaca bahwa realisasi belum tercapainya penerimaan pajak antara lain karena melambatnya faktor pertumbuhan ekonomi global, dan harga komoditas yang belum menunjukkan perbaikan secara signifikan, kita tetap perlu berpikir. Bagaimana cara supaya target pajak bisa tercapai, dan masyarakat sekitar merasa punya tanggung jawab bersama? Duh, kalau pajak tidak tercapai, biaya gaji kita bagaimana ya? Apakah pembangunan di desa ini bisa terbengkalai? Bagaimana dengan anggaran kesehatan, pendidikan, dan lain-lain?

Mungkin baik juga direnungkan di malam hari, apakah kita harus membiayai negara dari utang? Bagaimana kalau utang belum dilunasi turun temurun, kasihan generasi anak cucu yang harus menjadi aktor utama menyelamatkan negara? Lantas, perhatikanlah wajah-wajah polos anak-anak di sebelah kita. Merekalah generasi muda yang perlu diselamatkan saat ini, bukan yang menyelamatkan, nanti. Itu kalau kita masih punya gengsi….

Bingo!

Kita akan merasa surprise saat menyadari bahwa kita belum pernah sekalipun memikirkan bahwa target penerimaan pajak adalah tanggung jawab kita bersama. Saat mengucapkan “Bingo!”, kita mengekspresikan kepuasan atau keterkejutan pada hasil positif, bahwa negara akan maju kalau kesadaran perpajakannya terbangun kuat. Mari menyadarkan diri sendiri sejak saat ini, keikhlasan bayar pajak kita sangat dibutuhkan seluruh anak negeri! Mari tersadar dari tidur lelap yang panjang…. Dan di pengujung malam akhir tahun 2019, baiknya kita ucapkan salam….

“Selamat bangun di tahun 2020, untuk bersama mem-bingo-kan Indonesia Maju!”

Continue Reading

Tax Light

Prima

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Menjadi manusia prima adalah menjadi manusia yang bisa melihat ke dalam diri, lalu mencari jalan untuk bisa berarti bagi lingkungan agar bisa memberi manfaat.

Ketika orang berbicara dan mengucapkan kata prima, maka itu lekat dengan kesempurnaan. Sementara nilai Kesempurnaan merupakan bagian dari belief-nya atau nilai-nilai Kementerian Keuangan yang terdiri dari Integritas, Profesionalisme, Sinergi, Pelayanan dan dipungkas dengan nilai Kesempurnaan. Arti kata prima adalah sangat baik, dan utama, di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yang unik, kata prima dikenal sejak anak-anak belajar di jenjang pendidikan dasar, saat dikenalkan istilah bilangan prima dalam matematika. Bilangan prima, hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri.

Mengutak-atik bilangan tentunya menarik. Apalagi bila dikonversi dengan filosofi kehidupan. Bilangan termasuk prima apabila dia hanya bisa dibagi oleh satu dan dirinya sendiri, maka angka satu bukanlah bilangan prima karena pembaginya hanya satu. Seorang anak manusia yang hanya memikirkan satu hal saja, bukanlah manusia prima, atau utama. Manusia yang berpikir hanya satu hal saja mungkin kerepotan kalau harus dipaksa memikirkan banyak hal. Namun, apabila dalam proses berpikir, selain berpikir satu hal, dia dipaksa berpikir ke dalam dirinya sendiri, maka dia bisa menjadi manusia prima. Sampai di sini, apakah Anda bingung?

Kadang kala kita bekerja tidak mau repot. Kita bekerja standar, hanya melakukan yang diinstruksikan, atau ditulis dalam tugas pokok dan fungsi bagi amanah jabatan yang kita emban. Selebihnya, kita tidak mau tahu. Bahkan kalau ada tugas tambahan, kita akan berpikir, mengapa harus kita yang melakukannya? Sementara gajinya tidak nambah, apalagi ekstra tambahan. “Little-little to me, little little to me, but salary not up up”. Kita sudah berada di zona nyaman. Kerjakan saja punyamu, punya dia adalah urusannya. Maka bisa dipastikan bahwa unsur tepo seliro dan gotong royong akan mulai menipis perlahan-lahan.

Beda halnya kalau kita memfokuskan pada satu hal, dan kembali berpikir ke dalam diri sendiri. Apakah satu hal itu sudah cukup berarti bagi lingkungan kita? Apakah dengan rezeki yang diberikan Allah selama ini, kita sudah melepaskannya juga dalam bentuk sedekah? Dalam bentuk membayar zakat? Dalam bentuk kewajiban membayar pajak? Kita berpikir, kalau tidak melakukan hal itu, maka kita ini manfaatnya apa? Sampai di sini, Anda mungkin sudah tidak bingung lagi, bukan? Menjadi manusia prima, adalah menjadi manusia yang bisa berpikir tentang satu hal, yang apabila kembali ke dalam dirinya sendiri, maka dia akan mencari jalan untuk menjadi bermanfaat. Itulah, mengapa istilah prima, identik dengan utama. Dan mengapa, jumlah bilangan prima sangat minim dibandingkan bilangan lainnya.

Sekarang coba hitung, ada berapa jumlah bilangan prima dari kisaran angka 1 sampai 100? Sudah mengecek ke “Mbah Google”? Benar, hanya 25 buah bilangan prima! Berarti dari skala 1 sampai 100, ada 25 bilangan prima, dan 75 bilangan lainnya. Apabila dipresentasikan maka bilangan prima mencapai 20-25 persen dari 100 persen di 100 bilangan pertama. Ada satu teori yang sangat lekat dengan kehidupan kita dalam menyasar kebermanfaatan dengan presentasi itu. Pernah dengar Teori Pareto? Dikenal dengan nama The Pareto Principle, yaitu aturan 80-20, menyatakan bahwa dari banyak kejadian, sekitar 80 persen dari efeknya disebabkan oleh 20 persen dari penyebabnya. Prinsip ini dicetuskan Joseph M. Juran seorang pemikir manajemen bisnis, berdasarkan ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Pareto mengamati bahwa 80 persen pendapatan di Italia dimiliki oleh 20 persen jumlah populasi. Dalam implementasinya, 80 persen dari keluhan pelanggan muncul dari 20 persen produk atau jasa, sementara 20 persen dari produk atau jasa mencapai 80 persen dari keuntungan, atau 20 persen dari tenaga penjualan memproduksi 80 persen dari omzet perusahaan.

Kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong adanya pengetahuan

Berpikir Pareto secara kritis, mungkin ada benarnya perampingan eselonisasi. Mungkin saja 80 persen hasil kerja selama ini merupakan kerja keras hanya dari total 20 persen karyawan!

Contoh lain? Satu, silakan cek baju di lemari. Dari semua baju koleksi, yang kita pakai bisa saja hanya 20 persen karena kita suka baju itu saja. Sisanya? Ya, jarang dipakai. Kenapa tidak didonasikan saja? Dua, dari seluruh teman kita, berapa persenkah yang selalu mengingat kita? Apa ada sebanyak 20 persen saja? Maka fokuslah bersama teman-teman setia itu. Berikutnya, bagaimana dengan penghasilan kita per tahun? Berapa keuntungannya, dan dari keuntungan itu, digunakan untuk apa saja? Bagaimana kalau kita belajar menyumbangkan 20 persen dari keuntungan itu ke hal-hal yang bermanfaat?

Beranjak ke dunia pendidikan, semua kementerian dan lembaga menyasarkan program mereka kepada generasi muda. Bila melihat data peserta didik di Indonesia menurut jenjang pendidikan Tahun Ajaran 2017/2018, yaitu sebanyak 25,49 juta jiwa peserta didik tingkat SD; 10,13 juta jiwa peserta didik tingkat SMP; 4,78 juta jiwa peserta didik tingkat SMA dan; 4,7 juta jiwa tingkat SMK—total peserta didik mencapai 45,10 juta jiwa. Menerapkan hukum Pareto yang program kementerian dan lembaga hanya difokuskan bagi 20 persen siswa per jenjang pendidikan, maka di tahun 2045 kelak dampak program itu akan menyebar ke 80 persen pengusaha muda. Apakah bentuk dampaknya? Materi pembelajaran yang disisipkan secara inklusif saat mereka masih bersekolah di usia muda di jenjang SD, sampai SMA, misalnya materi edukasi pajak, materi bahaya narkoba, materi hindari penyebaran berita hoaks dan terorisme, akan menjadikan mereka Generasi Emas yang memiliki insting membela NKRI.

Saat Pajak Bertutur di launching di tahun 2017, tercatat 2000-an sekolah dari jenjang SD, SMP, SMA dan PT mengikuti program Inklusi Perpajakan itu, dan melibatkan 27 ribu siswa yang notabene adalah generasi muda. Sasarannya? Tahun 2045, mereka bertumbuh kembang menjadi generasi muda usia produktif yang sadar pajak. Mereka paham bagaimana pajak dikumpulkan, bagaimana manfaat pajak kepada sesama, dan mereka memiliki kesadaran penuh bahwa membayar pajak adalah tanggung jawab yang tidak perlu lagi dipaksakan. Bisa dibayangkan, apabila kelak 80 persen penerimaan pajak di tahun 2045 ternyata 20 persen pembayar pajaknya adalah para pengusaha muda yang pernah mengikuti Pajak Bertutur di masa-masa SD sampai SMA mereka!

Dekade terakhir ini, pendekatan alternatif yang dilakukan oleh banyak otoritas pajak di dunia adalah Deference Model, yaitu mempertimbangkan perilaku Wajib Pajak dengan mempertimbangkan persepsi masyarakat terhadap pemerintah, tax morale, dan perilaku peers. Caranya dengan memengaruhi perilaku warga negara melalui peningkatan pengetahuan perpajakan melalui edukasi pajak. Tujuannya, tentu saja menanamkan kultur kepatuhan kepada setiap warga negara. Edukasi perpajakan memiliki sasaran, yang salah satunya disebut future taxpayers. Dialah yang kita kenal sebagai generasi muda, atau genmil zaman now. Yang nantinya menjadi generasi emas Indonesia. Jadi, kalau ada yang bertanya, buat apa kita berbaik-baik untuk mengharapkan kepatuhan pajak secara sukarela? Jawabannya, karena kepatuhan pajak tumbuh dari berubahnya perilaku yang didorong dengan adanya pengetahuan, dan pengetahuan akan membangun persepsi atas pentingnya pajak bagi suatu bangsa.

Edukasi melalui penyuluhan kepada masyarakat dinyatakan akademisi sebagai sarana untuk mewujudkan kepatuhan sukarela. Untuk itulah, kegiatan edukasi disarankan untuk dilaksanakan kepada setiap warga negara sejak usia dini, melalui kurikulum pelajaran di sekolah. Dan hal ini sangat disadari oleh Pemerintah. Maka program demi program edukasi pun bermunculan. Semata-mata, semua berlandaskan tanggung jawab untuk menitipkan keberlangsungan pembangunan negeri ini.

Edukasi tidak tumbuh begitu saja. Dia disemai oleh mereka yang berpikiran seperti bilangan prima. Konsep berpikirnya adalah menetapkan secara fokus tujuan pendidikan anak manusia, mengembalikan semua pertanyaan kepada diri sendiri, untuk selanjutnya meraih kebermanfaatan semesta. Ya, prima adalah keutamaan. Menyinggung kata utama, seolah diingatkan nama Dirjen Pajak baru yang akan bekerja keras dan cerdas demi Indonesia. Selamat!-Aan Almaidah

Continue Reading

Tax Light

Dwi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Ilustrasi

Tahun depan, saatnya edukasi perpajakan digaungkan lebih kencang, dengan program unggulan inklusi perpajakan. Masyarakat diharapkan terlibat kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan pemahaman peran pajak.

Berbicara itu, tidak mudah. Utamanya, kita harus paham apa yang akan dibicarakan dengan mempelajari materinya. Kemudian membuat tahap demi tahap inti yang harus dibicarakan. Berikutnya, menerjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa percakapan. Menerjemahkan bahasa tulisan untuk menjadi sebuah materi yang mudah dimengerti, itu membutuhkan kecerdasan. Misalnya, ada aturan baru. Kita perlu menyosialisasikan aturan itu. Bagaimana menuangkannya ke dalam materi? Enggak mudah, loh!  Audiens mungkin tidak memerlukan bahasa pasal demi pasal. Tapi mereka butuh tahu: Apa sih manfaatnya aturan baru ini buat saya? Kalau saya tidak melakukannya, apa sanksinya?

Sementara, bagi seorang narasumber, mereka butuh semua poin tertuang dalam salindia (slideshow) yang akan mendukung mereka saat berbicara di depan.

Apakah Anda memiliki teman seorang penyusun salindia? Maka, bertanyalah kepadanya. Bagaimana proses sebuah materi paparan dibuat?  Saat kita mengikuti seminar, sosialisasi, lokakarya (workshop), selama narasumber bicara maka di belakangnya ada materi terpampang di layar. Selama ini kita mungkin saja tidak memikirkan bagaimana materi itu diproses. Visual terpaku pada gambar, info grafis dan adegan dalam video, sementara auditori mendengar kata demi kata penjelasan sang pembicara. Pada sesi diskusi pun, kita hanya terfokus pada materi yang dipampangkan, baik itu materi aturan, kebijakan, atau materi motivasi.  Sementara proses di belakangnya, seorang pembuat salindia seperti desainer. Mereka membaca aturan atau materi yang akan dipaparkan, membuatnya menjadi bahasa sederhana sesuai target audiens, dan mengubahnya menjadi seni. Seni itu bernama salindia, atau infografis, atau leaflet, atau video, dan mengandung konten edukasi.

Apa yang terlewat di sini?

Ya, penglihatan kita! Kita melihat, tetapi ada yang tidak kita lihat. Sekarang, bandingkan dengan satu hal. Pernah menonton seorang pesulap beraksi? Apabila dia membawa bola merah kecil di tangan yang dihadapkan persis di depan mata kita, maka saat tangan bergerak dan bola tiba-tiba hilang, kita melihat tangan kiri yang kosong. Pesulap tertawa sambil mengeluarkan bola yang ternyata ada di saku. Kita terkejut, dan kemudian berusaha lebih fokus. Namun lagi-lagi, bola tidak ada di mana-mana, bahkan di saku, karena sang pesulap sudah melemparnya ke belakang saat kita memelototi dimensi ruang di depan mata kita.

Apa yang terlewat lagi di sini?

Penglihatan kita! Saat kita memerhatikan satu hal, maka kita melupakan hal-hal lain yang terjadi di sekitar kita. Kita berpikir bahwa kita sudah fokus, ternyata itu adalah ilusi atau manipulasi, bukan sebenarnya.

Di sinilah kita harus berpikir tentang dua hal. Satu, apakah saat melihat kita sudah melihat dengan sebenarnya? Dua, apakah saat melihat kita berpikir?

Manusia cenderung tertipu oleh hal-hal yang dia lihat. Kenapa? Karena saat dia melihat, maka dia tidak berpikir. Semua itu diatasnamakan istilah “fokus”. Sesungguhnya, fokus itu melihat satu hal, dan melihat lain hal yang tidak secara jelas kita lihat.  Sudah jamak, apabila ada solusi, maka dibutuhkan solusi cadangan. Apabila ada rencana, maka dibutuhkan rencana kedua. Dan kita menamakannya win-win.

Tanpa kita sadari, kita hidup dengan dua hal mengelilingi. Satu, jenis kelamin, pertama kali yang kita kenal adalah lelaki dan perempuan. Kedua, perasaan, kita diajarkan sedih dan bahagia. Ketiga, ada rasa hati yang dinamakan cinta dan benci, rasa di kulit seperti panas dan dingin, atau terang dan gelap untuk melihat kondisi cuaca di luar rumah.  Dan hingga saat meraih kemerdekaan, bangsa ini mengenal dwitunggal, Sukarno-Hatta.

Kata dwi, mengingatkan juga pada angka kembar. Contohnya 2020. Tahun depan, tahun 2020. Tahun di mana edukasi perpajakan digaungkan lebih kencang, dengan adanya program unggulan Direktorat Jenderal Pajak, yaitu inklusi perpajakan. Tahun di mana semua masyarakat diharapkan terlibat dalam kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan pemahaman peran pajak, tanpa kecuali. Saat kita mengedukasi, maka butuh dukungan dari berbagai pihak.

Seorang pegawai di perusahaan swasta mungkin saja akan menolak ada peran pajak dalam kehidupannya. Dia merasa tidak digaji oleh pemerintah. Boleh saja. Tapi bagaimana dengan fasilitas umum dan sosial yang dia nikmati selama dia bepergian dari rumah ke kantor? Bukankah ada uang pajak yang digunakan dalam pembangunan di dalamnya? Saat kita menolak ada peran pajak dalam hidup keseharian kita, itu sama artinya kita juga tidak butuh semua sarana perlindungan keamanan, kesehatan, pendidikan, atau pembangunan. Loh, kok? Karena dari anggaran yang digelontorkan APBN, 70 persen di antaranya dari penerimaan pajak yang dibayar oleh rakyat. Apabila Anda merasa hidup Anda tidak ada kaitannya dengan pajak, maka cobalah berjalan kaki bukan di jalan yang biaya pembangunannya dari pajak. Wah, hidup akan rumit dan meletihkan!

Bicara tentang edukasi, sama dengan cara seorang ibu mendidik anaknya. Dia tentu butuh dukungan suami untuk kesepahaman cara mendidik, bahkan nenek dan kakek yang tinggal di satu rumah. Apa yang kita harapkan dengan meningkatkan edukasi? Tentu saja, meningkatkan kualitas individu yang kita sebut anak muda, baik dia anak kita, staf kita, tetangga kita, atau masyarakat kita, yang bahkan tidak kita kenal sama sekali.

Sebagai sesama manusia, tentu sangat ingin bermanfaat bagi manusia lain. Kita akan merasa miris saat mendengar demo dilaksanakan oleh kaum muda, ingin rasanya menasihati. Tetapi setiap manusia, saat ini, berjalan dengan belief masing-masing. Saat mereka merasa benar, mereka tidak akan mendengarkan yang lain.

Kata ini patut digarisbawahi tebal-tebal. Melihat tidak dengan sebenarnya. Mendengar tidak dengan sesungguhnya.  Zaman sekarang, saat digitalisasi menjajah kehidupan, maka dua hal ini menjajah peradaban.

Saat kita menolak ada peran pajak dalam hidup keseharian kita, itu sama artinya kita juga tidak butuh semua sarana perlindungan keamanan, kesehatan, pendidikan, atau pembangunan.”

Melihat tidak dengan sebenarnya. Mendengar tidak dengan sesungguhnya.

Arus pengetahuan berkembang seiring perkembangan media yang meningkatkan antuasiasme tanpa memerlukan kajian baik dalam berpikir dan bertindak. Mari kita lihat di rumah, anak-anak kita yang lahir di pertengahan 1990 sampai 2015-an, dinamakan Generasi Z. Mereka sekarang ini bergerak dengan instan dan sangat menyukai penuangan identitas diri. Mereka bermain di Instagram (IG), Twitter, YouTube, yang mayoritas adalah wahana aktualisasi diri. Mereka suka dengan segala sesuatu yang berbau digital, dan menggunakan dompet digital, untuk order layanan transportasi, bayar makanan di tempat, beli tiket menonton, dan lain-lain.  Bahkan bukan tidak mungkin, mereka nanti akan sangat antusias dengan bitcoin, yang disebut aset digital, karena krisis kepercayaan terhadap pemerintah atas kebijakan finansial. Saat ini, para geek di dunia IT mulai menginvestasikan aset mereka dalam bentuk bitcoin. Ini adalah ramalan visi masa depan, bahwa nantinya kehidupan akan dijajah oleh penjajah digital, yang bahkan kita tidak tahu bentuk fisik atau wujudnya!

Dwitunggal kita, Sukarno-Hatta, tentu saja membayangkan Indonesia yang jaya dan tidak terpecah belah saat lantang membacakan Teks Proklamasi. Cobalah untuk tetap membayangkan perjuangan para pahlawan, di saat kita mengangkat senjata membantai saudara sendiri di sudut negeri ini. Janganlah menjadi makhluk yang melihat tidak dengan sebenarnya, atau mendengar tidak dengan sesungguhnya, hanya karena kita percaya pada penjajah baru, kompeni yang berwujud digital, yang tidak bisa dijamin kebenarannya secara akurat.

Namun, yang lebih menarik dari semua adalah angka kembar. Barangkali ada dari pembaca yang terganggu karena sering dilihatkan angka kembar di jalan atau di mana saja? Apa ya artinya, kalau kita sering dibombardir angka kembar? Misalnya, bangun tidur tepat pukul 04:04. Pas di jalan ada pelat nomor mobil 1616. Lantas, nama gang bertuliskan Gang 22. Seorang teman mengeluhkan angka kembar atau angel numbers ini, karena dia sibuk memikirkan artinya. Dia berpikir ada pesan terselubung yang disampaikan kepadanya, oleh semesta.

Dwi, artinya dua, atau bisa diartikan kembar. Dan menariknya, kalau sering melihat angka kembar, konon itu peringatan untuk awakening dari innerself. Diri sejatinya mengirim sinyal supaya dia terbangun dari keriuhan duniawi, untuk berpikir. Dan orang yang keseringan berpikir atau merenung, cenderung pelan-pelan akan meresapi innerself, kemudian menjadi makhluk spiritual yang belajar melihat dengan sebenarnya, dan mendengar dengan sesungguhnya.

Tidak percaya? Sebentar lagi tahun 2020. Itu adalah angka kembar. Sebelumnya, kita akan mengalami pelantikan presiden periode kedua. Dan kalau dipikir-pikir lagi, kita hidup dengan dwi alternatif dalam setiap keputusan. Maka, jangan pernah mau dipecah belah, jangan goyah untuk menjaga negeri ini, dan… jangan pernah lelah mencintai negeri ini! Kalimat terakhir tak pernah lelah diucapkan ibu Sri Mulyani, membekas di hati.-  Aan Almaidah A.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News1 hari ago

Bayar Pajak, Beasiswa Banyak

Jakarta, Majalahpajak.net-Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) terus menyempurnakan kurikulum sadar pajak dan menginstruksikan pembentukan relawan pajak...

Breaking News4 hari ago

Penyelundupan Gerogoti Wibawa Negara

Jakarta, MajalahPajak.net- Kementerian Keuangan RI melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bersama Kepolisian Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia, dan...

Breaking News4 hari ago

Inovasi tak Sebatas Aplikasi

Jakarta, MajalahPajak.net-Tak sedikit Kantor Pelayanan Pajak (KPP) gugur dalam lomba Kantor Pelayanan Terbaik (KPT) tingkat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) karena hanya...

Breaking News5 hari ago

Apresiasi untuk Guru Penutur Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net-Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan apresiasi kepada 10 pemenang lomba vlog bertajuk “Guru Bertutur Pajak (Gutupak)” di Kantor Pusat...

Breaking News5 hari ago

Pengelola Dana Desa harus Melek Pajak

Jakarta, Majalahpajak.net Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia yang beranggotakan para pengajar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA UI) memberikan pendampingan bagi pengelola...

Breaking News6 hari ago

Kemensos Ajak Dunia Usaha Andil Jangka Panjang dalam Progam KAT

Jakarta, Majalahpajak.net – Menteri Sosial Juliari P. Batubara mendorong dunia usaha turut berpartisipasi berjangka panjang bersama pemerintah dalam program Pemberdayaan...

Breaking News3 minggu ago

Bahaya Hepatitis bagi Ibu Hamil dan Janin

Banyak ibu hamil yang tidak menyadari dirinya terinfeksi virus hepatitis. Apa saja dampak hepatitis bagi si janin? Hepatitis adalah peradangan...

Breaking News2 bulan ago

IKPI: Omnibus Law Perlu Kajian Mendalam Sebelum Disahkan

Untuk mendukung program pemerintah menerbitkan Undang-Undang (UU) Omnibus Law, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menyelenggarakan diskusi perpajakan bertajuk “Omnibus Law...

Breaking News2 bulan ago

Kerja “Happy” Kejar Prestasi

Apresiasi kepada pegawai berprestasi tak hanya memicu kompetisi positif untuk meraih kinerja lebih baik, tapi juga membangun iklim kerja penuh...

Breaking News2 bulan ago

Mitra DJP dalam Usaha Mencapai Target Penerimaan Negara

Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) mengucapkan selamat atas pelantikan Bapak Suryo Utomo sebagai Direktur Jenderal Pajak menggantikan Bapak Robert Pakpahan...

Trending