Connect with us

Recollection

Dengarkan Laguku, Dendang Kepatuhan

Majalah Pajak

Diterbitkan

pada

Foto : Majalah Pajak

Lagu dangdut koplo gubahannya sempat viral di media sosial. Tema liriknya memang tentang pajak karena lewat lagu ia ingin lebih mudah mengenalkan pajak kepada masyarakat.

Sudah punya tapi belum, sekaranglah waktunya.

Sudah punya tapi belum, laporkan pajaknya.

Sudah punya NPWP, jangan lupa lapor pajaknya.

Sudah punya NPWP, Pakai e-filing aja.

Lapor pajak joss, Hey ho!

Begitulah larik syair lagu dangdut koplo berjudul “Sudah Punya Tapi Belum” yang telah diunggah di akun resmi media sosial Direktorat Jenderal Pajak (DJP), pada Jumat (28/2). Lagu ini merupakan aransemen dari tembang “Lapor Pajak Heyho” karya Pelaksana Sekretariat Direktorat Jenderal Febri Noviardi, yang viral pada tahun lalu.

Kira-kira liriknya begini: “Lapor Pajak, Hey Ho. Bisa di mana saja. Lapor pajak, hey ho. Pakai e-filing aja.” Bedanya, lagu “Lapor Pajak Hey Ho genre musiknya adalah dangdut, sedangkan lagu “Sudah Punya Tapi Belum” berjenis musik koplo atau subaliran musik dangdut dengan ciri khas irama yang cepat dari gendangnya.

Sang komponis, Febri, piawai mengawinkan lirik yang mudah diingat dan nada yang sedap untuk bergoyang. Bahkan lagu “Hey Ho Lapor Pajak” punya “goyang hey ho” yang populer pada acara sosialisasi e-filing Spectaxcular 2019. Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga seluruh yang hadir di acara itu turut berdendang.

“Saya mendukung sekali kegiatan untuk lebih memasyarakatkan e-filing. Saya berkesempatan mengikuti #GoyangHeyHo sembari mengikuti irama dari lagu Lapor Pajak Heyho. Baik lagu maupun goyang ini semuanya dibuat oleh pegawai-pegawai @ditjenpajakri @kemenkeuri,” demikian tulis Sri Mulyani lewat Instagramnya.

Ditantang

Febri tak mengira lagu dangdut perdananya dapat mudah diterima khalayak. Semua bermula saat Febri bertugas sebagai Pelaksana Subdirektorat Humas Perpajakan Direktorat P2Humas DJP tahun 2018. Ketika itu, Kepala Subdirektorat Humas Perpajakan Direktorat P2Humas DJP, Ani Natalia, memintanya membuat lagu dangdut untuk sosialisasi penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) melalui e-filing.

Tantangan itu bukan tanpa sebab. Musikalitas Febri sebenarnya sudah terbukti melalui lagu-lagu ciptaannya terdahulu, seperti “Amnesti Pajak”, “Reformasi Perpajakan”, “UMKM”, dan sebagainya. Semua lagu itu bergenre pop. Febri juga sudah dikenal sebagai pegawai yang memiliki suara ciamik.

“Saya ditantang bikin lagu dangdut. Karena enggak tahu harus ngapain, seminggu full, setiap hari saya dengerin lagu Bang Rhoma Irama—saya dengerin di kantor, di toilet, di rumah. Sampai diprotes orang rumah,” kenang Febri mengawali perbincangan dengan Majalah Pajak di Kopi Kita, Gedung B, Kantor Pusat DJP, pada Kamis Sore (13/2).

Menurut Febri, pemilihan referensi ini dikarenakan lagu ciptaan raja dangdut itu mudah diterima oleh seluruh kalangan. Terlebih, lagu gubahan Rhoma Irama juga syarat makna atau nasihat. Sebut saja, “Judi”, “Begadang”, “Darah Muda”, dan masih banyak lagi.

“Saya dengarkan lagu (Rhoma Irama) selama seminggu, memang harus ada atmosfernya dulu. Satu minggu kemudian nemu notasi dengan cara humming (senandung) ‘na-na-na, na-na-na’. Biasanya lagu pop saya pakai gitar,” kisahnya.

Setelah nada disetujui oleh P2Humas DJP, Febri melanjutkan proses penulisan lirik. Penggemar Raisa ini berusaha memilih diksi yang simpel dan repitisi agar mudah diingat pendengar. Proses penulisan lirik pun membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu.

“Setelah jadi, seperti ada yang kurang. Enggak sengaja nemu ‘Hey Ho’ sebagai gimmick aja. Eh, malah itu yang bikin seru,” syukur pria berkacamata ini.

Awal tahun 2020, Febri kembali menerima tantangan mengaransemen lagu dangdut “Lapor Pajak Hey Ho” menjadi lagu dangdut koplo. Kali ini Febri mengambil inspirasi dari lagu karya Didi Kempot. Ia bersyukur, proses pembuatan lagu koplo tahun ini hanya memakan waktu sekitar tiga hari. Lagu ini kemudian berganti judul menjadi “Sudah Punya Tapi Belum”.

“Kenapa saya enggak mau bikin baru karena masyarakat biar enggak bingung. Nanti takut terlalu banyak lagu e-filing jadi enggak nempel. Prosesnya sebentar—ganti sedikit lirik dan ubah aransemen. Pemilihan koplo, mungkin karena sedang booming,“ ungkapnya. Lagu Febri itu diputuskan berganti judul menjadi “Sudah Punya Tapi Belum”.

Sebelumnya, ia juga sudah menelurkan lagu bergenre pop berjudul “Sadar Pajak”. Proses pencarian notasi terbilang lancar. Seminggu kelar. Terlebih dalam penulisan lirik, Febri dibantu oleh Kepala Subdirektorat Penyuluhan Pajak P2Humas DJP Aan Almaidah Anwar.

“Sadar pajak, ayo kita tanamkan dari sekarang demi masa depan. Sadar pajak, untuk kejayaan untuk kita dan Indonesia. Sadar pajak dalam pendidikan,” demikian lirik refrain lagu itu.

Menurut Febri, lirik pada penutup lagu “Sadar Pajak” merupakan sumbangsih ide dari Aan Almaidah Anwar. “Cinta ada dalam doa, tanggung jawab dalam rasa, pajak ada dalam jiwa.”

“Lagu ‘Sadar Pajak’ adalah kolaborasi antara saya dan Ibu Aan. Karena lagu pop—jenis musik saya banget, saya enggak menemui kesulitan. Herannya, setiap ada tantangan membuat lagu dari kantor, saya kerjakan dengan lancar, kalau buat istri atau anak enggak bisa-bisa,” seloroh pengagum Fiersa Besari ini.

Febri mengaku tidak memiliki ritual tertentu dalam proses pembuatan lagu. Harus sembari minum kopi atau teh, misalnya. Ia hanya memanfaatkan waktu istirahat kantor maupun waktu senggang di rumah. Febri juga tidak mematok waktu khusus dalam menemukan inspirasi. “Istilahnya deadline pasti kelar, tapi bukan ngasal. Saya bersyukur setiap saya kirim (lagunya), tidak ada revisi,” kata Febri.

Gang H. Lihan

Talenta bermusik Febri lahir dari Gang H. Lihan, kawasan Jakarta Timur. Di gang depan perumahannya itu ia sering berkumpul untuk nyanyi bersama. Lagu langganan mereka adalah karya Wayang Band, seperti “Dongeng”, “Dimensi”, “Bayang”. Febri dan kawannya yang baru duduk di bangku kelas lima sekolah dasar (SD), sama-sama bermimpi menjadi pemain drum cilik Wayang Band bernama Gilang Ariestya.

“Berawal dari nyanyi-nyanyi di gang, kita patungan sewa studio musik. Semua anak gantian mau main drum. Kita sih membayangkan jadi si Gilang,” kenangnya tertawa.

Pulang ke rumah, pria kelahiran 23 November 1988 ini meminta orangtua untuk mengikuti les drum. Bapaknya, Taharuddin pun menyetujui. Lulus SD, ia justru lebih tertarik mempelajari gitar. Alasannya, harga gitar jauh lebih murah ketimbang drum. Berbekal gitar baru dari kakaknya dan music book selection (MBS), Febri mempelajari kunci gitar nyaris setiap hari.

“Pokoknya satu minggu harus menguasai satu lagu,” tekadnya kala itu.

Masuk sekolah menengah atas (SMA), Febri mulai mempelajari bas, kibor, hingga piano. Di masa ini Febri sudah mencoba membuat lagu bergenre pop. Inspirasi lagu tentu dari pengalaman percintaannya.

Menjelang lulus, ia berniat mempersembahkan lagu ciptaannya sendiri untuk ayahnya. Judulnya, “Beautiful Eyes”. Febri ingin menunjukkan bahwa ia telah mampu memainkan seluruh alat musik sendiri. Ia masih ingat liriknya, “Only a wish remains, waiting our sight to meet. Until that time comes, let my eyes looking for nothing.”

“Ceritanya mau pamer ke Bapak, ini loh perjuangan saya belajar alat musik dari kecil. Saya bisa main gitar, bas, drum—satu per satu direkam. Tapi vokalnya bukan saya, ada teman namanya Gilang,” kata bungsu dari empat bersaudara ini.

Setelah lagu jadi, Febri memberikan hasil karyanya kepada bapak dan ibunya, Illiyanti berbentuk cakram padat atau compact disc (CD). Mereka mendengarkan lagu itu bersama di ruang keluarga.

“Saya enggak peduli kamu bisa main berapa instrumen, menurut saya kamu tidak akan dianggap orang kalau kamu enggak jadi penyanyi,” kata Febri menirukan penuturan ayahnya kala itu.

Febri tertantang. Ia kemudian bertekad untuk belajar teknik menyanyi. “Wah, panas dong saya. Saya ditantang lagi nih. Dari situ saya belajar teknik pernapasan, teknik menyanyi dari YouTube sendiri. Setiap nongkrong sama teman saya nyanyi. Walaupun dicaci maki tetap PD (percaya diri),” kenangnya.

Jadi penyanyi

Saat menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Febri berjumpa dengan Oskar Mahendra sekitar tahun 2010. Kebetulan, Oskar juga hobi menyanyi maupun memainkan alat musik. Hingga akhirnya ia dan Oskar mencoba menyanyikan ulang lagu-lagu pop sekaligus mengunggahnya di YouTube.

