Connect with us

Breaking News

Direktur SDM, Tata Kelola, Manajemen Risiko Pupuk Indonesia Terima Penghargaan Green Kartini: 10 Most Green-Driven Female Leaders

Diterbitkan

pada

Foto : Rivan Fazry

 

Majalahpajak.net PT Pupuk Indonesia (Persero) telah berhasil menjalankan beberapa program yang berkaitan dengan industri hijau dan environmental, social, and governance (ESG). Untuk itu, Majalah Pajak memberikan Penghargaan Green Kartini: 10 Most Green-Driven Female Leaders kepada Direktur Sumber Daya Manusia (SDM), Tata Kelola, dan Manajemen Risiko Pupuk Indonesia Tina T. Kemala Intan atas kiprahnya mencetak SDM yang memiliki kapasitas dan kapabilitas; mengarahkan, mengkoordinir, mengawasi, dan bertanggung jawab untuk menetapkan arah dan kebijakan bidang manajemen risiko perusahaan; dan sebagainya. Sebagai Ketua Srikandi, Tina menjadi role model bagi para perempuan, baik di internal maupun eksternal perusahaan agar semakin maju dan berprestasi.

Penghargaan Green Kartini: 10 Most Green-Driven Female Leaders yang diselenggarakan Majalah Pajak ini memiliki tiga faktor penunjang, mulai dari tren ekonomi hijau, meningkatnya investasi ESG, serta menguatnya kepemimpinan perempuan.

Tina menyambut positif atas penobatan dirinya sebagai sebagai salah satu dari Green Kartini: 10 Most Green-Driven Female Leaders dari Majalah Pajak. Ia menekankan, penghargaan ini merupakan salah satu bukti konsistensi Pupuk Indonesia untuk berkontribusi penuh kepada negara dan masyarakat.

“Penghargaan ini untuk perusahaan, karena Pupuk Indonesia memiliki kontribusi dalam konteks lingkungan. Dan, Pupuk Indonesia sebagai perusahaan besar, dari segi pendapatan, profitnya, tentunya (kontribusi kepada) pajaknya juga baik. Terima kasih kepada Majalah Pajak karena telah meng-amplify reputasi Pupuk Indonesia,” ungkap Tina di ruangannya, Kamis (02/05).

Baca Juga: Kami Mampu Penuhi Kebutuhan Pupuk Bersubsidi

Ia menjelaskan, ESG berkaitan dengan program SDGs yang telah dilakukan oleh Pupuk Indonesia untuk masyarakat. Peta jalan pengembangan industri hijau Pupuk Indonesia terdiri dari beberapa tahapan. Pertama, pada tahun 2022 akan dilakukan penggunaan listrik dari sumber terbarukan, optimasi dan efisiensi energi pabrik pupuk, serta pre-feasibility study untuk pengembangan green ammonia dan blue ammonia. Kedua, pada tahun 2023-2030 akan difokuskan pada revamping pabrik pupuk untuk peningkatan efisiensi energi dan penurunan emisi CO2, pemanfaatan  karbondioksida (CO2) melalui pembangunan pabrik soda ash untuk bahan baku industri kaca serta pengembangan green ammonia yang yang diproduksi di pabrik ammonia eksisting. Ketiga, pada tahun 2030-2040 akan difokuskan pengembangan blue ammonia. Keempat, pada tahun 2040 – 2050 akan difokuskan pada pengembangan pabrik baru green ammonia skala komersial.

“Karena dekarbonisasi itu sudah komitmen dan mandatori dari pemerintah, maka semua dampak emisi CO2 terhadap lingkungan bisa dikurangi, bahkan bisa memberi nilai tambah dengan riset yang baik dan memanfaatkan dan menjaga kelestarian lingkungan. Kalau dari segi lingkungan, diwajibkan secara global,” ungkap Tina.

Investasi dalam aspek environment merupakan bagian dari program dekarbonisasi yang terdiri dari utilisasi renewable electricity dan utilisasi karbondioksida (CO2). misalnya melalui pembangunan pabrik soda ash.

