Connect with us

Leisure

Eksotisme dan Prosesi di Negeri Dewa-Dewi

Majalah Pajak

Published

on

Foto: Istimewa

Tak cukup satu malam menjelajahi pesona Dieng. Selain alamnya yang eksotis, Dieng memiliki sejumlah bangunan bersejarah dan festival tahunan yang menarik.

 

Kabut tipis yang seolah enggan pergi menyelimuti kota, rindangnya pepohonan, deretan perbukitan nan hijau hingga kompleks pegunungan mulai dari Prau, Sindoro, Sumbing, dan puluhan gunung lainnya sebagai latar belakang lukisan alam nan memesona. Inilah lanskap alam yang bisa Anda amati lekat-lekat dan nikmati sepanjang hari saat berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah.

Dataran Tinggi Dieng merupakan destinasi wisata terpopuler kedua di Jawa Tengah setelah Candi Borobudur. Wilayah Dieng mencakup Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo dengan area seluas kurang lebih 619,846 hektare. Dalam bahasa kawi, Dieng berasal dari dua gabungan kata di yang berarti ‘tempat’ atau ‘gunung’ dan hyang yang bermakna ‘dewa’. Letaknya yang berada di ketinggian sekitar 2093 meter di atas permukaan laut, membuat Dieng sering dijuluki sebagai Negeri di Atas Awan.

Layaknya sebuah negeri kayangan, konon Dieng dipercaya sebagai tempat dewa dan dewi bersemayam. Sejumlah destinasi yang berada di kawasan ini pun dipenuhi legenda dan sering dijadikan sebagai tempat pertapaan. Ini jualah yang menyebabkan Dieng selalu eksotis sekaligus misterius.

Saat kami berkunjung ke sana pada awal Juni lalu, hawa dingin di Dataran Tinggi Dieng terasa menusuk hingga ke tulang. Temperatur udara yang tertera pada seluler pintar kala itu menunjukkan angka delapan derajat celsius. Tak terbayang, bagaimana rasanya ketika suhu turun drastis di puncak kemarau bulan Agustus–September mendatang.

Pada suhu terendah, temperatur di sini bisa mencapai hingga minus sembilan derajat celsius. Suhu ini menyebabkan embun es muncul dan menutupi hampir semua tanaman rendah serta rerumputan, sehingga seolah tertutup salju. Kemunculan embun es ini juga selalu ditunggu oleh wisatawan. Banyak di antara mereka yang jauh-jauh datang dan bermalam di penginapan yang dikelola oleh warga (home stay) agar keesokan paginya dapat mengabadikan fenomena ini.

Di sisi lain, petani lokal justru menyebut kemunculan embun ini sebagai bun upas atau embun racun. Pasalnya, embun es yang terlampau tebal dapat mematikan tanaman kentang, kubis, dan beberapa jenis tanaman lainnya sehingga dapat terancam gagal panen.

Kami sempat mengunjungi beberapa destinasi utama di sana, salah satunya Telaga Warna. Telaga ini menyuguhkan hamparan keindahan perairan di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Nama telaga warna berasal dari keunikan telaga yang dapat berubah-ubah warna. Secara ilmiah, ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar matahari mengenainya, maka hasil pantulan warna air telaga tampak berwarna-warni.

Dieng juga memiliki wisata sejarah yang berada di kompleks Candi Arjuna. Berdasarkan catatan sejarah, Candi Arjuna dan beberapa candi di sekelilingnya diperkirakan dibangun sekitar awal abad ketujuh hingga sembilan Masehi. Di sinilah peradaban Mataram Kuno dimulai dan akhirnya menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan besar lainnya di tanah Jawa. Sejarahnya menarik untuk dikulik, bukan?