Sekitar tahun 2011 nama Febri dan Oskar viral di media sosial. Waktu itu, lagu yang mereka nyanyikan berjudul “Risalah Hati” Dewa ditonton oleh ratusan ribu orang. Keduanya pun dibanjiri tawaran nyanyi di pelbagai acara sekolah maupun perusahaan. Kala itu, bayaran sekali manggung mencapai sekitar Rp 10 juta. Febri pun kian mantap menekuni industri tarik suara ini. Di tahun 2013, label musik ternama menggaetnya untuk membentuk duo bernama Boom 13 serta meluncurkan single berjudul “Jalan-Jalan Lagi”.

“Bapak enggak bilang apa-apa ternyata sekarang saya bisa nyanyi, mungkin gengsi. Bapak bisa melihat secinta itu saya sama musik, sejak kecil belajar musik, tapi Bapak enggak setuju kalau musik jadi sumber pendapatan. Saya minta waktu satu tahun lagi untuk membuktikan,” kata Febri.

Sembari menyelesaikan kuliah, Boom 13 tetap manggung. Kalaupun tidak ada tawaran nyanyi, Febri beberapa kali bekerja paruh waktu sebagai music director di salah satu TV swasta ternama di tanah air. Pendapatan yang tidak menentu membuatnya semakin waswas. Hingga akhirnya sekitar tahun 2014 ia memutuskan untuk mengikuti tes dan diterima sebagai pegawai DJP.

“Walaupun karier di dunia musik belum maksimal, tapi akhirnya tersalurkan dan bermanfaat untuk instansi. Tidak ada usaha yang sia-sia, di sini saya bisa membuat lagu dengan tema perpajakan. Lewat lagu saya berharap masyarakat semakin sadar pajak,” syukur Febri.-Aprilia Hariani

Recollection

Buah Manis Berkawan Tiap Hari

W Hanjarwadi

Diterbitkan

pada

Penulis:

Kesibukannya sebagai pejabat tak membuatnya lupa berbagi peduli kepada sesama dan menjaga tali persaudaraan kepada kawan masa kanak-kanaknya.

Tiada hari tanpa teman baru. Begitu kira-kira semboyan Komisaris Besar (Kombes) Polisi Ulung Sampurna Jaya dalam menjaga silaturahmi di tengah kesibukannya sebagai Kepala Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandung. Itu sebabnya, ia selalu menjaga hubungan baik kepada kawan lamanya, dan tak segan berbaur dengan masyarakat untuk mencari teman baru, terutama di wilayah kerjanya. Namun, selama kondisi Covid-19 berlangsung, kegiatan silaturahmi tatap muka langsung terpaksa dibatasi demi menegakkan protokol kesehatan.

“Saya begitu masuk ke sini (Polresta Bandung) pada Februari, seperti biasa, saya sambangi tokoh-tokoh masyarakat, para ulama, untuk menjalin silaturahmi. Saya selalu melakukan kegiatan subuh keliling. Selain mencari masukan dari masyarakat, sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat. Tapi baru berjalan beberapa kali langsung ada pandemi Covid-19,” ujar pria kelahiran Tanjung Karang, Lampung 10 Juli 1971 itu saat wawancara dengan Majalah Pajak di Bandung, Jumat (13/11/2020).

Ketika Covid-19 muncul di Indonesia awal Maret lalu, praktis konsentrasi Ulung adalah berkoordinasi dengan pemerintah daerah (kota dan provinsi) dan pemangku kepentingan lainnya untuk pencegahan penularan wabah itu. Apalagi kasus Covid-19 di Kota Bandung saat itu tergolong tinggi. Menurut Ulung, kasus kematian di Bandung karena kasus Covid-19 di awal pandemi mencapai empat hingga lima orang per hari.

Hal yang dilakukan Ulung bersama jajaran pemangku kepentingan di Bandung adalah mencegah masyarakat berkerumun, dimulai dengan buka tutup jalan, hingga berlanjut Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Mungkin saat itu satu-satunya kota besar yang bisa sepi, ya, Kota Bandung,” tutur pria yang di masa Covid-19 ini sering berpatroli bersama anak buahnya dengan menggunakan sepeda ini.

Ulung juga disiplin dalam mencegah terjadinya kerumunan massa hingga akhirnya kasus kematian dan positif pun langsung menurun drastis. Namun, seiring dengan PSBB dan penurunan ekonomi, masalah wabah pun meningkat menjadi masalah sosial, tak terkecuali di Bandung.

Menurut Ulung, saat itu angka kriminalitas meningkat, ditandai dengan banyaknya begal. Maklum, saat itu banyak perusahaan mulai melakukan pemberhentian tenaga kerja (PHK). Polresta Bandung juga mendapatkan data intelijen bahwa di Bandung berpotensi terjadi penjarahan. Ulung langsung mencari solusi. Persoalan itu menurut Ulung, timbul antara lain karena sulitnya masyarakat kalangan bawah bertahan hidup. Ia lantas menemui Komunitas Tionghoa Kota Bandung untuk berkomunikasi mengatasi situasi yang akan terjadi.

“Saya minta sepuluh ribu paket sembako waktu itu. Begitu dapat langsung kami kirim by name by address kepada masyarakat terdampak yang belum mendapat bantuan pemerintah. Babinkamtibmas dari polisi, dari TNI Angkatan Darat kami kumpulin untuk membagikan langsung dengan naik motor dan sebagainya. Akhirnya, bisa teratasi,” kata lulusan Akademi Kepolisian tahun 1995 ini.

Ulung pun tak lupa memerhatikan anak buahnya yang bertugas di lapangan. Ia memastikan, semua personel yang menjadi garda terdepan di lapangan mendapatkan bantuan obat-obatan dari pemerintah.

Nostalgia

Ulung meyakini, kemudahan mendapatkan bantuan dari komunitas Tionghoa itu adalah buah manis silaturahmi dengan semua unsur masyarakat yang ia jaga di mana pun ia berada.

Sore itu, di sela-sela tugas rutinnya memimpin kegiatan jajarannya di Polresta Bandung di masa transisi PSBB, Ulung menyempatkan diri mengumpulkan sekitar tiga puluh orang kawan-kawan masa kecilnya ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar di Lampung. Ada yang kini sudah berprofesi dokter, pengusaha, profesional, ibu rumah tangga, bahkan ada yang bekerja sebagai satpam. Hari itu rencananya mereka hendak menghabiskan akhir pekan bersama. Tentu saja tanpa mengabaikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Beberapa hari sebelum rencana reuni itu, mereka melakukan tes usap terlebih dahulu.

“Ini teman-teman SD saya, enam tahun dan sekelas terus. Begitu kita bisa melek, ya teman-teman ini yang bersama saya. Enggak ada orang lain kecuali mereka selama enam tahun. Sekarang kami, kan, mau mencapai umur lima puluh tahun. Kami sepakat membuat suatu ikatan dengan moto saling mendukung dan saling menguatkan,” tutur Ulung.

Moto itu diterjemahkan dengan saling menjaga silaturahmi dan mengenalkan anggota keluarga masing-masing. “Misalnya nanti ada menikahkan anaknya, itu pasti kami sebagai teman saling memberikan support,” imbuhnya.

“Pak Ulung justru yang berinisiatif merangkul teman-teman untuk selalu menjaga silaturahmi. Tidak memilih-milih, apa pun latar belakang mereka saat ini. Itu yang membuat kami terharu,” tutur Novi, salah satu teman SD Ulung yang saat itu juga menghadiri reuni.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Kapolres, di Bandung, Ulung juga mencurahkan perhatiannya bagi pendidikan anak-anak kurang mampu. Di antaranya dengan mendirikan taman baca bagi anak-anak tak mampu, lengkap dengan perangkat komputer dan jaringan internet agar mereka semakin nyaman dalam belajar.

Kebiasaan menjalin silaturahmi dan peduli terhadap sesama juga ditunjukkan Ulung saat masih menjabat Kapolresta di Kota Bogor tahun 2018 hingga 2019 lalu. Di daerah Cilendek, Bogor Barat, misalnya, Ulung dan jajarannya bekerja sama dengan Yayasan Buka Mata memberi perhatian khusus terhadap sekitar dua ratus anak-anak tak mampu. Yayasan ini memberikan bantuan pendidikan mulai dari mendirikan taman baca, santunan biaya pendidikan, hingga menyediakan alat-alat sekolah.

“Tujuan kami adalah supaya anak-anak bisa mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik dan pemeliharaan keamanan ketertiban masyarakat,” tutur Ulung.

Bagi Ulung, akses pendidikan adalah solusi utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan meningkatnya kesejahteraan diharapkan akan menurunkan angka kriminalitas.

Lanjut baca

Recollection

Tak Ingin Kaya Sendiri

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Melepas status PNS setelah dua dasawarsa bekerja di Kementerian Keuangan, Ngadiman mengembangkan ekosistem pariwisata lokal untuk kesejahteraan warga setempat.

Bebatuan cokelat keemasan berukuran sekepal tangan disusun membentuk busur di setiap sisi tengah dinding kamar hotel Loccal Collection Laboan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Bebatuan itu tak sengaja ditemukan di area lahan pembangunan hotel. Pintu, jendela, dan furnitur pun terbuat dari kayu jati dan mahoni yang dibeli dari warga sekitar. Hotel bergaya minimalis tropis bintang empat ini siap melayani para darma kelana mulai November 2020.

Begitulah cuplikan video yang diperlihatkan sang empunya hotel sekaligus Ketua Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) Ngadiman, kepada Majalah Pajak, di Kantornya, Kawasan Jakarta Selatan, pada pertengahan Oktober lalu.

“Enggak boleh kita kaya sendiri, sedangkan orang di lingkungan usaha itu miskin. Pengusaha harus memanfaatkan bahan-bahan lokal yang ada,” kata pria yang karib dipanggil Adi ini. Tak hanya itu, menu lokal juga kudu menjadi andalan menu di semua hotelnya. Pegawai pun diutamakan berasal dari wilayah setempat.

Ya, Loccal Collection Laboan Bajo bukan hotel satu-satunya Adi. Ia sudah memiliki beberapa hotel di Indonesia yaitu, DMax Hotel and Convention Lombok, Koa D Surfer Berawa Bali, D Hotel Jakarta, dan Grand Nanggroe di Nanggroe Aceh Darrusalam (NAD). Seluruh hotelnya menerapkan filosofi yang seirama.

“Saya mau mengembangkan local culture, culinary, society, meterial, human resources. Everything about local. Bahan makanan juga yang biasa impor, saya ganti lokal, lebih efisien. Nelayan sekitar hotel saya katakan, ‘Bapak, jangan jual ikan pada tengkulak, saya langganan beli dengan harga bagus.’”

Ekosistem pariwisata

Selain memberi peluang, penggunaan material serbalokal bermuara pada tarif kamar yang lebih murah. Pola ini akan membangun ekosistem wisata lokal yang lebih kompetitif. Selain itu, ia berpandangan, seyogianya pemerintah berani memberi subsidi besar kepada maskapai penerbangan dalam negeri supaya pariwisata lokal semakin diminati.

“Kita enggak boleh menyalahkan negara lain murah (tiket pesawat),” kata Adi. “Yang harus dibenahi internal. Kadang mereka promo karena ada subsidi dari pemerintah atau dari airlines memang membuang-buang tiket agar ekonomi tumbuh. Kalau orang datang, akan belanja, makan, atau beli oleh-oleh. Lalu, hotel lebih murah karena pengusaha memanfaatkan bahan-bahan lokal yang ada.”

Upaya lain untuk mendorong wisata lokal adalah merampingkan dan mempermudah izin. Adi menyebut, untuk mendirikan sebuah hotel, investor harus mengurus sekitar 150 izin. Celakanya, banyak izin hanya berlaku enam bulan atau satu tahun saja. Ini berbeda dengan Thailand dan Vietnam, misalnya, yang memberikan izin untuk sepuluh tahun atau bahkan seumur hidup. “Setiap kali kita perpanjang, kan, duit,” kata Adi.

Untuk itu, Adi mengapresiasi Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang menjanjikan kemudahan perizinan. Ia juga berharap regulasi teranyar ini dapat meningkatkan kualitas sekaligus mampu melindungi pekerja secara adil. Jika semua dilakukan, Adi optimistis sektor pariwisata akan lebih cepat bangkit di tengah pandemi. Oleh karenanya, ia tetap melanjutkan pembangunan hotelnya di Labuan Bajo tahun 2020 ini.

Adi yakin, ada hikmah di balik musibah. Toh, hotel pertamanya di Aceh dibangun beberapa bulan pascatsunami 2006. Kala itu Adi dan tiga investor lainnya berharap hotel mereka dapat menjadi pemantik kebangkitan rakyat Aceh.

“Setelah tsunami Aceh, hotel habis, kita bangun dan berdayakan warga sekitar. Ibu-ibu kita undang untuk masak, kita kasih seragam, diajarkan kebersihan (mengolahnya). Wisatawan sangat suka,” ujar Adi.

Di bawah kepemimpinannya, Asparnas menjalin sinergi dengan Badan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan untuk menyusun penerapan sistem digitalisasi bisnis berbasis pandemi. Maksudnya, protokol kesehatan tidak hanya mematuhi 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak,) tetapi juga memanfaatkan teknologi, seperti CCTV, termo scanner, face recognition, dan sebagainya.

Ekosistem pariwisata berbasis teknologi juga dituangkan ke dalam aplikasi rancangannya yang bernama cGO. Di aplikasi ini para wisatawan dapat memilih jasa pemandu wisata atau fotografer secara mudah dan tepercaya.

“Buka cGO, masuk pilihan wisata, pilih vitur tour guide, pilih laki atau perempuan, bahasa, bersertifikat atau tidak, punya kendaraan atau enggak,” urainya.

Amtenar

Ketertarikan Adi di industri pelancongan berawal saat ia masih berstatus amtenar alias pegawai negeri sipil (PNS) di Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kementerian Keuangan. Penugasan ke pelbagai penjuru tanah air maupun luar negeri membuat Adi terpikat dengan panorama, budaya, dan kuliner setiap daerah.

“Kesimpulan saya Indonesia paling cakep, kita punya segalanya. Lu mau bicara apa? Bicara pantai, pantai kita terpanjang nomor dua, nomor satunya Kanada. Tapi, Kanada pantainya tidak sebagus kita,” kata pria yang pernah bertugas sebagai Ketua Tim Audit Kantor Pemeriksa Pajak (Karikpa) Bengkulu (2002–2006) ini.

Panggilan jiwa untuk mengembangkan bisnis pariwisata pun tak terbendung lagi. Hingga akhirnya ia berani mengembangkan hotel seraya mengajukan pengunduran diri. Ia purnabakti ketika menjabat sebagai Kepala Bidang Penerimaan Negara tahun 2007.

“Saya memutuskan keluar dari DJP karena saya sudah punya usaha, kenapa? Karena saya takut terjadi konflik. Saya memilih jadi pengusaha karena saya sudah 18 tahun berbakti di DJP, di Kemenkeu. Saya merasa lebih cocok mengembangkan diri di luar. Jadi, pengusaha saya bisa membuka lapangan kerja. Sama-sama berbakti, hanya beda tempat saja,” kata pria yang pernah juga berbisnis di bidang automotif ini.

Pedagang cilik

Keputusannya itu barangkali dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilnya. Sejak kecil Adi sudah lihai berdagang di toko milik ayahnya, Sudiaman. Di usia sekitar 10 tahun, ia mampu merayu pelanggan untuk membeli kain. “Ibu-ibu suka sama saya karena mungkin aneh, masih kecil nawarin kain,” kata Adi tertawa.

Namun, memasuki sekolah menengah pertama Adi turut merasakan kebangkrutan bisnis orangtuanya. Bahkan Adi sampai tak mampu membayar uang masuk sekolah. Ia menghadap kepala sekolah seorang diri untuk meminta keringanan biaya.

Singkat kisah, Adi sekeluarga hijrah ke Ciledug, Jakarta Selatan. Di sana, Ayahnya memulai bisnis bahan bangunan. Etos kerja yang tinggi kedua orangtuanya menjadi cambuk bagi Adi ketika di fase itu.

“Waktu keluarga saya mulai dari nol, orangtua mengatakan pada saya, ‘Tidak ada harapan bagi kamu untuk maju kalau bukan dari sekolah,’” kata pria kelahiran 19 November 1970 ini bernostalgia.

Kerja keras

Keterbatasan biaya jua yang memaksa Adi mendaftar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN—kini PKN STAN) di tahun 1988. Selain gratis, alumnus dijamin bekerja di kementerian atau lembaga. Seiring berjalannya waktu, hasrat untuk menimba ilmu hukum tak tertahan. Sembari menempuh pendidikan di STAN, Adi kuliah di Fakultas Hukum, Prodi Hukum Bisnis, Universitas Indonesia (UI).

“Waktu mahasiswa, teman saya bilang, ‘Adi tidak pernah tidur kalau besok ujian.’ Saya belajar dari siang sampai pagi. Melihat teman, saya tidur, iri,” kenangnya.

Kendati sulit, Adi tetap menjalani semua dengan kerja keras. Ia yakin, di dunia ini tak ada yang sia-sia. Buah kerja kerasnya mengantar Adi menjadi seorang pengusaha, dosen, pengacara, konsultan pajak, dan sebagainya.

“Kita berbuat sesuatu enggak bisa langsung kun fayakun, semua ada prosesnya. Terpenting terus belajar,” tutup pria yang baru saja merampungkan perkuliahan singkat bidang Data Analisis di Universitas Cambridge pada Mei 2020 lalu.

Lanjut baca

Recollection

Gelombang Nikmat si ‘Nyawa Rangkap’

Aprilia Hariani K

Diterbitkan

pada

Foto: Rivan Fazry

Auditor sekaligus novelis ini memilih jalan bahagia untuk menjalani masa isolasi Covid-19. Di ruang sunyi nan beku itu ia hidup kembali dan mengukir kisahnya dalam sebuah buku.

 

Ruang senyap itu terasa lebih menyekap saat malam datang. Sekujur tubuh kaku bak berada di kulkas raksasa berdinding bata. Kerap kali ia menyelingkup di balik selimut agar jemarinya lebih luwes menulis status Facebook (FB).

“Dinginnya tidak manusiawi, tetapi kulkaswi.” Demikian Dedhi Suharto mengenang sekelumit dari tiga pekan masa isolasinya di Ruang 105 Kaca Piring, Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG), Cisarua, Bogor. Pria yang menjabat sebagai Auditor Madya Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan ini dinyatakan positif Covid-19 pada 6 Agustus 2020.

Namun, yang perlu digarisbawahi perawatan setiap pasien korona berbeda-beda, tergantung penyakit yang diderita. Kebetulan, Dedhi terdiagnosis hipoksia atau kurangnya oksigen dalam sel dan jaringan tubuh. Ia merasakan lemas saja saat itu. Untuk gejala hipoksia pasien perlu berada dalam ruang inap bertekanan negatif sebagai salah satu upaya penyembuhan.

“Saya mengalami hipoksia sampai drop 64 persen, bahkan pernah juga 55,8 persen. Menurut teorinya saya sudah mati. Jadi, saya ini orang yang hidup kembali. Untuk kasus yang seberat itu treatment-nya begitu. Jadi, kamar yang saya bilang kulkaswi ini diatur dengan tekanan negatif agar dapat menyerap infeksi,” ungkap Dedhi kepada Majalah Pajak, pada Rabu Petang (21/9).

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Ia menjelaskan, hipoksia terjadi bila kadar oksigen dalam arteri di bawah 90 persen, sementara ambang batas aman terbawah di angka 65 persen. Penjelasan ini ia dapat dari sahabatnya yang dokter.

“Namun, beberapa rekan hipoksia di angka 80-an sudah ada yang meninggal. Di Banyumas ada tiga orang yang meninggal ketika hipoksia pada angka 75 persen. Saya alami 55,8 persen tetapi masih bisa bertahan hidup itu sebuah keajaiban. Di Near Death Experience Sharing 30 Agustus saya disebut memiliki nyawa rangkap dua oleh host-nya.”

Pilih bahagia

Awalnya, tentu tidak mudah bagi Dedhi menerima takdir. Rasa khawatir, kecewa, dingin dan sunyinya ruang isolasi bercampur jadi satu. Kepiluan semakin bertambah tatkala istri dan anaknya juga dinyatakan positif Covid-19. Syukurnya, mereka hanya menjalani isolasi di rumah karantina yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor di kawasan Kemang. Hingga Dedhi tersadar, ia harus bahagia serta tetap bersyukur dalam menghadapi segala ketetapan ilahi.

“Tidak mudah menerima karena saya merasa saya sudah waspada Covid-19. Segala protokol kesehatan sudah dijalankan. Ketika saya masuk RSPG Cisarua saya sudah mulai menulis tiga paragraf berisi kabar dan doa ke grup-grup (WhatsApp). Buat saya penting agar semangat dan meningkatkan imunitas. Tulisan pertama kali itu berjudul Syukur atas syukur.” Sepenggal isinya, “dan sekarang aku menerima penuh syukur isolasi yang kujalani. Barusan ahli paru, opek, sahabatku yang kerja di RS Paru Cisarua bilang, ‘harusnya kamu kena sejak sebulan lalu, Dedh. Tapi ok, lawan.’”

Gubahan itu ternyata menjadi bahan bakar semangatnya dalam menjalani isolasi dengan bahagia di hari-hari berikutnya. Ia bertekad, menuliskan semua proses penyembuhannya. Toh, memang menulis adalah separuh napasnya. Dedhi sudah menelurkan tujuh buku, empat di antaranya adalah novel, yang antara lain berjudul Allah itu Dekat dan Pusaran Tawaf Cinta.

Baca Juga: Kesadaran Masyarakat Membuat Angka Kasus Baru Covid-19 Kian Turun

“Di ruangan isolasi saya harus menghadapi manajemen stres yang luar biasa. Pokoknya saya enggak boleh sedih. Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih hati bahagia dalam menghadapi Covid-19.”

Hari isolasi berikutnya rasa bahagia semakin membuncah. Nikmat ini dilukiskan dalam gawainya berupa coretan berjudul Hati yang Bahagia. Isinya tentang pengalamannya sekamar dengan dua pasien lain di ruang 205 Kaca Piring— ruang sebelum dimasukkan ke kamar superdingin. Salah satu dari mereka mengalami batuk yang cukup kronis.

Saya harus bahagia dengan menekuni apa yang saya cintai, yaitu menulis. Saya menerima takdir saya dan strategi saya memilih untuk bahagia.

“Kalau berpegang pada Pak Musthopa bahwa kedua paru-paruku sudah dipenuhi kuman-kuman, ya, wajar kalau aku ditempatkan dengan dua pasien yang benar-benar secara fisik tampak sebagai penyandang penyakit paru-paru karena mereka satunya sering batuk dan satunya sering berdahak. Sedangkan aku tidak. Terus terang aku agak galau,” tulis Dedhi yang kemudian dibagikan ke akun FB-nya.

Syahdan, ia ditempatkan seorang diri di kamar 105 kaca piring. Ia tetap istikamah. Dedhi curahkankan semua rasa dan pengalaman itu lewat frasa. Bahkan satu hari Dedhi mampu menulis empat sampai tujuh tema dalam dinding media sosialnya. Beberapa sajak juga ia ciptakan di balik selimutnya, di antaranya adalah puisi berjudul “Jiwa Merdeka”.

Singkat kisah, di hari ke-20 masa isolasi atau tepat tanggal 23 Agustus 2020, kondisinya semakin membaik. Ia sudah bisa tidur nyenyak lima sampai enam jam per hari. Saking lelapnya, ia mendapat bunga mimpi berjumpa dengan atasannya Rina Robiati dan rekan kerjanya Suharso di kantornya. Sekitar tengah malam ia terbangun dan menuliskan mimpinya itu ke media sosial. Ya, segala kondisi yang dirasakan ia bagikan ke khalayak. Beberapa tema tulisan lainnya meliputi kenikmatan makanan, kenikmatan doa, kenikmatan sastra, dan sebagainya.

Unggahannya dibanjiri respons dari para sahabatnya. Ada yang mendoakan, bertanya kondisi, hingga beberapa menyarankan Dedhi untuk menulis novel.

“Saat saya posting di FB, semua mengusulkan untuk menulis novel lagi tentang kondisi saya. Padahal lagi sakit, tapi itu yang menyemangati saya. Kena Covid-19 berat ini saya belum tahu akan happy ending atau meninggal. Kalau saya sembuh saya akan menulis buku.”

Gelombang nikmat

Tepat pada 24 Agustus 2020, Dedhi diperbolehkan pulang ke rumah setelah dua kali hasil uji usapnya (swab) negatif. Akan tetapi, dokter menyarankannya untuk melakukan karantina mandiri karena kasus Dedhi terbilang berat.

“Bayangkan saya sudah lama isolasi di rumah sakit, sekarang disuruh karantina mandiri lagi, ya sudah saya manfaatkan untuk menulis buku. Ketika saya sembuh, saya seperti ada tanggung jawab moral untuk menulis buku.”

Hari pertama di rumah ia langsung mengumpulkan tulisannya di FB. Dedhi juga menghubungi dokter untuk dimintai penjelasan mengenai penyakitnya secara komprehensif. Menariknya, Dedhi menulis subjudul untuk perawat dan juru masak di RSPG Cisarua. Judulnya: Para Profesional Mulia dan Jiwa Penuh Kebajikan.

Baca Juga: Ini Kebiasaan Baru Masyarakat di Masa Pandemi

“Saya ingin mengangkat pembahasan jiwa kebajikan dari para juru masak yang sudah menghidangkan makanan maknyus sampai membuat saya menangis. Padahal, saya tidak gampang menangis. Makanannya sederhana: nasi, ayam goreng, sayur bening, susu kedelai, tapi terasa lezat di lidah saya.”

Selama 14 hari di rumah Dedhi mampu merampungkan novel berjudul Gelombang Cinta dan Nikmat Sang Penyintas Badai Covid 19. Penulis Qur’anic Intelligence Quotient ini meyakini bahwa segala ketetapan ilahi adalah hamparan karunia tiada batas. Nyaris 400 novel ini ludes dalam jangka waktu kurang dari dua pekan. “Suatu keajaiban,” sebutnya.

Perpustakaan sekolah

Kegemarannya pada menulis barangkali bermula ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Keputran V Pekalongan. Saat jam istirahat, Dedhi cilik memilih pergi ke perpustakaan sekolah lantaran uang saku yang kurang atau terkadang tidak ada. Dari situ ia mulai mengenal pelbagai buku sastra, khususnya sajak. Minat bacanya semakin menggebu ketika ayahnya langganan surat kabar Suara Merdeka. Di waktu senggang, pria kelahiran Pekalongan, 10 Agustus 2020 ini pun kerap mengunjungi perpustakaan penyewa buku yang tak jauh dari rumahnya.

“Meskipun saya dilahirkan dalam kondisi yang kurang berada dan di rumah enggak ada budaya baca tapi kami suka mengikuti informasi. Ibu saya suka mendengarkan radio dan bapak baca koran,” kenangnya.

Fase gemar membacanya berlanjut pada hobi menulis. Di lingkungan sekolah, Dedhi sudah tersohor sebagai penulis cilik. Hingga suatu hari, kawannya berkata, “Tulisanmu mirip dengan buku Lima Sekawan.

Dedhi yang sebelumnya tak mengetahui buku karya Enid Blyton itu pun langsung meminjamnya. “Karena tulisan saya tentang petualangan mungkin seperti mirip dan begitu baca Lima Sekawan saya jadi semakin cinta dengan membaca,” kata Dedhi.

Beranjak SMP ia mulai menulis kolom “BOM/bursa orang muda” di surat kabar Wawasan yang terbit saban sore di Semarang. Tulisan Dedhi dimuat setidaknya dua kali dalam sebulan.

“Tulisan itu semacam opini apa saja. Saya makin mulai percaya diri menulis saat tulisan saya dimuat di kolom itu. Tulisan yang dimuat mendapat honor,” kenangnya lagi.

Kepiawaiannya dalam menjahit narasi membuatnya terpilih menjadi Pimpinan Umum majalah internal Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pekalongan. Ia mengelola Majalah Citra bersama rekan redaksi lainnya. Kegiatan senada berlanjut hingga bangku universitas. Di PKN STAN ia masuk dalam unit kegiatan pers mahasiswa dan bercita-cita menerbitkan satu buku selama hidup. Harapannya terkabul.

Baca Juga: DBS dan Tanijoy Kampanyekan Gaya Hidup “Zero Food Waste” untuk Atasi Perubahan Iklim

“Menulis adalah bagian dari sejarah hidup saya. Satu kalimat yang mewakili hobi saya ini adalah kebahagiaan. Ya, menulis adalah kebahagiaan,” tutup Ketua Umum Senat Mahasiswa STAN (1996–1997) ini.

 

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News19 jam lalu

Pemerintah dan Bank Dunia Sepakati Kerja Sama Ketahanan Fiskal untuk Mitigasi Bencana

Jakarta, Majalahpajak.net – Indonesia adalah negara dengan risiko bencana yang tinggi.  Karena itu, perlu kesiapan (country readiness) yang komprehensif dan...

Advertorial23 jam lalu

PajakMania Gelar “Roadshow” Pajak di Enam Kota

Jakarta, Majalahpajak.net – PajakMania akan menggelar roadshow kelas pajak 2021 di enam kota, yakni kota Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Cirebon, Bandung...

Breaking News1 hari lalu

Menyambung Nyawa Pariwisata

Pariwisata terpuruk selama pandemi. Kebijakan komprehensif diperlukan untuk memperpanjang umurnya.   Sejatinya, masyarakat dan pemerintah yang berkecimpung di industri pariwisata...

Breaking News2 hari lalu

Jokowi Minta Para CEO dan Petani Kerja Sama Tingkatkan Komoditas Pertanian

Jakarta, Majalahpajak.net – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku prihatinkan, hingga saat ini Indonesia sangat bergantung pada komoditas pangan impor. Komoditas...

Breaking News3 hari lalu

Peluang Investasi Reksadana “Offshore” Berprinsip Syariah

Jakarta, Majalahpajak.net – Bank DBS Indonesia berkomitmen menerapkan misi sustainability atau bisnis keberlanjutan. Salah satu pilar sustainability yang diusung adalah...

Breaking News4 hari lalu

Indonesia Darurat Bencana, ACT Ajak Masyarakat Bantu Korban

Jakarta, Majalahpajak.net – Awal tahun 2021, Indonesia dihadang bencana di berbagai daerah. Ada  gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di...

Breaking News5 hari lalu

Pegadaian Beri Bantuan untuk Korban Bencana Sumedang

Jakarta, Majalahpajak.net – PT Pegadaian (Persero) memberikan bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di kecamatan Cimanggung, kabupaten Sumedang. Bantuan...

Breaking News5 hari lalu

Holding BUMN untuk Pemberdayaan Ultramikro dan UMKM

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian BUMN berencana membentuk perusahaan holding terkait pembiayaan dan pemberdayaan ultramikro serta UMKM. Upaya ini merupakan langkah...

Breaking News1 minggu lalu

Transaksi Digital Rawan Tindak Pidana Pencucian Uang

Jakarta, Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia  (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Keberadaan ekonomi digital turut memudahkan transaksi keuangan. Di antaranya membantu...

Breaking News1 minggu lalu

IHSG Positif di Januari, Ini Rekomendasi Saham-saham Prospektif

Jakarta Majalahpajak.net – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat pada Januari seiring dengan...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved