Connect with us

Breaking News

DJP dan IBFD Tandatangani MoU Program Reformasi Perpajakan

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Direktorat Jendeal Pajak (DJP) melakukan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama reformasi perpajakan dengan the International Bureau of Fiscal Documentation (IBFD) pada Kamis (9/7/20)./Foto: Dok. DJP

Direktorat Jenderal Pajak (DJP)  melakukan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama reformasi perpajakan dengan the International Bureau of Fiscal Documentation (IBFD) pada Kamis (9/7/20).

Pendandatanganan ini terbilang istimewa dikarenakan dua hal. Pertama, nota kesepahaman ini merupakan nota kesepahaman pertama yang ditandatangani oleh DJP dengan pihak ketiga dengan menggunakan mekanisme virtual desk-to-desk signing. Hal ini merupakan bentuk inovasi yang dipilih oleh tim penyelenggara yang terdiri dari Kelompok Kerja Tim Reformasi Perpajakan Bidang Peraturan Perundang-Undangan, Direktorat Perpajakan Internasional, dan Direktorat P2Humas, untuk memenuhi standar protokol kesehatan dan keamanan yang ditetapkan selama masa pandemi COVID-19.

Kedua, penandatanganan MoU ini akan menjadi landasan formal bagi serangkaian program kerja sama yang akan diwujudkan antara DJP dengan pihak IBFD yang dalam hal ini, juga telah ditunjuk sebagai bagian dari advisory team bagi program reformasi perpajakan di Indonesia. Beberapa konsep proyek kerja sama telah ditentukan dalam MoU, yang dalam pelaksanaannya dapat didesain dan diimplementasikan ke dalam format yang dianggap paling sesuai untuk mencapai tujuan, selama periode lima tahun berlakunya MoU.

Virtual

Penandatanganan MoU ini dilakukan secara virtual menggunakan aplikasi virtual meeting yang menghubungkan secara langsung delegasi dari DJP yang dipimpin oleh Bapak Suryo Utomo selaku Ketua Tim Reformasi Perpajakan di Indonesia dengan delegasi IBFD yang dipimpin oleh Victor van Kommer selaku Direktur Tax Services of IBFD di Amsterdam, Belanda. Turut hadir dalam prosesi itu adalah jajaran pimpinan unit eselon II DJP serta perwakilan Pokja 3 Tim Reformasi Perpajakan, Ardiyanto Basuki dan Dwi Astuti.

Sebagai saksi atas penandatanganan itu, pihak penyelenggara juga mengundang perwakilan dari Kedutaan Kerajaan Belanda, Guusta Visser, selaku Customs Attaché Belanda untuk beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang turut menyaksikan secara langsung dari kediamannya di Singapura, serta Lukas Rahmidin selaku Senior Policy Advisor Kedutaan Kerajaan Belanda.

Seremoni dibuka pukul 15.00 WIB atau pukul 09.00 GMT+2 di Belanda, dengan terlebih dahulu memaparkan sejarah dan latar belakang hubungan kerja sama antara DJP dengan IBFD, termasuk dengan pihak Kementerian Luar Negeri Belanda, serta the Netherlands Tax and Customs Administration (NTCA), kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sambutan dari masing-masing delegasi, Bapak Suryo Utomo, Victor van Kommer, serta Guusta Visser, secara berurutan.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Pajak mengapresiasi dukungan dan asistensi dari IBFD, NTCA, dan Pemerintah Kerajaan Belanda terhadap rangkaian proses dan program reformasi perpajakan yang tengah dilaksanakan oleh DJP, dalam tataran professional dan akademik yang independen. Menjawab hal tersebut, Victor van Kommer menyambut baik formalisasi kerja sama antara DJP dan IBFD kedalam sebuh MoU dan menyatakan komitmennya untuk terus mendukung dan menjalankan program-program kerja sama yang dicakup dalam MoU dengan profesional. Sejalan dengan hal tersebut, Guusta Visser sebagai perwakilan dari Kedutaan Kerajaan Belanda turut menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi pelaksanaan dari program-program yang akan dicakup dalam MoU tersebut, sebagai bagian dari komitmen Pemerintah Kerajaan Belanda dalam memperkuat hubungan diplomasi dengan Pemerintah Republik Indonesia.

