Connect with us

Tax Light

D.I.R.G.A.H.A.Y.U

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Betapa indahnya bila Hari Pajak dimaknai sebagai Hari Pajak Indonesia.

 

Bagi kaum baby boomer, kata dirgahayu mungkin tidak asing. Biasanya saat hari kemerdekaan, menghias gapura kompleks atau jalan, ada umbul-umbul bertulisan “dirgahayu”.

Dirgahayu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ‘berumur panjang, bersifat panjang umur yang biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang merayakan atau memperingati hari jadinya’. Namun sekarang, yang lebih jamak adalah “selamat ulang tahun”—terjemahan dari happy birthday. Kalau dilihat dari arti kata dirgahayu di atas, apabila suatu organisasi memperingati hari jadi, maka lebih tepat digunakan kembali kata dirgahayu daripada “selamat hari…”

Tapi apa yang kebiasaan tentu menjadi biasa, sehingga tidak salah bila digunakan “selamat hari titik titik ke sekian titik titik”. Hanya, konon, dirgahayu tidak memerlukan bilangan tingkat (misal, “Dirgahayu RI ke-75”)—cukup ditulis “Dirgahayu RI” saja.

Semasa saya berada di masa-masa Sekolah Dasar, ada satu lagu yang terkenal tentang dirgahayu. Tepat! Dirgahayu, Dirgahayu, Bina Vokalia… Masa itu, hanya ada satu stasiun televisi yaitu TVRI. Ada satu program belajar menyanyi yang diajarkan oleh Bapak Pranadjaja. Beliau pengasuh Bina Vokalia. Dan saat ulang tahunnya, acara itu menghadirkan paduan suara menyanyikan lagu itu. Di sanalah, saya berkenalan dengan kata dirgahayu.

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Di bulan Juli ini, ada satu institusi penting di negara kita yang berulang tahun. Dan tahun ini adalah kali ketiga dirayakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Jangan tanya usia, karena sama dengan berdirinya Republik Indonesia. Coba baca sejarah pajak, bahwa tanggal 14 Juli itulah pertama kali kata pajak disampaikan oleh Bapak Radjiman Wedyodiningrat. Kenapa baru tiga kali dirayakan? Karena untuk menetapkan suatu organisasi yang sudah tua berdiri, kapan dia lahirnya, itu perlu penelitian. Beda dengan kelahiran anak manusia, jebret, oek oek. Nah, tahun depan di tanggal yang sama dia berulang tahun yang pertama. Ada lagi kepercayaan di negara tetangga, begitu dia meluncur ke dunia dan tangisannya bergema, sudah terhitung angka setahun. Itu cerita salah seorang teman Korea sewaktu kami studi di luar negeri.

Tidak berbeda dengan manusia, di saat organisasi berulang tahun, biasanya ada perayaan. Selama tiga tahun ini, DJP merayakannya dengan melakukan kegiatan kepedulian sosial, doa bersama umat pegawai, upacara bendera, bedah buku, kegiatan seni dan olahraga, dan utamanya diperuntukkan bagi internal. Namun ada yang berbeda karena tahun ini kegiatan Pajak Bertutur juga dimasukkan dalam rangkaian acara Hari Pajak. Suatu hari secara serempak, mengedukasi generasi muda tentang peran pajak bagi Indonesia.

Tahun ini, berbeda dengan tahun sebelumnya, karena semua dilakukan dalam bentuk daring—dan mengusung tema “Bangkit Bersama Pajak” alias gotong royong. Kenapa gotong royong? Jangan-jangan—sebentar, jangan buru-buru menafsirkan. Sebenarnya kata itu sudah lama ada di pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, yang sekarang mapelnya sudah ganti judul. Dalam menunaikan kewajiban sebagai warga negara yaitu membayar pajak, itu ada makna gotong royong di dalamnya.

Kepercayaan memang menuntut pengorbanan, yaitu berkorban untuk percaya. Salah satu dalam sikap berkorban adalah bersedia bergotong royong.

Baca Juga: Candradimuka

Contoh, zaman pandemi begini, perusahaan yang masih bangkit menyalurkan sumbangan untuk keperluan tenaga medis di garda depan. Itu namanya gotong royong. Sumbangan itu kemudian mendapat insentif perpajakan yang dapat diperhitungkan mengurangi penghasilan kena pajak yang pada akhirnya akan mengurangi pajak yang harus dibayar. Itu namanya gotong royong. Masyarakat Wajib Pajak yang di zaman ini inginnya diberi, apabila kemudian malah berinisiatif memberi alias membayar pajak, itu juga namanya gotong royong. Jadi, kewajiban dalam bernegara adalah bergotong royong, bukan?

Itulah mengapa pemerintah memberikan juga insentif perpajakan dan terutama saat ini bagi UMKM, dengan niat menjaga stabilitas usaha para sahabat UMKM. Istilahnya, “Kalian cuti bayar pajak enam bulan, ya. Manfaatin, ya, dengan bahagia. Kan bisa melakukan pekerjaan lain atau usaha lain. Pajaknya dibayar siapa? Ditanggung pemerintah. Kok Pemerintah baik? Jangan-jangan—”

Bangsa kita terlalu sering curiga atas suatu kebaikan. Coba, kalau kita jadi orangtua, terus masuk ke kamar anak kita sambil mengacung-acungkan tiket filem di bioskop keren. “Nak, berhenti buat PR! Ayo kita nonton!”

Terus apa yang terjadi? Ternyata tidak seperti yang diharapkan. Anak sulung memilih ikut memanfaatkan tiket bioskop dan nonton bersama ayah-bunda dengan bahagia, PR toh nanti bisa dikerjakan. Anak bungsu (kebetulan punya dua anak, misalnya), memilih tetap buat PR dan mengabaikan tiket nonton. Marahkah orangtua? Mungkin lebih tepat diistilahkan kecewa. Namanya orangtua tentunya ingin kumpul-kumpul happy sama anak. Mungkin seperti itulah terjadinya alur rasa saat ini. Insentif sudah ada, tapi masyarakat malah kepo. Ini jebakan, ya? Jebakan Batman apa jebakan Robin, ya? Pemerintah, tentu, punya perasaan seperti orangtua, yang dinamakan sedikit kecewa tadi.

Baca Juga: Ketika Budaya Lahir Kembali

Yang serunya, apabila cuti bayar pajak tersebut tetap diminta ada laporan. Sepertinya beraaat. Ini ngasih fasilitas kok pakai syarat, sih?

Yuk, balik ke contoh orangtua. Orangtua kasih fasilitas, “Nak, uang sakumu tak tambah, tapi kamu diem di rumah aja, ya. Bahaya di luar.” Tapi lantas orangtua, si papih sama mamih ini, minta cuma satu syarat: Walaupun di rumah aja, tolong telepon papih sama mamih, sekali dalam sehari ya. Supaya tahu keadaanmu apa baik-baik saja.

Sebagai orangtua, kan benar ya, kita ingin ditanya, dilaporin, diteleponin, walau syaratnya enggak susah? Lapor ke aku sekaliii saja sebulan.

Itulah yang namanya kepercayaan. Kepercayaan memang menuntut pengorbanan, yaitu berkorban untuk percaya. Salah satu dalam sikap berkorban adalah bersedia bergotong royong. Seandainya setiap orang berpikiran “Oke aku manfaatin insentif ini, karena aku ingin bantu diriku dan orang lain, supaya mandiri” maka dia sudah sampai di taraf kesadaran. Kesadaran membayar pajak, yang ditandai dengan komitmen dari dalam dirinya, untuk mendukung bangsa ini mencapai kemandirian ekonomi. Kalimat ini saya sarikan dari salah satu artikel Bapak Edi Slamet (2020), tentang kegotongroyongan dan pajak.

