Connect with us

Tax Light

D.I.R.G.A.H.A.Y.U

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Betapa indahnya bila Hari Pajak dimaknai sebagai Hari Pajak Indonesia.

 

Bagi kaum baby boomer, kata dirgahayu mungkin tidak asing. Biasanya saat hari kemerdekaan, menghias gapura kompleks atau jalan, ada umbul-umbul bertulisan “dirgahayu”.

Dirgahayu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ‘berumur panjang, bersifat panjang umur yang biasanya ditujukan kepada negara atau organisasi yang sedang merayakan atau memperingati hari jadinya’. Namun sekarang, yang lebih jamak adalah “selamat ulang tahun”—terjemahan dari happy birthday. Kalau dilihat dari arti kata dirgahayu di atas, apabila suatu organisasi memperingati hari jadi, maka lebih tepat digunakan kembali kata dirgahayu daripada “selamat hari…”

Tapi apa yang kebiasaan tentu menjadi biasa, sehingga tidak salah bila digunakan “selamat hari titik titik ke sekian titik titik”. Hanya, konon, dirgahayu tidak memerlukan bilangan tingkat (misal, “Dirgahayu RI ke-75”)—cukup ditulis “Dirgahayu RI” saja.

Semasa saya berada di masa-masa Sekolah Dasar, ada satu lagu yang terkenal tentang dirgahayu. Tepat! Dirgahayu, Dirgahayu, Bina Vokalia… Masa itu, hanya ada satu stasiun televisi yaitu TVRI. Ada satu program belajar menyanyi yang diajarkan oleh Bapak Pranadjaja. Beliau pengasuh Bina Vokalia. Dan saat ulang tahunnya, acara itu menghadirkan paduan suara menyanyikan lagu itu. Di sanalah, saya berkenalan dengan kata dirgahayu.

Baca Juga: CAHAYAKAN INDONESIA

Di bulan Juli ini, ada satu institusi penting di negara kita yang berulang tahun. Dan tahun ini adalah kali ketiga dirayakan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Jangan tanya usia, karena sama dengan berdirinya Republik Indonesia. Coba baca sejarah pajak, bahwa tanggal 14 Juli itulah pertama kali kata pajak disampaikan oleh Bapak Radjiman Wedyodiningrat. Kenapa baru tiga kali dirayakan? Karena untuk menetapkan suatu organisasi yang sudah tua berdiri, kapan dia lahirnya, itu perlu penelitian. Beda dengan kelahiran anak manusia, jebret, oek oek. Nah, tahun depan di tanggal yang sama dia berulang tahun yang pertama. Ada lagi kepercayaan di negara tetangga, begitu dia meluncur ke dunia dan tangisannya bergema, sudah terhitung angka setahun. Itu cerita salah seorang teman Korea sewaktu kami studi di luar negeri.

Tidak berbeda dengan manusia, di saat organisasi berulang tahun, biasanya ada perayaan. Selama tiga tahun ini, DJP merayakannya dengan melakukan kegiatan kepedulian sosial, doa bersama umat pegawai, upacara bendera, bedah buku, kegiatan seni dan olahraga, dan utamanya diperuntukkan bagi internal. Namun ada yang berbeda karena tahun ini kegiatan Pajak Bertutur juga dimasukkan dalam rangkaian acara Hari Pajak. Suatu hari secara serempak, mengedukasi generasi muda tentang peran pajak bagi Indonesia.

Tahun ini, berbeda dengan tahun sebelumnya, karena semua dilakukan dalam bentuk daring—dan mengusung tema “Bangkit Bersama Pajak” alias gotong royong. Kenapa gotong royong? Jangan-jangan—sebentar, jangan buru-buru menafsirkan. Sebenarnya kata itu sudah lama ada di pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, yang sekarang mapelnya sudah ganti judul. Dalam menunaikan kewajiban sebagai warga negara yaitu membayar pajak, itu ada makna gotong royong di dalamnya.

Kepercayaan memang menuntut pengorbanan, yaitu berkorban untuk percaya. Salah satu dalam sikap berkorban adalah bersedia bergotong royong.

Baca Juga: Candradimuka

Contoh, zaman pandemi begini, perusahaan yang masih bangkit menyalurkan sumbangan untuk keperluan tenaga medis di garda depan. Itu namanya gotong royong. Sumbangan itu kemudian mendapat insentif perpajakan yang dapat diperhitungkan mengurangi penghasilan kena pajak yang pada akhirnya akan mengurangi pajak yang harus dibayar. Itu namanya gotong royong. Masyarakat Wajib Pajak yang di zaman ini inginnya diberi, apabila kemudian malah berinisiatif memberi alias membayar pajak, itu juga namanya gotong royong. Jadi, kewajiban dalam bernegara adalah bergotong royong, bukan?

Itulah mengapa pemerintah memberikan juga insentif perpajakan dan terutama saat ini bagi UMKM, dengan niat menjaga stabilitas usaha para sahabat UMKM. Istilahnya, “Kalian cuti bayar pajak enam bulan, ya. Manfaatin, ya, dengan bahagia. Kan bisa melakukan pekerjaan lain atau usaha lain. Pajaknya dibayar siapa? Ditanggung pemerintah. Kok Pemerintah baik? Jangan-jangan—”

Bangsa kita terlalu sering curiga atas suatu kebaikan. Coba, kalau kita jadi orangtua, terus masuk ke kamar anak kita sambil mengacung-acungkan tiket filem di bioskop keren. “Nak, berhenti buat PR! Ayo kita nonton!”

Terus apa yang terjadi? Ternyata tidak seperti yang diharapkan. Anak sulung memilih ikut memanfaatkan tiket bioskop dan nonton bersama ayah-bunda dengan bahagia, PR toh nanti bisa dikerjakan. Anak bungsu (kebetulan punya dua anak, misalnya), memilih tetap buat PR dan mengabaikan tiket nonton. Marahkah orangtua? Mungkin lebih tepat diistilahkan kecewa. Namanya orangtua tentunya ingin kumpul-kumpul happy sama anak. Mungkin seperti itulah terjadinya alur rasa saat ini. Insentif sudah ada, tapi masyarakat malah kepo. Ini jebakan, ya? Jebakan Batman apa jebakan Robin, ya? Pemerintah, tentu, punya perasaan seperti orangtua, yang dinamakan sedikit kecewa tadi.

Baca Juga: Ketika Budaya Lahir Kembali

Yang serunya, apabila cuti bayar pajak tersebut tetap diminta ada laporan. Sepertinya beraaat. Ini ngasih fasilitas kok pakai syarat, sih?

Yuk, balik ke contoh orangtua. Orangtua kasih fasilitas, “Nak, uang sakumu tak tambah, tapi kamu diem di rumah aja, ya. Bahaya di luar.” Tapi lantas orangtua, si papih sama mamih ini, minta cuma satu syarat: Walaupun di rumah aja, tolong telepon papih sama mamih, sekali dalam sehari ya. Supaya tahu keadaanmu apa baik-baik saja.

Sebagai orangtua, kan benar ya, kita ingin ditanya, dilaporin, diteleponin, walau syaratnya enggak susah? Lapor ke aku sekaliii saja sebulan.

Itulah yang namanya kepercayaan. Kepercayaan memang menuntut pengorbanan, yaitu berkorban untuk percaya. Salah satu dalam sikap berkorban adalah bersedia bergotong royong. Seandainya setiap orang berpikiran “Oke aku manfaatin insentif ini, karena aku ingin bantu diriku dan orang lain, supaya mandiri” maka dia sudah sampai di taraf kesadaran. Kesadaran membayar pajak, yang ditandai dengan komitmen dari dalam dirinya, untuk mendukung bangsa ini mencapai kemandirian ekonomi. Kalimat ini saya sarikan dari salah satu artikel Bapak Edi Slamet (2020), tentang kegotongroyongan dan pajak.

Kembali ke Hari Pajak, betapa indahnya bila dimaknai bahwa inilah Hari Pajak Indonesia. Karena yakinlah, saat dipikirkan harus adanya pajak sebagai penopang negara di Undang-Undang Dasar, bisa jadi saat itu belum ada definisi Pajak Pusat dan Daerah. So, mari, kita bersinergi dengan seluruh elemen bangsa ini untuk mewartakan kebersamaan dalam mendukung pajak.

Baca Juga: Korona dan Bayangannya

Sejatinya, saat kita bersama-sama sudah memahami esensi kita membantu manusia lain, maka itu artinya dirgahayu buat diri kita sendiri.

Tax Light

Dunia sudah Tua

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Negara bisa terselamatkan melalui kesadaran warga negaranya dalam bernegara.

Dunia mengalami perubahan yang luar biasa di tahun 2020 ini. Dulu, kita pernah mendengar bahwa wanita tua yang cantik itu diibaratkan bagai dunia. Semakin tua, semakin menarik. Ada juga pepatah lama mengisyaratkan tentang perkembangan psikologis laki-laki, yaitu tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi. Ini bisa diartikan bahwa, semakin tua usia lelaki, bisa jadi semakin menjadi-jadi keinginannya.

Dari dua nasihat yang mengandung unsur gender, baik laki-laki dan perempuan, ternyata keduanya bisa disamakan dengan dunia. Artinya? Menjadi laki-laki atau perempuan, di zaman yang sudah menua ini, mengandung peran yang sama penting dan sama berbahayanya. Itu emansipasi? Bukan. Tidak selalu harus bicara emansipasi, saat kita menginginkan wanita tampil ke depan. Namun membiarkan laki-laki dan perempuan memilih sesuatu bukan lagi berdasarkan kodrat, melainkan kemampuan, adalah yang dipercaya sebagai pengarusutamaan gender.

Dan semuanya terjadi bagai “whoila abracadabra”, pada saat dunia sedang dilanda pandemi. Menariknya, virus ini turun dari langit seperti Batara Guru yang ingin mengajarkan kepada siswa-siswanya yang bandel, yaitu umat manusia sedunia.

Satu, kembalikan waktu pada keluarga. Itu pelajaran pertama saat virus korona menguar. Instruksi bekerja dari rumah benar-benar membuat peradaban berubah! Bayangkan! Rumah menjadi area kantor dan sekolah secara berbarengan. Semua tergantung pada media on-line. Mendadak, sistem pengawasan pekerjaan berubah, dari manual menjadi IT terintegrasi. Saat bekerja, mata dipaksa terbuka melihat kondisi anak-anak yang mungkin sudah jauh luput dari pengamatan. Muncul ketidaknyamanan.

Namun, the life must go on! Lahirlah kemudian kesadaran, bahwa ternyata kenyamanan itu menyenangkan. Bekerja dari rumah menghemat bensin. Menghemat waktu tempuh. Di sini, nilai integritas diuji. Sejatinya, bekerja dari rumah ya dimulai dari waktu yang sama seperti di kantor. Tetapi apakah anda benar-benar menaati ketentuan itu? Ada yang menyadari tanggung jawabnya. Maka habit di kantor ditransformasikan di rumah, selesai. Ada yang tidak. Hanya siap di depan piranti kerja apabila ada agenda. Akibatnya? Banyak waktu luang yang tidak efisien. Menurut mereka, ini kenyamanan, apabila gaji utuh. Apabila gaji tidak utuh, maka waktu yang tersedia dialokasikan menjadi waktu untuk menambah penghasilan sampingan. Ini semua berpulang dari kesadaran, selain kebutuhan. Tidak heran bila banyak perusahaan selain mengubah aturan tugas bekerja di kantor dari 25 persen kehadiran menjadi 50 persen, atau 0 persen alias tutup.

Dua, kembali fokus pada kesehatan. Itu pelajaran setelah menyadari, bahwa selama ini boro-boro berjemur, melihat matahari saja langka! Para komuter bisa ditanya, bagaimana mereka kehilangan waktu langka menikmati cahaya matahari. Iya sih, masih bisa melihat cahaya terbitnya matahari dari celah-celah jendela kendaraan umum, namun itu semua terlupakan karena kita lebih sibuk menikmati gawai selama perjalanan. Nah, coba cek teman-teman yang di isolasi mandiri baik di hotel atau di RS, apa yang diminta untuk mereka lakukan? Berjemur! Ya, dengan berjemur, vitamin D dari cahaya matahari membantu penyembuhan, ini terutama bagi mereka yang belum parah. Apakah kita pernah melakukan berjemur di keseharian? Itu langka lo.

Selain berjemur, semua pada hati-hati membeli makanan. Artinya, waktu kumpul-kumpul di resto, kedai, café, juga menurut atau berhenti. Selain protokoler kesehatan menggaungkan tetap jaga jarak, pakai masker dan jangan lupa cuci tangan. Menu rumah menjadi makanan mewah di kantor. Empat Sehat Lima  Sempurna menjadi santapan. Bosan? Wah tidak bisa, harus disantap! Ini, kan, sehat?

Tiga, meningkatnya kreativitas usaha. Ketika semakin banyak waktu di rumah, maka kreativitas untuk membunuh kebosanan, muncul. Akibatnya, bermunculan pengusaha-pengusaha muda menawarkan masakan dari sambal botolan rumahan, menu makan siang, roti dan kue, dan lain-lain. Awalnya saling menawarkan antarteman, kemudian membuka usaha di media sosial, kemudian tawaran datang, dan semangat baru datang. Maka dari itu, hal jamak saat mendengar kampanye publik tentang membeli dari usaha mikro, kecil, dan menengah, karena itu menandakan perguliran roda ekonomi. Ada hal menarik di negara tetangga saat krisis ekonomi, gaji pegawai di salah satu perusahaan besar negara tersebut, dinaikkan. Apa tujuannya? Supaya dapat belanja sehingga menjaga kesinambungan perputaran roda ekonomi. Wah, ini serius? Demikian konon kabarnya, karena perusahaan besar tersebut memiliki anggaran untuk sumber daya manusia yang besar.

Cerita di atas seperti mimpi. Seandainya saja kita tahu bakal ada pandemi, barangkali kita bisa memitigasi risiko dengan baik, seperti meningkatkan gaji pegawai di saat susah dan menginstruksikan agar mereka banyak belanja di pengusaha lokal dan banyak sedekah, tentunya! Teringat bagaimana itu terjadi di era Nabi Yusuf ketika raja bermimpi, dan beliau menafsirkan mimpi tersebut, kemudian mitigasi risiko dilakukan. Salah satunya menyimpan stok makanan di gudang negara, sehingga ketika musim kering datang, rakyat terselamatkan. Sayang, paranormal kita tidak ada yang secerdas Nabi Yusuf.

Kita semua sedang menghadapi krisis. Pembangunan terhambat, anggaran dialihkan untuk alasan kesehatan, hubungan sosial tergerus. Pemakaman khusus Covid semakin penuh dari hari ke hari, sementara di tengah impitan kebosanan, libur panjang meningkatkan kunjungan di berbagai tempat wisata. Kita bukan hanya sedang menghadapi krisis ekonomi, tetapi juga krisis mental. Tekanan atas musibah yang dihadapi anggota keluarga membuat banyak yang berteriak di media sosial karena depresi, dan karena depresi pula, banyak pasangan memutuskan berpisah karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga saat dirumahkan. Belum ada data pasti, tapi itu terjadi di depan mata kita berulang kali. Akhirnya, semua sibuk menyelamatkan diri sendiri, dan keluarga.

Dari hari kehari mendengar kabar teman yang jatuh sakit atau bahkan meninggalkan kita semua, di sela kewajiban untuk tetap bekerja mencapai target, misalnya. Komunikasi melalui media daring sudah dianggap sulit, sehingga banyak yang nekad ketok pintu nasabah. Dan itu, bahaya! Karena keluhan yang terdengar adalah, kami harus mencapai target, apa pun risikonya. Memang, sangat dibutuhkan kesadaran pada tanggung jawab. Misalnya kepada pembayar pajak yang masih memiliki omzet dan keuntungan, untuk tetap membayar dan melaporkan pajak. Tanpa harus minta diketok pintu dulu, karena menerima tamu asing, kan ribet juga?

Di satu sisi adalah, banyaknya insentif untuk menjaga stabilnya perekonomian, diciptakannya undang-undang untuk meningkatkan investasi, merupakan hal positif yang perlu dimaknai dengan cerdas. Dan semua berperan mengawal perjalanan perekonomian dengan harapan di tahun depan akan lebih baik, pandemi berakhir, kembali normal. Selesai? Belum. Banyak yang harus ditata: Keadilan yang bagaimana yang dapat menyejahterakan masyarakat? Regulasi seperti apa yang dapat menenteramkan? Dan kepercayaan apalagi yang harus dibangun?

Baiklah, kita membatin saja. Say “good bye” kepada korona, di tahun 2021 mendatang. Say “no” kepada korupsi, karena kita butuh transparansi yang jelas dalam memajukan pembangunan. Dan, say “yes” untuk selalu taat membayar pajak.

Menurut Aristoteles, dalam panggung kehidupan manusia, penghormatan dan penghargaan jatuh kepada orang-orang yang menunjukkan sifat-sifat baiknya dalam tindakan. Kita punya kedewasaan dalam menentukan sifat baik yang mana yang akan dipilih. Dunia sudah tua, kita harus cepat menentukan tindakan. Negara bisa terselamatkan, karena kesadaran warga negaranya dalam bernegara.

Selamat menyadari sifat baik anda. Selamat Tahun Baru 2021.

Terima kasih atas empat tahun kebersamaan. Salam!

 

A3, 5 Desember 2020.

Lanjut baca

Tax Light

UNTUK SANG PAHLAWAN

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Sulit sekali membayangkan ada pahlawan lahir dari ketidaktahuan, dia tidak tahu

Kenapa jadi pahlawan?

Hanya saat dia dikuburkan di taman makam pahlawan, dia tidak merekam penghargaan terbesar pencapaian hidupnya

Sebagai pahlawan

 

Seandainya hidup bisa saja dia menolak gelar karena dia merasa

Kerjanya belum selesai dan dia bukan siapa-siapa, seandainya kerjanya pun belum selesai

 

Seperti itulah kita saat ini, di masa pandemi ini

Di masa kita bertanya tanya apakah kerja sudah selesai?

Bagi mereka yang berjuang untuk menyelamatkan jiwa,

Yang datang dan pergi tanpa atribut

Kepahlawanan

 

Padahal semua bakti diserahkan walau mungkin, dia menolak gelar itu saat tersematkan

 

Di kala masih mereguk nyala kehidupan

Itulah kenapa kita berpikir, pahlawan adalah gelar terberat

Pencapaian tertinggi

Yang dikaitkan dengan kerja atau mimpi seseorang

Buat orang lain

Buat bangsa dan negaranya

 

Dan kadang kita mencari-cari untuk sematkan

Bagi yang tetap berbagi di saat sulit, tetap mencoba menyelamatkan pundi negara

Dengan apa yang dia punya

Walau orang tak paham niatnya, apalagi menggelarinya pahlawan?

 

Betapa beratnya rasa hati kala mendapat penghargaan tertinggi ini dan kita tergugu

Apa yang kuperbuat

Untukmu?

 

Baiklah, biarkan manusia menilai manusia

Karena di sisi kita ada sang pencatat tak terlihat

Yang tertawa terpingkal-pingkal

Saat kita masih bertahta, dan meminta satu kata, atas sang jasa

Bukankah aku pahlawan?

 

Maka ijinkan dunia tertawa dan menangis sekaligus

Saat sang insan menoreh tanya

Aku pahlawan?

 

Selamat datang pahlawan sesungguhnya

Yang belum mati dan tak hendak mati di hati kami

Yang memikirkan sang negeri

Dalam diamnya

Dalam baktinya.

 

A3, 061120

Lanjut baca

Tax Light

Cermin Budaya

Aan Almaidah

Diterbitkan

pada

Penulis:

Foto: Ilustrasi

Tidak adakah rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif?

 

Menarik sekali saat kita dipaksa untuk menyaksikan bahwa ketidakpercayaan bermuara pada keyakinan atau ketidakyakinan. Ujung-ujungnya, kehidupan ditentukan dari kenyataan. Contohnya, ketika menghadapi gelombang kedua pandemi ini ternyata banyak yang tidak peduli karena masih tidak yakin, akibat dari tidak merasakan, sehingga memunculkan ketidakpercayaan. Maka, dia tidak hendak memakai masker di mana saja. Dia tetap melakukan aktivitas keseharian tanpa penjagaan, karena dia merasa dia tidak apa-apa. Dia menyaksikan lingkungannya biasa-biasa saja. Sampai kemudian terhenyak saat dia ditetapkan positif dan harus mendekam di balik dinding rumah sakit untuk memulihkan kesehatan!

Contohnya, simbak yang bergelar asisten rumah tangga. Karena di desanya tidak banyak yang dinyatakan positif, maka menurut dia, protokoler kesehatan Covid tidak mesti dijalankan. Toh, aman! Lantas dia memaksa untuk pulang kampung. Saat digelar informasi bahwa daerah tempat dia bekerja sudah hitam dan sarana transportasi tidak menjamin keamanan kesehatan, dia masih bergeming. Sampai kemudian anak simbak yang bekerja di ibu kota menelepon dan mengabarkan kebas rasa. Besok masih bekerja, katanya, kemudian baru diperiksa. Hasilnya, positif. Sejak itu, simbak tegang dan kami semua tegang melimpahi obat-obatan kepada anak simbak semata wayang, supaya di medan isolasinya dia berhasil berjuang untuk sembuh!

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Itulah yang memaksa simbak untuk tidak pulang karena gaji sebulannya habis untuk bekal si anak lanang. Dan kadang, dari kejadian itu, kita belajar kenal karakter saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Tidak akan percaya, bila tidak diterpa kenyataan, yang seharusnya dialami sendiri.

Mengerikan? Ya. Karena sejenis iklan edukasi dan infografis saja tidak menyadarkan bahwa dunia di luar sana, bahkan di sekitar kita, sedang prihatin. Itulah yang membuat, mengapa ketika di negara lain tren grafik jumlah penderita menurun di bulan September, di Indonesia masih meningkat dan mengkhawatirkan banyak pihak.

Semua itu seperti cermin budaya saja tampaknya. Malah bagi yang senang berekreasi, saat-saat semacam ini disebut saat menenteramkan untuk berwisata. Membawa keluarga, menikmati sepi di tempat tamasya. Tidak takut? Tidak! Toh perjalanan kehidupan sudah ada yang mengatur… Mungkin demikian pemikirannya. Bolehkah bila budaya demikian dinamakan budaya tidak peduli?

Bencana, merupakan suatu kesempatan. Saat kita diminta di rumah saja, itu merupakan suatu kesempatan. Kesempatan untuk menikmati kehidupan tanpa harus menyelesaikan tanggung jawab seperti bekerja dengan optimal, misalnya. Kesempatan juga untuk tidak menunaikan tanggung jawab kepada negara seperti membayar pajak, walau mungkin saja, tambahan penghasilan tetap mengalir. Bukankah yang lain juga tidak melakukannya? Tidak ada rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif. Itulah cermin budaya, di mana kita melihat orang lain melakukan, dan kita lakukan, kemudian menjadi perilaku bersama. Walaupun kondisi kita dan dia bisa jadi berbeda.

Negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Bagai jawaban, di siang beberapa hari lalu, saya membaca tentang fenomena “warm-glow-effect” yang ditemukan oleh James Anderoni di tahun 1989, tentang sensasi perasaan positif pada orang-orang yang melakukan kegiatan amal dan berbagi. Perasaan positif ini ternyata dikarenakan mereka membantu orang lain. Apa hubungannya dengan pandemi ini?

Konon, Jorge Moll dari National Institutes of Health melakukan kajian di tahun 2006, menemukan bahwa kegiatan memberi itu mengaktivasi rasa nyaman dan rasa saling percaya. Produksi endorfin dan dopamin meluap, sehingga mereka bahagia. Tindakan berbagi itu kemudian dapat meningkatkan kesehatan sang pelaku. Lantas, mungkin perlu jeda sejenak, apakah saat daerah kita dalam kondisi merah sampai hitam, kita pernah melakukan kegiatan berbagi? Misalnya, tetanggamu masuk rumah sakit karena dideteksi positif Covid, Anda pernah mengiriminya buah, susu atau bahkan obat-obatan herbal yang Anda percaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh? Atau, pernahkah Anda bangun di tengah malam untuk mendoakan kesehatannya, kemudian mengirimi pesan di media daring untuk menguatkan hatinya? Bukankah itu adalah berbagi?

Baca Juga: Menyiapkan Gugus Tugas Tingkat RT untuk Penanggulangan COVID-19

Boleh saja kita menutup pagar yang tinggi dan pintu rumah rapat-rapat untuk melindungi kita dari penularan wabah ini, tapi kita toh tidak perlu menutup pintu hati untuk berbagi kekuatan dan saling menguatkan bukan? Saat ini, dia sedang sakit, Anda tidak. Besok, mungkin dia sudah tidak ada dan Anda masih hidup. Tapi siapa tahu? Keadaan berbalik dan tahu-tahu Anda yang menjadi penderita? Tidak ada yang tahu.

Apabila kita mempelajari Peta Kesadaran, maka sebuah cara yang bereksistensi untuk memaafkan, memelihara dan mendukung yang lain itu memiliki frekuensi tinggi, yaitu 500, yang bernama cinta. Namun ada yang di bawahnya dan sudah cukup menebar positif, yaitu kesediaan, di mana keberlangsungan hidup ditentukan oleh sikap positif menyambut seluruh ekspresi kehidupan. Nilainya 310. Anda tahu nilai rendah kesadaran? Titik kulminatifnya adalah rasa takut, di mana energi ini melihat bahaya di mana-mana, Anda menjadi defensif, sibuk dengan masalah keamanan, posesif terhadap terhadap orang lain, gelisah, cemas, dan berjaga-jaga terus. Nilainya 100. Apakah Anda berada dalam level kesadaran seperti ini? Maka mari kita bercermin yang hayati.

Bagaimana caranya? Ayo, naik kelas! Berbagilah… Kembali pada kesadaran bahwa ketakutan tidak untuk dipanggil, tetapi untuk dikalahkan, maka coba hitung kembali tambahan penghasilan Anda sendiri di masa sulit ini. Siapa tahu Anda membuka bisnis baru dan tanpa Anda sadari bisnis ini bergerak maju? Bagian ujungnya adalah melakukan pemenuhan kewajiban membayar pajak, tentunya kan? Memang sebenarnya negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Kalau tidak percaya, mari sama-sama kita becermin, dan pecahkan cermin budaya yang membuat Anda masuk menjadi negatif dalam kesadaran Anda mengelola keyakinan, kepercayaan, yang berujung pada kenyataan. Katanya ingin sukses? Mari, bangkit! Demikian kata iklan, yang menyentuh hati kita diam-diam.

Baca Juga: Meracik Siasat Penyelamatan

A3, 041020

 

Lanjut baca
/

Breaking News

Breaking News3 hari lalu

Transaksi Digital Rawan Tindak Pidana Pencucian Uang

Jakarta, Majalahpajak.net – Gubernur Bank Indonesia  (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Keberadaan ekonomi digital turut memudahkan transaksi keuangan. Di antaranya membantu...

Breaking News5 hari lalu

IHSG Positif di Januari, Ini Rekomendasi Saham-saham Prospektif

Jakarta Majalahpajak.net – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat pada Januari seiring dengan...

Breaking News5 hari lalu

Jokowi Tepati Janjinya Jadi yang Pertama Divaksin Covid-19

Jakarta, Majalahpajak.net –  Seperti janjinya kepada masyarakat yang disampaikan sebelumnya, akhirnya Presiden Joko Widodo mendapatkan suntikan pertama dari vaksin virus...

Breaking News5 hari lalu

Aliran Dana Asing ke Indonesia Diharapkan Perbaiki Kinerja IHSG

Jakarta, Majalahpajak.net – Pertumbuhan ekonomi Indonesia dilaporkan akan terus membaik dengan permintaan domestik dan belanja pemerintah yang akan menjadi kunci...

Breaking News5 hari lalu

Peran Perbankan untuk Pemulihan Ekonomi Sangat Penting

Jakarta, Majalahpajak.net – Berbeda dengan krisis Asia maupun krisis global yang pernah terjadi sebelumnya, dampak pandemi Covid-19 terasa di segala...

Breaking News5 hari lalu

WIKA Raih Penghargaan 10 Juta Jam Kerja Selamat

Makassar, Majalahpajak.net – Direktur QHSE PT WIJAYA KARYA (Persero) Tbk. (WIKA), Rudy Hartono memimpin upacara Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan...

Breaking News6 hari lalu

Antar Pangan Gratis untuk Masyarakat Terdampak Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Memasuki tahun 2021, dampak sosial dan ekonomi dari Covid-19 di Jakarta dan sekitarnya terus meluas. Kebijakan aktivitas...

Breaking News7 hari lalu

BKF: Kebijakan APBN 2020 Efektif Cegah Dampak Buruk Pandemi

Jakarta, Majalahpajak.net – Pandemi COVID-19 mengganggu kondisi kesehatan dan ekonomi secara signifikan di seluruh negara, termasuk Indonesia. Merespons kejadian ini,...

Breaking News7 hari lalu

PPKM Berlaku, Pengelola Mal Minta Pemerintah Longgarkan Waktu Operasional

Jakarta, Majalahpajak.net – Pemerintah pusat memberlakukan kebijakan pengetatan pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM) di kawasan Jawa-Bali mulai Senin, (11/1/2021). Kebijakan...

Breaking News1 minggu lalu

Realisasi PMN dan Investasi untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi

Jakarta, Majalahpajak.net – Kementerian Keuangan RI menyebutkan, pada tahun 2020, pemerintah telah melakukan realisasi investasi pemerintah kepada Badan Usaha Milik...

Advertisement

Populer

Copyright © 2013 Majalah Pajak | All Right Reserved