Selanjutnya, masing-masing pimpinan delegasi DJP dan IBFD secara bersamaan menandatangani naskah MoU yang telah dicetak dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, untuk kemudian akan saling dipertukarkan/dikirimkan agar masing-masing pihak dapat melengkapi tanda tangannya pada naskah yang dipertukarkan tersebut. Dengan demikian, masing-masing pihak akan menyimpan satu set naskah MoU asli dengan tanda tangan yang lengkap, tanpa harus bertemu secara fisik dalam satu forum. Inovasi ini turut menjadi statement tersendiri dari DJP bahwa Pandemi COVID-19 tidak menjadi hambatan dilakukannya langkah-langkah besar dalam perwujudan kerja tim reformasi secara khusus, maupun kinerja DJP secara umum.

Sekilas tentang kerja sama IBFD dan DJP

IBFD bukanlah nama baru dalam dunia perpajakan. Sejak tahun 1938, organisasi ini telah berkecimpung dalam dunia riset dan edukasi perpajakan internasional, yang saat ini telah menaungi sekitar 70 periset independen yang berasal dari lebih 30 negara dan berpusat di Amsterdam, Belanda. Dikutip dari laman officialnya, IBFD merupakan lembaga profesional nirlaba yang sering dijadikan rujukan oleh praktisi perpajakan dari berbagai dunia dalam konteks riset dan penyediaan informasi perpajakan secara independen, edukasi, serta layanan konsultasi pemerintahan dalam isu regulasi dan kebijakan perpajakan. Mereka pun mendapatkan julukan sebagai “the world’s foremost authority on cross-border taxation.”

Reputasi itu menarik minat DJP untuk pertama kali bekerja sama dengan IBFD dalam bentuk capacity building bertema pemeriksaan pajak, serta keberatan dan banding pada tahun 2015 yang pada saat itu digawangi oleh Direktorat Peraturan Perpajakan II. Pada tahun 2016, setelah dibentuknya Direktorat Perpajakan Internasional, kerja sama dengan IBFD berlanjut dalam konteks perpajakan internasional meliputi isu Transfer Pricing dan Tax Treaty.

Pada Bulan Desember 2016, Menteri Keuangan Republik Indonesia menerbitkan keputusan nomor KMK-885/KMK.03/2016 tentang Pembentukan Tim Reformasi Perpajakan, di mana salah satu kelompok yang dibentuk dalam tim tersebut adalah Kelompok Kerja Bidang Peraturan Perundang-Undangan. Kelompok ini bertugas untuk melakukan evaluasi terhadap rancangan undang-undang yang telah disusun untuk memastikan bahwa kebijakan yang tertuang dalam rancangan tersebut sudah menampung dinamika yang berkembang, melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang terkait dengan sistem perpajakan, melakukan evaluasi dan mengkaji insentif fiskal, serta menjalankan tugas lainnya yang berkaitan dengan bidang peraturan perundang-undangan dalam rangka reformasi perpajakan. Kemudian dalam menjalankan tugasnya, tim pelaksana dapat membentuk tim teknis dan sekretariat tim serta menghadirkan atau menunjuk akademisi, praktisi, tenaga ahli, komite pengawas perpajakan, pelaku usaha, dan pihak lain yang terkait sebagai narasumber.

Dengan mempertimbangkan hasil kerjas ama terdahulu serta kapasitas dan kualifikasi IBFD dalam hal pendampingan riset, edukasi, dan konsultasi pemerintahan, maka Tim Reformasi Perpajakan memutuskan untuk melanjutkan kerja sama dengan lebih berfokus, namun tidak terbatas pada tugas Tim Pelaksana Pokja Peraturan Perundang-undangan. Kerja sama ini diawali dengan pelaksanaan study visit oleh delegasi DJP pada tahun 2017 ke kantor IBFD dan NTCA di Belanda, untuk memperoleh wawasan secara langsung terkait implementasi administrasi perpajakan serta pengembangan program kepatuhan pajak di Belanda.

Selanjutnya pada tahun 2018, NTCA mengundang DJP untuk menghadiri forum pelatihan Change Management Program bersama dengan perwakilan dari beberapa yurisdiksi lainnya. Lalu berlanjut pada tahun 2019, di mana delegasi dari DJP kembali disambut oleh IBFD dan NTCA dalam rangka study visit terkait pengembangan regulasi, kebijakan, serta insentif perpajakan. Dengan mempertimbangkan rangkaian kerja sama yang progresif tersebut, kedua pihak kemudian sepakat untuk menjajaki kemungkinan dilakukannya formalisasi atas hubungan profesional antara DJP dan IBFD dalam satu instrumen yang resmi dan terukur, dengan tetap berpedoman pada KMK-885/KMK.03/2016.

Pertimbangan tersebut kemudian terwujud dalam serangkaian diskusi yang dilakukan antara tim reformasi perpajakan DJP dengan pihak IBFD untuk menentukan desain, konsep, dan konteks kerja sama yang pada akhirnya dimanifestasikan kedalam sebuah naskah Nota Kesepahaman, yang perumusannya turut melibatkan supervisi dari Direktorat Perpajakan Internasional, Direktorat P2Humas, serta Direktorat KITSDA.

Isi Nota Kesepahaman DJP-IBFD

Naskah MoU ini disusun secara autentik dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, yang terdiri dari dua belas pasal meliputi pendahuluan, tujuan, ruang lingkup, bentuk kerja sama, prosedur dan pendanaan, kekayaan intelektual, force majeure, komunikasi, durasi, penghentian kerja sama, penanganan sengketa, dan klausul lain-lain.

Dalam pelaksanaannya, kerja sama antara DJP dan IBFD ini akan mencakup aktivitas-aktivitas berupa analisis kebijakan perpajakan, review terhadap sistem administrasi perpajakan, analisis simulasi atas skenario peraturan perpajakan yang berbeda, capacity building, serta aktivitas dalam konteks lainnya yang berhubungan dengan program reformasi perpajakan. Aktivitas-aktivitas tersebut akan diwujudkan dalam bentuk diskusi, asistensi riset bagi pegawai DJP baik individual maupun berkelompok, in-house training, pengembangan pilot project, forum pelatihan dan konferensi, study visit, dan bentuk lainnya yang sesuai.

Dalam perumusannya, format dan cakupan kerja sama dalam MoU ini disusun secara ekstensif agar pemanfaatannya tidak terbatas hanya pada konteks implementasi program kerja tim Pokja Regulasi saja, tetapi juga terbuka bagi direktorat atau unit teknis lainnya di DJP yang membutuhkan asistensi atau konsultasi dari pihak IBFD, dengan cara mengkomunikasikan permintaan dan kebutuhannya terlebih dahulu kepada focal point yang ditunjuk dalam MoU, yaitu Pokja 3 Tim Reformasi Perpajakan dibawah pimpinan Ardiyanto Basuki. Hal ini dimungkinkan dengan adanya klausul evaluasi tahunan yang memungkinkan kedua pihak untuk membahas dan menentukan desain kerja sama yang akan dilaksanakan disetiap tahunnya.

Nota kesepahaman ini berlaku untuk jangka waktu lima tahun yang dihitung sejak tanggal 1 Maret 2020, atau sekitar empat bulan sebelum tanggal penandatanganan naskah MoU. Hal ini disebabkan karena beberapa program kerja sama yang dicakup dalam MoU ini telah lebih dahulu dilaksanakan sebelum penandatanganan naskah MoU. Kerja sama tersebut diantaranya berupa pemberian lima akses selama tiga tahun dan pelatihan penggunaan tax research platform yang dimiliki oleh IBFD, yang berisi database berupa jurnal akademis, artikel, dokumen, ebook, webinar, dan fitur riset lainnya dalam berbagai topik terkait perpajakan internasional dari seluruh dunia. Kerja sama lainnya berupa pelaksanaan pelatihan transfer pricing secara online yang diberikan kepada dua puluh pegawai yang ditugaskan dari beberapa unit eselon II di lingkungan DJP, yang diantaranya berupa kursus online berjudul Fundamentals of Transfer Pricing dan International Tax Planning. Kedua program kerja sama tersebut diinisiasi oleh Subdirektorat Pencegahan dan Penanganan Sengketa Perpajakan Internasional (PPSPI), dibawah pimpinan Dwi Astuti.

Kedua program tersebut menjadi contoh sekaligus pembuka bagi serangkaian rencana program kerja sama yang masih akan diwujudkan hingga akhir tahun 2020 ini. Termasuk di antaranya adalah pelatihan transfer pricing dalam Forum Nasional Transfer Pricing yang akan diselenggarakan oleh Direktorat Perpajakan Internasional di Bulan Agustus, pelaksanaan beberapa riset maupun pelatihan terkait tax treaty, pelaksanaan desk-study terkait analisis dan dampak insentif perpajakan termasuk insentif yang berkaitan dengan penanganan pandemi COVID-19, serta desk-study terkait pengembangan program cooperative compliance di Indonesia.

Perwujudan formalisasi kerja sama antara DJP dengan IBFD ini merupakan buah dari proses komunikasi dan koordinasi yang cukup panjang dan tidak mudah. Disamping itu, eksistensi MoU ini dapat memberikan keunggulan tersendiri bagi DJP karena kerja sama dengan IBFD dapat membuka akses terhadap jaringan sumber pengetahuan dan riset perpajakan internasional yang begitu luas dan kredibel. Untuk itu, pelaksanaan MoU ini harus dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi pengembangan sumber daya manusia DJP seluas-luasnya, maupun untuk penguatan dan percepatan program reformasi perpajakan di Indonesia. Ini merupakan sebuah langkah besar yang diambil oleh tim reformasi perpajakan, dengan pemanfaatan yang baik akan mampu membuka peluang bagi langkah-langkah besar berikutnya menuju pencapaian visi dan misi DJP secara menyeluruh.

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Breaking News

Penyerapan stimulus fiskal Pengaruhi Percepatan Pemulihan Ekonomi

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Rapat Berkala KSSK III tahun 2020

Stabilitas sistem keuangan triwulan II 2020 normal.  serapan stimulus fiskal pengaruhi percepatan pemulihan ekonomi.

 

Menteri Keuangan Sri Mulyani yang juga menjabat ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyampaikan, stabilitas sistem keuangan triwulan II 2020 berada dalam kondisi normal. Berbagai indikator menunjukkan, stabilitas sistem keuangan tetap baik, meskipun penyebaran virus korona (Covid-19) yang masih tinggi menuntut perlunya peningkatan kewaspadaan dan kehati-hatian. Sebab kondisi itu dapat memengaruhi prospek perekonomian dan stabilitas sistem keuangan.

Karena itu, pada Rapat Berkala KSSK III tahun 2020 melalui konferensi video pada akhir Juli lalu, KSSK memastikan, koordinasi kebijakan dalam KSSK akan terus diperkuat untuk mendorong pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

Rapat dihadiri oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah.

Pandemi Covid-19 mengakibatkan pertumbuhan ekonomi global terkontraksi cukup dalam. Perkembangan terkini menunjukkan, kasus positif Covid-19 masih tinggi dan berisiko kembali meningkat (second wave) di beberapa negara. Di tengah pengembangan vaksin yang belum sesuai harapan, kondisi itu memicu kekhawatiran berlanjutnya penurunan ekonomi global menjadi lebih dalam. Berbagai lembaga internasional kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi. IMF memperkirakan perekonomian global 2020 terkontraksi sebesar -4,9 persen, Bank Dunia di level -5,2 persen, dan OECD dalam rentang -7,6 sampai dengan -6,0 persen.

Perekonomian global yang menurun serta dampak penanganan Covid-19 di dalam negeri menurunkan kinerja perekonomian domestik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 2,97 persen (yoy) pada triwulan I 2020, melambat dibandingkan dengan capaian triwulan sebelumnya sebesar 4,97 persen (yoy) atau triwulan I 2019 sebesar 5,07 persen (yoy).

“Pada triwulan II 2020, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi -5,32 persen (yoy), sementara pada triwulan II 2019 tumbuh 5,05 persen (yoy). Perkembangan ini terutama akibat penurunan dalam kegiatan ekonomi pada bulan April – Mei 2020 sejalan dampak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB),” kata Sri Mulyani.

Berharap dari Penyerapan stimulus fiskal

Sri Mulyani mengatakan, pada Juni 2020, berbagai indikator menunjukkan aktivitas perekonomian domestik mulai meningkat didorong dampak pelonggaran PSBB dan kenaikan ekspor ke Tiongkok. Ke depan, pemulihan ekonomi nasional diprakirakan berlanjut dipengaruhi peningkatan penyerapan stimulus fiskal, perbaikan restrukturisasi kredit, keberhasilan penanganan protokol kesehatan untuk penanggulangan Covid-19, serta peningkatan permintaan ekspor, khususnya dari Tiongkok.

Stabilitas makroekonomi tetap baik dan turut mendukung ketahanan ekonomi nasional. Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali sebesar 1,96 persen (yoy) pada Juni 2020 dan kembali menurun pada bulan Juli menjadi 1,54 persen (yoy). Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga, tecermin dari defisit transaksi berjalan triwulan II 2020 yang diperkirakan tetap rendah dipengaruhi oleh membaiknya neraca perdagangan sejalan dengan penurunan impor akibat melemahnya permintaan domestik. Nilai tukar Rupiah juga tetap terkendali sesuai dengan fundamental, yang pada triwulan II 2020 secara point to point mengalami apresiasi 14,42 persen dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar pada Mei dan Juni 2020. Meski demikian, secara rerata triwulanan mengalami depresiasi 4,53 persen akibat pelemahan pada April 2020. Sementara cadangan devisa juga meningkat, yang pada akhir Juni 2020 mencapai 131,7 miliar dollar AS, setara pembiayaan 8,4 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah itu berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Sri Mulyani juga memaparkan, kinerja APBN 2020 hingga akhir semester I tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan yang cukup berat. Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp 811,2 triliun atau 47,7 persen dari target dalam Perpres Nomor 72 tahun 2020.  Mencatatkan pertumbuhan negatif 9,8 persen (yoy), seiring kontraksi pada penerimaan perpajakan dan PNBP sebagai dampak penurunan aktivitas ekonomi, penurunan harga komoditas, dan stimulus fiskal dalam bentuk fasilitas insentif perpajakan bagi dunia usaha.

Penyerapan Belanja Negara mencapai Rp1.068,9 triliun atau 39,0 persen dari anggaran dan mencatatkan pertumbuhan 3,3 persen (yoy), didukung oleh pertumbuhan belanja modal dan realisasi program-program perlindungan sosial dalam rangka penanganan pandemi Covid-19. Defisit APBN hingga akhir semester I tahun 2020 mencapai Rp 257,8 triliun atau 1,57 persen terhadap PDB.

Lanjut baca

Breaking News

FINI: Kemudahan Investasi Jadi Harapan Pelaku Usaha Industri Nikel

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Pengusaha sektor pertambangan mendeklarasikan berdirinya Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta pada Rabu pagi, (5/8/2020). Forum ini menghimpun 23 smelter nikel dengan kapasitas terpasang 3.79 juta MT ( Mertik Ton)  NPI ( Nickel Pig Iron (NPI) per tahun dan 0.8 juta MT per tahun sedang dalam pembangunan. Jumlah ini diklaim hampir 90 persen kapasitas semelter nasional. Beberapa perusahaan tambang nikel dan turunannya  pun saat ini mulai bergabung dalam forum ini.

Ketua Umum FINI terpilih, DR Alexander Barus mengatakan, tujuan dibentuknya FINI adalah agar bisa menjadi forum komunikasi dan koordinasi yang tepercaya dan berdayaguna dalam membangun industri nikel Indonesia yang berkelanjutan, berwawasan kebangsaan, memiliki daya saing dan peduli terhadap lingkungan.

“Sesuai dengan semangat Undang Undang  No. 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, yaitu menciptakan struktur ekonomi yang kukuh melalui pembangunan industri yang maju sebagai motor penggerak ekonomi yang didukung oleh kekuatan dan kemampuan sumber daya yang tangguh,” kata Alexander.

Deklarasi Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta pada Rabu pagi, (5/8/2020)

FINI, kata Alexander, diharapkan bisa maju bersama seluruh pemangku kepentingan mewujudkan tujuan itu. Sampai saat ini industri nikel Indonesia menyumbangkan devisa yang sangat besar untuk pendapatan negara. “Kami ingin memberikan kontribusi positif dalam membentuk hubungan usaha yang saling menguntungkan dengan sektor penambangan dan industri turunan nikel dalam negeri Terutama dalam menjaga keseimbangan dan kemajuan bersama bisnis antara usaha turunannya,” jelasnya.

Untuk mencapai tujuan itu, Alexander menyebut, strategi FINI adalah dengan menjadi media komunikasi dan koordinasi bagi kepentingan anggota agar terjadi interaksi yang saling menguntungkan. Kepentingan ini bisa dalam rangka pelaksanaan usaha dan menyebarluaskan serta menyosialisasikan informasi mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, industri pengolahan dan pemurnian nikel. Termasuk industri pengguna nikel khususnya yang berhubungan dengan misi dari perkumpulan ini.

“Sebagai salah satu negara pemilik bijih nikel terbesar di dunia, sudah sepatutnya Indonesia memikirkan berbagai strategi pengolahan bijih nikel yang diharapkan bisa memberikan nilai tambah lebih besar untuk seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Alex Barus.

Indonesia saat ini adalah salah satu negara penghasil bijih nikel terbesar di dunia. Data menyebutkan bahwa Indonesia memiliki cadangan 25 persen dari kebutuhan nikel dunia.

Untuk itu, sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan, pengelolaan potensi nikel harus diatur oleh negara dengan bijaksana untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.

Dengan tujuan itu, melalui Undang-undang No. 4 tahun 2009 pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menghentikan ekspor bijih nikel di awal tahun 2014 yang memang merupakan masa 5 tahun persiapan menuju industri, dengan mewajibkan para penambang untuk membangun industri pengolahan dan pemurnian. Industri pengolahan dan pemurnian ini untuk meningkatkan mutu mineral serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral ikutan.

Beberapa pihak telah mulai membangun industri smelter nikel dengan keterbatasan dana dan teknologi. Oleh karena itu, kemudahan investasi menjadi harapan para pengusaha industri nikel untuk dapat membangun dan menjalankan amanah undang-undang itu.

Dari keterbatasan itu, kebijakan pemerintah membuka kembali keran ekspor akan sangat merugikan negara dalam jangka panjang dan investor sebagai pelaku industri. Jaminan terhadap keberlangsungan investasi diragukan. Jika bijih nikel ore tetap diekspor maka akan berpengaruh pada cadangan bahan baku untuk pabrik yang sudah dibangun dengan investasi yang tidak sedikit.

Tingginya permintaan yang tidak sebanding dengan jumlah cadangan nikel yang tidak bisa diperbarui membuat pemerintah Indonesia menaruh perhatian khusus dengan menerapkan kebijakan strategis bukan hanya kepentingan sesaat. Pada kuartal IV tahun 2019 pemerintah menerbitkan kembali larangan ekspor bijih nikel yang efektif diberlakukan pada Januari 2020.

Pelarangan ekspor nikel itu dikukuhkan melalui Peraturan Menteri ESDM nomor 11 tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Permen ESDM nomor 25 tahun 2018 tentang Pengusahaan Tambang Mineral dan Batubara. Kebijakan ini berdampak sangat positif bagi tumbuhnya hilirisasi  industri nikel Indonesia.

“Dalam proses hilirisasi biji nikel diolah hingga menjadi bentuk lanjutan dengan nilai lebih tinggi yang saat ini sudah mencapai produk stainless steel. Sebelumnya kita tidak pernah membayangkan Indonesia mampu memproduksi stainless steel. Bahkan Indonesia tidak mustahil menjadi produsen katoda Li-batt terbesar dunia yang bersumber dari Ni kadar rendah. Tumbuh kembang industri hilirisasi nikel diharapkan bisa memberi efek  domino positif terhadap perekonomian Indonesia khususnya area sekitar Industri dan  nasional pada umumnya ,” pungkas Alex Barus.

Lanjut baca

Breaking News

Magnet “Tax allowance” dan Simplifikasi Aturan untuk Percepatan Investasi

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerbitkan  Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.96/PMK.010/2020 untuk merevisi mekanisme pemberian tax allowance berupa fasilitas Pajak Penghasilan untuk penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu atau di daerah-daerah tertentu. Sebelumnya, mekanisme itu diatur melalui PMK No.11/PMK.010/2020.

Pemerintah bertujuan, simplifikasi ketentuan tax allowance melalui penerbitan aturan baru yang merevisi aturan sebelumnya bertujuan untuk mendorong kemudahan berusaha dan mendorong perekonomian. Salah satu poin yang diatur dalam peraturan baru itu adalah pendelegasian kewenangan pemberian fasilitas tax allowance dari Kementerian Keuangan yang sebelumnya melalui Direktorat Jenderal Pajak, diubah menjadi melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Ada beberapa poin utama pada revisi dalam PMK yang rencananya mulai berlaku pada 11 Agustus 2020 mendatang itu. Pertama, perubahan kewenangan masing-masing institusi terkait. Dalam PMK terdahulu, penetapan nilai aktiva tetap berwujud yang menjadi dasar penghitungan fasilitas tax allowance dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak. Sementara pada PMK yang baru, kewenangan diambil alih oleh Menteri Keuangan.

Selanjutnya, permohonan tax allowance yang telah diterima secara lengkap disampaikan melalui sistem Online Single Submission (OSS) kepada Menteri Keuangan sebagai usulan pemberian fasilitas. Dalam PMK sebelumnya, permohonan yang diterima secara lengkap disampaikan oleh sistem OSS kepada Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Pajak sebagai usulan pemberian fasilitas sistem OSS mengirimkan pemberitahuan kepada Wajib Pajak bahwa permohonan fasilitas diteruskan kepada Menteri Keuangan.

Selain itu, dalam PMK 96/2020 ini, pengajuan permohonan secara off-line (luar jaringan) disampaikan kepada Menteri Keuangan melalui BKPM. Dalam PMK sebelumnya, pengajuan permohonan secara luar jaringan disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak melalui BKPM.

Percepatan investasi

Menanggapi terbitnya PMK No.96/2020  itu, Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2 Humas) DJP Hestu Yoga Saksama mengatakan, konteks kebijakan dalam aturan baru itu adalah percepatan investasi.

“Untuk penyederhanaan dan percepatan investasi, pelayanan investasi—prosedur perizinan dan pemberian fasilitas investasi diletakkan dalam satu atap, yaitu di BKPM,” kata Yoga, Selasa (4/8/2020).

Pemerintah berharap, dengan dukungan peraturan baru itu, kinerja BKPM dalam menarik investasi ke dalam negeri dapat meningkat signifikan. Dengan demikian, kebijakan itu mampu memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Yoga juga menilai, pendelegasian kewenangan dari Kemenkeu ke BKPM itu pun sudah sesuai dengan Instruksi Presiden No.7/2019 tentang Percepatan Kemudahan Berusaha.

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News6 jam lalu

Penyerapan stimulus fiskal Pengaruhi Percepatan Pemulihan Ekonomi

Stabilitas sistem keuangan triwulan II 2020 normal.  serapan stimulus fiskal pengaruhi percepatan pemulihan ekonomi.   Menteri Keuangan Sri Mulyani yang...

Breaking News1 hari lalu

FINI: Kemudahan Investasi Jadi Harapan Pelaku Usaha Industri Nikel

Pengusaha sektor pertambangan mendeklarasikan berdirinya Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta pada Rabu pagi, (5/8/2020). Forum...

Breaking News1 hari lalu

Magnet “Tax allowance” dan Simplifikasi Aturan untuk Percepatan Investasi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerbitkan  Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.96/PMK.010/2020 untuk merevisi mekanisme pemberian tax allowance berupa fasilitas Pajak...

Breaking News2 hari lalu

Mengintip Budaya Pertamina di Era Ahok

Sejak didapuk menjadi komisaris utama PT Pertamina (Persero) pada akhir November 2019 lalu, sepak terjang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selalu...

Breaking News3 hari lalu

DJP: Perlu “Effort” Perusahaan Agar Insentif Pajak Bagi Karyawan Bisa Dimanfaatkan

Pengusaha mengaku kerepotan untuk melaksanakan insentif PPh Pasal 21 atau pajak gajian bagi masyarakat yang ditanggung pemerintah (DTP). Mereka menilai,...

Breaking News3 hari lalu

Kawal Wajib Pajak Agar Tak Terjerumus Dalam Pidana Pajak

Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengadakan seminar on-line perpajakan bertajuk “Peran Konsultan...

Breaking News4 hari lalu

Belanja Pemerintah Kunci Melepas Belenggu Resesi

Jika terjadi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) di suatu negara, pendapatan riilnya merosot tajam selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, itu merupakan...

Breaking News5 hari lalu

Resesi Menekan Pasar Modal, Investasi Emas Jadi Pilihan

Sejak beberapa bulan terakhir, harga emas kian meroket. Pada awal Agustus ini, misalnya, harga emas batangan PT Aneka Tambang (Persero)...

Breaking News6 hari lalu

Jakarta Perpanjang PSBB Transisi dan Berlakukan Lagi Aturan Ganjil-Genap

Kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia belum juga reda. Hingga Jumat (31/7/2020), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, mengumumkan, kasus terkonformasi...

Breaking News6 hari lalu

Rayakan Iduladha, PT KAI Berikan Diskon Perjalanan Hingga 25 Persen

Perayaan Iduladha tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Antara lain merosotnya penjualan hewan Kurban yang dialami pedagang di berbagai daerah...

Populer