Connect with us

Tax Light

Cermin Budaya

Diterbitkan

pada

Foto: Ilustrasi

Tidak adakah rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif?

 

Menarik sekali saat kita dipaksa untuk menyaksikan bahwa ketidakpercayaan bermuara pada keyakinan atau ketidakyakinan. Ujung-ujungnya, kehidupan ditentukan dari kenyataan. Contohnya, ketika menghadapi gelombang kedua pandemi ini ternyata banyak yang tidak peduli karena masih tidak yakin, akibat dari tidak merasakan, sehingga memunculkan ketidakpercayaan. Maka, dia tidak hendak memakai masker di mana saja. Dia tetap melakukan aktivitas keseharian tanpa penjagaan, karena dia merasa dia tidak apa-apa. Dia menyaksikan lingkungannya biasa-biasa saja. Sampai kemudian terhenyak saat dia ditetapkan positif dan harus mendekam di balik dinding rumah sakit untuk memulihkan kesehatan!

Contohnya, simbak yang bergelar asisten rumah tangga. Karena di desanya tidak banyak yang dinyatakan positif, maka menurut dia, protokoler kesehatan Covid tidak mesti dijalankan. Toh, aman! Lantas dia memaksa untuk pulang kampung. Saat digelar informasi bahwa daerah tempat dia bekerja sudah hitam dan sarana transportasi tidak menjamin keamanan kesehatan, dia masih bergeming. Sampai kemudian anak simbak yang bekerja di ibu kota menelepon dan mengabarkan kebas rasa. Besok masih bekerja, katanya, kemudian baru diperiksa. Hasilnya, positif. Sejak itu, simbak tegang dan kami semua tegang melimpahi obat-obatan kepada anak simbak semata wayang, supaya di medan isolasinya dia berhasil berjuang untuk sembuh!

Baca Juga: Mesti Ada Humor di Tengah Situasi Horor

Itulah yang memaksa simbak untuk tidak pulang karena gaji sebulannya habis untuk bekal si anak lanang. Dan kadang, dari kejadian itu, kita belajar kenal karakter saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air. Tidak akan percaya, bila tidak diterpa kenyataan, yang seharusnya dialami sendiri.

Mengerikan? Ya. Karena sejenis iklan edukasi dan infografis saja tidak menyadarkan bahwa dunia di luar sana, bahkan di sekitar kita, sedang prihatin. Itulah yang membuat, mengapa ketika di negara lain tren grafik jumlah penderita menurun di bulan September, di Indonesia masih meningkat dan mengkhawatirkan banyak pihak.

Semua itu seperti cermin budaya saja tampaknya. Malah bagi yang senang berekreasi, saat-saat semacam ini disebut saat menenteramkan untuk berwisata. Membawa keluarga, menikmati sepi di tempat tamasya. Tidak takut? Tidak! Toh perjalanan kehidupan sudah ada yang mengatur… Mungkin demikian pemikirannya. Bolehkah bila budaya demikian dinamakan budaya tidak peduli?

Bencana, merupakan suatu kesempatan. Saat kita diminta di rumah saja, itu merupakan suatu kesempatan. Kesempatan untuk menikmati kehidupan tanpa harus menyelesaikan tanggung jawab seperti bekerja dengan optimal, misalnya. Kesempatan juga untuk tidak menunaikan tanggung jawab kepada negara seperti membayar pajak, walau mungkin saja, tambahan penghasilan tetap mengalir. Bukankah yang lain juga tidak melakukannya? Tidak ada rasa khawatir bahwa negara akan jatuh sakit atau perlu diisolasi mandiri juga seperti penderita yang dinyatakan positif. Itulah cermin budaya, di mana kita melihat orang lain melakukan, dan kita lakukan, kemudian menjadi perilaku bersama. Walaupun kondisi kita dan dia bisa jadi berbeda.

Negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Bagai jawaban, di siang beberapa hari lalu, saya membaca tentang fenomena “warm-glow-effect” yang ditemukan oleh James Anderoni di tahun 1989, tentang sensasi perasaan positif pada orang-orang yang melakukan kegiatan amal dan berbagi. Perasaan positif ini ternyata dikarenakan mereka membantu orang lain. Apa hubungannya dengan pandemi ini?

Konon, Jorge Moll dari National Institutes of Health melakukan kajian di tahun 2006, menemukan bahwa kegiatan memberi itu mengaktivasi rasa nyaman dan rasa saling percaya. Produksi endorfin dan dopamin meluap, sehingga mereka bahagia. Tindakan berbagi itu kemudian dapat meningkatkan kesehatan sang pelaku. Lantas, mungkin perlu jeda sejenak, apakah saat daerah kita dalam kondisi merah sampai hitam, kita pernah melakukan kegiatan berbagi? Misalnya, tetanggamu masuk rumah sakit karena dideteksi positif Covid, Anda pernah mengiriminya buah, susu atau bahkan obat-obatan herbal yang Anda percaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh? Atau, pernahkah Anda bangun di tengah malam untuk mendoakan kesehatannya, kemudian mengirimi pesan di media daring untuk menguatkan hatinya? Bukankah itu adalah berbagi?

Baca Juga: Menyiapkan Gugus Tugas Tingkat RT untuk Penanggulangan COVID-19

Boleh saja kita menutup pagar yang tinggi dan pintu rumah rapat-rapat untuk melindungi kita dari penularan wabah ini, tapi kita toh tidak perlu menutup pintu hati untuk berbagi kekuatan dan saling menguatkan bukan? Saat ini, dia sedang sakit, Anda tidak. Besok, mungkin dia sudah tidak ada dan Anda masih hidup. Tapi siapa tahu? Keadaan berbalik dan tahu-tahu Anda yang menjadi penderita? Tidak ada yang tahu.

Apabila kita mempelajari Peta Kesadaran, maka sebuah cara yang bereksistensi untuk memaafkan, memelihara dan mendukung yang lain itu memiliki frekuensi tinggi, yaitu 500, yang bernama cinta. Namun ada yang di bawahnya dan sudah cukup menebar positif, yaitu kesediaan, di mana keberlangsungan hidup ditentukan oleh sikap positif menyambut seluruh ekspresi kehidupan. Nilainya 310. Anda tahu nilai rendah kesadaran? Titik kulminatifnya adalah rasa takut, di mana energi ini melihat bahaya di mana-mana, Anda menjadi defensif, sibuk dengan masalah keamanan, posesif terhadap terhadap orang lain, gelisah, cemas, dan berjaga-jaga terus. Nilainya 100. Apakah Anda berada dalam level kesadaran seperti ini? Maka mari kita bercermin yang hayati.

Bagaimana caranya? Ayo, naik kelas! Berbagilah… Kembali pada kesadaran bahwa ketakutan tidak untuk dipanggil, tetapi untuk dikalahkan, maka coba hitung kembali tambahan penghasilan Anda sendiri di masa sulit ini. Siapa tahu Anda membuka bisnis baru dan tanpa Anda sadari bisnis ini bergerak maju? Bagian ujungnya adalah melakukan pemenuhan kewajiban membayar pajak, tentunya kan? Memang sebenarnya negara butuh pahlawan yang merangsek maju dengan perspektif membela negara. Dan pahlawan itu adalah sang pembayar pajak.

Kalau tidak percaya, mari sama-sama kita becermin, dan pecahkan cermin budaya yang membuat Anda masuk menjadi negatif dalam kesadaran Anda mengelola keyakinan, kepercayaan, yang berujung pada kenyataan. Katanya ingin sukses? Mari, bangkit! Demikian kata iklan, yang menyentuh hati kita diam-diam.

Baca Juga: Meracik Siasat Penyelamatan

A3, 041020

 

Tax Light

Satu Tutur Indonesia Makmur

Diterbitkan

pada

Pajak Bertutur dilakukan setiap tahun karena pesan utama tentang inklusi kesadaran pajak pada pendidikan perlu diulang terus.

Rekor MURI untuk kegiatan edukasi pajak dengan jumlah peserta terbanyak mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi itulah yang terjadi pada tanggal 11 Agustus 2017: Sebanyak 127.459 peserta didik dari 2.182 lembaga pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA dan pendidikan dasar dan menengah sederajat hingga jenjang perguruan tinggi mengikuti kegiatan Pajak Bertutur untuk pertama kalinya secara serentak di seluruh pelosok Nusantara.

Prestasi tersebut mengukir sejarah dan menjadi tonggak awal standar bagaimana kegiatan Pajak Bertutur dilaksanakan di tahun-tahun berikutnya. Meski program ini dilaksanakan dalam waktu singkat tiap tahun, DJP ingin meninggalkan kesan kepada peserta didik bahwa satu episode dalam kehidupan mereka pernah tersentuh kata pajak. Pesan kecil cukup untuk membuka cakrawala peserta didik untuk mengeksplorasi lebih jauh.

Dengan menggandeng Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, program Pajak Bertutur berkembang pesat karena kementerian ini sangat identik dengan dunia pendidikan formal. Apabila ditambahkan dengan keikutsertaan dari Kementerian/Lembaga dan pihak ketiga lainnya tentunya program edukasi ini akan semakin berkembang.

Sebuah pepatah Cina berbunyi, If you are planning for a year, sow rice. If you are planning for a decade, plant trees. If you are planning for a lifetime, educate people. Tingkat kepatuhan WP di Indonesia yang masih tergolong rendah di antara negara tetangga sangat mungkin disebabkan oleh, salah satunya, masih rendahnya budaya sadar pajak. Maka, edukasi perpajakan harus dilakukan demi terwujudnya budaya sadar pajak. Bonus demografi Indonesia yang berlangsung 2020–2035 adalah kesempatan negeri ini untuk membentuk generasi bangsa yang berbudaya sadar pajak.

Pajak Bertutur terus dilakukan setiap tahun karena pesan utama tentang inklusi kesadaran pajak pada pendidikan perlu diulang terus-menerus agar tidak surut. Program ini adalah penyemangat baru setiap tahun serta pemantik kesadaran bagi pihak eksternal DJP. Program ini menunjukkan bahwa investasi jangka panjang DJP di dunia pendidikan akan terus dilakukan seraya menggugah pihak internal DJP untuk terus menggelorakan semangat inklusi perpajakan.

Program ini juga turut membangun citra bahwa pajak juga dekat dengan siswa/mahasiswa. Dengan memberikan contoh langsung dari para fiskus, DJP berharap pesan yang disampaikan kepada para peserta didik dapat lebih realistis dan membuka wawasan tentang kondisi nyata di lapangan tentang bagaimana pajak itu bekerja membangun negara.

Pengenalan pajak kepada para siswa merupakan tugas para pendidik pada dunia pendidikan, baik sekolah maupun kampus. Akan tetapi, dengan adanya perbedaan pesan kunci (key message) yang harus tepat disampaikan kepada peserta didik, serta perbedaan literasi tentang konsep sadar pajak oleh para tenaga pendidik, membuat DJP terjun langsung secara serentak dan secara nasional dengan pesan kunci yang tepat tanpa distorsi. Selain itu pegawai DJP juga dapat turut menyampaikan pesan kesadaran kepada tenaga pendidik agar kelak mereka dapat turut menggaungkan pesan itu secara mandiri.

Pajak Bertutur hadir sebagai bentuk kampanye program inklusi kesadaran pajak dengan mengangkat tema “Berbagi dan Gotong Royong” pada pendidikan tingkat dasar (SD), “Pajak sebagai Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Berwarganegara” pada tingkat menengah (SMP), dan “Pajak sebagai Tulang Punggung Pembangunan” pada tingkat Atas (SMA), serta “Pajak sebagai Perwujudan IPOLEKSOSBUDHANKAM” pada tingkat Perguruan Tinggi.

Dengan satu tutur kiranya Indonesia makmur dapat terwujud.

Inge Diana Rismawanti

Kepala Subdit Penyuluhan Perpajakan Direktorat P2Humas DJP

Lanjut baca

Tax Light

Insentif yang Panjang dan Lama

Diterbitkan

pada

Penulis: Inge Diana Rismawanti Kepala Subdit Penyuluhan Perpajakan Direktorat P2Humas DJP

Insentif sebetulnya tak beda dengan tambahan penghasilan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan daya beli, sehingga perekonomian akan berangsur pulih.

 

Insentif yang diberikan kepada Wajib Pajak yang terdampak pandemi Covid-19 pertama kali diberikan oleh Pemerintah pada 21 Maret 2020—hanya berselang beberapa hari sejak pengumuman pemerintah tentang kasus Covid-19 pertama di Indonesia. Ini memperlihatkan sikap responsif pemerintah terhadap situasi dan kondisi yang terjadi. Insentif mulai berlaku sejak masa pajak April 2020 sampai dengan enam bulan ke depan dengan diiringi harapan bahwa pandemi tidak akan berlangsung lama.

Bulan September 2020 berlalu tidak terlihat tanda-tanda pandemi akan berakhir sehingga masa pemberian insentif pun diperpanjang sampai dengan Desember 2020. Tahun 2020 diakhiri dengan realisasi insentif pajak di kisaran 60 persen. Namun demikian pencapaian tersebut tidak menyurutkan niat pemerintah untuk tetap memberikan dukungan usaha melalui pemberian insentif di tahun 2021.

Tahun 2021 ternyata dampak pandemi Covid-19 masih terasa di berbagai sektor sehingga insentif pun kembali diperpanjang selama enam bulan. Semester pertama tahun 2021, perekonomian mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan yang juga berpengaruh terhadap penerimaan pajak yang tumbuh positif dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun ternyata di akhir semester pertama itu pun kasus positif Covid-19 meningkat cukup memprihatinkan. Alhasil, beberapa sektor usaha masih tetap terdampak walaupun kedalamannya berbeda-beda. Itulah yang mendasari pengurangan jumlah sektor usaha yang diberikan perpanjangan insentif untuk periode Juli sampai dengan Desember 2021.

Perpanjangan insentif mungkin sama rasanya dengan rasa sebuah produk makanan yang dulu iklannya kerap tayang di televisi: Paaanjang dan laaama, nikmatnya akan terasa teruuus, teruuus, dan teruuus”. Semakin panjang insentif, semakin terasa pula nikmatnya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengartikan insentif sebagai ‘tambahan penghasilan (uang, barang, dan sebagainya) yang diberikan untuk meningkatkan gairah kerja; uang perangsang’. Dari artinya saja, sudah terasa nikmatnya. Semoga Wajib Pajak melihatnya dengan kaca mata yang sama, yaitu bahwa insentif yang diberikan tak ubahnya seperti tambahan penghasilan yang tentunya dapat dimanfaatkan sedemikian rupa untuk meningkatkan produktivitas dan juga meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga perekonomian akan berangsur pulih.

Pada awal masa pemberian insentif di tahun 2020 masih ada yang berpendapat bahwa insentif pajak merupakan “jebakan batman” yang memaksa Wajib Pajak untuk memasuki keranjang pengawasan administratif Direktorat Jenderal Pajak. Berbagai upaya edukasi dilakukan untuk menepis anggapan ini. Setelah itu, yang terjadi malah sebaliknya. Kalangan pengusaha dari berbagai sektor berlomba-lomba menyampaikan keinginan untuk mendapatkan kesempatan memanfaatkan insentif pajak.

Jumlah klasifikasi lapangan usaha (KLU) penerima insentif yang semula berjumlah 440 KLU untuk PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah dan 102 KLU untuk insentif lainnya, akhirnya membengkak menjadi 1.189 KLU untuk PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah, 725 KLU untuk pengembalian pendahuluan PPN, 730 KLU untuk pembebasan PPh Pasal 22 impor dan 1.018 KLU untuk pengurangan angsuran PPh Pasal 25.

Di sisi lain, penerimaan negara harus diamankan agar seluruh program pemerintah dapat dijalankan, tidak hanya untuk fokus pada penanganan kesehatan masyarakat tetapi juga pada perbaikan perekonomian, peningkatan mutu pendidikan, perbaikan infrastruktur, dan berbagai program lainnya. Untuk itulah pemberian insentif yang diberikan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 82 dan 83 Tahun 2021 lebih mempertimbangkan dampak pandemi Covid-19 pada berbagai sektor usaha dan upaya pemulihannya.

Sebagai contoh, ada sektor usaha yang sampai saat ini masih merasakan dampak yang cukup besar dari pandemi Covid-19 dan menyangkut kehidupan masyarakat banyak seperti pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Ada juga sektor tertentu yang terdampak sangat dalam oleh pandemi Covid-19 dan pemulihan usahanya lebih lambat dibandingkan dengan sektor lain serta menyerap banyak tenaga kerja seperti konstruksi.

Pertimbangan di atas mendasari pengurangan KLU yang diberi insentif pajak. Untuk insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah tidak terdapat pengurangan KLU penerima insentif sehingga jumlahnya tetap 1.189 KLU. Namun untuk insentif pengembalian pendahuluan PPN berkurang jumlahnya dari 725 menjadi 132 KLU, pembebasan PPh Pasal 22 impor dari 730 menjadi 132 KLU, dan pengurangan angsuran PPh Pasal 25 dari 1.018 menjadi 216 KLU.

Semoga pengurangan jumlah sektor usaha yang memperoleh insentif merupakan tanda bahwa sektor usaha tertentu memang mengalami pertumbuhan dalam usahanya dan semakin baik dalam merespons pandemi Covid-19.

Untuk yang mendapatkan kesempatan memperoleh insentif, ayo manfaatkan secara optimal dan jangan lupa melaporkannya secara on-line. Walaupun rasa insentif pajak akan lebih nikmat bila panjang dan lama tentunya akan lebih nikmat apabila pandemi Covid-19 berakhir.

Lanjut baca

Tax Light

Menyiapkan “Future Tax Payers”

Diterbitkan

pada

Menyiapkan calon pembayar pajak di masa depan adalah tantangan yang menuntut kreativitas dan inovasi.

Tiba-tiba kita sudah masuk ke bulan Juli. Padahal, rasanya baru kemarin kita merayakan tahun baru. Juli merupakan bulan bersejarah bagi Direktorat Jenderal Pajak, karena pada tanggal 14 Juli tujuh puluh enam tahun silam, para pendiri bangsa telah membuat landasan bahwa keberlangsungan republik tercinta ini akan ditopang oleh pemungutan pajak.

Sayangnya, Juli 2021 ini, pandemi Covid-19 masih belum berlalu. Tepatlah bila tema yang diusung untuk Hari Pajak 2021 ini berbunyi “Bersama Pajak, Atasi Pandemi, Pulihkan Ekonomi”.

Terbayang cerita tanggal 14 Juli tiga tahun yang lalu ketika pagi hari si Bungsu yang saat itu masih duduk di kelas empat SD memperlihatkan coretan warna warni tangannya di selembar kertas yang bertuliskan “Selamat Hari Pajak”. Terharu campur bangga, karena cerita saya tentang persiapan perayaan Hari Pajak di kantor ternyata meninggalkan bekas di benaknya. Terbayang apabila semua anak Indonesia di usia dini sudah mengenal pajak, pasti menjadi lebih mudah tugas aparat pajak dalam mengumpulkan pundi-pundi negara.

Program Inklusi Kesadaran Pajak yang sudah lama dilaksanakan di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak tahun ini mendapat perhatian lebih di Hari Pajak. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan di Hari Pajak adalah Lomba Cipta Game Edukasi Perpajakan. Dengan mengusung tema “Pajak Kuat, Indonesia Maju” kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan variasi materi edukasi.

Begitu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang perpajakan, salah satunya dengan menggunakan game edukasi yang saat ini dipandang sebagai bentuk edukasi yang banyak digemari baik anak-anak maupun orang dewasa, dan juga merupakan suatu kegiatan yang cocok untuk masa pandemi Covid-19 karena dapat dilakukan tanpa harus keluar rumah.

Dibukanya Lomba Cipta Game Edukasi Perpajakan untuk kategori junior, yaitu siswa-siswi tingkat SD, SMP, dan SMA/sederajat diharapkan juga membuka kesempatan pada para game creator junior untuk mengasah kemampuan mencipta game sekaligus meningkatkan pemahaman tentang perpajakan. Ajang lomba ini digelar secara daring untuk mendukung program pemerintah, bekerja dan belajar dari rumah serta untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Dengan menggandeng juri dari pihak eksternal, yaitu dari Asosiasi Game Indonesia, Gamecreator Indonesia dan Game Developer Shopee diharapkan penilaian dilakukan secara profesional. Siapa pun pemenangnya, game edukasi perpajakan untuk pertama kalinya akan menjadi komplemen bagi media konvensional yang selama ini dipergunakan untuk menyosialisasikan perpajakan.

Mempersiapkan future tax payer yang sadar tentang pajak sejak usia dini merupakan suatu tantangan yang menuntut kreativitas dan inovasi. Selain Lomba Cipta Game Edukasi Perpajakan, lomba karya tulis pun ikut mewarnai rangkaian Hari Pajak. Bersama Ikatan Akuntan Indonesia, DJP mengadakan lomba karya tulis bagi masyarakat umum dengan ketentuan penulisan ditujukan bagi segmentasi pembaca junior yaitu siswa siswi tingkat SD, SMP dan SMA/sederajat. Selain itu, bekerja sama dengan Majalah Pajak dan Pajak.com digelar Lomba Menulis Artikel Ilmiah Mahasiswa 2021 dengan mengusung tema yang berkaitan dengan pengenaan pajak atas content creator di platform media sosial, transaksi elektronik di platform e-commerce dan pelaku UMKM.

Masih banyak lagi sederetan kegiatan untuk memperingati Hari Pajak dengan melibatkan pihak eksternal, di antaranya talk show di media televisi dan radio, bedah buku, pekan DJP peduli dan donor darah.

Lazimnya suatu hari yang diperingati, tentunya diiringi dengan harapan bahwa hari tersebut akan diingat oleh siapa pun yang memperingatinya sebagai hari bersejarah yang penuh makna dan tujuan mulia. Para pegawai pajak telah disadarkan untuk mengetahui arti penting pajak dan telah diajak untuk peduli dengan menjalankan seluruh hak dan kewajibannya dengan baik dan benar.

Namun, tentunya tidak cukup apabila hanya pegawai pajak yang memperingati Hari Pajak dan menyadari arti penting pajak bagi negeri ini. Seluruh masyarakat diharapkan memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap pajak. Dan untuk mengajak seluruh pemangku kepentingan memperingati Hari Pajak, diperlukan sosialisasi yang mengikutsertakan pemangku kepentingan eksternal dalam rangkaian acara Hari Pajak. Semakin banyak yang terlibat dalam kegiatan Hari Pajak, semakin banyak pula yang peduli terhadap pajak.

Dirgahayu Pajak Indonesia!

*) Inge Diana Rismawanti, Kepala Subdit Penyuluhan Pajak Direktorat P2Humas DJP

Lanjut baca

Populer