Connect with us

SPECIAL REPORT PADMAMITRA 2020

Dulu Nomad Sekarang Mapan

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Foto: Istimewa

Suku Dayak Ngaju, yang bertani secara nomaden, dan menambang secara liar dibina menjadi petani dan peternak berpenghasilan tinggi.

 

PT Asmin Bara Bronang (ABB) merupakan perusahaan batubara pemegang izin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi III sejak tahun 1999. Izin ini berlaku untuk pengusahaan penambangan batu bara selama 30 tahun di wilayah konsesi di tiga blok, yakni Mamput, Bekanon dan Merangun yang semuanya terletak di Kabupaten Kapuas dan Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Cadangan batu bara yang tersimpan di wilayah izin ABB berdasarkan pengukuran pada 2015 sebanyak 509,9 juta ton.

Pada tahun 2011 PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan PT Astra International Tbk, mengakuisisi 30 persen saham PT ABB dan terus berkembang menjadi mayoritas dengan penguasaan saham sebesar 75,4 persen sejak 2013.

Baca Juga: Bicara Lantang di Jagat Digital

Sebagai perusahaan yang mengeksplorasi sumber daya alam dan berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat, PT ABB melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan dengan memberdayakan individu dan komunitas melalui pelaksanaan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), salah satunya melalui Program Kampung Lestari Mandiri di Remote Area.

Pertanian terpadu

Program Kampung Lestari Mandiri dibuat untuk meningkatkan taraf hidup  masyarakat Suku Dayak Ngaju dengan meningkatkan pendapatan mereka dan mengurangi aktivitas merusak hutan dan lingkungan. Melalui program ini, PT ABB membina masyarakat yang sebelumnya bertani secara nomaden dan penambang liar untuk berbudidaya sayuran dan kelapa—dan beternak itik, domba, dan lele. Tak hanya membina, masyarakat juga dibantu memasarkan hasil produksi mereka melalui galeri UMKM. Sebagian produk mereka diserap oleh perusahaan katering. Program ini dijalankan di Desa Barunang.

Baca Juga: Berani dan Mahir Berkreasi

Masyarakat juga dibantu memasarkan hasil produksi mereka melalui galeri UMKM. Sebagian produk mereka diserap oleh perusahaan katering.

Desa Barunang merupakan desa di remote area berlokasi di Kecamatan Kapuas Tengah, Kapuas, Kalimantan Tengah. Mayoritas warganya bermata pencaharian berladang berpindah (67 persen) dan atau penambang emas liar (54 persen). Selain subur, wilayah Barunang juga merupakan dataran aluvial yang banyak mengandung emas sehingga masyarakat melakukan penambangan liar yang tidak sesuai dengan ketentuan pelestarian lingkungan. Sebagian besar penduduk tidak berpenghasilan tetap dan sangat tergantung dengan kondisi alam. Secara turun-temurun mereka membuka dan membakar hutan, bercocok tanam, lalu berpindah.

Berpijak pada kondisi itu, program CSR PT ABB dibangun dalam tiga landasan—ekonomi, lingkungan, sosial. Artinya, pendapatan masyarakat harus meningkat, degradasi hutan harus dihentikan, dan organisasi sosial masyarakat harus digalakkan.

Hingga Juli 2019 lalu, IFS Mandiri Lestari telah meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Barunang (133 persen), mengurangi pembalakan hutan (23 persen), mengurangi ladang berpindah (27 persen), mengurangi kerusakan lingkungan akibat penambangan emas liar (61 persen) dan Swasembada Pangan Desa Barunang (135 persen). Mereka menjadi penyedia utama bahan pangan (32 persen) ke perusahaan, dan kian tidak menggantungkan pekerjaan ke perusahaan (43 persen).

Baca Juga: Tempat Kerja dan Kembangkan Bakat

SPECIAL REPORT PADMAMITRA 2020

Tanggap Air Bah Ibu Kota

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

FOTO: ISTIMEWA

Dengan program mitigasi bencana yang sistematis, UT Group mengurangi risiko dampak bencana sesuai rencana.