Kembali ke Hari Pajak, betapa indahnya bila dimaknai bahwa inilah Hari Pajak Indonesia. Karena yakinlah, saat dipikirkan harus adanya pajak sebagai penopang negara di Undang-Undang Dasar, bisa jadi saat itu belum ada definisi Pajak Pusat dan Daerah. So, mari, kita bersinergi dengan seluruh elemen bangsa ini untuk mewartakan kebersamaan dalam mendukung pajak.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Sejatinya, saat kita bersama-sama sudah memahami esensi kita membantu manusia lain, maka itu artinya dirgahayu buat diri kita sendiri.

Tax Light

Candradimuka

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Krisis saat ini adalah refleksi bagi kita semua. Banyak yang harus dipelajari saat kita menghadapinya maupun menyiapkan “new normal” setelahnya.

 

Mungkin Gatotkaca saat diminta terjun ke Kawah Candradimuka belum memahami untuk apa dia dimasukkan ke kawah tersebut? Ternyata setelah melakoninya, Gatotkaca melesat ke angkasa dengan kekuatan berlipat sebagai pahlawan berotot kawat bertulang besi, yang sebenarnya bisa dijadikan pahlawan dalam film heroik Indonesia.

Ternyata, untuk jadi pahlawan, memang perlu diuji! Di masa pandemi ini, kita belajar banyak hal karena perubahan terjadi begitu sontak dan membuat sebagian dari kita tergagap mengikuti teknologi yang tiba-tiba menjadi keharusan. Tiba-tiba ruang di rumah ada yang disulap menjadi tempat kerja. Dan tiba-tiba, semua ditempa pengalaman bahwa bekerja dengan jam kerja yang lama tidak menghasilkan produktivitas tinggi. Jadi, yang penting bukan lama waktu kerja, tapi cara kerja, dan itu perlu ditunjang kecerdasan dalam bekerja. Bekerja cerdas, istilahnya, menggantikan bekerja keras.

Baca Juga: Ketika Budaya Lahir Kembali

Bukan itu saja. Tiba-tiba saja waktu bekerja di rumah menjadi lebih lama daripada di kantor karena saat mengendalikan rapat, pimpinan rapat lupa bahwa rapat harus ada batasannya. Kalau di kantor, dia sudah ditunggu untuk berpindah ruangan yang butuh waktu panjang, maka kalau di rumah, dia bisa berpindah ruangan tanpa butuh waktu panjang. Akhirnya lupa waktu. Tidak heran banyak yang mengeluhkan bahwa bekerja dari rumah jauh lebih melelahkan.

Itu belum selesai. Kita baru mau keluar dari Candradimuka, tiba-tiba dihadapkan pada new normal. Apa itu new normal? Sesuatu yang dilaksanakan secara normal tapi mengikuti protokol new normal yang dirilis Kementerian Kesehatan. Berangkat memakai masker, membawa masker cadangan, menjaga jarak, selalu mencuci tangan dan pakai sabun, membawa hand sanitizer, juga menjaga makanan. Dan… ada persyaratan tertentu bagi yang pernah mengidap penyakit tertentu seperti jantung, asma, stroke, atau berusia 50 tahun ke atas: mereka dapat mengajukan working from home dengan ketentuan kebijakan dari unit kerja masing-masing.

Siapa yang mau menjelaskan bahwa negara juga perlu melangsungkan kehidupan? Bagaimana cara kita mendukung negara supaya tetap bertahan? Sederhana saja, ada tiga protokol yang perlu dijalankan

Masalahnya kemudian, timbul ketakutan, sehingga terjadi upaya untuk memperpanjang bekerja dari rumah saja. Kita bukan Gatotkaca yang dimasukkan ke Kawah Candradimuka sendirian. Kita, bersama ratusan rekan sekerja, memulai new normal ini bersama-sama! Adalah ketakutan, yang kemudian menjadi momok bagi seseorang, dan akhirnya berdampak pada keengganan untuk kembali bekerja di kantor. Dilematisnya, di sudut kota mana saja, ketakutan itu tidak terbukti dengan bukti banyaknya masyarakat berkumpul, melakukan aktivitas tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Apabila transaksi perekonomian tidak berjalan, bagaimana kehidupan bisa berjalan?

Dibenturkan dengan masalah kesehatan, tidak ada juga titik temu. Yang penting semua berjalan dan mengikuti protokol kesehatan. Hanya itu, sederhana. Jarak dijaga. Sepatu jangan dibawa masuk rumah. Semprot terus lantai kalau tamunya pulang. GoSend cukup di beranda, biarkan bungkusan kena matahari sejenak, baru dibawa ke dalam rumah. Proses pemanasan lain bagi makanan adalah mengurungnya sejenak di microwave sebelum benar-benar disantap. Lama-lama, skeptisisme menguak. Kami perlu makan, jangan dilarang. Bahkan pengukuran ke tanaman saja bisa membuktikan tanaman itu positif.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Berat memang, kalau menghadapi kekritisan cara pandang seperti ini. Lebih berat lagi kalau situasi ini dimanfaatkan. Mumpung masih pandemi, bayar dan lapor pajaknya ditunda dulu.

Kalau seperti ini, siapa yang mau menjelaskan bahwa negara juga perlu melangsungkan kehidupan? Bagaimana cara kita mendukung negara supaya tetap bertahan? Sederhana saja, ada tiga protokol yang perlu dijalankan. Satu, fokus pada kesehatan masing-masing. Dua, tetap menjalankan perputaran perekonomian. Tiga, tetap memenuhi kewajiban perpajakan. Karena kalau tetap bayar pajak, maka paling tidak, ada yang harus diselamatkan, sehingga tidak memperbesar utang. Semua itu satu paket. Kalau ketiganya dicermati, maka sesungguhnya perlu kebesaran hati untuk melakukan serangkaian dukungan pada negara tersebut.

Krisis saat ini bagaikan refleksi bagi kita semua. Banyak yang harus dipelajari saat kita menghadapinya maupun mempersiapkan new normal yang di depan, dan “new-new normal” berikutnya. Kita belajar bagaimana mempersiapkan rencana dan strategi ke depan. Kita belajar bagaimana menyelamatkan kinerja pegawai dan mengarahkan orientasi kerja berbasis produktivitas buat mereka. Dan kita juga belajar ketangguhan, karena di sisi lain, sebagai orang tua kita juga menanamkan ketangguhan karakter kepada generasi muda di rumah yang melaksanakan proses “candradimuka” mereka melalui belajar dari rumah. Bayangkan!

Sesungguhnya, kitalah sang Gatotkaca yang lama berada di labirin Candradimuka.

Selamat belajar terbang!

(A3, 020620)

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Lanjut baca

Tax Light

Ketika Budaya Lahir Kembali

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Apa yang kamu rasakan saat ini? Itu pertanyaan menarik yang bisa menjelaskan apa yang dirasakan masyarakat Indonesia selama pandemi.

Kami pernah membuat lomba menciptakan tiga kata kesan positif selama pandemi yang memaksa semua pekerja melakukan pekerjaan dari rumah. Ada yang mengatakan, Bosan-Nonton-Tidur. Ada yang berjiwa idealis dan menuliskan, Lebih-Kreatif-Produktif. Dan ada satu yang menuliskan: Lupa-Sabtu-Minggu.

Bekerja di rumah, bagaikan bekerja di dunia tak berbatas. Dari satu tempat, kita bisa fokus pada beberapa rapat melalui media daring, yang sejatinya hal ini sulit dilakukan di kantor. Melakukan rapat di kantor sama dengan memindahkan tubuh dari satu lantai ke lantai lain, atau dari satu gedung ke gedung lain. Namun dengan mekanisme bekerja dari rumah, rapat adalah memindahkan mata dan menggerakkan pinggang tanpa bergerak!

Buat sebagian orang, ini adalah memindahkan dunia luar ke dalam rumah kita sendiri. Ingar-bingar kerja diganti celotehan dan tangisan kanak-kanak, teriakan pasangan, dan asisten rumah tangga, dan tidak akan terdeteksi oleh peserta rapat selama media video dan suara ditutup. Beberapa orang menyatakan mereka bisa bekerja dengan aman dari rumah, karena melihat pergerakan keluarga dengan mata kepala sendiri. Namun sebagian orang berpendapat, dunia menjadi stagnan dan membosankan! Mereka rindu pada rutinitas sehari-hari. Ke kantor, menjadi manusia yang sibuk secara body dan mind, dan melupakan bahwa soul mereka bisa jadi kosong.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Selamat datang, gaya hidup baru!

Mau tidak mau, suka tidak suka, maka kita berada di rumah saja. Survei dari Kantar, hampir 80 persen masyarakat Indonesia menghabiskan waktu di rumah selama karantina. Rambu-rambunya jelas, social distancing, physical distancing, dan maskering.

Perubahan gaya hidup itu berdampak pada budaya yang digadang-gadang melahirkan karakter baru. Contohnya, tidak ada lagi kebiasaan ngafe dan ngemal, diganti pesanan untuk diantarkan ke rumah. Tidak ada memesan dari luar rumah, diganti masakan ibunda. Tidak perlu bangun pagi bersiap ke sekolah, karena guru-guru sudah siap dengan tugas seminggu penuh yang disisipkan pekerjaan rumah membuat video untuk membuktikan bahwa mereka berkegiatan di rumah, atau mengirimkan rekaman menjawab pertanyaan.

Kerja berjalan dengan waktu sebagaimana biasa, tapi tidak ada mobilitas. Tidak perlu dandan berlebihan; singkirkan sepatu hak tinggi; bahkan bisa belum mandi, saat Anda menghadapi rapat bersama di zoom meeting.

Suka atau tidak suka, lama-lama membiasa. Ini terjadi saat kegiatan tanpa tatap muka menjadi acuan layanan publik di mana saja. Ternyata, masyarakat Wajib Pajak yang melaporkan SPT Tahunan di akhir April kemarin juga tidak kalah semangatnya, walau mereka tidak mendapat bimbingan langsung di kantor-kantor pajak. Jalan keluarnya adalah konsultasi melalui media daring, menelepon Account Representative, melakukan chat, ikut hadir di kelas pajak daring berupa webinar dan grup WA, sehingga di hari terakhir yang melapor tembus 440 ribu SPT. Tahun lalu, yang lapor di hari terakhir sebesar 518 ribu SPT.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Apa kesimpulan yang dapat diambil? Dalam kondisi terpaksa, kita bisa! Karena kita bisa, lama-lama membiasa. Dan tentu saja harus berpikiran positif bahwa tidak semua masyarakat memanfaatkan pandemi sebagai alasan untuk tidak memenuhi kewajiban perpajakannya.

Bagaimana bisa tidak peduli? Lah, wong dari APBN saja anggaran untuk mengatasi pandemi bernama indah ini Rp 400-an triliun. Belum lagi banyaknya kebijakan berupa fasilitas perpajakan yang dikeluarkan untuk memberi kemudahan.

Ada juga yang namanya Pajak Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp 60-an triliun khusus membijaki dampak korona.

Ketika pajak ditanggung pemerintah, itu artinya di depan kita ada dukungan pemerintah yang tanpa suara mengatakan, “Ini bukan bagianmu, ini merupakan bagianku.” Analoginya, seorang bocah menangis tidak bisa membayar es krim yang diinginkan, lantas ada yang datang kepadanya, memberikan es krim itu dengan tidak menerima bayaran dari sang bocah. Malaikat berhati emas itu mungkin saja adalah ibu, bapak, atau kakak kita.

Sederhananya, kita tidak mengeluarkan apa-apa, karena ada yang menanggungnya. Padahal, yang menanggung punya tanggung jawab membayar tanpa perlu kita lihat. Maka, masihkah kita mempertanyakan ke mana larinya uang pajak kita di masa sulit ini?

Sebelum banyak bertanya, mungkin baiknya bertanya ke dalam diri sendiri, apakah aku bertanya karena tidak tahu, atau ingin menciptakan ruang bagi orang lain untuk melihat bahwa aku tahu?

Budaya lain yang dilahirkan adalah terciptanya kekuatan bagi ASN yang tempat bekerjanya bukan di home base, untuk bisa mengatasi rasa takut karena tidak mudik saat Lebaran untuk menghindari penyebaran virus. Tanpa disadari kepasrahan mereka melahirkan kekuatan yang luar biasa. Sekarang ini marak tercipta solidaritas dalam beramal dan bersedekah. Pernahkah Anda mengirim masakan yang dipesan dari teman pengusaha UMKM untuk dikirim ke rumah pegawai non-organik di kantor Anda? Para satpam, office boy, dan petugas cleaning service? Anda tidak tahu, kan, bagaimana dia mengatasi masalah keluarganya, sementara Anda bisa saja masih tetap memperoleh gaji walau ada pemotongan? Marilah berbagi walau sedikit.

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Sekarang ini, hidup berjalan dengan pertanyaan yang sulit: Kapan semua ini akan selesai?

Kapan selesainya, ya, aku kan sudah kangen kantor?

Sabar, sepertinya yang harus dipikirkan adalah pola pikir kita dahulu. Sepertinya, kita harus bersahabat dengan dia, sang wabah. Dan itu bisa bila dikawal kepasrahan tingkat tinggi, dengan upaya ekstra hati-hati. Satu, semua orang, toh, akan mati. Dua, kita dipaksa harus ikhtiar jaga diri sendiri. Andai semua sudah enggak parno dan ngeri, maka dia pun menghilang.

Itu kalimat tertinggi yang pernah saya dengar.

Saya enggak tahu…. Itu, kan, kata saya, bukan kata ahlinya. Yang jelas, kita sudah seperti terlahir kembali jadi manusia baru selama masa-masa karantina. Mengenali pasangan, anak-anak, ibu kos, saudara, orangtua, dan lain-lain insan satu atap. Kita seperti Gatotkaca yang terbang dari Kawah Candradimuka, tapi terbangnya di rumah saja.

Yang penting, di rumah ini, kita bisa menjadi guru dan berguru pada orang-orang terdekat. Oya, selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat berpuasa. Selamat Idulfitri. Selamat merenungi diri sendiri.

(A3, 020520)

Lanjut baca

Tax Light

Korona dan Bayangannya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto ilustrasi: Istimewa

Korona memang tengah menjadi momok dunia. Namun, jangan terjebak pada ketakutan membabi buta. Kendalikan diri—tenangkan hati, berpikir positif. Percayalah, manusia punya daya tak terbatas.

Satu pertanyaan yang keluar dari ananda saya yang mengesankan saat musim Korona adalah, “Mami, selama hidup Mami, apakah pernah mengalami kondisi seperti ini?”

Saya tersenyum padanya seraya menggeleng. Lantas saya terkenang kedua orangtua yang sudah tiada. Karena, lanjut anak saya yang baru googling wabah pandemi per satu abad itu, ini terjadi seratus tahun sekali, dan saya merasakannya.

Dialog semacam ini sangat menyentuh—buat saya. Saya dan papinya bertanya bagaimana reaksi teman-temannya, dan dia menjawab bahwa ada yang ringan saja dan ada yang agak serius. Tapi yang utama, mereka kehilangan wadah berekspresi. Dan teman seangkatan atau kakak kelasnya merasa gelisah bukan karena Korona, tetapi ada yang terampas dari kehidupan mereka. Ngafe bareng, ngupi cantik, kumpul dengan komunitas, atau belajar bareng di rumah teman.

Baca Juga:Pemerintah Bebaskan PPN Belanja Barang dan Jasa Terkait Penanggulangan Korona

Sementara di sisi lain, reaksi orang sangat beragam terhadap bencana nasional ini—internasional, malah. Berita datang bertubi-tubi di beranda sosial media pribadi. Tidak terseleksi dan penuh data dari berbagai belahan dunia walau tidak jelas data valid atau tidaknya. Orang visual akan membayangkan virus ini dengan gambaran apa yang terjadi di belahan dunia. Orang auditori akan mendengarkan video dengan saksama dengan hati tersayat, dan orang kinestetik membaca berita sambil bicara dalam hati seraya merasakan sendi-sendinya gemeletak rapuh. Lantas, lahirlah kecemasan, kekhawatiran, dan kekritisan luar biasa. Pertanyaannya, apa sih yang membuat seseorang dapat membayangkan sesuatu sehingga menjadikan dia cemas, sedih atau marah?

“Kondisi fisiologimu mengubah caramu membayangkan kondisi dan melihat dunia ini.”

Manusia, dipengaruhi banyak faktor. Kita mungkin secara tidak sadar mencontoh reaksi orangtua kita atau panutan kita saat menghadapi pengalaman semacam itu. Misalnya, saat Anda kecil, ibu Anda selalu cemas saat ayah Anda terlambat pulang kerja, sehingga membentuk kecemasan dalam pikiran Anda setiap ayah Anda terlambat pulang kerja. Nah ini terbawa sampai Anda dewasa. Jika ayah atau ibu Anda pernah bicara bagaimana mereka tidak percaya sama pasangannya, bisa jadi Anda telah mencontoh pola itu. Terbentuklah suatu keyakinan, sikap, nilai-nilai dan pengalaman di masa lalu yang memengaruhi bayangan yang kita buat saat menghadapi sesuatu.

Baca Juga: Efek Korona, Penerimaan Pajak kuartal I Turun 2,5 Persen

Yang lebih penting lagi, ada faktor yang sangat menentukan cara kita melihat dan membayangkan dunia. Ini ada dalam diri kita. Namanya pola penggunaan fisiologi diri sendiri. Cara kita bernapas,  sikap tubuh, ketegangan otot, apa yang dimakan, fungsi biokimia dalam tubuh, berpengaruh besar pada kondisi kita. Ketika sekarang suami Anda diminta kerja, Anda sangat khawatir dia tertular, kan? Namun itu semua tergantung kondisi tubuh Anda. Pas Anda lagi oke, maka walaupun dia terlambat pulang, It’s fine  buat Anda, bisa jadi masih ada kerjaan lainnya. Kalau Anda dalam kondisi fisiologi lagi letih apalagi baper baca berita hoaks, Anda bisa saja berpikir negatif. Anda takut dia kebanyakan kerja, terus ketemu siapa, orangnya sehatkah? Wah, pikiran jadi ribet dan tambah pusinglah kita!

Apa yang membuat kita seperti itu? Bayangan! Membayangkan itu berkorelasi positif dengan memikirkan yang berdampak pada kondisi fisiologi. Kondisi fisiologimu mengubah caramu membayangkan kondisi dan melihat dunia ini. Menurut W. Mitchell, yang terpenting itu bukan apa yang terjadi pada dirimu, melainkan caramu membayangkan hal itu terjadi. So, kunci untuk menciptakan hasil yang diinginkan adalah dengan membayangkan sesuatu dengan cara yang membuat kita ada dalam kondisi  berdaya, semangat, sehingga terdorong untuk melakukan hal-hal yang berkualitas dalam menciptakan hasil yang diinginkan.

Memang sih, mungkin kalian pada bertanya, memangnya Korona bisa dilawan hanya dengan bayangan? Kalau pekerjaan kita hanya membaca berita negatif dan video ngeri, ya, enggak bisalah. Kalau kita enggak bisa disiplin dalam tata tertib menjaga kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, ya enggak bisalah.

Eh, tubuh bisa diajak bicara, loh. Kasih diri kita bayangan sehat dan arahkan pada kondisi fisiologi yang tenang, insyaallah kita sehat.

Ya coba itu aja dulu! Keyakinan bisa mengalahkan angka statistik. Tapi keyakinan yang cerdas, bukan yang menantang! Nah, ini yang disebut bagaimana kita bisa mengenal diri kita sendiri? Bagaimana kalau kita tidak punya konsep mengendalikan diri kita sendiri?

Baca Juga: Jutaan Pekerja Kena PHK, Aji Mumpung Pengusaha?

Tetap bayangkan keindahan, tetap laporkan SPT dan ngebayar pajak, karena keikhlasan bayar pajak sekarang yang bisa membentuk bayangan indah buat Indonesia masa depan.

Satu lagi, bayangkanlah kenyataan! Mari berterima kasih kepada Allah bahwa Korona sudah hilang, di saat kita sambut Ramadan.

Percayalah, manusia itu punya daya tak terbatas, kata Anthony Robbins (Unlimited Power). Namun manusia sering kesulitan membayangkan Tuhan ada di mana. Padahal, dari pandemi ini, Tuhan banyak mengajari kita melalui Korona, bahwa kita bisa lebih dekat dengan-Nya melalui dialog dalam diri sendiri, menyelami nurani dan dasar jiwa. Sangat dekat sebenarnya….

Lanjut baca

Breaking News

Breaking News6 jam lalu

Penyerapan stimulus fiskal Pengaruhi Percepatan Pemulihan Ekonomi

Stabilitas sistem keuangan triwulan II 2020 normal.  serapan stimulus fiskal pengaruhi percepatan pemulihan ekonomi.   Menteri Keuangan Sri Mulyani yang...

Breaking News1 hari lalu

FINI: Kemudahan Investasi Jadi Harapan Pelaku Usaha Industri Nikel

Pengusaha sektor pertambangan mendeklarasikan berdirinya Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta pada Rabu pagi, (5/8/2020). Forum...

Breaking News1 hari lalu

Magnet “Tax allowance” dan Simplifikasi Aturan untuk Percepatan Investasi

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerbitkan  Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.96/PMK.010/2020 untuk merevisi mekanisme pemberian tax allowance berupa fasilitas Pajak...

Breaking News2 hari lalu

Mengintip Budaya Pertamina di Era Ahok

Sejak didapuk menjadi komisaris utama PT Pertamina (Persero) pada akhir November 2019 lalu, sepak terjang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) selalu...

Breaking News3 hari lalu

DJP: Perlu “Effort” Perusahaan Agar Insentif Pajak Bagi Karyawan Bisa Dimanfaatkan

Pengusaha mengaku kerepotan untuk melaksanakan insentif PPh Pasal 21 atau pajak gajian bagi masyarakat yang ditanggung pemerintah (DTP). Mereka menilai,...

Breaking News3 hari lalu

Kawal Wajib Pajak Agar Tak Terjerumus Dalam Pidana Pajak

Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengadakan seminar on-line perpajakan bertajuk “Peran Konsultan...

Breaking News4 hari lalu

Belanja Pemerintah Kunci Melepas Belenggu Resesi

Jika terjadi penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) di suatu negara, pendapatan riilnya merosot tajam selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, itu merupakan...

Breaking News5 hari lalu

Resesi Menekan Pasar Modal, Investasi Emas Jadi Pilihan

Sejak beberapa bulan terakhir, harga emas kian meroket. Pada awal Agustus ini, misalnya, harga emas batangan PT Aneka Tambang (Persero)...

Breaking News6 hari lalu

Jakarta Perpanjang PSBB Transisi dan Berlakukan Lagi Aturan Ganjil-Genap

Kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia belum juga reda. Hingga Jumat (31/7/2020), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, mengumumkan, kasus terkonformasi...

Breaking News6 hari lalu

Rayakan Iduladha, PT KAI Berikan Diskon Perjalanan Hingga 25 Persen

Perayaan Iduladha tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Antara lain merosotnya penjualan hewan Kurban yang dialami pedagang di berbagai daerah...

Populer