“Pupuk Indonesia grup telah melakukan audit energi untuk memastikan penggunaan energi yang bertanggung jawab dan berkesinambungan. Tindak lanjut dari audit energi tersebut adalah melakukan langkah-langkah perbaikan sehingga penggunaan energi lebih efisien,” kata Tina.

Di bidang sosial Pupuk Indonesia merangkul masyarakat untuk turut serta melestarikan lingkungan melalui program-program Corporate Social Responsibility (CSR) dan creating shared value (CSV), salah satunya dengan membina usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dirintis oleh perempuan.

Baca Juga: Memupuk Pusaka Ayah

“Terhadap perempuan, fokus pada UMKM. Program Pupuk Indonesia salah satu andalan juga di Indonesia di Kementerian BUMN, yang programnya sangat kena. BUMN juga punya program Makmur, membina banyak petani yang mendapatkan program itu,” ungkap Tina.

Sebagai informasi, Program Makmur yang sebelumnya bernama Agro Solution merupakan ekosistem bagi petani yang menghubungkan petani dengan segala kebutuhan pertanian seperti teknologi pertanian, lembaga keuangan, asuransi, agro inputofftaker juga pemerintah daerah.

Sebagai Ketua Srikandi BUMN, Tina memastikan dan mendorong komunitas pemimpin dan karyawan perempuan BUMN yang merupakan sayap dari Forum Human Capital Indonesia (FHCI), berperan dalam mendorong terwujudnya kesetaraan dalam berkarier, inklusitivitas, dan keberagaman yang merupakan bagian dalam menciptakan ekosistem dalam pemberdayaan perempuan dan kepemimpinan perempuan yang akan mendorong peningkatan kinerja Perusahaan. Tahun 2021, persentase perempuan di jajaran direksi BUMN telah mencapai target 15 persen, meningkat dari 11 persen di 2020.

“Kita galakkan direksi perempuan meningkat terus. Kapasitas dan kapabilitas, tidak ada diskriminasi. Pak Menteri BUMN (Erick Thohir) baru saja meluncurkan Respectful Workplace Policy agar tidak ada diskriminasi dan pelecehan perempuan, sehingga bagi perempuan, dunia kerja sebagai aktualisasi diri,” ungkap Tina.

Breaking News

Era Baru Kepatuhan Berkelanjutan dimulai Pasca-PPS Berakhir

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ruruh Handayani

 

Majalahpajak.net – Program Pengungkapan Sukarela (PPS) akan menjadi salah satu instrumen penting untuk menyongsong visi Indonesia Maju 2045. Pasalnya, program yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) ini koheren dengan Reformasi Pajak Jilid III yang memuat reformasi administrasi dan kebijakan.

Fungsional Penyuluh Ahli Muda Kanwil DJP Banten Agus Puji Priyono mengatakan, pasca-PPS merupakan era baru pajak yang memuat kepatuhan sekaligus penerimaan pajak yang berkelanjutan, didukung oleh peningkatan pelayanan, data dan informasi yang dimiliki DJP, serta supervisi (enforcement). Dengan ketiga pendorong itu, maka wajah perpajakan Indonesia ke depan bukan lagi berdasarkan kepatuhan sukarela, tetapi kepatuhan kolaborasi.

“Berbagai lembaga riset dan organisasi internasional sekarang membahasakan kepatuhan kolaborasi, bukan lagi kepatuhan sukarela. Hal ini karena Wajib Pajak merasa otoritas pajak punya power, dan Wajib Pajak harus percaya. Jadi di sini ada power of authority dan trust in the authority. Ini akan menjadikan kepatuhan kolaborasi Wajib Pajak,” kata Agus di webinar Kelas Tax Center Universitas Pamulang (Unpam), bertema “Reformasi Wajah Baru Perpajakan Pasca PPS: Pajak Kita Untuk Kita”, Sabtu (25/6).

Di hadapan sekitar 70 peserta yang hadir, Agus juga menjelaskan, iklim kepatuhan kolaborasi (voluntary cooperation) dapat dihadirkan melalui keseimbangan antara legitimate power dan kepercayaan yang berdasarkan kognitif atau kesadaran. Sebaliknya, kalau otoritas pajak hanya mengandalkan penegakan hukum, maka hubungan kepada Wajib Pajak akan bersifat koersif, dan timbul iklim antagonis.

“Jadi sekarang yang tengah dibangun adalah voluntary cooperation atau kerja sama sukarela antara Wajib Pajak dan otoritas pajak. Untuk menyeimbangkannya, mesti ada dua pilar untuk mewujudkannya yakni transparansi dan partisipasi melalui reformasi perpajakan,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, PPS merupakan ajakan pemerintah untuk melakukan rekonsiliasi dengan masyarakat Wajib Pajak. Melalui PPS, pemerintah menawarkan kesempatan untuk masyarakat bisa melakukan pemutihan pajak dengan mengungkapkan semua aset atau harta dengan tarif yang rendah.

Di sisi lain, PPS yang diiringi reformasi perpajakan merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi tax gap.

“Karena dari potensi yang ada, kita naikkan agar tingkat kepatuhannya lebih tinggi. Inilah mengapa ada reformasi administrasi, reformasi perpajakan. Ini akan terwujud. Setelah PPS berakhir maka masyarakat masuk dalam babak baru di mana keterbukaan informasi jadi keniscayaan. Otoritas pajak punya sistem informasi teknologi yang modern, dan enforcement,” jelasnya.

Baca Juga: Ketum IKPI: Jangan Lewatkan PPS yang Sarat Manfaat

Untuk itu, Agus kembali mengingatkan agar Wajib Pajak bisa memanfaatkan kesempatan ini sebelum akhir periode pada 30 Juni mendatang.

“Harapannya, masyarakat bisa merespons. Ini adalah program baik dari pemerintah untuk melindungi masyarakat asal memang mengikuti ketentuan yang berlaku, semua aset diungkapkan. Kenapa disebut tax amnesty jilid 2? Ya, memang ada kelanjutan dari tax amnesty jilid 1, di mana dibagi menjadi dua kebijakan. Kebijakan 1 untuk alumni TA, kebijakan 2 untuk WPOP yang baru menjadi peserta,” ucapnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Akuntansi Unpam Effriyanti Kurniawan mengatakan, pemahaman mengenai pajak masih menjadi hal yang penting karena banyak masyarakat yang masih takut dengan pajak.

“Begitu dengar kata-kata pajak, mereka rasanya mau balik badan. Padahal pajak adalah dari kita untuk kita. Pajak adalah suatu media, merefleksikan ada tanggung jawab di sana akan ada manfaat. Kita sudah merasakan manfaat selama ini dari sarana dan prasarana yang ada, tetapi memang rata-rata pemahaman mengenai pajak masih sangat sedikit,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mendukung adanya kegiatan Kelas Tax Center, agar mahasiswa sebagai agen perubahan bisa mengubah paradigma negatif pajak di ruang publik.

“Ini yang harus kita ubah. Bahwa sebagai generasi muda, mahasiswa bisa menginformasikan kepada dunia luar sana bahwa pajak adalah media kita untuk berkontribusi terhadap pembangunan, baik pembangunan daerah pun pembangunan nasional. Sehingga, kita bisa dengan bangga mengatakan bahwa ini adalah negara kita. Kemajuan negara kita juga bergantung kepada kita semua,” pungkasnya.

Lanjut baca

Breaking News

Dukung Penerapan ESG, Dirkeu dan SDM BEI Raih Penghargaan “Green Kartini”

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Rivan Fazry

 

Majalahpajak.net – Sebagaimana diketahui, Bursa Efek Indonesia (BEI) mendukung penerapan aspek Environmental, Social and Governance (ESG) di pasar modal. Sebab, penerapan ESG pada produk investasi secara tidak langsung akan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial, sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Atas dasar itulah, Majalah Pajak memberikan Penghargaan Green Kartini: 10 Most Green-Driven Female Leaders kepada Direktur Keuangan (Dirkeu) dan Sumber Daya Manusia (SDM) BEI Risa E Rustam atas perannya fokus dalam melakukan program sustain ability di pasar modal.

Dewan Redaksi Majalah Pajak Ajib Hamdani mengungkapkan, Majalah Pajak sangat mengapresiasi terhadap pemimpin perempuan. Terlebih, jika dilihat dari data Women and Business tahun 2020, menyebutkan bahwa Indonesia termasuk negara 4 besar yang menempatkan para perempuan menjadi pemimpin pemimpin.

Baca Juga: Keselarasan sejak di Lantai Bursa

“Kami melihat bahwa bagaimana gerakan modern pengarusutamaan gender menjadi gerakan modern yang dibangun sejak zaman Kartini dulu, makanya kita ambil momen tersebut. Kami berharap kedepannya akan ada Ibu Risa selanjutnya yang bisa menjadi pemimpin di masing-masing bidang,” ungkapnya saat memberikan penghargaan di Gedung BEI, Rabu (22/06).

Ia menambahkan, pihaknya juga mengapresiasi bursa BEI yang terus mendorong literasi keuangan kepada masyarakat termasuk yang mengintegrasikan terhadap ESG dan menjadi rujukan dari para investor global maupun lokal.

“Kami melihat bagaimana BEI punya komitmen luar biasa sebagai engine untuk menggerakkan ekonomi, dan apresiasi luar biasa bekerja sama dengan semua stakeholder termasuk Kementerian Keuangan (Kemenkeu) khususnya Direktorat Jenderal Pajak (DPJ),” tambahnya.

Ajib pun berharap Majalah Pajak dapat terus berkontribusi terhadap pendorong sektor ekonomi berkelanjutan.

“Semoga sinergi yang terbangun antara Majalah Pajak dengan BEI terus terjalin dengan baik,” ujarnya.

Baca Juga: Selamat Berlabuh, Ekonomi Baru

Sementara itu, Dirkeu dan SDM BEI Risa E Rustam memberikan apresiasi sebesa-besarnya kepada Majalah Pajak atas dinobatkan dirinya menjadi salah satu dari 10 Green Kartini versi Majalah Pajak. Ia menyampaikan bahwa pihaknya akan terus melakukan program-program literasi dan edukasi kepada calon investor, masyarakat umum melalui head office BEI maupun kantor perwakilan di 30 provinsi.

“Terima kasih atas penghargaannya dan apresiasinya. Kebetulan saya disini juga advocate G20 Empower, jadinya pas banget karena sejak kita gabung di sustainable stock exchange taun 2019, banyak sekali program ESG atau SDGs terutama yang diusung oleh World Federation of Exchanges dan Sustainable Stock Exchange, yang sekarang menjadi pedoman kita untuk fokus dalam program sustain ability,” jelasnya.

Disingung soal tantangan penerapan ekonomi hijau, Risa juga mengatakan bahwa pihaknya akan terus bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai regulasi dan aturan, serta menggandeng stakeholder lainnya untuk menyelesaikan tantangan seperti terbatasnya SDM dan belum memadainya insentif produk keuangan berkelanjutan.

“Tidak hanya itu saja, kedepannya juga nanti kita akan terus melakukan edukasi dan sosialisasi untuk publik dan stakeholder kita di pasar modal tentang kesetaraan gender dan women empowerment,” pungkasnya.

Lanjut baca

Breaking News

Kesejahteraan dan Pertumbuhan Ekonomi Harus Sejalan

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto : Rivan Fazry

 

Wacana perpanjangan cuti hamil selama enam bulan memerlukan kajian mendalam terkait produktivitas dan daya saing  agar upaya memajukan aspek aspek kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa sejalan

 

Majalahpajak.net – Usulan  perpanjangan cuti hamil dan melahirkan menjadi enam bulan untuk pekerja perempuan yang disampaikan Ketua DPR RI  Puan Maharani mendapat tanggapan dari kalangan pengusaha. CEO Sintesa Group yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Shinta Widjaja Kamdani menyatakan pentingnya melakukan kajian dan riset lebih lanjut terkait wacana memperpanjang cuti hamil enam bulan karena hal ini tidak hanya terkait dengan cost (biaya) tapi juga aspek lainnya seperti produktivitas dan daya saing. Riset perlu dilakukan untuk melihat perbandingan kondisi dunia usaha di Indonesia dengan negara-negara kompetitor.