 

Hujan yang terus mengguyur Jakarta pada Selasa Malam (31/12/2019) hingga keesokan harinya, mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah ibu kota. Dari data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 2 Januari 2020, banjir Jakarta saat itu merendam 157 kelurahan, mengakibatkan 16 orang meninggal dunia, dan sebanyak 62.442 jiwa pengungsi tersebar di 302 titik pengungsian.

Tanggap akan bencana ini, PT United Tractors Tbk (UT Group) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berupaya melakukan mitigasi penanggulangan bencana di provinsi rawan banjir ini. Anak perusahaan Astra yang berkantor pusat di Cakung, Jakarta Timur ini memiliki United Tractors for Emergency Response and Action (UTACTION), program dukungan untuk membantu masyarakat mengatasi situasi darurat bencana. Selain untuk menghindari terjadinya bencana dan mengurangi risiko dampak bencana, program ini juga ditujukan untuk melatih seluruh karyawan Astra Heavy Equipment, Mining, Construction, and Energy Astra Heavy Equipment, Mining, Construction, and Energy (AHEMCE) menghadapi kondisi darurat bencana.

Sejak 1 Januari 2020, UT Group telah mengaktifkan Posko Tim Kesiapsiagaan Tanggap Darurat (TKTD) untuk menolong warga terdampak banjir di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Baca Juga: Momentum Bangkit dan Berinovasi

Tim CSR yang dikoordinatori oleh seorang SRCOM Departemen Head ini juga berkoordinasi dengan Kepala Pusat Pengendali dan Operasi BNPB Jaktim dan Kepala Subdirektorat Kementerian ESDM terkait penanganan banjir Jabodetabek. Posko TKTD UT Group membagi kegiatannya dalam dua fase—fase tanggap darurat dan fase recovery.

Di fase tanggap darurat, yang berlangsung 10 hari, perusahaan yang didirikan pada 13 Oktober 1972 ini mendapati sebanyak 546 karyawan AHEMCE terkena banjir. UT Group kemudian mengirimkan dua Emergency Response Team, dan 22 tim relawan yang terdiri atas 111 anggota yang terbagi dalam 2 shift untuk evakuasi sekaligus distribusi bantuan.

Posko TKTD UT Group kemudian mendirikan tenda darurat di depan gedung Corporate University UT dan Lapangan Peralatan Angkatan Darat, juga mendirikan 4 POSKOTIS di area Jatiasih, Pondok Ungu, Tambun, dan Jakarta Barat.

Melalui posko-posko yang dibuka, UT Group, dengan 190 relawannya,  menyalurkan bantuan alat kebersihan dan 1.000 boks makanan siap santap, 200 paket sembako, serta 800 bungkus makanan ringan. Total, 322 kepala keluarga menerima bantuan logistik UT Group ini.

Di samping itu, melalui penggalangan dana di Rekening Yayasan Karya Bakti UT, UT Group juga memberikan bantuan kepada BNPB berupa paket makanan, minuman, dan obat-obatan.

Baca Juga: 4 UKM Berorientasi Ekspor Dapat Kucuran PEN Rp 9,5 Miliar dari LPEI

Fase kedua, yakni recovery. Pada fase ini, UT Group menyelenggarakan Pos Keliling Kebersihan Antisipasi Cidera dan Bahaya Umum (Pikachu) yang melakukan pembersihan rumah dan penyemprotan disinfektan untuk 21 rumah karyawan yang terkena dampak banjir. UT Group juga menyelenggarakan Pos Kesehatan MondarMandir (Pokemon) dengan memberi layanan pengecekan kesehatan dan pengobatan kepada 208 korban.

Tidak hanya membantu korban banjir, sejak awal April hingga Juni lalu, UTACTION melalui program UT Group Peduli Covid-19 secara bertahap menyerahkan bantuan alat pelindung diri ke rumah sakit rujukan Covid-19 milik pemerintah di Jakarta, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua.

Selain itu, sebanyak 8.300 paket sembako dari rencana 12.100 paket sembako telah dibagikan kepada masyarakat terdampak pandemi di sekitar area operasional UT Group di seperti Banjarmasin, Jambi, dan Lampung.

Baca Juga: Pekerja Terlibat dalam Sikuela

Lanjut baca

SPECIAL REPORT PADMAMITRA 2020

Guyub Bergegas di Kala Bala

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

FOTO: ISTIMEWA

Perusahaan manufaktur ini memprioritaskan program tanggap bencana agar dapat merespons situasi kebencanaan dengan cepat.

 

PT Wings Surya adalah penghasil produk kebutuhan sehari-hari seperti perawatan pakaian, makanan, minuman, perawatan rumah dan perawatan tubuh—produk yang sekaligus strategis saat bencana terjadi.

Indonesia dengan kerawanan bencana alamnya sangat membutuhkan mitigasi bencana yang cepat dan tepat. Untuk itu, perusahaan padat karya ini menginisiasi program tanggap bencana sebagai salah satu prioritas tanggung jawab sosial perusahaan. PT Wings Surya berharap dapat menjadi yang terdepan dalam penanganan mitigasi bencana.

Core values

PT Wings Surya, dalam memitigasi bencana, menganut prinsip social capital, quick response, dan partnership. Prinsip social capital sangat penting dalam memitigasi bencana alam, sebab asas gotong royong, sangat membantu proses penanganan bencana.

Perusahaan yang mulai beroperasi sejak tahun 1948 ini memiliki depo-depo distribusi yang tersebar di hampir seluruh pelosok Indonesia. Saat terjadi bencana, sesuai prinsip quick response, PT Wings Surya akan menolong karyawan terlebih dahulu agar mereka dapat fokus dan terjun ke titik bencana, memberikan bantuan.

Baca Juga: Dulu Nomad Sekarang Mapan

Sementara prinsip partnership dijalankan atas dasar keterbatasan perusahaan untuk mendapatkan akses ke titik bencana. Perusahaan yang berproduksi di Surabaya, Jawa Timur ini secara intens melakukan sinergi dengan pemerintah—terutama Kementerian Sosial RI, agar mendapatkan keleluasaan akses untuk penyaluran bantuan ke masyarakat terdampak bencana. PT Wings Surya juga kerap berkolaborasi dengan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kementerian Sosial RI sebagai mitra kerja di medan bencana.

Ketiga core values ini diwujudkan salah satunya dalam penanganan tanggap bencana gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada 7 Desember 2016. Sebanyak 104 orang tewas akibat kejadian itu, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka, dan lebih dari 5.000 bangunan rusak. Wings Group bekerja sama dengan Tagana memberikan bantuan penanggulangan bencana bidang bantuan sosial.

Kerja sama yang erat dengan masyarakat dan Kementerian Sosial RI membuat posko pengungsian terpadu bekerja lebih optimal.

Ketika Tagana berkontribusi dalam penyediaan dapur umum dan pemeriksaan kesehatan, Wings Group memberikan bantuan berupa detergen, makanan cepat saji, dan popok bayi. Tim CSR Wings Group juga membuka Posko Wings di tiga titik, yaitu di Meunasah Juroeng, Meuraksa Barat, dan Kaleng Belek Meureudu.

Posko terpadu ini terdiri dari tempat perlindungan sementara, dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan siap makan, dan penempatan mobil cuci So Klin untuk kebutuhan cuci pakaian para penyintas bencana. Selama tiga hari, 18–20 Desember 2016, korban gempa mendapatkan kemudahan untuk mencuci baju-baju kotor mereka di empat unit mesin cuci yang didatangkan. Dalam dua hari, mereka menerima lebih dari 1.000 potong pakaian yang berasal dari lebih dari 150 kepala keluarga.

Baca Juga: Momentum Bangkit dan Berinovasi

Tim CSR yang dikepalai seorang General Affairs & Social Event Coordinator ini juga mendatangkan pendongeng dari Komunitas Ayo Dongeng Indonesia untuk menghibur dan mengurangi trauma pada anak-anak penyintas bencana. Dongeng menjadi pilihan karena dongeng dapat mendidik, mudah diterima masyarakat, dan pada saat yang bersamaan dapat menghibur juga sebagai alat bermain yang mampu membangun impian.

Mempertahankan capaian yang baik ini, lima armada Mobil Cuci So Klin ditempatkan di pulau-pulau rawan gempa seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Terbukti, kerja sama yang erat dengan masyarakat dan Kementerian Sosial RI membuat posko pengungsian terpadu bekerja lebih optimal.

Lanjut baca

SPECIAL REPORT PADMAMITRA 2020

Momentum Bangkit dan Berinovasi

Ruruh Handayani

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

Penanggulangan bencana berbasis komunitas diyakini dapat membawa dampak keberlanjutan sembari menggerakkan perekonomian masyarakat.

 

Joint Operating Body Pertamina – Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori) mempunyai visi untuk menjadi operator perusahaan minyak dan gas bumi yang terbaik dan terpandang di Indonesia. JOB Tomori diberi kepercayaan oleh SKK Migas untuk mengelola blok Senoro di Kabupaten Banggai dan blok Tiaka di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Perusahaan ini senantiasa mengedepankan aspek keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan, dan tanggung jawab sosial. Penghasil Gas 310 MMSCFD pertama di Pulau Sulawesi ini berkeyakinan, melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) merupakan faktor penting bagi keberhasilan operasi tambang.

Baca Juga: Opsi Penghidupan Komunitas Adat

Hal itu diejawantahkan melalui sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan berdasarkan atas kepercayaan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat di mana JOB Tomori beroperasi. Untuk dapat melaksanakan CSR dengan terarah dan efektif, JOB Tomori menyusun Rencana Strategis Tanggung Jawab Sosial (RSTJS) yang berlangsung selama 4 tahun.

RSTJS disusun dengan melibatkan masukan dan pandangan dari berbagai pihak baik masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta tokoh-tokoh masyarakat. Perencanaan ini juga mengacu pada rencana jangka panjang perusahaan, diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Panjang Daerah, dan potensi serta partisipasi masyarakat.

Selain itu, JOB Tomori menjadikan ISO 26000:2010 sebagai rujukan utama dalam merumuskan lingkup dan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan. Pelaksanaan kegiatan CSR JOB Tomori diberi tajuk: Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Nomenklatur ini dipilih agar menjadi landasan dalam setiap pengembangan inisiatif program—kebijakan dan program yang harus memandirikan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Baca Juga: Pekerja Terlibat dalam Sikuela

Berbasis komunitas

Penanggulangan bencana berbasis komunitas yang dilakukan JOB Tomori mengedepankan potensi ekonomi dan penguatan sosial budaya masyarakat. Di masa pandemi ini, JOB Tomori melibatkan antara lain pemerintah daerah kabupaten Banggai, gugus tugas BPBD, organisasi nirlaba di bidang lingkungan, serta aparatur desa dan masyarakat.

Di lapangan, JOB Tomori bekerja sama dengan Komunitas Herbalis Batui Selatan (KALISBATAN), salah satu mitra pemberdayaan JOB Tomori. Bentuk inovasinya adalah menggagas gerakan 1000 Masker Untuk Banggai. Menggandeng Relawan Oke dan Penyala Banggai, tim CSR JOB Tomori memberdayakan 100 penjahit lokal untuk pembuatan masker kain.

Baca Juga: Dulu Nomad Sekarang Mapan

Masker lantas dibagikan kepada masyarakat mulai dari pedagang, pengendara, insan pers, dan petugas medis. Tercatat lebih dari 25.850 unit masker terdiri dari masker N95, masker kain, dan masker medis telah disalurkan kepada rumah sakit dan masyarakat. Ada juga 1715 unit alat pelindung diri, 200 paket bahan pangan, 300 paket sanitasi tangan disalurkan kepada pemerintah Kabupaten Banggai.

Inovasi lainnya bersama KALISBATAN yakni pembuatan antiseptik herbal berbahan dasar daun sirih yang menghasilkan berbagai produk yakni sanitasi tangan, cairan antiseptik sayuran dan buah, dan cairan bilik disinfektan. Ada juga ramuan herbal yang bermanfaat sebagai peningkat daya tahan tubuh (imunitas). Ramuan ini dinamakan Herbal Kitorang ‘herbal kita semua’, untuk menularkan semangat menjaga diri dari Covid-19.

Secara langsung, program ini menggerakkan perekonomian masyarakat melalui pengolahan tanaman obat di sekitar menjadi suplemen imunitas.

Baca Juga: Bicara Lantang di Jagat Digital 

Lanjut baca
/

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved