Connect with us

Health

Diabetes Mengincar Usia Muda

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Sejak beberapa tahun belakangan, diabetes mulai melanda usia muda.

Bulan ini, tepatnya 14 November adalah Hari Diabetes Dunia. Diabetes atau diabetes melitus adalah suatu penyakit metabolik yang diakibatkan oleh meningkatnya kadar glukosa atau gula darah di atas normal pada tubuh. Ini karena tubuh tidak mampu memroses glukosa, sehingga glukosa menumpuk di dalam darah.

Orang awam biasanya menyebutnya dengan penyakit kencing manis. Tak ada yang salah dengan sebutan itu. Sebab, kadar glukosa atau gula di dalam darah diabetesi (orang dengan diabetes) sangat tinggi sehingga sebagian besar glukosa ini akan dikeluarkan bersamaan dengan urine.

Diabetes dibagi menjadi empat tipe. Pertama, diabetes tipe 1, yaitu sistem daya tahan tubuh menyerang dan menghancurkan sel beta di pankreas yang memproduksi insulin. Kedua, diabetes tipe 2, yaitu sel beta di pankreas tidak memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau sel tubuh tidak merespons insulin yang diproduksi. Ketiga, diabetes gestasional, yaitu diabetes yang dialami saat kehamilan. Dan keempat, diabetes tipe lain yang dapat timbul akibat kelainan hormon, imunologi, infeksi, atau faktor genetik lainnya. Di Indonesia diabetes yang paling sering ditemukan adalah tipe 1 dan 2.

Saat ini diabetes menjadi penyakit mematikan ketiga di Indonesia setelah stroke dan jantung. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017, Indonesia menduduki peringkat keenam dunia untuk jumlah penderita diabetes terbesar, yaitu 10,3 juta jiwa. Sementara, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menunjukkan, prevalensi penyandang diabetes naik menjadi 8,5 persen, dari 6,9 persen di tahun 2013, (Riskesdas 2013).

Bawah 30 tahun

Penelitian juga menunjukkan, diabetes, khususnya diabetes tipe 2, dalam beberapa tahun terakhir semakin sering menyerang usia muda. Berdasarkan jurnal Epidemic Obesity and Type 2 Diabetes in Asia, masyarakat Asia terkena diabetes pada usia yang lebih muda. Peningkatan jumlah penderita diabetes di Asia juga tergolong tinggi dibandingkan Amerika Serikat. Jurnal itu juga menyebut, laju prevalensi diabetes di Korea Selatan dan Thailand meningkat tiga hingga lima kali. Data ini menunjukkan peningkatan yang lebih pesat daripada selama tiga puluh tahun terakhir. Bahkan, penderita diabetes usia 35–44 tahun di Tiongkok meningkat sebanyak 88 persen pada tahun 2000 dibandingkan tahun 1994.

Tahun 2013, Riskesdas juga menemukan bahwa 90 persen dari total kasus diabetes merupakan diabetes tipe 2, yang umumnya terjadi pada orang dewasa. Namun beberapa tahun terakhir semakin banyak ditemukan pada usia dewasa muda kurang dari 30 tahun bahkan pada anak-anak dan remaja.

Diabetes tipe 1 biasanya berasal dari riwayat keluarga atau keturunan, keadaan geografi dari suatu wilayah, faktor usia, dan faktor pemicu lainnya seperti mengonsumsi air yang mengandung natrium nitrat atau menderita penyakit kuning saat lahir.

Sedangkan untuk diabetes tipe 2, menurut penelitian, umumnya disebabkan oleh pilihan makanan dengan kandungan kadar gula yang tinggi—biasanya berasal dari makanan dan minuman kemasan. Namun, bisa juga disebabkan pola hidup yang tidak sehat, seperti kurang berolahraga. Selain itu, berat badan berlebih, gaya hidup tidak sehat, memiliki diabetes saat kehamilan, memiliki riwayat jantung atau stroke, dan memiliki kolesterol tinggi lebih dari 240 mg/Cl.

Baca Juga : Mengenal dan Mencegah Jantung Koroner

Gejala

Gejala yang sering ditemui pada penderita diabetes tipe 1 dan 2 biasanya si pasien kerap merasa haus, frekuensi buang air kecil meningkat, memiliki rasa lapar secara terus-menerus, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, mudah lelah, pandangan menjadi kabur, luka sulit sembuh, dan sering mengalami infeksi pada kulit, gusi, dan saluran kemih.

Pengobatan untuk diabetes tipe 1 biasanya pasien akan diberikan suntikan insulin atau menggunakan pompa insulin, makanan sehat, melakukan aktivitas fisik secara teratur, dan mengendalikan tekanan darah dan kadar kolesterol. Sedangkan untuk diabetes tipe 2, pasien bisa diberikan obat seperti metformin, sulfonylurea, pioglitazone, gliptin, agonis GLP-1, dan terapi insulin.

Yang patut diwaspadai, diabetes yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Mulai dari kerusakan mata, kerusakan syaraf, jantung, ginjal, luka tak kunjung sembuh, sampai pada disfungsi seksual.

Makanan sehat

Banyak yang beranggapan, makanan yang baik dikonsumsi penderita diabetes adalah beras merah. Padahal, masih banyak makanan lain yang enak, mengenyangkan, sekaligus aman. Berikut ini makanan yang baik bagi para penderita diabetes.

Pertama adalah jagung. Jagung mengandung serat pati resisten yang lebih sulit dicerna oleh tubuh. Sebuah studi mengemukakan, rutin makan jagung kaya pati resisten setiap hari dapat membantu mengendalikan gula darah lebih baik. Makanan berserat tinggi juga membuat Anda kenyang lebih lama. Kedua, ubi jalar. Selain mengenyangkan, ubi jalar juga bermanfaat baik untuk mengendalikan gula darah para diabetes dan mengandung vitamin A dan C.

Ketiga adalah gandum utuh karena biji-bijian utuh merupakan makanan paling sehat untuk para penderita diabetes. Keempat, sayuran berdaun hijau, seperti brokoli, bayam, sawi, bok choy, dan kubis. Sayuran berdaun hijau kaya vitamin, mineral, dan berbagai nutrisi esensial lainnya. Tak hanya itu. Sayuran hijau juga cenderung rendah kalori dan karbohidrat sehingga baik untuk mengendalikan gula darah.

Kelima, kacang-kacangan seperti almond, kenari, mete, kacang tanah, dan kacang merah. Tapi ada satu hal yang perlu diingat saat mengonsumsi kacang. Kacang merupakan makanan tinggi kalori sehingga jika mengonsumsi terlalu banyak dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Sementara berat badan yang berlebih sendiri merupakan salah satu pemicu diabetes.

Makanan lainnya yang baik bagi para penderita diabetes adalah biji chia, buah beri, buah citrus, ikan dan yogurt probiotik. Selain mengkonsumsi makanan yang ramah pada penderita diabetes, pasien juga disarankan untuk melakukan olahraga setidaknya 3–4 kali dalam seminggu untuk menjaga berat badan tetap ideal.-Heru Yulianto

Tulis Komentar

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Health

Mengenal dan Mencegah Gagal Ginjal

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok Pribadi

Jika tidak ditangani dengan benar, gagal ginjal kronis dapat mengancam jiwa. Bagaimana mencegahnya?

Gagal ginjal kronis (GGK) atau penyakit ginjal kronis (PGK) menjadi ancaman serius bagi dunia kesehatan. Hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 menunjukkan, persentase PGK masih tinggi, yaitu sebesar 3,8 persen atau meningkat 1,8 persen dari tahun 2013. Sementara itu, penelitian Global Burden of Disease (GDB) 2010 menunjukkan di tahun 1990, PGK berada di urutan ke-27 penyebab kematian dan meningkat menjadi ke-18 pada 2010.

Beban negara akibat GGK pun amat besar. Menurut BPJS Kesehatan, di tahun 2017 terdapat 3,6 juta prosedur dialisis yang menelan biaya hingga Rp 3,1 triliun—pengeluaran ketiga tertinggi setelah penyakit jantung dan kanker.

Ginjal merupakan organ yang sangat penting karena ia berfungsi menyaring darah dari sisa metabolisme tubuh dan toksin atau racun. Kepada Majalah Pajak, dokter spesialis penyakit dalam Mayapada Hospital Tangerang Ratna Juliawati menjelaskan, “Ginjal juga berfungsi untuk memproduksi urine, mengatur keseimbangan cairan tubuh, mengatur tekanan darah, sampai pada memproduksi hormon tertentu untuk merangsang pembentukan sel darah merah dan mineral tulang.”

Baca Juga: Mengenal dan Mencegah Jantung Koroner

Menurut Ratna, secara medis seseorang dapat dikatakan GGK jika ia mengalami penurunan laju filtrasi glomerulus yang menetap selama tiga bulan atau lebih. Penurunan fungsi ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari radang ginjal, infeksi ginjal, polikistik (kista di ginjal), batu ginjal, hipertensi, diabetes, hingga efek obat tertentu.

Pada stadium awal, penyakit ini tak menunjukkan gejala. Karenanya, gagal ginjal kronis disebut silent disease.

“Diam-diam”

Menurunnya fungsi ginjal dapat terjadi secara bertahap, menahun, dan bersifat permanen. Pada stadium awal, meski akan terbaca di laboratorium, penyakit ini tak menunjukkan gejala. Karenanya, ia disebut silent disease.

Tanda-tanda GGK baru muncul pada stadium lanjut, seperti badan lemas, pucat (akibat hemoglobin yang rendah), mual, muntah, nafsu makan hilang, urine sedikit dan berbusa, hingga kaki membengkak (akibat cairan yang tertimbun di dalam tubuh), dan sulit tidur.

Oleh karena itu, Dokter Ratna menyarankan masyarakat melakukan general check-up secara rutin, terutama untuk mereka yang tergolong berisiko seperti penderita hipertensi, diabetes mellitus, atau keluarga pengidap GGK.

Pada umumnya GGK tidak dapat disembuhkan, bahkan cenderung memburuk bila terlambat ditangani oleh dokter yang kompeten. Pengobatan hanya bertujuan mempertahankan fungsi ginjal yang tersisa supaya terhindar dari risiko dialisis. Selain itu, pengobatan pada GGK juga berfungsi untuk mengobati komplikasi yang timbul akibat penurunan fungsi ginjal seperti anemia, hipertensi, penyakit jantung, osteoporosis, hingga gangguan elektrolit.

Pengobatan yang biasa dijalankan pasien GGK meliputi pemberian obat-obatan pada stadium awal. Sedangkan pada gagal ginjal stadium akhir, diperlukan terapi pengganti ginjal yaitu cuci darah atau dialisis yang meliputi hemodialysis dan peritoneal dialysis. Selain dialisis, pilihan pengobatan terbaik adalah dengan melakukan transplantasi ginjal.

Baca Juga: Sehatlah, dengan Puasa Bernalar

Mencegah lebih baik

Kesemua cara pengobatan di atas membutuhkan biaya yang besar. Maka, mencegah terjadinya gagal ginjal adalah tindakan yang tepat. Dokter Ratna menegaskan, gaya hidup sehat adalah solusi tepat untuk mencegah terjadinya penyakit.

“Gaya hidup sehat yang dimaksud adalah olahraga teratur, menjaga berat badan ideal, tidak mengonsumsi obat-obatan yang dapat merusak ginjal, dan yang terpenting adalah minum air putih secara cukup,” tegasnya.

Kepada penderita hipertensi dan diabetes, Dokter Ratna menyarankan mereka menjaga tekanan darah, gula darah, berat badan, dan memeriksakan kesehatan secara teratur. Sedangkan untuk pasien GGK, Dokter Ratna berpesan agar mereka menyesuaikan makanan dan minuman yang mereka konsumsi agar sesuai dengan stadium GGK. Bila perlu, berkonsultasi dengan dokter gizi.

“Pada umumnya pasien harus membatasi asupan protein. Makanan, dan minuman yang mengandung kalium dan fosfat yang tinggi,” pungkasnya.

Baca Juga: Si Langka Penyerang Balita

Lanjut baca

Health

Sehatlah, dengan Puasa Bernalar

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Istimewa

 

Puasa bukan cuma urusan menahan lapar. Ia adalah momen untuk hidup lebih sehat—asalkan dilakukan dengan benar.

 

Puasa Ramadan tahun ini menjadi berbeda dari puasa sebelumnya karena harus dijalankan saat dunia sedang berperang melawan wabah COVID-19 alias virus korona. Pemerintah Indonesia menerapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengharuskan warganya membatasi kegiatan di luar rumah untuk memutus penyebaran virus. Lantas, bagaimana menjalankan puasa yang baik di musim pandemi?

Dokter dan ahli gizi dr. Tan Shot Yen mengamini bahwa puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus saja. Lebih dari itu, puasa adalah momen untuk membuat badan menjadi lebih sehat dengan cara menghentikan asupan makanan yang tidak baik, sembari melanjutkan konsumsi makanan yang baik bagi tubuh.

“Puasa itu mengajarkan kita untuk getting aware. Jadi, dengan kata lain, dengan puasa kita disadarkan, mana yang hak, mana yang batil. Diharapkan dengan puasa itu kita ngeh dengan apa yang kita makan,” ungkapnya.

Bikin awet muda

Puasa, menurut dokter Tan juga dapat membuat seseorang lebih awet muda. Sebab, pada dasarnya, saat berpuasa tubuh mengalami restriksi kalori atau pengurangan kalori.

“Untuk sajian inti, pilih karbohidrat nonrafinasi seperti nasi merah, ubi, jagung, singkong, kentang, kimpul, ganyong, dan lain-lain yang banyak di negeri kita.”

Pengurangan kalori akan mengaktifkan gen sirtuin yang terdapat dalam mitokondria. Mitokondria adalah organel (bagian di dalam sel yang berfungsi sebagai organ) tempat berlangsungnya fungsi pernapasan sel makhluk hidup dan fungsi seluler lain, seperti metabolisme asam lemak dan penghasil energi.

Nah, sirtuin akan membuat mitokondria bekerja lebih efektif sehingga memungkinkan terjadinya perbaikan DNA dan mempertahankan telomere (bagian paling ujung dari DNA).

“Dengan adanya aktivasi dari gen sirtuin ini, maka kita bisa mencegah perpendekan telomere itu. Dengan catatan, puasanya itu puasa yang mempunyai nalar dan makan makanan yang benar,” tambahnya.

Cek isi piring

Dari segi kesehatan, barangkali sahur adalah hal pertama yang wajib diperhatikan pelaku puasa. Dokter Tan mengungkapkan, alangkah baiknya jika sahur dilakukan dengan benar dan bermutu, karena setelahnya tubuh akan menjalankan puasa selama 12 hingga 13 jam. Sementara, kita ingin tetap bugar agar bisa beraktivitas normal. Maka, anjuran pemerintah melalui kampanye Isi Piringku bisa menjadi rujukan sehat dalam menentukan porsi makanan.

Isi Piringku adalah anjuran untuk mengisi piring dengan komposisi sebagai berikut. Sayur: 2/3 dari ½ piring, buah: 1/3 dari ½ piring, makanan pokok 2/3 dari ½ piring, dan lauk pauk 1/3 dari ½ piring.

Konsumsi sayur dan buah, lebih-lebih di masa pandemi, sangat baik bagi tubuh. Sebab, sayur dan buah kaya serat. “Serat itu ada yang namanya serat larut dan tidak larut. Serat yang tidak larut ini kalau sampai ke usus besar akan menjadi prebiotik yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh,” ungkapnya.

Untuk berbuka, dokter Tan menganjurkan konsumsi air dan makanan pembuka seperti kurma untuk membangunkan pencernaan setelah seharian berpuasa. Untuk lebih variasi, es kelapa tanpa gula, siomay bumbu kacang, otak-otak bumbu kacang, dan lumpia basah isi sayur juga bisa menjadi makanan pembuka atau takjil.

Setelah bertakjil dan salat magrib, barulah tiba saatnya untuk menyantap sajian inti, yaitu separuh piring karbohidrat dan lauk pauk, separuhnya lagi sayur dan buah. Oh, iya, penting diingat, pilihlah karbohidrat nonrafinasi seperti nasi merah, ubi, jagung, singkong, kentang, kimpul, ganyong, dan lain-lain yang banyak di negeri kita.

Untuk menjaga kebugaran, lakukan olahraga ringan di rumah, sesudah berbuka puasa atau setelah salat tarawih. “Kita bisa buka di YouTube bagaimana cara kerja yoga sederhana, pilates sederhana, plank, crunch. So, aku rasa itu perlu banget. Jadi, badan kita puasa tapi enggak rentek,” ujarnya.

Menu sehat

Nah, ini bagian agak susahnya, yaitu untuk mewujudkan makanan yang sehat dan berkualitas, ternyata perlu rencana baik. Salah satunya, membuat rencana menu sepekan. Untuk itu, lebih dahulu kita harus menentukan bahan utama yang akan digunakan dalam sepekan. Kedua, diskusikan dengan semua anggota keluarga akan dimasak seperti apa agar masakan bervariatif. Ketiga, barulah belanja untuk kebutuhan sepekan.

Semua bahan makanan yang kita beli dari pasar maupun via pesanan daring jangan langsung kita masukkan ke kulkas. Lakukan persiapan seakan-akan kita mulai memasak, yakni mulai dengan cuci tangan, memilah bahan makanan, memotong ayam, membersihkan ikan, dan memotong sayur kecil-kecil. Masukkan bahan makanan tadi ke wadah-wadah yang sudah disiapkan. Setelah itu, barulah masukkan bahan ke dalam kulkas.

Bahan makanan yang sudah siap itu dimasak pada siang hari atau menjelang berbuka, sedangkan sisanya bisa dimakan saat sahur. “Jadi, sahur adalah lauknya sisa dari tadi malam. Jadi, enggak masalah diangetin,” jelasnya.

 

Lanjut baca

Health

Mengenal Parkinson dan Terapinya

Heru Yulianto

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Dok Pribadi

Selain menggunakan terapi obat pengganti dopamin, pengobatan Parkinson juga dapat dilakukan dengan bedah “deep brain stimulation”.

Anggota tubuh Anda sering mengalami tremor atau gemetaran yang tidak terkontrol? Atau kehilangan refleks atau bahkan keseimbangan tubuh menurun? Hati-hati, bisa jadi itu gejala parkinson.

Penyakit parkinson ditemukan pertama kali oleh James Parkinson pada 1817. Menurut hasil penelitian, penyakit ini rata-rata dialami sekitar 10 hingga 25 orang dari setiap 10.000 orang. Petinju legendaris Muhammad Ali dan aktor Hollywood Michael J Fox pun mengidap penyakit ini.

Parkinson adalah salah satu penyakit degeneratif pada otak, yaitu terjadi penurunan fungsi otak yang mengatur dan memperhalus gerakan otot sehingga timbul gangguan pada gerakan otot. Dokter spesialis bedah syaraf Mayapada Hospital Bogor Muhammad Agus Aulia mengungkapkan, gejala utama penyakit ini adalah rigiditas (kekakuan), tremor, dan bradikinesia (gerakan yang lamban).

Baca Juga: Komunitas Rehabilitasi Jantung (KRJ) Jakarta Heart Center (JHC)

“Pada dasarnya, parkinson terjadi karena penurunan fungsi bagian otak yang dinamakan substansia nigra, berupa penghasil dopamin, sehingga dopamin yang dibutuhkan dalam proses gerakan otot menjadi berkurang,” ungkapnya kepada Majalah Pajak. Ia menambahkan, sebab primer terjadinya parkinson masih belum diketahui. Namun, beberapa kasus—biasanya disebut dengan parkinson sekunder—disebabkan oleh trauma kepala, stroke, tumor otak ataupun infeksi otak.

Selain gejala utama, biasanya parkinson juga disertai gejala lain seperti gangguan keseimbangan, gangguan kognisi dan depresi. Pada parkinson berat, pasien tidak dapat bergerak bebas dan hanya bisa tirah baring. “Jika kondisi ini dibiarkan lama, dikhawatirkan dapat menyebabkan komplikasi berupa infeksi paru dan timbul luka decubitus, yaitu luka karena tirah baring terlalu lama,” kata Dokter Agus.

Diagnosis

Secara statistik, parkinson didominasi oleh kaum pria. Beberapa teori mengatakan bahwa adanya estrogen pada wanita memberi efek protektif dari parkinson. Teori lain menduga karena kejadian cedera kepala ringan lebih banyak pada pria, dan ada beberapa teori genetika. Namun, teori itu belum terbukti.

Parkinson banyak dijumpai pada pasien usia di atas 50 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat dialami pada usia muda karena gaya hidup. Selain itu, jika dalam keluarga ada riwayat parkinson, maka risiko untuk menderita parkinson bisa meningkat menjadi 2–5 persen.

“Secara statistik, parkinson didominasi oleh kaum pria.”

Dalam mendiagnosis parkinson biasanya dokter akan melihat gejala dan tanda klinis utama dan dievaluasi selama beberapa waktu. Pemeriksaan penunjang lainnya berupa dilakukan magnetic resonance imaging (MRI) otak untuk mengetahui apakah ada kelainan lain pada otak yang bisa menyebabkan parkinson seperti adanya stroke, cedera otak, maupun tumor.

Baca Juga: Luncurkan Antivirus Corona, Mentan: Insyaallah Berhasil

“Beberapa alat penunjang canggih seperti Functional MRI atau MR-Spectroscopy juga dapat dilakukan pada kasus-kasus parkinson yang meragukan,” jelasnya.

Setelah dilakukan diagnosis biasanya pasien akan diberikan terapi. Terapi utama ialah obat pengganti dopamin. Jenisnya banyak dan terkadang dikombinasikan dengan obat parkinson lain untuk mencapai perbaikan klinis yang baik dengan efek samping obat paling minimal. Namun, seiring perkembangan penyakit, obat menjadi kurang efektif dan terjadi efek samping obat dari ringan sampai berat. Pada kondisi seperti ini tindakan bedah dapat menjadi pilihan.

DBS

Tindakan bedah dilakukan pada pasien parkinson jika terapi obat berjalan tidak maksimal. Tindakan yang dilakukan berupa implantasi DBS (deep brain stimulation), secara medis terbukti efektif dapat memperbaiki klinis (rigiditas, tremor dan bradikinesia) sehingga dapat memperbaiki kualitas hidupnya.

DBS ialah melakukan operasi penanaman (implantasi) alat stimulasi otak. Alat ini dapat menghasilkan stimulus listrik yang teratur dan terkendali, kemudian mengalirkan listrik melalui kabel kecil yang ditanam menuju ke bagian tertentu di otak. Ada beberapa titik di otak yang menjadi target stimulasi listrik, seperti di subthalamic nuclei, globus palidus internus, maupun di thalamus.

“Memberikan stimulasi listrik yang kontinu dan terkendali dapat memperbaiki sirkuit gerakan pada otak, sehingga gerakan otot dapat kembali atau mendekati normal. Efeknya rigiditas, tremor dan bradikinesia dapat berkurang hingga hilang, penderita dapat kembali beraktivitas normal dan memperbaiki kualitas hidupnya,” ujar Dokter Agus.

Stimulasi pada DBS yang sudah ditanam (implantasi), dapat disesuaikan dengan berat ringannya gejala klinis parkinson. Seiring berjalannya usia, biasanya juga disertai gejala klinis yang memberat. Keuntungan dengan DBS adalah stimulasi listriknya bisa diatur. Sehingga bila gejala klinisnya memberat, stimulasi listriknya dapat ditambah dan disesuaikan sehingga membaik kembali dengan efek samping minimal. Pada beberapa kasus penderita parkinson yang di tanam DBS, dosis obat parkinson yang selama ini di konsumsi, dapat dikurangi, sehingga dapat mengurangi efek samping obat.

Baca Juga: Memilih Asuransi Kesehatan

Selain DBS, tindakan bedah lain untuk parkinson menurut Dokter Agus adalah brain lesioning. Bedah ini dilakukan jika DBS tidak memungkinkan untuk dilakukan. Pada prinsipnya secara teknis operasi brain lesioning ini sama dengan DBS yakni dengan menggunakan alat stereotaktik, yaitu untuk menentukan titik target di otak (globus palidus, thalamus atau nucleus subthalamic). Kelebihan tindakan bedah ini dibanding dengan cara DBS, yakni tidak ada alat yang ditanam. Namun, kelemahannya, prosedur ini bersifat permanen, sehingga bila gejala klinisnya memberat, perbaikan tak bisa lagi dilakukan.

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News6 hari lalu

10 Perusahaan Global ini Menjadi Pemungut PPN Produk Digital yang Dijual di Indonesia

Direktur Jenderal Pajak (DJP) telah menunjuk sepuluh perusahaan global yang memenuhi kriteria sebagai pemungut pajak pertambahan nilai atas barang dan...

Breaking News6 hari lalu

Modal Nabung di Himbara, UMKM Bisa Sekalian Bikin NPWP

Pemerintah akan mempermudah pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM) lewat perbankan. Ada empat perbankan...

Breaking News7 hari lalu

Penyerapan stimulus fiskal Pengaruhi Percepatan Pemulihan Ekonomi

Stabilitas sistem keuangan triwulan II 2020 normal.  serapan stimulus fiskal pengaruhi percepatan pemulihan ekonomi.   Menteri Keuangan Sri Mulyani yang...

Breaking News1 minggu lalu

FINI: Kemudahan Investasi Jadi Harapan Pelaku Usaha Industri Nikel

Pengusaha sektor pertambangan mendeklarasikan berdirinya Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta pada Rabu pagi, (5/8/2020). Forum...

Breaking News1 minggu lalu

Magnet “Tax allowance” dan Simplifikasi Aturan untuk Percepatan Investasi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerbitkan  Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.96/PMK.010/2020 untuk merevisi mekanisme pemberian tax allowance berupa fasilitas Pajak...

Breaking News1 minggu lalu

Mengintip Budaya Pertamina di Era Ahok

Sejak didapuk menjadi komisaris utama PT Pertamina (Persero) pada akhir November 2019 lalu, sepak terjang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selalu...

Breaking News1 minggu lalu

DJP: Perlu “Effort” Perusahaan Agar Insentif Pajak Bagi Karyawan Bisa Dimanfaatkan

Pengusaha mengaku kerepotan untuk melaksanakan insentif PPh Pasal 21 atau pajak gajian bagi masyarakat yang ditanggung pemerintah (DTP). Mereka menilai,...

Breaking News1 minggu lalu

Kawal Wajib Pajak Agar Tak Terjerumus Dalam Pidana Pajak

Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengadakan seminar on-line perpajakan bertajuk “Peran Konsultan...

Breaking News1 minggu lalu

Belanja Pemerintah Kunci Melepas Belenggu Resesi

Jika terjadi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) di suatu negara, pendapatan riilnya merosot tajam selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, itu merupakan...

Breaking News2 minggu lalu

Resesi Menekan Pasar Modal, Investasi Emas Jadi Pilihan

Sejak beberapa bulan terakhir, harga emas kian meroket. Pada awal Agustus ini, misalnya, harga emas batangan PT Aneka Tambang (Persero)...

Populer