Menurutnya, upaya mendorong kesejahteraan ibu dan anak tentu menjadi perhatian semua pihak baik kaum perempuan maupun laki-laki. Namun perpanjangan cuti enam bulan belum tentu menjadi satu-satunya solusi atau jalan keluarnya. Ia memaparkan realitas selama  ini dengan tingkat produktivitas tenaga kerja di Indonesia yang masih ketinggalan dan perlu menjadi perhatian karena berkorelasi dengan daya saing dan pertumbuhan ekonomi.

“Kami siap mendukung dan akan membuat analisis lebih lanjut agar ada solusi yang lebih baik untuk menyeimbangkan aspek kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia,”kata Shinta saat menerima apresiasi 10 Most Green-Driven Female Leaders 2022 dari Pimpinan Redaksi Majalah Pajak, Aldino Kurniawan  di Menara Duta, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/06).

Baca Juga: Kesetaraan Gender Jadi Pertimbangan

Pada kesempatan itu, ia menyampaikan penghargaannya kepada Majalah Pajak sebagai media yang tidak sekadar isu tentang pajak, fiskal, dan ekonomi  tetapi juga mulai memberikan perhatian pada isu tentang kesetaraan gender dan  kepemimpinan perempuan di tempat kerja serta isu lingkungan. Menurutnya, kesetaraan gender tidak hanya berkaitan dengan ekonomi hijau melainkan juga dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) khususnya poin ke-5.

Majalah Pajak hebat, bisa mengangkat sosok-sosok pemimpin perempuan dan isu lingkungan di Hari Kartini. Karena Indonesia tidak bisa hanya sekadar tumbuh dari segi pertumbuhan ekonomi, tapi  equity yaitu aspek sosial dan lingkungannya juga sangat penting,”ungkap Shinta.

Ia memaparkan dua aspek penting dalam isu kesetaraan gender, yaitu kewirausahaan perempuan (seperti di sektor UMKM) dan perempuan di tempat kerja (workplace) sebagai profesional di perusahaan maupun  buruh. Kepemimpinan perempuan dapat berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan Gross Domestic Product, namun di sisi lain masih ada tantangan di tempat kerja karena perempuan memerlukan fleksibilitas untuk mengembangkan karier dan kehidupan keluarganya. Sehingga perlu komitmen dari  perusahaan dan tempat kerja untuk mempunyai ekosistem tempat kerja yang memadai bagi perempuan, seperti : ruang laktasi dan day-care untuk pengasuhan anak.

Baca Juga: Sistem Perpajakan Kita Memberatkan Perempuan?

Ia berpandangan,  saat ini masih ada gap atau perbedaan antara perempuan dan laki-laki di tempat kerja dari segi pendapatan dan recruitment. Isu kekerasan terhadap perempuan masih kerap terjadi dan perlu menjadi perhatian perusahaan. Adapun isu yang terkait kewirausahaan perempuan adalah lebih kepada bagaimana perempuan pengusaha UMKM bisa mendapatkan akses permodalan dan juga pelatihan.

“Masing-masing komponen ini perlu keberpihakan yang lebih diarahkan untuk mencapai kesetaraan. Bukan lantas perempuan lebih penting dari pria. Karena faktanya saat ini perempuan masih sangat ketinggalan, makanya harus disejajarkan,”terangnya.

Pada momentum Hari Kartini 21April 2022, Majalah Pajak membuat daftar 10 perempuan yang melalui kepemimpinannya mampu mendorong bisnis yang berkelanjutan dengan latar-belakang jabatan chief (executive, financial, operating) fficer, direktur, pengusaha, atau founder di ruang lingkup sektor usaha yang meliputi keuangan, infrastruktur, pertambangan, industri, migas, dan telekomunikasi.

Lanjut baca

Populer