Terhubung dengan kami

Up Close

Ekonomi Digital: Indonesia Dapat Apa?

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Kemajuan teknologi informasi telah mengantarkan kita pada perubahan fundamental di segala aspek kehidupan. Pemerintah harus bisa menerapkan regulasi yang jelas dan tegas agar digital ekonomi memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.“

Di bidang ekonomi, hadirnya teknologi telah mengubah tatanan, cara, bahkan budaya dalam bisnis. Kita telah masuk ke zona ekonomi digital yang berimbas pada keadaan disruption atau disrupsi. Semua terjadi serbacepat dan tidak dapat dihalangi. Mau tak mau, cara-cara lawas dan konvensional harus segera ditanggalkan dan beralih ke sistem digital, jika tak ingin tumbang dilibas keadaan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani mengatakan, ekonomi digital atau digital economy meningkatkan produktivitas dari ekonomi negara yang mengalaminya. Di Indonesia, misalnya, ditandai dengan munculnya berbagai platform e-commerce, baik yang lokal maupun internasional seperti Amazon, Alibaba, dan perusahaan-perusahaan berbasis digital lainnya, seperti taksi on-line.

Bagi pemerintah, ekonomi digital adalah peluang sekaligus tantangan yang tak ringan, terutama dari sisi regulasi dan penanganannya. Peluang karena kehadiran ekonomi digital mampu menyediakan tenaga kerja baru. Namun, menjadi tantangan karena bagi pemerintah, geliat ekonomi digital belum memberikan manfaat signifikan bagi kepentingan nasional.

“Pertanyaannya, kepentingan nasional kita mendapat keuntungan, enggak? Kalau dari digital economy ternyata national interest kita atau kepentingan nasional kita itu tidak terakomodasi atau justru dirugikan?” ujar Hariyadi saat ditemu Majalah Pajak akhir November lalu.

Ungkapan Hariyadi tersebut bukan tanpa sebab. pasalnya, selama ini masih banyak pelaku ekonomi digital, bahkan yang berasal dari luar negeri, belum memberikan kontribusi kepada pemerintah, misalnya di bidang perpajakan. Sayangnya, untuk membuat formulasi kebijakan yang pas pun, asing-masing institusi pemerintah terkait belum memiliki kesepahaman dan bersinergi untuk merumuskan sebuah kebijakan yang tepat.

“Masalah ekonomi digital ini karena menurut saya sampai hari ini kayaknya antara Pajak (DJP) dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi enggak tahu nih ketemunya di mana,” ujar Haryadi. Ia berharap, Pemerintah bisa menerapkan regulasi yang jelas dan tegas agar digital ekonomi memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. “Enggak bisa kita hanya melihat satu sisi, dari kemudahan dari masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonominya, tapi tanpa melihat dampaknya seperti apa,” imbuh Haryadi.

Wawancara selengkapnya bisa Anda simak pada Majalah Pajak Cetek/Digital Volume XLV 2017

Managing Editor Majalah Pajak, Freelance Writer, Web Content Management Solutions

Up Close

Edukasi dan Kebahagiaan

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Esensi bisnis tak hanya melulu soal laba, melainkan juga soal kontribusi edukasi dan memberi kebahagiaan kepada khalayak.

Darah pebisnis memang mengalir di tubuh Erick Thohir. Ayahnya, Teddy Thohir merupakan salah satu pemilik grup Astra International dan sang kakak, Garibaldi Thohir adalah Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk. Bedanya, Erick lebih tertarik pada lini bisnis media dan olahraga.

Melalui bisnis media dan olahraga, ia ingin dapat memberikan edukasi dan kebahagiaan untuk masyarakat luas. Kata Erick, bidang olahraga dapat mengajarkan semangat sportivitas, jiwa pantang menyerah, dan berusaha melakukan yang terbaik. Sedangkan bisnis media, ia jadikan wadah edukasi dan informasi. Erick meyakini kedua bidang usahanya itu dapat memberikan kebahagiaan kepada dirinya dan khalayak.

“Saya senang fokus di dunia sport dan media karena ada dua hal penting yang bisa saya kontribusikan ke masyarakat—edukasi dan kebahagiaan,” ungkap Erick di ruang tamu Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee (INASGOC), Senayan, pada Rabu Siang (12/9).

Untuk itu, bagi Erick, perbedaan bisnis yang dijalani oleh keluarga Thohir merupakan sesuatu yang biasa. “Bukannya musuhan tapi kebetulan media dan sport memang menjadi pilihan murni kecintaan dan kesukaan.”

Kesuksesan Erick meracik bisnis di bidang itu bukan sekonyong-konyong. Selulus program master dari National University, California, AS (1993), ia sempat mengawali bisnis restoran Hanamasa dan Pronto, milik keluarga. Di sana Erick belajar banyak tentang kegigihan dalam berbisnis. Terlebih badai krisis moneter 1998 hampir menerjang usaha kuliner itu.

Pasca-Reformasi 1998, bersama sahabatnya, Muhammad Lutfi, Harry Zulnardy, dan Wisnu Wardhana ia mendirikan perusahaan bernama Mahaka.

Lewat awak Mahaka, Erick melebarkan sayap dengan memiliki media Republika. Nah, keyakinannya dalam memberikan kebahagiaan melalui industri media, bagi Erick terjawab tatkala harian Republika mampu memberi inspirasi film Ayat-Ayat Cinta yang rilis pada awal tahun 2008.

“Novel Ayat Ayat Cinta itu cerita bersambung di Republika. Nonton itu bikin orang bahagia bahkan banyak yang nangis,” sebut penulis buku Pers Indonesia di Mata Saya yang terbit pada 2011 ini.

Erick Thohir rupanya semakin jatuh hati pada industri media. Erick lalu mendirikan Gen FM dan Jak FM, membeli Prambors FM, Delta FM dan FeMale Radio.

Saya senang fokus di dunia sport dan media karena ada dua hal yang penting yang saya bisa kontribusi ke masyarakat—edukasi dan kebahagiaan.

“Ketika orang (terjebak) macet dikasih informasi, lagu, lucu-lucuan di radio, orang jadi bahagia,” kata Erick tertawa.

Sukses gemilang pada usaha surat kabar dan radio, Erick kemudian menjajal terjun di industri media televisi. Di tahun 2008, ia menjadi Direktur Utama TV One. Kemudian, di tahun 2014 hingga saat ini Erick menjabat sebagai Direktur ANTV. Ia punya hasrat idealis di sini. Salah satunya, tentang keinginannya menyuguhkan edukasi sejarah pada saluran televisinya.

Rupanya, kesibukannya berbinis tak memadamkan api cintanya pada dunia olahraga. Khususnya cabang olahraga basket yang telah ia gandrungi sejak duduk di bangku sekolah menengah atas..

Sahabatnya, Sandiaga Uno, dalam tayangan “Satu Jam Lebih Dekat” yang disiarkan TV One pada tahun 2015 mengungkapkan, kelincahan Erick muda sudah terlihat saat bermain basket.

“Walaupun tubuhnya enggak mendukung. Tapi, kecil-kecil lincah dan banyak masukin (bola). Saya lihat ia sangat muda dan leadership-nya sudah terbentuk, mental winner,” ungkap Sandiga.

Di tahun 2006 hingga 2010 Erick merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia. Nama Erick di Asia Tenggara semakin mencuat tatkala ia menjabat sebagai Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) dalam tiga periode (masa jabatan terakhir 2014-2019). Bahkan, saat ini Erick juga masih menjadi anggota Central Board di FIBA (Fédération Internationale de Basketball).

Sembari menjalankan lini bisnis media, Erick juga menapaki bisnis olahraga hingga ke Amerika Serikat. Di tahun 2011 Erick membeli klub NBA, Philadelphia 76ers yang membuatnya tercatat sebagai orang Asia pertama yang memiliki saham mayoritas klub NBA. Tak aneh jika Erick dipercaya sebagai komandan kontingen Indonesia untuk Olimpiade 2012 London.

Di tahun berikutnya, dia memiliki saham mayoritas klub MLS, DC United. Namanya kian melambung ketika di tahun 2013, Erick membeli saham mayoritas, hingga 70 persen, klub Serie A, Inter Milan. Di tahun yang sama ia terpilih sebagai presiden klub Inter Milan menggantikan Massimo Moratti hingga saat ini.

“Kenapa kita selalu menjadi barang atau tempat produk asing. Kenapa enggak dibalik. Kenapa enggak perusahaan-perusahaan di Indonesia beli juga perusahaan-perusahaan yang ada di asing?” ungkap pria yang juga memiliki saham Persib Bandung itu.

Di Tanah Air, kiprahnya tak kalah cemerlang. Ia kembali dipercaya sebagai Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) 2015 hingga 2019 mendatang. Erick juga memimpin perhelatan Asian Games 2018 dengan menjadi Ketua INASGOC.

Setidaknya, ungkap Ketua Tim Pemenangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin pada pemilihan presiden 2019 ini, ada beberapa hal yang diyakini sebagai kunci kelancaran bisnisnya, yaitu manajemen sumber daya manusia, fokus, disiplin, dan juga kecermatan membagi waktu, termasuk soal membagi waktu dengan keluarga. Di akhir pekan, bapak empat orang anak ini masih menyempatkan diri hangout bersama keluarga.

Lanjutkan Membaca

Up Close

Gotong Royong, Perencanaan, dan Orang-Orang Terbaik

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Berkat perencanaan matang yang dieksekusi oleh orang-orang profesional yang bergotong royong, Asian Games menuai hasil gemilang.

Pesta olahraga Asian Games 2018 telah usai Agustus lalu. Namun, atmosfer positifnya masih terasa hingga kini. Masyarakat bangga karena Indonesia sebagai tuan rumah telah mampu menjalankan perannya dengan maksimal pada ajang kompetisi empat tahunan yang diikuti 45 negara di Asia itu. Para atlet Indonesia pun berhasil meraih prestasi melampaui target yang ditetapkan. Seperti kita tahu, Indonesia berada pada peringkat keempat dengan capaian 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu, dan menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berada pada posisi sepuluh besar klasemen.

Asian Games 2018 juga tak sekadar memberikan dampak finansial seperti hasil penjualan tiket acara pembukaan maupun pertandingan berlangsung. Lebih dari itu, perhelatan akbar ini juga memberikan dampak ekonomi lebih luas, seperti penciptaan lapangan pekerjaan, upah riil, hingga menggeliatnya beberapa sektor industri, termasuk UMKM.

Dari sisi penyelenggaraan, meski waktu persiapan terbilang jauh dari kata ideal—hanya dua tahun tiga bulan—hajatan besar yang dipusatkan di Jakarta dan Palembang itu juga berhasil mencuri perhatian dunia. Banyak media asing menyoroti positif penyelenggaraan Asian Games ke 18 itu. Bahkan, Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Syeikh Ahmad Al Fahad Al Sabah pun memuji keberhasilan penyelenggaraan Asian Games Indonesia. Begitu pun Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach.

Adalah Erick Thohir, sang Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC), sosok yang tak bisa dilepaskan dari kesuksesan kegiatan yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional itu. Tentu saja tanpa mengecilkan peran sosok lain yang turut terlibat di dalamnya, seperti Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, CEO Net Mediatama Wishnutama, Denny Malik, Dynand Fariz, Eko Supriyanto, dan nama-nama lainnya serta ribuan sukarelawan yang telah mendedikasikan diri mereka secara total.

Menurut Erick, ada tiga faktor kunci yang membuat penyelenggaraan Asian Games itu menuai kesuksesan. Pertama, masih berjalannya budaya gotong royong di Indonesia sehingga semua pihak bersedia membantu. Kedua, adanya perencanaan kerja yang matang dan bisa diimplementasikan di lapangan. Ketiga, penempatan orang-orang terbaik yang kompeten di bidangnya.

“Dengan tiga hal itu, alhamdulillah hasilnya dinilai sangat bagus. Yang bilang bukan saya, tapi masyarakat coba search dari kutipan media-media asing, kalau kita yang omong, kan, lucu,” ujar Erick saat wawancara dengan Majalah Pajak di kantor INASGOC, Jakarta, Rabu (12/9).

Erick menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat dan semua pihak yang telah memberikan apresiasi mereka kepada panitia penyelenggara Asian Games. Meski demikian, Erick mengaku justru sejak awal penyelenggaraan mengharapkan kritik dan masukan dari masyarakat dan pemangku kepentingan yang terlibat. Sebab, dengan adanya kritik, pihaknya akan lebih bisa meningkatkan persiapan, pelayanan dan sistem.

“Saya justru akan lebih senang dikritik. Apa yang kami lakukan di Asian Games di awal-awal justru kami mengharapkan kritik dari semua pihak. Baik dari pihak rekan kerja kami, seperti cabang-cabang olahraga, atau Olympic Committee Asia, atau dari komisi X DPR, atau dari masyarakat, bahkan dari kementerian/lembaga. Karena melalui kritik-kritik itu kita akan bisa memperbaiki kinerja dan pelayanan,” kata pemilik saham sekaligus Presiden klub sepak bola Inter Milan ini.

“Saya justru akan lebih senang dikritik karena melalui kritik-kritik itu kita akan bisa memperbaiki kinerja dan pelayanan.”

Waktu dan anggaran

Meski menuai kesuksesan, bukan berarti pelaksanaan Asian Games tak ada tantangan sama sekali. Erick mengaku, ada beberapa tantangan krusial yang harus dihadapi panitia penyelenggara. Misalnya dari sisi waktu, persiapan Asian Games ke-18 ini relatif singkat, yakni hanya dua tahun tiga bulan. Padahal, menurut pemilik Mahaka Group itu, untuk penyelenggaraan event sebesar itu idealnya butuh waktu setidaknya empat tahun. Bahkan, di banyak negara, menurut Erick mempersiapkan enam tahun. Untungnya, Indonesia memiliki orang-orang terbaik yang mengedepankan gotong royong sehingga rencana yang sudah disusun dengan matang bisa dieksekusi dengan baik.

Tantangan yang tak kalah berat adalah menyiasati ketersediaan anggaran. Sejak awal Erick berusaha untuk menggunakan anggaran seefisien mungkin, tetapi tanpa mengurangi standardisasi yang telah disepakati dengan pihak OCA.

Erick mengungkapkan, anggaran awal Asian Games diperkirakan mencapai Rp 8,7 triliun, di luar pajak. Anggaran itu sebagian besar bersumber dari uang negara—estimasi yang berasal dari sponsor hanya sekitar Rp 300 miliar. Namun, dalam pelaksanaannya realisasi penggunaan anggaran dapat ditekan hingga hanya menggunakan Rp 7,2 triliun. Itu pun Rp 800 miliar di antaranya merupakan pajak yang dibayarkan kepada negara. Artinya, di luar pajak, realisasi anggaran Asian Games Rp 6,4 triliun dikurangi dana realisasi dari sponsor sekitar lebih Rp 800 miliar juga sehingga total anggaran hanya menghabiskan Rp 5,6 triliun.

“Penghematan apple to apple Rp 2,6 triliunsecara keuangan negara, bukan secara penyelenggaraan, ya. Kalau penyelenggaraan, kan, gampang Rp 8,7 triliun ke Rp 7,2 triliun ya Rp 1,5 triliun. tapi untuk keuangan negara, dari Rp 8,4 triliun ke Rp 5,6 triliun itu Rp 2,6 triliun. Ini sebuah penghematan yang luar biasa dengan prestasi yang luar biasa. Tentu kembali ini semua ada bantuan dari Allah, pastinya.”

Belajar dari pengalaman tahun ini, Erick berharap ke depan Indonesia bisa lebih baik lagi, terutama terkait sistem penganggaran. Apalagi jika Indonesia kelak benar-benar berkesempatan menjadi tuan rumah olimpiade. Menurut Erick, penerapan penganggaran untuk kegiatan multievent seperti Asian Games harus dengan sistem penganggaran multiyears yang bisa dilakukan empat hingga enam tahun. Selain dengan sistem anggaran multiyears, Erick juga menyarankan adanya payung hukum dan pemisahan yang jelas anggaran yang dikeluarkan oleh negara dengan yang didapatkan dari sponsorship. Sebab, sponsorship masuk dalam kategori pendapatan negara bukan pajak (PNBP) sehingga harus bisa dipergunakan lagi secara langsung.

“Kalau (anggaran) ini sudah multiyears, ada payung hukum yang jelas, kan pembentukan panitianya juga bisa lebih maksimal lagi, walaupun hari ini sudah luar biasa. Tapi kan kalau kita ingin menaikkan dari Asian Games ke Olimpiade, skalanya itu 25% lebih bagus daripada Asian Games. Jadi, kualitas kita mesti tingkatkan lagi,” tutup Erick.

Lanjutkan Membaca

Up Close

Penyambung Gotong Royong Rakyat

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Tak sekadar membangun akses di daerah terpencil, Program Jembatan Hati juga menghidupkan nilai gotong royong melalui konsep pembangunan partisipatif.

Di pelosok kampung di wilayah yang tak jauh dari kemegahan ibu kota Republik ini, nyaris setip hari anak-anak berseragam merah putih menyeberangi sungai berarus deras menggunakan jembatan gantung yang kondisinya sangat tak layak. Tali salah satu sisi jembatan sudah putus sebelah sehingga lantai jembatan miring 90 derajat. Pemandangan itu mirip dalam adegan film Indiana Jones.

Sepenggal kisah “Jembatan Indiana Jones” di pinggiran Provinsi Banten itu beredar di media massa dan viral di sosial media beberapa tahun lalu. Masih segar dalam ingatan kita, betapa gigihnya anak-anak pinggiran itu rela menempuh bahaya besar demi menjemput haknya memperoleh pendidikan. Kisah itu pulalah yang mengilhami Egi Sutjiati, perempuan asal Bandung yang kini menjadi salah satu ketua Ikatan Keluarga Alumni Sekolah Pendidikan Tinggi Kedinasan STAN (Ikanas STAN).

Melihat berita miris tentang “Jembatan Indiana Jones” itu, nurani Egi terusik ingin berbuat sesuatu untuk meringankan beban anak-anak itu. Alumnus STAN tahun 1982 yang saat ini bekerja di Ernst & Young Indonesia itu membagi kegelisahannya dengan teman-teman alumni STAN82. Gayung pun bersambut karena memang salah satu fokus para alumni STAN82 selama ini memang melakukan kegiatan sosial. Singkat cerita, dari kegelisahan itu muncullah Program Jembatan Hati, sebuah program sosial untuk membangun jembatan-jembatan di daerah-daerah terpencil, di Provinsi Banten.

“Yang terjadi adalah kami menguatkan gotong royong atau merajut lebih kuat gotong royong itu, yang memang merupakan karakter bangsa kita.”

Keprihatinan itu akhirnya diwujudkan dalam upaya membangunkan jembatan melalui Program Jembatan Hati. Baginya membangun jembatan adalah sebuah “tools” untuk membangkitkan harta bangsa Indonesia yang berharga, yaitu jiwa kegotongroyongan. Ke depan, harapannya program ini, dapat dikaji agar aset yang luar biasa kekuatannya itu dapat diterapkan dalam pola penganggaran. Sebab, kemampuan pemerintah menerapkan nilai gotong royong tidak hanya akan menghemat anggaran, tapi juga menumbuhsuburkan rasa memiliki, produktivitas, dan kepercayaan masyarakat sehingga menjadi kekuatan bangsa yang luar biasa.

Bangkitnya jiwa kegotongroyongan itu dibuktikan dengan antusiasme berbagai pihak untuk bergabung yang pada akhirnya membuat kegiatan itu dapat berkesinambungan bahkan melahirkan program-program pemberdayaan desa serupa. Selain Alumni STAN82 berbagai pihak yang akhirnya turut mendukung kegiatan ini adalah alumni STAN angkatan lainnya, ada tim Laboratorium Forensik dan Audit Teknologi Institut Teknologi Bandung (ITB), ada Marinir Zeni Angkatan Laut dan pada pembangunan jembatan kedua dan ketiga didukung oleh BUMN PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), dan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Dan dalam pelaksanaan di lapangan, dari awal tim juga selalu mengajak masyarakat setempat untuk berperan aktif.

Lanjutkan Membaca

Breaking News

Breaking News4 minggu lalu

Prasyarat Menuju Industry 4.0

Revolusi Industri 4.0 menjadi peluang menyerap banyak tenaga kerja profesional. Namun, perlu upaya “link and match” antara industri dengan lembaga...

Breaking News1 bulan lalu

Menjaga Momentum Reformasi Perpajakan

Penulis: Aditya Wibisono   Reformasi perpajakan di Indonesia saat ini sudah memasuki tahun kedua dengan target penyelesaian yang dipercepat, yang...

Breaking News1 bulan lalu

Tiga Pilar Sukses Pajak

Di usia yang ke-53 tahun, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) telah menjadi asosiasi berkelas dunia dengan jumlah anggota yang memiliki...

Breaking News2 bulan lalu

Andai Lapor Pajak Bisa Lebih Sederhana

 Meski pemerintah telah berupaya keras melakukan simplifikasi aturan dan tata cara memenuhi kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak, ternyata sistem perpajakan...

Breaking News2 bulan lalu

‘Sajak’ untuk Generasi Millennial

Penulis: Nilasari   Bonus demografi yang dipenuhi oleh generasi millennial harus dioptimalkan untuk mendukung budaya sadar pajak yang diharapkan dapat...

Breaking News3 bulan lalu

Mengisi Ruang Penyempurnaan

DJP terus mengembangkan program-program untuk memaksimalkan kinerja dan kualitas pelayanan, mulai dari simplifikasi aturan, penurunan tarif pajak hingga penguatan teknologi...

Breaking News4 bulan lalu

Forum Ekonomi Dunia Nobatkan OnlinePajak Sebagai Pionir Teknologi 2018

OnlinePajak, aplikasi perpajakan pertama di Indonesia yang mengadaptasi teknologi blockchain, semakin menancapkan eksistensinya di dunia fintek setelah dinobatkan sebagai Pionir...

Breaking News8 bulan lalu

Panglima TNI: Patuh Pajak Wujud Cinta Tanah Air

Panglima Tentara Nasional Indonesia, Marsekal Hadi Tjahjanto, menegaskan, kepatuhan melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan merupakan wujud cinta tanah air bagi...

Breaking News9 bulan lalu

Capital Life Syariah dan AAD Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah

PT Capital Life Syariah dan PT Asuransi Adira Dinamika (AAD) menandatangani Perjanjian Kerjasama Pemasaran Produk Asuransi Syariah, di Kantor Pusat...

Breaking News10 bulan lalu

Majalah Pajak Print Review

Advertisement Pajak-New01

Trending