Kabar baiknya, kini wisatawan dapat mengetahui sejarah di balik berdirinya candi-candi ini melalui quick response code (QR Code) yang terpasang di sekitar bangunan candi. Anda cukup mendekatkan seluler pintar Anda agar aplikasi pembaca QR Code dapat memindai informasi yang tersimpan di dalamnya. Rencananya, QR Code juga akan dipasang di beberapa titik destinasi lainnya. Dengan begitu, wisatawan akan dengan mudah mengetahui informasi yang dibutuhkan hanya melalui gawai saja.

Kini wisatawan dapat mengetahui sejarah di balik berdirinya candi-candi ini melalui quick response code (QR Code) yang terpasang di sekitar bangunan candi

Bocah gimbal

Selain pesona alamnya, Dieng juga memiliki keunikan lain, yaitu bocah berambut gimbal. Entah bagaimana awalnya rambut gimbal itu berasal, tapi penduduk setempat meyakini anak gimbal dianggap sebagai keturunan dari pepunden atau leluhur pendiri Dataran Dieng, Kyai Kolo Dete dan Nini Roro Rence. Konon, anak gimbal merupakan simbol kesejahteraan masyarakat Dieng. Semakin banyak anak gimbal di desa itu, maka semakin sejahtera penduduknya.

Umumnya, mereka berambut gimbal sejak beberapa bulan hingga berusia enam tahun. Rambut gimbal muncul begitu saja dan tumbuh secara alami. Gejala tumbuhnya rambut gimbal pada setiap anak sama, mereka mengalami demam bahkan terkadang hingga kejang. Jika sudah tumbuh, rambut tidak boleh dipotong sebelum si anak menyatakan keinginannya untuk potong rambut dan meminta sesuatu pada orangtuanya. Jika tidak dikabulkan, biasanya rambut akan tumbuh gimbal kembali walau sudah dipotong berkali-kali.

Pemotongan rambut pun tidak sembarangan, harus melalui prosesi ruwatan. Seiring berjalannya waktu, fenomena rambut gimbal justru menjadi daya tarik wisatawan. Momentum ini juga tak dilewatkan oleh kelompok sadar wisata setempat. Mereka mengemas upacara ruwatan dan menggabungkan dengan konten-konten menarik lainnya, di antaranya festival kreatif bertajuk Dieng Culture Festival. Ini juga sebagai upaya membantu orangtua yang kesulitan atau tidak mampu mengabulkan permintaan sang anak.

Tahun ini merupakan tahun kesepuluh diadakannya festival ini. Sejumlah aktivitas menarik juga telah dipersiapkan oleh panitia. Bagi wisatawan yang ingin menikmatinya, diharuskan membeli tiket dan memesan penginapan dari jauh-jauh hari. Bukan apa-apa, festival ini telah menjadi momentum yang sangat ditunggu-tunggu wisatawan dan kemasyhurannya telah menggema hingga tingkat nasional, sehingga tiket pun akan cepat habis terjual.

Dengan membeli tiket, wisatawan berkesempatan menikmati sejumlah fasilitas dan aktivitas yang telah disediakan selama tiga hari berturut-turut. Mulai dari pentas seni tradisional, ketoprak, kirab budaya, jazz di atas awan yang menampilkan musisi-musisi nasional kenamaan, menerbangkan lampion bersama-sama, hingga menyaksikan rangkaian acara ruwatan anak rambut gimbal.

Bagi Anda yang datang ke acara ini, disarankan untuk menaati peraturan panitia seperti membawa botol air minum dan tas ramah lingkungan sendiri, tidak membuang sampah sembarangan, dan menerbangkan lampion di tempat yang telah ditentukan. Sisanya, Anda cukup menikmati seluruh rangkaian acara menarik ini. Sebelum pulang, pastikan juga Anda telah mencicipi sejumlah kuliner khas sini dan membawanya sebagai buah tangan. Ada mi ongklok, tempe kemul, semur kentang, kopi purwaceng, telur rebus Kawah Sikidang, dan Carica. – Ruruh Handayani

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Leisure

Menyongsong Mentari di Pucuk Luwuk

Aprilia Hariani K

Published

on

Pantai sebening kaca terbelah barisan bukit berkelok. Cahaya mentari yang menyelimuti keduanya melengkapi keelokan Pulau Dua Balantak.

Waktu masih menunjukkan pukul 01.15 WITA. Dini hari itu, tim Majalah Pajak dan KPP Pratama Luwuk sudah bersiap menuju Pulau Dua Balantak, Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah. Kami tak ingin melewatkan momen di tempat yang tersohor akan keindahan matahari terbitnya itu. Apalagi banyak yang mengatakan, Pulau Dua Balantak di Luwuk mirip dengan Pulau Kelor, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk menjawab rasa penasaran itu, kami ingin jelajahi keindahan pulau itu.

Kami memulai perjalanan dari Estrella Hotel & Conference Center yang terletak di Jalan Mandapar, kawasan Bukit Halimun, Tanjung Tuwis. Hanya 15 menit dari Bandara Syukuran Aminuddin Amir dengan menggunakan dua mobil berkapasitas masing-masing enam orang. Di Luwuk, tarif sewa mobil per hari sekitar Rp 200 hingga Rp 300 ribu.

Tim yang berjumlah delapan orang dibagi ke dalam dua mobil itu. Perjalanan diawali dengan menyisir jalan raya utama kota. Sesaat kemudian kami blusukan memasuki Desa Bunga. Perjalanan kami menyusuri lebatnya hutan di sisi kiri jalan dan laut di sisi kananya. Untungnya, infrastruktur jalan relatif baik—jalan beraspal mulus. Meski demikian, pengemudi tetap harus waspada karena minimnya penerangan jalan, juga gerombolan sapi dan kambing milik penduduk yang mendadak menyeberang jalan.

Dari balik setirnya, Pelaksana Seksi Pengolahan Data dan Informasi KPP Luwuk, Jawahirul Fawaid, mengatakan, bahwa melepas hewan peliharaan di sekitar desa merupakan bagian dari tradisi penduduk di Luwuk.

“Enggak akan hilang (hewan peliharaan). Di sini aman. Jangankan hewan, motor ditinggal di pinggir jalan juga aman,” kata Fawaid. Setelah gerombolan hewan melintas, perjalanan dilanjutkan. Sejurus kemudian pemandangan berganti dengan perkampungan penduduk.

Akhirnya, sesuai target, dua jam lebih perjalanan kami ditempuh. Saat azan subuh berkumandang, tim sampai di Desa Pulo Dua. Di sanalah pos penyeberangan menuju Pulau Dua Balantak berada.

“Jangan salah, Desa Pulo Dua di sini (masih di daratan). Sedangkan Pulau Dua Balantak di seberang sana,” jelas Fawaid.

Sebenarnya, menurut Sekretaris Kantor KPP Pratama Luwuk, Aussie Nurul Anisa—yang juga ikut dalam rombongan—ada rumah warga yang bisa dijadikan penginapan di desa Pulau Dua. Biaya menginap di sana hanya Rp 100 ribu. Ini menjadi alternatif jika darmakelana tak ingin melakukan perjalanan tengah malam dari Banggai.

Setelah menitipkan mobil di tepi pantai, rombongan menyewa perahu untuk menuju pulau tujuan. Biaya sewa satu perahu sekitar Rp 300 ribu–Rp 350 ribu. Kapasitas perahu delapan hingga 10 orang.

“Ayo cepat, jangan sampai matahari keburu naik,” teriak Aussie yang sudah duduk di pinggir perahu. Kami pun lekas naik. Bismillah, mesin perahu ditarik. Sejurus kemudian jejak perahu menggoyang pantai biru kehijauan. Bening, karang-karang jelas terlihat.

Di waktu fajar itu juga, semesta menyuguhkan siluet gugusan bukit yang melengkung melindungi laut biru. Begitulah yang kami nikmati selama 23 menit. Hingga sesampai di tepi bukit, kami berhenti. Ya, salamat toka (selamat datang) di Pulau Dua Balantak.

Hanya dua langkah dari perairan, kami disambut oleh anak tangga yang menjulang di punggung bukit berkelok-kelok. Tak terhitung berapa jumlahnya. Sejenak mendongak, tampaknya perjalanan akan melelahkan. Untung saja pemerintah daerah setempat sudah membeton anak tangga dan memberi pengaman dari kayu pada kedua sisinya.

“Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.”

Samar-samar matahari muncul dari balik garis cakrawala, kami pun mempercepat pendakian. Menyenangkan. Apalagi ketika itu perjalanan eksklusif karena tak ada pengunjung lain selain kami. Hanya semilir angin memecah kesunyian.

Tak terasa lima belas menit kami mendaki. Tim akhirnya tiba di pertengahan bukit dengan pijakan tiga kali lebih lebar dari anak tangga lainnya. Tampaknya, itu adalah pos peristirahatan pertama. Di titik ini suguhan alam begitu memukau—barisan bukit berkelok gemulai seakan membelah lautan.

Dari sebelah timur, matahari kian menyeruak. Cahayanya memantul di dinding-dinding bukit. Perlahan, sinarnya menyelimuti hampir seluruh badan bukit. Jadilah bukit berwarna kuning keemasan. Tapi, suguhan ini bukan klimaks. Masih ada lagi pos di atasnya.

Sesaat kemudian tim kembali naik, hingga anak tangga terakhir. Posisinya nyaris dekat dengan puncak bukit. Di titik inilah pemandangan semakin membius. Tentunya ritual selfie tak boleh terlewatkan.

Matahari semakin terik, berulang kali kami menyeka keringat. Kami pun memutuskan untuk turun ke sisi kanan bukit. Sebab, di sana ada beberapa rumah kayu yang dibangun Pemda Banggai untuk para darmakelana. Namun, hati-hati. Perjalanan turun dari sisi kanan cukup curam. Tidak ada anak tangga seperti di sisi kiri seperti awal pendakian.

Berbekal ranting pohon dan kekompakan tim, rombongan akhirnya selamat sampai bawah. Benar saja, barisan rumah-rumah panggung dari kayu mengisi hamparan pasir Pulau Dua Balantak. Meski terkesan tak terurus, tapi di rumah itu, tim dapat memanfaatkannya sebagai kamar ganti untuk persiapan snorkeling.

Pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pulau juga bisa dipanjat dan diambil buahnya. Gratis. Kebetulan, kami berhasil memetik tujuh kelapa muda. “Maka, nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Continue Reading

Leisure

Cekungan Surga di Bumi Cendana

Ruruh Handayani

Published

on

Sumba tak hanya menyajikan adat budayanya yang lestari, tetapi juga limpahan surga tersembunyi yang mengundang.

Sumba semakin dikenal sebagai destinasi wisata yang tak kalah memesona dari pulau lain yang telah lama digandrungi wisatawan seperti Bali, Lombok, maupun Komodo. Apalagi, pada Februari lalu, Focus, majalah terbesar ketiga di Jerman, menobatkan Sumba sebagai satu dari 33 pulau terindah di dunia. Majalah itu mengulas, Sumba bukanlah sebagai tarian, melainkan sebagai mimpi pencarian yang harus diwujudkan, atau dengan kata lain, sebagai tujuan wisata yang semestinya dikunjungi—paling tidak sekali seumur hidup.

Kekuatan budaya

Pulau yang kerap disebut Pulau Cendana ini memiliki ragam kekayaan alam dan budaya yang lengkap. Kekuatan budaya diperlihatkan melalui rumah adat di beberapa perkampungan seperti Kampung Adat Praiwayang, Kampung Adat Tarung, Kampung Adat Praijing, dan Kampung Adat Ratenggaro yang dipertahankan hingga kini.

Arsitektur rumah adat yang unik dan menarik dengan atap menjulang menyerupai menara, dikaitkan dengan kepercayaan penduduk setempat kepada roh nenek moyang yang memiliki kedudukan tinggi atau yang biasa disebut Marapu.

Bagian rumah pun memiliki aturan yang mesti dijalankan tiap penghuninya. Bagian atas rumah atau loteng (uma daluku) dipergunakan untuk menyimpan bahan makanan serta benda pusaka yang dikeramatkan. Bagian tengah (rongu uma) menjadi pusat aktivitas keseharian para penghuni. Sedangkan bagian bawah atau kolong rumah (lei bangun) dipergunakan untuk memelihara ternak, seperti babi atau sapi.

Untuk memasuki rumah juga ada aturannya. Biasanya ada dua pintu yang terbuat dari tiang berukir, satu pintu khusus untuk laki-laki dan pintu lainnya khusus untuk perempuan. Kepala rumah tangga dan ibu pun masuk dari pintu yang berlainan.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi menginap di rumah adat dengan segala kesederhanaannya, tetua adat membolehkan tamu menginap di salah satu di rumah penduduk. Dengan catatan, tetap mengikuti aturan adat yang ada di masing-masing desa.

Selain menikmati alam hijau perbukitan, atau berinteraksi dan bercengkerama dengan penduduk lokal—terutama anak-anak kecil—yang hangat dan terbuka pada para wisatawan, Anda juga dapat mengenal lebih dekat hasil kerajinan tenun ikat Sumba yang sudah mendunia.

Pengunjung dapat mengamati pesona keindahan dari dua sisi—ketenangan Danau Weekuri dan gelora laut biru yang menghantam gugusan karang.

Surga tersembunyi

Selain budaya nan lestari, bumi Sumba juga berlimpah keindahan alam. Memiliki kontur tanah yang berbeda-beda, di pulau seluas 10.710 meter persegi ini terdapat padang sabana luas, hutan, air terjun, serta ragam jenis pantai eksotis, mulai dari yang memiliki ketenangan sepanjang hari, hingga pantai berombak tinggi yang digandrungi para peselancar.

Di antara destinasi yang telah lama terekspos, ada cekungan surga tersembunyi yang juga layak dikunjungi. Surga itu bernama Danau Weekuri atau Waikuri. Berlokasi di Sumba Barat Daya, tempat ini bisa ditempuh selama kurang lebih dua jam dari pusat kota Tambolaka.

Danau ini sebenarnya adalah laguna yang terbentuk akibat air laut yang terus menerus masuk dari celah-celah batuan dan terjebak di dalamnya, hingga lama-kelamaan membuat cekungan berdinding batu karang semakin luas hingga menyerupai kolam atau danau.

Penduduk lokal menyebut laguna ini surga tersembunyi karena dari kejauhan, Anda hanya akan melihat batu karang dan beberapa pohon yang tumbuh di karang-karang itu, seolah kompak memagari dan menyembunyikan keindahannya. Pengunjung tak perlu khawatir terluka saat menuruni tebing menuju laguna, karena sudah tersedia tangga bersemen hingga ke bibir laguna.

Pesona Weekuri terletak pada bentuknya yang menyerupai kolam raksasa, dengan air berwarna hijau toska yang jernih dan beralaskan pasir putih. Tenangnya air akan membuat siapa saja yang mendekat tak tahan ingin menyelaminya. Namun, pengunjung yang belum mahir berenang mesti memerhatikan bagian-bagian yang aman, sebab laguna ini memiliki kedalaman bervariasi dari setengah meter hingga sekitar empat meter.

Selain pasir putih, saat berenang Anda juga akan dimanjakan dengan pemandangan bawah air seperti ikan-ikan kecil dan udang-udangan, rerumputan, juga beberapa koral. Wisatawan juga bisa sesekali memacu adrenalin dengan melompat dari jump spot yang telah disediakan. Tak hanya itu, karena memiliki kadar garam yang tinggi, Anda juga bisa mengapung di permukaan air dengan mudah, dan menyaksikan pemandangan alam berupa karang menjulang, pepohonan hijau juga awan putih nan berarak.

Pemerintah daerah setempat terus membenahi area wisata agar semakin nyaman dikunjungi. Kini, Anda bisa menyusuri puncak bukit tebing yang menjadi pembatas antara laguna dan laut lepas melalui jalur pejalan kaki yang terbuat dari kayu. Dari sini, pengunjung dapat mengamati pesona keindahan dari dua sisi. Satu sisi, adalah ketenangan Danau Weekuri dan di sisi lain ada lautan biru dengan ombaknya yang menghantam gugusan karang yang mengelilingi danau ini.

Continue Reading

Leisure

Jelajah Teater Alam Bumi Ciletuh

Ruruh Handayani

Published

on

Hamparan taman bumi lengkap dengan kekayaan alam hayati taman Bumi Ciletuh membuktikan betapa cantiknya Ibu Pertiwi tercinta.

Tanggal 17 April 2018 merupakan momen paling penting bagi warga Jawa Barat. Saat itu, United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) dalam sidang Executive Board UNESCO di Paris, Prancis menetapkan Taman Bumi Ciletuh-Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat sebagai UNESCO Global Geopark, bersama dengan Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Status internasional ini menaikkan predikat National Geopark yang sudah disahkan sejak 2015 lalu.

Sebuah taman bumi dianggap layak dijadikan taman bumi dunia oleh UNESCO jika telah memenuhi tiga unsur, yakni biodiversity, geodiversity, dan cultural diversity. Artinya, sebuah kawasan taman bumi (geopark) harus memiliki batuan yang unik, keanekaragaman hayati, serta masyarakat berbudaya yang melindungi kawasan ini. Dan Ciletuh memiliki itu semua.

Meski demikian, pengukuhan ini tentu tidak datang begitu saja. Dibutuhkan perjuangan dan sinergi yang konsisten antarpemangku kepentingan. Bahkan, Deputi Wakil Tetap RI untuk UNESCO T.A Fauzi Soelaiman pernah menyatakan, perlu waktu lebih dari 13 tahun sejak ide agar Geopark Ciletuh-Palabuhanratu dapat dibentuk hingga kemudian diakui oleh badan khusus PBB ini.

Selain memberi rasa bangga, status geopark dunia dapat memperkuat identifikasi mereka dengan area itu. Tentu saja, semakin mendunia kawasan ini maka sumber pendapatan baru yang dihasilkan melalui geotourism akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.

Masyarakat dan pemerintah daerah setempat juga dituntut harus kompak dan konsisten memelihara, melestarikan, juga mengembangkan kawasan Ciletuh Palabuhanratu, sebab predikat hanya berlaku selama empat tahun. Setelahnya, fungsi dan kualitas UNESCO Geopark Global akan diperiksa ulang secara menyeluruh selama proses revalidasi. Jika, berdasarkan laporan evaluasi tim UNESCO, Ciletuh Palabuhanratu masih memenuhi kriteria, maka status itu akan berlanjut untuk periode empat tahun selanjutnya.

Lalu, keunikan dan keragaman wisata apa saja yang bisa Anda temukan jika berkunjung ke sini? Di Majalah Pajak edisi kemerdekaan ini, kami akan bawa Anda menyaksikan pesona alam Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang semoga makin membangkitkan rasa cinta Anda pada tanah air.

 “Saking luasnya pemandangan yang bisa dilihat dari sini, alam Ciletuh disebut juga sebagai teater alam raksasa (mega amfiteater).”

Geowisata

Di areal seluas 126.100 hektare yang mencakup 74 desa di 8 kecamatan ini, Anda dapat menikmati sekitar 70 destinasi wisata mulai dari curug (air terjun), bentang alam, pantai beserta pulau-pulau kecil, bebatuan estetik dan langka berumur lebih dari 60 juta tahun, hingga geyser. Jadi, dibutuhkan persiapan yang memadai dan meluangkan waktu yang cukup—setidaknya tiga hari—agar leluasa menjelajahi segala macam keindahannya.

Dari Jakarta, perjalanan dengan kendaraan bermotor ke UGG Ciletuh-Palabuhanratu bisa ditempuh kurang lebih delapan hingga sembilan jam. Beberapa kecamatan pertama yang Anda singgahi adalah Kecamatan Cisolok, Cikakak dan Palabuhanratu. Di tiga kecamatan ini beberapa tempatnya mungkin pernah Anda kunjungi sebelumnya, seperti Hotspring Cisolok, Pantai Cimaja, Sungai Citarik, atau Gua Lalay. Semua lokasi itu menawarkan pesona dan aktivitas yang berbeda-beda.

Setelah puas eksplorasi, Anda bisa beralih ke tiga kecamatan berikutnya, yakni Simpenan, Ciemas, dan Waluran. Di tiga kecamatan ini juga ada banyak destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan, di antaranya Pantai Palangpang, Pantai Loji, perkebunan teh dan buah naga, Puncak Darma, dan Vihara Dewi Kwan Im.

Pantai Palangpang dikenal juga sebagai basecamp para pelancong sebelum melanjutkan penjelajahan. Sebab, di lokasi inilah banyak terdapat jenis akomodasi yang dapat dipilih oleh wisatawan, dari homestay hingga resor ramah lingkungan. Beberapa penginapan juga dapat dengan mudah ditemui di dekat objek wisata lainnya.

Anda juga dapat singgah di Bukit Darma yang merupakan salah satu titik pandang Taman Bumi Ciletuh. Dari ketinggian sekitar 230 meter di atas permukaan laut ini, Anda dapat menyaksikan alam Ciletuh tak berujung yang berselimut pepohonan nan hijau, juga teluk Ciletuh yang bentuknya menyerupai tapal kuda, berhiaskan kapal-kapal nelayan dan tongkang yang terlihat seperti miniatur. Saking luasnya pemandangan yang bisa dilihat dari sini, alam Ciletuh disebut juga sebagai teater alam raksasa (mega amfiteater).

Keesokan harinya, Anda bisa melanjutkan petualangan menjelajahi curug. Jangan salah, ada sekitar 13 curug yang tersebar di kecamatan Ciemas, Waluran, dan Ciracap. Beberapa curug yang cukup menjadi idola wisatawan, yakni Curug Cimarinjung, Sodong, Cikanteh, Awang, Puncakjeruk, Gentong, dan Cikaso. Bisa dibilang, ini adalah surga bagi si penjelajah curug. Masing-masing curug juga memiliki ciri khas yang berbeda.

Cimarinjung, misalnya. Terletak di Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, akses menuju air terjun ini terbilang mudah. Cukup berkendara sekitar lima menit dari Pantai Palangpang, Anda sudah sampai di area parkir. Selanjutnya Anda bisa berjalan kaki sekitar lima menit menuju curug. Perjalanan juga terasa nyaman karena jalannya datar dan sudah di-conblock. Udara yang segar dan gemericik air dari aliran parit nan jernih pasti membuat Anda tak mau buru-buru pergi dari sini.

Dua bongkah batu besar berumput hijau yang ada teras pertama kerap disebut sebagai ciri khas curug setinggi 50 meter ini. Karakter lainnya juga tampak pada aliran airnya yang sempit keluar dari celah tebing nan perkasa, membentur latar batu di bawahnya hingga menimbulkan aliran air baru yang melebar.

Air terjun yang tak kalah memesona adalah Curug Awang yang berada di Desa Taman Jaya, Kecamatan Ciemas. Yang menarik, curug ini memiliki tebing setinggi 40 meter dengan lebar sekitar 60 meter. Saat musim hujan, debit air akan sangat deras hingga bisa menutupi seluruh tebing. Fenomena ini membuat curug menyerupai air terjun Niagara di Amerika Serikat.

Tak jarang penduduk lokal juga sering menyebutnya Niagara mini dan menjadi ikon UGG Ciletuh-Palabuhanratu. Pengunjung dapat berfoto di bagian atas tebing atau menelusuri ke bawah air terjun. Namun, sangat dianjurkan untuk memakai sandal gunung atau alas kakinya yang sesuai agar petualangan makin nyaman.

Festival budaya

Untuk menunjukkan kekayaan budaya milik masyarakat Sukabumi pada wisatawan, sejak 2015 lalu pemerintah daerah menggelar Ciletuh-Palabuhanratu Geopark Festival (CGF). Tahun ini, CGF keempat rencananya akan diadakan pada bulan Oktober mendatang. Di perhelatan ini, akan disuguhkan berbagai kegiatan seperti penampilan seni yang melibatkan 200 seniman seniwati, helaran budaya, Seni Cepet, Rengkak Panyadap, Jipeng (pertunjukan tanjidor dan topeng), Gondang (kesenian tradisional yang memakai instrumen alu), Pencak Silat, Wayang Golek, dan lainnya.

Tak ketinggalan juga ada pameran produk kerajinan dan kuliner khas masyarakat Ciletuh dan Palabuhanratu. Anda dapat membeli sejumlah kerajinan khas terbuat dari anyaman bambu misalnya kipas, wayang golek, gerabah, seruling. Selain itu Anda juga dapat memborong batik pakidulan. Batik ini menggunakan bahan pewarna alami dari tumbuhan yang dikembangkan dengan teknologi nanoyang.

Continue Reading

Breaking News

Breaking News1 minggu ago

Tak Kumuh karena KOTAKU

PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memperkuat perannya sebagai “special mission vehicle” dengan menyalurkan pembiayaan renovasi atau pembangunan rumah...

Breaking News1 bulan ago

Tanpa Pajak, seperti Apa Indonesia?

Hari Pajak harus dikemas secara esensial, sehingga kesadaran dan kepatuhan pajak dapat terintegrasi secara otomatis.   “Dalam dunia ini tidak...

Breaking News2 bulan ago

Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP )

  Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap penghasilan neto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam...

Breaking News2 bulan ago

E-Commerce” antara Celah dan Tantangan

Sumbangan penerimaan pajak dari sektor UMKM di tahun 2018 sekitar Rp 5.7 triliun-masih sangat kecil dibandingkan total penerimaan perpajakan nasional...

Breaking News4 bulan ago

Platform Pendirian Badan Usaha untuk UMKM

Easybiz menangkap peluang bisnis dari jasa pendirian badan usaha dan perizinan bagi pelaku UMKM. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat...

Breaking News4 bulan ago

PP 23 Tahun 2018, Insentif Pajak untuk UMKM (Part II)

Pemerintah menargetkan jumlah UMKM di tahun 2019 meningkat 5 persen dari jumlah penduduk negara ini, bila jumlah penduduk diasumsikan 180...

Breaking News4 bulan ago

ATPETSI, Jembatan antara Pemerintah dan Masyarakat

Penulis: Doni Budiono   Pemerintah dapat mengoptimalkan Asosiasi Tax Center Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ATPETSI) untuk mendekati masyarakat, memasyarakatkan kesadaran...

Breaking News5 bulan ago

Terima Kasih, 30 WP Terpatuh

Aktivitas para pegawai pajak Kantor wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rabu pagi, (13/3) kali itu tampak lebih sibuk dari...

Breaking News5 bulan ago

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News8 bulan ago

Riset dulu, Kebijakan Publik kemudian

Kebijakan publik yang berkualitas harus berdasarkan hasil kajian dan riset yang mendalam agar bisa diaplikasikan dengan baik dan tepat sasaran....

Trending